Anda di halaman 1dari 2

POLITIK MAHASISWA SEBAGAI KONTROL SOSIAL ANTARA

MASYARAKAT DAN PEMERINTAH


Oleh : Muhammad Royyan Fais

Bisa dikatakan tahun 2018 ini merupakan tahun yang ramai dibanding dengan tahun-
tahun sebelumnya. Selain agenda dalam bidang olahraga, pun yang cukup mendominasi adalah
isu politik yakni dilaksanakannya Pilkada Serentak. Pelaksanaan ini bisa jadi sebagai pemanasan
sebelum memasuki tahun politik selanjutnya yaitu Pemilihan Presiden pada 2019.

Memposisikan diri sebagai mahasiswa, bukan berarti tidak ada sangkut pautnya terhadap
dunia politik. Pada dasarnya mahasiswa berada pada ranah pendidikan, kedudukan dalam
masyarakat pun dianggap yang paling independent dibanding pihak lain. Tetapi dalam
perkembangannya status mahasiswa merupakan status yang rentan terhadap keadaan, mahasiswa
yang sebagian besar adalah generasi muda ini berada pada tahap perkembangan psikologi yang
labil atau bisa dikatakan tidak bisa pakem atau stabil, selalu dinamis, dan mudah terpengaruh.

Dunia politik yang berkaitan dengan mahasiswa justru barangkali hadir sebagai sarana
‘pemuas’ atas kedinamisan itu. Berbagai pembahasan pun sudah banyak mengulas mengenai
peran mahasiswa dalam politiknya, sudut pandang mahasiswa dalam berpolitik, dan sebagainya.
Tidak hanya dalam akademik, ranah politik pada akhirnya masuk dalam non akademik. Kegiatan
berpolitik ini bisa berarti partisipasi mahasiswa dalam mengikuti organisasi dalam kampus
maupun diluar kampus.

Kedudukan mahasiswa sebagai salah satu unsur yang mengontrol/mengawal kebijakan


pemerintah melalui organisasi seharusnya menghasilkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi
masyarakat. Hal itu termasuk dalam salah satu pilar tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian
masyarakat. Tetapi, sekali lagi mahasiswa yang dalam perkembangan psikologisnya masih
terbilang labil tidak menutup kemungkinan pula menjadi unsur yang turut untuk dikontrol dalam
hal ini dapat berupa dukungan dari masyarakat.

Dewasa ini, ramainya isu kartu kuning, penolakan pembangunan bandara, penolakan
pembangunan pabrik semen, dan lainnya barangkali bisa menjadi bukti bahwa keberadaan
mahasiswa yang didukung oleh masyarakat melalui media massa. Kolaborasi inilah yang
agaknya lebih mudah bagi pemerintah dalam melihat aspirasi. Usaha mahasiswa secara mandiri
seringkali dianggap rusuh bahkan malah mengganggu aktivitas masyarakat, tentu hal tersebut
muncul dari tidak adanya dukungan dari masyarakat, pun dengan politik mahasiswa yang tidak
sehat.

Masyarakat melalui media massa merupakan salah satu sumber kepentingan bagi politik
mahasiswa. Entah bagaimana, isu apapun yang dibintangi oleh mahasiswa hampir dipastikan
selalu mencapai permukaan dan menjadi lebih ramai diperbincangkan. Dalam perbincangan
itulah, dukungan masyarakat cukup berperan besar. Permasalahan masyarakat yang diangkat
membutuhkan dukungan supaya tujuan awal diangkatnya isu tersebut tercapai atau tidak terjadi
penyelewengan yang memberi kesan mahasiswa sedang mencari sensasi dengan berpolitik.

Meski demikian, memang untuk mendapat dukungan masyarakat bukanlah hal yang
mudah. Semakin berkembangnya zaman, barangkali masyarakat semakin sulit dalam melihat
kepentingannya sendiri. Bagaimanapun yang harus bergerak terlebih dahulu adalah mahasiswa,
oleh karena itu, untuk melakukan kontrol sosial maka modal utama adalah rasa kepekaan yang
harus dimiliki lebih dulu oleh mahasiswa. Kemudian barulah meyakinkan masyarakat bahwa
aspirasi yang akan disampaikan adalah penting.

Kesan kerusuhan demo, boikot, dan sebagainya tidak akan lagi menjadi suatu hal yang
negatif apabila mahasiswa benar-benar melakukan politiknya dengan baik. Hasil penting yang
nantinya diperoleh adalah bahwa politik mahasiswa bukan sesuatu yang buruk. Pengelolaan yang
baik dan memihak masyarakat tentu penting untuk diperhatikan. Tidak ada yang berperan
sebagai musuh diantara unsur pemerintah, masyarakat, maupun mahasiswa. Semuanya saling
mengontrol dan mendukung sehingga kehadiran politik dalam mahasiswa bukan untuk dihindari
atau dikhawatirkan namun dipelajari dengan benar agar timbul manfaat dan bukan sebaliknya.