Anda di halaman 1dari 2

Pesawat terbang merupakan transportasi era modern abad 20.

Perkembangannya sangat pesat


setelah era perang dunia II usai,karena negara-negara maju berlomba dalam teknologi pesawat terbang
penumpang. Produksi pesawat penumpang memiliki pasar yang terus berkembang karena
bertambahnya permintaan masyarakat akan transportasi yang cepat untuk menempuh jarak yang jauh.
Pada awal abad 20,awalnya pesawat terbang penumpang menggunakan mesin piston dengan penggerak
baling-baling, dimana hanya memiliki kecepatan yang rendah,yaitu sekitar 330km/jam. Salah satu
contohnya adalah Douglas DC-3,yang merupakan pesawat terbang penumpang pertama tersukses di
dunia yang diproduksi secara massal. Selain DC-3,model lain seperti Douglas DC-6,Antonov An-2,Boeing
377,Lockheed Constellation dan Vickers Viscount merupakan pesawat terbang penumpang yang
diproduksi era 1940-1950-an dengan penggerak mesin piston baling-baling.

Mesin turbojet yang diaplikasikan pada pesawat terbang mulai ditemukan pada tahun 1928 oleh
Frank Whittle,dan mesin ini memiliki performa yang lebih baik dari mesin piston. Mesin turbojet
menghasilkan gaya dorong yang lebih besar yang dihasilkan dari pengkondisian tekanan udara oleh
turbin yang kemudian dibakar di keadaan suhu yang sangat tinggi. Melihat penemuan ini dalam dunia
penerbangan,banyak produsen pesawat terbang era 1950-an yang beralih untuk menggunakan mesin
turbojet dan mulai meninggalkan mesin piston sebagai penggerak. Hal ini dikarenakan performa mesin
turbojet yang lebih baik dan konsumsi bahan bakar yang lebih irit. Mesin turbojet pun berkembang
hingga saat ini. Beberapa pesawat terbang penumpang seperti De Havilland Comet,Boeing 707,Tupolev
Tu-104,Douglas DC-8,dan ilyushin 62 adalah pesawat terbang penumpang generasi pertama yang
menggunakan mesin turbojet.

Jika kita perhatikan,beralihnya produsen dari mesin piston ke mesin turbojet,tentu


menghasilkan banyak perbedaan karakteristik pesawat terbang itu sendiri. Dikarenakan performa mesin
turbojet yang lebih baik dari mesin piston,tentu mesin turbojet menghasilkan kecepatan yang lebih
tinggi dibandingkan mesin piston,dengan rata-rata kecepatan lebih dari Mach 0.7(0.7 kali kecepatan
suara). Peristiwa ini menyebabkan banyak sambungan pada bagian pesawat terbang mengalami
keadaaan stress,terutama pada bagian jendela pesawat. Hal inilah yang akan dibahas dalam karya tulis
ilmiah ini.

Sebelum para insinyur penerbangan menyadari akan perbedaan struktur jendela pesawat
terbang penumpang bermesin piston,dan pesawat terbang modern(bermesin turbojet),ada beberapa
peristiwa keccelakaan ‘penting’yang hasil penelitiannya berguna bagi perkembangan industri pesawat
terbang penumpang masa kini. Contohnya adalah kasus kegagalan pada jendela pesawat terbang De
Havilland Comet. Kecelakaan pertamanya terjadi pada 3 Maret 1953,dimana kabin pesawat meledak
tanpa ada gejala percikan api penyebab kebakaran. Kecelakaan sejenis pun terulang pada 2 Mei 1953,10
Januari 1954,dan 8 april 1954 sebelum akhirnya design pesawat terbang ini dikaji ulang oleh para
insinyur.

Setelah dilakukan investigasi pasca kecelakan tersebut,dokter forensik menemukan kondisi


korban yang sama pada ketiga kecelakaan tersebut,yaitu tempuruk kepala yang rusak,tulang rusuk
patah,dan kebocoran pada paru-paru. Ternyata hal ini disebabkan oleh perubahan tekanan dari tekanan
tinggi ke tekanan rendah yang sangat cepat saat badan pesawat terbang meledak pada ketinggian
11000 kaki. Para insinyur pun menemukan fakta bahwa meledaknya badan pesawat disebabkan oleh
design jendela pesawat De Havilland Comet yang berbentuk persegi.
Jendela pesawat terbang berbentuk persegi memiliki kelemahan,dimana pada sudut-sudut
perseginya adalah titik dimana terjadi tekanan yang sangat tinggi akibat tekanan kabin. Karena tekanan
yang hanya terpusat pada sudut persegi itulah,akhirnya pada titik-titik tersebut terjadi kegagalan
struktur yang menyebabkan badan pesawat dapat meledak pada ketinggian tertentu.