Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

CARPAL TUNNEL SYNDROME

PENULIS :
Pinka Nurashri Setyati
030.13.152

PEMBIMBING:
dr. Ananda Setiabudi, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
PERIODE 19 FEBRUARI – 24 MARET 2018
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF

PERIODE 19 FEBRUARI – 24 MARET 2018

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul “CARPAL TUNNEL SYNDROME” telah


diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan
Klinik Ilmu Penyakit Saraf periode 19 Februari - 24 Maret 2018

Jakarta, Maret 2018

dr. Ananda Setiabudi, Sp.S

2
PENDAHULUAN

Carpal tunnel syndrome (CTS) atau sindroma terowongan karpal adalah


salah satu gangguan pada lengan tangan karena terjadi penyempitan pada
terowongan karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun
akibat kelainan pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan
terhadap nervus medianus dipergelangan tangan. Carpal tunnel syndrome diartikan
sebagai kelemahan pada tangan yang disertai nyeri pada daerah ditribusi nervus
medianus.1
Carpal tunnel syndrome merupakan neuropati yang disebabkan tekanan
terhadap nervus medianus di pergelangan tangan dengan kejadian yang paling
sering, bersifat kronik dan ditandai dengan nyeri tangan pada malam hari, parestesi
jari-jari yang mendapat innervasi dari saraf medianus, kelemahan dan atrofi otot
thenar.2
Epidemiologi carpal tunnel syndrome di USA 1-3 kasus dari 100 populasi
per tahun. Insiden meningkat menjadi 150 per 1000 subyek per tahun dengan
prevalensi rata-rata 500 kasus per 1000 subyek di populasi resiko tinggi. Rasio
angka kejadian antara wanita dan pria adalah 10:1. Berdasarkan usia, carpal tunnel
syndrome rentan terjadi pada usia 45-60 tahun. Hanya 10% pasien yang menderita
CTS pada umur dibawah 30 tahun. Berdasarkan mortalitas dan morbiditas, carpal
tunnel syndrome bukan merupakan suatu penyakit yang fatal tetapi bisa
menyebabkan kerusakan saraf medianus yang irreversibel dengan konsekuensi
kehilangan fungsi tangan yang berat.

3
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 63 Tahun
Alamat : Cipinang Melayu
Agama : Islam
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nomor RM : 01.08.36.30
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 18 Maret 2017

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara auto-anamnesis dengan pasien pada tanggal 6 Maret 2018,
pada pukul 10.30 WIB di Poli Penyakit Saraf RSUD Budhi Asih.

Keluhan Utama
Pasien datang ke Poli Saraf RSUD Budhi Asih dengan keluhan kesemutan dan
baal pada jari I, II, dan III tangan kanan sejak 2 tahun SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Poli Saraf RSUD Budhi Asih dengan keluhan kesemutan dan
baal pada jari I, II, dan III tangan kanan sejak 2 tahun SMRS. Awalnya keluhan
hanya berupa kesemutan dan baal di ujung jari I, II dan III tangan kanan. Baal
dirasakan terus menerus. Os mengatakan keluhan memberat setelah melakukan
aktivitas yang dominan pada tangan kanan seperti mengulek dan memasak.
Untuk mengurangi keluhannya, Os sering mengibaskan tangan kanan dan
menekan telapak tangan kanannya ke tembok. Dalam dua bulan SMRS Os mulai
mengeluhkan nyeri yang terkadang timbul, nyeri menjalar hingga ke pangkal jari

4
I kanan. Os mengeluh telapak tangan kanan khususnya pada jari I, II dan III
terasa lebih sensitif terhadap nyeri. Seperti contohnya Os pernah terkena benda
tajam, dan nyeri yang dirasakan lebih berat. Os mengaku timbul kelemahan pada
tangan kanannya yaitu sering menjatuhkan barang saat menggenggam barang
dan mengatakan genggamannya kurang kuat dibandingkan dahulu. Dalam satu
tahun SMRS Os mengatakan keluhan baal dan kesemutan semakin menjalar,
hingga saat ini dirasakan hingga ke pangkal jari I, II dan III. Os juga mengatakan
otot pada jari I kanan tampak mengecil dan datar dibandingkan pada telapak
tangan kirinya. Pada bulan maret 2016 Os pertama kali merasakan keluhan, dan
langsung berobat ke klinik Fisioterapi. Os kemudian diberikan terapi suntikan
sebanyak dua kali dalam selang waktu seminggu. Keluhan kemudian dirasakan
berkurang, Os kemudian berhenti berobat di klinik Fisioterapi tersebut. Pada
tanggal 18 Maret 2017 Os mulai berobat ke RSUD Budhi Asih dengan keluhan
yang semakin memberat. Os kemudian diberikan obat Alpentin, Natrium
Diklofenak dan Amitriptyline dan juga dirujuk ke RSUD Pasar Rebo untuk
dilakukan EMG. Os kemudian memulai fisioterapi di poli rehab medik RSUD
Budhi Asih mulai pada tanggal 27 September 2017. Os rutin melakukan
fisioterapi seminggu dua kali pada hari selasa dan kamis. Namun hingga saat ini
Os mengatakan keluhan tidak berkurang, dan efek fisioterapi hanya bertahan
kurang lebih sehari setelah dilakukan fisioterapi. Riwayat nyeri pada tangan kiri
dan menjalar hingga ke pergelangan tangan dan pundak disangkal. Riwayat
trauma khususnya pada tangan kanan disangkal. Tidak terdapat kelemahan dan
kesemutan pada ekstremitas atas sebelah kiri dan kedua ekstremitas bawah. Os
merupakan seorang IRT yang sering memasak dan mengulek dengan alat
tradisional. Os memiliki riwayat mencari penghasilan tambahan sebagai penjahit
dan bekerja selama 40 tahun. Os sering melakukan gerakan seperti menggunting
serta menjahit baik dengan mesin maupun tradisional.

Riwayat Penyakit Dahulu


Os tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Os mengatakan
mulai rutin konsumsi obat kolesterol sejak dua bulan yang lalu. Riwayat diabetes

5
mellitus, hipertensi dan penyakit jantung disangkal. Os belum pernah dirawat di
rumah sakit sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat penyakit dengan keluhan yang sama pada keluarga Os.
Terdapat riwayat diabetes mellitus yaitu pada ayah Os. Tidak ada riwayat stroke,
dan hipertensi dalam keluarga.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Tanggal : 6 Maret 2018
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
 Tekanan darah : 140/90 mmHg
 Suhu : 36,3 oC
 Nadi : 75 x/menit
 Pernapasan : 20 x/menit

Antropometri
 Berat badan : 55 kg
 Tinggi badan : 158 cm
 Indeks massa tubuh : 22,08 (Gizi baik)

Status Generalis
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-) Sklera ikterik (-/-)
Pupil bulat isokor, diameter 3mm/3mm
Refleks cahaya langung (+/+)
Refleks cahaya tidak langsung (+/+)
Hidung : Normal
Mulut : Normal

6
Leher : deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar getah bening (-)
pembesaran tiroid (-)
Jantung
Inspeksi : Tidak tampak iktus kordis
Palpasi : Tidak teraba iktus
Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-) gallop (-)
Paru
Inspeksi : Betuk dada simetris
Palpasi : Gerak napas simetris
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler pada kedua lapang paru, rhonki (-/-),
wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Bising usus (+), 3x/menit
Perkusi : Timpani di seluruh regio
Auskultasi : Supel, nyeri tekan (-)
Ekstremitas
Atas : Akral hangat (+/+) oedem (-/-) deformitas (+/-), thenar
wasting pada manus dextra
Bawah : Akral hangat (+/+) oedem (-/-) deformitas (-/-)
Genitalia : Tidak dilakukan

Status Neurologi
Kesadaran : Compos mentis

Tanda rangsang meningeal


Kaku kuduk : - (negatif)
Brudzinki I : - (negatif)
Brudzinki II : - (negatif)

7
Laseque : - (negatif)
Kernig : - (negatif)

Nervus Kranialis

Nervus Hasil Pemeriksaan


Pemeriksaan
Kranialis Kanan Kiri
NI Tes menghidu Tidak dilakukan
Ukuran pupil Bulat, Bulat,
diameter 3mm diameter 3mm
Tajam penglihatan
N II
Lapang pandang
Tidak dilakukan
Buta warna
Funduskopi
Kedudukan bola Kedua bola mata terletak di tengah
mata (ortoforia)

N III, N Gerak bola mata Tidak ada hambatan gerak bola mata
IV, N VI Nistagmus - -
Diplopia - -
Refleks cahaya RCL (+) RCL (+)
RCTL (+) RCTL (+)
Motorik
NV Tidak dilakukan
Sensorik

N VII Tidak ada parese

Tes pendengaran
N VIII Tidak dilakukan
Tes keseimbangan
Pengecapan lidah ⅓
posterior
N IX, N X Tidak dilakukan
Refleks menelan
Refleks muntah
Mengangkat bahu Tidak ada hambatan, normotonus, kekuatan
N XI
Menoleh motorik: 5
Pergerakan lidah Tidak dilakukan
N XII
Disartria -

8
Pemeriksaan motorik
Pemeriksaan Extremitas atas Extremitas bawah
Kanan Kiri Kanan Kiri
Atrofi - - - -
Tonus Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus

Gerakan - - - -
involunter

Kekuatan 5555 5555 5555 5555


motoric
Refleks Bicep & tricep Patella & Achilles
fisiologis + + + +
Refleks Babinski - -
patologis Chaddock - -
Oppenheim - -
Gordon - -
Schaeffer - -

Pemeriksaan sensorik : Parestesi pada digiti I, II, III manus dextra


Tes Keseimbangan dan Koordinasi : Tidak dilakukan
Tes Fungsi Luhur : Tidak dilakukan
Pemeriksaan Khusus
1. Tinel Test: + / -
2. Phalen Test: + / -
3. Flick Sign : + / -

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan Laboratoris
Dari hasil laboratorium pada tanggal 21 November 2017, didapatkan
peningkatan kadar kolesterol total (243 mg/dL) dan peningkatan kolesterol
LDL (156 mg/dL) yaitu dalam batas tinggi.

9
b. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan EMG tanggal 13 April 2017

10
11
Interpretasi dan Kesimpulan:
Pada pemeriksaan elektrofisiologis lengan kanan didapatkan:
KHS Motorik dan Sensorik N. Ulnaris : Normal
KHS Motorik dan Sensorik N. Medianus: Tidak timbul

Beda 2nd Lumbrical-Interossei: Lumbrical: Tidak timbul; Interossei: Normal

Kesimpulan
 Sesuai dengan Carpal Tunnel Syndrome Kanan, grade 6 (dari maksimal
grade 6)

V. RESUME
Pasien perempuan, usia 63 tahun, datang ke Poli Saraf RSUD Budhi Asih,
dengan keluhan baal dan kesemutan pada jari I, II dan III kanan sejak 2 tahun
SMRS. Awalnya keluhan hanya berupa kesemutan dan baal di ujung jari I, II
dan III tangan kanan. Baal dirasakan terus menerus. Os mengatakan keluhan
memberat setelah melakukan aktivitas yang dominan pada tangan kanan seperti
mengulek dan memasak. Untuk mengurangi keluhan Os mengibaskan tangan
kanan. Dalam dua bulan SMRS Os mulai mengeluhkan nyeri yang terkadang
timbul menjalar hingga ke pangkal jari I kanan. Os mengeluh telapak tangan
kanan khususnya pada jari I, II dan III terasa lebih sensitif terhadap nyeri. Os
mengaku sering menjatuhkan barang saat menggenggam barang dan
mengatakan genggamannya kurang kuat dibandingkan dahulu. Saat ini keluhan
dirasakan hingga ke pangkal jari I, II dan III. Os mengatakan otot pada jari I
kanan tampak mengecil dan datar dibandingkan pada telapak tangan kirinya.
Pada bulan maret 2016 Os pertama kali merasakan keluhan, dan langsung
berobat ke klinik Fisioterapi. Pada tanggal 18 Maret 2017 Os mulai berobat ke
RSUD Budhi Asih dengan keluhan yang semakin memberat. Os kemudian
memulai fisioterapi di poli rehab medik RSUD Budhi Asih mulai pada tanggal
27 September 2017. Os mengatakan hingga saat ini keluhan tidak berkurang. Os
merupakan seorang IRT yang sering memasak dan mengulek dengan alat

12
tradisional. Os memiliki riwayat pekerjaan sebagai penjahit. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, tampak sakit sedang dengan
tekanan darah 140/80, nadi 75x/m, pernafasan 20x/m dan suhu 36,30C.
Pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurologi
tidak didapatkan kelainan yang bermakna. Pada pemeriksaan khusus (special
test) untuk CTS, didapatkan Tinel Sign (+/-), Phalen Sign (+/-), dan Flick Sign
(+). Pada pemeriksaan penunjang laboratoris didapatkan peningkatan kadar
kolesterol total dan kolesterol LDL. Pada pemeriksaan EMG, didapatkan kesan
CTS grade VI kanan.

VI. DIAGNOSIS KERJA


 Diagnosis Klinis : Carpal Tunnel Syndrome Dextra Grade VI
 Diagnosis Topis : Nervus Medianus dalam Terowongan Carpal
 Diagnosis Etiologi : Idiopathic entrapment neuropathy
 Diagnosis Patologi : Inflamasi

VII. TATALAKSANA
Medikamentosa :
Terapi dari Bagian Neurologi
 Cilostazol 2 x 50 mg
 Mecobalamin 1 x 500 mcg
 Alpentin 1 x 100 mg
 Neurosanbe 2 x 1 tab

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Dubia ad malam
Ad sanationam : Dubia ad malam

13
ANALISA KASUS

Pasien perempuan, usia 63 tahun, datang ke Poli Saraf RSUD Budhi Asih
untuk kontrol penyakit Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang telah diidap pasien
sejak bulan Maret 2016. Pasien saat ini masih mengeluh kesemutan dan baal pada
jari I, II, dan III tangan kanan sejak 2 tahun SMRS. Keluhan tersebut dirasakan
semakin memberat sejak bulan Maret 2017.
CTS merupakan sindrom jebakan saraf yang paling sering terjadi dan
mencakup 45% kejadian lesi saraf non-traumatis. Kejadian CTS tahunan adalah
0,1% di antara orang dewasa dan prevalensi keseluruhan adalah 2,7% di antara
populasi umum. Penyakit ini lebih sering mempengaruhi jenis kelamin perempuan
dan tangan dominan.3
CTS dapat dikaitkan dengan kondisi apapun yang menyebabkan tekanan
pada saraf median pada pergelangan tangan. Beberapa kondisi umum yang bisa
menimbulkan terjadinya CTS adalah gerakan repetitif seperti fleksi dan ekstensi,
obesitas, kontrasepsi oral, merokok, penggunaan kortikosteroid, kehamilan,
hipotiroidisme, rheumatoid arthritis, osteoartritis, diabetes mellitus dan patah
tulang pada pergelangan tangan.4
Pada kasus ini, penyebab terjadinya CTS dapat merupakan akibat dari
gerakan repetitif. Berdasarkan anamnesis didapatkan pasien sempat bekerja sebagai
penjahit, dimana tangan kanan yang lebih dominan sering digunakan untuk
menggunting dan menjahit. Serta kegiatan sehari-hari pasien seperti mengulek dan
memasak. Hubungan antara CTS dan kinerja gerakan berulang dan pekerjaan masih
menjadi perdebatan. The Occupational Safety and Health Administration (OSHA)
telah menerapkan peraturan mengenai gangguan trauma kumulatif. Faktor risiko
pekerjaan yang termasuk didalamnya adalah gerakan berulang, tekanan, postur, dan
vibrasi.5
Secara anatomi, ada 2 lokasi kompresi nervus medianus: 1) Di tepi
proksimal terowongan karpal, yang disebabkan oleh fleksi pergelangan tangan dan
karena perubahan ketebalan dan kekakuan antara fasia antebrachial dan bagian
proksimal flexor retinaculum; dan 2) Pada bagian tersempit pada hook of hamate.

14
Tekanan normal di terowongan karpal telah terekam berkisar antara 2 sampai 10
mm Hg. Perubahan drastis dari tekanan cairan di terowongan karpal telah
dilaporkan diakibatkan dari gerakan pergelangan tangan, dengan adanya ekstensi
pergelangan tangan meningkatkan tekanan hingga 10 kali lipat, dan dengan fleksi
meningkat 8 kali lipat. Bauman et al menggunakan kateter wick untuk
menunjukkan bahwa tekanan di terowongan karpal lebih tinggi pada pasien CTS
idiopatik daripada pada subjek normal. Dalam postur pergelangan tangan netral,
tekanan rata-rata yang di terowongan karpal pasien adalah 32 mmHg. Saat terjadi
fleksi pergelangan tangan, tekanan mencapai nilai 94 mmHg, tekanan mencapai
110 mm Hg saat pergelangan tangan ekstensi.6

Gambar 1. Lokasi Kompresi Nervus Medianus

Perubahan patologis yang terjadi pada ligamen yang mengelilingi saraf


termasuk perubahan jumlah dan fleksibilitas jaringan ikat dianggap menjadi dasar
peningkatan tekanan. Tekanan pada terowongan karpal yang meningkat
diperkirakan menyebabkan kompresi iskemik pada nervus medianus, dan sejumlah
studi eksperimental mendukung teori tersebut. Iskemia disebabkan akibat kompresi
eksternal dan karena tekanan yang meningkat di terowongan karpal.6
Adanya peningkatan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL pada pasien
juga dapat menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CTS. Kadar
kolesterol LDL dan hiperglikemia dilaporkan sebagai faktor risiko CTS dalam
beberapa penelitian. Sebuah studi yang dilakukan oleh Balci et al menyebutkan

15
terdapat hingga 75% pasien CTS dengan penyakit metabolik yang mendasari.
Sementara itu pada studi yang dilakukan oleh Iftikhar et al menyebutkan terdapat
70,6% subjek penelitian yang menderita penyakit CTS dan terdapat peningkatan
pada trigliserida. Hiperkolesterolemia dan terutama peningkatan kadar LDL
meningkatkan fibrogenesis pada berbagai organ dan saraf perifer. Hal ini
menyebabkan pertumbuhan saraf sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya
paparan tekanan di terowongan karpal. Studi oleh Nakamichi dan Tachibana
menyebutkan bahwa bersama dengan peningkatan prevalensi CTS bersamaan
dengan kadar LDL yang tinggi, latensi dan konduksi nervus medianus berkorelasi
dengan kadar LDL.
Pada pemeriksaan fisik khusus dilakukan Tinel dan Phalen Test. Phalen
Test diperkirakan merupakan salah satu pemeriksaan yang sensitive untuk
menegakkan diagnosis carpal tunnel syndrome, sementara itu Tinel Test dapat
digunakan untuk menegakkan diagnosis sindrom jebakan saraf lain. Patofisiologi
tanda Tinel melibatkan mekanosensivitas abnormal dari saraf yang terlibat yang
disebabkan proses penyakit. Pada tingkat sel, tanda itu mungkin disebabkan oleh
membran saraf yang mudah tereksitasi. Patofisiologi manuver Phalen melibatkan
dua aspek. Pertama, pada penderita sindroma carpal tunnel terdapat peningkatan
tekanan di terowongan karpal saat istirahat, kondisi ini diperparah dengan fleksi
pergelangan tangan. Aspek kedua meliputi serabut saraf nervus median secara
patologis abnormal. Hal ini diakibatkan dari proses penyakitnya dan menimbulkan
paresthesia saat serabut saraf terkompresi antara ligamen karpal transversal dan
tendon fleksor.
Salah satu gejala yang dapat menjadi dasar diagnosis dari CTS adalah
eksaserbasi gejala di malam hari pada saat pasien sedang beristirahat. Mekanisme
yang mendasari adalah akibat beberapa faktor yang meliputi: redistribusi cairan
ekstremitas atas pada posisi terlentang, kurangnya mekanisme pompa otot yang
berkontribusi terhadap drainase cairan interstisial di terowongan karpal,
kecenderungan untuk menempatkan pergelangan tangan pada posisi fleksi sehingga
meningkatkan tekanan intracanalikular, tekanan darah meningkat di paruh kedua
malam, dan penurunan kadar kortisol. Namun pada pasien ini tidak didapatkan

16
gejala pada malam hari. Hal ini mungkin terjadi karena berdasarkan penelitian
didapatkan hanya sebanyak 26% pasien yang mengeluhkan gejala di malam hari.6
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan Electromyography (EMG) dan
didapatkan kesimpulan bahwa pasien mengalami CTS grade VI kanan. Derajat
yang digunakan adalah The Canterbury NCS Severity Scale yang membagi
berdasarkan beratnya gangguan neurofisiologis yang terjadi yaitu dari 0 – tidak ada
abnormalitas neurofisiologis sampai 6 – CTS berat. Pada pembagian derajat
berdasarkan Canterbury, dilakukan pengukuran kecepatan hantaran saraf sensoris
dan motorik nervus medianus di pergelangan tangan. Akan diukur lantensi saraf
motorik nervus medianus distal dari pergelangan tangan ke m. abductor pollicis
brevis dan potensial aksi saraf sensoris antara jari telunjuk dan pergelangan tangan.
Pemeriksaan hantaran saraf nervus medianus adalah gold standar untuk
penegakkan diagnosis dari CTS dengan sensitivitas antara 49% dan 84% dan
spesifisitas 95% dan 99%. Pada neuropati akibat sindrom jebakan saraf akan terjadi
keterlambatan dalam kecepatan konduksi pada titik kompresi karena demielinisasi
saraf. Berikut ini adalah pembagian derajat CTS berdasarkan The Canterbury NCS
Severity Scale.8
 normal (kelas 0);
 Very mild (grade 1), CTS hanya dapat ditunjukkan dengan tes yang
paling sensitif;
 Mild (grade 2), kecepatan konduksi saraf sensorik lambat pada
pengukuran jari tangan / pergelangan tangan, latensi motorik distal
normal;
 Moderate (grade 3), potensi sensorik ada dengan potensial motorik
melambat, latensi motorik distal ke (APB) <6,5 ms;
 Severe (grade 4), potensi sensoris tidak ada tapi respons motorik ada,
latensi motorik distal ke APB <6. 5 ms;
 Very Severe (grade 5), terminal latency sampai APB> 6,5 ms;
 Extremely Severe (kelas 6), potensial aksi sensorik dan motorik tidak
dapat direkam (potensial aksi saraf motorik permukaan dari APB
<0,2 mV).

17
NCS tidak hanya dilakukan untuk menegakkan diagnosis CTS tetapi juga
membantu dalam diagnosis kondisi lain yang disertai gejala serupa misalnya.
radikulopati serviks, polineuropati, sindrom jebakan nervus medianus lainnya.
Untuk menyingkirkan diagnosis banding lain juga dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang laboratorium Hb-A1C dan pemeriksan GD2PP untuk menyingkirkan
kemungkinan neuropati akibat diabetes mellitus.
Ada beberapa pilihan metode pengobatan dan dapat dikategorikan secara
luas menjadi metode bedah dan non bedah. Metode non bedah efektif pada pasien
dengan grade CTS mild dan moderate. Metode ini ditunjukkan pada pasien yang
tidak memiliki kelemahan otot atau atrofi, tidak ada denervasi (pada pemeriksaan
EMG), dan hanya dengan kelainan ringan pada konduksi saraf.9
Tatalaksana pada pasien ini adalah dengan pemberian Cilostazol, yang
merupakan agen antiplatelet, inhibitor phosphodiesterase tipe 3 dan merupakan
vasodilator. Cilostazol memiliki efek langsung pada nerve blood flow (NBF),
menunjukkan bahwa terdapat mekanisme alternatif atau tambahan untuk
memperbaiki elektrofisiologi saraf melalui perbaikan perfusi endoneurial.
Pemberian Mecobalamin yang merupakan vitamin B12, menurut beberapa
penelitian menyebutkan bahwa pemberian vitamin B12 dosis tinggi dapat
menimbulkan peningkatan yang signifikan dalam regenerasi serabut saraf. Peran
pemberian alpentin yaitu dalam mengembalikan sistem penghambatan endogen
(endogenous inhibitory systems) yaitu senyawa yang berperan dalam jalur
penghambatan descending (descending or local inhibitory pathways).
Dibandingkan senyawa opioids, keunggulan dari senyawa yang bekerja pada sistem
GABA-ergic adalah pada penggunaan berulang/jangka panjang tidak menyebabkan
toleransi ataupun ketergantungan (addiction). Neurosanbe merupakan merupakan
suplemen vitamin B kompleks yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12.
Telah dilakukan injeksi kortikosteroid lokal pada pasien ini sebanyak 2 kali,
namun keluhan kembali timbul setahun kemudian. Tingkat respons awal terhadap
injeksi tunggal adalah sekitar 70%, namun kekambuhan sering terjadi. Tidak ada
penelitian jangka panjang yang memadai untuk mencatat kuantitas tingkat

18
kekambuhan yang tepat di luar beberapa bulan pertama. Perkiraan menunjukkan
bahwa angka kekambuhan mencapai 92% setelah dua tahun dilakukan injeksi.9
Dekompresi terowongan karpal, biasanya dilakukan dengan anestesi lokal,
dianggap sebagai pengobatan definitif. Pembedahan diindikasikan pada hampir
semua pasien dengan grading CTS moderate sampai extremely severe. Indikasi
mutlak adalah apabila sudah terjadi atrofi otot. Dua jenis pendekatan bedah yang
berbeda digunakan untuk pengobatan CTS; Open CTR dan Endoskopi. Open CTR
(OCTR) adalah pilihan tradisional dan tetap merupakan metode yang
direkomendasikan untuk perawatan bedah untuk CTS idiopatik.9 Grade CTR pada
pasien ini adalah Grade VI, serta sudah timbul atrofi otot thenar pada tangan
kanannya sehingga merupakan indikasi mutlak dilakukan terapi pembedahan.
Maka dari itu perlu dilakukan konsul ke SMF bedah saraf untuk terapi lanjut.
Pada pasien ini, prognosis ad functionam terhadap penyakitnya adalah dubia
ad malam dikarenakan pada pasien juga terdapat penyakit sistemik yang mendasari.
Menurut penelitian, pasien dengan CTS sekunder akibat dari penyakit yang
mendasarinya (misalnya diabetes, fraktur pergelangan tangan, hiperkolesterolemia)
cenderung memiliki prognosis yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan
mereka yang tidak memiliki penyakit yang mendasari.10 Sedangkan untuk
prognosis ad sanationam pada pasien ini adalah dubia ad malam mengingat pasien
merupakan ibu rumah tangga yang setiap hari akan mengerjakan pekerjaan rumah
tangga seperti memasak, mencuci baju secara tradisional, dan lain sebagianya yang
akan menyebabkan kekambuhan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Dejong RN. The Neurological Examination Revised by AF. Haerer, 5th ed,
JB Lippincott, Philadelphia, 1992; 557-9.
2. Maurice Victor, Allan H. Ropper “ Disease of Spinal Cord, Peripheral Nerve
and Muscle”. Adams and Victors Principle’s of neurology. 7th ed. USA: Mc
Graw-Hill, 2011: 1433-4.
3. Saeed MA, Irshad M. Seasonal variation and demographical characteristics
of carpal tunnel syndrome in a Pakistani population. J Coll Physicians Surg
Pak 2010; 20:798-801.
4. Sidorenkov O, Nilssen O, Brenn T, Martiushov S, Arkhipovsky VL,
Grjibovski AM. Prevalence of the metabolic syndrome and its components
in Northwest Russia: the Arkhangelsk study. BMC Pub Health 2010; 10:23.
5. Roquelaure Y, Ha C, Pelier-Cady MC, et al. Work increases the incidence
of carpal tunnel syndrome in the general population. Muscle Nerve. 2008
Jan 30. [Medline].
6. Aboonq MS. Pathophysiology of carpal tunnel syndrome. Neurosciences.
2015;20(1):4-9.
7. Nakamichi K, Tachibana S. Hypercholesterolemia as a risk factor for
idiopathic carpal tunnel syndrome. Muscle Nerve. 2005 Sep;32(3):364-7.
DOI: 10.1002/mus.20363
8. Bland JD. A neurophysiological grading scale for carpal tunnel syndrome.
Muscle Nerve. 2000 Aug;23(8):1280-3.
9. Aroori S, Spence RA. Carpal tunnel syndrome. The Ulster Medical Journal.
2008;77(1):6-17.
10. Nigel L Ashworth. Carpal Tunnel Syndrome. Benjamin M Socher. Access
on Medscape. 2013.

20