Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui Indonesia adalah sebuah negeri yang memiliki
kekayaan alam dan adat budayanya yang sangat luar biasa. Indonesia
memiliki suku bangsa yang beragam, setiap suku di Indonesia memiliki ciri
khas masing- masing dalam hal arsitektur. Arsitektur tradisional merupakan
sebuah tradisi membangun yang sudah ada sejak jaman nenek moyang
dahulu. Menurut (Purwestri, 2007), Arsitektur pada suatu suku bangsa selalu
berhubungan dengan kepercayaan yang dianut, iklim dan kondisi alam
setempat serta mata pencaharian mereka. Oleh karena itu bentuk arsitektur di
setiap daerah akan memiliki ciri khasnya masing – masing dari segi fungsi,
ruang dan bentuk.
Arsitektur tradisional merupakan bentukan arsitektur yang diturunkan dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Mempelajari bangunan trasisional
berarti mempelajari tradisi masyarakat yang lebih dari sekedar tradisi
membangun secara fisik. Masyarakat tradisional terikat dengan adat yang
menjadi konsensi dalam hidup bersama (Rapoport, 1960).
Saat ini sudah semakin banyak warisan arsitektur tradisional di Indonesia
yang mengalami kerusakan bahkan hilang, oleh karena itu sangat diperlukan
generasi – generasi yang dapat melestarikan dan menjaga. Jika arsitektur
tradisional tersebut tidak di lestarikan maka bukan tidak mungkin hal tersebut
akan hilang secara permanen dan generasi mendatang sudah tidak dapat
menikmati/mempelajarinya lagi.
Arsitektur tradisional Maluku Utara sekarang ini masih bisa kita jumpai di
beberapa tempat. Salah satunya adalah arsitektur tradisional Tidore yang
dapat kita jumpai di Kelurahan Gurabunga. Pada kelurahan Gurabunga
terdapat 5 jenis rumah adat yang dihuni oleh 5 marga Tidore, salah satunya
adalah rumah adat Fola Toduho. Selain berfungsi sebagai rumah, Fola
Toduho juga berfungsi sebagai tempat ritual, musyawarah, serta tempat acara
keagamaan lainnya. Secara fisik rumah adat Fola Toduho di bangun dengan
material yang sederhana yaitu kayu dan bambu.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 1


2. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang dan identifikasi masalah. Maka dapat
dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu:
a. Bagaimana tradisi membangun rumah Fola Jiku Sorabi(Fola Toduho) ?
b. Apa makna dan filosofi yang terkandung di dalam rumah Fola Jiku
Sorabi (Fola Toduho)?
c. Bagaimana sistem konstruksi yang digunakan dalam rumah Fola Jiku
Sorabi (Fola Toduho)?

3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengenal lebih dalam tentang arsitektur tradisional masyarakat adat
Gurabunga Tidore khususnya rumah adat Fola Toduho.
b. Mengetahui filosofi yang terkandung dalam rumah adat Fola Toduho.
c. Mengetahui sistem konstruksi yang digunakan dalam rumah adat Fola
Toduho.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 2


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Proses pengumpulan data penelitian dilakukan dengan beberapa cara


berupa wawancara dan pencarian referensi dari beberapa sumber yang berkaitan
dengan judul“Fola Jiku Sorabi (Fola Toduho)” yang akan dibahas lebih dalam
mengenai tradisi membangun serta bentuk arsitektur bangunan tersebut.
Sekirananya kita harus lebih tahu dulu mengenai Fola Jiku Sorabi (Fola Toduho).

Fola Jiku Sorabi merupakan salah satu jenis/tipe rumah adat Kota Tidore
Kepulauan yang berada di Kelurahan Gurabunga. Jika diuraikan berdasarkan
bahasa daerah setempat, Kata Fola berarti rumah, Jiku berarti model, dan Sorabi
berarti serambi atau teras. Fola Jiku sorabi berarti rumah yang memiliki
serambi/teras yaitu tempat menunggu seorang tamu ketika tuan rumah belum
mempersilahkan masuk. Dalam penafsiran lain berdasarkan tradisi masyarakat
Tidore rumah selalu merujuk pada angka ganjil dan genap. Istilah lain untuk
rumah musyawarah di Tidore ini adalah Langkie Jiku Sorabi, yang berarti rumah
dengan empat tiang utama. Istilah tersebut dipakai untuk menekankan oposisi
kosmologi antara Langkie yang dimaksud disini adalah lima marga pembentuk
Tidore dan Jiku Sorabi atau empat jiku(sudut) yang melambangkan sebuah
pemerintahan adat yang akan dibangun dan diperintah oleh seorang raja di Fola
Sowohi (Pattipeilohy, 2013).

Rumah adat Fola Jiku Sorabi merupakan simbol masyarakat adat di


Gurabunga. Di rumah ini berlangsung seluruh aktivitas masyarakat yang berkaitan
dengan adat istiadat, musyawarah, penyelesaian masalah/sengketa adat. Selain itu
juga berfungsi sebagai tempat ritual – ritual ada yang bersifat magis seperti
penyembahan kepada roh – roh leluhur, penyembuhan bagi yang sakit,
permohonan untuk mendapat pekerjaan, jodoh, pengerjaan fasilitas desa, dan
sebagainya (Asriany,2016).

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 3


Fola Toduho adalah rumah jenis Jiku Sorabi yang di tempati oleh marga
Toduho. Toduho merupakan salah satu dari 5 marga tidore yang ada di kelurahan
gurabunga yang dalam struktur adat Gurabunga memiliki fungsi dan tugas sebagai
Kapita laut dan Imam di Masjid. Rumah Fola Toduho Hanya boleh dihuni oleh 1
kepala keluarga, serta yang menghuni Rumah Fola Toduho hanya keturunan dari
Marga Toduho. Orang yang dipilih untuk menempati Rumah Fola Toduho
bukanlah orang sembarangan, karena terdapat beberapa kriteria yang harus
dimiliki oleh pemilik rumah yang menjadi pertimbangan bagi para tetua adat,
seperti sifat, prilaku maupun ketaatan dalam beribadah. Dikarenakan orang yang
menempati Rumah Fola Toduho akan menjadi kepala marga Toduho sekaligus
akan menjadi imam di masjid Gurabunga. Sebagaimana dilihat dari susunan
fungsi tiap marga yang ada di Gurabunga yang mana marga Toduho sendiri
memiliki tugas sebagai imam sejak dahulu.

Gambar 1. Rumah adat Fola Toduho


Sumber : kelompok 7

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 4


BAB III

METODOLOGI PENELITAN

1. Lokasi Penelitian

LOKASI

Lokasi penelitian bertempat di RT.01 RW 01 Desa/Kelurahan Gurabunga


Kecamatan Tidore Provinsi Maluku Utara dengan Koordinat lokasi
0°40'24.6"LU 127°25'14.9"BT.

2. Data dan Teknik Pengumpulan Data


Data yang digunakan berupa data kependudukan, sarana-prasarana dan
dokumentasi serta beberapa literatur yang telah dikumpulkan. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan berupa pengamatan (observasi) langsung
ke lokasi penelitian(Kel.Gurabunga) dengan melakukakn pengukuran dan
pengambilan beberapa dokumentasi, wawancara dengan beberapa narasumber
(ketua RT dan tokoh adat setempat), dan pembagian kuesioner ke beberapa
narasumber, serta kajian pustaka untuk mendapatkan data sekunder. Adapun
beberapa data sekunder yang digunakan untuk melengkapi penilitian ini
berupa:
2.1 Lokasi dan kondisi lingkungan
Desa Gurabunga merupakan salah satu Kelurahan/Desa yang ada di
Kepulauan Tidore yang termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku Utara

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 5


dengan luas wilayah 13,99 ha. Lokasi Desa Gurabungan yang berada di
lereng gunung Kie Matubu dengan ketinggian ± 1500 mdpl dengan suhu
rata – rata di daerah Gurabunga 21˚C. Jalur tempuh dari dan menuju Desa
Gurabunga terdapat dua jalur yang dapat di tempuh dengan kendaraan
roda 2 maupun 4 dengan jarak ke pusat kota 5,5 km serta waktu tempuh
14 menit.
2.2 Data penduduk
Desa Gurabunga memiliki jumlah penduduk sebanyak 626 jiwa dengan
jumlah Kepala Keluarga(KK) sebanyak 163 kepala keluarga. Memiliki
lingkungan alam dan keadaan geografis yang berada di lereng gunung
dengan kondisi iklim yang sejuk menjadikan kondisi Desa Gurabunga
sangat cocok bagi pertanian terutama sayuran, dengan rata – rata mata
pencaharian utama penduduk Gurabunga yaitu sebagai pentani. Di
samping itu terdapat pula mata pencaharian lain seperti pengrajin,
peternak, jasa dan pengusaha kecil, maupun karyawan swasta.
2.3 Data sarana
Berikut merupakan data sarana dan prasarana yang ada di Kelurahan
Gurabunga :
- Untuk menunjang kegiatan peribadatan maka dibangun satu buah
masjid yang diberi nama Nurul Ihsan yang biasanya dipakai untuk
kegiatan beribadah kaum laki-laki dan satu buah Mushalah yang
bernama Nurul Hasanah yang dibangun 2 lantai. Lantai pertama
merupakan tempat beribadah kaum perempuan dan pada lantai 2
biasanya digunakan sebagai gedung pertemuan.
- Sarana pendidikan yang terdapat di Kelurahan gurabunga adalah satu
buah Sekolah Dasar(SD Negeri Gurabunga), dan satu buah Taman
Kanak-Kanak(TK).
- Penerangan desa berasal dari penerangan listrik PLN.
- Terdapat satu buah lapangan sepak bola dan lapangan bola voli
sebagai sarana olahraga.
- Untuk sarana kesehatan terdapat sebuah Puskesmas.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 6


2.4 Data bangunan
Rumah adat Fola Toduho berdiri diatas lahan seluas 349,65 m2 dengan
luas bangunan sebesar 278,98 m2 dan memiliki ketinggian bangunan 2,77
m pada bagian tengah serta 2,22 m pada bagian depan dan belakang dari
permukaan lantai(belum termasuk atap). Rumah adat Fola Toduho yang
sekarang berdiri merupakan rumah Toduho generasi Ketiga. Dua rumah
sebelumnya yang dibangun di lokasi berbeda telah di rombak dan diganti
dengan rumah tinggal pada umumnya. Rumah generasi ketiga ini dibangun
pada 2002 setelah ±40 tahun berdirinya rumah generasi kedua. Rumah ini
mengalami beberapa kali renovasi dan pengantian material. Renovasi
terakhir yaitu pada tahun 2009 yang didanai oleh pemerintah Kota Tidore.
Rumah adat Fola Toduho saat ini dihuni oleh keluarga Bapak Muhammad
Sabtu(62 tahun) yang berprofesi sebagai petani dan juga merupakan
Sowohi(kepala) dari marga Toduho saat ini.

3. Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan model kualitatif – deskriptif. Dalam
penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan survei , observasi serta
studi literatur. Observasi dilaksanakan dengan pengamatan sederhana yang
dibantu dengan alat bantu berupa kamera (pocket-digital) untuk mengamati
obyek – obyek berupa rumah adat Fola Jiku Sorabi (Fola Toduho) yang akan
diangkat sebagai topik utama penelitian, sementara survei dilakukan dengan
pengamatan lebih lanjut untuk memfokuskan permasalahan penelitian, seperti
menentukan luasan wilayah survei, wawancara dan pembagian kuesioner
kepada penghuni rumah adat Fola Toduho. Studi literatur dilakukan dengan
pencarian sumber-sumber pustaka yang berasal dari buku-buku studi ilmiah,
arsip koran dan majalah. Artikel-artikel ilmiah itu juga terdapat selain di buku
ada pula di artikel seminar, dan dipublikasikan secara online bersama forum –
forum diskusi arsitektur di internet.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 7


BAB IV

PEMBAHASAN

Arsitektur tradisional di setiap daerah pastinya memiliki ciri khas atau


keuinikan tersediri baik dari segi bentuk, filosofi maupun dalam proses
pembangunannya. Keunikan ataupun ciri khas ini biasanya dipengaruhi dari
beberapa aspek yang ada di daerah tersebut baik dari aspek fisik maupun non-fisik
berupa kebudayaan/adat istiadat, kepercayaan dan kondisi sosial maupun keadaan
lingkungan yang ada. Tidak terkecuali arsitektur tradisional yang ada di Maluku
Utara sendiri khususnya di Kelurahan Gurabunga yaitu Rumah adat Fola Jiku
Sorabi(Fola Toduho). Keunikan yang ada di rumah adat Fola Toduho dalam
proses membangun serta dari segi bentuknya sendiri yang akan menjadi fokus
pembasan ini.

A. Tradisi Dalam Membangun


1. Sebelum mendirikan bangunan.
Masyarakat adat Gurabunga selalu mencari dan menentukan hari baik
sebelum memulai proses pembangunan rumah Fola Toduho. Untuk
penentuan hari baik tersebut masyarakat adat Gurabunga memiliki
perhitungan secara khusus (menggunakan patokan dari kalender setempat)
dan hal tersebut selalu dilakukan oleh tetua adat dengan
mempertimbangkan/memperhatikan kondisi alam, bulan, dll. Setelah hari
baik sudah disepakati maka langkah selanjutnya adalah proses
pemotongan bambu yang akan menjadi bahan baku utama pembuatan
rumah. Pemotongan tiang pertama dilakukan oleh tetua adat kemudian
diikuti oleh kelima marga dan para tukang. Dalam tradisi masyarakat
setempat, setelah kayu/bambu dipotong maka selama seminggu
kayu/bambu akan direndam dalam air laut dengan tujuan agar
kayu/bambu akan tahan lebih lama. Selain itu juga ada kepercayaan
bahwa air laut akan memberikan kehidupan bagi masyarakat (Asriany,
2016). Dalam penentuan lokasi pembangunan rumah Fola Toduho tidak
ada hal khusus yang dilakukan, tetapi terdapat beberapa pertimbangan
dalam penentuan lokasi diantaranya adalah arah orientasi dan analisis

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 8


kebisingan. Untuk orientasi bangunan haruslah mengarah ke arah
kiblat(Arah Barat) karena kepercayaan masyarakat sekitar yang mayoritas
muslim. Lokasi lahan haruslah jauh dari kebisingan di karenakan rumah
Fola Toduho merupakan bangunan sakral yang sering digunakan sebagai
tempat ritual – ritual adat serta memiliki ruang untuk bersemedi.
2. Saat mendirikan bangunan.
Masyarakat Gurabunga sangat menjunjung tinggi budaya gotong royong.
Salah satunya dapat kita lihat pada saat ada proses pembangunan sebuah
rumah, tidak terkecuali juga dengan rumah adat Fola Toduho. Tidak ada
sistamtis khusus dalam proses pembangunan, namun dalam proses
pembangunan rumah Fola Toduho selalu diawali dengan pembuatan
pondasi seperti rumah pada umumnya. Setelah semua bahan untuk
pembuatan rumah telah di siapkan sejak sore hari kemudian keesokan
harinya akan diadakan ritual pembacaan doa oleh tetua adat sebagai tanda
dimulainya proses pembangunan rumah. Peserta ritual berkumpul yang
terdiri dari kepala tukang, tetua adat, sambil berdiri mengelilingi denah
bangunan. Ritual pembacaan doa dilakukan ditengah bangunan. Tetua
adat akan membaca doa sambil beberapa orang mengangkat tiang utama
dan diletakkan ditempatnya. Setelah tiang dinaikkan, air disiram
disekitarnya. Pembacaan doa ini juga dilakukan dengan proses peletakan
batu pondasi pertama, Acara ritual ini merupakan pembukaan pekerjaan
pendirian bangunan, yang selanjutnya disusul dengan tiang – tiang
lainnya dengan cara yang sama.
3. Setelah mendirikan bangunan
Setelah proses pembangunan rumah yang telah di lakukan sampai selesai,
kemudian dilakukan prosesi adat syukuran yang dilakukan 3 hari 3
malam. Adapun tujuan dari dilangsungkannya acara ini adalah sebagai
salah satu wujud syukur dan kegembiraan atas terselesaikannya
pembangunan rumah adat Fola Toduho.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 9


B. Pola Tata Ruang
Pola tata ruang pada Rumah Toduho mengikuti dengan kepercayaan
masyarakat setempat, seperti letak kamar mandi yang dipisahkan dari
bangunan utama, serta letak dapur dan ruang makan yang juga jauh dari ruang
doa dikarenakan ruangan – ruangan tersebut di anggap sebagai tempat –
tempat kotor. Dalam rumah adat Fola Toduho dibagi menjadi beberapa zona,
pada zona 1 merupakan bangunan utama, zona 2 merupakan kamar mandi
untuk tamu dan zona ke 3 merupakan bagunan tambahan yang di dalamnya
terdiri dari ruang makan, dapur, kamar mandi pribadi (untuk pemilik rumah)
dan satu buah kamar mandi umum (untuk tamu).

Gambar 2. Zonasi pada Rumah adat Fola Toduho


Sumber : kelompok 7

Rumah adat Fola Jiku Sorabi umumnya berbentuk persegi panjang. Pada
bangunan utama rumah adat Fola Toduho di bagi menjadi 5 ruangan yang
melambangkan sholat lima waktu. Adapun ruang-ruang tersebuta adalah
sebagai berikut (1). Ruang tunggu/serambi, (2). Ruang Tamu, (3). Kamar
Puji, (4). Kamar Tidur, dan (5) Ruang Sholat. Adapun fungsi dari ruang-
ruang tersebut antara lain adalah :
1. Ruang tunggu/serambi, berfungsi sebagai tempat menunggu seorang
tamu ketika tuan rumah belum mempersilahkan masuk
2. Ruang tamu/fola lamo, berfungsi sebagai tempat memerima tamu dan
sebagai tempat berlangsungnya upacara adat dan pembacaan doa – doa.
Upacara ini biasanya dilakukan 3 hari 3 malam (malam senin, malam
selasa, dan malam kamis)

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 10


3. Kamar puji, berfungsi sebagai ruang berdoa atau bersemedi. Tidak
sembarang orang dapat masuk ke ruangan ini yang bisa masuk ke dalam
ruangan ini hanyalah orang – orang terpilih.
4. Kamar tidur, berfungsi sebagai ruangan untuk tidur bagi
sowohi/pemimpin marga yang menghuni rumah tersebut.
5. Ruang sholat, berfungsi sebagai ruang sholat/beribadah bagi penghuni
rumah. Ruang sholat pada rumah ini hanya di gunakan pada waktu-waktu
tertentu saja, semisal digunakan untuk sholat malam dan sholat wajib jika
sedang terjadi halangan semisal hujan dll, sedangkan sholat 5 waktu tetap
dilaksanakan di masjid.

Pada bangunan rumah adat Fola Jiku Sorabi ruang yang bersifat publik hanya
trdapat pada ruang tamu dan pada serambi, sedangkan 3 ruangan lainnya
merupakan ruang privat. Pada area serambi terdapat 2 pintu yaitu di sisi
kanan dan kiri, pintu kanan digunakan sebagai akses masuk dan pintu kiri
digunakan sebagai akses keluar.

Gambar 3. Pembagian ruangan dalam rumah adat Fola Toduho


Sumber: kelompok 7

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 11


C. Struktur dan Konstruksi Fola Toduho
Struktur Fola Toduho tidaklah berbeda jauh dari rumah – rumah pada
umumnya, dimana terdapat tiga bagian struktur berupa:

1. Struktur bagian bawah


Struktur bagian bawah dari Fola Toduho terdiri dari konstruksi pondasi
dan lantai. Pada bagian pondasi bangunan Fola Toduho saat ini telah
menggunakan pondasi batu kali seperti pondasi rumah pada umumnya,
tetapi bagian belakang pada area pendukung yaitu bak penampungan dan
kamar mandi umum masih menggunakan pondasi tradisional warga
Gurabunga yang hanya terbuat dari susunan batu yang di padatkan dengan
tanah. Slof yang digunakan berupa balok sebagai penopang dinding yang
oleh masyarakat setempat disebut Hang. Lantai pada Fola Toduho berupa
timbunan tanah yang dipadatkan agar tidak menyusut ataupun bergeser
yang oleh masyarakat setempat disebut Hale.

(a) (b)
Gambar 4. (a) Pndasi tradisional, (b) Pondasi Batu kali
Sumber: kelompok 7
2. Struktur bagian tengah
Pada bagian tengah terdiri dari konstruksi dinding, pintu dan jendela.
Terdapat empat tiang induk dari balok kayu pada sentral bangunan. Tiang
– tiang ini lebih besar daripada tiang – tiang yang lain dan berfungsi
sebagai kolom sebagai penyalur beban struktur atas. Terdapat beberapa
jenis material yang digunakan sebagai material dinding. Pada bangunan
pendukung semua dinding didominasi oleh material beton dan kayu.
Sedangkan pada Bangunan utama material dinding di dominasi oleh

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 12


bambu dan kayu, beton hanya terdapat pada bagian belakan bangunan
utama. Material dinding berbahan kayu disusun secara horizontal dengan
bentuk sisik yang berada di bagian serambi. Dinding dengan material
bambu terdapat pada ruang puji, ruang tamu dan kamar dimana pada
setiap bagian memiliki penyebutan tersendiri.

Gambar 5. Bagian – bagian dinding bambu


Sumber: kelompok 7
Pada bagian pintu dan jendela semua terbuat dari material kayu baik
kusen maupun daun pintu dan jendela. Jendela dan pintu pada Fola
Toduho ialah pintu dan jendela dengan dua bukaan.

3. Struktur bagian atas


Struktur atas dari Fola Toduho terdiri dari konstruksi kuda – kuda dan
plafond. Plafond Fola Toduho menggunakan material bambu dengan
kerangka kayu dimana ruang di atas plafond digunakan sebagai tempat
menyimpan benda – benda upacara adat. Konstruksi kuda – kuda Fola
Toduho menggunakan material kayu dengan menggunakan penutup atap
berupa seng. kerangka kuda – kuda diletakan di atas ring balok yang mana
oleh masyarakat setempat di sebut dengan Dolulu.

Gambar 6. Plafond bagian ruang tamu yang digunakan sebagai ruang penyimpanan
Sumber: kelompok 7

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 13


D. Filosofi Fola Jiku Sorabi “Fola Toduho”
Secara keseluruhan bentuk arsitektur Fola Toduho mengimplementasikan
perwujudan bentuk tubuh manusia. Yang mana perwujudan tersebut terbagi
dalam tiga bagian utama, yaitu sebagai berikut;
1. Kepala: bagian atap bangunan diibaratkan kepala manusia. Kepala
manusia merupakan bagian tertinggi dan paling penting peranannya
dalam struktur tubuh manusia. Keindahan penampilan manusia juga
tercermin dari bagian kepala. Karakteristik ini dijadikan landasan filosofi
pada bagian atap bangunan arsitektur tradisonal Fola Tuduho dengan
menganggap bahwa kepala bangunan sebagai bagian yang paling tinggi
kedudukannya dan harus dihormati. Kepala atau bagian atap haruslah
menampilkan bentuk yang khas, dan mengandung nilai-nilai yang sakral.
Bentuk atap plana pada Fola Toduho yang meruncing ke atas pada
bagian tengah dan bagian samping yang melebar serta semakin pendek
mengambil bentuk dari penutup kepala yang sering digunakan para
sultan(Tolu Bata). Adapula yang mengatakan jika bentuk atap Fola
Toduho hanya mengikuti bentuk bangunan dan kontur tanah di
Gurabunga.
2. Badan: badan bangungan diibaratkan badan manusia. Badan bangunan
merupakan inti bangunan yang meiputi dinding dan ruang, terdiri dari
sistem konstruksi, bahan, dan pola penataan ruang. Bagi Fola Tuduho
bagian ini sangat menentukan keberhasial tradisi masyarakat Tidore yang
berpangkal pada kebudayaan tradisi yang lahir di Gurabunga. Karena
konstruksi dan penataan ruang yang filosofis masyarakat mengandung
unsur penyeimbang dimana hampir semua kesepakatan diambil di ruang
mufakat ruang ini diasosiasikan dengan hati. Dimana berbagai
permasalahan akan dapat diselesaikan lewat ketenangan batin. Inspirasi
kebersamaan juga akan muncul dari hati sehingga dalam pendekatan ini
masyarakat selalu akan mengandalkan fungsi keruangan dalam
penyamaan persepksi tentang makna hakiki dari kehidupan. Unsure hati
yang dimaksud dalam pendekatan ini juga mengacu pada konsolidasi
berbagai kepentingan masyarakat barupa ritual penyembahan kepada roh

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 14


leluhur dan juga untuk upacara perkawinan dan ritual penyembuhan
supranatural. Ruang yang diibaratkan sebagai hati ialah ruang tamu yang
mana tempat diadakannya ritual – ritual adat.
3. Kaki: pondasi bangunan diibaratkan kaki manusia yang harus mampu
menjadi tumpuan dalam kondisi apapun. Kaki bangunan meliputi sistem
struktur dan juga melambangkan unsur religi yang diwariskan sebagai
pembawa ajaran islam di kepulauan Tidore. Istilah langkie jiku serabi
adalah istilah yang mengkonstruksikan sebuah kekuatan yang berada
ditumpuan kaki yang akan selalu berjalan kemanapun dengan tetap pada
pendirian hakiki (Pattipeilohy, 2013).

Gambar 7. Tampak samping kanan Gambar 8. Tampak samping kiri


Sumber: kelompok 7 Sumber: kelompok 7
Secara keseluruhan fasade bangunan, jika dipandang dari arah samping Fola
Toduho dianalogikan seperti orang yang sedang bersila dan berzikir. Dari segi
konstruksinya bagian – bagian rumah adat ini juga memiliki makna – makna
tersendiri sesuai kepercayaan masyarakat setempat, yaitu : (1) Atap
melambangkan kepala, (2) Tiang rumah melambangkan kapita (pengawal)
dari lima marga atau lima rumah adat yang ada di Gurabunga, (3) Jendela
melambangkan keterbukaan dan kemurahan hati, (4) Pintu melambangkan
baju panjang (jubah) yang biasa dipakai oleh sultan, (5) Tiang raja
melambangkan sifat tegas dari sang pemimpin, (6) Dinding melambangkan
badan manusia, dan (7) pondasi melambangkan kaki manusia yang duduk
diantara dua sujud.

Gambar 9. Tampak belakang Gambar 10. Tampak depan


Sumber: kelompok 7 Sumber: kelompok 7

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 15


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fola Toduho yang merupakan salah satu bentuk dari arsitektur Maluku
Utara yang masih tetap ada keberadaannya. Fola Toduho yang mana
adalah salah satu bentuk dari kebudayaan yang ada di Desa gurabunga
dengan bentuk yang merepresentasikan kosmologi dan pandangan hidup
warga Desa Gurabunga. Fola Toduho yang berfungsi sebagai tempat ritual
– ritual adat dan upacara – upacara penyembahan leluhur menjadi suatu
sisitem pembelajaran untuk mengetahui nilai – nilai budaya masyarakat
Gurabunga sebagai masyarakat adat. Sistem konstruksi dan tradisi
membangun maupun bentuk Fola Toduho yang masih kental dengan
nuansa tradisional yang mengimplementasikan bentuk keterpaduan
arsitektur lokal dengan kearifan lokat desa Gurabunga.

B. Saran
Fola Toduho sebagai salah satu warisan budaya yang telah turun temurun
diwariskan agar kelestariannya tetap terjaga maka disarankan antara lain;
1. Masyarakat Gurabunga harus menjaga keaslian bentuk dengan tetap
memperhatikan bentuk awal dengan demikian dapat menjadi sumber
pembelajaran bagi generasi kedepannya.
2. Masyarakat Gurabunga dan pemerintah, agar tetap memperhatikan
keaslian dari rumah adat Fola Toduho, sehingga makna yang
terkandung pada Fola Toduho tidak hilang dan dapat pula menjadi aset
bagi pembangunan desa terutama dibidang pariwisata dan pendidikan.
3. Perenovasian Rumah adat Fola Toduho sebaiknya tidak terlalu banyak
mengubah bentuk bangunan apalagi dilakukan penggantian material
dari material awal secara besar – besaran, sehingga tidak akan
merusak/menghilangkan fiosofi – filosofi dari rumah adat Fola
Toduho.
4. Perlu adanya perhatian pemerintah setempat dan lembaga kebudayaan
Maluku Utara ataupun tetua – tetua adat agar dapat memberikan kajian

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 16


– kajian atau mendirikan sebuah wadah pembelajaran tentang
arsitektur tradisional yang di Desa Gurabunga, sehingga masyarakat
setempat ataupun yang berasal dari luar daerah dapat mengetahuinya
dilihat yang mana sudah minimnya pengetahuan spesifik tentang
arsitektur tradisional yang ada di Gurabunga tersebut bahkan untuk
masyarakat yang ada di desa Gurabunga itu sendiri.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 17


DAFTAR PUSTAKA

1. Makalah dan laporan penelitian


Rapoport, Amos, (1960), House Form and Culture, Prentice-Hal, Inc,
Englewood Cliffs, N.J., New York
Purwestri, Nadia, (2007), Penelitian Arsitektur pada Bangunan Tradisional,
Pusat Dokumentasi Arsitektur
Pattipeilohy, Julian J.,(2013), Arsitektur Tradisional Tidore Kepulauan, Jurnal
Penelitian, Vol.6, No. 5 Edisi April 2013
Asriany, Serly, (2016), Tradisi Membangun Arsitektur Tradisional Fola Jiku
Sorabi, Tidore Kepulauan, Jurnal Penelitian, Temu Ilmiah
IPLBI 2016

2. Narasumber
- Talib Abubakar, 60 tahun, PLT Lurah Gurabunga, Kelurahan/Desa
Gurabunga.
- Muhammad Sabtu, 60 tahun, Kepala Marga Toduho, Kelurahan/Desa
Gurabunga.

Arsitektur Tradisional |Fola Jiku Sorabi ”Fola Toduho” 18