Anda di halaman 1dari 7

HARGA DIRI RENDAH

A. Definisi Harga Diri Rendah

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri
dan kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa
gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai dengan ideal diri.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang,
perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang
buruk (Keliat, 2011).
Harga diri meningkat bila diperhatikan/dicintai dan dihargai atau
dibanggakan. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi
sampai rendah. Harga diri tinggi/positif ditandai dengan ansietas yang
rendah, efektif dalam kelompok, dan diterima oleh orang lain. Individu yang
memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu
beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman
sedangkan individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan
dengan cara negatif dan menganggap sebagai ancaman (Yoseph, 2009).

B. Proses Terjadinya Harga Diri Rendah

Harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang.


Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan.
Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang rendah. Selanjutnya, hal
ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak optimal. Dalam tinjauan
life span history klien, penyebab terjadinya harga diri rendah adalah pada
masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat
individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi
kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal di
sekolah, pekerjaan, atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat
lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya
(Yosep, 2009)
Harga diri berkaitan dengan pengalaman interpersonal, dalam tahap
perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti good me, bad me, not
me, anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan amannya tidak
terpenuhi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila koping yang

1
digunakan tidak efektif akan menimbulkan harga diri rendah. Menurut
Lingkungan sosial akan mempengaruhi individu, pengalaman seseorang dan
adanya perubahan sosial seperti perasaan dikucilkan, ditolak oleh
lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan stress dan
menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri rendah. Lingkungan
sosial, pengalaman individu dan adanya perubahan sosial seperti perasaan
dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, tidak dihargai akan menyebabkan
stress dan menimbulkan penyimpangan perilaku akibat harga diri rendah
(Yosep, 2009).

C. Etiologi Harga Diri Rendah

Menurut Yosep (2009) Gangguan harga diri yang disebut sebagai


harga diri rendah dapat terjadi secara situasional dan kronis:

1. Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,
kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja,
perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN
dll). Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah,
karena :

a. Privasi yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik


yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan
(pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan
perineal).
b. Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.
c. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai,
misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan,
berbagai tindakan tanpa persetujuan.

2. Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung
lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara
berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah
persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan
respons yang maladaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien

2
gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa. Dalam
tinjauan life span history klien, penyebab HDR adalah kegagalan
tumbuh kembang, misalnya sering disalahkan, kurang dihargai,
tidak diberi kesempatan dan tidak diterima dalam kelompok.

Faktor-faktor yang mengakibatkan harga diri rendah kronik


meliputi predisposisi dan faktor presipitasi Stuart (2016) sebagai
berikut:

a. Faktor predisposisi
1. Faktor yang meliputi harga diri meliputi penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang
berulang, kurang mempuynyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak
realistis.
2. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah
stereotipe peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan
peran budaya.
3. Faktor ysng mempengaruhi identitas pribadi meliputi
ketidak percayaan orang tua, tekanan dari kelompok
sebaya, dan perubahan struktur sosial.

b. Faktor presifitasi
Terjadinya harga diri rendah biasanya adalah kehilangan
bagian tubuh perubahan penampilan atau bentuk tubuh,
kegagalan atau produktivitas yang menurun.

c. Perilaku
Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi
perilaku yang objektif dan dapat diamati serta perasaan
subjektif dan dunia dalam diri klien sendiri.

D. Manifestasi Klinis Harga Diri Rendah

Menurut Keliat (2011), tanda dan gejala harga diri rendah adalah:
1. Mengkritik diri sendiri
2. Perasaan tidak mampu
3. Pandangan hidup yang pesimis

3
4. Penurunan produktivitas
5. Penolakan terhadap diri sendiri
6. Tampak kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi,
selera makan menurun, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak
menunduk, dan bicara lambat dengan suara yang melemah.
7. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan
terhadap penyakit
8. Rasa bersalah terhadap diri sendiri
9. Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri
10. Percaya diri kurang

E. Rentang Respon Konsep Diri

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Aktualisasi Diri Konsep Diri Harga Diri Difusi Disosiasi


Positif Rendah Identitas Depersonalisasi

Konsep diri positif dihasilkan dari pengalaman positif yang


mengarah ke kompetensi yang dirasakan dan diterima oleh orang lain
yang berbeda dari diri sendiri. Konsep diri negative berhubungan dengan
penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk. Rentang respon konsep diri
dari keadaan yang adaptif yaitu aktulisasi diri sampai pada respon yang
paling maladaptive yaitu depersonalisasi (Stuart, 2016).

1. Aktualisasi diri
Adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan
latar pengalaman nyata yang sukses dan dapat di terima.
2. Konsep diri positif
Merupakan bagaimana seseorang memandang apa yang ada
pada dirinya meliputi citra dirinya, ideal dirinya, harga dirinya,
penampilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini
akan menunjukan bahwa individu itu akan menjadi individu yang
sukses.
3. Harga diri rendah

4
Merupakan perasaan negatife terhadap dirinya sendiri termasuk
kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis,
tidak ada harapan dan putus asa.
4. Kerancuan identitas
Merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan
berbagai identifikasi masa kanak-kanak ke dalam kepribadian
psikososial dewasa yang harmonis.
5. Deefersonalisasi

Merupakan suatu perasaan yang tidak realistis dimana klien tidak


dapat membedakan stimulus dari dalam atau luar dirinya.

F. Penatalaksanaan Medis Harga Diri Rendah

Pemberian terapi medis pada kasus harga diri rendah juga tidak
digolongkan sendiri dan lebih mengarah kepada pemberian obat golongan
antidepresan, Karena fungsi dari obat anti depresan ini adalah memblok
pengambilan kembali neurotransmitter norepineprin dan serotinin,
meningkatkan konsentrasinya pada sinaps dan mengkoreksi defisit yang
diperkirakan menyebabakan alam perasaan melankolis. Hal ini sesuai
dengan masalah neurotransmitter yang di hadapi oleh klien dengan harga
diri rendah yaitu adanya penurunan neurotransmitter seperti serotonin,
neropineprin.

Terdapat banyak jenis antidepresan tetapi pada kasus harga diri


rendah kali ini pemberian obat yang dapat diberikan lebih banyak dalam
jenis Tricyclic Anti Depresan (TCA): amitriptiline, imipramine, desipramine,
notriptilin, sesuai dengan fungsi obatnya yaitu untuk meningkatkan reuptake
seorotonin dan norepinefrin sehingga meningkatkan motivasi klien dan
sesuai dengan indikasinya yaitu pengobatan yang diberikan pada klien
dengan depresi tetapi juga mengalami skizofrenia sehingga mempunyai efek
pengobatan yang saling meningkatkan.

G. Masalah Keperawatan

Adapun masalah keperawatan yang muncul keperawatan yang muncul


adalah:
1. Harga diri rendah kronid
2. Koping individu tidak efektif

5
3. Isolasisosial
4. Perubahan persepsi sensori: Halusinasi
5. Resiko tinggi perilaku kekerasan

6
DAFTAR PUSTAKA
Stuart, Gail W. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart.
Edisi Indonesia. Jakarta: Elsevier Singapore

Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. cetakan kedua (edisi revisi). Bandung: PT
Refrika Aditama
Keliat, Budi A. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (basic
course). Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.