Anda di halaman 1dari 13

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

PROGRAM STUDI GEOFISIKA DEPARTEMEN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA

TUGAS MATA KULIAH KEWARGANEGARAAN


HAK ASASI MANUSIA (HAM)

DISUSUN OLEH :
Eka Fitriani
15/379608/PA/16666
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si.

YOGYAKARTA
MARET
2018
Kewarganegaraan
Hak Asasi Manusia (HAM)
1. Apa itu HAM?
Jawab :

Hak asasi (fundamental Untuk memahami hakikat Hak Asasi Manusia, terlebih
dahulu akan dijelaskan pengertian dasar tentang hak. Secara definitif “hak” merupakan
unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku, melindungi kebebasan,
kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan
martabatnya.1 Hak sendiri mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:2
a. Pemilik hak;
b. Ruang lingkup penerapan hak;
c. Pihak yang bersedia dalam penerapan hak.
Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Dengan demikian
hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam
penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait
dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.
Hak merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Dalam kaitannya dengan pemerolehan
hak ada dua teori yaitu teori McCloskey dan teori Joel Feinberg. Menurut teori McCloskey
dinyatakan bahwa pemberian hak adalah untuk dilakukan, dimiliki, atau sudah dilakukan.
Sedangkan dalam teori Joel Feinberg dinyatakan bahwa pemberian hak penuh merupakan
kesatuan dari klaim yang absah (keuntungan yang didapat dari pelaksanaan hak yang
disertai pelaksanaan kewajiban). Dengan demikian keuntungan dapat diperoleh dari
pelaksanaan hak bila disertai dengan pelaksnaan kewajiban. Hal itu berarti anatara hak dan
kewajiban merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam perwujudannya. Karena
itu ketika seseorang menuntut hak juga harus melakukan kewajiban.3
John Locke menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan
langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Oleh karenanya, tidak
ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya sangat mendasar
(fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hak kodrati yang tidak
bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.4 Dalam Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 disebutkan bahwa : “Hak Asasi Manusia
(HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM tersebut, diperoleh suatu kesimpulan
bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan
fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi
oleh setiap individu, masyarakat atau negara. Dengan demikian hakikat penghormatan dan
perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh
melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta
keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan umum.5
Upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi HAM, menjadi kewajiban
dan tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah, bahkan negara. Jadi dalam
memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus
dilaksanakan. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak
kepentingan orang banyak (kepentingan umum). Karena itu pemenuhan, perlindungan dan
penghormatan terhadap HAM harus diikuti dengan kewajiban asas manusia dan tanggung
jawab asasi manusia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara.
Konsep mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) sendiri didasarkan pada :
 Deklarasi Universal HakAsasi Manusia PBB (Universal Declaration of Human Rights,
10 Desember1948)
 Kovenan internasional tentang hak sipil dan politik, kovenan internasional tentang hak
ekonomi, social dan budaya (1966)
 Konvensi internasional tentang hak-hak khusus (1976)
 Konvensi hak-hak politik perempuan (UU No. 68 Tahun1958)
 Konvensi tentang Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Perempuan
(CEDAW, 1979; UU No. 7 tahun1984)
 Konvensi tentang Hak-hak Anak
 Konvensi anti-apartheid dalam Olahraga
 Vienna Declaration (1993)
 Konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang lain yang kejam,
tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia
 Konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasirasial
Sementara itu, HAM dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
a. Hak-hak asasi Negatif (Liberal): melindungi kehidupan pribadi manusia terhadap
campurtangan Negara dan kekuatan social lainnya
b. Hak-hak asasi Aktif (Demokrasi): keyakinan akan kedaulatan, hak rakyat memerintah
diri sendiri
c. Hak-hak asasi positif: menuntut prestasi Negara berupa pelayanan publik
d. 4.Hak-hak asasi Sosial: perluasan paham kewajiban negara

2. Bagaimana latar belakang sejarah lahirnya HAM?


Jawab :

Sejarah perkembangan HAM sendiri dimulai dari masa sejarah yiatu


i. Perjuangan nabi Musa pada saat membebaskan umat Yahudi dari perbudakan
(tahun 6000 SM)
ii. Hukum Hamirabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi
warganegara (tahun 2000 SM)
iii. Socrates (469-399 SM) dan Aristoteles (384-322SM) sebagai filsuf Yunani
peletak dasar diakuinya HAM
iv. Perjuangan Nabi Muhammad SAW untuk membebaskan para bayi wanita dan
wanita dari penindasan bangsa Quraisy tahun 600 M
Sejarah HAM di Inggris
i. Perjuangan HAM sejak tahun 1215 dengan Magna Charta. Merupakan cermin
dan perjuangan rakyat dan bangsawan bagi pemba-tasan kekuasaan Raja John.
ii. Tahun 1628 dikeluarkan piagam Petition of Rights yang berisi tentag hak-hak
rakyat beserta jaminannya.
iii. Tahun 1679 muncul Hebeas Corpus Act, mengenai peraturan penahanan,
selanjutnya dikeluarkan Bill of Rights
Sejarah HAM di Amerika Serikat. Perjuangan HAM didasari oleh pemikiran John
Locke, tentang hak-hak dalam diri manusia, seperti hak hidup, kebebasan dan hak
milik. Kemudian dijadikan landasan bagi pengakuan HAM yang terlihat dalam
Declaration of Independence of The United States. Perjuangan HAM ini karena rakyat
Amerika yang berasal dari Eropa sebagai emigran merasa tertindas oleh pemerintahan
Inggris. Dalam sejarah perjuangan HAM, Amerika serikat sebagai negara pertama
menetapkan dan melindungi HAM dalam konstitusi.
Sejarah HAM di Perancis. Perjuangan HAM ketika terjadi revolusi Perancis tahun
1789, pernya-taan tidak puas dari kaum borjuis dan rakyat terhadap kesewenanga-
wenangan raja Lois XVI, menghasilkan naskah “Declaration des Droits de L’homme
et di Citoyen (pernyataan mengenai hak asasi ma-nusia dan warganegara). Pada tahun
1791 deklarasi ini dimasukkan dalam konstitusi. Revolusi Perancis ini dikenal sebagai
perjuangan penegakan HAM di Eropa dengan semboyan Liberte (kebebasan), egelite
(persamaan), dan fraternite (persaudaraan).
Sejarah HAM pada Atlantik Charter 1941. Atlantik Charter muncul setelah perang
dunia ke II oleh F.D. Roosevelt yang menyebutkan The four Freedom.
i. Kebebasan untuk beragama (freedom of religion)
ii. Kebebasan untuk berbicara dan berpendapat (freedom of speech and thought);
iii. Kebebasan dari rasa takut (freedom of fear);
iv. Kebebasan dari kemelaratan (freedom of want).
Sejarah lahirnya HAM di PBB. Paada tanggal 10 Desember 1948 dideklarasikan
Universal Declaration of Human Rights. “Sekalian porang yang dilahirkan merdeka
dan mempunyai martabat dan hak asasi yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi.
Dan hendaknya bergaul satu sama lian dalam persaudaraan”.
Sidang Majelis Umum PBB 1966. Hasil sidang mengeluarkan Covenants on Human
Rights antara lain:
i. The International on Civil and Political Rights
ii. The International Covenant on Economic, sosial, and Cultural Rights;
iii. Optional Protocol, adanya kemungkinan warganegara mengadukan
pelanggaran HAM kepada The Human Rights Committee PBB setelah melalui
Pengadilan Negaranya. HAM di Indonesia mengenai kebebasan pemilihan
anggota parlemen, kebebasan bicara, mengeluarkan pendapat, izin parlemen
dalam penetapan pajak, UU dan pembentukan negara, kebebasan beragama,
serta diperboleh kannya parlemen untuk mengubah keputusan raja.

Konsepsi tentang HAM yang tumbuh dan berkembang di kalangan sejarawan Eropa
bermula dari Yurisprudensi Romawi yang kemudian meluas pada etika teori alam (natural
law). Tentang hal ini, Robert Audi mengatakan sebagai berikut: the concept of right arose
in Roman Jurisprudence and was axtended to ethics via natural law theory. Just a positive
law makers, confers legal right, so the natural confers natural right. Konsep HAM yang
sekarang ini diakui oleh PBB berasal dari sejarah pergolakan sosial di Eropa.

1. Pertama, adalah keluarnya Piagam Magna Charta (Inggris) pada tahun 1215 yang
membentuk suatu kekuasaan monarki yang terbatas. Hukum mulai berlaku tidak hanya
untuk rakyat, akan tetapi juga berlaku untuk para bangsawan dan keluarga kerajaan.
Piagam Magna Charta atau disebut juga Magna Charta Libertatum (The Great Charter
of Freedoms) dibuat di masa pemerintahan Raja John (King John of England) dan
berlaku bagi raja-raja Inggris yang berkuasa berikutnya. Isi pokok dokumen tersebut
adalah hendaknya raja tidak melakukan pelanggaran terhadap hak milik dan kebebasan
pribadi seorangpun dari rakyat. Selain Magna Charta juga memuat penegasan bahwa
“tiada seorangpun boleh ditangkap atau dipenjarakan atau diusir dari negerinya atau
dibinasakan tanpa secara sah diadili oleh hakim-hakim yang sederajat dengannya”
(judicium parjum suorum).
2. Kedua, adalah keluarnya Bill of Right pada tahun 1628 yang berisi penegasan tentang
pembatasan kekuasaan raja dan dihilangkannya hak raja untuk melaksanakan kekuasaan
terhadap siapapun tanpa dasar hukum yang jelas. Kemudian muncul pula Habeas Corpus
(1679), yaitu dokumen peradanab hukum dimana orang yang akan ditahan memiliki hak
untuk dihadapkan dalalm waktu 3 hari kepada seorang hakim dan diberitahu atas
tuduhan apa ia ditahan.
3. Ketiga, adalah deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Deklaration of Independence)
pada 1778. HAM di Amerika Serikat yang sebenarnya tidak terlepas dari beberapa
rumusan sebelumnya seperti Virginia Bill of Right. Dalam deklarasi ini dapat ditemukan
kalimat “kita menganggap kebenaran-kebenaran berikut ini sebagai eviden berikut
saja, bahwa semua manusia diciptakan sama, bahwa mereka dianugerahi oleh pencipta
mereka dengan hak-hak tertentu yang tidak tak terasingkan”. Hal ini kemudian
diperkuat dengan dicantumkannya ketentuan mengenai setiap orang dilahirkan dalam
persamaan dan kebebasan dengan hak untuk hidup dan mengejar kebahagiaan, serta
keharusan mengganti pemerintahan yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan
dasar tersebut.
4. Keempat, adalah Deklarasi tentang Hak Manusia dan Warga Negara yang dikeluarkan
di Perancis waktu pecahnya Revolusi Perancis (1789) dan secara mendalam dipengaruhi
oleh pernyataan-pernyataan hak asasi dari Amerika. Deklarasi inipun masih mencoba
mengkaitkan keasasian hak-hak tersebut dengan Tuhan. Hal ini terlihat ketika Majelis
Nasional Perancis membacakan deklarasi ini didahului dengan kalimat “di hadapan
wujud tertinggi dan di bawah perlindungan-Nya”. Meskipun semangat revolusi
Peranscis begitu menggebu untuk mengobarkan tendensi anti Kristen dan
mengedepankan semangat pencerahan (Aufklarung), namun mereka tetap mendasarkan
pemikiran tentang Hak Asasi Manusia pada kodrat Tuhan. Pemikiran-pemikiran kaum
foundationalism masih sangat mempengaruhi deklarasi tentang Hak Asasi Manusia dan
warga negara Perancis sebagaimana dalam Declaration of Independence/ Deklarasi
Kemerdekaan di Amerika Serikat. Dengan menitik beratkan pada kelima hak asasi
pemilikan harta (property), kebebasan (liberty), persamaan (egalite), keamanan
(security), dan perlawanan terhadap penindasan (resistence al’oppresstion).
5. Kelima, adalah Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia yang diproklamirkan
dalam sidang umum PBB pada 10 Desember 1948. Hal yang baru dalam deklarasi ini
adalah adanya pergeseran pendasaran HAM dari kodrat Tuhan kepada pengakuan akan
martabat manusia. Diawal deklarasi disebutkan “Menimbang bahwa pengakuan atas
martabat yang melekat dan hak-hak yang sama serta tak terasingkan dari semua anggota
masyarakat merupakan dasar untuk kebebasan, keadilan, dan perdamaian di dunia.
Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia ini memiliki perbedaan mendasar dari
deklarasi sebelumnya. Louis Henkin dan James W. Nickel dalam making senses of
Human Rihgt (1996) menyebutkan bahwa manifesto Hak Asasi Manusia Mutakhir telah
melunakkan individualisme dalam teori-teori klasik mengenai hak-hak kodrati (sebagai
hak yang berasal dari Tuhan), dan lebih menekankan sifat persamaan (egaliterianisme).
Setelah ini, penegakan HAM menjadi semakin gencar di seluruh dunia. HAM telah
mengalami internasionalisasi.

Dengan latar belakang seperti tersebut di atas, maka menurut Philipus M.Hadjon, hak
asasi manusia konsep Barat yang pada dasarnya adalah pembatasan terhadap tindak tanduk
negara dan organ-organnya dan peletakan kewajiban negara terhadap warganya sehingga
prinsip yang terkandung dalam konsep hak asasi manusia adalah tuntutan (claim) akan hak
terhadap negara dan kewajiban yang harus dilakukan oleh negara.
Semenjak ditetapkannya Universal Declaration of Human Rights (UDHR) atau
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948, manusia hidup dalam
kebebasan, persamaan dan perlindungan. Setiap orang diakui hak dasarnya. Hal ini
mengharuskan bagi semua orang tanpa terkecuali untuk mengakui hak dasar atau kodrati
orang lain, termasuk negara beserta penguasanya sekalipun. Sebagaimana yang
diungkapkan Muhtaj (2008:19), “DUHAM adalah puncak konseptualisasi HAM
universal”, artinya isi DUHAM berlaku untuk semua bangsa di dunia, termasuk bangsa
Indonesia. Indonesia merupakan negara yang mendeklarasikan kemerdekaan 3 tahun lebih
dahulu sebelum ditetapkan DUHAM 1948.
Negara Indonesia sangat memperhatikan penegakan HAM. Pengakuan Bangsa
Indonesia akan HAM
i. Pembukaan UUD 45, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak
seluruh bangsa.
ii. Dirumuskan tujuan nasional dalam pembukaan UUD 45. Lalu sila kedua
Pancasila merupakan landasan idiil pengakuan dan jaminan HAM.
iii. HAM diimplementasikan dalam pasal-pasal UUD 45;
iv. HAM dalam Tap MPR No XVII/MPR/1988.
v. HAM dalam Undang-undang No 39 tahun 1999 dan UU No 26 tahun 2000.
Dalam upaya memberikan jaminan atas penegakan HAM, materi muatan HAM
dimasukkan dalam Amandemen Kedua 1 2 dan UUD 1945. Di dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 juga terdapat ketentuan mengenai HAM. Setiap negara
bertanggungjawab terhadap hak asasi tiap warga negaranya. Sebagaimana dalam Pasal 71
UU RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai berikut: Pemerintah
wajib dan bertanggungjawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak
asasi manusia yang diatur dalam Undangundang ini, peraturan perundang-undangan lain,
dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh Negara Republik
Indonesia. Pemerintah harus senantiasa menjamin eksistensi hak-hak dasar setiap warga
negaranya. Tidak boleh membiarkan begitu saja dan lepas tanggungjawab terhadap hak
asasi tiap warga negaranya. Sebisa mungkin untuk memenuhinya karena sudah tercantum
dalam konstitusi.
Pemerintah bertanggungjawab terhadap hak asasi dalam segala bidang. Sebagaimana
dalam Pasal 72 UU RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yaitu
“Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71,
meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain”. Dengan kata lain, pemerintah
harus memenuhi dan menjamin hak sipil politik (sipol) dan hak ekonomi, sosial, budaya
(ekosob). Hak ekonomi, sosial dan budaya (ekosob) menekankan pada tuntutan agar
negara, dalam hal ini pemerintah dituntut untuk memberikan perlindungan dan bantuan
kepada warga negaranya. Di dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2005 yang merupakan hasil
ratifikasi dari International Covenant on Economic, Social and 3 Cultural Rights (ICESCR)
1966, memaparkan bentuk perlindungan pemerintah dalam pemenuhan hak ekosob antara
lain hak untuk memperoleh pekerjaan, hak untuk memperoleh pendidikan, hak atas
jaminan sosial, dan lain-lain. Apabila hak-hak tersebut dapat direalisasikan maksimal,
dengan demikian pemerintah akan memberikan kesejahteraan pada warga negaranya
sehingga berdampak positif terhadap pembangunan nasional. Hak asasi manusia bidang
sosial berkaitan dengan hak atas jaminan sosial, hak atas perumahan dan hak atas
pendidikan.
Hak asasi manusia bidang sosial tercantum dalam Pasal 28 H ayat (1) hasil
Amandemen Kedua UUD 1945 berbunyi “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Ditegaskan pula dalam Pasal 34 ayat (3) UUD
1945 yang menyatakan bahwa negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan umum. Oleh karena itu, pemerintah
mempunyai kewajiban untuk menyejahterakan warga negaranya dan memberikan
pelayanan kesehatan yang maksimal. Program jaminan kesehatan merupakan upaya
pemerintah untuk memenuhi kewajiban konstitusional dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat. Program tersebut bertujuan untuk menjamin kepastian
jaminan kesehatan yang menyeluruh dan merata bagi setiap rakyat Indonesia. Mulai dari
daerah pedalaman sampai daerah perkotaan, setiap orang berhak memperoleh jaminan
kesehatan. Asalkan memenuhi kriteria yang telah ditentukan, maka berhak
mendapatkannya.
3. Rule of Law Konstitusi
Jawab :

Indonesia adalah Negara hukum (rechstaat) dan bukan negara kekuasaan (machstaat).
Hal ini tertulis dalam Konstitusi Indonesia. UU 1945 dan tertuang dalam Pasal 1 (3) UUD
1945. Pertanyaannya adalah apa sebenarnya negara hukum? Konsep Negara hukum sangat
dekat dengan konsep rule of law. Dalam arti sederhana rule of law diartikan oleh Thomas
Paine sebagai tidak ada satu pun yang berada di atas hukum dan hukumlah yang berkuasa.
Dalam konsep modern, apa yang dikatakan oleh Thomas Paine kemudian didefinisikan
secara lebih menyeluruh. Dunia modern kemudian mendefiniskan rule of law sebagai
konsep yang melibatkan prinsip dan aturan yang memberi pedoman pada mekanisme tertib
hukum (legal order). Ditegaskan dalam hal ini bahwa rule of law menuntut adanya regulasi
dengan kualitas tertentu:

Definisi rule of law di atas kemudian dirinci yang memudahakan penilaian. Salah satu
definisi yang rinci tedapat dalam laporan Sekretaris Jenderal PBB, sebagai berikut:
The “rule of law” is a concept at the very heart of the Organization.s mission.
It refers to a principle of governance in which all persons, institutions and entities, public
and private, including the State itself, are accountable to laws that are publicly
promulgated, equally enforced and independently adjudicated, and which are consistent
with international human rights norms and standards. It requires, as well, measures to
ensure adherence to the principles of supremacy of law, equality before the law,
accountability to the law, fairness in the application of the law, separation of powers,
participation in decision-making, legal certainty, avoidance of arbitrariness and procedural
and legal transparency.

Definisi yang rinci di atas memperlihatkan bahwa rule of law mengandung beberapa
elemen penting yaitu: a). ditaatinya prinsip berkuasanya hukum (supremacy of law),
persamaan di depan hukum (equality before the law), pertanggungjawaban hukum
(accountability to the law), keadilan dalam penerapan hukum (fairness in the application
of the law), adanya pemisahan kekuasaan (separation of power), adanya partisipasi dalam
pembuatan keputusan (participation in the decision making) kepastian hukum (legal
certainty), dihindarinya kesewenang-wenangan (avoidance of arbitrariness) dan adanya
keterbukaan prosedur dan hukum (procedural and legal transparency). Keseluruhan elemen
ini harus dilihat untuk dapat mengukur sejauh mana rule of law telah dijalankan.
Ukuran pertama yaitu prinsip supremasi hukum berarti bahwa hukum harus menjadi dasar
aturan pelaksaan kekuasaan publik. Masyarakat juga haruslah diatur berdasarkan hukum,
bukan berdasarkan moralitas, keuntungan politik atau ideologi. Prinsip ini juga
mengimplikasikan bahwa badan-badan politik terikat tidak saja pada konstitusi naisonal
tetapi juga pada kewajiban hukum hak asasi manusia internasional. Hal ini
mengimplikasikan bahwa legislasi yang valid harus diterapkan oleh otoritas dan pengadilan
dan bahwa intervensi negara pada kehidupana rakyat haruslah memenuhi standard umum
yaitu prinsip legalitas. Dengan demikian rule of law menjadi tameng pelindung rakyat dari
adanya penyalahgunaan kekuasaan Ditegaskan bahwa dalam hal ini korupsi jelas tidak
sejalan dengan rule of law.
Sementara itu, prinsip persamaan di depan hukum memuat dua komponen utama yaitu
bahwa aturan hukum diterapkan tanpa diskriminasi dan mensyaratkan perlakuan yang
setara untuk kasus yang serupa. Adanya pertanggungjawaban hukum (accountability to the
law) harus dimaknai bahwa otoritas Negara tidak boleh di luar atau di atas hukum dan harus
tunduk pada hukum (subject to the law) seperti halnya warga negara. Pinsip kepastian
hukum mengimplikasikan bahwa aturan tidak menyediakan ruang yang banyak untuk
adanya diskresi. Prinsip ini tentunya juga berkaitan dengan prinsip keterbukaan dalam
hukum dan prosedur.

Dari paparan mengenai elemen penting rule of law dan uraian masing-masing elemen
terlihat bahwa rule of law pada dasarnya berfokus pada hukum dan pengembangan
kelembagaan. Namun demikian, dalam hal ini harus diingat bahwa Sekretaris Jenderal PBB
menyatakan elemen politik adalah penting untuk menjamin dijalankannya rule of law.

Dapat dipastikan sebagian besar orang akan menyatakan bahwa negara hukum atau
rule of law terkait erat dengan hak asasi manusia dalam artian positif. Yaitu bahwa
tegaknya rule of law akan berdampak positif pada pelaksanaan hak asasi manusia.
Benarkan demikian? Marilah kita perjelas bagaimana kaitan antara negara hukum atau rule
of law dengan hak asasi manusia.

Dalam hal ini dapat dipahami beberapa kesimpulan penting dari Randall P.
Peerenboom yang melakukan penelitian kaitan antara rule of law dengan hak asasi
manusia. Pertama adalah bahwa kaitan antara rule of law dengan hak asasi manusia adalah
kompleks. Peerenboom menyatakan bahwa yang menjadi persoalan bukanlah prinsip-
prinsip rule of law, tetapi adalah kegagalan untuk menaati prinsip-prinsip tersebut. Akan
tetapi yang jelas menurutnya adalah bahwa rule of law bukanlah ‘obat mujarab’ yang dapat
mengobati semua masalah. Bahwa rule of law saja tidak dapat menyelesaikan masalah.
Peerenboom menyatakan bahwa rule of law hanyalah satu komponen untuk sebuah
masyarakat yang adil. Nilai-nilai yang ada dalam rule of law dibutuhkan untuk jalan pada
nilai-nilai penting lainnya. Dengan demikian rule of law adalah jalan tetapi bukan ‘tujuan’
itu sendiri.

Berkaitan dengan hak asasi manusia sendiri, terutama hak ekonomi, sosial dan budaya,
adalah menarik bahwa Peerenboom menyatakan rule of law sangat dekat dengan
pembangunan ekonomi. Selanjutnya dia menyatakan bahwa memperhitungkan pentingnya
pembangunan ekonomi bagi hak asasi manusia maka dia menyatakan agar gerakan hak
asasi manusia memajukan pembangunan.

Di sini sangat penting untuk diingat bahwa menurut Peerenboom sampai sekarang kita
gagal untuk memperlakukan kemiskinan sebagai pelanggaran atas martabat manusia dan
dengan demikian hak ekonomi, sosial dan budaya tidak diperlakukan sama dalam
penegakan hukumnya seperti hak sipil dan politik. Dalam pemenuhan hak ekonomi, sosial
dan budaya, menurutnya rule of law saja tidak akan cukup untuk dapat menjamin
pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya tanpa adanya perubahan tata ekonomi global
baru dan adanya distribusi sumber alam global yang lebih adil dan seimbang. Oleh karena
itu menurutnya pemenuhan hak ekonomil, sosial dan budaya juga memerlukan perubahan
yang mendasar pada tata ekonomi dunia.

Terakhir yang harus dicatat adalah peringatan Peerenboom tentang bahaya


demokratisasi yang prematur. Menurutnya kemajuan hak asasi manusia yang signifikan
hanya dapat tercapai dalam demokrasi yang consolidated, sementara demokrasi yang
prematur mengandung bahaya yang justru melemahkan rule of law dan hak asasi manusia
terutama pada negara yang kemudian terjadi kekacauan sosial (social chaos) atau pun
perang sipil (civil war).

Hal lain yang penting dikemukakan oleh Peerenboom adalah bahwa rule of law
membutuhkan stabilitas politik, dan negara yang mempunyai kemampuan untuk
membentuk dan menjalankan sistem hukum yang fungsional. Stabilitas politik saja tidak
cukup. Dalam hal ini dibutuhkan hakim yang kompeten dan peradilan yang bebas dari
korupsi.

Pada intinya Peerenboom menyatakan bahwa walaupun rule of law bukanlah obat
mujarab bagi terpenuhinya hak asasi manusia, namun demikian, adalah benar pelaksanaan
rule of law akan menyebakan kemajuan kulitas hidup dan pada akhirnya terpenuhinya hak
asasi manusia.

Gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun penyelenggara


negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan perundang-undangan dan
pelaksanaan dalam hubungannya dengan segala peraturan perundang-undangan itulah yang
sering diistilahkan dengan Rule of Law.[1] Berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of
Law adalah kekuasaan publik yang diatur secara legal. Setiap organisasi atau persekutuan
hidup dalam masyarakat termasuk negara mendasarkan pada Rule of Law. Dalam
hubungan ini Pengertian Rule of Law berdasarkan substansi atau isinya sangat berkaitan
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu negara.
Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechsstaat atau Rule Of Law.
Rechsstaat atau Rule Of Law itu sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk perumusan yuridis
dari gagasan konstitusionalisme. Oleh karena itu, konstitusi dan negara hukum merupakan
dua lembaga yang tidak terpisahkan.
Friedman (1959) membedakan rule of law menjadi dua, yaitu pengertian secara formal
(in the formal sense) dan pengertian secara hakiki/materill (ideological sense). Secara
formal, rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi( organized public
power), misalnya Negara. Sementara itu secara hakiki, rule of law terkait dengan
penegakan rule of law karena menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and
unjust law). Rule of law terkait dengan keadilan sehingga rule of law harus menjamin
keadilan yang dirasakan oleh masyarakat/bangsa.
Menurut Albert Venn Dicey dalam “Introduction to the Law of the Constitution”
memperkenalkan istilah the rule of law yang secara sederhana diartikan suatu keteraturan
hukum. Menurut Dicey, terdapat tiga unsur yang fundamental dalam rule of law yaitu :
a) Supremasi aturan-aturan hukum, tidak adanya kekuasaan yang sewenang- wenang
dalam arti seseorang Hanya boleh dihukum jikalau memangmelanggar hokum.
b) Kedudukan yang sama di muka hukum, hal ini berlaku baik bagi masyarakat biasa
maupun pejabat Negara
c) Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh UU serta keputusan-keputusan UU

Prinsip-prinsip Rule of Law


Pengertian Rule of Law tidak dapat dipisahkan dengan pengertian negara hukum atau
rechts staat. Meskipun demikian dalam negara yang menganut sistem Rule of Law harus
memiliki prinsip-prinsip yang jelas, terutama dalam hubungannya dengan realisasi Rule of
Law itu sendiri. Menurut Albert Venn Dicey dalam “Introduction to the Law of The
Constitution, memperkenalkan istilah the rule of law yang secara sederhana diartikan
sebagai suatu keteraturan hukum. Menurut Dicey terdapat 3 unsur yang fundamental dalam
Rule of Law, yaitu: (1) supremasi aturan aturan hukum,tidak adanya kekuasaan sewenang-
wenang, dalam arti seseorang hanya boleh dihukum, jikalau memang melanggar hukum;
(2) kedudukanmya yang sama dimuka hukum. Hala ini berlaku baik bagi masyarakat biasa
maupun pejabat negara; dan (3) terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh Undang-Undang
serta keputusan pengadilan.
Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa jikalau dalam hubungan dengan negara
hanya berdasarkan prinsip tersebut, maka negara terbatas dalam pengertian negara hukum
formal, yaitu negara tidak bersifat proaktif melainkan pasif. Sikap negara yang demikian
ini dikarenakan negara hanya menjalankan dan taat pada apa yang termaktub dalam
konstitusi semata. Dengan kata lain negara tidak hanya sebagai “penjaga malam”
(nachtwachterstaat). Dalam pengertian seperti ini seakan-akan negara tidak berurusan
dengan kesejahteraan rakyat. Setelah pertengahan abad ke-20 mulai bergeser, bahawa
negara harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu negara tidak
hanya sebagai “penjaga malam” saja, melainkan harus aktif melaksanakan upaya-upaya
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan cara mengatur kehidupan sosial
ekonomi.
Gagasan baru inilah yang kemudian dikenal dengan welvaartstaat, verzorgingsstaat,
welfare state, social service state, atau “negara hukum materal”. Perkembangan baru inilah
yang kemudian menjadi raison d’etre untuk melakukan revisi atau bahkan melengkapi
pemikiran Dicey tentang negara hukum formal.
Dalam hubungan negara hukum ini organisasi pakar hukum Internasional,
International Comission of Jurists (ICJ), secara intens melakukan kajian terhadap konsep
negara hukum dan unsur-unsur esensial yang terkandung di dalamnya. Dalam beberapa
kali pertemuan ICJ di berbagai negara seperti di Athena (1995), di New Delhi (1956),di
Amerika Serikat (1957), di Rio de Jainero (1962), dan Bangkok (1965), dihasilkan
paradigma baru tentang negara hukum. Dalam hubungan ini kelihatan ada semangat
bersama bahwa konsep negara hukum adalah sangat penting, yang menurut Wade disebut
sebagai rule of law is a phenomenon of free society and the mark of it. ICJ dalam
kapasitasnya sebagai forum intelektual, juga menyadari bahwa yang terpenting lagi adalah
bagaiman konsep rule of law dapat diimplementasikan sesuai perkembangan kehidupan
dalam masyarakat.
Secara praktis, pertemuan ICJ di Bangkok tahun 1965 semakin menguatkan posisi rule
of law dalam kehidupan bernegara. Selain itu, melalui pertemuan tersebut telah digariskan
bahwa di samping hak-hak politik bagi rakyat harus diakui pula adanya hak-hak sosial-
ekonomi, sehingga perlu dibentuk standar-standar sosial ekonomi. Komisi ini merumuskan
syarat-syarat pemerintahan yang demokratis dibawah rule of law yang dinamis, yaitu: (1)
perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individual, konstitusi harus
pula menentukan teknis prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang
dijamin; (2) lembaga kehakiman yang bebas dan tidak memihak; (3) pemilihan umum yang
bebas; (4) kebebasan menyatakan pendapat; (5) kebebasan berserikat/berorganisasi dan
beroposisi; dan (6) pendidikan kewarganegaraan (Azhary, 1995: 59).
Gambaran ini mengukuhkan negara hukum sebagai walfare state, karena sebenarnya
mustahil mewujudkan cita-cita rule of law sementara posisi dan peran negara sangat
minimal dan lemah. Atas dasar inilah kemudian negara diberi kekuasaan dan kemerdekaan
bertindak atas dasar inisiatif parlemen. Negara dalam hal ini pemerintah memiliki fries
ermessen atau poivoir discretionnare, yaitu kemerdekaan yang dimiliki pemerintah untuk
turut serta dalam kehidupan sosial ekonomi dan keleluasaan untuk tidak terlalu terikat pada
produk legislasi parlemen. Dala gagasan walfare state ternyata negara memiliki wewenang
yang relatif lebih besar, ketimbang format negara yang hanya bersifat negara hukum formal
saja. Selain itu dalam welfare state yang terpenting adalah negara semakin otonom untuk
mengatur dan mengarhkan fungsi dan peran negara bagi kesejahteraan hidup masyarakat.
Kecuali itu, sejalan dengan konsep negara hukum, baik rechtsstaat maupun rule of law,
pada prinsipnya memiliki kesamaan fundamental serta saling mengisi. Dalam prinsip
negara ini unsur penting pengakuan adanya pembatasan kekuasaan yang dilakukan secara
konstitusional. Oleh karena itu, terlepas dari adanya pemikiran dan praktek konsep negara
hukum yang berbeda, konsep negar hukum dan rule of law adalah suatu realitas dari cita-
cita sebuah negara bangsa, termasuk negara Indonesia.

Prinsip-prinsip Rule of Law secara formal di Indonesia


Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat di dalam pasal-pasal UUD
1945, yaitu sebagai berikut :
a. Negara Indonesia adalah Negara hukum (pasal 1 ayat 3)
b. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hokum dan peradilan (pasal 24 ayat
1)
c. Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hokum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya
(pasal 27 ayat 1)
d. Bab X A tentang Hak Asasi Manusia, memuat sepuluh pasal antara lain bahwa
setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum (pasal 28 D ayat 1)
e. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja (pasal 28 D ayat 2)

Beberapa kasus dan penegakan rule of law antara lain:


a. Kasus korupsi KPU dan KPUD
b. Kasus illegal logging
c. Kasus dan reboisasi hutan yang melibatkan pejabat Mahkamah Agung (MA)
d. Kasus-kasus perdagangan narkoba dan psikotripika
e. Kasus perdagangan wanita dan anak
Sumber :
Samsuri, (n.d), Hak Hak Asasi Manusia “Konsep, Tipologi dan Perkembangan’,
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132300167/pendidikan/HAK-HAK+ASASI+MANUSIA.pdf,
diakses pada tanggal 16Maret 2018
Unila, (n.d), Bab II. Tinjauan Pustaka, http://digilib.unila.ac.id/2200/8/BAB%20II.pdf, diakses
pada tanggal 16 Maret 2018.
UMS, (n.d), Bab I. PENDAHULUAN, http://eprints.ums.ac.id/23270/2/BAB_I.pdf, diakses pada
tanggal 16 Maret 2018.
https://rinastkip.wordpress.com/2012/12/20/makalah-pkn-ham-rule-of-law/