Anda di halaman 1dari 11

PERPAJAKAN I

Pertemuan ke-3
Inti Persoalan Pajak dan Sistem Pemungutan Pajak

Deskripsi pertemuan:
Pertemuan ke-2 perkuliahan Perpajakan 1 membahas
1. Objek pajak
2. Subjek Pajak
3. Dasar pengenaan pajak
4. Tarif pajak
5. Sistem pemungutan pajak di Indonesia
6. Sistem Pemungutan Pajak (Self Assessment System, Official Assessment
System, With Holding)
Kemampuan akhir:
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa mampu menyebutkan Inti
Persoalan Pajak dan Sistem Pemungutan Pajak.

Bahasan
Inti persoalan pajak adalah siapa yang harus membayar pajak dan berapa
besarnya pajak yang terhutang. Masalah siapa yang harus membayar pajak
adalah persoalan subjek pajak, yang terdiri dari perseorangan maupun badan,
sedangkan berapa besar pajak tterhutan berhubungan dengan masalah objek
pajak, tarif pajak dan dasar pengenaan pajak. Apabila subjek pajak ada objek
pajaknya, maka dia disebut wajib pajak dan apabila tarif dikalikan dengan dasar
pengenaan pajak, maka akan diperoleh pajak terutang.
Inti persoalan pajak ini sangat jelas memperlihatkan bahwa pengetahuan
dasar yang melandasi secara mutlak seperti subjek pajak, objek pajak tarif pajak
dan dasar pengenaan pajak dari masing-masing jenis pajak, harus diketahui
guna penghitungan pajak terutang.
Persoalan mengenai pajak terutang adalah persoalan sistem pemungutan
pajak yang bersangkutan dengan siapa yang menetapkan pajak dan apa yang
seharusnya dilakukan oleh wajib pajak itu sendiri yang bisa dikenal dengan
sistem perpajakan.

1. Subjek Pajak Dalam Negeri


a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia,
b. Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan atau orang pribadi yang berada di Indonesia dan berniat
untuk bertempat tinggal di Indonesia,
c. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, dan
d. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak.

2. Subjek Pajak Luar Negeri


a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap
di Indonesia,
b. badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha
tetap di Indonesia,
c. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan yang
dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap
di Indonesia, dan
d. badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan
dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha
tetap di Indonesia.

Yang tidak termasuk subjek pajak antara lain:


1. Badan perwakilan negara asing
2. Organisasi Internasional
3. Unit dari badan pemerintah
4. Pejabat-pejabat BPNA
5. Pejabat-pejabat orang internasional

Besarnya pajak terutang berhubungan dengan masalah objek pajak, tarif


pajak, dan dasar pengenaan pajak. Apabila subjek pajak dikenai objek pajak, maka
subjek pajak disebut sebagai wajib pajak (taxpayer) dan apabila tarif dikalikan
dengan dasar pengenaan pajak, maka akan diperoleh pajak terutang.

Dasar Pengenaan Pajak


Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai berupa uang yang dijadikan dasar untuk
menghitung Pajak yang terutang, dapat berupa Harga Jual, Penggantian, Nilai
Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan.

Tarif Pajak
Tarif Pajak adalah dasar pengenaan pajak terhadap objek pajak yang
menjadi tanggungannya. Tarif pajak biasanya berupa persentase (%). Dasar
Pengenaan Pajak adalah Nilai berupa uang yang dijadikan dasar untuk
menghitung pajak yang terutang.
Jenis-jenis Tarif Pajak Tarif pajak yang besarnya harus dicantumkan
dalam undang-undang pajak merupakan salah satu unsur yang menentukan rasa
keadilan dalam pemungutan pajak. Penentuan besarnya suatu tarif adalah hal
yang krusial dimana kesalahan persepsi dalam penentuannya dapat merugikan
berbagai pihak termasuk Negara. Dalam pemungutan pajak, terdapat beberapa
jenis tarif pajak yang dikenal, antara lain:
1. Tarif Progresif (a progressive tax rate)
Tarif progresif adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya
semakin besar bila jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak juga
semakin besar.
2. Tarif Proporsional (a proportional tax rate)
Tarif degresif merupakan kebalikan dari tarif progresif. Tarif degresif
adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin kecil bila
jumlah yang dijadikan dasar pengenaan pajak semakin besar. Namun,
tidak berarti jika persentasenya semakin kecil kemudian jumlah
pajak yang terutang juga menjadi kecil. Akan tetapi malah bisa
menjadi lebih besar karena jumlah yang dijadikan dasar pengenaan
pajaknya juga semakin besar.
3. Tarif Degresif (a degressive tax rate)
Tarif proporsional tidak lagi dipengaruhi oleh naik turunnya dasar
objek yang dikenakan pajak, karena tarifnya telah berlaku secara
sebanding. Tarif proporsional adalah tarif pemungutan pajak yang
menggunakan persentase tetap tanpa memerhatikan jumlah yang
dijadikan dasar pengenaan pajak. Semakin besar jumlah yang
dijadikan dasar pengenaan pajak, akan semakin besar pula jumlah
pajak terutang (yang harus dibayar). Tarif ini diterapkan dalam UU
No. 18 Tahun 2000 (UU PPN dan PPnBM) yang menggunakan tarif
proporsional sebesar 10%.
4. Tarif Tetap (a fixed tax rate)
Tarif tetap adalah tarif pemungutan pajak yang besar nominalnya
tetap tanpa memerhatikan jumlah yang dijadikan dasar pengenaan
pajak. Tarif ini diterapkan dalam UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea
Meterai (BM). Dengan adanya PP No. 24 Tahun 2000, tarif yang
digunakan adalah Bea Meterai dengan nilai nominal sebesar
Rp3.000,00 dan Rp6.000,00.

Sistem Perpajakan
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-
undang —sehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa
secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum
untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai
kesejahteraan umum.
Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya
dari sektor privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran
bahwa adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama,
berkurangnya kemampuan individu dalam menguasai sumber daya untuk
kepentingan penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan
keuangan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan
kebutuhan masyarakat.
Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro
merupakan suatu perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang
menyebabkan timbulnya kewajiban warga negara untuk menyetorkan sejumlah
penghasilan tertentu kepada negara, negara mempunyai kekuatan untuk
memaksa dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk penyelenggaraan
pemerintahan.
Dalam perpajakan, negara bertugas sebagai pemungut pajak, sedangkan
rakyat bertugas sebagai wajib pajak. Dalam pemungutan pajak diberlakukan
suatu sistem yang mengatur tata cara pemungutan dan penghitungan pajak, tata
cara tersebut sering disebut sebagai suatu sistem perpajakan. Sistem perpajakan
dari masa ke masa selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut berdasar
pada perkembangan masyarakat dan negara baik dalam bidang kenegaraan
maupun sosial ekonomi.
Sejak perubahan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
pada tahun 1983 yang merupakan awal dimulainya reformasi perpajakan
Indonesia menggantikan peraturan perpajakan yang dibuat oleh kolonial
Belanda, Indonesia telah mengganti sistem pemungutan pajaknya pula dari
sistem official-assessment menjadi sistem self-assessment yang masih
diterapkan sampai dengan sekarang. Namun pada umumnya, sistem perpajakan
terdapat 3 jenis. Self-assesment system, official assesment system dan
withholding tax system.

2.2 Self-Assesment System


Sistem Self-assessment merupakan sistem pemungutan pajak yang
memberikan kepercayaan kepada Wajib Pajak (WP) untuk
menghitung/memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri jumlah
pajak yang seharusnya terutang berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Self assessment system menyebabkan wajib pajak mendapat beban berat
karena semua aktivitas pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan oleh wajib
pajak sendiri. Wajib pajak harus melaporkan semua informasi yang relevan
dalam SPT, menghitung dasar pengenaan pajak, menghitung jumlah pajak
terutang, menyetorkan jumlah pajak terutang. Namun pada kenyataannya
banyak wajib pajak yang melakukan tindakan yang melanggar peraturan
perundang-undangan perpajakan, sehingga wajib akan mendapatkan hukuman
ataupun sanksi perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Sistem ini juga merupakan sistem dimana penetapan besarnya jumlah
pajak yang seharusnya terutang menjadi tanggung jawab Wajib Pajak itu sendiri,
sehingga segala resiko pajak yang timbul menjadi tanggung jawab Wajib Pajak
itu sendiri pula. Dimana disini terlihat tidak adanya tanggung jawab dari Fiskus
kepada Wajib Pajak, yang tanpa disadari Wajib Pajak bahwa hal ini akan menjadi
beban berat dalam melaksanakan kewajban perpajakannya. Fiskus dalam sistem
self-assessment hanya bertugas mengawasi pelaksanaannya saja yaitu dengan
melakukan pemeriksaan atas kepatuhan Wajib Pajak terhadap peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku. System self assessment yang
kini dianut Indonesia memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang besar
kepada Wajib Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Dalam sistem ini terdapat pemberian kepercayaan sepenuhnya kepada
Wajib Pajak untuk melakukan self assessment memberikan konsekuensi yang
berat bagi Wajib Pajak, artinya jika Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban-
kewajiban Perpajakan yang dipikul kepadanya, sanksi yang dijatuhkan akan
lebih berat. Oleh karena itu sistem self assessment mewajibkan wajib pajak
untuk lebih mendalami peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku agar Wajib Pajak dapat melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan
baik.
Sistem ini juga dapat memberikan biaya tambahan (dalam arti luas) bagi
Wajib Pajak karena Wajib Pajak akan mengorbankan lebih banyak waktu dan
usaha serta biaya untuk membayar jasa konsultan pajak. Selain itu self
assessment menunjukkan proporsi yang lebih kecil dari yang telah ditetapkan
sebelumnya, sehingga sesuai dengan kenyataan yang ada, jumlah pajak yang
dianggarkan akan menurun pula.
Di lain pihak system ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat
meningkatkan produktifitas dan murah. Pemerintah tidak lagi dibebankan
kewajiban administrasi menghitung jumlah pajak terutang Wajib Pajak dan
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk memberitahukan (sekaligus
memerintahkan pembayaran) jumlah tersebut kepada Wajib Pajak, sehingga
waktu, tenaga dan biaya sehubungan dengan hal tersebut dapat dihemat atau
dialihkan untuk melakukan aktivitas pemerintahan lainnya. Selain itu sistem self
assessment akan mendorong Wajib Pajak untuk memahami dengan baik atas
system perpajakan yang berlaku terhadapnya.
Tujuan utama dari self-assesment sistem ini adalah untuk menumbuhkan
kesadaran masyarakat dalam membayar pajak.

2.3 Official-Assesment System


Official assesment merupakan sistem dan mekanisme pemungutan pajak
dimana Direktorat Jendral Pajak (fiskus) selaku badan yang diberi wewenang
untuk memungut pajak berpartisipasi dalam penghitungan pajak seseorang atau
suatu badan. Jadi besarnya pajak yang terutang yang harus dibayar masyarakat
dihitung oleh kantor pajak. Kantor Pajak bertugas menghitung jumlah pajak
yang dibebankan dan harus dibayar oleh wajib pajak. Dalam mekanisme seperti
ini kelebihannya adalah wajib pajak tidak perlu repot untuk menghitung berapa
jumlah pajak yang harus ia bayar, karena jumlah pajak yang harus ia bayar
sudah tercantum dan sudah dihitung oleh petugas dari Kantor Pajak. Namun,
mekanisme pemungutan pajak seperti ini rentan dengan adanya kecurangan
dari pihak penghitung pajak (fiscus). Terkadang apabila pajak yang harus
dibayarkan oleh seorang wajib pajak terhitung besar, maka wajib pajak tersebut
akan berfikir bahwa ada kesalahan/kecurangan dalam penghitungan pajak.
Sistem official assessment cocok diterapkan di negara yang sudah
memiliki database yang kuat dan akurat. Sehingga penghimpunan pajak akan
maksimal. Sistem official assessment diterapkan (dianut) banyak negara di
dunia, di antaranya Singapura. Pengadilan pajak nyaris tak diperlukan di negeri
yang mengadopsi model official assessment.
Sebelum tahun 1983, Indonesia menganut sistem perpajakan official
assesment. Namun dikarenakan sistem official assesment penetapan besarnya
jumlah pajak Wajib Pajak menjadi tanggung jawab Fiskus, sehingga segala resiko
pajak yang akan timbul menjadi tanggung jawab Fiskus, misalnya terlambat
membayar atau melapor dikarenakan keterlambatan Fiskus menetapkan
besarnya jumlah pajak terutang Wajib Pajak yang harus dibayar. Keterlambatan
ini bisa saja dikarenakan terbatasnya petugas pajak untuk menghitung jumlah
pajak yang harus dibayar Wajib Pajak, yang nota bene tidak sedikit jumlahnya.
Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk mengubah sistem pemungutan
pajaknya menjadi sistem self-assessment dimana penetapan besarnya jumlah
pajak yang seharusnya terutang menjadi tanggung jawab Wajib Pajak itu sendiri,
sehingga segala resiko pajak yang timbul menjadi tanggung jawab Wajib Pajak
itu sendiri pula.

2.4 Withholding Tax System


Sistem withholding tax merupakan sistem perpajakan dimana
pihak ketiga baik Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan Dalam
Negeri diberi kepercayaan oleh peraturan perundang-undangan untuk
melaksanakan kewajiban memotong atau memungut pajak atas penghasilan
yang dibayarkan kepada penerimaan penghasilan. Pihak ketiga tersebut
memiliki peran aktif dalam sistem ini, dan fiskus berperan dalam pemeriksaan
pajak, penagihan, maupun tindakan penyitaan apabila ada indikasi pelanggran
perpajakan. Sistem pajak ini menekankan kepada pemberian kepercayaan pada
pihak ketiga diluar fiskus yaitu, pemberi penghasilan melakukan pemotongan
atau memungut pajak atas penghasilan yang diberikan dengan suatu persentase
tertentu dari jumlah pembayaran atau transaksi yang dilakukannya dengan
penerima penghasilan. Jumlah pajak yang dipotong atau dipungut oleh pihak
ketiga tersebut dibayarkan kepada negara melalui penyetoran pajak seperti
pada aktivitas yang dilakukan di self assessment dalam jangka waktu tertentu
yang telah ditetapkan Undang-undang. Nantinya jumlah yang disetorkan ke kas
negara itu akan dapat diperhitungkan kembali oleh Wajib Pajak yang
penghasilannya dipotong atau dipungut dengan melampirkan bukti pemotongan
atau pemungutan yang diberikan oleh pihak ketiga saat transaksi penerimaan
penghasilan.
Withholding Tax System dapat memperlancar masuknya dana ke kas
Negara tanpa intervensi fiskus dan juga dapat menghemat biaya administrasi
pemungutan (administrative cost), seperti pada self assessment, wajib pajak
yang dipotong atau dipungut pajaknya secara tidak terasa telah memenuhi
kewajiban perpajakannya.
Adapun manfaat dari withholding tax adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kepatuhan secara sukarela karena pembayar pajak secara
tidak langsung membyara pajaknya.
2. Meminimalisrkan pengurangan biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh
pemerintah karena pemungutan pajak yang secara otomatis.
3. Meningkatkan penerimaan pajak
4. Mengoptimalisasi perluasan objek pajak
5. Membantu menerapkan prinsip dari convinience of tax system.
Withholding Tax System diterapkan karena pemerintah menganggap cara ini
adalah cara termudah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak, karena dalam
sistem ini Wajib Pajak diwajibkan untuk memungut dan mengadministrasikan
pajaknya pihak ketiga (Wajib Pajak lain). Dengan cara ini, pemerintah akan
dengan mudah mengumpulkan pajak tanpa memerlukan upaya dan biaya yang
besar. Walaupun akan sedikit kerumitan pada penghitungan, hal ini
disederhanakan dengan penerapan tarif yang sederhana dengan menggunakan
prosentase tertentu saja. Selain itu penggunaan withholding tax system dalam
pemotongan pajak penghasilan telah menguntungkan dari segi efisiensi waktu,
akuntabilitas data, biaya, serta kinerja terhadap diri wajib pajak (WP) dan fiskus.
Berdasarkan prinsip kemandirian maka penerimaan negara dari sisi pajak
adalah hal yang paling efektif serta memberikan kepastian yang penuh dalam
menyokong anggaran negara. Oleh karena itu, peran serta rakyat dalam
perpajakan sangat penting akan hal ini. Dan apabila dihubungkan
dengan penerimaan pajak, optimalisasi penerimaan pajak merupakan
proses atau cara yang paling mungkin dilakukan pemerintah untuk
meningkatkan dan mengamankan penerimaan negara yang atau menjadi lebih
baik. Dan demi kelancaran serta suksesnya penerimaan pjak yang tinggi maka
pemerintah perlu menerapkan kebijakan-kebijakan perpajakan. Dengan adanya
kebijakan pemerintah melalui melalui sistem pemungutan pajak oleh pihak
ketiga (withholding tax system) diharapkan penerimaan pajak akan lebih
optimal.

Referensi
Kementerian Keuangan. 2011. Susunan dalam Satu Naskah Undang undang
Perpajakan. Jakarta.
Sari, Diana. 2013. KonsepPerpajakanDasar. Bandung: RefikaAditama
http://Pajak.go.id