Anda di halaman 1dari 13

UTS TAKE HOME Mata Kuliah Kebijakan Pembangunan Perikanan

TENTANG

Kebijakan Perikanan Tangkap di Surabaya

Oleh :

Sherly Oktaviyanti NIM. 155080501111022 Kelas A04 Absen

UTS TAKE HOME Mata Kuliah Kebijakan Pembangunan Perikanan TENTANG Kebijakan Perikanan Tangkap di Surabaya Oleh :

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017

1.1 Latar Belakang

1.

PENDAHULUAN

Basis kegiatan penangkapan ikan di Indonesia saat ini tidak hanya di tempat-tempat terpencil yang jauh dari perkotaan dimana biasa terdapat pusatpusat pemerintahan, bisnis ataupun pemukiman. Hal ini dapat dijumpai di beberapa kota, seperti Cirebon (Keristina 2011), Yogyakarta (Nadeak 2009) dan Pekalongan (Liswardana 2011). Adanya basis penangkapan ikan di kota-kota tersebut biasanya disebabkan kegiatan perikanan telah ada jauh sebelum tempattempat tersebut tumbuh menjadi kota-kota seperti saat ini. Adanya basis- basis tersebut sekaligus juga menunjukkan bahwa kegiatan perikanan dapat bertahan sementara kota-kota tersebut cenderung mengembangkan sektor ekonomi secara konvensionil, yaitu mengandalkan sektor bisnis jasa dan perdagangan sebagai andalan utama. Kota-kota tersebut masih dapat mengakomodasi kegiatan ekonomi masyarakat yang mengandalkan sumber daya alam (resource-based), dalam hal ini sumber daya ikan. Sejalan dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah (Kabupaten/Kota/Provinsi) untuk mengelola sumber daya alam yang berada dalam wilayah sesuai undang- undang yang berlaku, tentu pemerintah daerah memiliki kebijakan yang dapat menjaga pembangunan perikanan secara berkelanjutan.

Surabaya adalah sebuah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dengan penduduk sebanyak 4.389.140 jiwa (Dispenduk 2010). Kota ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur, Pemerintahan Kota Surabaya, dan pusat bisnis jasa yang sangat signifikan dibandingkan dengan daerah- daerah lainnya di Jawa Timur. Kota ini memiliki kawasan pesisir yang telah dimanfaatkan untuk berbagai fungsi, terutama dalam kegiatan bisnis perdagangan. Saat ini, Surabaya memiliki sembilan kecamatan yang berbatasan langsung dengan pesisir dan terdapat perikanan tangkap.

Potensi perikanan yang dimanfaatkan oleh nelayan Surabaya tampaknya tidak terbatas pada perairan pesisir Surabaya. Selat Madura dengan perairan pesisir utara Jawa Timur dan pesisir selatan Madura adalah perairan potensial yang telah dimanfaatkan oleh nelayan Surabaya. Masyarakat nelayan Surabaya memproduksi hasil laut yang kemudian dijual dalam bentuk ikan segar atau diolah menjadi bahan makanan, seperti kerupuk, terasi, ikan asin dan ikan asap.

Anggota masyarakat yang bukan nelayan namun memiliki keterampilan dapat memanfaatkan hasil laut dalam bentuk lain, seperti memanfaatkan cangkang kerang, pecahan terumbu karang dan kulit kerang sebagai bahan baku untuk membuat kerajinan suvenir atau cinderamata. Banyak masyarakat di pesisir Surabaya yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut tersebut.

Keberadaan para nelayan di kawasan perkotaan sangat menarik untuk diteliti mengingat kondisi lingkungan, termasuk lingkungan perairan, dari suatu kota industri biasanya tergolong tidak sehat karena sudah tercemar logam berat sehingga habitat yang sehat untuk kehidupan ikan dan biota air lainnya mungkin sudah sangat terbatas atau bahkan tidak ada lagi. Dalam kondisi lingkungan seperti itu, tentu nelayan tersebut memiliki cara yang berbeda dari nelayan di tempat lain yang ikannya masih melimpah dan lingkungan perairannya masih sehat atau mendukung.

  • 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sumber Daya Ikan

Definisi sumber daya ikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan adalah potensi semua jenis ikan. Ikan merupakan segala jenis mahluk hidup yang seluruh atau sebagian dari daur hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Lingkungan sumber daya ikan adalah perairan tempat kehidupan sumber daya ikan, termasuk biota dan faktor alamiah sekitarnya. Jenis ikan yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah :

1) Pisces (ikan bersirip) 2) Crustacea (udang, rajungan, kepiting, dan sejenisnya) 3) Mollusca (kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sejenisnya) 4) Coelenterata (ubur-ubur dan sejenisnya) 5) Echinodermata (teripang, bulu babi, dan sejenisnya) 6) Amphibia (kodok dan sejenisnya) 7) Reptilia (buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air, dan sejenisnya) 8) Mammalia (paus, lumba-lumba, pesut, duyung, dan sejenisnya) 9) Algae (rumput laut dan tumbuhan yang hidupnya di dalam air) 10) Biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis di atas.

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Luas perairan laut Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) diperkirakan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 0,3 juta km2 perairan laut teritorial, 2,8 juta km2 perairan kepulauan, dan 2,7 juta km2 perairan ZEE Indonesia. Perairan laut yang sangat luas, kaya akan jenis-jenis maupun potensi sumberdaya perikanan yang bila dikelola secara optimal tanpa mengganggu kelestariannya akan memberikan manfaat yang besar dalam menyediakan pangan berprotein hewani, meningkatkan devisa negara dari hasil ekspor komoditi perikanan laut, meningkatkan penghasilan sekaligus pendapatan untuk kesejahteraan nelayan (Subani dan Barus 1989).

  • 2.2 Perikanan Tangkap Undang-undang

Nomor

45

Tahun

2009 menyebutkan definisi

penangkapan ikan ialah kegiatan memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam

keadaan dibudidayakan dengan alat atau dengan cara apapun, termasuk

kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah dan mengawetkan. Perikanan tangkap merupakan kegiatan ekonomi dalam penangkapan/ pengumpulan binatang dan tanaman air, baik di laut maupun perairan umum secara bebas.

Pengembangan perikanan tangkap di Indonesia hingga saat ini belum dapat dikatakan berhasil karena masih terdapat permasalahan yang dihadapi. Permasalahan perikanan tangkap yang dihadapai Indonesia saat ini diantaranya adalah: (1) masih lemahnya sistem pengelolaan usaha perikanan tangkap dan penguasaan teknologi tepat guna yang berakibat pada rendahnya produksi; (2) kompetisi pada penggunaan lahan perairan antar daerah sebagai dampak dari semakin banyaknya penduduk di wilayah pesisir; (3) masih berlangsungnya overfishing di beberapa wilayah; (4) kenaikan dan kelangkaan BBM yang semakin membebani nelayan untuk melaut; (5) tingginya illegal fishing yang mengakibatkan kerugian negara dan semakin cepatnya penurunan sumberdaya perikanan dan kelautan; (6) kerusakan ekosistem perairan sebagai dampak dari eksploitasi berlebih dan bencana alam; (7) tumpang tindih kewenangan dalam pemberian ijin dan adanya peraturan yang tidak memberikan iklim kondusif bagi 7 investasi perikanan; (8) rendahnya penggunaan teknologi dan kemampuan penanganan serta pengolahan perikanan yang berakibat sebagai rendahnya mutu, nilai tambah dan daya saing produk perikanan; (9) proses penangan dan pengolahan hasil yang kurang memperhatikan keamanan produk perikanan; dan (10) keterbatasan infrastruktur perikanan, permodalan, lemahnya koordinasi dan kelembagan perikanan (Monintja,1989 yang dikutip oleh Ismuryandi, 2006).

  • 2.3 Unit Penangkapan Ikan

Unit penangkapan ikan adalah seperangkat teknologi berikut penggunanya yang menyebabkan teknologi tersebut dapat berfungsi atau digunakan untuk menghasilkan ikan, baik jenis ikan sasaran utama maupun bukan. Perangkat teknologi tersebut adalah kapal ikan, alat penangkapan ikan dan nelayan. Menurut UU Nomor 31 Tahun 2004, yang dimaksud dengan kapal perikanan adalah kapal, perahu, atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian (eksplorasi) perikanan. Perahu atau kapal penangkapan ikan di laut dapat dibedakan menjadi tiga kategori berikut (Diniah 2008): 1) Perahu

tanpa motor (PTM), yaitu perahu yang tidak menggunakan tenaga mesin sebagai tenaga penggerak, tetapi menggunakan layar atau dayung untuk menggerakkan kapal; 2) Perahu motor tempel adalah perahu yang menggunakan mesin atau motor tempel sebagai tenaga penggerak yang diletakkan di bagian luar perahu, baik diletakkan di buritan maupun di sisi perahu; dan 3) Kapal motor, yaitu kapal yang menggunakan mesin sebagai tenaga penggerak yang diletakkan di dalam kapal. Unit penangkapan ikan merupakan kesatuan teknis dalam suatu operasi penangkapan yang biasanya terdiri dari kapal penangkap ikan dan alat penangkapan ikan yang dipergunakan. Hal ini berarti bahwa jika satu kapal penangkap ikan dalam satu tahun operasi dengan menggunakan dua jenis alat yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda pula, maka jumlah unit penangkapan ikan dihitung 2 (dua). Berdasarkan data KKP (2009) klasifikasi unit penangkapan 8 ikan diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi jenis alat penangkapan ikan.

2.4 Kebijakan

Kebijakan merupakan sebuah rujukan yang dipertimbangkan, diperhatikan dan dipakai oleh pengelola dalam merancang bentuk-bentuk upaya, tindakan atau aksi untuk menangani isu atau permasalahan hingga tuntas. Dengan kata lain, suatu kebijakan kemudian diterjemahkan dan diterapkan dalam bentuk programprogram dan implementasinya. Kebijakan yang dianggap resmi adalah kebijakan 15 Pemerintah yang memiliki kewenangan dan dapat memaksa masyarakat agar mematuhinya karena kebijakan tersebut dibuat atas nama kepentingan masyarakat yang proses penyusunan dan perumusannya seyogianya sesuai dengan aspirasi masyarakat. Proses perumusan ini hendaknya mengakomodasi partisipasi masyarakat agar kebijakan yang dibuat dapat dilaksanakan dengan efektif (Suseno 2007).

Analisis kebijakan adalah sebuah disiplin ilmu sosial yang menerapkan berbagai metode pengkajian yang menerapkan pendekatan argumentasi untuk menghasilkan rumusan atau kesimpulan yang relevan dalam rangka memecahkan permasalahan kebijakan. Menurut Dunn (2000), berdasarkan maksud atau kegunaannya, analisis kebijakan dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu analisis untuk merumuskan definisi suatu kebijakan, analisis untuk meprediksi konsekuensi kebijakan, analisis untuk merancang kebijakan

(preskripsi), analisis untuk menjelaskan kebijakan (deskripsi) dan analisis untuk menilai dampak kebijakan (evaluasi).

Kegiatan perikanan tangkap dilakukan oleh nelayan atau pengusaha untuk memanfaatkan sumberdaya ikan. Kegiatan yang memanfaatkan sumber daya milik bersama ini tentu memerlukan pengaturan sehingga perlu ada pengendalian terhadap kegiatan ini. Secara umum, pengaturan penangkapan ikan secara nasional tergantung pada kebijakan pembangunan perikanan suatu negara. Sementara ini, pengaturan kegiatan penangkapan ikan pada umumnya bertujuan untuk memperoleh manfaat optimum, baik secara fisik maupun nilai ekonomi, dari sumber daya ikan. Kebijakan pembangunan perikanan dan kelautan seperti itu merupakan keputusan dan tindakan pemerintah untuk mengarahkan, mendorong, mengendalikan dan mengatur pembangunan perikanan dan kelautan guna mewujudkan pembangunan nasional (Suganda, 2003 dalam Ismuryandi, 2006).

  • 2.5 Pengelolaan Perikanan

Pengelolaan perikanan berdasarkan UU No. 31 Tahun 2004 merupakan semua upaya termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang- undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati. Tujuan dari pengelolaan perikanan seperti yang disebutkan dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) adalah pemanfaatan jangka panjang atas sumber daya perikanan secara berkesinambungan. Secara umum, tujuan perikanan dapat dibagi kedalam empat kelompok yaitu biologi, ekologi, ekonomi, dan sosial, dimana tujuan sosial mencangkup tujuan politik dan budaya.

Pengelolaan perikanan memerlukan suatu keberanian para pengelola untuk mengambil beberapa keputusan. Namun, sejumlah prinsip dasar dapat diidentifikasi yang selanjutnya dapat membantu memusatkan perhatian pada langkah awal bagi pengelolaan perikanan yang efektif. Berbagai hasil kajian yang berkembang selama ini menunjukkan bahwa upaya pengelolaan semakin dirasakan meningkat kebutuhannya. Hal tersebut didorong oleh kenyataan

bahwa intensitas pemanfaatan sumberdaya ikan yang terus meningkat, dengan sedikit upaya pengelolaan telah menyebabkan terjadinya kehilangan yang cukup besar 18 keanekaragaman sumberdaya ikan dan habitatnya (Dulvy, 2003 dalam Widodo, 2008)

3.

PEMBAHASAN

Surabaya merupakan salah satu kota besar dimana terdapat kegiatan perikanan tangkap. Perikanan di Surabaya masuk ke dalam sektor pertanian. Perikanan Surabaya memang bukan sektor yang terlihat dikedepankan oleh pemerintah Surabaya. Namun, banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan perikanan tangkap. Terdapat sekitar 3000 nelayan di Surabaya, bila nelayan-nelayan tersebut rata-rata memiliki 3 orang tanggungan, maka ada sekitar 9000 jiwa yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan perikanan tangkap. Oleh karena itu, kegiatan perikanan tangkap tetap harus dipertahankan.

Jika dibandingkan dengan kota besar lainnya seperti Jakarta, Yogyakarta dan Cirebon, memang sektor perikanan Surabaya masih kalah saing dalam hal sarana dan prasarana. Jakarta, Yogyakarta dan Cirebon telah memiliki pelabuhan perikanan dan berbagai fasilitas lainnya yang dapat menunjang kegiatan perikanan. Jika ditinjau dari segi pencatatan data perikanan, belum satupun kotakota besar tersebut yang mampu melakukan pencatatan data dengan baik. Pencatatan data perikanan merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui keberlanjutan perikanan. Terdapat hal unik terhadap perikanan Surabaya yaitu setiap desa memiliki alat tangkap yang sama. Jika nelayan di suatu desa menggunakan alat tangkap gillnet maka hampir dapat dipastikan seluruh nelayan didesa tersebut menggunakan alat tangkap yang sama. Hal ini terjadi karena mayoritas dalam satu desa tersebut masih terdapat hubungan darah sehingga jenis alat tangkap yang mereka gunakan merupakan jenis alat tangkap peninggalan dari nenek moyangnya. Berbeda dengan daerah lainnya dimana terdapat berbagai macam alat tangkap ditiap daerahnya.

Kebijakan merupakan sebuah rujukan yang dipertimbangkan, diperhatikan dan dipakai oleh pengelola dalam merancang bentuk-bentuk upaya, tindakan atau aksi untuk menangani isu atau permasalahan hingga tuntas. Kebijakan perikanan yang berlaku di kota besar maupun kota kecil pada dasarnya mengacu kepada UU No.45 Tahun 2009 tentang perikanan. Namun dalam kebutuhannya kebijakan di kota besar dan kota kecil dapat berbeda. Seperti halnya di Surabaya, diperlukan 80 kebijakan khusus dalam mengatasi permasalahan kerusakan ekologi yang diakibatkan limbah-limbah yang

mencemari lautan dan pembangunan kawasan pesisir secara besar-besaran. Kebijakan tersebut belum tentu diperlukan di kota kecil. Monintja (1989) yang dikutip dalam Ismuryandi (2006) mengemukakan permasalahan-permasalahan perikanan tangkap yang dihadapai Indonesia saat ini. Perikanan tangkap Surabaya juga tak luput dari berbagai permasalahan yang diungkapkan oleh Monintja (1989) yaitu masih lemahnya sistem pengelolaan usaha perikanan tangkap dan penguasaan teknologi tepat guna yang berakibat pada rendahnya produksi, kompetisi pada penggunaan lahan perairan antar daerah sebagai dampak dari semakin banyaknya penduduk di wilayah pesisir, kenaikan dan kelangkaan BBM yang semakin membebani nelayan untuk melaut, rendahnya penggunaan teknologi dan kemampuan penanganan serta pengolahan perikanan yang berakibat sebagai rendahnya mutu, nilai tambah dan daya saing produk perikanan, proses penangan dan pengolahan hasil yang kurang memperhatikan keamanan produk perikanan; dan keterbatasan infrastruktur perikanan, permodalan, lemahnya koordinasi dan kelembagan perikanan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perikanan tangkap terdiri dari faktor eksternal dan internal. Rangkuti (2005) menyatakan bahwa analisis faktor internal dapat dilakukan dengan matriks internal factor evaluation (IFE) dan faktor eksternal dapat dianalisis dengan menggunakan matriks eksternal factor evaluation (EFE). Faktor internal menjelaskan mengenai kekuatan dan kelemahan dari perikanan Surabaya dan faktor eksternal menjelaskan mengenai peluang dan ancaman terhadap perikanan di Surabaya. Total faktor internal sebesar 2,82 yang berarti bahwa kondisi internal perikanan tangkap di Surabaya didominasi oleh kekuatan yang mendorong perkembangan perikanan tangkap. Sedangkan total faktor eksternal sebesar 2,31 berarti bahwa kondisi perikanan Surabaya belum mampu memberikan respon positif terhadap pengembangan perikanan tangkap. Peluang yang ada belum mampu dimanfaatkan untuk meminimalisir kelemahan yang ada. Berdasarkan nilai yang diperoleh dari faktor internal dan eksternal (David 2003) maka perikanan tangkap di Surabaya, dimana pada perikanan Surabaya harus mempertahankan dan memelihara kekuatan yang ada serta memanfaatkan berbagai peluang yang dimiliki untuk mengembangkan perikanan tangkap di Surabaya. Peluang memanfaatkan sumber daya ikan yang ada di luar kawasan tidak serta merta disikapi dengan menambah dan memperbesar kapal ikan karena di tempat-tempat tersebut telah ada nelayannelayan lain yang beroperasi, baik nelayan lokal maupun nelayan

andon dari daerah lain. Penambahan jumlah armada penangkapan ikan akan berpeluang meningkatkan potensi konflik antar nelayan (Satria 2009). Adanya keharmonisan di antara berbagai nelayan dari berbagai tempat sebaiknya dipelihara dan hal yang harus dilakukan adalah mengendalikan armada perikanan tangkap.

Kebijakan perikanan di Surabaya tentunya harus didukung dan ditaati oleh seluruh stekholder yang berperan dalam kegiatan perikanan. Nelayan diharapkan mampu mengembangkan kelembagaannya guna mempermudah pemerintah dalam mendata, memberikan penyuluhan serta memberikan subsidi agar semua nelayan mendapatkan jatah yang sama dan tak luput dari pembagian subsidi tersebut. Ahli perikanan/ staf perikanan di Dinas Pertanian diharapkan dapat bekerjasama dengan nelayan dalam pengembangan sumberdaya manusia dengan memberikan penyuluhan dan pembinaan terhadap teknologi penangkapan. Peningkatan kualitas pencatatan data hasil tangkapan perikanan juga harus ditingkatkan oleh dinas pertanian sehingga dapat terpantau keberlangsungan sumberdaya ikan di Surabaya. Pengolah hasil perikanan harus berperan aktif dalam berbagai pembinaan yang diberikan oleh pemerintah guna meningkatkan kemmampuan mereka dalam menciptakan produk perikanan yang bermutu dan berharga jual tinggi. Pedagang hasil perikanan juga harus bekerjasama dengan pemerintah 82 untuk selalu menjaga kualitas hasil dagangannya. Pengelola wisata bahari diharapkan mampu mengundang wisatawan untuk datang ke pesisir Surabaya sehingga wisatawan pantai Kenjeran diharapkan dapat meningkatkan perekonomian pesisir dengan membeli produk hasil perikanan.

  • 4. DAFTAR PUSTAKA

David, F. R. 2003. Manajemen strategis: Konsep-Konsep. Jakarta: Indeks. Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Edisi pertama. Bogor:

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan: Institut Pertanian Bogor. 62 hal. Dispenduk. 2010. Jumlah Penduduk Surabaya Berdasarkan Jenis Kelamin. http://www.surabaya.go.id/dispenduk diakses pada 31 Oktober 2017.

Ismuryandi, F. 2006. Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo dalam Kerangka Otonomi Daerah di Bidang Perikanan Tangkap. Skripsi. Bogor: Program Studi Pemanfaatan sumberdaya Perikanan.Fakultas Periakanan dan Ilmu Kelautan: Institut Pertanian Bogor.

Keristina. 2011. Peranan dan Dampak Subsektor Perikanan Tangkap terhadap Ekonomi Wilayah Kabupaten Cirebon. Skripsi. Bogor: Program Studi Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Fakultas Periakanan dan Ilmu Kelautan: Institut Pertanian Bogor.

Liswardana, B. I. 2011. Peran Subsektor Perikanan Tangkap terhadap Pembangunan Daerah Serta Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan di Kota Pekalongan. Skripsi. Bogor: Program Studi Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Fakultas Periakanan dan Ilmu Kelautan: Institut Pertanian Bogor.

Nadeak, A. 2009. Kawasan Basis Sektor Perikanan dan Kelautan. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. 4 (5): 1-9.

Jurnal

Satria, A. 2009. Konflik Nelayan di Jawa Timur. Jurnal Transdisiplin sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia Pasuruan. 3 (1): 1-18.

Subani, W dan H. R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut.

Suseno. 2007. Analisis Kebijakan pengelolaan Perikanan Tangkap: kasus Pantai Utara Jawa Tengah menuju Perikanan Berkelanjutan. Jakarta: Pustaka Cidesindo.

Widodo, J. 2008. Pengkajian stok sumber daya ikan laut Indonesia tahun 2002.

Prosiding.

.PUSRIPT-BRKP Departemen Kelautan dan Perikanan.

Jakarta. Hal 1-12.