Anda di halaman 1dari 17

SISTEM IMUN HUMORAL DAN SISTEM IMUN SELULER

TUGAS IMUNOSEROLOGI TEORI

SEMESTER 4

DISUSUN OLEH :

1. BELLA MARENDA RAHMA


2. DEVI ERIKE OLIVIA NINGSIH
3. NOVA AYUNING TIAS
4. SYAFIRA NURUL RAMADHANTI

TINGKAT : 2A

DIPLOMA III TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Imunoserologi tentang “ Sistem Imun Humoral Dan Sistem Imun Seluler “.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Semoga
makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang luas bagi para pembaca.

Tangerang, 30 Januari 2017

Penyusun

i|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2

C. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sistem Imun ........................................................................... 3

B. Sistem Imun Humoral ............................................................................... 3

C. Sistem Imun Seluler .................................................................................. 5

D. Perbedaan Sistem Imun Humoral Dan Seluler .......................................... 5

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................... 11

B. Saran ......................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

ii | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R
BAB I

PENDAHULAN

A. Latar Belakang
Dengan sistem imun kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit yang
berada di sekitar kita. Dengan demikian Sistem imun adalah sistem pertahanan yang
ada pada tubuh manusia yang berfungsi untuk menjaga manusia dari benda-benda
yang asing bagi tubuh manusia. Pada sistem imun ada istilah yang disebut Imunitas.
Imunitas sendiri adalah ketahanan tubuh kita atau resistensi tubuh kita terhadap suatu
penyakit. Jadi sistem imun pada tubuh kita mempunyai imunitas terhadap berbagai
macam penyakit yang dapat membahayakan tubuh kita.
Fungsi sistem imun sendiri ada 3, yaitu : pertahan, homeostasis tubuh,
peremajaan. Berdasarkan responnya terhadap suatu jenis penyakit, sistem imun dibagi
menjadi 2 macam, yaitu Sistem Imun Non-Spesifik dan Sistem Imun Spesifik. Sistem
imun non-spesifik adalah sistem imun yang melawan penyakit dengan cara yang sama
kepada semua jenis penyakit. Sistem imun ini tidak membeda-bedakan responnya
kepada setiap jenis penyakit, oleh karena itu disebut non-spesifik. Sistem imun ini
bekerja dengan cepat dan selalu siap jika tubuh di datangkan suatu penyakit. Sistem
imun non-spesifik punya 4 jenis pertahanan yaitu , pertama : Pertahanan fisik dapat
berupa kulit, lapisan mukosa / lendir, silia atau rambut pada saluran nafas, mekanisme
batuk dan bersin. Pertahanan fisik ini umumnya melindungi tubuh dari penyakit yang
berasal dari lingkungan atau luar tubuh kita. Pertahanan ini merupakan pelindung
pertama pada tubuh kita. Kedua : Pertahanan biokimia ini adalah pertahanan yang
berupa zat-zat kimia yang akan menangani mikroba yang lolos dari pertahanan fisik.
Pertahanan ini dapat berupa pH asam yang dikeluarkan oleh kelenjar keringat, asam
lambung yang diproduksi oleh lambung, air susu, dan saliva. Ketiga : Pertahanan ini
disebut humoral karena melibatkan molekul-molekul yang larut unutk melawan
mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul yang berada di sekitar
daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut yang bekerja pada pertahanan
ini adalah Interferon (IFN), Defensin, Kateisidin, dan Sistem Komplemen. Keempat :
Pertahanan ini melibatkan sel-sel sistem imun dalam melawan mikroba. Sel-sel
tersebut ada yang ditemukan pada sirkulasi darah dan ada juga yang di jaringan.
Neutrofil, Basofil, Eusinofil, Monosit, dan sel NK adalah sel sistem imun non-spesifik

1|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


yang biasa ditemukan pada sirkulasi darah. Sedangkan sel yang biasa ditemukan pada
jaringan adalah sel Mast, Makrofag dan sel NK.
Sistem Imun Spesifik adalah sistem imun yang membutuhkan pajanan atau
bisa disebut harus mengenal dahulu jenis mikroba yang akan ditangani. Sistem imun
ini bekerja secara spesifik karena respon terhadap setiap jenis mikroba berbeda.
Karena membutuhkan pajanan, sistem imun ini membutuhkan waktu yang agak lama
untuk menimbulkan respon. Namun jika sistem imun ini sudah terpajan oleh suatu
mikroba atau penyakit, maka perlindungan yang diberikan dapat bertahan lama karena
sistem imun ini mempunyai memory terhadap pajanan yang didapat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud system imun ?
2. Apa yang dimaksud dengan system imun humoral ?
3. Apa yang dimaksud dengan system imun seluler

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1.Untuk mengetahui yang dimaksud system imun
2.Untuk mengetahui yang dimaksud dengan system imun humoral
3.Untuk mengetahui yang dimaksud dengan system imun seluler

2|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Imun


Sistem imun adalah sistem pertahanan yang ada pada tubuh manusia yang
berfungsi untuk menjaga manusia dari benda-benda yang asing bagi tubuh manusia.
Pada sistem imun ada istilah yang disebut Imunitas. Imunitas sendiri adalah ketahanan
tubuh kita atau resistensi tubuh kita terhadap suatu penyakit. Jadi sistem imun pada
tubuh kita mempunyai imunitas terhadap berbagai macam penyakit yang dapat
membahayakan tubuh kita.
B. Sisatem Imun Humoral
1. Pengertian
Imunitas humoral, yaitu imunitas yang dimediasi oleh molekul di dalam darah,
yang disebut antibodi. Antibodi dihasilkan oleh sel B limfosit. Pertahanan ini
disebut humoral karena melibatkan molekul-molekul yang larut untukk melawan
mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul yang berada di sekitar
daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut yang bekerja pada
pertahanan ini adalah Interferon (IFN), Defensin, Kateisidin, dan Sistem
Komplemen. Mekanisme imunitas ini ditujukan untuk benda asing yang berada di
luar sel (berada di cairan atau jaringan tubuh). B limfosit akan mengenali benda
asing tersebut, kemudian akan memproduksi antibodi. Antibodi merupakan
molekul yang akan menempel di suatu molekul spesifik (antigen) dipermukaan
benda asing tersebut. Kemudian antibodi akan menggumpalkan benda asing
tersebut sehingga menjadi tidak aktif, atau berperan sebagai sinyal bagi sel-sel
fagosit. Pembentukan antibodi ini dipicu oleh kehadiran antigen. Antibodi secara
spesifik akan bereaksi dengan antigen. Spesifik, berarti antigen A hanya akan
berekasi dengan dengan antibodi A, tidak dengan antibodi B. Antibodi umumnya
tidak secara langsung menghancurkan antigen yang menyerang. Namun,
pengikatan antara antigen dan antibodi merupakan dasar dari kerja antibodi dalam
kekebalan tubuh.

3|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


2. Respon Imun Humoral
Di dalam imunitas humoral yang berperan adalah limfosit B atau sel B
berasal dari stem sel . Fungsi utamanya adalah mempertahankan tubuh terhadap
infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. Dibuat di sumsum tulang
yaitu sel batang yang sifatnya pluripotensi (pluripotent stem cells) dan
dimatangkan di sumsum tulang (Bone Marrow). Limfosit B menyerang antigen
yang ada di cairan antar sel. Terdapat 3 jenis sel limfosit B yaitu limfosit B
plasma memproduksi antibodi, limfosit B pembelah menghasilkan limfosit dalam
jumlah banyak secara cepat, limfosit B memori mengingat antigen yang pernah
masuk ke tubuh.
Humor berarti cairan di dalam tubuh. Sel B bila dirangsang oleh benda
asing, akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat
membentuk antibodi. Antibodi yang dilepaskan akan ditemukan di dalam serum.
Fungsi utama antibodi ini adalah pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus
dan bakteri serta menetralisir toksinnya. Sel Th 2 juga mempunyai kontribusi
didalam sistim imunitas ini. Th 2 akan memproduksi Il-4, Il-5, Il-6 yang
merangsang sel B untuk menghasilkan immunoglobulin (Ig), menekan kerja
monosit/makrophag dan respon imun seluler2,8Immunoglobulin (Ig) dibentuk
oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat kontak dengan antigen.
Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya
yang sejenis. Bila serum protein tersebut dipisahkan dengan cara elektroforesis,
maka IgG ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin alfa dan beta.
3. Ada lima jenis IgG yaitu IgG, IgA, IgM, IgD, IgE.
a. IgG merupakan komponen utama didalam Ig serum dengan kadar di dalam
darah sekitar 75 % dari semua immunoglobulin. IgG dapat menembus plasenta
dan masuk ke fetus dan berperan dalam imunitas bayi sampai berusia 6-9
bulan. IgG dan komplemen bekerja saling membantu di dalam sebagai
opsonin pada pemusnahan antigen. IgG juga berperan di dalam imunitas
sellular.
b. IgA ditemukan dalam jumlah yang sedikit didalam darah. IgA di dalam serum
dapat Amengagglutinasi kuman . Mengganggu motilitasnya
hingga memudahkan fagositosis oleh sel PMN.

4|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


c. IgM merupakan antibody dalam respon imun primer terhadap kebanyakan
antigen. IgM dapat mencegah gerakan mikroorganisme patogen, memudahkan
fagositosis dan merupakan aglutinator poten protein.
d. IgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah didalam sirkulasi. IgD
merupakan 1% dari total immunoglobulin dan ditemuksan banyak pada sel
membran sel B bersama IgM dan berfungsi sebagai reseptor pada aktivasi sel
B.
e. IgE ditemukan dalam serum dengan kadar yang rendah di dalam serum dan
meningkat pada penyakit alergi, infeksi cacing.
4. Salah satu komponen sistem imun pada organisme adalah molekul /
humoral. Komponen ini terdiri dari tiga substansi yaitu :
a. Komplemen,
adalah protein dalam serum darah yang bereaksi berjenjang sebagai
enzim untuk membantu sistem kekebalan selular dan sistem kekebalan
humoral untuk melindungi tubuh dari infeksi. Protein komplemen tidak secara
khusus bereaksi terhadap antigen tertentu, dan segera teraktivasi pada
proses infeksi awal dari patogen. Oleh karena itu sistem komplemen dianggap
merupakan bagian dari sistem kekebalan turunan. Walaupun demikian,
beberapa antibodi dapat memicu beberapa protein komplemen, sehingga
aktivasi sistem komplemen juga merupakan bagian dari sistem kekebalan
humoral.
b. Interferon
Interferon merupakan hormon berbentuk sitokina berupa protein berjenis
glikoprotein yang disekresi oleh sel vertebrata kerena akibat rangsangan
biologis seperti virus ,bakteri ,protozoa,mycoplasma ,mitigen,dan senyawa
lainnya. Antibodi adalah glikoprotein dengan struktur tertentu yang disekresi
dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebagai
respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut.
c. Antibodi.
Sistem imunitas manusia ditentukan oleh kemampuan tubuh untuk
memproduksi antibodi untuk melawan antigen antibodi dapat ditemukan pada
darah atau kelanjar tubuh vertebarata lainnya. dan digunakan oleh sistem
kekebalan tubuh untuk mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing
seperti bakteri dan virus.ar dan dua rantai ringan. Molekul beredar di dalam
5|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER
pembuluh darah dan memasuki jaringan tubuh melalui proses peradangan.
Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibody
memiliki dua rantai berat besar dan dua rantai ringan. Antigen merupakan .
molekul yang memacu respons imun (imunogen). Substansi ini dapat bereaksi
dengan antibodi atau sel T yang sudah tersensitivitasi.

Secara garis besar, ketiga komponen ini termasuk kedalam respon imun
spesifik yang merupakan respon / tanggapan suatu sistem imun yang spesifik
terhadap benda / zat asing tertentu saja.

5. Pertahana humoral
Pertahanan ini disebut humoral karena melibatkan molekul-molekul yang
larut unutk melawan mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul
yang berada di sekitar daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut
yang bekerja pada pertahanan ini adalah Interferon (IFN), Defensin, Kateisidin,
dan Sistem Komplemen.
6. Sistem Imun Spesifik Humoral
Yang paling berperan pada sistem imun spesifik humoral ini ada Sel B
atau Limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan menghasilkan sel
Plasma lalu menghasilkan Antibodi. Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh
kita dari infeksi ekstraselular, virus dan bakteri, serta menetralkan toksinnya.
Respon imun spesifik berbeda dengan sistem imun nonspesifik, sistem
imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap
asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera
dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun
tersebut. Bila sel sistem imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing
yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat,
kemudian dihancurkan olehnya. Oleh karena sistem tersebut hanya dapat
menghancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem ini
disebut spesifik. Sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun
nonspesifik untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi badan, tetapi
pada umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi-komplemen-fagosit
dan antara sel T-makrofag.

6|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


Sel-sel leukosit lain yang memegang peran penting dalam respon imun
adalah limfosit , bahkan limfosit merupakan inti dalam proses respon imun
spesifik karena sel-sel ini dapat mengenal setiap jenis anti gen, baik anti gen yang
terdapat dalam intraseluler maupun ekstraseluler misalnya dalam cairan tubuh
atau dalam darah. Antigen dapat berupa molekul yang berada pada permukaan
unsure patogen atau dapat juga merupakan toksin yang diproduksi oleh pathogen
bersangkutan. Sebenarnya ada beberapa subpopulasi limfosit-limfosit tetapi secara
garis besar limfosit digolongkan dalam dua populasi yaitu limfosit T yang
berfungsi dalam respon imun seluler dan limfosit B yang berfungsi dalam respon
imun humoral.
7. Fungsi sel B
Sel B memiliki fungsi esensial, yaitu :
Berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan imunoglobulin
Sel B mengalami pematangan dalam dua tahap, tetapi tidak seperti sel T, tidak
matang ditimus. Fase pertama pematangan sel B bersifat independenantigen.
Dan fase kedua adalah fase dependen – antigen, sel B berinteraksi dengan suatu
imunogen, menjadi aktif dan membentuk sel plasma yang mampu
mengeluarkan antibodi.
8. Peran Sel Imun humoral
Menyebabkan sitotoksisitas
Memungkinkan imunisasi pasif
Meningkatkan opsonisasi (pengendapan komplemen pada suatu antigen
sehingga kontak lekat dg sel fagositik menjadi lebih stabil)
Mengaktifkan komplemen
Dapat menyebabkan anafilaksis

C. Siastem Imun Seluler


1. Pengertian
Sistem imun seluler atau Imunitas selular adalah respon imun yang
dilakukan oleh molekul-molekul protein yang tersimpan dalam limfa dan plasma
darah. Imunitas ini dimediasi oleh sel limfosit T. Mekanisme ini ditujukan untuk
benda asing yang dapat menginfeksi sel (beberapa bakteri dan virus) sehingga
tidak dapat dilekati oleh antibodi.
2. Fungsi
7|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER
Fungsi utama sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan terhadap
bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan keganasan. Jalur
komplemen merupakan jalur yang berperan dalam respon imunologik terhadap
bakteri anaerob.
3. Jenis-jenis sel
a. Limfosait T
Sel T merupakan sel limfosit yang pertama kali berinteraksi dengan zat asing.
Hal ini terjadi karena sel T memiliki protein permukaan yang disebut CD4 dan
CD8. CD4 atau CD8 akan mendeteksi keberadaan antigen. Sebab dia akan
mengenali sel yang memiliki reseptor MHC (major histocompatibility
complex) kelas 1 atau MHC kelas 2. Apabila dia berinteraksi dengan sel yang
tidak memiliki MHC maka dia akan menganggap sel tersebut sebagai zat
asing. Sehingga sel T akan berdifensiasi dan menyerang zat asing tersebut.
1) Fungsi sel T
a) Fungsi regulator terutama dilakukan oleh salah satu subset sel T, sel T
penolong (CD4). Sel-sel CD4 mengeluarkan molekul yang dikenal
dengan nama sitokin (protein berberat molekul rendah yang
disekresikan oleh sel-sel sistem imun) untuk melaksanakan fungsi
regulatornya.
b) Fungsi efektor dilakukan oleh sel T sitotoksik (sel CD8). Sel-sel CD8
ini mampu mematikan sel yang terinfeksi oleh virus, sel tumor dan
jaringan transplantasi dengan menyuntikkan zat kimia yang disebut
perforin ke dalam sasaran ”asing”. Limfosit T menyerang antigen yang
berada di dalam sel.
2) Berdasarkan fungsinya secara umum ada tiga golongan utama dari sel T,
yaitu :
a) Sel sitotoksik (Tc) , yang merupakan sel efektor dari killing sel (sel K)
Cytotoxic T Lymphocyte/CTL/ T cytotoxic/T cytolitic/Tc) atau sel T
pembunuh (killer). CTL merupakan sub-grup dari sel T yang berfungsi :
 Membunuh sel yang terinfeksi dengan virus (dan patogen lainnya)
dengan menghancurkan sel yang mengandung virus tersebut.
 Membunuh berbagai bibit penyakit dan sel kanker
 Merusak dan mematikan pathogen intraseluler

8|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


 Menghancurkan sel ganas dan sel histoimkompatibel yang
menimbulkan penolakan pada transplantasi.

Sel limfosit T sitotoksik ini diklasifikasikan sebagai sistem kekebalan


tubuh bawaan yang merupakan pertahanan tubuh terhadap berbagai
macam serangan. Secara langsung menyerang sel lainnya yang
membawa antigen asing atau abnormal di permukaan mereka.

Sel limfosit T sitotoksik meningkatkan sistem pertahanan dengan cara


mengikutsertakan sistem pertahanan yang lain. Sel dari sistem imun
melepaskan messenger kimiawi (seperti sitokin) yang mengambil dan
mengaktifkan sel lain seperti polimorf, makrofag dan sel mast atau
sistem kimiawi (seperti komplemen, amine, kinin, dan sistem lisosomal)
untuk menghancurkan material asing.

b) Sel T helper (Th) / CD4 , yang merupakan sel regulasi. Berdasarkan


kemampuan sitokin yang diproduksi terbagi menjadi Th1 dan Th2. Th1
mempunyai kontribusi di dalam imunitas humoral. Sel T helper adalah
golongan sel darah putih yang bertindak sebagai adaptive immunity.
Dan Sel T helper masih bisa berdiferensiasi menjadi sel T memori dan
sel T penekan / supresor.
Fungsi dari sel T helper sendiri antara lain adalah :
 Membantu sel B untuk membentuk antibody, mengaktifkan sistem
pertahanan adaptive humoral atau adaptive cytolitic
 Membantu perkembangan sel T sitotoksik
 Fasilitator sel-sel pertahanan lain dalam untuk melawan antigen
 Th berperan menolong sel B dalam differensiasi dan memproduksi
antibodi. Sel Th1 memproduksi mediator interleukin-2 (IL-2) dan
interferon gamma (IFN-ý) yang memegang peranan penting
proteksi dengan meningkatkan kemampuan makrophag untuk
fagositosis dan mencerna kuman yang telah difagotisir.

Fungsi sel CD4 :

 Sebagai pengendali, mengaitkan sistem monosit-makrofag ke sistem


limfoid

9|SISTEM IMUN HUMORAL DAN SELULER


 Berinteraksi dengan sel penyaji antigen untuk mengendalikan Ig
 Menghasilkan sitokin yang memungkin tumbuhnya sel CD4 dan
CD8
 Berkembang menjadi sel pengingat.
c) Sel T suppressor (Ts) / CD8 , yang merupakan sel regulasi . Seperti sel
Th, Ts adalah sel regulasi karena aksinya sebagai inhibisi dimana sel
tersebut melepaskan limpokin yang dapat menekan aktivitas dari sel T
dan sel B. Sel Ts akan menghentikan respon imun setelah sukses
menginaktifkan dan menghancurkna antigen. Hal ini membantu
mencegah tidak terkontrolnya dan tidak dibutuhkannnya lagi kerja dari
sistem imun.
b. Makrofag
Pencetusan reaksi imun seluler memerlukan pemroses antigen seperti
makrofag. Mula-mula, makrofag mengaktifkan sejumlah kecil limfosit T
helper yang memiliki reseptor untuk antigen yang dipertanyakan dengan
menyajikan antigen pada sel T bersama dengan molekul “self-recognition”.
Sel T helper yang diaktifkan mengeluarkan limfokin, beberapa diantaranya
mengaktifkan makrofag dan juga mengumpulkan limfosit-limfosit lain dan
monosit-makrofag untuk berperan serta dalam reaksi.
Makrofag yang diaktifkan mengahasilkan monokin, beberapa
diantaranya diperlukan untuk aktifasi sel T dan mencetuskan inflamasi.
Makrofag melepaskan interleukin-1, yaitu monokin yang diduga identik
dengan pirogen leukosit (penyebab reaksi-reaksi demam) dan diperlukan
untuk aktifasi limfosit T helper.
c. Sel NK/ natural Killer (NK)
Sel ini tidak mengandung penanda sel T atau sel B dan tidak
memerlukan sensitisasi lebih dahulu untuk generasinya. Sel-sel ini diduga
terlibat dalam penghancuran non-spesifik sel-sel sasaran yang diubah virus, sel
alograf, dan penolakan tumor. Peranannya pada manusia belum ditemuan
namun mempunyai arti besar dalam pengawasan imun penyakit keganasan
pada manusia.

10 | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R
4. Mekanisme Imunitas Seluler

Berdasarkan gambar di atas, sistem imunitas seluler dimulai dari


limfosit T. Limfosit T memiliki fungsi regulator dan efektor. Fungsi regulator
terutama dilakukan oleh sel T helper / Th (CD4). Sel-sel CD4 mengeluarkan
molekul yang dikenal dengan nama sitokin untuk melaksanakan fungsi
regulatornya. Fungsi efektor dilakukan oleh sel T sitotoksik / Tc (sel CD8). Sel-sel
CD8 ini mampu mematikan sel yang terinfeksi oleh virus dengan menyuntikkan
zat kimia yang disebut perforin ke dalam sasaran ”asing”.
Sel T helper masih bisa berdiferensiasi menjadi sel T memori dan sel T
suppresor. Sel T merupakan sel limfosit yang pertama kali berinteraksi dengan zat
asing. Hal ini terjadi karena sel T memiliki protein permukaan yang disebut CD4
dan CD8. CD4 atau CD8 akan mendeteksi keberadaan antigen. Sebab dia akan
mengenali sel yang memiliki reseptor MHC (major histocompatibility complex)
kelas 1 atau MHC kelas 2. MHC 1 adalah reseptor dari Limfosit sitolitik
sedangkan MHC 2 merupakan reseptor dari Limfosit helper. Apabila dia
berinteraksi dengan sel yang tidak memiliki MHC maka dia akan menganggap sel
tersebut sebagai zat asing. Sehingga sel T akan berdifensiasi dan menyerang zat
asing tersebut. Fungsi sel T helper adalah membantu limfosit T, limfosit B, sel-sel

11 | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R
non spesifik (sel NK). Sel NK ini diduga terlibat dalam penghancuran non-
spesifik sel-sel sasaran.
Th berperan menolong sel B dalam differensiasi dan memproduksi
antibodi. Sel Th1 memproduksi mediator interleukin-2 (IL-2) dan interferon
gamma (IFN-ý) yang memegang peranan penting proteksi dengan meningkatkan
kemampuan makrophag untuk fagositosis dan mencerna kuman yang telah
difagotisir.

Makrofag mengaktifkan sejumlah kecil limfosit T helper yang memiliki


reseptor untuk antigen yang dipertanyakan dengan menyajikan antigen pada sel T
bersama dengan molekul “self-recognition”. Sel T helper yang diaktifkan
mengeluarkan limfokin, beberapa diantaranya mengaktifkan makrofag dan juga
mengumpulkan limfosit-limfosit lain dan monosit-makrofag untuk berperan serta
dalam reaksi. Makrofag yang diaktifkan mengahasilkan monokin, beberapa
diantaranya diperlukan untuk aktifasi sel T dan mencetuskan inflamasi.

D. Perbedaan Sistem Imun Humoral Dan Seluler


1. Imunitas humoral oleh B- sel sementara imunita seluler oleh sel T
2. Pada imunitas humoral, sel B mensekresikan antibodi sedangkan pada imunitas
seluler yang diperantarai sel, sel T tidak mengeluarkan reseptor. Reseptor sel-T
yang terikat pada sel T dan seluler mengikat dengan antigen sendiri.
3. Imunitas humoral yang lebih penting untuk menghilangkan antigen larut dan
menghancurkan mikroorganisme ekstraselular sedangkan imunitas seluler lebih
penting untuk menghilangkan organisme intraseluler (seperti virus).
4. Antibodi yang digunakan dalam imunitas humoral sedangkan reseptor yang
digunakan dalam imunitas seluler diperantarai untuk membela terhadap patogen.

12 | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa :
1. Sistem imun adalah sistem pertahanan yang ada pada tubuh manusia yang
berfungsi untuk menjaga manusia dari benda-benda yang asing bagi tubuh
manusia. Pada sistem imun ada istilah yang disebut Imunitas.
2. Imunitas humoral, yaitu imunitas yang dimediasi oleh molekul di dalam darah,
yang disebut antibodi. Antibodi dihasilkan oleh sel B limfosit. Pertahanan ini
disebut humoral karena melibatkan molekul-molekul yang larut untukk
melawan mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul yang
berada di sekitar daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut yang
bekerja pada pertahanan ini adalah Interferon (IFN), Defensin, Kateisidin, dan
Sistem Komplemen.
3. Sistem imun seluler atau Imunitas selular adalah respon imun yang dilakukan
oleh molekul-molekul protein yang tersimpan dalam limfa dan plasma darah.
Imunitas ini dimediasi oleh sel limfosit T. Mekanisme ini ditujukan untuk
benda asing yang dapat menginfeksi sel (beberapa bakteri dan virus) sehingga
tidak dapat dilekati oleh antibodi.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun agar penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi. Demikian
penulis ucapkan terimakasih.

13 | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R
DAFTAR PUSTAKA

1. B. Karnen Garna, 2006, Imunologi Dasar edisi tujuh, Fakultas Kedokteran UI,
Jakarta.
2. C. Elizabeth J, 2009 buku saku patofisiologi edisi tiga, buku kedokteran, EGC :.
3. Perry & Potter.2005.Fundamental of Nursing, Edisi 2 Volume 2.Jakarta:EGC
4. Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: EGC
5. W.F. Ganong, 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 22, buku kedokteran, EGC
6. Kresno, Siti Boedina. 1996. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
7. Sudibyo. 1989. Dasar- Dasar Imunologi. Jakarta: CV. Sembiring
8. http://eprints.undip.ac.id/29074/3/Bab_2.pdf
9. http://blog.ub.ac.id/cdrhfitria/2012/09/19/sistem-imun-spesifik-seluler/

14 | S I S T E M I M U N H U M O R A L D A N S E L U L E R