Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Kelenjar Bartholini merupakan salah satu organ genitalia eksterna,


kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk
bundar, dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari
kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan
tepi hymen. Kelenjar ini tertekan pada waktu koitus dan mengeluarkan sekresinya
untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian kaudal.(Snell,
2006)
Kelenjar Bartholini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi,
peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami
infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan
timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.
Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.(2)
Kista bartholini adalah salah satu bentuk tumor kistik (berisi cairan) pada
vulva. Kista bartholini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan
pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik.
Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui
duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Kista
bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi
pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami
kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan
masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartholini bisa tumbuh dari ukuran
seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur.(2,3)
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. A
Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Magelang
Suku/bangsa : Jawa / Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status pernikahan : Menikah
Tanggal Masuk : 04 Desember 2017
No. RM : 012950

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan 4 Desember 2017 pukul 11.45 WIB di Poliklinik Penyakit
Kulit dan Kelamin RST dr. Soedjono Magelang secara autoanamesis.

II.1 Keluhan Utama


benjolan pada bibir kemaluan sebelah kiri.
II.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin RST dr. Soedjono
Magelang dengan keluhan benjolan di bibir kemaluan sebelah kiri.
Benjolan diketahui pertama kali sejak 7 hari yang lalu. Awalnya benjolan
tersebut sebesar kelereng dan terasa nyeri. Semakin hari benjolan
bertambah besar. Nyeri yang dirasakan juga semakin bertambah, sehingga
mengganggu aktivitas sehari-harinya dan mengganggu kualitas tidurnya.
Pasien juga mengeluhkan keluar keputihan berwarna kuning, kental,
banyak dan berbau amis. Untuk BAB dan BAK tidak ada keluhan, pasien
tidak merasakan demam.
II.3 Riwayat Penyakit Dahulu
 Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya tetapi
kempes setelah diobati (kira-kira 1 tahun yang lalu)
 Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal.
 Riwayat asma : disangkal.
 Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal.
 Riwayat kencing manis : disangkal.
 Riwayat konsumsi alkohol dan rokok : disangkal.
II.4 Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat asma : disangkal.
 Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal.
 Riwayat kencing manis : disangkal.
II.5 Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien sudah menikah selama ± 18 tahun tetapi sudah bercerai sejak 2
tahun yang lalu dan memiliki 1 anak, bekerja sebagai pedagang buah di
pasar dan tinggal bersama orang tuanya. Biaya pengobatan ditanggung
pribadi.
II.6 Riwayat Pengobatan
Pengobatan terkait keluhan kulit yang dahulu, obat minum kortikosteroid,
pil pengurang gatal, dan salep inerson. Pasien juga mendapatkan obat
metotreksat.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal tanggal 4 Desember 2017 Pukul 12.15
WIB
 Keadaan umum : baik.
 Kesadaran : compos mentis
 Vital sign
Tekanan darah : tidak dilakukan
Nadi : tidak dilakukan
Respiratory rate : tidak dilakukan
Suhu : 37˚C
 Status gizi : Kesan gizi cukup
a. Status Generalis
Kepala : Mesocephal.
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-)
Hidung : Deviasi (-), secret (-)
Telinga : Nyeri tarik (-), nyeri tekan (-)
Mulut : Bibir sianosis (-), faring hiperemis (-)
Leher : deviasi (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
Torak :
- Cor : tidak dilakukan
- Pulmo : tidak dilakukan
Abdomen : tidak dilakukan
Ekstremitas
Superior : akral dingin (-/-), udem kedua tangan (-/-)
Inferior : akral dingin (-/-), udem kedua kaki (-/-)
b. Pemeriksaan lokalisata
 Pemeriksaan genitalia eksterna :
Inspeksi : massa (+) di labia mayor sinistra, diameter 4 cm, batas
tegas, hiperemis (+), fluor albus (+) warna putih
kekuningan, darah (-).
Palpasi : nyeri tekan (+), konsistensi kenyal kesan berisi cairan.
 Pemeriksaan genitalia interna : tidak dilakukan pemeriksaan.

IV. DIAGNOSIS
Kista bartholini.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
VI. PENATALAKSANAAN
a. Non Medikamentosa
 Menjaga kebersihan area kewanitaan.
 Tirah baring
b. Medikamentosa
 Infus RL 20 tpm.
 ketorolac 3x30 mg IV
 Ceftriaxon 3x1 gr IV
 Vit BC/C/SF.
c. Program Operasi
Marsupialisasi

VII. MONITORING
a. Perbaikan kondisi umum pasien.
b. Monitoring tanda-tanda infeksi pada lesi.
c. Tanda vital pasien.

VIII. EDUKASI
a. Pasien diberitahu mengenai penyakitnya dan penyebab dari penyakitnya
tersebut.
b. Pasien diedukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan di daerah
kewanitaannya.
c. Pasien diberitahu tentang tindakan operasi yang akan dilakukan dan
persiapan-persiapan sebelum operasi.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 KELENJAR BARTHOLINI


III.1.1 Anatomi Kelenjar Bartholini

Kelenjar Bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna, kelenjar


bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk bundar,
dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari kelenjar ini
bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi
hymen. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar
ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi
atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi
oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervus
hemoroidal inferior.(1,2)
Kelenjar Bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus,
jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan
kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan.
Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira- kira 2 cm yang
terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar
bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palpasi.(1,2,3) seperti pada gambar dibawah
ini :
III.1.2 Histologi

Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel


kolumnair atau kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel
transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi antara traktus
urinarius dengan traktus genital.(1,2)

III.1.3 Fisiologi

Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina.


Kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu
atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan cairan
pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi penelitian
dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian
vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina,
sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.(1,4)
III.2 KISTA BARTHOLINI
III.2.1 Definisi

Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk
di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin
terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartholini bisa tersumbat
karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang.
Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan
melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi
terinfeksi.(2,5,6)

Gambaran kista bartolini

III.2.2 Etiologi

Infeksi kelenjar bartholini terjadi oleh infeksi gonokokus, pada bartholinitis


kelenjar ini akan membesar, merah, dam nyeri kemudian isinya akan menjadi
nanah dam keluar pada duktusnya, karena adanya cairan tersebut maka dapat
terjadi sumbatan pada salah satu duktus yang dihasilkan oleh kelenjar dan
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan menbentuk suatu kista.(3,5)

III.2.3 Patofisiologi
Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga
menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan. Sumbatan ini
biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma.
Kista bartholin dengan diameter 1-3 cms seringkali asimptomatik. Sedangkan
kista yang berukuran lebih besar, kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia.
Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista
yang terinfeksi.(2,3,5)

III.2.4 Gejala klinis

Kista bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang


dirasakan sebagai benda yang berat dan menimbulkan kesulitan pada waktu
koitus. Bila kista bartholini berukuran besar dapat menyebabkan rasa kurang
nyaman saat berjalan atau duduk.(5)

Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak
nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pambengkakan pada
daerah vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Jika kista
terinfeksi, gajala klinik berupa(2,3)
 Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan seksual.
 Umumnya tidak disertai demam kecuali jika terifeksi dengan organisme
yang ditularkan melalui hubungan seksual.
 Dispareunia.
 Biasanya ada secret di vagina.
 Dapat terjadi ruptur spontan.

III.2.5 Diagnosis

Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik sangat mendukung suatu


diagnosis. Pada anamnesis dinyatakan tentang gejala seperti panas, gatal, Sudah
berapa lama gejala berlangsung, kapan mulai muncul, Apakah pernah berganti
pasangan seks, keluhan saat berhubungan, riwayat penyakit menulat seksual
sebelumnya, riwayat penyakit kelamin pada keluarga.(6)
Kista bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan
dengan posisi litotomi, terdapat pembengkakan pada kista pada posisi jam 5 atau
jam 7 pada labium minus posterior. Jika kista terinfeksi, maka pemeriksaan kultur
jaringan dibutuhkan untuk mengidantifikasi jenis bakteri penyebab abses dan
untuk mengetahui ada tahu tidaknya infeksi menular.(5,6)

III.2.6 Pemeriksaan Penunjang

Apabila pasien dalam kondisi sehat, afebri, tes laboratorium darah tidak
diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur bakteri
dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses
Bartholini.(2,6)

III.2.7 Penatalaksanaan

1. Tindakan Operatif, beberapa prosedur yang dapat digunakan (2,3,5,6)


a. Marsupialisasi
Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda- tanda abses akut.

Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal,


dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil. Lalu dibuat insisi vertikal
pada vestibular melewati bagian tengah kista dan bagian luar dari hymenal
ring. Insisi dapat dibuat sepanjang 1.5 hingga 3 cm, bergantung pada besarnya
kista.

Setelah kista diinsisi, isi rongga akan keluar. Rongga ini dapat diirigasi
dengan larutan saline, dan lokulasi dapat dirusak dengan hemostat. Dinding
kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada dindung vestibular mukosa
dengan jahitan interrupted menggunakan benang absorbable 2 -0.18.
Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-
10 %.

b. Eksisi (Bartholinectomy)
Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang
tidak berespon terhadap drainase, namun prosedur ini harus dilakukan saat
tidak ada infeksi aktif. Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan,
maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi
umum.
Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy. Lalu dibuat insisi kulit
berbentuk linear yang memanjang sesuai ukuran kista pada vestibulum dekat
ujung medial labia minora dan sekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal
ring. Hati – hati saat melakukan insisi kulit agar tidak mengenai dinding kista.
Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista terletak pada
bagian posterosuperior kista. Karena alasan ini, diseksi harus dimulai dari
bagian bawah kista dan mengarah ke superior. Bagian inferomedial kista
dipisahkan secara tumpul dan tajam dari jaringan sekitar. Alur diseksi harus
dibuat dekat dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena
dan vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum.

Diseksi Kista

Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan, vaskulariasi utama


dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat. Lalu dipotong dan
diligasi dengan benang chromic atau benang delayed absorbable 3-0.
Ligasi Pembuluh Darah

2. Pengobatan Medikamentosa.
Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular
seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan
chlamydia. Idealnya, antibiotik harus segera diberikan sebelum dilakukan insisi
dan drainase. Beberapa antibiotik yang digunakan dalam pengobatan(2,3)
a. Ceftriaxone.
Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad
spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy yang lebih rendah terhadap
bakteri gram-positif, dan efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten.
Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillin-binding protein, akan
menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan
bakteri. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .4,5
b. Ciprofloxacin.
Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan antibiotik tipe
bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh sebab itu akan
menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada
bakteri. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari.
c. Doxycycline
Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan
dengan 30S dan 50S subunit ribosom dari bakteri. Diindikasikan untuk Ctra
chomatis. Dosis yang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari.
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan data Ny. M, usia 28 tahun datang ke RSUD dr.
Adhyatma Semarang dengan keluhan masa pada labia mayor sinistra sejak 7 hari
yang lalu, awal mula massa sebesar kelereng semakin membesar disertai nyeri,
rasa nyeri dirasakan semakin bertambah sehingga mengganggu aktivitas sehari-
harinya. Pasien mengeluh adanya flour albus berwarna kekuningan, keluar
banyak, terasa gatal dan berbau amis. Keluhan tidak disertai dengan demam.
Untuk BAB dan BAK masih dalam batas normal. Pasien memiliki riwayat
keluhan yang sama.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 90
kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup. Frekuensi nafas 20 kali/menit, suhu
37°C. Pada pemeriksaan genetalia eksterna didapatkan : inspeksi : massa (+) di
labia mayor sinistra, diameter 4 cm, batas tegas, hiperemis (+), fluor albus (+)
warna putih kekuningan, darah (-). Palpasi : nyeri tekan (+), konsistensi kenyal
kesan berisi pus. Pemeriksaan genitalia interna : tidak dilakukan pemeriksaan.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan teori
pada tinjauan pustaka yang disebutkan mengenai tanda dan gejala kista bartholini
yang telah terinfeksi. Pasien memiliki riwayat keluhan yang sama, hal ini bisa
menjadi faktor resiko dari kista bartholini yang dideritanya saat ini.
Penanganan pada pasien ini diberikan terapi anti inflamasi nonsteroid
berupa injeksi ketorolak 3x30 mg IV. Untuk mengurangi peradangan pada reaksi
bakteri diberikan antibiotik spektum luas berupa Ceftriaxon 3x1 gr secara
intravena untuk menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel bakteri.
Pasien di berikan sulfas ferosus 300 mg 2x 1 tab untuk membantu pembentukan
sel darah merah. Setelah nyeri yang dirasakan menghilang akan dilakukan
penanganan pendukung yaitu operasi marsupialisasi dengan cara menginsisi
kisata dan mengeluarkan isi rongga.
BAB V
KESIMPULAN

Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang
terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar
Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa
tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka
panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini
akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi
terinfeksi.
Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak
nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pambengkakan pada
daerah vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Jika kista
terinfeksi, gajala klinik berupa(2,3)
 Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan seksual.
 Umunnya tidak diserati demam kecuali jika terifeksi dengan organisem
yang ditularkan melalui hubungan seksual.
 Biasanya ada secret di vagina.
 Dapat terjadi ruptur spontan (nyeri yang mendadak mereda, diikuti
dengan timbulnya discharge).
DAFTAR PUSTAKA

1. Snell, RS. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006.
2. http://www.scribd.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-Ctine-
drNandono.
3. Sarwono Prawiro hardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
2006.
4. Guyton, AC & Hall, CE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Philadelphia : Elsevier Saunders. 2006.
5. Manuaba, Chandranita, dkk. Gawat Darurat Obstetri-Giekologi dan
Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: ECG. 2008.
6. Badziat, Ali. Endokrinologi Ginekologi. Jakarta : Media Aesculapius. 2003.