Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Keracunan adalah salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat baik
di Negara maju maupun negara berkembang. Angka yang pasti dari kejadian
keracunan di Indonesia belum diketahui secara pasti, meskipun banyak dilaporkan
kejadian keracunan di beberapa rumah sakit, tetapiangka tersebut tidak
menggambarkan kejadian yang sebenarnya di masyarakat.
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai
cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan
gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian.
Pertolongan terhadap keracunan yang ditimbulkan oleh zat apapun haruslah
dipersiapkan dengan sebaik-baikanya. Pertolongan yang keliru atau secara
berlebihan justru mendatangkan bahaya baru. Identifikasi racun merupakan usaha
untuk mengetahui bahan, zat, atau obat yang diduga sebagai penyebab terjadi
keracunan, sehingga tindakan penganggulangannya dapat dilakukan dengan tepat,
cepat dan akurat. Dalam menghadapi peristiwa keracunan, kita berhadapan
dengan keadaan darurat yang dapat terjadi dimana dan kapan saja serta
memerlukan kecepatan untuk bertindak dengan segera dan juga mengamati efek
dan gejala keracunan yang timbul.
Hal ini akan sangat darurat jika terjadi pada wanita dimasa kehamilan,
malahirkan ataupun nifas, oleh karena itu perawat gawat darurat perlu
memberikan penatalaksanaan yang cepat dan tepat terhadap proses keracunan dan
over dosis.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa Itu Keracunan Obat Dan Over Dosis?
1.2.2 Apa Itu Obstetri?
1.2.3 Bagaimana Penatalaksanaan Keracunan Obat Dan Over Dosis Pada
Kasus Obstetri ?
1.2.4 Bagaimana Asuhan Keperawatan Keracunan Obat Dan Over Dosis
Pada Kasus Obstetri?

1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk Mengetahui Apa Itu Keracunan Obat Dan Over Dosis
1.3.2 Untuk Mengetahui Apa Itu Obstetri
1.3.3 Untuk Mengetahui Bagaimana Penatalaksanaan Keracunan Obat Dan
Over Dosis Pada Kasus Obstetri
1.3.4 Untuk Mengetahui Bagaimana Asuhan Keperawatan Keracunan Obat
Dan Over Dosis Pada Kasus Obstetri

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keracunan Obat Dan Over Dosis


1. Definisi
a. Pengertian Keracunan obat
Toksisitas atau keracunan obat adalah reaksi yang terjadi karena dosis
berlebih atau penumpukkan zat dalam darah akibat dari gangguan
metabolisme atau ekskresi. Perhatian harus diberikan pada dosis dan
tingkat toksik obat, dengan mengevaluasi fungsi ginjal dan hepar.
Beberapa obat dapat langsung berefek toksik setelah diberikan, namun
obat lainnya tidak menimbulkan efek toksik apapun selama berhari-hari
lamanya.
Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ.
Hal yang umum terjadi adalah nefrotoksisitas (ginjal), neurotoksisitas
(otak), hepatotosisitas (hepar), imunotoksisitas (sistem imun), dan
kardiotoksisitas (jantung). Pengetahuan tentang efek toksisitas obat akan
membantu perawat untuk mendeteksi dini dan mencegah kerusakan organ
secara permanen pada klien.

b. Over Dosis
Overdosis biasa disingkat OD adalah mengkonsumsi obat yang
berlebihan. Overdosis adalah keadaan dimana seseorang mengalami
ketidaksadaran akibat menggunakan obat terlalu banyak. Ketika batas
toleransi tubuh dalam mengatasi zat tersebut terlewati (melebihi toleransi
badan) maka hal ini dapat terjadi.
Overdosis (OD) atau kelebihan dosis terjadi apabila tubuh
mengabsorbsi obat lebih dari ambang batas kemampuannya (lethal doses).
Biasannya hal ini terjadi akibat adanya proses toleransi tubuh terhadap

3
obat yang terjadi terus menerus , baik yang digunakan oleh para pemula
maupun para pemakai yang konis.

2. Etiologi
a. Keracunan
Penggunaan obat yang tidak sesuai.
b. Overdosis
 Penggunaan obat yang dosis nya tidak sesuai atau berlebihan dari yang
seharusnya.
 Mengkonsumsi obat yang lebih dari satu jenis/kualitas barang
dikonsumsi berbeda.

3. Patofisiologi
a. Keracunan
Keracunan umumnya tidak khas dan dipengaruhi oleh cara
pemberian, apakah melalui kulit, mata, paru, lambung atau suntikan,
karena hal ini mungkin mengubah tidak hanya kecepatan absorpsi dan
distribusi suatu bahan toksik, tetapi juga jenis dan kecepatan
metabolismenya. Pada penyelidikan diperlihatkan bahwa sejumlah kecil
toksin mengganggu hantaran saraf di dekat percabangan akhir dan di
ujung serabut saraf dan menghambat dan menginaktivasikan enzim
asetilkolinesterase. Enzim secara normal menghancurkan asetilkolin yang
dilepaskan oleh susunan saraf pusat, ganglion autonom, ujung-ujung saraf
simpatis dan ujung-ujung saraf motorik. Hambatan asetilkolinesterase
menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin pada tempat-
tempat tersebut.
Pada susunan saraf pusat, perangsangan permulaan akan segera di
ikuti dengan depresi sel-sel yang menyebabkan kekejangan (konvulsi)
yang kemudian di ikuti dengan gangguan/penurunan kesadaran,
rangsangan permulaan dan di ikuti dengan hambatan pada ganglion

4
autonom menyebabkan gangguan/disfungsi yang bervariasi dan multiple
alat-alat tubuh yang dipersyarafi oleh system syaraf autonom.
Penumpukan asetilkolin pada ujung syaraf simpatis menyebabkan
konstriksi pupil, penglihatan kabur, stimulasi otot-otot intestinal, kontriksi
otot-otot bronchial dengan gejala-gejala gangguan pernapasan.
b. Over dosis
Overdosis dapat terjadi kesengajaan ataupun ketidaksengajaan.
Kesengajaan overdosis biasanya terjadi pada anak muda atau orang
dewasa yang mengalami gangguan mental yang mengakibatkan mereka
memakan obat melebihi dosis yang telah ditentukan. Sedangkan
ketidaksengajaan biasanya terjadi pada anak-anak yang mempunyai rasa
ingin tahu yang kuat terhadap hal baru.
Perubahan TTV (Tanda-Tanda Vital) yang bisa meningkat, menurun
atau bahkan hilang sama-sekali. Mengantuk, kebingungan yang bahkan
bisa menyebabkan koma. Nafas bisa saja menjadi lebih cepat atau lebih
lambat, dalam atau dangkal. Sakit perut, mual, muntah, yang terkadang
disertai darah pada muntah maupun feses yang juga bisa menyebabkan
diare. Pada pasien overdosis yang mengalami overdosis dan
menyebabkan muntahnya masuk ke paru yang nantinya akan sangat
berbahaya bagi tubuh pasien tersebut.

4. Manifestasi Klinis
a. Keracunan
Gejala keracunan yang ditimbulkan dari penggunaan obat yang
berlebihan salah satunya penggunaan pada obat paracetamol bias
mengakibatkan kondisi yang sangat bervariasi.
b. Over dosis
Gejala yang ada biasanya terjadi 24 jam setelah overdosis. Gejala yang
ditimbulkan ketika mengalami overdosis biasanya berupa :
 Muntah

5
 Mual
 Berkeringat
 Lesu
 Kehilangannafsumakan
 Diare.

5. Prinsip umum penatalaksanaan keracunan dan overdosis


Tujuan terapi keracunan dan overdosis adalah mengawasi tanda-tanda vital,
mencegah absorpsi racun lebih lanjut, mempercepat eliminasiracun, pemberian
antidot spesifik, dan mencegah paparan ulang.Terapi spesifik tergantung dari
identifikasi racun, jalan masuk, banyaknya racun, selang waktu timbulnya gejala,
dan beratnya derajat keracunan. Pengetahuan farmakodinamik dan farmakokinetik
substansi penyebab keracuan amatlah penting.
Selama fase pretoksik, sebelum onset keracunan, prioritas pertama adalah
dekontaminasi segera berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah
dan singkat Juga disarankan pemasangan i.v. line dan monitoring jantung,
khususnya pada penderita keracunan per oral serius atau penderita dengan
anamnesis yang tidak jelas.
Bila anamnesis penderita tidak jelas, dan diduga keracunan akan terjadi secara
lambat atau akan terjadi kerusakan ireversibel, sebaiknya dilakukan pemeriksaan
toksikologi darah dan urin, serta dilakukan pemeriksaan kuantitatif bila ada
indikasi. Selama absorpsi dan distribusi berlangsung, kadar racun dalam darah akan
lebih tinggi dibandingkan kadar di jaringan, sehingga tidak berhubungan dengan
toksisitasnya. Namun bila metabolit racun tinggi kadarnya dalam darah dan lebih
toksik dibanding bentuk asalnya (asetaminofen, etilen glikol, atau methanol), maka
diperlukan intervensi tambahan (antidot, dialisis).
Kebanyakan pasien yang asimtomatis setelah terpapar racun per oral dalam 4-6
jam, dapat dipulangkan dengan aman. Observasi lebih lama dibutuhkan bila
terdapat keracunan per oral yang menyebabkan lambatnya pengosongan lambung
dan motilitas usus dimana disolusi, absorpsi, dan distribusi racun dengan sendirinya

6
juga lebih lambat. Pada racun yang dalam tubuh akan diubah menjadi metabolit
toksik, juga diindikasikan observasi lebih lanjut.
Selama fase toksik, yaitu waktu antara onset keracunan sampai dengan
terjadinya efek puncak, penatalaksanaan berdasarkan pada penemuan klinis dan
laboratorium. Setelah overdosis, akan segera timbul efek-efeknya lebih awal, yang
kemudian memuncak, dan tetap bertahan lebih lama dibandingkan bila obat tersebut
diberikan pada dosis terapi. Prioritas pertama untuk dilakukan adalah resusitasi dan
stabilisasi. Terhadap semua pasien yang simtomatis harus dilakukan pemasangan
i.v. line, penentuan saturasi oksigen, monitoring jantung, dan observasi kontinu.
Pemeriksaan laboratorium dasar, EKG, dan x-ray dapat berguna.
Pada penderita dengan perubahan status mental, khususnya pada kasus koma
maupun kejang, harus dipertimbangkan pemberian glukosa i.v. (kecuali bila
kadarnya normal), naloxone, dan thiamine. Dekontaminasi dapat berguna juga.
Harus dipikirkan manfaat dan resikonya bila dilakukan upaya percepatan
eliminasi racun. Syaratnya adalah diagnosis pasti dengan konfirmasi laboratoris.
Dialisis intestinal dengan pemberian karbon aktif berulang biasanya aman dan dapat
mempercepat eliminasi. Terapi diuresis dan khelasi hanya mempercepat eliminasi
sejumlah kecil racun, serta memiliki potensi komplikasi. Metode ekstrakorporeal
efektif untuk mengeluarkan banyak racun, tetapi biaya dan resikonya juga besar,
sehingga penggunaanya terbatas pada.keracunan berat.
Selama fase resolusi, perawatan suportif dan monitoring harus kontinu
dilakukan sampai abnormalitas klinis, laboratoris, maupun EKG membaik. Karena
bahan-bahan kimia dalam darah lebih dulu dieliminasi dibandingkan yang dari
jaringan, maka kadarnya dalam darah selalu lebih rendah dari kadarnya di jaringan
sehingga tidak berkorelasi dengan toksisitasnya.. Hal ini menjadi dasar prosedur
ekstrakorporeal. Redistribusi dari jaringan dapat menyebabkan peningkatan balik
racun dalam darah setelah selesainya prosedur ini. Bila metabolit racun yang
menyebabkan efek toksiknya, maka pada penderita yang telah asimtomatis tetap
harus diberikan terapi karena masih terdapat potensi toksik kadarnya metabolitnya
dalam darah (asetaminofen, etilen glikol, dan methanol).

7
6. Penatalaksanaan pada kasus keracunan
Penatalaksanaan kasus keracunan adalah sebagai berikut :
a. Penatalaksanaan Kegawatan
Walaupun tidak dijumpai adanya kegawatan,setiap kasus keracunan
harus diperlakukan seperti keadaan kegawatan yang mengancam nyawa.
Penilaian terhadap tanda-tanda Vital seperti jalan napas, sirkulasi,dan
penurunan kesadaran harus dilakukan secara cepat.
b. Resusitasi
Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan, periksa pernafasan dan
nadi. Infus dextrose 5 % kec. 15-20 tts/menit. Nafas buatan, oksigen,
hisap lendir dalam saluran pernafasan, hindari obat-obatan depresan
saluran nafas, kalau perlu respirator pada kegagalan nafas berat. Hindari
pernafasan buatan dari mulut kemulut, sebab racun organo fhosfat akan
meracuni lewat mlut penolong.Pernafasan buatan hanya dilakukan
dengan meniup face mask atau menggunakan alat bag – valve – mask.
c. Eliminasi
Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar
atau dengan pemeberian sirup ipecac 15 - 30 ml. Dapat diulang setelah
20 menit bila tidak berhasil. Katarsis (intestinal lavage) dengan
pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus halus dan besar.
Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya
menurun,atau pada penderita yang tidak kooperatif. Hasil paling efektif
bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.
Keramas rambut dan memandikan seluruh tubuh dengan sabun.
Emesis,katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila
keracunan terjadi kurang dari 4 – 6 jam . pada koma derajat sedang
hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya dukerjakan dengan
bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi
pnemonia.

8
d. Pemberian antidot/penawar
Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah
mengatasi keadaan sesuai dengan masalah. Atropin sulfat (SA) bekerja
dengan menghambat efek akumulasi pada tempat penumpukan.
 Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mg
 Dilanjutkan dengan 0,5 – 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menit sampai
timbul gejala-gejala atropinisasi ( muka merah, mulut
kering,takikardi,midriasis,febris dan psikosis).
 Kemudian interval diperpanjang setiap 15 – 30 - 60 menit
selanjutnya setiap 2 – 4 –6 – 8 dan 12 jam.
 Pemberian SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam. Penghentian
yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema
paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal.
e. Penilaian Klinis
f. Upaya yang paling penting adalah anamnese atau aloanamnesis yang
rinci. Beberapa pegangan anamnesis yang penting dalam upaya
mengatasi keracunan, ialah :
 Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang
digunakan,termasuk yang sering dipakai
 Kumpulkan informasi dari anggota keluarga,teman dan petugas
tentang obat yang digunakan.
 Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada
untuk pemeriksaan toksikologi
 Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik
 Pada pemeriksaan fisik diupayakan untuk menemukan
tanda/kelainan fungsi autonom yaitu pemeriksaan tekanan darah,
nadi, ukuran pupil, keringat, air liur, dan aktivitas peristaltik usus.
g. Dekontaminasi
Umumnya bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit
sehingga dekontaminasi permukaan sangat diperlukan. Di samping

9
itu,dilakukan dekontaminasi saluran cerna agar bahan yang tertelan
hanya sedikit diabsorpsi,biasanya hanya diberikan pencahar,obat
perangsang muntah,dan bilas lambung. Induksi muntah atau bilas
lambung tidak boleh dilakukan pada keracunan parafin,minyak tanah,
dan hasil sulingan minyak mentah lainnya. Upaya lain untuk
megeluarkan bahan/obat adalah dengan dialisis.
h. Terapi suportif, konsultasi, dan rehabilitasi
Terapi suportif, konsultasi dan rehabilitasi medik harus dilihat secara
holistik dan efektif dalam biaya.
i. Observasi dan konsultasi
j. Rehabilitasi

2.2 Obstetri
Secara bahasa, kata “Obstetri “ berasal dari bahasa Latin “obstare”, yang
berarti “siap siaga/ to stand by” adalah spesialisasi pembedahan yang
menangani pelayanan kesehatan wanita selama masa kehamilan, persalinan
dan nifas.
Obstetri merupakan cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan
persalinan, hal-hal yang mendahuluinya dan gejala-gejala sisanya (Oxford
English Dictionary, 1933). Obstetri terutama membahas tentang fenomena
dan penatalaksanaan kehamilan, persalinan puerperium baik pada keadaan
normal maupun abnormal. Nama lain obstetri adalah mid wifery.
Ilmu Obstetri atau yang lebih awam dikenal dengan Ilmu Kebidanan
adalah bagian dari ilmu kedokteran yang khusus mempelajari segala persoalan
yang bersangkutan dengan kelahiran bayi. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa yang menjadi objek ilmu ini adalah kehamilan, persalinan, nifas, dan
bayi yang baru dilahirkan.
Tujuan obstetri yaitu agar supaya setiap kehamilan yang diharapkan dan
berpuncak pada ibu dan bayi yang sehat. Juga berusaha keras mengecilkan

10
jumlah kematian wanita dan bayi sebagai akibat proses reproduksi atau
jumlah kecacatan fisik, intelektual dan emosional yang diakibatkannya.

2.3 Keracunan Obat Kasus Obsetri


Obat yang Harus Dihindari Agar Tak Berpengaruh Pada Janin
a. Obat Anti-Inflamasi Nonsterold seperti asam mefenamat harus dihindari
terutama pada usia kehamilan ketujuh sampai kesembilan, kecuali
mendapat pertimbangan dokter karena manfaatnya lebih besar ketimbang
risiko terhadap janin.
b. Obat Cacing Mebendazol, sebaiknya hindari obat itu karena belum
diketahui aman atau tidaknya bagi ibu hamil.
c. Obat Asma Salbutamol belum diketahui persis tingkat keamanannya bagi
ibu hamil. Bagi penderita asma yang sedang hamil sebaiknya gunakan
obat asma yang disemprot ke mulut (inhalasi) untuk meminimalkan
dampak buruk terhadap janin.
d. Obat Analgesik seperti antiplatelet asetosal dan antipiretik sebaiknya
dihindari terutama pada usia kehamilan ketujuh sampai kesembilan. Obat
ini bisa meningkatkan risiko pendarahan ketika proses persalinan.
Penggunaan dalam dosis tinggi bisa mengakibatkan hipertensi yang
menetap pda bayi yang baru lahir.
e. Penggunaan obat antimabuk seperti dimenhidrinat pada ibu hamil dan
menyusui harus atas persetujuan dokter terlebih dahulu.
f. Dalam perjalanan seperti dimenhidrinat, ibu hamil dan menyusui harus
berkonsultasi dulu ke dokter sebelum menggunakan obat ini
g. Obat pengurang rasa sakit seperti aspirin yang dosisnya lebih dari 81 mg
dan obat-obat lainnya yang mengandung ibuprofen serta obat anti-
inflamasi non steroid.
h. Obat sembelit seperti mineral oil.
i. Obat migren golongan ergotamin.
j. Obat rematik

11
k. Obat jerawat seperti roaccutane serta vitamin A oral lainnya.

Kelebihan konsumsi vitamin A dapat menyebabkan gejala keracunan


yang umumnya ditandai dengan gejala sakit kepala, sakit dibagian perut,
mual, muntah, gangguan kesadaran, dan gangguan pada penglihatan. Pada
kondisi khusus, gejala lain yang nampak dapat berupa rasa sakit pada
tulang.
Kondisi keracunan kehamilan bisa menjadi sangat berbahaya ketika
terlanbant ditangani. Sehingga ibu mungkin bisa mengalami resiko termasuk
kelahiran premature hingga kematian ibu dan janin. Salah satu Keracunan
kehamilan pada ibu hamil juga di kenal dengan preeklampsia. Kondisi
ini dialami oleh sebagian wanita tidak lama setelah mereka menjalani
persalinan, biasa dimulai pada sekitar dua bulan kehamilan.
Gejala Keracunan Kehamilan Paling Berbahaya
Kondisi keracunan kehamilan bisa menjadi sangat berbahaya ketika
terlambat untuk ditangani. Sehingga ibu mungkin bisa mengalami resiko
termasuk kelahiran prematur hingga kematian ibu dan janin. Untuk itu
beberapa gejala keracunan kehamilan harus segera diatasi.
1. Tekanan darah Tinggi
Tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang terjadi pada akhir
kehamilan bisa muncul akibat adanya riwayat darah tinggi sebelumnya
atau tidak sama sekali. Kondisi tekanan darah tinggi digambarkan
sebagai sebuah keadaan ketika tekanan darah menjadi 140/90 atau
lebih tinggi dari angka ini. Biasanya selama kehamilan tekanan darah
naik sebanyak 15 angka untuk diastolik dan 30 angka atau lebih untuk
sistolik. Jika ibu hamil mengalami kondisi ini maka sebaiknya mencari
perawatan dokter agar segera bisa diatasi.
2. Ada protein dalam urin
Gejala keracunan kehamilan juga sering menyebabkan adanya temuan
protein dalam urin. Kondisi ini menyebabkan adanya sebuah kondisi

12
ketika ginjal bekerja dengan keras untuk menyaring albumin atau
protein berlebihan dalam tubuh ibu hamil. Pemeriksaan kadar protein
dalam urin ini bisa dilakukan di laboratorium dengan mengambil
sampel dari urin ibu hamil. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan 300
mg/dL protein dalam urin sudah menunjukkan kondisi keracunan
kehamilan. Kemudian jika pengulangan pemeriksaan dilakukan dalam
waktu 24 jam dan hasilnya mendekati atau lebih tinggi dari jumlah
tersebut maka ibu hamil harus mendapatkan perawatan.
3. Sering sakit kepala
Ibu hamil memang sering sait kepala, terutama pada trimester pertama.
Sakit kepala yang muncul pada trimester ketiga adalah gejala
keracunan kehamilan yang sangat sering terjadi. Sakit kepala
digambarkan sebagai sebuah kondisi ketika kepala sakit, berputar,
nyeri pada salah satu sisi atau migrain, dan bisa bertahan dalam waktu
yang lama. Jika ibu hamil sudah mencoba meminum obat sakit kepala
namun gejala masih tidak berkurang maka ibu harus segera konsultasi
dengan dokter.
4. Ibu lebih gelisah dan sesak nafas
Beberapa gejala keracunan kehamilan terkadang juga menyebabkan
dada sesak saat hamil. Ibu hamil menjadi lebih cemas, bingung,
perasaan sedih, dan diikuti dengan sesak nafas. Gejala ini bisa menjadi
pertanda adanya depresi dan juga pembentukan cairan dalam paru-
paru. Kondisi bisa menjadi lebih buruk jika ibu hamil tidak bisa makan
dengan baik sehingga terasa nyeri usus.
5. Hyperreflexia
Sebuah reaksi ketika bagian sistem syaraf ibu hamil memberikan
rangsangan yang sangat kuat terhadap respon. Kondisi ini biasanya
akan diperiksa dengan memukul bagian lutut dengan palu karet.
Kemudian kaki ibu hamil bisa bergerak atau memantul keatas dengan
sangat cepat. Jika dibayangkan kecepatan gerakan kaki ibu tidak

13
seperti ibu hamil lainnya yang sehat. Respon ini bisa terjadi pada ibu
hami yang sudah mengalami kejang atau belum sama sekali. Biasanya
dokter akan memberikan obat yang mengandung magnesium sulfat
untuk mengatasi masalah ini. Namun dosis memang harus
diperhatikan untuk mengatasi kelebihan dosis. Kelebihan dosis
magnesium sulfat bisa menyebabkan respon atau tekanan syaraf yang
sangat lambat pada ibu hamil.
6. Pandangan mata menjadi kabur
Ibu yang mengalami keracunan kehamilan juga bisa mengalami
pandangan mata yang kabur. Hal ini bisa disebabkan karena adanya
gangguan pada bagian sistem syaraf pusat sehingga menyebabkan
terjadinya pembengkakan otak. Gejala lain yang bisa diamati oleh ibu
hamil termasuk respon yang sangat lambat terhadap fungsi mata, mata
menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, adanya pandangan mata yang
lebih gelap dan kondisi mata yang kurang sehat. Tidak ada cara untuk
mengatasi ini secara tradisional, sehingga ibu harus pergi ke rumah
sakit untuk mendapatkan bantuan dokter.
7. Kenaikan berat badan
Kenaikan berat badan untuk ibu hamil yang terjadi secara tiba-tiba
bukan termasuk sebagai gejala obesitas untuk ibu hamil. Kenaikan
berat badan bahkan terlihat sangat tinggi setiap minggu dan ini
menjadi gejala keracunan kehamilan. Penyebab kondisi ini adalah
adanya kerusakan pada sistem pembuluh darah yang kemudian
menyebabkan banyak cairan dalam tubuh ibu hamil. Artinya bahwa
cairan yang seharusnya terbuang menjadi urin melewati penyaringan
dalam ginjal tidak berjalan dengan baik. Jika ibu hamil mengalami
kondisi ini sebaiknya tidak melakukan diet atau usaha lain untuk
menurunkan berat badan. Kondisi ini harus segera mendapatkan
perawatan sebelum menjadi lebih parah. Selain itu kenaikan berat

14
badan juga bisa menyebabkan bayi besar dalam kandungan dan bahaya
obesitas bagi ibu hamil.
8. Sakit perut sisi kanan
Ibu hamil memang terkadang mengalami masalah gangguan perut
yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Kondisi ini bisa menjadi lebih
parah jika ibu juga terkena keracunan kehamilan. Rasa sakit perut pada
ibu hamil karena keracunan akan terpusat pada bagian kanan bawah.
Terutama pada bagian sisi sekitar rusuk. Terkadang ibu hamil
menganggapnya sebagai gejala maag, sakit flu, masalah pencernaan
dan juga ketika bayi banyak bergerak. Namun ini sebenarnya bisa
terjadi pada bagian hati sehingga mungkin masalah keracunan
kehamilan ini sudah parah.
9. Nyeri punggung bawah
Biasanya ibu hamil memang akan merasa bagian tubuh menjadi tidak
nyaman. Kondisi ini sering terjadi pada ibu hamil yang sering berdiri
atau duduk dalam waktu lama. Namun jika rasa sakit selalu terpusat
pada bagian punggung bawah maka bisa menjadi ciri keracunan
kehamilan. Kondisi ini bisa terjadi akibat otot bagian tubuh menjadi
sangat tegang. Namun ketika nyeri berkembang dari bagian punggung
ke bagian leher atas dan bergerak ke kanan maka ini menjadi kondisi
yang sangat berbahaya. Ibu harus segera ke dokter untuk mencari tahu
penyebab rasa sakit itu termasuk jika terkena keracunan kehamilan.
10. Mual dan muntah berlebihan
Mual dan muntah biasanya memang dialami ibu hamil terutama saat
masuk trimester pertama. Namun masalah ini biasanya sangat jarang
dialami oleh ibu hamil yang sudah masuk trimester kedua dan ketiga.
Namun ibu hamil harus menandai jika mual dan muntah ini
disebabkan karena kelalahan, masuk angin atau bahkan gangguan
fungsi hati. Jika mual dan muntah sama sekali tidak membaik setelah
beberapa hari maka ibu harus segera pergi ke dokter. Dalam

15
pemeriksaan dokter biasanya akan menguji kadar protein untuk
mencari tahu adanya keracunan kehamilan.
11. Mengantuk berlebihan
Perasaan mengantuk terus menerus menyebabkan tubuh ibu hamil
berat untuk digunakan bergerak. Biasanya ibu hamil cepat ngantuk
ketika kelelahan. Tapi jika kondisi ini muncul selama trimester ketiga
maka bisa menjadi hal yang sangat berbahaya. Mengantuk menjadi
pertanda ketika tubuh ibu tidak bisa memberikan respon yang baik
terhadap lingkungan. Terlebih jika ibu sudah mengalami tekanan darah
tinggi, maka mata akan sulit untuk terbuka dan selalu ingin tidur.
12. Kulit ibu menjadi gatal
Salah satu gejala awal keracunan kehamilan bisa menyebabkan kulit
ibu hamil menjadi lebih gatal. Penyakit ini bisa muncul mulai dari
kulit atas tubuh ibu hamil hingga mencapai organ intim. Gejala lain
yang bisa terjadi termasuk cemas, sering marah, tidak bisa tidur
dengan baik dan depresi. Namun pengujian oleh dokter tetap
diperlukan karena ini bisa menjadi pertanda penyakit diabetes atau
alergi sehingga menyebabkan kulit gatal-gatal.
13. Osteomalacia dan Tetani
Osteomalacia adalah sebuah kondisi yang menyebabkan tubuh ibu
hamil tidak bisa menyerap kalsium dan fosfor dengan baik. Kondisi ini
bisa menyebabkan dampak yang sangat buruk untuk ibu hamil karena
bagian tulang ibu menjadi lebih cepat patah. Kemudian ketika tubuh
ibu kekurangan fosfor maka bisa menyebabkan otot ibu menjadi lebih
sering kram. Bagian kaki menjadi sering kram bahkan meskipun tidak
digunakan untuk beraktifitas. Keadaan ini bisa menjadi lebih buruk
jika ibu hamil juga kekurangan nutrisi sepanjang kehamilan.
14. Kejang dan koma
Keracunan kehamilan yang tidak segera mendapatkan perawatan bisa
menyebabkan masalah yang sangat berat. Setelah ibu mengalami sakit

16
perut terus menerus lalu diikuti dengan gangguan sistem syaraf pusat
maka ibu bisa mengalami kejang. Kejang menandakan adanya respon
yang sangat buruk atau reaksi berlebihan dari otak ke bagian syaraf
tubuh yang lain. Kemudian jika kejang tidak segera ditangani maka
bisa menyebabkan koma. Ini dampak yang sangat serius karena bisa
menyebabkan kematian ibu dan bayi.
15. Berbagai gejala keracunan kehamilan memang membutuhkan
perawatan khusus. Semua tanda – tanda ini biasanya muncul pada
akhir kehamilan. Karena itu pemeriksaan kehamilan sangat penting
dilakukan secara rutin. Dan ini penting untuk mencegah dampak
kesehatan yang buruk untuk ibu dan mengetahui perkembangan janin
selama dalam kehamilan.

17
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, suku, bangsa, status, pekerjaan,
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama diketahui
setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma
toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.
Apakah klien pernah menderita :
 Penyakit stroke.
 Infeksi otak.
 Diabetes mellitus.
 Diare dan muntah yang berlebihan.
 Tumor otak.
 Intoksiasi insektisida.
 Trauma kepala.
 Epilepsy.

c. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan
nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa, adanya gangguan asam basa,
keadaan status jantung, status kesadaran.

Airway
1. Memastikan ada tidaknya sumbatan jalan nafas
Sumbatan jalan nafas total: pasien koma tidak terdengar suara nafas dan
terjadi sianosis
2. Adanya Distress pernafasan

18
Breathing
Memastikan pasien masih bernafas atau sudah tidak bernafas, diantarannya
dengan 3 cara:
1. LOOK: lihat pergerakan dada, irama, kedalaman, simetris atau tidak
2. LISTEN: dengarkan suara nafas dengan stetoskop
3. FEEL: rasakan adanya hembusan nafas dari hidung

Circulation
1. Memastikan ada tidaknya denyut nadi karotis
2. Ada tidaknya tanda-tanda koma
3. Ada tidaknya perdarahan eksternal

d. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan yang memberikan petunjuk mengenai agens yang digunakan
pasien :
 Pemeriksaan elektrolit
 Fungsi hati
 Urinalisis
 Elektorkardiografi, osmolalitas serum

3.2 Diagnosa
1. Resiko cidera terhadap janin dan ibu b.d pajanan kimia toksik
2. Pola nafas tidak efektif b.d nafas cepat dan dalam
3. Kekurangan volume cairan b.d mual muntah
4. Gangguan perfusi jaringan serebral
5. Resiko gangguan hubungan ibu-janin b.d penyalahgunaan zat

19
Aplikasi NANDA,NOC,NIC

No NANDA NOC NIC

1 Resiko cidera 1. Kontrol kejang 1. Manajemen kejang


terhadap janin Indikator:
Aktivitas:
dan ibu b.d  Menggunakan obat
pajanan kimia yang diresepkan  Pertahankan jalan nafas

toksik  Memperoleh obat  Monitor arah kepala

yang dibutuhkan dan mata selama kejang

 Kontak tenaga  Longgarkan pakaian

kesehatan  Tetap bersama pasien

professional ketika selama kejang

efek samping obat  Bangun akses IV


terjadi dengan tepat

 Menghindari kejang  Pasang oksigen dengan


yang menjadi pemicu tepat
/ faktor risiko  Monitor status
neurologi
 Monitor vital sign
 Reorientasi setelah
kejang
 Catat karakteristik
kejang ( seperti, bagian
tubuh yang terlibat,
aktivitas motorik, dan
perkembangan kejang)
 Kelola obat dengan
benar
 Kelola antikonvulsan

20
dengan tepat
 Monitor tingkat obat
antiepilepsi dengan
tepat
2. Pencegahan kejang
Aktivitas:

 Memantau regimen
obat
 Monitor kepatuhan
dalam mengosumsi
obat antiepileptic yang
diambil dan terjadinya
kejang
 Menginstruksikan
pasien tentang
pengobatan dan efek
samping
 Tetap suction di
samping tempat tidur
 Ambu bag di samping
tempat tidur
2 Pola nafas tidak 1. Status Respirasi : 1. Manajemen Jalan Nafas
efektif b.d nafas Ventilasi Aktifitas :
cepat dan dalam Indikator :
 Membuka jalan napas,
 Rata-rata pernafasan
dengan menggunakan
 Ritme perafasan
teknik jaw thrust yang
 Kedalaman inspirasi
sesuai
 Volume tidal
 Posisikan pasien
 Kapasitas vital

21
untuk memaksimalkan
potensi ventilasi
 Masukkan jalan napas
melalui mulut atau
nasofaring yang sesuai
 Bersihkan sekret
dengan menganjurkan
batuk atau suction
 Auskultasi bunyi
nafas, mencatat daerah
menurun atau
hilangnya ventilasi
dan bunyi tambahan
 Melakukan
endotrachea
pengisapan yang
sesuai
 Mengelola udara
lembab atau oksigen
yang sesuai
 Mengatur asupan
cairan untuk
mengoptimalkan
keseimbangan cairan
 Mengaturposisi untuk
mengurangi dyspnea
 Memonitor
pernapasan dan status
oksigenasi yang sesual

22
2. Pemantauan Respirasi
Aktivitas:

 Monitor frekuensi,
irama, kedalaman dan
kekuatan respirasi
 Catat pergerakan dada,
lihat kesimetrisannya,
penggunaan otot bantu
nafas dan retraksi
supraclavicular dan otot
intercostal
 Pantau suara nafas
ngorok atau menciut
 Pantaupola pernafasan :
bradipnea, takipnea
hiperventilasi,pernafasa
n kusmaul, pernafasan
chines stokes, apnea,
respirasi biot dan pola
ataxic
 Memantau tingkat
saturasi oksigen secara
terus-menerus pada
pasien dibius ( SaO2 ,
SvO2 , SpO2) per
kebijakan lembaga dan
menunjukkan dibius
 Pantau adanya fatigue
pada otot diafragma

23
(paradoxical motion)
 Auskultasi bunyi nafas,
catat area dimana
terjadi penurunan atau
tidak adanya ventilasi
dan adanya suara nafas
tambahan
 Catat perubahan SaO2 ,
SVO2 dan CO2 tidal dan
perubahan nilai ABG
 Pantau adanya dispnea
dan kejadian yang
menyebabkan atau
meningkatkannya.
 Pantau adanya krepitus
 Pantau chest x-ray
 Lakukan usaha
resusitasi bila
diperlukan
3 Kekurangan 1. Keseimbangan cairan 1. Manajemen Cairan
Volume cairan Indikator :  Pertahankan catatan
b.d mual muntah  Kesimbangan intake & intake dan output yang
output (24jam) akurat
 Perubahan suara napas (-)  Monitor status hidrasi
 Kestabilan berat badan (kelembaban membrane
 Asites (-) mukosa, nadi adekuat,
 Edema Perifer (-) tekanan darah

 Mata yang cekung (-) ortostatik), jika

 Konfusi yang tidak diperlukan

24
tampak  Monitor vital sign
 Rasa haus abnormal (-)  Monitor masukan
 Hidrasi kulit makanan / cairan dan
 Kelembaba nmukosa kulit hitung intake
 Kalori harian

2. Keseimbangan elektrolit  Kolaborasikan


dan asam basa pemberian cairan IV
Indikator :  Monitor status nutrisi
 Denyut jantung :  Berikan cairan IV pada
DBH* suhu ruangan
 Iramaj antung : DBH  Dorong masukan oral
 Pernapasan : DBH  Berikan pengganti
 Irama napas : DBH annesogatrik sesuai
 Sodium serum output
 Pottasium serum  Kolaborasi dokter jika
 Klorida serum tanda cairan berlebih
 Kalsium serum muncul
 Magnesium serum  Atur kemungkinan
 pH serum : DBN* tranfusi

 Status kesadaran  Persiapan untuk

 Orientasi kognitif tranfusi

 Kekuatan otot 2. Manajemen Elektrolit


 Monitor serum
elektrolit abnormal
 Catat intake dan output
secara akurat
 Berikan cairan
intravena yang berisi
elektrolit

25
 dengan aliran yang
konstan
 Berikan suplemen
elektrolit
 Monitor hilangnya
cairan yang kaya
elektrolit
 (NGT suction drainase,
illeosomi, diare,
drainase
 luka, diaforesis)
 Monitor efek samping
pemberian suplemen
elektrolit

26
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Toksisitas atau keracunan obat adalah reaksi yang terjadi karena
dosis berlebih atau penumpukkan zat dalam darah akibat dari gangguan
metabolisme atau ekskresi. Perhatian harus diberikan pada dosis dan
tingkat toksik obat, dengan mengevaluasi fungsi ginjal dan hepar.
Beberapa obat dapat langsung berefek toksik setelah diberikan, namun
obat lainnya tidak menimbulkan efek toksik apapun selama berhari-hari
lamanya.
Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ.
Hal yang umum terjadi adalah nefrotoksisitas (ginjal), neurotoksisitas
(otak), hepatotosisitas (hepar), imunotoksisitas (sistem imun), dan
kardiotoksisitas (jantung). Pengetahuan tentang efek toksisitas obat akan
membantu perawat untuk mendeteksi dini dan mencegah kerusakan
organ secara permanen pada klien.
Overdosis biasa disingkat OD adalah mengkonsumsi obat yang
berlebihan. Overdosis adalah keadaan dimana seseorang mengalami
ketidaksadaran akibat menggunakan obat terlalu banyak. Ketika batas
toleransi tubuh dalam mengatasi zat tersebut terlewati (melebihi toleransi
badan) maka hal ini dapat terjadi.
Overdosis (OD) atau kelebihan dosis terjadi apabila tubuh
mengabsorbsi obat lebih dari ambang batas kemampuannya (lethal
doses). Biasannya hal ini terjadi akibat adanya proses toleransi tubuh
terhadap obat yang terjadi terus menerus , baik yang digunakan oleh para
pemula maupun para pemakai yang konis.

27
4.2 Saran
Dengan adanya makalah ini, diharapkan penulis maupun pembaca
dapat memahami lebih lanjut mengenai Masalah tentang Keracunan Obat
Pada Kasus Obstetri. Dan bagi kelompok, dapat menjadi bahan acuan
dalam diskusi mata kuliah Keperawatan Kegawatdaruratan.

28
DAFTAR PUSTAKA

Sulistyowati, Eddy. 2010. Obat dan Pengaruhnya Terhadap Tubuh Manusia.


Yogyakarta : Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Linden,C.H., Burns,M.J. 2005. Poisoning and Drug Overdosage.Vol : 2.USA :
Harrison’s Principles of Internal Medicine
Brunner and Suddarth.2002.Keperawatan Medikal Bedah.vol.3.Jakarta:EGC

29