Anda di halaman 1dari 8

PERPAJAKAN I

Pertemuan ke-2
Dasar dan Penggolongan Pajak

Deskripsi pertemuan:
Pertemuan ke-2 perkuliahan Perpajakan 1 membahas
1. Pengertian Hukum Pajak
2. Dasar Hukum Pemungutan Pajak di Indonesia
3. Jenis dan Penggolongan Pajak

Kemampuan akhir:
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa mampu menyebutkan dasar dan
penggolongan pajak.

Bahasan
Pada saat ini terdapat kesulitan dalam menggolongkan perpajakan.
Meskipun dari masing – masing golongan pajak tersebut terdapat dasar hukumnya
sendiri, tetapi saat kita mempelajari perpajakan lebih lanjut, kita akan menemukan
masalah – masalah dari masing – masing golongan pajak yang ada. Setiap golongan
pajak yang ada mempunyai dasar hukum yang berbeda dan mempunyai dampak
yang berbeda pula.
Salah satu unsur yang paling penting dalam suatu perpajakan adalah
"Hukum", untuk dapat mempelajari hal-hal yang menyangkut legalitas,peraturan
dan ketentuan dasar hukum dan implikasi hukum baik yang menyangkut pemerintah
dan aparaturnya, maupun pihak pembayar pajak, yang terdiri wajib pajak badan
maupun wajib pajak pribadi
Melalui hukum juga dapat mengatur hak dan kewajiban (pemungut pajak)
maupun wajib pajak, prosedur pemenuhan kewajiban perpajakan dan prosedur
pengajuan hak-hak wajib pajak,saat timbul dan hapusnya hutang pajak termasuk
kedaluwarsa,sanksi-sanksi administrasi (bunga,denda,kenaikan)dan sanksi pidana
(pelanggaran,kejahatan )di Indonesia.
Pajak juga merupakan disiplin ilmu yang dinamis, yang bisa berubah setiap
saat disesuaikan dengan perubahan yang dilakukan oleh pihak – pihak yang
berwenang untuk mencapai tujuan sosial yang baik. Disiplin ilmu perpajakan ini
merupakan perpaduan yang kompleks, maka dari itu harus terlebih dahulu
membangun fondasi yang kuat tentang dasar – dasar perpajakan dan prinsip –
prinsip yang akan diterapkan dalam perpajakan.

A. PENGERTIAN HUKUM PAJAK


Suatu kumpulan peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah
sebagai pemungut pajak dengan rakyat sebagai pembayar pajak. Dengan lain
perkataan hukum pajak menerangkan: siapa – siapa wajib pajak (subjek) dan apa
kewajiban – kewajiban mereka terhadap pemerintah, hak – hak pemerintah, objek –
objek apa yang dikenakan pajak, cara penagihan, cara pengajuan keberatan –
keberatan dan sebagainya.
Santoso Brotodihardjo menyatakan bahwa hukum pajak juga disebut hukum
fiskal adalah keseluruhan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah
untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada rakyat
melalui kas Negara.
Dengan demikian, hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik yang
mengatur hubungan-hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau badan-
badan (hukum) yang berkewajiban membayar pajak (selanjutnya sering disebut
wajib pajak).
Dalam pengaturan dan sistematikanya peraturan – peraturan di bidang
perpajakan dipisahkan antara kelompok hukum pajak materiil dan hukum pajak
formil.
1) Hukum Pajak Materiil
Yang memuat norma – norma yang menerangkan keadaan – keadaan,
perbuatan – perbuatan dan peristiwa – peristiwa hukum yang dikenakan pajak.
Umumnya hukum pajak materiil mempermasalahkan subjek, objek, tarif dan dasar
pengenaan pajak.
2) Hukum Pajak Formil
Yang memuat norma – norma atau ketentuan – ketentuan yang berisi
bagaimana melaksanakan hukum pajak materiil tersebut. Umumnya hukum pajak
formil mengatur tentang hak dan kewajiban, prosedur dan sanksi.

B. DASAR HUKUM PEMUNGUTAN PAJAK DI INDONESIA


Negara Indonesia telah menempatkan landasan pemungutan pajaknya dalam
pasal 23 ayat (2) Undang – undang Dasar 1945, yang berbunyi :
“Segala pajak untuk keperluan Negara berdasarkan Undang – undang”
Penjelasannya :
Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana didapatnya belanja
buat hidup, harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri dengan perantaraan dewan
perwakilannya. Rakyat menentukan nasibnya sendiri, karena itu juga cara hidupnya.
Oleh karena penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya
sendiri, maka segala tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat, seperti
pajak dan lain – lainnya, harus ditetapkan dengan undang – undang dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
“No Taxation without representation” dan “ Taxation without
representation is robbery” merupakan ungkapan – ungkapan yang sangat popular
berkenaan dengan pemungutan pajak, yang mencerminkan betapa eratnya kaitan
antara rasa terwakili (representation) dan pengorbanan yang diberikan (taxation),
sehingga apabila terjadi pungutan pajak tanpa mendapat persetujuan yang
mewakili, maka hal ini disamakan dengan perampokan.
Untuk setiap Undang – undang diterbitkan pula Peraturan Pemerintah /
Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan / Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak yang menginterpretasikan dan memperjelas lebih lanjut
ketentuan – ketentuan yang terdapat dalam Undang – undang Pajak tersebut dan
dalam hal tertentu dikeluarkan pula petunjuk pelaksanaannya (juklak).

C. JENIS DAN PENGGOLONGAN PAJAK


Pajak dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu:
1) Menurut Sifatnya
a) Pajak Subjektif, yaitu pajak yang erat kaitannya atau hubungannya
dengan subjek pajak atau yang dikenakan pajak dan besarnya
dipengaruhi oleh keadaan Wajib Pajak. Pajak ini disebut langsung
(langsung dikenakan pada subjeknya). Dimulai dengan menetapkan
orangnya, baru kemudian dicari syarat – syarat objektifnya.
b) Pajak Objektif, yaitu pajak yang erat hubungannya dengan objek pajak,
yang selain dari pada benda dapat pula berupa keadaan, perbuatan
atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar.
Besarnya tidak ditentukan oleh keadaan Wajib Pajak. Pajak ini disebut
pajak tidak langsung karena tidak langsung pada subjeknya. Dimulai
dengan objeknya, seperti keadaan, peristiwa, perbuatan dll., baru
kemudian dicari orangnya yang harus membayar pajaknya, yaitu
subjeknya.
2) Menurut Pembebannya
a) Pajak Langsung, yaitu pajak yang langsung dibayar atau dipikul oleh
wajib pajak yang bersangkutan dan pajak ini langsung dipungut
pemerintah dari wajib pajak, tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain
serta dipungut secara berkala. Contoh : Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB) , Pajak Penerangan Jalan, Pajak Kendaraan
Bermotor,
b) Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang dipungut kalau ada suatu
peristiwa atau perbuatan tertentu, seperti penggerakan barang tidak
bergerak, pembuatan akte, dan lain – lain dan pembayar pajak dapat
melimpahkan beban pajaknya kepada pihak lain serta pajak ini tidak
mempergunakan surat ketetapan pajak. Contoh : PPN dan PPnBM, Bea
Materai.

3) Menurut Kewenangannya
a) Pajak Pusat, yaitu pajak yang wewenang pemungutannya atau dikelola
oleh Pemerintah Pusat dan hasilnya dipergunakan untuk membiayai
pengeluaran rutin Negara dan pembangunan (APBN). Contoh : PPh, PPN,
PPnBM, Bea Materai.
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan kepada orang
pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
dalam suatu Tahun Pajak. Yang dimaksud dengan penghasilan adlah
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang berasal baik dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat digunakan untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan dengan nama dan dalam
bentuk apapun. Dengan demikian maka penghasilan itu dapat berupa
keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain sebagainya.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas
konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah
Pabean. Orang Pribadi, perusahaan, maupun pemerintah yang
mengkonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikenakan PPN.
Pada dasarnya, setiap barang dan jasa adalah Barang Kena Pajak atau
Jasa Kena Pajak, kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang PPN. Tarif
PPN adalah tunggal yaitu sebesar 10%. Dalam hal ekspor, tarif PPN
adalah 0%. Yang dimaksud Dengan Pabean adalah wilayah Republik
Indonesia yang meliputi wilayah darat, peraian, dan ruang udara
diatasnya.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM). Selain dikenakan PPN,
atas barang-barang kena pajak tertentu yang tergolong mewah, juga
dikenakan PPn BM. Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak yang
tergolong mewah adalah :
a. Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok;
atau
b. Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau
c. Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat
berpenghasilan tinggi; atau
d. Barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau
e. Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral
masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat.

Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen, seperti


surat perjanjian, akta notaris, serta kwitansi pembayaran, surat
berharga, dan efek, yang memuat jumlah uang atau nominal diatas
jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.

b) Pajak Daerah, yaitu pajak yang wewenang pemungutannya atau


dikelola oleh Pemerintah Daerah (baik Pemerintah Propinsi maupun
Pemerintah Kabupaten/Kota) dan hasilnya dipergunakan untuk
membiayai pengeluaran rutin dan pembangunan daerah (APBD).
Contoh : PBB, BPHTB, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Reklame, Pajak
Kendaraan Bermotor.

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dikenakan atas
kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB
merupakan Pajak Pusat namun demikian hampir seluruh realisasi
penerimaan PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi
maupun Kabupaten/Kota.

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak
yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.
Seperti halnya PBB, walaupun BPHTB dikelola oleh Pemerintah Pusat
namun realisasi penerimaan BPHTB seluruhnya diserahkan kepada
Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota sesuai
dengan ketentuan.
Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air; Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air; Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Bemotor; Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan; Pajak Hotel; Pajak Restoran; Pajak Hiburan;
Pajak Reklame; Pajak Penerangan Jalan; Pajak Pengambilan Bahan
Galian Golongan C; Pajak Parkir.

Dari penjelasan materi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa


terdapat dasar hukum dalam pemungutan pajak. Termasuk pemungutan pajak di
Indonesia pun ada dasar hukumnya. Setiap Wajib Pajak membayar pajak kepada
Pemerintah sesuai dasar hukum yang digunakan. Setiap Wajib Pajak juga di kenakan
pajak sesuai dengan Jenis dan golongan yang berbeda.

Referensi

Kementerian Keuangan. 2011. Susunan dalam Satu Naskah Undang undang


Perpajakan. Jakarta.

Sari, Diana. 2013. KonsepPerpajakanDasar. Bandung: RefikaAditama

http://Pajak.go.id