Anda di halaman 1dari 18

FINAL PROJECT PEMBELAJARAN MARKET PLACE ACTIVITY

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA : OKSIGENASI FISIOLOGI


BERNAFAS

Diajukan sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Dasar

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

1. Anesthasia M. P. S. (201601066)
2. Arif Kartiko U. (201601069)
3. Irma Faisatul L. (201601084)
4. Ni’ma Safrotul M. (201601101)
5. Tinsi Ari R. (201601119)

PRODI DIPLOMA III KEPERAWATAN

AKPER PEMKAB PONOROGO

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Bernafas adalah salah satu aktifitas yang penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Bahkan manusia bisa dikatakan tidak hidup apabila tidak bernafas. Tidak hanya manusia,
semua makhluk hidup seperti hewan dan tanaman pun juga mutlak memerlukan bernafas
untuk hidup. Bernafas bagi manusia, meliputi kegiatan memasukkan udara yang mengandung
oksigen melalui hidung ke dalam tubuh dan kemudiannya mengeluarkannya kembali dengan
menghembuskannya (karbon dioksida) melalui hidung. Oksigen sendiri memiliki manfaat
bagi tubuh diantaranya, membantu fungsi-fungsi sel-sel tubuh manusia, membantu sistem
peredaran darah, mencegah penuaan dini, mengoptimalkan daya ingat, mencegah berbagai
penyakit, menjaga kekebalan tubuh, membantu regenerasi sel, sebagai support energi tubuh,
dan sebagai terapi penyakit. (Anonim)

Berbagai masalah pernafasan dapat terjadi. Farmasis, paling sering menangani asma,
penyakit paru onbstruktif kronik (PPOK), dan pneumonia. Farmasis juga tidak hanya
memberikan edukasi pada pasien mengenai penggunaan obat pada penyakit-penyakit tersebut
( misal: Metered dose inhalers, spacers, dan antibiotik), namun juga memberikan edukasi
kepada pasien tentang penyakit itu sendiri (misal asma dan PPOK), pencegahannya, dan
terapi yang bisa dilakukan pasien sendiri. Banyak farmasis juga membantu pasien dalam
menilai dan memonitor pernafasan mereka dengan peak flow meters. (Diana Lyrawati, 2012).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana peristiwa bernapas ?


2. Bagaimana proses bernapas ?
3. Bagaimana fisiologi respirasi ?
4. Bagaimana volume dan kapasitas paru manusia ?
5. Apa sistem pulmonal ?
6. Bagaimana transport oksigen pada pernapasan?
7. Bagaimana transport karbon dioksida pada pernapasan?
C. Tujuan

Berpijak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk:

1. Mengetahui peristiwa bernapas


2. Mengetahui proses bernapas
3. Mengetahui fisiologi respirasi
4. Mengetahui volume dan kapasitas paru manusia
5. Mengetahui sistem pulmonal
6. Mengetahui transport oksigen pada pernapasan
7. Mengetahui transport karbon dioksida pada pernapasan
BAB II

PEMBAHASAN

1. Peristiwa Bernapas

Pengertian respirasi berasal dari kata latin yaitu respirare yang artinya bernafas.
Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi
melalui proses kimia dengan menggunakan O2, proses pengambilan O2 untuk memecah
senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Dari respirasi akan dihasilkan
energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak,
pertumbuhan. Respirasi merupakan proses pernafasan yang menghirup / menghisap oksigen
dari udara dan mengeluarkan / melepaskan karbondioksida ke udara.

Bernafas merupakan salah satu ciri utama makhluk hidup. Proses pertukaran gas
oksigen dan karbon dioksida berlangsung secara difusi. Oksigen akan menuju semua sel
dalam semua jaringan melalui alat-alat pernafasan. Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh
menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya.
Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap
sel melangsungkan sendiri proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil
buangan dalam bentuk karbon dioksida dan air dihilangkan.

Respirasi atau bernapas adalah mengambil oksigen dari udara dan menghantarkannya
ke jaringan. Di jaringan oksigen nantinya akan dipergunakan untuk membakar glukosa
sehingga dihasilkan energi, dan energi tersebut dipergunakan untuk segala aktivitas tubuh.
Ampas dari peristiwa tersebut adalah CO2 dan H2O yang kemudian kedua ampas tersebut
dikeluarkan dari tubuh. Reaksi kimianya adalah:

CO2 + H2O + energi + Glukosa + O2

Jadi di dalam paru – paru terjadi pertukan zat antara O2 (Oksigen) di tarik dari udara
masuk kedalam darah dan CO2 (karbondiooksida) akan dikeluarkan dari darah secara osmose.
Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui traktus respiratorius (jalan pernafasan) dan masuk
ke dalam tubuh melalui kapiler – kapiler vena pulmonaris kemudian masuk ke serambi kiri
jantung (atrium sinistra) → ke aorta → seluruh tubuh (jaringan – jaringan dan sel – sel) disini
terjadi oksidasi (pembakaran) dan ampasnya (sisanya) dari pembakaran adalah CO2dan zat
ini kan dikeluarkan melalui peredaran daran vena masuk ke jantung (serambi kanan / dekstra
) → bilik kanan (ventrikal dekstra) dan dari sini keluar melalui arteri pulmonaris ke jaringan
– jaringan paru – paru akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses
pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan
melalui traktus urogenitalis dan kulit.

Sistem respirasi manusia dapat berlangsung berkat keberadaan alat-alat pernafasan.


Alat pernafasan manusia terdiri dari rongga hidung, faring, trakea, bronkus, dan paru-paru.
Bila salah satu organ pernafasan tidak mampu berfungsi secara normal maka bisa
mempengaruhi kerja sistem pernafasan secara umum.

Guna atau Fungsi Respirasi

1. Mengambil O2 (Oksigen) yang kemudian di bawa oleh darah ke seluruh tubuh (sel –
selnya) guna mengadakan pembakaran.
2. Mengeluarkan CO2 (karbondioksida) yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran,
kemudian di bawa oleh darah keparu – paru untuk di buang ( karena tidak berguna
lagi oleh tubuh).
3. Menghangatkan dan melembabkan udara.

2. Proses Bernapas

Manusia bernapas sekitar 6 liter (6x10-3m3)udara agar mendapatkan pasokan oksigen


(O2) segar ke dalam paru dan membuangkarbon dioksida (CO2). Saat bernapas manusia
menghirup udara melalui hidung,udara yang dihirup mengandung oksigen dan gas-gas lain,
udara masuk ketenggorokan, kemudian kedalam paru lalu udara mengalir sampai ke alveoli
yang merupakan ujung dari saluran. Saluran penghantar udara yang membawa udara ke
dalam paru-paru adalah hidung,faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus.

Saluan pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa
bersillia. Ketika masuk ronggahidung udara disaring, dihangatkan, dan dilembabkan. Ketiga
proses ini menggunakan fungsi utama dari mukosarespirasi yang terdiri dari epitel toraks
bertingkat, bersilia dan bersel goblet.

Permukaan epitel yang dilapisi olehlapisan mukus yang disekresi oleh sel goblet dan
kelenjar mukosa. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam
lubang hidung sedangkan partikel yang halus akan dijerat dalam lapisan mukus. Gerakan
sillia mendorong lapisan mukus ke posterior didalam rongga hidung dan superior di dalam
sistem pernapasan bagian bawah menuju faring. Dari sini partikel halus akan tertelan atau
dibatukkan keluar.

Lapisan mukus memberikan air untuk kelembaban dan banyaknya jaringanpembuluh


darah dibawahnya akan menyuplai panas ke udara inspirasi. Jadi udara inspirasi telah
disesuaikan sedemikian rupa sehingga udara yang mencapai faring hampir bebas debu
bersuhu mendekati suhu tubuh, dan kelembabannya mencapai 100%.Peristiwa keluar
masuknya udara atmosfer melalui hidung sampai ke paru-paru(Respirasi) dan sebaliknya, O2
yangterkandung dalam alveolus bertukar dengan CO2, yang terkandung dalam darah yang
terdapat dalam pernbuluh darah alveolus melalui proses difusi.Difusi gas terdiri atas molekul-
molekul sederhana yang bebas bergerak satu samalain, ini berlaku bagi gas-gas yang
terlarutdidalam cairan dan jaringan tubuh, difusibisa terjadi bila tersedianya sumber
energisehingga menimbulkan gerakan kinetikdari molekul-molekul gas.

Pertukaran gas di paru melibatkan dua proses umum membawa darah ke jaringan kapiler
paru (perfusi) dan membawa udara ke permukaan alveolus (ventilasi). Difusi dalam cairan
pada pertukaran O2 dan CO2 di jaringan, molekul-molekul dalam suatu gas pada suatu
ruangan bergerak dengan kecepatan seperti kecepatan suara, setiap molekul bertumbukan
sekitar 10kali/detik dengan molekul sekitarnya.

Oksigen diperlukan untuk proses respirasi sel-sel tubuh. Gas karbon dioksida
yangdihasilkan selama proses respirasi seltubuh akan di tukar dengan oksigen, selanjutnya
darah mengangkut karbondioksida untuk dikembalikan ke alveolus paru dan akan
dikeluarkan ke udara melalui hidung saat mengeluarkan napas.

3. Fisiologi Respirasi

Fungsi pernapasan dapat dibagi atas : 1) pertukaran gas, 2) pengaturan keseimbangan asam
basa. Pertukaran gas melalui proses 3 tahapan :

a) Ventilasi
b) Difusi
c) Transportasi
a) Ventilasi

Ialah masuknya 𝑂2atmosfer ke dalam alveoli dan keluarnya 𝐶𝑂2 dan alveoli ke atmosfer
yang terjadi saat respirasi (inspirasi dan ekspirasi). Inspirasi adalah gerakan perpindahan
udara masuk ke dalam paru-paru, sedangkan ekspirasi adalah gerakan perpindahan udara
keluar atau meninggalkan paru-paru (Sulistyo,2012)

Ketika paru-paru benar-benar disegel di membran ini, mereka tetap pada tekanan yang
sedikit lebih rendah dari tekanan paru-paru saat istirahat. Sebagai hasil dari ini, udara pasif
mengisi paru-paru sampai tidak ada perbedaan tekanan lebih. Pada titik ini, jika perlu, udara
tambahan dapat terhirup oleh tertular diafragma serta otot-otot interkostal sekitarnya.

Selama pernafasan, otot-otot rileks dan ini membalikkan tekanan dinamis, meningkatkan
tekanan di luar paru-paru dan memaksa udara untuk melarikan diri mereka sampai kedua
tekanan menyamakan kedudukan lagi. Berkat sifat elastis paru-paru, mereka kembali ke
negara mereka saat istirahat dan seluruh proses berulang.

Ventilasi dipengaruhi oleh :

 Volume udara (kuantitas) dan jenis gas yang mengalami pertukaran

Kuantitas pada prinsipnya bersifat konstan yaitu jumlah udara yang dihisap sama
dengan jumlah udara yang dikeluarkan. Tetapi dalam kualitas terdapat perbedaan
komposisi yakni udara yang dihisap banyyak mengandung 𝑂2 dan udara yang
dikeluarkan banyak mengandung 𝐶𝑂2.

 Keadaan saluran napas

Selama inspirasi udara akan melewati saluran napas, mulai hidung sampai alveoli
keadaan saluran napas harus bebas dari hambatan/resistensi.

 Compliance dan recoil

Compliance yaitu daya pengembangan dan pengempisan paru pada thoraks. Recoil
yaitu kemampuan peregangan dari paru untuk tetap dalam posisi berdilatasi
compliance dapat diukur dengan volume paru dibagi perubahan tekanan jalan nafas
(AV/AP). Nilai normal paru adalah 𝑂2, 𝐻2 O pada berbagai penyakit misalnya edema
paru dan fibrosis paru compliance akan berkurang

Kemampuan ini dibentuk oleh: gerakan naik turun diafragma, elevasi dan depresi iga,
elastisitas jaringan paru dan surfactant

 Pengaturan nafas

Pusat pengaturan nafas terdapat pada medulla oblongata dan pons. Pusat napas
terangsang oleh peningkatan 𝐶𝑂2darah yang merupakan hasil metabolisme sel.
Adanya trauma kepala edema otak akan meningkatkan tekanan intracranial sehingga
menyebabkan gangguan pada sistem pengendalian.

b) Difusi gas

Pertukaran gas mencakup dua proses independen, pernapasan internal yaitu


pertukaran gas antara alveoli dengan aliran darah dan pernafasan eksternal yaitu pertukaran
gas antara kapiler dalam tubuh (selain dalam paru-paru) dengan sel-sel tubuh. Kedua proses
tersebut mencakup perpindahan gas melalui difusi.

Difusi sendiri adalah pertukaran antara 𝑂2dan 𝐶𝑂2 alveoli dengan kapiler paru. Diartikan lain
bahwa difusi ialah gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke
daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah.

Difusi gas dalam paru-paru dipengaruhi oleh :

- Ketebalan membran respirasi

Gas berfungsi dan alveoli ke dalam darah kapiler paruu atau sebaliknya melintasi
membran alveoli kapiler yang tipis dibentuk oleh epitel pulmonal, endofel kapiler,
serta membran basal masing-masing berdifusi : ketebalan membrane respirasi dapat
meningkatkan pada: edema paru, radang akut, parenkim paru, hipoalbuminemia,
sindrom nefrotik : kecepatan difusi berbanding terbalik dengan tebalnya membran.

- Luas permukaan membran


Apabila terjadi penyakit seperti radang paru akut, TBC, pengangkatan sebagian lobus
paru maka dapat mmenyebabkan berkurangnya luas permukaan membran sehingga
mengganggu permukaan gas.

- Koefisiensi difusi

Koefisiensi difusi tiap gas dalam membran respirasi tergantung pada daya larutnya
didalam membrane itu. Kecepatan difusi 𝐶𝑂2 20x lebih cepat dari 𝑂2 sehingga
kekurangan 𝑂2belum tentu disertai 𝐶𝑂2 . 𝑂2 berdifusi 2x lebih cepat daripada
nitrogen (N). kecepatan difusi 𝐶𝑂2 200x lebih cepat dari 𝑂2 sehingga mudah terjadi
keracunan.

- Perbedaan tekanan

Gas bergerak kedalam dan keluar paru karena perubahan tekanan. Pengembalian 𝑂2
dari alveoli kedalam darah didasarkan atas perbedaan tekanan partikel 𝑂2 antara
alveoli dan pembuluh kapiler. Semakin tinggi tekanan partikel 𝑂2 dalam darah alveoli
semakin tinggi kadar 𝑂2 dalam dan semakin cepat pengikatan 𝑂2 oleh darah.
Pemindahan 𝐶𝑂2dari darah ke alveoli berdasarkan perbedaan tekanan partikel 𝐶𝑂2
dalam darah vena yakni sebesar 46 mmHg dan tekanan alveoli 39 mmHg.

c) Transportasi gas

Fungsi dari sistem pernapasan memungkinkan oksigen dan karbon dioksida untuk
bepergian ke seluruh tubuh ke mana pun mereka dibutuhkan. Sebagian besar gas dilakukan
melalui darah menempel mengangkut molekul seperti hemoglobin, meskipun plasma darah
juga akan memiliki kandungan minimal gas.

Hampir 99% dari seluruh oksigen yang ditemukan dalam tubuh manusia diangkut oleh
hemoglobin. Sebagian besar karbon dioksida diangkut dari seluruh area tubuh kembali ke
paru-paru oleh plasma dalam bentuk ion bikarbonat. Ini dibuat dari reaksi katalitik
(disebabkan oleh enzim karbonat anhidrase) antara air dan karbon dioksida, yang bergabung
untuk membentuk asam karbonat. Asam karbonat kemudian terbagi menjadi hidrogen dan ion
bikarbonat, dengan yang terakhir akhirnya diubah menjadi karbon dioksida lagi, dibawa ke
paru-paru dan dihembuskan.
Penyaluran 𝑂2dari alveoli keseluruh tubuh dan pembuangan 𝐶𝑂2dari seluruh tubuh ke
atmosfer ditentukan oleh aktivitas sistem paru dan sistem kardovaskuler.

Proses penghantaran ini bergantung pada :

 Curah jantung

Kecepatan dan penurunan tempat 𝑂2ke jaringan dipengaruhi oleh curah jantung.
Kegagalan miokard untuk memompa volume drah dengan jumlah yang cukup untuk
sirkulasi pulmonal dan sirkulasi sistemik menyebabkan gagal jantung. Bila gagal
jantung kiri yaitu jumlah darah yang dipompa dari ventrikel kiri mnurun drastis
sehingga banyak darah yang terkumpul di paru-paru, seehingga menyebabkan
kongesti paru.

Gagal jantung kanan lebih disebabkan karena penyakit pulmonal/ akibat gagal jantung
kiri. Akibatnya jantung kanan bekerja lebih keras dan jantung meningkat kebutuhan
oksigennya. Darah yang keluar dari ventrikel kanan juga menurun akibatnya darah
mengumpul disirkulasi sistemik. Dalam keadaan normal curah jantung sekitar 5 ml 𝑂2
dan 4 ml 𝐶𝑂2 per 100 ml

 Jumlah eritrosit

Eritrosit dan Hb membawa 9% oksigen, setiap proses yang menurunkan atau


mengubah hemoglobin, seperti anemia dan inhalasi substnsi beracun, menurunkan
kapasitas darah yang membawa oksigen. Pada anemia ditandai kadar hemoglobin di
bawah normal. Peningkatan kerusakan eritrosit/ kehilangan darah. Karbon monoksida
merupakan toksik inhalasi yang paling sering dijumpai. Zat ini menurunkan kapasitas
Hb dan eritrosit membawa oksigen. Anfinitas hemoglobin terkait karbon monoksida
210 x lebih besar daripada afinitasnya untuk terikat dengan oksigen.

 Exercise

Dengan exercise akan meningkatkan 𝑂2dalam tubuh sehingga medulla oblongata dan
pons sebagai pusat pengontrol pernafasan mempengaruhi kecepatan denyut jantung
dan mempercepat pengiriman 𝐶𝑂2 keluar tubuh. Kecepatan transport 𝑂2 ke jaringan
dapat meningkatkan sekitar 15x normal pada gerak. Pada seorang atlet 20x dari
normal.
 Hematokrit darah

Apabila hematokrit darah meningkat maka berdampak meningkatnya viskositas darah


akibatnya beban jantung meningkat. Apabia kondisi ini terus menerus terjadi
penurunan curah jantung dan 𝑂2/ 𝐶𝑂2 tidak dapat lancar proses penyaluran
keseluruhan tubuh atau pembuangan ke atmosfer. Penurunan hematokrit
menggambarkan penurunan eritrosit dan Hb dalam darah. Sehingga menyebabkan
penurunan transportasi oksigen keseluruh tubuh.

 Keadaan pembuluh darah

Apabila pembuluh darah tersumbat karena thrombus, emboli, dan arteri sklerosis
maka aliran darah arteri dan vena tidak lancar. Jika arteri yang tersumbat maka 𝑂2
tidak bisa lancar dikirim keseluruh tubuh begitu juga sebaliknya jika vena yang
tersumbat maka 𝐶𝑂2 tidak bisa lancar dibuang dari jaringan keluar tubuh

4. Volume dan Kapasitas Paru Manusia

Bagian ini akan menjelaskan tentang volume dan kapasitas paru manusia. Volume udara
dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran udara saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur
melalui spirometer. Spirometri paling sering digunakan untuk menilai fungsi paru. Pada
spirometri, dapat dinilai 4 volume paru dan 4 kapasitas paru:

a. Volume paru:

1. Volume tidal, yaitu jumlah udara yang masuk ke dalam dan ke luar dari paru pada
pernapasan biasa.
2. Volume cadangan inspirasi, yaitu jumlah udara yang masih dapat masuk ke dalam paru
pada inspirasi maksimal setelah inspirasi biasa.
3. Volume cadangan ekspirasi, yaitu jumlah udara yang dikeluarkan secara aktif dari dalam
paru setelah ekspirasi biasa.
4. Volume residu yaitu jumlah udara yang tersisa dalam paru setelah ekspirasi maksimal.

Volume Definisi
Volume tidal Merupakan volume udara yang diinspirasikan
dan ekspirasikan di setiap pernapasan
normal, jumlahnya kira-kira 500 ml.
Volume cadangan inspirasi Merupakan volume tambahan udara yang
dapat diinspirasikan di atas volume tidal
normal, biasanya 3000 ml.
Volume cadangan ekspirasi Merupakan jumlah udara yng masih dapat
dikeluarkan dengan ekspirasi tidal yang
normal, jumlahnya lebih kurang 1100 ml.
Volume sisa Volume udara yang masih tersisa di dalam
paru-paru setelah kebanyakan ekspirasi kuat,
volume ini rata-rata 1200 ml.

b. Kapasitas paru:
1. Kapasitas paru total, yaitu jumlah total udara dalam paru setelah inspirasi maksimal.
2. Kapasitas vital, yaitu jumlah udara yang dapat diekspirasi maksimal setelah inspirasi
maksimal.
3. Kapasitas inspirasi, yaitu jumlah udara maksimal yang dapat masuk ke dalam paru setelah
akhir ekspirasi biasa.
4. Kapasitas residu fungsional, yaitu jumlah udara dalam paru pada akhir ekspirasi biasa.

Pengukuran kapasitas vital, yaitu jumlah udara terbesar yang dapat dikeluarkan dari paru
setelah inspirasi maksimal, sering kali digunakan di klinik sebagai indeks fungsi paru. Nilai
tersebut bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kekuatan otot-otot pernapasan
serta beberapa aspek fungsi pernapasan lain. Fraksi volume kapasitas vital yang dikeluarkan
pada satu detik pertama melalui ekspirasi paksa (volume ekspirasi paksa satu detik, 𝐹𝐸𝑉1 ,
kapasitas vital berwaktu/ timed vital capacity) dapat memberikan informasi tambahan;
mungkin diperoleh nilai kapasitas vital yang normal tetapi nilai 𝐹𝐸𝑉1 menurun pada penderita
penyakit seperti asma, yang mengalami peningkatan tahanan saluran udara akibat konstriksi
bronkus. Pada keadaan normal, jumlah udara ruang diinspirasikan selama satu menit (
ventilasi paru, volume respirasi semenit) sekitar 6L (500 ml /napas x 12 napas / menit ).
Ventilasi volunteer maksimal atau yang dahulu disebut kapasitas pernapasan maksimum
adalah volume gas terbesar yang dapat dimasukkan dan dikeluarkan selama satu menit secara
volunteer. Pada keadaan normal, ventilasi volunteer maksimal berkisar antara 125-170 L/
menit.
Kapasitas vital paru adalah jumlah udara maksimal pada ekspirasi yang kuat setelah
inspirasi maksimal.Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi
tubuh, posisi selama pengukuran kapasitas vital, kekuatan otot pernapasan dan
pengembangan paru dan rangka dada (compliance paru).Pada saat berolahraga terjadi
kerjasama berbagai otot tubuh yang ditandai dengan perubahan kekuatan otot, kelenturan
otot, kecepatan reaksi, ketangkasan, koordinasi gerakan dan daya tahan (endurance) sistem
kardiorespirasi. Nilai kapasitas vital paru pada berbagai macam atlet cabang olahraga
berbeda-beda namun tetap memiliki nilai diatas rata-rata individu dikarenakan latihan fisik
mampu meningkatkan kemampuan berbagai faktor yang mempengaruhi nilai kapasitas vital
paru. Jadi nilai kapasitas vital paru pada atlet lebih baik daripada non-atlet dan juga nilai
kapasitas vital paru pada atlet yang lebih dominan menggunakan otot ekstremitas bagian atas
lebih tinggi dari pada atlet yang dominan menggunakan otot ekstremitas bagian bawah
dengan nilai >4,2 liter. Jadi kesimpulannya adalah terdapat peningkatan kapasitas vital paru
pada individu yang memiliki aktivitas fisik lebih berat (atlet), dan terdapat perbedaan nilai
kapasitas vital paru pada atlet yang aktif menggunakan otot ekstremitas atas dan atlet yang
menggunakan otot ekstremitas bawah.

Nilai normal untuk setiap volume dan kapasitas paru bervariasi dan dipengaruhi oleh usia,
tinggi badan, jenis kelamin, suku, berat badan dan bentuk tubuh.

5. Sirkulasi Pulmonal
Sistem sirkulasi jantung terdiri atas dua, yaitu sirkulasi paru yang terdiri dari pembuluh-
pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan paru, dan sirkulasi sistemik yang terdiri
atas pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan sistem organ (Tavianto
et al., 2013).
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik masuk ke atrium kanan melalui vena besar
yang dikenal sebagai vena kava. Darah yang masuk ke atrium kanan kembali dari jaringan
tubuh, telah diambil O2-nya dan ditambahi CO2. Darah yang mengalami deoksigenasi parsial
tersebut mengalir dari atrium kanan ke dalam ventrikel kanan, yang memompanya ke luar
melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah ke
dalam sirkulasi paru. Di dalam paru darah tersebut kehilangan CO2 ekstranya dan menyerap
O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya oksigen
yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, ruang pompa
yang memompa darah ke seluruh organ kecuali paru, jadi sisi kiri jantung memompa darah ke
dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri adalah
aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar untuk memperdarahi berbagai jaringan tubuh
(Barret et al., 2010).
Berbeda dengan sirkulasi pulmonalis, yang seluruh darahnya mengalir melalui paru,
sirkulasi sistemik dapat dilihat sebagai rangkaian jalur-jalur paralel. Sebagian darah yang
dipompakan keluar oleh ventrikel kiri menuju otot-otot, sebagian ke ginjal, sebagian ke otak,
dan seterusnya. Jadi, keluaran ventrikel kiri tersebar, sehingga tiap-tiap bagian tubuh
menerima pasokan darah segar. Dengan demikian darah yang kita ikutin hanya menuju ke
satu jaringan sistemik. Jaringan mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk
mengoksidasi zat-zat gizi untuk menghasilkan energi. Dalam prosesnya, sel-sel jaringan
membentuk CO2 sebagai produk buangan yang ditambahkan ke darah. Darah sekarang secara
parsial kekurangan O2 dan mengandung CO2 yang meningkat akan kembali ke sisi kanan
jantung (Guyton dan Hall, 2006).

6. Transport Oksigen

Proses transport oksigen bergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru,
aliran darah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan difusi, dan kapasitas membawa
oksigen. Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang
larut dalam plasma, jumlah hemogoblin, dan kecenderungan hemogoblin untuk berikatan
dengan oksigen.

Transport oksigen dilakukan dengan 2 cara :

Secara fisik larut dalam plasma relatif kecil yaitu hanya sekeitar 3%. Dan secara kimia
berkaitan dengan Hb membentuk oksi hemogoblin (Hb𝑂2) 97%.

7. Transport Karbon dioksida

Darah vena mentransportasi sebagian besar karbon dioksida. Pengangkutan 𝐶𝑂2 di


dalam darah dari jaringan ke paru menyebabkan perubahan sebagai berikut: Darah yang
tereduksi mempunyai kadar 𝐶𝑂2 tinggi sehingga berwarna lebih gelap. Ph relatif lebih rendah
karena HCO lebih tinggi. Kadar Cl- , 𝑁𝑎+ , 𝐾 + mengalami penurunan, kadar HCO-
meningkat.

Transport 𝐶𝑂2 dari jaringan ke paru-paru kemudian dibuang ke atmosfer, dilakukan


dengan cara: secara fisik larut dalam plasma 5% . Pemindahan 𝐶𝑂2 dari darah ke alveoli
berdasarkan perbedaan tekanan partikel 𝐶𝑂2 dalam darah vena yakni sebesar 46 mmHg dan
tekanan alveoli 39 mmHg. Secara kimia bergabung dengan Hb membentuk Carbomino
Hemogoblin 30% KHC𝑂3 + HHb + 𝑂2 → Kl + 𝐵𝑂2 + 𝐶𝑂2 + 𝐻2 𝑂 .Dimana 𝐶𝑂2 dibebaskan
dari darah ke alveoli. Berikatan dengan air kemudian membentuk bikarbonat plasma 65% .
pengangkutan 𝐶𝑂2 dari jaringan ke paru-paru adalah 1 liter darah membawa 5 cc 𝐶𝑂2 yang
terdiri dari 41,5 % cc dalam bentuk 𝐻𝐶𝑂3 , 4 cc dalam bentuk ikatan amino, dan 3,55 cc
dalam bentuk larutan plasma darah.
KESIMPULAN

1. Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber
energi melalui proses kimia dengan menggunakan O2, proses pengambilan O2 untuk
memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi.
2. Saat bernapas manusia menghirup udara melalui hidung,udara yang dihirup
mengandung oksigen dan gas-gas lain, udara masuk ketenggorokan, kemudian
kedalam paru lalu udara mengalir sampai ke alveoli yang merupakan ujung dari
saluran. Saluran penghantar udara yang membawa udara ke dalam paru-paru adalah
hidung,faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus.
3. Fungsi pernapasan dapat dibagi atas : 1) pertukaran gas, 2) pengaturan keseimbangan
asam basa. Pertukaran gas melalui proses 3 tahapan : ventilasi, difusi, transport aktif
4. Volume paru ada 4 yaitu volume tidal, volume cadangan inspirasi, volume cadangan
ekspirasi, dan volume residu, sedangkan kapasitas paru : kapasitas paru total,
kapasitas vital, kapasitas inspirasi dan kapasitas residu fungsional.
5. Sirkulasi pulmonal : membawa gas hasil pertukaran antara darah kapiler dan udara
alveoli (ventrikelkanan→a.pulmonalis→kapiler→v.pulmonal →ventrikel kiri).
6. Proses transport oksigen bergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru,
aliran darah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan difusi, dan kapasitas
membawa oksigen.
7. Pengangkutan 𝐶𝑂2 di dalam darah dari jaringan ke paru menyebabkan perubahan
sebagai berikut: Darah yang tereduksi mempunyai kadar 𝐶𝑂2 tinggi sehingga
berwarna lebih gelap. Ph relatif lebih rendah karena HCO lebih tinggi. Kadar Cl- ,
𝑁𝑎+ , 𝐾 + mengalami penurunan, kadar HCO- meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Al-maqassary,Ardi.2013.Pengertian Respirasi. http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-


respirasi.html. Diakses pada tanggal 5 April 2017

Andarmoyo,Sulistyo.2012. Kebutuhan Dasar Manusia (Oksigenasi). Yogyakarta: Graha Ilmu

Anonim.2012. Pertukaran Udara Dalam Pernapasan . http://www.tappdf.com/read/11306-


pertukaran-udara-o2-dan-co2-dalam-pernapasan. Diakses pada tanggal 7 April 2017

Anonim. 2013. Fungsi Paru. http://www.kalbemed.com/Portals/6/39_192CME-


2_Uji%20Fungsi%20Paru.pdf. Diakses pada tanggal 7 April 2017

Anonim.2012.Jantung.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40632/4/Chapter%20I
I.pdf. Diakses pada tanggal 7 April 2017

Gibson,John.2000. Fisiologi dan Anatomi Modern. Edisi ke 2.Diterjemahkan oleh:Bertha


Sugiarto. Jakarta:EGC

Guyton, Arthur C.1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi ke


3.Diterjemahkan oleh: Petrus Ardianto.Jakarta:EGC

Hikmat.2012.Fisiologi sistem pernapasan. http://kliksma.com/2015/11/fisiologi-sistem-


pernapasan.html. Diakses pada tanggal 7 April 2017
William, F.Ganong.2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke 20.Diterjemahkan oleh:
H.M. Widjajakusumah.Jakarta:EGC
LAMPIRAN