Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

DEMOKRASI

DISUSUN OLEH :

NAMA : 1. Adinda Safitri Endaryanti ( 201601063 )


2. Anggita Dewi Saputri ( 201601067 )
3. Arif Kartiko Utomo ( 201601069 )
4. Herdianto Bachtiar ( 201601082 )
5. Istiningrum Hanifah Mawarni ( 201601085 )
6. Ni’ma Safrotul Mafruchah ( 201601101 )
7. Quwata Ridho Yuwono ( 201601105 )
8. Sherin Rosa Linda ( 201601114 )
9. Tinsi Ari Romadhoni ( 201601119 )
10. Yulia Vista Sari ( 201601122 )

KELAS : 1 B ( SEMESTER I )

AKADEMI KEPERAWATAN DIPLOMA III


PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “ Demokrasi “ dengan baik. Shalawat serta salam kami sampaikan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau, serta
orang-orang mukmin yang tetap istiqamah di jalan-Nya.

Makalah ini dirancang agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang


demokrasi, yang menjelaskan konsep-konsep demokrasi, pengaplikasian demokrasi
dalam kehidupan sehari-hari, serta pemahaman tentang pilar-pilar demokrasi, yang
disajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.

Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidaklah
sempurna. Kami mengharapkan adanya sumbangan pikiran serta masukan yang
sifatnya membangun dari pembaca, sehingga dalam penyusunan makalah yang akan
datang menjadi lebih baik.

Terima kasih

Ponorogo, 23 Oktober 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ...................................................................................................... 1

Kata Pengantar ..................................................................................................... 2

Daftar Isi ............................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 5

1.3 Tujuan ........................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Demokrasi ................................................................................... 6

2.2 Konsep-konsep Demokrasi ........................................................................... 7

2.3 Pemahaman Pilar-pilar Demokrasi ............................................................... 8

2.4 Aplikasi Demokrasi Dalam Kehidupan Sehari-hari ..................................... 10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 13

3.2 Saran ............................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini, hampir seluruh warga di dunia mengaku menjadi penganut
paham demokrasi. Demokrasi di praktekkan diseluruh dunia secara berbeda-
beda dari satu negara ke negara lain. Konsep demokrasi diterima oleh hampir
seluruh negara di dunia. Diterimanya konsep demokrasi disebabkan oleh
keyakinan mereka bahwa konsep ini merupakan tata pemerintahan yang paling
unggul menganut sistem demokrasi, demokrasi harus berdasarkan pada suatu
kedaulatan rakyat, artinya kekuasaan negara itu dikelola oleh rakyat, dari rakyat
dan untuk rakyat.
Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang
berusaha untuk membangun sistem politik demokrasi sejak menyatakan
kemerdekaan dan kedaulatannya pada tahun 1945. Sebagai sebuah gagasan,
demokrasi sebenarnya sudah banyak dibahas atau bahkan dicoba diterapkan di
Indonesia. Pada awal kemerdekaan Indonesia berbagai hal dengan negara
masyarakat telah diatur dalam UUD 1945.
Para pendiri bangsa berharap agar terwujudnya pemerintahan yang
melindungi bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial. Semua itu merupakan gagasan-gagasan dasar yang
melandasi kehidupan negara yang demokratis.
Sebagai bentuk kesungguhan negara Indonesia, landasan tentang
demokrasi telah tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 maupun Batang Tubuh
UUD 1945. Seluruh pernyataan dalam UUD 1945 dilandasi oleh jiwa dan
semangat demokrasi. Penyusunan naskah UUD 1945 itu sendiri juga dilakukan
secara demokratis. UUD 1945 merangkum semua golongan dan kepentingan
dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian, demokrasi bagi bangsa
Indonesia adalah konsep yang tidak dapat dipisahkan. Budaya demokrasi di
Indonesia perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

4
bernegara serta hendaknya mengacu kepada akar budaya nasionalisme yang
memiliki nilai gotong royong atau kebersamaan dan mementingkan
kepentingan umum. Namun, budaya individualisme dan budaya liberal yang
masuk melanda masyarakat dengan melalui arus globalisasi tidak mungkin bisa
dibendung karena kemajuan teknologi.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan demokrasi ?
1.2.2 Apa saja konsep-konsep demokrasi ?
1.2.3 Bagaimana melaksanakan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari ?
1.2.4 Apa saja yang termasuk dalam pilar-pilar demokrasi ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan.
1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami pengertian demokrasi.
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami konsep-konsep demokrasi.
1.3.4 Untuk memahami tentang pilar-pilar demokrasi.
1.3.5 Untuk mengetahui cara melaksanakan demokrasi dalam kehidupan
sehari-hari.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Demokrasi


2.1.1 Menurut Para Ahli :
a. Abraham Lincoln
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
b. Charles Costello
Demokrasi adalah sistem sosial dan politik pemerintahan diri dengan
kekuasaan-kekuasaan pemerintah yang dibatasi hukum dan kebiasaan
untuk melindungi hak-hak perorangan warga negara.
c. John L. Esposito
Demokrasi pada dasarnya adalah kekuasaan dari dan untuk rakyat.
Oleh karenanya, semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat
aktif maupun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan
yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
d. Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang
melaksanakan kekuasaan negara ialah wakil-wakil rakyat yang
terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan
kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan
Negara.
e. Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan
pemerintah yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada
kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat
dewasa.

6
2.1.2 Demokrasi Dalam Arti Luas
Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di
Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap
sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan
hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah
sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad
ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak
negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti
rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat
diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Bisa disimpulkan, bahwa demokrasi adalah bentuk atau mekanisme
sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan
kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

2.2 Konsep-konsep Demokrasi


Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan
pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung atau melalui
perwakilan. Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu “demos” yang
berarti “rakyat” dan “kratos” yang berarti kekuasaan. Istilah demokrasi pertama
kali diperkenalkan oleh Aristosteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu
pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang
banyak (rakyat).
Abraham Lincoln dalam pidatonya Gettysburg mengatakan bahwa
demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan “dari rakyat oleh rakyat
untuk rakyat”. Dalam sistem pemerintahan demokrasi, kedaulatan (kekuasaan
tertinggi) berada ditangan rakyat. Dalam perkembangannya, penduduk suatu
negara bertambah semakin banyak maka rakyat akan mewakilkan kepada
wakil-wakil rakyat sehingga demokrasi yang di praktikkan disebut demokrasi
perwakilan atau demokrasi tak langsung (demokrasi modern). Demokrasi tak

7
langsung di akui dengan adanya pesta demokrasi yang berupa pemilihan umum.
Dalam pemilihan umum semua warga negara yang memiliki hak pilih akan
menggunakan hak pilihnya untuk memiliki wakil-wakil rakyat yang akan
duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat.

2.3 Pemahaman Pilar-pilar Demokrasi


2.3.1 Pengertian Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang
bersumber dari pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia
yang digali berdasarkan kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari
falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah
negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin,
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

2.3.2 Prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila


Prinsip demokrasi pancasila ini telah ditulis oleh Bpk. Ahmad
Sanusi dalam buku yang berjudul “Memberdayakan Masyarakat Dalam
Pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi” (2006: 193-205) dimana memuat 10
poin prinsip demokrasi yang menurut Pancasila dan UUD 1945, yaitu :
1. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Demokrasi yang
berketuhanan Yang Maha Esa berarti sistem penyelenggaraan negara
harus taat, konsisten dan sesuai dengan nilai juga kaidah dasar
ketuhanan yang maha esa.
2. Demokrasi dengan kecerdasan. Yang kedua ini berarti aturan dan
penyelenggaraan demokrasinya menurut UUD 1945. Bukan melalui
naluri, kekuatan otot atau kekuatan massa. Pelaksanannya lebih
menurut kecerdasan rohani, aqliyah, rasional dan kecerdasan
emosional.
3. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat. Demokrasi pancasila
kekuasaan tertinggi ada pada tangan rakyat, pada prinsipnya
rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Kedaulatan rakyat ini dibatasi
dan dipercayakan kepada wakil rakyat, yaitu MPR (DPR/DPD) dan
DPRD.

8
4. Demokrasi dengan rule of law. Hal ini mempunyai empat makna
penting :
 Pertama, kekuasaan negara Republik Indonesia itu harus
mengandung, melindungi, serta mengembangkan kebenaran
hukum (legal truth) bukan demokrasi ugal-ugalan, demokrasi
dagelan, atau demokrasi manipulatif.
 Kedua, kekuasaan negara itu memberikan keadilan hukum (legal
justice) bukan demokrasi yang terbatas pada keadilan formal dan
pura-pura.
 Ketiga, kekuasaan negara itu menjamin kepastian hukum (legal
security) bukan demokrasi yang membiarkan kesemrawutan atau
anarki.
 Keempat, kekuasaan negara itu mengembangkan manfaat atau
kepentingan hukum (legal interest), seperti kedamaian dan
pembangunan, bukan demokrasi yang justru mempopulerkan
fitnah dan hujatan atau menciptakan perpecahan, permusuhan,
dan kerusakan.
5. Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara. Demokrasi
pancasila menurut UUD 1945 ini mengal pembagian dan pemisahan
kekuasaan (division and seperation of power) dengan sistem
pengawasan dan perimbangan (check and balance).
6. Demokrasi dengan hak asasi manusia. Prinsip yang ke enam ini
berarti demokrasi beradsarkan UUD 1945 dimana mengakui HAM
dengan tujuan bukan hanya menghormati hak tersebut, namun juga
meningkatkan martabat dan derajat manusia seutuhnya.
7. Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka. Demokrasi
pancasila berarti menghendaki diberlakukannya sistem pengadilan
yang independen atau meredeka dengan memberi kesempatan
seluasnya kepada pihak yang berkepentingan untuk mencari dan
menemukan hukum yang paling adil. Semua pihak juga mempunyai
hak yang sama untuk mengajukan pertimbangan, dalil, fakta, saksi,
alat bukti dan petitumnya.

9
8. Demokrasi dengan otonomi daerah. Prinsip yang ke delapan ini
berarti demokrasi Pancasila dijalankan dengan prinsip otonomi
dimana pemerintahan membentuk daerah-daerah otonom pada
propisi dan kabupaten/kota. Tujuannya adalah agar bisa mengatur
dan menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah sebagai urusan
rumah tangganya sendiri yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat.
9. Demokrasi dengan kemakmuran. Prinsipnya ialah supaya
membangun negara yang makmur oleh dan untuk rakyat Indonesia
yang mencakup semua aspek entah hak dan kewajiban, kedaulat
rakyat, pembagian kekuasaan, otomi daerah ataupun keadilan hukum.
10. Demokrasi yang berkeadilan sosial. Prinsip ke sepuluh berarti
demokrasi ini menggariskan keadilan sosial di antar berbagai
kelompok, golong dan masyarakat.

2.4 Aplikasi Demokrasi Dalam Kehidupan Sehari-hari


Budaya demokrasi pancasila merupakan paham demokrasi yang
berpedoman pada asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan yang berketuhanan yang Maha Esa,
berkemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan bersama sama
menjiwai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Budaya demokrasi
pancasila mengakui adanya sifat kodrat manusia sebagai mahkluk individu dan
mahkluk social dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Rumusan sila keempat pancasila sebagai dasar filsafat negara dan dasar
politik negara yang di dalamnya terkandung unsur kerakyatan, per-
musyawaratan, dan kedaulatan rakyat merupakan cita-cita kefilsafatan dari
demokrasi pancasila. Oleh sebab itu, perilaku budaya demokrasi yang perlu di
kembangkan dalam kehidupan sehari-hari ada hal-hal berikut :
1. Menjunjung tinggi persamaan
Budaya demokrasi mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki
persamaan harkat dan derajat dari sumber yang sama sebagai makhluk
ciptaan yang Maha Esa. Oleh sebab itu, dalam kehidupan sehari-hari
hendaknya kita mampu membuat dan bertindak untuk menghargai orang

10
lain sebagai wujud kesadaran diri untuk menerima keberagaman dalam
masyarakat. Menjunjung tinggi persamaan mengandung makna bahwa
kita mau berbagi dan terbuka menerima perbadaan pendapat, keritik dan
saran dari orang lain.
2. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
Setiap manusia menerima fitrah hak asasi dari Tuhan Yang Maha Esa
berupa hak hidup, hak kebebasan, dan hak memiliki sesuatu. Penerapan
hak-hak tersebut bukanlah sesutu yang mutlak tanpa batas. Dalam
kehidupan bermasyarakat, ada batas-batas yang harus di hormati
bersama berupa hak-hak yang dimiliki orang lain sehingga batasan
norma yang berlaku dan di patuhi. Untuk itu, dalam upaya mewujudkan
tatanan kehidupan sehari-hari yang bertanggung jawab terhadap Tuhan,
diri sendiri, dan orang lain dengan sebaik-baiknya.
3. Membudayakan sikap yang adil
Salah satu perbuatan mulia yang dapat di wujudkan dalam kehidupan
sehari-hari baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain adalah
mampu bersikap bijak dan adil. Bijak dan adil dalam makna yang
sederhana adalah perbuatan yang benar-benar dilakukan dengan
perhitungan, mawas diri, mau memahami yang dilakukan orang lain dan
proporsional. Masyarakat kita perlu mengembangkan budaya bijak dan
adil dalam rangka mewujudkan kehidupan yang saling menghormati
harkat dan martabat orang lain, tidak diskriminatif, terbuka, dan menjaga
persatuan dan kesatuan lingkungan masyarakat sekitar.
4. Membijaksanakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan
Mengambil keputusan melalui musyawarah mufakat merupakan salah
satu nilai dasar budaya bangsa Indonesia yang sejak lama telah dipraktik-
kan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam musyawarah
mufakat terkandung makna bahwa pada setiap kesempatan yang
berhubungan dengan pengambilan keputusan diperlukan kesadaran dan
kearifan untuk memutuskan. Untuk itu, sebelum suatu keputusan di
terapkan selalu di dahului dengan dialog dan mau mendengar dari
berbagai pihak, juga selalu di upayakan untuk memahami terlebih dahulu

11
persoalan-persoalan yang ada. Keputusan dengan musyawarah mufakat
akan menghasilkan keputusan yang mampu memuaskan banyak pihak
sehingga dapat terhindar dari konflik-konflik vertikal maupun horizontal.
5. Mengutamakan persatuan dan kesatuan nasional
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sikap untuk
lebih mengutamakan kepentingan orang lain / umum dari kepentingan
peribadi yang sangat penting untuk di tumbuhkan. Kesadaran setiap
warga negara untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan merupakan
wujud cinta dan bangsa terhadap bangsa dan Negara. Kita harus mampu
berfikir cerdas dan bekerja keras untuk kepentingan dan kemajuan
bangsa dan negara melalui berbagai bidang kehidupan yang dapat kita
lakukan. Makna penting dalam memahami sikap mengutamakan
persatuan dan kesatuan adalah bagaimana kita mampu berbuat tanpa
pamrih untuk kepentingan bangsa dan negara, berapa pun yang kita
lakukan adalah hal-hal kecil dalam status dan propesi yang kita miiliki.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan, bahwa demokrasi adalah
bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Istilah demokrasi pertama kali
diperkenalkan oleh Aristosteles sebagai suatu bentuk pemerinta-han, yaitu
pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang
banyak (rakyat). Abraham Lincoln dalam pidatonya Gettysburg mengatakan
bahwa demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan “dari rakyat oleh
rakyat untuk rakyat”.
Terdapat 10 poin prinsip demokrasi yang menurut Pancasila dan UUD
1945, yaitu :
1. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa.
2. Demokrasi dengan kecerdasan
3. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat
4. Demokrasi dengan rule of law
5. Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara
6. Demokrasi dengan hak asasi manusia
7. Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka
8. Demokrasi dengan otonomi daerah
9. Demokrasi dengan kemakmuran
10. Demokrasi yang berkeadilan sosial
Perilaku budaya demokrasi yang perlu di kembangkan dalam kehidupan
sehari-hari ada hal-hal berikut :
1. Menjunjung tinggi persamaan
2. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
3. Membudayakan sikap yang adil
4. Membijaksanakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan
5. Mengutamakan persatuan dan kesatuan nasional

13
3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan
kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis untuk perbaikan makalah
selanjutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://sakauhendro.wordpress.com/demokrasi-dan-politik/pengertian-demokrasi/

https://nabillafaras.wordpress.com/2015/03/15/konsep-dasar-demokrasi-dan-sistem-
pemerintahan-negara/

http://www.eduspensa.com/2016/07/prinsip-demokrasi-pancasila.html

https://fredypurbayadhyfha.wordpress.com/2011/04/05/perilaku-budaya-demokrasi-
dalam-kehidupan-sehari-hari/A

15