Anda di halaman 1dari 20

KONSEP, TEORI DAN ANALISIS GENDER

MAKALAH
SOSIOLOGI PEDESAAN

Disusun oleh :

Nama : Muhamad Rofik Udin

NIM : 155080500111016

Kelas : T01

No. Absen : 42

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah

memberikan karunia, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah untuk

memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pedesaan dapat terselesaikan dengan

baik. Penulisan dan penyusunan makalah ini merupakan serangkaian aktivitas

terpadu dan komprehensif dalam mencapai sasaran pembelajaran agar tercapai

secara maksimal dan optimal.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan

kelemahannya, baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh

keterbatasan pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh sebab itu, penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.

Dalam kesempatan ini kami menyampaikan terimakasih yang sedalam-

dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan

makalah ini

Akhirnya, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan

manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

Malang, 18 Desember 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
1. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
2. PEMBAHASAN ............................................................................................ 3
2.1 Pengertian Konsep Gender........................................................................... 3
2.2 Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin............................................. 6
2.3 Sejarah Pergerakan Feminisme .................................................................... 8
2.4 Konsep Kesetaraan dan Keadilan Gender .................................................. 10
2.5 Teori Gender atau Aliran Feminisme .......................................................... 12
2.6 Pengertian dan Teknik Analisis Gender ...................................................... 12
2.7 Pembahasan Umum ................................................................................... 14
3. PENUTUP .................................................................................................. 16
3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 16
3.2 Saran .......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 17

ii
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Isu tentang gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok

bahasan dalam wacana perdebatan mengenai perubahan sosial dan juga

menjadi topik utama dalam perbincangan mengenai pembangunan dan

perubahan sosial. Bahkan, beberapa waktu terakhir ini, berbagai tulisan, baik di

media massa maupun buku-buku, seminar, diskusi dan sebagainya banyak

membahas tentang protes dan gugatan yang terkait dengan ketidakadilan dan

diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan dan diskriminasi itu terjadi

hampir di semua bidang, mulai dari tingkat internasional, negara, keagamaan,

sosial, budaya, ekonomi, bahkan sampai tingkatan rumah tangga.

Gender dipersoalkan karena secara sosial telah melahirkan perbedaan

peran, tanggung jawab, hak dan fungsi serta ruang aktivitas laki-laki dan

perempuan dalam masyarakat. Perbedaan tersebut akhirnya membuat

masyarakat cenderung diskriminatif dan pilih-pilih perlakuan akan akses,

partisipasi, serta kontrol dalam hasil pembangunan laki-laki dan perempuan.

Dari penyiapan pakaian pun kita sudah dibedakan sejak kita masih bayi. Juga

dalam hal mainan, anak laki-laki misalnya: dia akan diberi mainan mobil-mobilan,

kapal-kapalan, pistol-pistolan, bola dan lain sebagainya. Dan anak perempuan

diberi mainan boneka, alat memasak, dan sebagainya.

Ketika menginjak usia remaja perlakuan diskriminatif lebih ditekankan

pada penampilan fisik, aksesoris, dan aktivitas. Dalam pilihan warna dan motif

baju juga ada semacam diskriminasi. Warna pink dan motif bunga-bunga

misalnya hanya “halal” dipakai oleh remaja putri. Aspek behavioral lebih banyak

menjadi sorotan diskriminasi. Seorang laki-laki lazimnya harus mahir dalam olah

1
raga, keterampilan teknik, elektronika, dan sebagainya. Sebaliknya perempuan

harus bisa memasak, menjahit, dan mengetik misalnya. Bahkan dalam olahraga

pun tampak hal-hal yang mengalami diskriminasi tersendiri.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan gender?

2. Bagaimana teori tentang gender?

3. Bagaimana cara untuk menganalisis gender?

4. Bagaimana kondisi masyarakat terkait cara pandang mereka tentang

gender?

2
2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konsep Gender

Istilah gender diperkenalkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan

perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan

dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan sejak

kecil. Pembedaan ini sangat penting, karena selama ini sering sekali mencampur

adukan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati dan yang bersifat bukan kodrati

(gender). Perbedaan peran gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan

kembali tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada

manusia perempuan dan laki-laki untuk membangun gambaran relasi gender

yang dinamis dan tepat serta cocok dengan kenyataan yang ada dalam

masyarakat.

Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan

peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakatnya. Secara umum adanya

gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan

ruang tempat dimana manusia beraktivitas. Sedemikian rupanya perbedaan

gender ini melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-

akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana

permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Kata “gender‟ dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status

dan tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan

(konstruksi) sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu

generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian gender adalah hasil

kesepakatan antar manusia yang tidak bersifat kodrati. Oleh karenanya gender

bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu

3
berikutnya. Gender tidak bersifat kodrati, dapat berubah dan dapat dipertukarkan

pada manusia satu ke manusia lainnya tergantung waktu dan budaya setempat.

Definisi gender menurut berbagai pustaka adalah sebagai berikut:

1. “Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran,

fungsi, hak, tanggung jawab, dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai

sosial, budaya dan adat istiadat dari kelompok masyarakat yang dapat

berubah menurut waktu serta kondisi setempat. Tanggung jawab dan

perilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat dari

kelompok masyarakat yang dapat berubah menurut waktu serta kondisi

setempat.

2. “Gender refers to the economic, social, political, and cultural attributes

and opportunities associated with being female and male. The social

definitions of what it means to be female or male vary among cultures and

changes over time.” (gender merujuk pada atribut ekonomi, sosial, politik

dan budaya serta kesempatan yang dikaitkan dengan menjadi seorang

perempuan dan laki-laki. Definisi sosial tentang bagaimana artinya

menjadi perempuan dan laki-laki beragam menurut budaya dan berubah

sepanjang jaman).

3. “Gender should be conceptualized as a set of relations, existing in social

institutions and reproduced in interpersonal interaction“ (gender diartikan

sebagai suatu set hubungan yang nyata di institusi sosial dan dihasilkan

kembali dari interaksi antar personal).

4. “Gender is not a property of individuals but an ongoing interaction

between actors and structures with tremendous variation across men‟s

and women‟s lives “individually over the life course and structurally in the

historical context of race and class”(Gender bukan merupakan property

individual namun merupakan interaksi yang sedang berlangsung antar

4
aktor dan struktur dengan variasi yang sangat besar antara kehidupan

laki-laki dan perempuan „secara individual‟ sepanjang siklus hidupnya

dan secara struktural dalam sejarah ras dan kelas).

5. “At the ideological level, gender is performatively produced” (Pada tingkat

ideologi, gender dihasilkan).

6. “Gender is not a noun- a “being‟–but a ”doing‟. Gender is created and

reinforced discursively, through talk and behavior, where individuals claim

a gender identity and reveal it to others” (Gender bukan sebagai suatu

kata benda–„menjadi seseorang‟, namun suatu „perlakuan‟. Gender

diciptakan dan diperkuat melalui diskusi dan perilaku, dimana individu

menyatakan suatu identitas gender dan mengumumkan pada yang

lainnya).

7. “Gender theory is a social constructionist perspective that simultaneously

examines the ideological and the material levels of analysis” Teori gender

merupakan suatu pandangan tentang konstruksi sosial yang sekaligus

mengetahui ideologi dan tingkatan analisis material).

Dengan demikian gender menyangkut aturan sosial yang berkaitan

dengan jenis kelamin manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan biologis

dalam hal alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan memang membawa

konsekuensi fungsi reproduksi yang berbeda (perempuan mengalami

menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui; laki-laki membuahi dengan

spermatozoa). Jenis kelamin biologis inilah merupakan ciptaan Tuhan, bersifat

kodrat, tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan dan berlaku sepanjang

zaman. Namun demikian, kebudayaan yang dimotori oleh budaya patriarki

menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi indikator kepantasan dalam

berperilaku yang akhirnya berujung pada pembatasan hak, akses, partisipasi,

kontrol dan menikmati manfaat dari sumberdaya dan informasi. Akhirnya tuntutan

5
peran, tugas, kedudukan dan kewajiban yang pantas dilakukan oleh laki-laki atau

perempuan dan yang tidak pantas dilakukan oleh laki-laki atau perempuan

sangat bervariasi dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya.

Ada sebagian masyarakat yang sangat kaku membatasi peran yang

pantas dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, misalnya tabu bagi

seorang laki-laki masuk ke dapur atau mengendong anaknya di depan umum

dan tabu bagi seorang perempuan untuk sering keluar rumah untuk bekerja.

Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat yang fleksibel dalam

memperbolehkan laki-laki dan perempuan melakukan aktivitas sehari-hari,

misalnya perempuan diperbolehkan bekerja sebagai kuli bangunan sampai naik

ke atap rumah atau memanjat pohon kelapa, sedangkan laki-laki sebagian besar

menyabung ayam untuk berjudi.

2.2 Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin

Pengertian gender itu berbeda dengan pengertian jenis kelamin (sex).

Tabel berikut ini menyajikan perbedaan konsep gender dan jenis kelamin dan

perbedaan konsep kodrati dan bukan kodrati. Tabel 3.1. Perbedaan konsep jenis

kelamin (sex)/ kodrati dan gender/ bukan kodrat beserta contoh-contohnya.

Jenis Kelamin (Seks) Gender


Contoh kodrati Contoh Bukan Kodrati
Peran reproduksi kesehatan berlaku Peran sosial bergantung pada waktu
sepanjang masa dan keadaan.

Menyangkut perbedaan organ biologis Menyangkut perbedaan peran, fungsi,


laki-laki dan perempuan khususnya dan tanggung jawab laki-laki dan
pada bagian alat-alat reproduksi. perempuan sebagai hasil kesepakatan
Sebagai konsekuensi dari fungsi alat- atau hasil bentukan dari masyarakat.
alat reproduksi, maka perempuan Sebagai konsekuensi dari hasil
mempunyai fungsi reproduksi seperti kesepakatan masyarakat, maka
menstruasi, hamil, melahirkan dan pembagian peran laki-laki adalah
menyusui; sedangkan lakilaki mencari nafkah dan bekerja di sektor
mempunyai fungsi membuahi publik, sedangkan peran perempuan di
sektor domestik dan bertanggung

6
(spermatozoid). jawab masalah rumahtangga.

Peran reproduksi tidak dapat berubah; Peran sosial dapat berubah: Peran istri
sekali menjadi perempuan dan sebagai ibu rumahtangga dapat
mempunyai rahim, maka selamanya berubah menjadi pekerja/ pencari
akan menjadi perempuan; sebaliknya nafkah, disamping masih menjadi istri
sekali menjadi laki-laki, mempunyai juga.
penis, maka selamanya menjadi laki-
laki.

Konsep gender menjadi persoalan yang menimbulkan pro dan kontra baik

di kalangan masyarakat, akademisi, maupun pemerintahan sejak dahulu dan

bahkan sampai sekarang. Pada umumnya sebagian masyarakat merasa

terancam dan terusik pada saat mendengar kata ‟gender‟. Berdasarkan diskusi

dengan berbagai kalangan, keengganan masyarakat untuk menerima konsep

gender disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Konsep gender berasal dari negara-negara Barat, sehingga sebagian

masyarakat menganggap bahwa gender merupakan propaganda nilai-

nilai Barat yang sengaja disebarkan untuk merubah tatanan masyarakat

khususnya di Timur.

2. Konsep gender merupakan gerakan yang membahayakan karena dapat

memutarbalikkan ajaran agama dan budaya, karena konsep gender

berlawanan dengan kodrati manusia.

3. Konsep gender berasal dari adanya kemarahan dan kefrustrasian kaum

perempuan untuk menuntut haknya sehingga menyamai kedudukan laki-

laki. Hal ini dikarenakan kaum perempuan merasa dirampas haknya oleh

kaum laki-laki. Di Indonesia tidak ada masalah gender karena negara

sudah menjamin seluruh warga negara untuk mempunyai hak yang sama

sesuai dengan yang tercantum pada UUD 1945.

7
4. Adanya mind-set yang sangat kaku dan konservatif di sebagian

masyarakat, yaitu mind set tentang pembagian peran antara laki-laki dan

perempuan adalah sudah ditakdirkan dan tidak perlu untuk dirubah

(misalnya kodrati perempuan adalah mengasuh anak, kodrati laki-laki

mencari nafkah). Namun mind-set ini sepertinya masih terus berlaku

meskipun mengabaikan fakta bahwa semakin banyak perempuan

Indonesia menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri dan

mengambil alih tugas suami sebagai pencari nafkah utama.

2.3 Sejarah Pergerakan Feminisme

Gerakan feminisme merupakan gerakan konflik sosial yang dimotori oleh

para pelopor feminisme dengan tujuan mendobrak nilai-nilai lama (patriarkhi)

yang selalu dilindungi oleh kokohnya tradisi struktural fungsional. Gerakan

feminism modern di Barat dimulai pada Tahun 1960-an yaitu pada saat timbulnya

kesadaran perempuan secara kolektif sebagai golongan tertindas. Menurut

Skolnick: Some feminists denounced the family as a trap that turned women into

slaves (beberapa feminis menuduh keluarga sebagai perangkap yang membuat

para perempuan menjadi budak-budak). Gerakan feminisme yang berdasarkan

model konflik berkembang menjadi gerakan-gerakan feminisme liberal, radikal,

dan sosialis atau Marxisme (Anderson 1983).

Berdasarkan berbagai literatur dapat disimpulkan bahwa filsafat feminism

sangat tidak setuju dengan budaya patriarkhi. Budaya patriarki yang berawal dari

keluargalah yang menjadi penyebab adanya ketimpangan gender di tingkat

keluarga yang kemudian mengakibatkan ketimpangan gender di tingkat

masyarakat. Laki-laki yang sangat diberi hak istimewa oleh budaya patriarki

menjadi sentral dari kekuasaan di tingkat keluarga. Hal inilah yang menjadikan

ketidaksetaraan dan ketidakadilan bagi kaum perempuan dalam kepemilikian

8
properti, akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan akhirnya kurang

memberikan manfaat secara utuh bagi eksistensi perempuan. Penghapusan

sistem patriarki atau struktur vertikal adalah tujuan utama dari semua gerakan

feminisme, karena sistem ini yang dilegitimasi oleh model struktural-fungsionalis,

memberikan keuntungan laki-laki daripada perempuan. Kesetaraan gender tidak

akan pernah dicapai kalau sistem patriarkat ini masih terus berlaku. Oleh karena

itu, ciri khas dari gerakan feminisme adalah ingin menghilangkan institusi

keluarga, atau paling tidak mengadakan defungsionalisasi keluarga, atau

mengurangi peran institusi keluarga dalam kehidupan masyarakat (Megawangi

1999).

Untuk memahami konsep feminisme berikut diuraikan berdasarkan

sejarah berkembangnya gerakan feminisme yang mencakup dua gelombang:

1. Gerakan Gelombang Pertama lebih pada gerakan filsafat di Eropa yang

dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet

yang pada Tahun 1785, suatu perkumpulan masyarakat ilmiah untuk

perempuan pertama kali didirikan di Middelburg (Selatan Belanda).

Seorang aktivis sosialis utopis bernama Charles Fourier pada Tahun

1837 memunculkan istilah feminisme yang kemudian tersebar ke seluruh

Eropa dan Benua Amerika. Publikasi John Stuart Mill dari Amerika

dengan judul The Subjection of Women pada Tahun 1869 yang

melahirkan feminisme Gelombang Pertama.

2. Feminisme Gelombang Kedua dimulai pada Tahun 1960, dengan

terjadinya liberalisme gaya baru dengan diikutsertakannya perempuan

dalam hak suara di parlemen. Era Tahun 1960 merupakan era dengan

mulai ditandainya generasi “baby boom” (yaitu generasi yang lahir setelah

perang dunia ke-2) menginjak masa remaja akhir dan mulai masuk masa

9
dewasa awal. Pada masa inilah, masa bagi perempuan mendapatkan hak

pilih dan selanjutnya ikut dalam kancah politik kenegaraan.

2.4 Konsep Kesetaraan dan Keadilan Gender

1. Pengertian

a. Kesetaraan gender: Kondisi perempuan dan laki-laki menikmati status

yang setara dan memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkan secara

penuh hakhak asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang

kehidupan. Definisi dari USAID menyebutkan bahwa “Gender Equality

permits women and men equal enjoyment of human rights, socially valued

goods, opportunities, resources and the benefits from development

results. (kesetaraan gender memberi kesempatan baik pada perempuan

maupun lakilaki untuk secara setara/sama/sebanding menikmati hak-

haknya sebagai manusia, secara sosial mempunyai benda-benda,

kesempatan, sumberdaya dan menikmati manfaat dari hasil

pembangunan).

b. Keadilan gender: Suatu kondisi adil untuk perempuan dan laki-laki

melalui proses budaya dan kebijakan yang menghilangkan hambatan-

hambatan berperan bagi perempuan dan laki-laki. Definisi dari USAID

menyebutkan bahwa “Gender Equity is the process of being fair to women

and men. To ensure fairness, measures must be available to compensate

for historical and social disadvantages that prevent women and men from

operating on a level playing field. Gender equity strategies are used to

eventually gain gender equality. Equity is the means; equality is the result.

(Keadilan gender merupakan suatu proses untuk menjadi fair baik pada

perempuan maupun lakilaki. Untuk memastikan adanya fair, harus

tersedia suatu ukuran untuk mengompensasi kerugian secara histori

10
maupun sosial yang mencegah perempuan dan laki-laki dari berlakunya

suatu tahapan permainan. Strategi keadilan gender pada akhirnya

digunakan untuk meningkatkan kesetaraan gender. Keadilan merupakan

cara, kesetaraan adalah hasilnya).

2. Wujud Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam keluarga

a. Akses diartikan sebagai “the capacity to use the resources necessary to

be a fully active and productive (socially, economically and politically)

participant in society, including access to resources, services, labor and

employment, information and benefits”. (Kapasitas untuk menggunakan

sumberdaya untuk sepenuhnya berpartisipasi secara aktif dan produktif

(secara sosial, ekonomi dan politik) dalam masyarakat termasuk akses ke

sumberdaya, pelayanan, tenaga kerja dan pekerjaan, informasi dan

manfaat). Contoh: Memberi kesempatan yang sama bagi anak

perempuan dan laki-laki untuk melanjutkan sekolah sesuai dengan minat

dan kemampuannya, dengan asumsi sumberdaya keluarga mencukupi.

b. Partisipasi diartikan sebagai “Who does what?” (Siapa melakukan

apa?). Suami dan istri berpartisipasi yang sama dalam proses

pengambilan keputusan atas penggunaan sumberdaya keluarga secara

demokratis dan bila perlu melibatkan anak-anak baik laki-laki maupun

perempuan.

c. Kontrol diartikan sebagai ”Who has what?” (Siapa punya apa?).

Perempuan dan laki-laki mempunyai kontrol yang sama dalam

penggunaan sumberdaya keluarga. Suami dan istri dapat memiliki

properti atas nama keluarga.

d. Manfaat. Semua aktivitas keluarga harus mempunyai manfaat yang sama

bagi seluruh anggota keluarga.

11
2.5 Teori Gender atau Aliran Feminisme

Secara garis besar, aliran aliran feminisme terbagi dalam 2 (dua) kluster

yaitu kluster yang merubah nature (kodrati) perempuan, dan yang melestarikan

nature perempuan. Kluster merubah nature perempuan terdiri atas aliran-aliran

Feminisme Eksistensialisme, Feminisme Liberal, Feminisme Sosialis/ Marxis dan

Teologi Feminis. Adapun kluster melestarikan nature perempuan terdiri atas

aliran-aliran Feminisme Radikal dan Ekofeminisme.

2.6 Pengertian dan Teknik Analisis Gender

Analisis gender adalah suatu metode atau alat untuk mendeteksi

kesenjangan atau disparitas gender melalui penyediaan data dan fakta serta

informasi tentang gender yaitu data yang terpilah antara laki-laki dan perempuan

dalam aspek akses, peran, kontrol dan manfaat. Dengan demikian analisis

gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang

laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan,

fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor

yang mempengaruhi. Syarat utama terlaksananya analisis gender adalah

tersedianya data terpilah berdasarkan jenis kelamin. Data terpilah adalah nilai

dari variabel variabel yang sudah terpilah antara laki-laki dan perempuan

berdasarkan topik bahasan/hal-hal yang menjadi perhatian. Data terdiri atas data

12
kuantitatif (nilai variabel yang terukur, biasanya berupa numerik) dan data

kualitatif (nilai variabel yang tidak terukur dan sering disebut atribut, biasanya

berupa informasi).

Di lain pihak alat analisis sosial yang telah ada seperti analisis kelas,

analisis diskursus (discourse analysis) dan analisis kebudayaan yang selama ini

digunakan untuk memahami realitas sosial tidak dapat menangkap realitas

adanya relasi kekuasaan yang didasarkan pada relasi gender dan sangat

berpotensi menumbuhkan penindasan. Dengan begitu analisis gender

sebenarnya menggenapi sekaligus mengkoreksi alat analisis sosial yang ada

yang dapat digunakan untuk meneropong realitas relasi sosial lelaki dan

perempuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Analisis gender merupakan alat dan tehnik yang tepat untuk mengetahui

apakah ada permasalahan gender atau tidak dengan cara mengetahui disparitas

gendernya. Dengan analisis gender diharapkan kesenjangan gender dapat

diindentifikasi dan dianalisis secara tepat sehingga dapat ditemukan faktor-faktor

penyebabnya serta langkah-langkah pemecahan masalahnya. Analisis gender

sangat penting khususnya bagi para pengambil keputusan dan perencanaan

serta para peneliti akademisi, karena dengan analisis gender diharapkan

masalah gender dapat diatasi atau dipersempit sehingga program yang

berwawasan gender dapat diwujudkan. Secara terinci analisis gender sangat

penting manfaatnya, karena:

1. Membuka wawasan dalam memahami suatu kesenjangan gender di

daerah pada berbagai bidang, dengan menggunakan analisis baik secara

kuantitatif maupun kualitatif.

2. Melalui analisis gender yang tepat, diharapkan dapat memberikan

gambaran secara garis besar atau bahkan secara detil keadaan secara

13
obyektif dan sesuai dengan kebenaran yang ada serta dapat dimengerti

secara universal oleh berbagai pihak.

3. Analisis gender dapat menemukan akar permasalahan yang

melatarbelakangi masalah kesenjangan gender dan sekaligus dapat

menemukan solusi yang tepat sasaran sesuai dengan tingkat

permasalahannya.

2.7 Pembahasan Umum

Peran gender dibentuk oleh budaya yang dimulai dari keluarga, dengan

proses anak mengamati adanya perbedaan perilaku pada para anggota

keluarga. Dengan demikian persepsi terhadap suatu peran dimulai dari proses

pembentukan perilaku dari dalam keluarga. Dengan demikian, sesuai dengan

pendapat Frieze bahwa struktur keluarga dalam suatu masyarakat merupakan

sumber data, di mana seorang anak menggunakannya untuk membentuk

stereotype peran gender. Sistem dalam struktur keluarga apakah menggunakan

prinsip keturunan patrilineal atau matrilineal akan berperan dalam menentukan

peran dan kedudukan laki-laki dan perempuan di lingkungan masyarakat. Baik

masyarakat matrilineal maupun patrilineal, tidak menciptakan kedudukan, baik

laki-laki, maupun perempuan secara egaliter.

Hasil menunjukkan bahwa perempuan dipersepsikan oleh masyarakat

sebagai aktor yang berperan sebagai figur ekspresif, yaitu berfungsi sebagai

pemelihara dan pendidik keluarga, sedangkan laki-laki dipersepsikan oleh

masyarakat sebagai figur instrumental, yaitu berfungsi sebagai pencari nafkah

keluarga. Hal ini sesuai dengan pustaka dari Megawangi, perempuan berperan

sebagai figur ekspresif dan laki-laki sebagai figur instrumental. Jenis kelamin

contoh perempuan mempunyai perspektif gender yang lebih baik dibandingkan

14
dengan contoh laki-laki, yaitu persepsi terhadap peran gender dalam pekerjaan

domestik dan dalam pekerjaan publik dan sosial.

Contoh perempuan lebih fleksibel dalam melaksanakan peran gender di

sektor domestik maupun publik, dan cenderung mempunyai persepsi peran

gender yang dapat diubah atau ditukarkan. Meskipun sebagian peran dalam

keluarga (domestik) dipersepsikan sebagai peran yang netral, yaitu boleh

dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, namun masih terdapat segregasi

yang cukup kuat dalam mempersepsikan peran dalam keluarga (peran

domestik). Peran domestik yang berkaitan dengan pekerjaan yang bersifat

instrumental atau pekerjaan yang berat dipersepsikan sebagai peran yang

maskulin. Adapun peran domestik yang berkaitan dengan pekerjaan yang

bersifat emosional dipersepsikan sebagai peran feminin.

Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa semakin perspektif gender persepsi

seseorang terhadap peran gender dalam pekerjaan domestik, maka semakin

perspektif gender persepsi terhadap peran gender dalam pekerjaan publik dan

sosial, dan sebaliknya. Terakhir, ada indikasi bahwa status sosial ekonomi ayah

contoh yang semakin tinggi akan berhubungan dengan persepsi bahwa

pekerjaan publik dan sosial adalah cenderung lebih baik dilakukan oleh laki-laki

sebagai main breadwinner sesuai dengan norma masyarakat patriarki pada

umumnya.

15
3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perempuan dipersepsikan oleh masyarakat sebagai aktor yang berperan

sebagai figur ekspresif, yaitu berfungsi sebagai pemelihara dan pendidik

keluarga, sedangkan laki-laki dipersepsikan oleh masyarakat sebagai figur

instrumental, yaitu berfungsi sebagai pencari nafkah keluarga. Jenis kelamin,

contoh perempuan, mempunyai perspektif gender yang lebih baik dibandingkan

dengan, contoh laki-laki, yaitu persepsi terhadap peran gender dalam pekerjaan

domestik dan dalam pekerjaan publik dan sosial. Hasil uji korelasi menunjukkan

bahwa semakin perspektif gender persepsi seseorang terhadap peran gender

dalam pekerjaan domestik maka semakin perspektif gender persepsi terhadap

peran gender dalam pekerjaan publik dan sosial, dan sebaliknya. Terakhir, ada

indikasi bahwa status sosial ekonomi ayah yang semakin tinggi akan

berhubungan dengan persepsi bahwa pekerjaan publik dan sosial adalah

cenderung lebih baik dilakukan oleh laki-laki sebagai main breadwinner sesuai

dengan norma masyarakat patriarki pada umumnya.

3.2 Saran

Penelitian mengenai sikap terhadap peran gender juga perlu dilakukan

secara berkelanjutan dan mendalam, misalnya dengan masyarakat dengan tipe

dan strata yang berbeda. Perlu adanya intervensi untuk memperbaiki persepsi

terhadap peran gender yang masih bias gender. Khusus untuk mengubah mind

set mahasiswa, perlu dikembangkan matakuliah gender dan keluarga, baik

dalam matakuliah formal maupun seminar dan pelatihan gender.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi Rukminto. 2008. Intervensi Komunitas: Pengembangan Masyarakat


Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Pers.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). 2007. “Laporan


Perkembangan Pencapaian Millenium Development Goals Indonesia
2007”. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.

Desiyani, F. 2003. “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persepsi dan Sikap


Mahasiswa IPB Tentang Kepemimpinan Laki-laki dan Perempuan: Suatu
Pendekatan Analisis Gender” dalam Skripsi Sarjana Departemen Gizi
Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.

Ginting, E D. 2003. “Hubungan Persepsi Terhadap Program Pengembangan


Karir dengan Kompetisi Kerja”.

Kodiran, dkk. 2001. “Peningkatan Partisipasi Wanita Dan pengembangan


Hubungan Industrial yang Berwawasan Gender di Kawasan Timur
Indonesia” dalam Laporan Penelitian Hibah Bersaing VII/3 Perguruan
Tinggi Tahun Anggaran 2001.

Megawangi, R. 1999. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru Relasi


Gender. Bandung: Mizan Pustaka.

Nauly, M. 2002. ”Konflik Peran Gender Pada Pria: Teori dan Pendekatan
Empirik” dalam Jurnal Psikologi, 1-14.

Puspitawati, H. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia.


PT IPB Press. Bogor.

17