Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH IMUNOSEROLOGI

“Respon Imun dalam Pertahanan Tubuh”

Dosen Pembimbing :

Dr. Citra Trisna, Sp.PK

DISUSUN OLEH :
Kelompok 6 (2A)

1. Cici Nuriah
2. Elva Febriani
3. Lucyana W
4. Suliani Agustin

D3 TEKNOLOI LABORATORIUM MEDIK

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANTEN

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi
tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta
sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas,
organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta
menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat
dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi
patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme.

Untuk selamat dari tantangan ini, beberapa mekanisme telah berevolusi yang
menetralisir patogen. Bahkan organisme uniselular seperti bakteri dimusnahkan oleh sistem
enzim yang melindungi terhadap infeksi virus. Mekanisme imun lainnya yang berevolusi
pada eukariota kuno dan tetap pada keturunan modern, seperti tanaman, ikan, reptil dan
serangga. Mekanisme tersebut termasuk peptida antimikrobial yang disebut defensin,
fagositosis, dan sistem komplemen. Mekanisme yang lebih berpengalaman berkembang
secara relatif baru-baru ini, dengan adanya evolusi vertebrata. Imunitas vertebrata seperti
manusia berisi banyak jenis protein, sel, organ tubuh dan jaringan yang berinteraksi pada
jaringan yang rumit dan dinamin. Sebagai bagian dari respon imun yang lebih kompleks ini,
sistem vertebrata mengadaptasi untuk mengakui patogen khusus secara lebih efektif. Proses
adaptasi membuat memori imunologis dan membuat perlindungan yang lebih efektif selama
pertemuan pada masa depan dengan patogen tersebut. Proses imunitas yang diterima adalah
basis dari vaksinasi.

Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga


berkurang, membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit
defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan
munculnya infeksi. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetik, seperti
severe combined immunodeficiency, atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti
sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit
autoimun menyebabkan sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seperti
jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang umum termasuk

2
rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus. Peran penting
imunologi tersebut pada kesehatan dan penyakit adalah bagian dari penelitian.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Respon Imun dalam Pertahanan Tubuh?


2. Bagaimana Mekanisme Pertahanan Non Spesifik?
3. Bagaimana Mekanisme Pertahanan Spesifik?
4. Apa saja Sel Lain yang Berperan Dalam Respon Imun dalam pertahanan tubuh?
5. Bagaimana Mekanisme Respon Imun Dalam Pertahanan Tubuh?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Respon Imun dalam Pertahanan Tubuh.


2. Untuk mengetahui Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
3. Untuk mengetahui Mekanisme Pertahanan Spesifik
4. Untuk mengetahui Sel Lain yang Berperan Dalam Respon Imun dalam pertahanan
tubuh.
5. Untuk mengetahui Mekanisme Respon Imun Dalam Pertahanan Tubuh.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Respons Imun dalam Pertahanan Tubuh
Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks
terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat
melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit,
komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme
pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme
pertahanan spesifik.
2.2 Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Sistem kekebalan nonspesifik yang didapat sejak lahir secara non selektif mampun
mempertahankan tubuh dari invasi senyawa atau mikroorganisme dan benda asing
lainnya, walaupun baru pertama kali terpapar. Respon imun seperti ini merupakan lini
pertama pertahanan terhadap berbagai faktor yang mengancam tubuh, termasuk
mikroorganisme, iritan kimia dan cidera jaringan yang menyertai trauma mekanis atau
luka bakar. Pertahanan tubuh yang bereaksi terhadap benda asing atau mikroorganisme
yang masuk kedalam tubuh adalah sebagai berikut:
1. Reaksi Inflamasi / Peradangan
 Merupakan respons lokal tubuh terhadap infeksi atau perlukaan.
 Tidak spesifik hanya untuk infeksi mikroba, tetapi respons yg sama juga terjadi
pada perlukaan akibat suhu dingin, panas, atau trauma.
 Sel yang berperan : fagosit, a.l: neutrofil, monosit, dan makrofag.

Tahapan Inflamasi :

a) Masuknya bakteri ke dalam jaringan.


b) Vasodilatasi sistem mikrosirkulasi area yg terinfeksi → meningkatkan aliran darah
(RUBOR/kemerahan dan CALOR/panas).
c) Permeabilitas kapiler dan venul yang terinfeksi terhadap protein meningkat →
difusi protein dan filtrasi air ke interstisial (TUMOR/bengkak dan DOLOR/nyeri).
d) Keluarnya neutrofil lalu monosit dari kapiler dan venula ke interstisial.
e) Penghancuran bakteri di jaringan → fagositosis (respons sistemik: demam).
f) Perbaikan jaringan.

4
2. Protein Antivirus (Interferon)

 Sel yang terinfeksi virus akan mengeluarkan interferon


 Interferon mengganggu replikasi virus (antivirus); ‘interfere’.
 Interferon juga memperlambat pembelahan dan pertumbuhan sel tumor dgn
meningkatkan potensi sel NK dan sel T sitotoksik (antikanker).
 Peran interferon yg lain: meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag dan
merangsang produksi antibodi.

3. Sel Natural Killer (NK)

 Merusak sel yg terinfeksi virus dan sel kanker dengan melisiskan membran sel
pada paparan I.
 Kerjanya sama dengan sel T sitotoksik, tetapi lebih cepat, non-spesifik, dan
bekerja sebelum sel T sitotoksik menjadi lebih banyak dan berfungsi.
4. Sistem Komplemen

Sistem ini diaktifkan oleh:

a) Paparan rantai karbohidrat yang ada pada permukaan mikroorganisme yang


tidak ada pada sel manusia
b) Paparan antibodi yang diproduksi spesifik untuk zat asing tertentu oleh sistem
imun adaptif.

Bekerja sebagai ‘komplemen’ dari kerja antibodi. Komplemen yang teraktivasi


akan:

a) Berikatan dengan basofil dan sel mast dan menginduksi penglepasan histamin
→ reaksi inflamasi
b) Berperan sebagai faktor kemotaksis yang meningkatkan fagositosis.
c) Berikatan dengan permukaan bakteri dan bekerja sebagai opsonin (opsonisasi)
→ fagositosis.
d) Menempel pada membran dan membentuk struktur berbentuk tabung yg
melubangi membran sel dan menyebabkan lisis sel.

5
2.3 Mekanisme Pertahanan Spesifik
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau
imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang dapat menghancurkan patogen yang
lolos dari sistem kekebalan non-spesifik.
Pertahanan spesifik harus dapat membedakan sel asing yang harus dirusak dari sel-diri
→ antigen (molekul besar, kompleks, dan unik yang memicu respons imun spesifik jika
masuk ke dalam tubuh).
Kekebalan Tubuh Spesifik mencakup dua hal, yaitu :
a) Kekebalan Humoral
Produksi antibodi oleh Limfosit B (Sel Plasma)
 Antigen (Ag) merangsang sel B berubah menjadi sel plasma yg memproduksi
antibodi (Ab).
 Ab disekresi ke darah atau limfa lokasi sel plasma yg teraktivasi; semua Ab
akan mencapai darah ⇒ gamma globulin = imunoglobulin (Ig).
Macam Immunoglobulin :
 Ig M → berperan sebagai reseptor permukaan sel B dan disekresi pada tahap
awal respons sel plasma.
 Ig G → Ig terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons terhadap antigen
yang sama.
 Ig M dan IgG berperan jika terjadi invasi bakteri dan virus serta aktivasi
komplemen.
 Ig E → melindungi tubuh dari infeksi parasit dan mirip mediator pada reaksi
alergi; melepaskan histamin dari basofil dan sel mast.
 Ig A → ditemukan pd sekresi sistem perncernaan, pernapasan, dan perkemihan
(contoh : pada ai rmata dan ASI).
 Ig D → terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen pada sel B.

b) Kekebalan Seluler

 Limfosit T spesifik untuk kekebalan terhadap infeksi virus dan pengaturan pada
mekanisme kekebalan.
 Sel-sel T harus kontak langsung dengan sasaran.
 Ada 3 subpopulasi sel T: sel T sitotoksik, sel T penolong, dan sel T penekan.

6
 Major histocompatibility complex (MHC): kode human leucocyte-associated
antigen (HLA) yang terikat pada permukaan membran sel; khas pada setiap
individu.
 Surveilens imun: kerjasama sel T sitotoksik, sel NK, makrofag, dan interferon.

Macam-macam Sel T :

a) Petanda Permukaan: mempunyai resptor sel yang dapat dibedakan dengan yang
lain, beberapa macam sel T
 T11 : Penanda bahwa sel T sudang matang
 T 4 dan T8 : T4 berfungsi sebagai pengenalan molekul kelas II MHC dan T8
dalam pengenalankelas I MHC
 T3 : resptor yang diperlukan untukperangsangan sel T
 TcT (Terminal deoxyribonuckleotidyl Transferase) : enzim yang diperlukan
untuk menemukan pre T cell
b) Petanda Cluster Differentiation (CD) : berperan dalam meneruskan sinyal aktivasi
yang datang dari luar sel ke dalam sel (bila ada interaksi antara antigen molekul
MHC dan reseptor sel T)
c) Petanda fungsional
Mitogen dan lectin merupakan alamiah yang berkemampuan mengikat dan
merangsang banyak klon limfoid untuk proliferasi dan diferensiasi.

Subkelas Sel T

a) Sel Th (T Helper) : menolong sel b dalam memproduksi antibody


b) Sel Ts (T Supresor): menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. Sibagi menjadi
Sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel Ts nonspesifik
c) Sel Tdh / Td (delayed hypersensivity): berperan pada pengerahan makrofag ddan
sel inflamasi lain ke tempat terjadinya reaksi hipersensivitas tipe lambat.
d) Sel Tc (cytotoxic): berkemampuan untuk menghancurkan sel allogeneic dan sel
sasaran yang mengandung virus.

7
2.4 Sel Lain Yang Berperan Dalam Respons Imun Dalam Pertahanan Tubuh

1) Sel Fagosit Agranulosit dan Granulosit


Agranulosit
 Sel Monosit : sel yang berasal dan matang di sum-sum tulang dimana setelah
matang akan bermigrasi ke sirkulasi darah dan berfungsi sebagai fagosit
 Sel makrofag : diferensiasi dari sel monosit yang berada dalam sirkulasi. Ada 2
golongan, yaitu:
a. Fagosit professional: monosit dan makrofag yang menempel pada permukaan
dan akan memakan mikroorganisme asing yang masuk. Monosit dan makrofag
juga mempunyai resepto interferon dan Migration Inhibition Factor (MIF).
Selanjutanya monosit dan makrofag diaktifkan oleh Macrophage Activating
Factor (MAF) yang dilepas oleh sel T yang disensitasi.
b. Antigen Presenting Cell (APC): sel yang mengikat antigen asing yang masuk
lalu meprosesnya sebelum dikenal oleh limfosit. Sel-sel yang dapat menjadi
APC antara lain: kelenjar limfoid, sel Langerhans di kulit, Sel Kupffer di hati,
sel mikrogrial di SSP dan sel B.
Granulosit
 Neutrofil : mempunyai reseptor untuk fraksi Fc antibody dan komplemen yang
diaktifkan.
 Eosinofil: eosinofil dapat dirangsang untuk degranulasi sel dimana mediator yang
dilepas dapat menginaktifkan mediator- mediator yang dilepas oleh
mastosit/basofil pada reaksi alergi. eosinofil mengandung berbagai granul seperti
Major Basic Protein (MBP), Eosinophil Cationic Protein (ECP), Eosinophil
Derived Neurotoxin (EDN) & Eosinophil Peroxidase (EPO) yang besifat toksik
dan dapat menghancurkan sel sasaran bila dilepas.
2) Sel Nol
Berupa Large Granular Lymphocyte (LGL) yang terbagi dalam sel NK (Natural
Killer) dan sel K (Killer). Sel NK dapat membunuh sel tumor dengan cara nonspesifik
tanpa bantuan antibody sedang sel K merupakan efektor Antibody Dependent Cell
(ADCC) ynag dapat membunuh sel secara nonspesifik namun bila sel sasaran dilapisi
antibody.

8
3) Sel Mediator
 Basofil dan Mastosit: melepaskan bahan-bahan yang mempunyai aktivitas biologic
antara lain: meningkatkan permeabilitas vaskuler dan respons inflamasi.
 Trombosit: berfungsi pada homeostasis, memodulasi respons inflamasi, sitotoksik
sebagai selefektor dan penyembuhan jaringan.

2.4 Mekanisme Respons Imun Dalam Pertahanan Tubuh


1) Mekanisme Imun Non Spesifik
a. Perlindungan Secara Fisik
Adanya lapisan kulit yang membungkus badan manusia. Secara fisika,
ketebalan kulit dapat dihitung untuk menghadapi daya tekanan. Meskipun tipis,
kulit mampu bertahan terhadap tekanan secara merata. Ketika ada tekanan, kulit
akan menyebarkannya ke seluruh tubuh agar anggota tubuh bagian dalam dapat
terlindungi. Di samping itu, kulit mampu memperbaiki dan memperbarui diri.
Pembungkus ajaib ini memiliki struktur yang sangat lentur sehingga
memungkinkannya bergerak secara bebas dan tidak mudah robek. Kulit juga
mampu melindungi tubuh dari panas, dingin, dan sinar matahari yang merugikan.
Kaitannya dengan sistem pertahanan tubuh, kulit mampu melindungi tubuh dari
mikroorganisme penyebab penyakit. Karena bersifat semipermeabel yaitu tidak
sembarang benda bisa menembusnya, kulit menjadi benteng terluar untuk
menghalangi tamu-tamu asing sebelum masuk ke dalam tubuh.
b. Perlindungan Secara Kimiawi
Adanya pengaturan pH atau tingkat keasaman dalam tubuh. Bagian-bagian
tertentu dari tubuh kita, khususnya bagian luar yang memungkinkan benda asing
masuk, memiliki mekanisme perlindungan kimiawi. Contohnya pada organ
reproduksi wanita, bakteri atau virus dapat masuk ke dalam organ ini setiap saat.
Untuk melindunginya, organ reproduksi wanita memiliki tingkat keasaman yang
rendah sehingga bakteri-bakteri yang membawa bibit penyakit dan tidak tahan
terhadap asam akan mati. Demikian pula di mulut ada mekanisme pH dan enzim
yang mampu mempertahankan diri apabila ada unsur-unsur asing masuk.
Di dalam darah juga terdapat proses pengaturan tingkat keasaman (pH). Ketika
pH darah seseorang terlalu rendah, ia akan mengalami suatu kondisi yang disebut
asidosis. Pada saat mengalami asidosis darah terlalu asam sehingga terjadi
kegagalan metabolisme dalam tubuh. Hal ini disebabkan metabolisme dalam tubuh

9
memerlukan suasana yang netral. Sebagai contoh, banyak sekali penderita diabetes
meninggal karena asidosis. Mereka mengonsumsi makanan yang mengandung
gula, tetapi metabolisme tubuh tidak dapat memproses gula tersebut sehingga
mereka pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan kehidupan.
c. Perlindungan Secara Fisiologi
Di dalam tubuh manusia terdapat sistem aliran darah yang sempurna. Ketika
seseorang menghadapi situasi berbahaya, dengan pengaruh hormonal, pembuluh
darahnya akan lebih mudah melebar sehingga energi yang dibutuhkan lebih cepat
dialirkan dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Dengan demikian seseorang dapat
melepaskan diri dari bahaya. Tanpa adanya mekanisme semacam ini, manusia
menjadi sangat rentan terhadap bahaya yang mengancam sehingga tidak mampu
lagi mempertahankan hidupnya lebih lama.
d. Perlindungan Secara Biologis
Hadirnya bakteri-bakteri baik merupakan salah satu pendukung sistem imun. Di
daerah permukaan tubuh yang tertutup oleh kulit dan sebagian di antaranya
ditumbuhi rambut, terdapat koloni-koloni bakteri yang tinggal dan beranak pinak
dengan damai. Bakteri ini dikenal sebagai flora normal atau bakteri komensal.
Keberadaannya tidak termasuk bagian sistem imun, tetapi dapat membantu sistem
imun dalam melindungi tubuh.
Salah satu divisi bakteri yang tergolong dalam keluarga bacillus dan
bifidobacterium memiliki kemampuan menghasilkan asam laktat yang
dipergunakan untuk mempertahankan derajat keasaman (pH) permukaan tubuh.
Derajat keasaman yang terkendali membuat para flora normal lainnya merasa
nyaman. Pada saat kondisi permukaan tubuh kondusif bagi flora normal, kinerja
bakteri baik pun semakin produktif.
Keberadaan flora normal secara tidak langsung akan menjadi mekanisme seleksi
bagi kehadiran unsur asing yang diduga berpotensi menimbulkan gangguan
keamanan bagi tubuh. Salah satu mekanisme seleksi yang dilakukan untuk
mencegah pihak-pihak yang tidak berkepentingan datang dan bercokol adalah
mekanisme “kompetitif inhibitor”. Fasilitas ini sebagian besar telah dimanfaatkan
secara optimal oleh para flora normal sehingga pendatang-pendatang asing tidak
akan merasa nyaman tatkala singgah dalam jangka waktu yang lama.

10
Tidak memadainya jumlah flora normal dalam tubuh seseorang menyebabkan
dukungan terhadap sistem imunnya berkurang, sehingga ia berisiko sakit ketika ada
patogen, virus, parasit, dan unsur-unsur asing membahayakan lainnya.
Dalam hal ini konsumsi probiotik sangat membantu untuk mensuplai jumlah
flora normal yang memadai ke dalam tubuh, sehingga imunitas tubuh menjadi
lebih kuat untuk melawan segala zat asing yang mengancam. BioTerra sebagai
produk probiotik plus prebiotik yang diproduksi dari bahan-bahan alami
merupakan pilihan yang amat tepat untuk memenuhi kebutuhan flora normal ini.
BioTerra dapat memulihkan dan mengoptimalkan kerja sistem imun sehingga
manusia sakit dapat kembali sehat, dan manusia sehat dapat tetap terjaga
kesehatannya.
Selain kehadiran flora normal, terdapat pula penataan lingkungan yang sangat
sempurna. Kondisi lingkungan yang tertata dengan sempurna itu dengan sendirinya
menjadi hambatan ekologis bagi pendatang yang tidak dikehendaki tubuh atau
yang bermaksud kurang baik.
2) Mekanisme Imun Spesifik
Keberadaan mikroba patogen dapat menimbulkan dampak-dampak yang tidak
diharapkan akan memicu sistem imun untuk melakukan tindakan dengan urutan
mekanisme sebagai berikut : introduksi, persuasi, dan represi.
Meskipun komplemen dapat diasosiasikan sesuai artinya, yaitu pelengkap, namun
sesungguhnya fungsinya amatlah vital. Faktor komplemen bertugas untuk
menganalisa masalah untuk selanjutnya mengenalkannya kepada imunoglobulin,
untuk selanjutnya akan diolah dandipecah-pecah menjadi bagian-bagian molekul
yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Setelah itu limfosit T bekerja dengan memakan mikroba patogen. Sel limfosit
terdiri dari dua spesies besar, yaitu limfosit T dan B. Bila limfosit B kelak akan
bermetamorfosa menjadi sel plasma dan selanjutnya akan menghasilkan
imunoglobulin (G,A,M,D,E), maka sel T akan menjadi divisi T helper, T
sitotoksik, dan T supresor.
Dalam kondisi yang berat akan terjadi beberapa proses berikut : sel limfosit T
akan meminimalisasi efek patogenik dari mikroba patogen dengan cara
bekerjasama dengan antibodi untuk mengenali dan merubah antigen dari mikroba
patogen menjadi serpihan asam amino melalui sebuah mekanisme yang disebut
Antibody Dependent Cell Cytotoxicity (ADCC). Selain itu sel limfosit T bersama

11
dengan sel NK (Natural Killer) dan sel-sel dendritik dapat bertindak langsung
secara represif untuk menghentikan kegiatan mikroba patogen yang destruktif
melalui aktivitas kimiawi zat yang disebut perforin.
Dalam beberapa kondisi khusus, sel limfosit T dapat memperoleh bantuan dari
sel makrofag yang berperan sebagai Antigen Presenting Cell (APC) alias sel
penyaji antigen.
Sedangkan Sel limfosit B bertugas untuk membangun sistem manajemen
komunikasi terpadu di wilayah cairan tubuh (imunitas humoral). Bila ada antigen
dari unsur asing yang masuk, maka sel limfosit B akan merespon dengan cara
membentuk sel plasma yang spesifik untuk menghasilkan molekul imunoglobulin
yang sesuai dengan karakteristik antigen dari unsur asing tersebut.

12
BAB III
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks
terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat
melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit,
komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks.
Sel yang berperan dalam respon imun yaitu :
1. Sel Fagosit Agranulosit dan Granulosit
2. Sel Mediator
3. Sel Nol
Mekanisme Respons Imun Dalam Pertahanan Tubuh
1. Mekanisme Imun Non Spesifik
2. Mekanisme Imun Spesifik
5.2 Saran- Saran
Penulis menyarankan agar pembaca dapat mengetahui Respon Imun dalam
Pertahanan Tubuh, Mekanisme Pertahanan Non Spesifik, Mekanisme Pertahanan
Spesifik, Sel Lain yang Berperan Dalam Respon Imun dalam pertahanan tubuh
dan mengetahui Mekanisme Respon Imun Dalam Pertahanan Tubuh.

13
DAFTAR PUSTAKA

 Ju Baratawidjaja KG. 2006. Imunologi Dasar. 7th ed. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
 Baratawidjaja KG. 2009. Imunologi Dasar. 8th ed. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
 Kuntarti, 2009. Sistem Imun. Di akses dari PPT Staff UI.Depok
 Radji, maksum. 2015. Imunologi dan Virologi. Jakarta barat : PT.ISFI
Penerbitan

14
15