Anda di halaman 1dari 30

RESPON ORGANISME AKUATIK TERHADAP VARIABLE

LINGKUNGAN

(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air)

OLEH

AGUS WIBOWO

1714111029

KELOMPOK 1

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

JURUSAN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017/2018
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Respon Organisme Akuatik Terhadap Variable


Lingkungan

Waktu Praktikum : 16 Maret 2018

Tempat Praktikum : Laboratorium Perikanan Dan Kelautan (Lab K)

Nama : Agus Wibowo

NPM : 1714111029

Program Studi : Budidaya Perairan

Jurusan : Perikanan dan Kelautan

Fakultas : Pertanian

Universitas : Universitas Lampung

Kelompok : I (Satu)

Bandar Lampung, 23 Maret 2018


Mengetahui
Asisten Dosen

Idham Khalid
NPM.1614111007
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Lingkungan perairan merupakan lingkungan yang unik dan tidak bisa ditebak setiap
kondisi maupun keadaanya setiap saat. Banyak sekali faktor-faktor internal maupun
external yang mempengaruhi kondisi ini. Dalam lingkungan perairan yang mana
banyak ditemukan berbagai organisme akuatik, setiap dari organisme itu memiliki
tingkat responcibility dan adaptasi yang berbeda-beda terhadap kondisi lingkungan
disekitarnya.

Tidak terkecuali kepada ikan, ikan juga memiliki responsibilitas yang khas teradap
setiap gejala-gejala yang terjadi pada lingkungannya. Dan setiap spesies ikan juga
memiliki tipe respon yang berbeda-beda. Namun secara umum, respon-respon yang
dapat kita pelajari diantaranya, repon biokimia, respon organ, respon fisiologis,
serta respon tingkah laku.

Respon biokimia adalah suatu respon yang ditimbukan karena faktor-faktor


kimiawi yang ada didalam tubuh ikan. Respon organ meliputi gejala-gejala fisik
yang terjadi pada tubuh ikan. Respon fisiologi meliputi konsumsi oksigen,
kesetimbangan tekanan osmotic dan ion, aktifitas pencernaan, dll. Sedangkan
respon tingkah laku, merupakan respon yang dapat dilihat dari gejala-gejala
perilaku ikan ketika menghadapi suatu kondisi lingkungan tertentu.

Pada praktikum kali ini, objek yang dijadikan pengamatan adalah ikan Nila
(Oreocromis niloticus), yang mana akan diamati bagaimana repon tingkah lakunya
terhadap bebagai variable lingkungan, seperti suhu, PH, dan Surfaktan detergen.
Oleh karena itu, diharapkan dengan praktikum ini, mahasiswa budidaya perairan
dapat mengetahui bagaimana respon tingkah laku ikan Nila terhadap berbagai
variable lingkungan diatas, bagaimana toleransi ikan, kelangsungan hidup serta
kemampun ikan dalam beradaptasi.
1.2. Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui respon organisme akuatik terhadap variable lingkungan (Suhu, PH,


dan Surfaktan Detergen).
2. Mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variable lingkungan
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi Ikan Sampel

2.1.1. Morfologi dan Klasifikasi

Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai konsumsi cukup
tinggi. Bentuk tubuh memanjang dan pipih ke samping dan warna putih kehitaman
atau kemerahan. Ikan nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya.
Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis
dan subtropis. Di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik
(Rahardjo, 2010). Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak
dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Terdapat tiga jenis ikan nila yang
dikenal, yaitu nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino (Affandi, 2011).

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk
tubuh pipih dan berwarna kehitaman. Spesies tersebut mempunyai garis vertical
berwarna hijau kebiruan. Pada sirip ekor terdapat garis melintang yang ujungnya
berwarna kemerah-merahan (Ghufran,2013). Warna tubuh yang dimiliki ikan nila
adalah hitam keabu-abuan pada bagian punggungnya dan semakin terang pada
bagian perut ke bawah (Affandi, 2011).

Ikan nila juga memiliki mata yang besar dan menonjol . Spesies tersebut memiliki
linea lateralis (gurat sisi) yang terputus menjadi dua bagian. Bagian pertama terletak
dari atas sirip dada hingga hingga tubuh, dan bagian kedua terletak dari tubuh
hingga ekor. Jenis sisik yang dimiliki spesies tersebut adalah ctenoid. Ikan nila
mempunyai lima buah sirip yang berada di punggung, dada, perut, anus, dan ekor.
Sirip punggung (dorsal fin) memiliki 17 jari-jari keras dan 13 jari-jari lemah
(D.XVII.13); sirip perut (ventral fin) memiliki 1 jarijari keras dan 5 jari-jari lemah
(V.I.5); sirip dada (pectoral fin) memiliki 15 jarijari lemah (P.15); sirip anal (anal
fin) memiliki 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari lemah (A.III.10); dan sirip ekornya
(caudal fin) memiliki 2 jari-jari lemah mengeras dan 16 jari-jari lemah (C.2.16)
(Ghufran, 2011).

Ghufran (2011), menjelaskan bahwa taksonomi ikan nila adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Osteichthyes

Ordo : Perciformes

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

2.1.2. Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Nila

Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di perairan tawar, terkadang
ikan nila juga ditemukan hidup di perairan yang agak asin (payau). Ikan nila dikenal
sebagai ikan yang bersifat euryhaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang
lebar). Ikan nila mendiami berbagai habitat air tawar, termasuk saluran air yang
dangkal, kolam, sungai dan danau. Ikan nila dapat menjadi masalah sebagai spesies
invasif pada habitat perairan hangat, tetapi sebaliknya pada daerah beriklim sedang
karena ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan dingin, yang
umumnya bersuhu di bawah 21 ° C (Harrysu, 2012). Menurut Pimolrat (2013), Ikan
Nila (oreochormis niloticus) adalah termasuk campuran ikan pemakan
campuran(omnivora).

Ikan nila mempunyai kemampuan tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-
38°C dengan suhu optimum bagi pertumbuhan dan perkembangannya yaitu 25-
30°C. Pada suhu 14°C atau pada suhu tinggi 38°C pertumbuhan ikan nila akan
terganggu. Pada suhu 6°C atau 42°C ikan nila akan mengalami kematian.
Kandungan oksigen yang baik bagi pertumbuhan ikan nila minimal 4mg/L,
kandungan karbondioksida kurang dari 5mg/L dengan derajat keasaman (pH)
berkisar 5-9 (Harrysu, 2012). Menurut Amri (2011), pH optimum bagi
pertumbuhan nila yaitu antara 7-8 dan warna di sekujur tubuh ikan dipengaruhi
lingkungan hidupnya. Bila dibudidayakan di jaring terapung (perairan dalam)
warna ikan lebih hitam atau gelap dibandingkan dengan ikan yang dibudidayakan
di kolam (perairan dangkal). Pada perairan alam dan dalam sistem pemeliharaan
ikan, konsentrasi karbondioksida diperlukan untuk proses fotosintesis oleh tanaman
air. Nilai CO2 ditentukan antara lain oleh pH dan suhu. Jumlah CO2 di dalam
perairan yang bertambah akan menekan aktivitas pernapasan ikan dan menghambat
pengikatan oksigen oleh hemoglobin sehingga dapat membuat ikan menjadi stress.
Kandungan CO2 dalam air untuk kegiatan pembesaran nila sebaiknya kurang dari
15 mg/liter.

2.1.3, Daur Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Daur hidup ikan nila sangat erat berhubungan dengan kegiatan perkawinan dan
pemijahan. Secara alami, ikan nila dapat memijah sepanjang tahun. Ikan nila mulai
memijah pada umur 4 bulan atau panjang badan sekitar 9,5 cm. Pembiakan terjadi
setiap tahun tanpa adanya musim tertentu dengan interval waktu kematangan telur
sekitar 2 bulan. Induk betina matang kelamin dapat menghasilkan telur antara 250
- 1.100 butir (Carpenter, 2012).

Ikan nila jantan mempunyai naluri membuat sarang berhentuk lubang di dasar
perairan yang lunak sebelum rnengajak pasangannya untuk memijah. Satu siklus
atau daur hidun ikan nila meliputi tahap-tahap yang terdiri atas stadium telur, larva,
benih, dewasa, dan induk. Daur hidup dan telur sampai menjadi induk berlangsung
selama 5 - 6 bulan (Lucas, 2013).

2.2. Variable Lingkungan


2.2.1. Suhu
Menurut Mirea.C (2013), suhu sangat berpengaruh terhadap penetasan telur dan
pertumbuhan burayak pada ikan, karena suhu dapat memacu atau merangsang
pertumbuhan dan perkembangan pada ikan. Menurut Mirea. C (2013), air hangat
dapat memacu metabolism, dan air dingin dapat menghambat aktivitas sistem organ
tubuh ikan.
Dalam menyerap oksigen, suhu sangatlah berperan penting didalamnya. Karena
semakin tinggi suhu, maka semakin sulir untuk menyerap oksigen kedalam air.
Oleh karena itu suhu sangat berpengaruh terhadap kenyamanan hidup setiap
organisme termasuk dalam hal ini adalah ikan. Suhu dapat menjadi factor pembatas
fungsi fisiologis hewan akuatik, sehingga suhu berperan penting dalam respon
ataupun bentuk adaptasi setiap organisme akuatik (Suyanto, 2014)

Reaksi kimia dalam tubuh ikan juga dipengaruhi oleh suhu, menurut Arafad (2013),
semakin tinggi atau naiknya suhu, maka reaksi kimia didalam tubuh organisme
akuatik akan semakin besar, sedangkan konsentrasi gas termasuk oksigen pada
kondisi ini akan semakin menurun. Sehingga pada setiap kondisi perubahan suhu,
ikan akan membuat kondisi toleran (bertahan hidup) atau intoleran(mati).

2.2.2. Surfaktan Detergen


Kandungan setiap materi kimia didalam air sangat mempengaruhi tingkat hidup
dari suatu organisme akuatik. Menurut Workagegn (2012), setiap fungsi-fungsi dari
bagian tubuh organisme akuatik, dalam hal ini adalah ikan, memiliki respon yang
berbeda-beda terkait setiap bahan kimia yang berada didalam air. Respon ini dapat
berupa respon fisiologis tubuh ataupun respon kimiawi yang terjadi didalam tubuh.

Dalam Sajjiah (2013),Salah satu bahan masukan kimia kedalam air adalah detergen,
detergen dalam jumlah yang banyak akan menpengaruhi tingkat keasaman (PH)
serta mempengaruhi masuknya oksigen kedalam air atau oksigen yang hendak
diserap oleh organisme akuatik.

Smakin tinggi konsentrasi detergen/surfaktan yang berada di dalam air, maka akan
semakin tinggi pula tingkat moralitas bagi setiap organisme akuatik yang hidup di
dalamnya, terlebih jika di dalam tubuh ikan tersebut tidak terdapat sistem
pertahanan atau sistem yang adaptif terhadap suatu keadaan pencemaran air (Dos
Santos, 2013)
2.2.3. PH
Derajat keasaman atau PH sangat berperan penting dalam kehidupan ikan. Menurut
Effendi (2013), titik kematian ikan berada pada PH < 5, atau PH > 9. Artinya
semakin rendah/asam PH air, maka kemunkinan lethal ikan akan semakin tinggi,
begitu juga jika jika PH semakin tinggi, karena kondisi normal PH perairan adalah
6-8 saja (Lesmana. DS, 2012)
Adanya penyakit ikan pun berhubungann dengan naik turunnnya nilai pH. Biasanya
bakteri akan tumbuh baik pada pH basa, sementara jamur tumbuh baik pada pH
asam. Nilai pH air pada siang hari berbeda dengan malam hari. Pada pagi hari, pH
air akan turun, sedangkan pada sore hari akan naik. Hal ini disebabkan gas
karbondioksida banyak diproduksi pada malam hari. Banyaknya produksi gas
karbondioksida karena malam hari tidak ada sinar matahari. Karbondioksida sangat
berpengaruh pada penurunan nilai pH atau nilai asam (Damayanti.L, 2013).
III. METODELOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Waktu dilaksanakannya praktikum Repon Organisme Akuatik Terhadap Variable
Lingkungan adalah pada tanggal 16 Maret 2018 pukul 17.00 WIB, di Laboratorium
Perikanan dan Kelautan Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Peranian,
Universitas Lampung.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis serta buku
panduan praktikum, aerator, aquarium 2 buah, air, ikan Nila (Oreocromis niloticus),
thermometer raksa, stopwatch, instalasi listrik, timbangan digital, heater, ember, es
atu, air panas, PH meter, HCL, NaOH, serta Surfaktan Detergen.

3.3. Cara Kerja


3.3.1. Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Suhu
1. Disiapkan 5 buah akuarium, yang mana 1 akuarium diperlakukan sebagai
akuarium control, 1 akuarium diperlakukan sebagai akuarium gradual, dan 3
lainya untuk perlakuan suhu yang berbeda (40°C, 20°C, dan 10°C)
2. Ditimbangnya ikan Nila sebelum dimasukkan kedalam akuarim sebanyak 3
ekor
3. Akarium tadi diperlakukan sebagai media air panas dan air dingin, kemudian
ikan dimasukkan secara bersamaan dan aerator
4. Diamati tingkah laku dan fisiologis ikan selama 1 jam dengan interval 10 menit.

3.3.2. Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap pH


1. Disiapkan 5 buah akuarium, yang mana 1 akuarium diperlakukan sebagai
akuarium control, 1 akuarium diperlakukan sebagai akuarium gradual, dan 3
lainya untuk perlakuan pH yang berbeda (pH asam : 5 dan 6, pH basa: 8 dan 9)
2. Ditimbangnya ikan Nila sebelum dimasukkan kedalam akuarim sebanyak 3
ekor
3. Akarium tadi diperlakukan sebagai media perubahan tingkat keasaman,
kemudian ikan dimasukkan secara bersamaan dan aerator
4. Diamati tingkah laku dan fisiologis ikan selama 1 jam dengan interval 10 menit.

3.3.3. Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Surfaktan Detergen


1. Disiapkan 5 buah akuarium, yang mana 1 akuarium diperlakukan sebagai
akuarium control, 1 akuarium diperlakukan sebagai akuarium gradual, dan 3
lainya untuk perlakuan pemberian Surfaktan yang berbeda (1 gr, 3 gr, dan 6 gr)
2. Ditimbangnya ikan Nila sebelum dimasukkan kedalam akuarim sebanyak 3
ekor
3. Akarium tadi diperlakukan sebagai media perubahan pencemaran air, kemudian
ikan dimasukkan secara bersamaan dan aerator
4. Diamati tingkah laku dan fisiologis ikan selama 1 jam dengan interval 10 menit.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tabel Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan perilaku ikan terhadap berbagai macam variable


lingkungan, maka kami memperoleh data sebagai berikut:

4.1.1. Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variable Suhu

Perlakuan Menit TL/BO SR M Ket


Ke-
Suhu Kontrol 10  Banyak mengeluarkan feses 100% 0% W₀ =
 Gerakan ikan stabil 71.16 gr
 Operculum stabil 50-60 Wt =
71.16 gr
N₀ = 3
Nt = 3
- 20 Keadaan sama seperti menit 100% 0% -
ke-10
- 30 Keadaan sama seperti menit 100% 0% -
ke-20
- 40 Keadaan sama seperti menit 100% 0% -
ke-30
- 50 Keadaan sama seperti menit 100% 0% -
ke-40
- 60 Keadaan sama seperti menit 100% 0% W₀ =
ke-50 71.16 gr
Wt = 69.6
gr
N₀ = 3
Nt = 3
Suhu pada 10  Sedikit mengeluarkan feses 100% 0% W₀ =
10° C  Pergerakan ikan tidak stabil 71.16 gr
(loncat-loncat) Wt =
 Sirip masih begerak 71.16 gr

 Operculum lebih lambat dari N₀ = 3

keadaan normal Nt = 3

20  Ikan bergerak melambat 100% 0% -


 Tidak mengeluarkan feses
 Sirip makin melambat
 Operkulum makin melambat
30  Ikan tidak bergerak sama 33% 67% N₀ = 3
sekali Nt = 2
 Sirip sesekali bergerak
 Operculum diam
40  Ikan tidak bergerak 33% 67% N₀ = 3
 Operculum diam Nt = 2
 Ikan tengkurap posisinya
50  Ikan mati 0% 100 W₀ =
% 71.16 gr
Wt =
68.48 gr
N₀ = 3
Nt = 0
Suhu pada 10  Tidak banyak feses 100% 0% W₀ =
20° C  Lambat gerakannya 66.03 gr
 BO 48 Wt = 94,6
gr
N₀ = 3
Nt = 3
20  Jarang mengeluarkan feses 100% 0% -
 Dibawah terus gerakannya
 BO 40
30  Selalu diam dibawah 100% 0% -
aquarium
 BO 35
40  Selalu diam dibawah 100% 0% -
 Tidak mengeluarkan feses
 BO 33
50  Pergerakan sangat lambat 100% 0% -
dan lemah
 Tidak mengeluarkan feses
 BO 30
60  Pergerakan lambat N₀ = 3
 Overkulum jarang terbuka Nt = 3
 BO 25
Suhu pada 10  Tidak banyak feses 100% 0% W₀ = 94.6
40° C  Aktif bergerak gr
 BO 59 Wt =
92,30 gr
N₀ = 3
Nt = 3
20  Banyak feses 100% 0% -
 Terkadang ke permukaan
 Aktif bergerak
 BO 72
30  Banyak feses 100% 0% -
 Bergerak ke atas
 BO 85
40  Selalu bergerak ke atas 100% 0% -
 BO 93
50  Ikan bergerak aktif 100% 0% -
 Banyak mengeluarkan feses
 BO 117
60  Sering membuka overkulum 100% 0% N₀ = 3
 Bergerak sangat aktif Nt = 3

4.1.2. Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variable PH

Perlakuan Menit TL/BO SR M Ket


Ke-
PH 5 15  Ikan lebih sering sering 100% 0% W₀ =
berada di atas, atau tengah 125.54 gr
kolom aquarium. Wt =
 Bergerak agresif 125.31 gr
 BO 128 N₀ = 3
Nt = 0

30  Keadaan ikan seperti 100% 0% -


keadaan menit ke-15
 BO 160
45  Keadaan ikan seperti 100% 0% -
keadaan menit ke-30
 BO 110
60  Keadaan ikan seperti 100% 0% -
keadaan menit ke-45
 BO 112
PH 6 15  Ikan lebih sering berada di 100% 0% W₀ =
dasar kolom aquarium 104.09 gr
 BO 100 Wt =
102.12 gr
N₀ = 3
Nt = 0
30  Keadaan ikan seperti 100% 0% -
keadaan menit ke-15
 BO 115
45  Keadaan ikan seperti 100% 0% -
keadaan menit ke-30
 BO 113
60  Keadaan ikan seperti 100% 0% -
keadaan menit ke-45
BO 103
PH 8 15  Agresif, 100% 0% W₀ =
 Mulai mengeluarkan feses 116.28 gr
 Sering ke permukaan Wt =

 BO 55 113.04 gr
N₀ = 3
Nt = 0
30  Gerakan ikan lebih tenang 100% 0% -
 Sering ke permukaan
 BO 101
45  Berenangnya lebih agresif 100% 0% -
 Mata memerah
 BO 110
60  Sering ke permukaan 100% 0% -
 Berlendir
 BO 88
PH 9 15  Berenang ke dasar kolam 100% 0% W₀ =
 Mulai mengeluarkan feses 119.25 gr
 BO 36 Wt =
112.63 gr
N₀ = 3
Nt = 0
30  Lebih tenang dan berada di 100% 0% -
dasar
 BO 25
45  Ikan tenang 100% 0% -
 Ikan berlendr
 BO 36
60  Ekor, dan badan memutih 100% 0% -
 BO 31
PH Control 10  Pergerakan naik dan turun 100% 0% W₀ =
 BO 96 83,76 gr
Wt =
82.66 gr
N₀ = 3
Nt = 3
20  Diam di permukaan 100% 0% -
 BO 95
30  Mengeluarkan feses 100% 0% -
 BO 110
40  Pergerakan naik turun 100% 0% -
 BO 82
50  Pergerakan naik turun 100% 0% -
 BO 90
60  Diam di permukaan 100% 0% N₀ = 3
 BO 92 Nt = 0

4.1.1. Tabel Tingkah Laku Ikan Terhadap Variable Detergent?Surfaktan

Perlakuan Menit TL/BO SR M Ket


Ke-
Detergent 1 10  Bergerak ke samping 100% 0% W₀ =
gram 120.25 gr
 Mengeluarkan feses dan Wt =
lendir 90.64 gr
 N₀ = 3
Nt = 3
20  Pergerakan melambat 100% 0% -
 Mulai mengeluarkan
lendir
 BO 50
30  Diam 100% 0% -
 Mengeluarkan feses dan
lendir
 BO 42
40  Diam 75% 25% W₀ =
 Turun ke bawah 120.25 gr
 Banyak feses dan lendir Wt ikan

 BO 28 mati =
36.56gr
N₀ = 3
Nt = 3
50  Diam 75% 25% -
 Melemah
 Banyak feses dan lendir
 BO 52
60  Diam dibawah 75% 25% N₀ = 2
 Lebih banyak feses Nt = 1
 BO 47
Detergent 3 10  Bergerak keatas 100% 0% W₀ =
gram  Mengeluarkan feses 100.53 gr
 BO 35 Wt ikan
mati
=105.37
gr
N₀ = 3
Nt = 3
20  Pergerakan melambat dan 100% 0% -
pernafasan juga
 Feses dan lendir lebih
banyak
 BO 35
30  Ikan melompat 100% 0% -
 Banyak mengeluarkan
kendir
 BO 40
40  Diam 0% 100% W₀ =
 BO 0 100.53 gr
Wt ikan
mati
=105.37
gr
N₀ = 3
Nt = 0
50  Diam 0% 100% -
 BO 0
60  Diam 0% 100% -
 BO 0
Detergen 6gr 10  Lincah 100% 0% N₀ = 3
 Ada lendir Nt = 3
 BO 44
20  Banyak lender 75% 33% N₀ = 3
 BO 30 Nt = 2
30  Insang berdarah 33% 75% N₀ = 3
 BO 15 Nt = 1
40  Ikan mati 0% 100% N₀ = 3
Nt = 0
W₀ =
114.34 gr
Wt ikan
mati =
118.04 gr
Surfaktan 20  Gerakan ikanmelambat 100% 0% W₀ =
Gradual  BO 56 117.22 gr
Wt ikan
mati =
111.22 gr
N₀ = 3
Nt = 0
40  Ikan berlendir 0% 100% -
 Ikan mati
 BO 0
60 - 0% 100% -

4.2. Pembahasan

Ikan nila (Oreochromis niloticus ) disebut sebagai “aquatic chicken” karena rata –
rata pertumbuhannya yang tinggi, kemampuan adaptasinya yang baik, serta
kemampuannya untuk tumbuh dan bereproduksi pada keadaan yang buruk (Mirea
C et al, 2013). Ikan nila biasanya hidup pada perairan yang dangkal dengan arus
yang tidak begitu deras. Namun, apabila ikan nila ditempatkan pada perlakuan air
yang bergerak, ikan nila masih tetap dapat bertahan hidup dengan baik (Mirea C et
al, 2013).

Faktor-faktor lingkungan yang sering berfluktuasi (berubah–ubah) akan


mempengaruhi kehidupan organisme, proses-proses fisiologis, tingkah laku dan
mortalitas. Untuk mengurangi pengaruh buruk dari lingkungannnya maka ikan
melakukan adaptasi. Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian diri secara bertahap
yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap kondisi baru di lingkungan. Hewan
memiliki toleransi dan resistensi pada kisaran tertentu pada variasi lingkungan yang
berbeda - beda. Kemampuan mentolerir variabel lingkungan erat kaitannya dengan
faktor genetic dan kemampuan tubuhnya. Kisaran ekstrim dari variabel lingkungan
yang menyebabkan kematian bagi organisme disebut lethal zone . Kisaran
intermediet tempat suatu organisme hidup tolerance zone. Namun, posisi dari tiap-
tiap zona tersebut masih dapat berubah selama organism masih dapat bertahan
hidup (Mirea C et al, 2013).

Ikan akan melakukan mekanisme homeostasi bila lingkungan hidupnya mulai


berfluktuasi. Mekanisme ini dilakukan untuk membuat keadaan stabil sebagai
respon adanya perubahan variabel lingkungan. Mekanisme homeostasis ini terjadi
pada tingkat sel yaitu dengan pengaturan metabolisme sel, pengontrolan
permeabilitas membran sel, dan pembuangan sisa - sisa metabolism (Mirea C et al,
2013).

Pada praktikum Respon Organisme Akuatik terhadap Variabel Lingkungan, ikan


nila yang digunakan diberi perlakuan suhu dan pH. Kualitas air yang baik dapat
dilihat berdasarkan kandungan pH dan suhunya. Organisme akuatik seperti ikan
beradaptasi pada suhu lingkungan tertentu. Suhu rendah di bawah normal dapat
menyebabkan ikan mengalami lethargi, kehilangan nafsu makan, dan lebih rentan
terhadap penyakit. Sebaliknya, suhu yang tinggi akan membuat ikan mengalami
stress pernapasan dan kerusakan insang permanen. Pada umumnya, ikan nila tidak
akan makan dan tumbuh pada air yang memiliki temperatur yang rendah
(Workagegn, 2012).

Selain beradaptasi dengan suhu lingkungan, ikan juga beradaptasi dengan pH


lingkungannya. Kualitas air yang baik juga bergantung pada variabel pH. pH
berfungsi dalam mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di air.
Hubungan derajat keasaman (pH) dengan kelangsungan hidup ikan sangat
berkaitan erat. Ikan biasanya akan mati pada pH 4 (asam) dan pH 11 (basa).
Sementara kegiatan reproduksi atau perkembangbiakan ikan biasanya berlangsung
dengan baik pada pH 6,5 tergantung jenis ikannya (Workagegn, 2012).
Penyakit ikan juga berkaitan dengan naik turunnnya nilai derajat keasaman (pH).
Biasanya bakteri akan tumbuh baik pada pH basa, sementara jamur tumbuh baik
pada pH asam. Nilai pH air pada siang hari berbeda dengan malam hari. Pada pagi
hari, pH air akan turun, sedangkan pada sore hari nilai pH akan cenderung naik. Hal
ini disebabkan gas karbondioksida yang mempengaruhi naik turunnya pH banyak
diproduksi pada malam hari. Melimpahnya produksi gas karbondioksida pada sore
atau malam hari dikarenakan tidak adanya sinar matahari (Lesmana, 2002)

Setiap jenis ikan memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap perubahan
pH. Umumnya, ikan dewasa akan lebih baik toleransinya terhadap pH dibanding
ikan yang ukuran lebih kecil atau pada fase larva dan telur. Selain itu, setiap jenis
ikan memiliki toleransi nilai pH optimal yang bergantung pada asal atau habitat asli
ikan. Pada lingkungan yang seringkali terlalu asam atau tidak dapat tertoleransi
berada di bawah 5.5 atau terlalu alkali atau berada di atas 8.0 akan menyebabkan
perubahan tingkah laku pada ikan. Perubahan pH yang secara mendadak akan
menyebabkan ikan berlaku hiperaktif atau berenang sangat cepat dan tampak
seperti kekurangan oksigen. Keadaan ini juga menyebabkan kematian mendadak
pada ikan. Sementara perubahan pH yang secara perlahan - lahan akan
menyebabkan keluarnya lendir yang berlebihan, kulit menjadi berwarna keputiihan
dan mudah terserang bakteri (Lesmana, 2002).

Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan
sekitarnya. Ikan ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya,
sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang
tinggi dengan suhu yang rendah . Ikan nila mampu hidup pada suhu 14-38oC dengan
suhu terbaik adalah 25-30oC dan dengan nilai pH air antara 6-8,5 (Suyanto, 2014).

Sesuai dengan hasil pengamatan, ikan yang diletakkan pada akuarium yang tidak
diberi perlakuan, hingga menit ke-60 ikan masih tetap aktif bergerak. Sedangkan
pada perlakuan me nggunakan 10 tetes NaOH pada setiap pengamatan, ikan aktif
bergerak; insang berjalan lambat; dan sirip kadang menegang. Pada perlakuan 20
tetes NaOH hingga akhir pengamatan didapatkan keadaan yang sama dengan
perlakuan 10 tetes NaOH. Saat ikan dimasukkan ke dalam perlakuan 30 tetes
NaOH, hingga akhir pengamatan didapatkan keadaan ikan bergerak lamba; insang
yang lebih banyak diam; dan sirip yang tetap normal. Pada perlakuan pH 8, hingga
akhir pengamatan, didapatkan keadaan ikan yang lebih banyak diam; insang yang
berjalan lambat; dan sirip yang turun. Sedangkan, pada perlakuan pH 9 terdapat
perilaku ikan yang cenderung bergerak lambat; insang yang berjalan lambat; namun
keadaan sirip tetap normal. Pada perlakuan gradual, yaitu penurunan pH dari
kondisi awal yang dilakukan dengan menaikkan pH 1 per 10 menit, didapatkan
kondisi ikan yang masih bergerak aktif namun feses ikan sudah sangat banyak. Hal
ini dimungkinkan karena ikan ikan ketika ditempatkan di kondisi perairan yang
basa atau pH tinggi akan mencoba beradaptasi untuk perubahan pH ini. Ikan akan
mengeluarkan lendir dari dalam tubuh sebagai bentuk pertahanan diri. Sehingga,
bobot ikan tidak berkurang maupun bertambah. Namun, bobot tubuh ikan ada yang
meningkat ketika diberi kondisi lingkungan air yang sangat ekstrim. Hal ini
dikarenakan ikan terlalu banyak menyekresikan mukus (lendir), sehingga lendir
yang tersekresi berlebihan menutupi aliran air yang keluar dari tubuh ikan. Air akan
mengisi rongga sel yang ada di dalam tubuh ikan. Bobot ikan akhirnya bertambah.
Hal ini didukung oleh pendapat Lesmana (2012) bahwa perubahan pH secara
perlahan akan menyebabkan lendir keluar berlebihan.

Ikan nila yang diberi perlakuan pH basa dengan menggunakan larutan NaOH,
setelah pengamatan selama 1 jam, didapatkan tingkat kelanjutan hidupnya atau
Survival Rate (SR) ikan nila adalah 100%. Artinya, dari 3 ekor ikan yang
dimasukkan ke dalam akuarium, semuanya masih tetap bisa bertahan hidup dalam
air yang keadaannya basa. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kematian atau
Mortality Rate (MR) ikan nila pada lingkungan dengan pH basa adalah 0%. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa ikan nila cenderung lebih dapat bertahan hidup pada
lingkungan dengan pH basa, yaitu antara nilai minimum pH 7.2 hingga nilai
maksimum pH sebesar 7.9 (Lesmana, 2012). Begitu juga dengan perlakuan pada
kendisi pH yang asam, pada percobaan, tersebut, ikan masih memiliki toleransi
yang baik pada pH kiasaran 5-6.

Sedangkan Deterjen mengandung bahan kimia yang disebut surfaktan deterjen.


Surfaktan adalah bahan kimia organik sintetis yang banyak digunakan dalam
deterjen, produk perawatan, dan bahan pembersih dalam rumah tangga. Surfaktan
di dalam perairan dapat menimbulkan rusaknya organ kemoreseptor, berubah pola
makan, pertumbuhan lambat dan tingkat kelangsungan hidup larva yang rendah
(Sajiah, 2013).

Menurut Workagegn, KB. (2012), pada konsentrasi 5 mg/LDodecylbenzene


Sulfonate dapat menyebabkan pengurangan epitel insang pada ikan. Pada
konsentrasi yang sama, lamella insang cenderung bersatu. Semakin besar
konsentrasi surfaktan yang diberikan maka semakin besar pula kerusakan sel
epitelnya. Efek negatif tersebut dapat bersifat akut atau kronis/subkronis,
tergantung pada jangka waktu pemaparan zat yang dapat mematikan 50% atau lebih
populasi biota yang terpapar. Bila surfaktan deterjen tersebut sudah melebihi
ambang batas bisa menyebabkan kematian pada biota.
V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kualitas air sangat berpengaruh terhadap proses metabolisme organisme akuatik.


Perubahan suhu secara mendadak baik panas maupun dingin dapat mengakibatkan
kematian pada ikan. Perubahan suhu juga dapat mempengaruhi bobot tubuh ikan
karena konsentrasi air dalam tubuh ikan berubah. Pada perlakuan pH asam maupun
pH basa, bobot ikan tidak mengalami perubahan. Penambahan asam pada
lingkungan perairan mengakibatkan ikan yang hidup didalamnya mengalami
kematian. Begitupun ikan pada pH basa yang juga mengalami kematian. Kematian
diakibatkan berkurangnya konsumsi O2, osmoregulasi ikan terganggu, serta kadar
toksisitas meningkat karena amonia tinggi pada pH tinggi (basa) dan H2S tinggi
pada pH rendah (asam) sehingga menggangu proses metabolisme dan respirasi.
Pada perlakuan detergen, bobot tubuh ikan berubah dan detergen juga merusak
jaringan tubuh ikan seperti insang dan pencernaan yang berdampak pada kematian
ikan. Pada perlakuan kekeruhan tidak berdampak pada bobot tubuh ikan maupun
pada kematian ikan. Pada perlakuan gradual (baik pH, suhu, kekeruhan maupun
detergen) ikan lebih bisa bertahan karena ikan menerima perlakuan secara bertahap
sehingga ada waktu bagi ikan untuk beradaptasi terhadap lingkungannya yang baru.

Ketika organisme akuatik hidup pada lingkungan yang tidak sesuai, maka
organisme tersebut memiliki kisaran toleransi untuk bertahan hidup pada suatu
kondisi tertentu dan organisme dapat mengalami kematian jika telah mencapai
puncak dari kisaran toleransi untuk dapat bertahan hidup. Maka, apabila organisme
akuatik (dalam hal ini adalah ikan nila) melakukan respon tertentu untuk dapat
bertahan hidup dan memiliki kisaran toleransi terhadap variabel lingkungannya
adalah terbukti.
5.2. Saran

Pada praktikum selanjutnya, diharapkan agar praktikan beserta asisten dapat lebih
bekerja sama dalam melakukan praktikum Fisiologi Hewan Air. Hal ini
dimaksudkan agar praktikum dapat lebih berjalan optimal dan sesuai. Praktikum
yang berjalan dengan baik adalah kunci akurasi data dan hasil yang didapatkan.
Selain itu, diharapkan agar praktikan mampu menjadikan suasana praktikum
Fisiologi Hewan Air lebih kondusif.
Daftar Pustaka

Affandi dan Sulistiono. 2011. Biologi Ikan. IPB. Bogor

Arafad, I. 2013. Peranan Suhu Media terhadap Kehidupan Benih Ikan Mas
(Cyprinus carpio) Ukuran 3-5 cm. Skripsi. Bogor: Departemen
Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor.
Carpenter, KE et al. 2012. The Living Marine Resources of Western Central Pasific
Vol.5. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. Rome:
FAO

Damayanti, L. 2013. Pengaruh Keasaman Air terhadap Kelangsungan Hidup dan


Pertumbuhan Benih Ikan Guramme (Osphronemus gouramy Lac).
Skripsi. Bogor: Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Dos Santos, Vander Bruno et al. 2013. Growth curves of nile tilapia (Oreochromis
niloticus) strains cultivated at different surfactant. Vol.35 : 235-242

Effendi, H. 2013. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Jakarta: Kansius.
Ghufran, Adi. G. 2013. Dasar-Dasar Ikhtiologi Universitas. Widyatama. Semarang

Gunawan, Amri. 2011. Ekologi Perairan. IPB. Bogor

Harrysu, Djalil.A. 2012. The Ecology of Fishes On Fress Water. Oceanogr. Mar.
boil. Ann. Rev. 18.387-394.

Lesmana, DS. 2012. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Lucas, Abraham. 2013. Aquaculture on Fress Water. IPB. Bogor

Mirea, C et al. 2013. Influence of different water temperature on intensive growth


performance of nile tilapia (Oreochromis niloticus, Linneaus, 1758)
in recirculating aquaculture system. Vol.60 : 227-231
Pimolrat, Pornpimol et al. 2013. Survey of climate related risks to tilapia pond
farms in northern Thailand. Vol.4 : 54-59
Rahardjo, M.F. 2010. Ichtiology. Dept.Biologi Perairan. Fak. Perikanan.IPB. Bogor
Sajiah, L. 2013. Pengaruh Surfaktan detergen LINEAR ALKYLBENZENA
SULFONATE (LAS) Terhadap Perkembangan Stadia Larva sampai
dengan Juvenil Ikan Mas. Skripsi. Bogor: Departemen Budidaya
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Suyanto, A. 2014. Mammals of flores. Dalam Herwint Simbolon (Ed.): The Natural
Resources of Flores Island, pp. 78-87. Research and Development Centre
for biology, The Indonesian Institute of Sciences, Bogor.
Workagegn, KB. 2012. Evaluation of growth performance, feed utilization
efficiency and survival rate of juvenile nile tilapia, Oreochromis niloticus,
(Linneaus, 1758) reared at different water temperature. Vol. 2 : 59-64
LAMPIRAN

Kondisi Awal Menit ke-1 Kondisi Ment ke-2

Kondisi Menit Ke-3 Kondisi Menit Ke-4