Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

SIKLUS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


STROKE INFARK

A. DEFINISI
CVA atau stroke adalah cedera vaskular akut pada otak. Ini berarti stroke adalah
suatu cedera mendadak dan berat pada pembuluh darah otak. Cedera dapat disebabkan
oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan
penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah. Semua ini menyebabkan kurangnya
pasokan darah yang memadai. Stroke mungkin menampakkan gejala, mungkin juga
tidak (stroke tanpa gejala disebut silent stroke), tergantung pada tempat dan ukuran
kerusakan (Feigin. ,2004)
Sebagian CVA Infark merupakan jenis iskemik dan terjadi karena oklusi arteri oleh
trombosis atau emboli yang berkaitan dengan ateroklerosis. Trombosis yaitu penyebab
CVA Infark yang paling sering dijumpai, biasanya pada lansia. Pada aterosklerosis
mula – mula terbentuk daerah berlemak yang berwarna kuning pada permukaan interna
arteri. Seiring waktu terbentuk plak fibrosis (ateroma) di lokasiyang terbatas seperti di
percabangan arteri dan bifurkasio yang berlawanan. Penyempitan atau oklusi tersebut
yang akhirnya menyebabkan suplai darah ke serebral berkurang sehingga perfusi
jaringan otak mengalami gangguan. Suplai darah ke otak yang berkurang menyebabkan
oksigen di dalam otak juga berkurang sehingga otak mengalami asidosis, natrium
klorida, dan air masuk ke dalam sel saraf dan kalium meninggalkan sel saraf sehingga
otak mengalami edema dan jika pada saraf serebral terjadi pecahnya pembuluh darah
sehingga timbul perdarahn maka akan terjadi masalah meningkatan tekanan
intrakranial (Esther, 2009).

B. ETIOLOGI
Pada stroke infark, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur arteri yang menuju
ke otak. Misalnya suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam arteri karotis
sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena
setiap arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak.
Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah,
kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil. Arteri karotis dan arteri vertebralis
beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal
dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut
emboli serebral, yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani
pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama
jantung (terutama fibrilasi atrium)
Menurut Smeltzer (2001) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari
empat kejadian yaitu:

a. Trombosis serebral
Arteriosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah
penyebab utama trombosis serebral, yang merupakan penyebab paling umum dari
stroke. Tanda-tanda trombosis serebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang
tidak umum. Beberapa pasien dapat mengalami pusing, perubahan kognitif, atau
kejang, dan beberapa mengalami awitan yang tidak dapat dibedakan dari
haemorrhagi intracerebral atau embolisme serebral. Secara umum, trombosis
serebral tidak terjadi dengan tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara,
hemiplegia, atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralisis
berat pada beberapa jam atau hari.
b. Embolisme serebral
Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang –
cabangnya, yang merusak sirkulasi serebral. Awitan hemiparesis atau hemiplegia
tiba-tiba dengan afasia atau tanpa afasia atau kehilangan kesadaran pada pasien
dengan penyakit jantung atau pulmonal adalah karakteristik dari embolisme
serebral.
c. Iskemia serebral
Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena
konstriksi ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
Penyebab stroke iskemik menurut Price, (2002). yaitu : 1. Trombosis Akibat
dari Aterosklerosis, Vaskulitis, robeknya arteri, dan gangguan darah. 2. Embolisme
Diakibatkan oleh keadaan hiperkoagulasi, sumber tromboemboli aterosklerotik di
arteri, masalah di jantung seperti kardiomiopati iskemik, penyakit katub jantung. 3.
Vasokonstriksi Yang terjadi karena vasospasma serebrum setelah perdarahan
subarachnoid (PSA).
d. Haemorrhagi serebral
1) Haemorrhagi ekstradural (haemorrhagi epidural) adalah kedaruratan
bedah neuro yang memerlukan perawatan segera.
2) Haemorrhagi subdural pada dasarnya sama dengan haemorrhagi epidural,
kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek.
3) Haemorrhagi subarakhnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau
hipertensi,
4) Haemorrhagi intracerebral adalah perdarahan di substansi dalam otak paling
umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan
degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan rupture pembuluh darah.

C. TANDA dan GEJALA


Tanda dan Gejala CVA Infark antara lain adalah :
1. Jika terjadi peningkatan TIK maka dijumpai tanda dan gejala :
a. Perubahan tingkat kesadaran : penurunan orientasi dan respons terhadap
stimulus.
b. Perubahan kemampuan gerak ekstrimitas : kelemahan sampai paralysis.
c. Perubahan ukuran pupil : bilateral atau unilateral dilatasi.Unilateral tanda dari
perdarahan cerebral.
d. Perubahan tanda vital : nadi rendah, tekanan nadi melebar, nafas irreguler,
peningkatan suhu tubuh.
e. Keluhan kepala pusing.
f. Muntah projectile (tanpa adanya rangsangan).
g. Kelumpuhan dan kelemahan.
h. Penurunan penglihatan.
i. Deficit kognitif dan bahasa (komunikasi).
j. Pelo / disartria.
k. Kerusakan Nervus Kranialis.
l. Inkontinensia alvi dan uri.
Menurut Feigin, (2004).bahwa manifestasi kilnis dari stroke infark :
1. Hilangnya kekuatan (atau timbulnya gerakan canggung) di salah satu tubuh,
terutama disatu sisi, termasuk wajah, lengan atau tungkai.
2. Rasa hilangnya sensasi atau sensasi tak lazim lain di suatu bagian tubuh,
terutama jika hanya disalah satu sisi.
3. Hilangnya penglihatan total atau parsial di salah satu sisi
4. Tidak mampu berbicara dengan benar atau memahami bahasa
5. Hilangnya keseimbangan, berdiri tak mantap, atau jatuh tanpa sebab
6. Serangan sementara jenis lain, seperti vertigo, pusing bergoyang, kesulitan
menelan (Disfagia), kebingungan akut, atau gangguan daya ingat
7. Nyeri kepala yang terlalu parah, muncul mendadak, atau memiliki karakter yang
tidak lazim, termasuk perubahan pola nyeri kepala yang tidak dapat diterangkan
8. Perubahan kesadaran yang tidak dapat dijelaskan atau kejang

D. KLASIFIKASI
CVA Infark/Stroke Non Haemorrhagi/Iskemik dapat dibagi menjadi :
1. Transient Ischemic Attack (TIA) / Serangan Iskemi Sepintas.
Merupakan gangguan fungsi otak yang merupakan akibat dari berkurangnya aliran
darah ke otak untuk sementara waktu. Penyebab TIA adalah serpihan kecil dari
endapan lemak dan kalsium pada dinding pembuluh darah bisa lepas, mengikuti aliran
darah dan menyumbat pembuluh darah kecil yang menuju otak, sehingga untuk
sementara waktu menyumbat aliran darah ke otak dan menyebabkan terjadinya TIA.
Resiko TIA meningkat pada tekanan darah tinggi, aterosklerosis, penyakit jantung
(terutama pada kelainan katub dan irama jantung), diabetes dan polisitemia (kelebihan
sel darah merah). TIA berlangsung tiba-tiba dan biasanya berlangsung selama 2-30
menit. Gejalanya tergantung pada bagian otak mana yang kekurangan aliran darah. Jika
mengenai arteri yang berasal dari arteri karotis, maka gejala yang paling sering
ditemukan adalah kebutaan pada salah satu mata atau kelainan rasa dan kelemahan.
Jika mengenai arteri yang berasal dari arteri vertebralis, biasanya terjadi pusing,
penglihatan ganda, dan kelemahan menyeluruh. Gejala lainnya yang biasa ditemukan
adalah hilangnya rasa atau kelainan sensasi pada lengan atau tungkai atau salah satu
sisi tubuh, hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran, penglihatan ganda,
pusing, berbicara tak jelas, tidak mampu mengenali bagian tubuh, inkontinensia,
ketidakseimbangan tubuh, pingsan.
2. Defisit Neurologis Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurologi Defisit (RIND).
Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam
dan kemudian pulih kembali (dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu).
3. In Evolutional atau Progressing Stroke.
Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu enam jam atau lebih.
4. Stroke Komplit (Completed Stroke / Permanent Stroke).
Gejala gangguan neurologis dengan lesi -lesi yang stabil selama periode waktu 18-
24 jam, tanpa adanya progesifitas lanjut.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Wilson, (2006). Pemeriksaan penunjang neurovascular diutamakan yang non
infasif. Pemeriksaan yang berikut ini dianjurkan pada pasien infark serebri bila alat
tersedia dan biaya terjangkau.
1. Ekokardiografi untuk mendeteksi adanya sumber emboli dari jantung. Pada bayak
pasien ekokardiografi transtorakal sudah memadai. Ekokardiografi transesofageal
memberikan hasil yang lebih mendetail terutama kondisi atrium kiri dan arkus aorta serta
lebih sensitive untuk mendeteksi thrombus mural atau vegetasi katup.
2. Ultrasonografi Doppler karotis dipewrlukan untuk menyingkirkan satenosis karotis yang
simtomatis serta lebih dari 70%, yang merupakan indikasi ntuk enarterektomi karotis.
Pemeriksaan lainnya seperti:

1. Angiografi serebral
Menentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
2. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).
Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga mendeteksi,
melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh pemindaian CT).
3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya
jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar terjadinya
perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari
hemoragik.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari jaringan
yang infark sehingga menurunya impuls listrik dalam jaringan otak.
6. Pemeriksaan laboratorium
a. Lumbang fungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan
yang masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal
(xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin (glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)
c. Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.
d. gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian berangsur-rangsur
turun kembali.
e. Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.

F. PENATALAKSANAAN
1. Prinsip penatalaksanaan stroke iskemik fase akut (non hemoragik)
a. Membatasi atau memulihkan iskemia akut yang sedang berlangsung (3-6 jam
pertama) menggunakan trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen
activator). Pengobatan ini hanya boleh diberikan pada stroke iskemik dengan waktu
onset kurang dari 3 jam dan hasil CT scan normal. Obat ini sangat mahal dan hanya
bisa dilakukan dirumah sakit yang fasilitasnya lengkap.
b. Mencegah perburukan neurologist yang berhubungan dengan stroke yang masih
berkembang (jendela terapi sampai dengan 72 jam).
c. Mencegah stroke berulang dini (dalam 30 hari sejak onset gejala stroke). Sekitar 5%
pasien yang dirawat dengan stroke iskemik mengalami serangan stroke kedua dalam 30
hari pertama. Resiko ini paling tinggi (lebih besar dari 10%) pada pasien dengan
stenosis karotis yang berat dan kardioemboli serta paling rendah (1%) pada pasien
dengan infark lakuner. Terapi dini dengan heparin dapat mengurangi resiko stroke
berulang dini pada pasien dengan kardioemboli.
d. Pertimbangkan observasi di unit rawat intensif pada pasien dengan tanda klinis atau
radiologist adanya infark hemisfarik atau serebelum yang massif, kesadaran menurun,
gangguan pernafasan, atau stroke dalam evolusi.
e. Pertimbangkan konsul bedah saraf untuk dekompresi pada pasien dengan infark
serebelum yang luas.
f. Pertimbangkan sken resonansi magnetic pada pasien dengan stroke vertebrobasiler
atau sirkulasi posterior atau infark yang tidak nyata pada CT scan.
g. Pertimbangkan pemberian heparin intravena dimulai dosis 800 unit/jam, 20.000 unit
dalam 500 ml salin normal dengan kecepatan 20ml/jam, sampai masa tomboplastin
parsial mendekati 1,5 kontrol pada kondisi berikut ini :
1) Kemungkinan besar stroke kardioemboli
2) Iskemia otak sepintas (TIA) atau infark karena stenosis arteri karotis
3) Stroke dalam evolusi
4) Diseksi arteri
5) Trombosis sinus dura.
Heparin merupakan kontra indikasi relative pada pasien dengan infark luas yang
berhubungan dengan efek massa atau konfersi / transformasi hemoragik. Pasien stroke
dengan infark miokard baru, fibrilasi atrium penyakit katup jantung atau thrombus
intrakardiak harus diberikan antikoagulan oral (warfarin) sampai minimal 1 tahun
dengan mempertahankan masa protrombin 1,5-2,5 kali control atau INR 2-3.
h. Pertimbangkan pemeriksaan darah berikut ini pada kasus kasus penyebab stroke
yang tidak lazim, terutama pada usia muda

G. POHON MASALAH (WOC)


Menurut Sylvia A. Price (2005) dan Smeltzer C. Suzanne (2001), stroke infark
disebabkan oleh trombosis (bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak) dan
embolisme serebral (bekuan darah atau material lain). Stroke infark yang terjadi akibat
obstruksi atau bekuan disuatu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum dapat
disebabkan oleh bekuan (trombus) yang terbentuk didalam suatu pembuluh otak atau
pembuluh organ distal. Pada trombus vaskular distal, bekuan dapat terlepas atau
mungkin terbentuk dalam suatu organ seperti jantung dan kemudian dibawa melalui
sistem arteri ke otak sebagai suatu embolus. Sumbatan di arteri karotis interna sering
mengalami pembentukan plak aterosklerotik di pembuluh darah sehingga terjadi
penyempitan atau stenosis. Apabila stenosis mencapai suatu tingkat kritis tertentu,
maka meningkatnya turbulensi disekitar penyumbatan akan menyebabkan penurunan
tajam kecepatan aliran darah ke otak akibatnya perfusi otak akan menurun dan terjadi
nekrosis jaringan otak.
H. Pengkajian
Menurut Wilkinson, (2007). Asuhan keperawatan antara lain:
1. Identitas Umur : CVA Infark pada dasarnya usia di atas 55 tahun merupakan resiko
tinggi terjadinya serangan stroke. Jenis kelamin laki-laki lebih tinggi 30% di banding
wanita. Ras kulit hitam lebih tinggi angka kejadiannya.
2. Keluhan Utama. Biasanya klien datang kerumah sakit dalam kondisi : penurunan
kesadaran atau koma serta disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala hebat bila masih
sadar.
3. Riwayat Kejadian. Jenis CVA Infark memberikan gejala yang cepat memburuk. Oleh
karena itu klien biasanya langsung di bawa ke Rumah Sakit.
4. Riwayat Penyakit Dahulu. Perlu di kaji adanya riwayat DM, Hipertensi, Kelainan
Jantung, Pernah TIA, Policitemia karena hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas
pembuluh darah otak menjadi menurun
5. Riwayat penyakit sekarang. Misalnya paien datang datang keluhan mengalami
kelumpuhan pada salah satu ekstremitas. Sakit kepala hebat, bicara pelo.
6. Riwayat Penyakit Keluarga. Perlu di kaji mungkin ada anggota keluarga sedarah yang
pernah mengalami stroke.
7. Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari. Apabila telah mengalami kelumpuhan sampai
terjadinya koma maka perlu klien membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari dari bantuan sebagian sampai total Meliputi:
a. Nutrisi : adanya gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut
kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia ditandai
dengan kesulitan menelan, obesitas.
b. Elminasi: menunjukkan adanya kesukaran untuk beraktivitas karna kelemahan,
kehilangan sensori atau paralise/hemiplegi, mudah lelah, gangguan tonus otot,
paralitik (hemiplegia).
c. Istirahat : klien mengalami kesukaran untuk istirahat karna kejang otot/nyeri
otot.
d. Mandi
e. makan/minum
8. Pemeriksaan Fisik Dan Observasi.
1. Pernafasan (B1:Breath)
Perlu dikaji adanya :
a. Sumbatan jalan nafas karena penumpukan sputum dan kehilangan reflek batuk
b. Adanya tanda-tanda lidah jatuh ke belakang.
c. Auskultasi suara nafas atau ada tanda stridor, ronchi, wheezing.
d. Catat jumlah dan irama nafas.
2. Cardiovaskuler (B2:Blood)
Deteksi adanya : Tanda-tanda peningkatan TIK yaitu peningkatan darah disertai
dengan pelebaran nadi dan penurunan jumlah nadi, dapat terjadi hipotensi atau
hipertensi, denyut jantung irreguler, adanya murmur.
3. Persarafan (B3:Brain)
Kaji adanya keluhan sakit kepala hebat. Periksa adanya pupil unilateral,
observasi tingkat kesadaran, kaji reflek babinsky, chaddock, kaji kekuatan otot pasien,
kaji saraf kranial:
a. Saraf I : Biasanya pada klien dengan CVA Infark tidak ada kelainan pada fungsi
penciuman.
b. Saraf II : Disfungsi persepsi visual karena gangguan jarak sensorik primer
diantara sudut mata dan korteks visual. Gangguan visual spasial sering terlihat pada
klien dengan hemiplegia kiri. Klien mungkin tidak memakai pakaian tampabantuan
karena ketidakmampuan untuk mencocokan pakain ke bagian tubuh.
c. Saraf III, IV dan VI apabila akibat CVA Infark mengakibatkan paralisis seisi
otot-otot okulasi didapatkan penurunan kemampuan gerakan konjungtifa unilateral
diisi yang sakit.
d. Saraf XII Lidah asimetris, terdapat deviasi pada suatu sisi fesikulasi Indera
pengecapan normal.
4. Perkemihan (B4:bladder)
Periksa adalah tanda-tanda inkontenensia urin.
5. Pencernaan (B5:Bowel)
Periksa adakah tanda-tanda inkontinensia alfi. Beberapa keadaan CVA Infark
menyebabkan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan
koordinasi gerakan mengunyah, penyimpanagn rahang bawah pada sisi ipsilateral
dan kelumpuhan seisi otot-otot pterigodius dan pada saraf IX dan X yaitu
kemampuan menelan kurang baik kesukaran membuka mulut.
6. Integumen (B6:Bone)
Kaji adanya kelumpuhan atau kelemahan, kekuatan otot, periksa turgor kulit.
Kehilangan kontrol volenter gerakan motorik, terdapat hemeplegia atau hemiparese
atau hemiparese ekstermitas. Kaji adanya luka tekan akibat immobilisasi fisik.

I. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul


1. Gangguan Perfusi jaringan cerebral b.d gangguan sirkulasi darah ke otak
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler, kerusakan persepsi sensori,
penurunan kekuatan otot.
3. Kerusakan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak.
No DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
1 Gangguan Perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan perfusi serebral
cerebral b.d gangguan sirkulasi 2x24 jam diharapkan perfusi jaringan efektifü Kaji kesadaran klien
darah ke otak dg KH: ü Monitor status respirasi
ü Perfusi jaringan cerebral: Fungsi neurologyü Kolaborasi obat-obatan untuk
meningkat,TIK dbn, Kelemahan berkurang. memepertahankan status hemodinamik.
ü ü Monitor laboratorium utk status oksigenasi:
Status neurology: Kesadaran AGD
meningkat, Fungsi motorik meningkat,Fungsi Monitor neurology
persepsi sensorik meningkat.,Komunikasiü Monitor pupil: gerakan, kesimetrisan, reaksi
kognitif meningkat, Tanda vital stabil pupil
ü Monitor kesadaran,orientasi, GCS dan status
memori.
ü Ukur vital sign.
ü Kaji peningkatan kemampuan motorik,
persepsi sensorik ( respon babinski).
ü Kaji tanda-tanda keadekuatan perfusi
jaringan cerebral.
ü Hindari aktivitas yg dapat meningkatkan
TIK.
ü Laporkan pada dokter ttg perubahan
kondisi klien.
2 Kerusakan mobilitas fisik b.d Setelah dilakukan Askep …. jam diharapkan Latihan : gerakan sendi (ROM)
kerusakan neuromuskuler, terjadi peningkatan mobilisasi, denganü Kaji kemampuan klien dalam melakukan
kerusakan persepsi sensori, criteria: mobilitas fisik.
penurunan kekuatan otot. Level mobilitas: ü Jelaskan kepada klien dan keluarga manfaat
ü Peningkatan fungsi dan kekuatan otot. latihan.
ü ROM aktif / pasif meningkat. ü Kolaborasi dg fisioterapi utk program
ü Perubahan pposisi adekuat. latihan.
ü Fungsi motorik meningkat. ü Kaji lokasi nyeri/ ketidaknyamanan selama
ü ADL optimal latihan.
ü Jaga keamanan klien.
ü Bantu klien utk mengoptimalkan gerak sendi
pasif manpun aktif.
ü Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan
Terapi latihan : kontrol otot
ü Kaji kesiapan klien utk melakukan latihan.
ü Evaluasi fungsi sensorik.
ü Berikan privacy klien saat latihan.
ü Kaji dan catat kemampuan klien utk keempat
ekstremitas, ukur vital sign sebelum dan
sesudah latihan.
ü Kolaborasi dengan fisioterapi.
ü Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan
3 Kerusakan komunikasi verbal Setelah dilakukan askep …. jam, Mendengar aktif:
b.d penurunan sirkulasi ke otak. kemamapuan komunitas verbal meningkat,dgü Kaji kemampuan berkomunikasi.
criteria: ü Jelaskan tujuan interaksi perhatikan tanda
Kemampuan komunikasi: nonverbal klien.
ü Penggunaan isyarat ü Klarifikasi pesan bertanya dan feedback.
nonverbal ü Hindari barrier/ halangan komunikasi
ü Penggunaan bahasa tulisan, gambar. Peningkatan komunikasi: Defisit bicara
ü Peningkatan bahasa lisan ü Libatkan keluarga utk memahami pesan
Komunikasi : kemampuan penerimaan. klien.
ü Kemampuan interprestasi meningkat ü Sediakan petunjuk sederhana.
ü Perhatikan bicara klien dg cermat.
ü Gunakan kata sederhana dan pendek.
ü Berdiri di depan klien saat bicara, gunakan
isyarat tangan.
ü Beri reinforcement positif.
ü Dorong keluarga utk selalu mengajak
komunikasi denga klien