Anda di halaman 1dari 14

Tujuan Percobaan

Mengenal, mempraktekan, dan membandingkan cara - cara pemberian


obat terhadap ketepatan absorbsinya, menggunakan data farmakologi sebagai
tolak ukurnya.Mempelajari dan mengamati pengaruh dari obat penekan syaraf
pusat.

Dasar Teori
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis
anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh
karakteristik ini berbeda karena jumlah suply darah yang berbeda; enzim-enzim
dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal
ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasikerjanya dalam
waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G,
1989).

Rute pemberian, bioavailabilitas dan sifat-sifat umum.

Rute Bioavailibilitas (%) Sifat-sifat


Intravena (i.v) 100 (dengan Kebanyakan dengan mula
ketentuan) kerja cepat
Sering membutuhkan volume
Intramuskular (i.m) 75 sampai ≤ 100 yang besar, mungkin disertai
rasa nyeri.
Volume lebih sedikit
Subkutan (s.c) 75 sampai ≤ 100 dibandingkan dengan i.m,
mungkin dengan rasa nyeri.
Sebagaian besar sesuai, efek
Oral 5 sampai < 100
first pass mungkin berarti.
Efek first pass lebih kecil
Rektal 30 sampai < 100
dibandingkan dengan oral.
Inhalasi Mula kerja sering sangat
5 sampai < 100
cepat.
Transdermal 80 sampai ≤ 100 Absorbsi biasanya sangat
lambat, biasanya digunakan
untuk yang tidak memiliki
efek first pass, memperlama
durasi kerja.
(Katzung, 2007)
Injeksi subkutan dilakukan dengan menyuntikkan jarum menyudut 45 derajat
dari permukaan kulit. Kulit sebaiknya sedikit dicubit untuk menjauhkan jaringan
subkutis dari jaringan otot. Peragallo & Dittko (1997) menggunakan CT scan
dalam penelitian mereka dan menemukan bahwa injeksi subkutan sering kali
masuk ke jaringan otot, terutama bila dilakukan pada daerah abdomen atau paha.

Diazepam merupakan senyawa psikoaktif golongan benzodiazepin yang


penggunaannya meningkat bahkan paling banyak digunakan di amerika
(Cannizzaro et al, 2005; Marunnuci L,2008). Beberapa penelitian menyatakan
bahwa diazepam bersifat teratogen, menyebabkan terjadinya oral celft, namun
efek pada manusia masih merupakan kajian yang masih diperdebatkan (Igbal et
al, 2002; Gidai, et al.,2008).

Diazepam merupakan senyawa heterisiklik mengandung nitrogen yang


digunakan sebagai anti depresan yang bersifat analgesik.Diazepam berikatan
dengan reseptorreseptor stereospesifik benzodiazepin di neuron postsinaptik
GABA pada beberapa sisi di dalam Sistem Saraf Pusat (SSP). Dizepam
meningkatkan penghambatan efektifitas GABA dalam menghasilkan rangsangan
dengan meningkatkan permeabilitas membran terhadap ion klorida. Perubahan ini
menyebabkan ion klorida berada dalam bentuk terhiperpolarisasi (bentuk kurang
aktif/ kurang memberikan rangsangan) dan stabil [3]. Diazepam yang diberikan
pada dosis rendah dapat menyebabkan rasa kantuk, tenang dan penurunan aktifitas
motorik. Diazepam dalam dosis tinggi dapat menyebabkan depresi pada sistem
saraf pusat [4]. Sistem saraf pusat yang tertekan akan mempengaruhi salah satu
fungsi hipothalamus sebagai paengatur kgiatan vegetatif yaitu pusat regulasi
makan dan minum (J. Sains & Mat. Vol. 17 No. 3, Juli 2009: 141-144 )
Sedasi adalah obat-obat yang bekerja sebagai depresan terhadap sistem saraf
pusat dengan jalan mengurangi secara ringan kepekaan korteks atau sistem saraf
pusat sehingga aktivitas fisiologis menjadi ringan dan memberikan efek
menenangkan pada pemakai, tetapi belum sampai kategori tidur. Onset adalah
Waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa kerjanya, sedangkan

Durasi adalah lama obat menghasilkan suatu efek terapi.Sedatif dan hipnotik
adalah senyawa yang dapat menekan sistem saraf pusat sehingga menimbulkan
efek sedasi lemah sampai tidur pulas. Sedatif adalah senyawa yang menimbulkan
sedasi, yaitu suatu keadaan terjadinya penurunan kepekaan terhadap rangsangan
dari luar karena ada penekanan sistem saraf pusat yang ringan. Sedatif
mengadakan potensial dengan obat analgesik dan obat penekan sistem saraf pusat
yang lain. Barbiturat dan benzodiazepin adalah subgrup sedatif-hipnotik yang
terpenting (Katzung, 1996)

Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah di bidang kedokteran


atau biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau
sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain
persyaratan genetis /keturunan dan lingkungan yang memadai dalam
pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta
mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia.
(Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002).
Metode Percobaan

Alat :
1. Larutan baku diazepam
2. Alkohol 70%
3. Aqua (WFI)

Bahan :
1. Spuit injeksi dan jarum (1ml - 2ml)
2. Serbet
3. Tisu

Cara Kerja
PERHITUNGAN DOSIS

Langkah pengerjaan pembuatan larutan stok :

 Timbang mencit
1. Mencit : 34,8 gram
2. Mencit : 28,4 gram
3. Mencit : 29,9 gram
4. Mencit : 29,6 gram
 Dosis diazepam : 0,1 mg – 0,2 mg/kgBB
 Berat badan mencit paling berat 1 kelas : 40 gram
0,1mg
 Dosis mencit : x 40 gram=0,004 mg
1000
 IP, SC, PO, = 2:2:2 = 6 x 5 mencit = 30 ml ̴ 50 ml
50 ml
 Larutan stok : x 0,004 mg=0,239 mg ̴̴ 0,2mg
1 ml
 Berat 1 tablet diazepam yang digerus = 250 mg
 Dosis 1 tablet diazepam = 5 mg
 Berat tablet diazepam yang digunakan =

0,2mg
x 250 mg=20 mg̴̴ 0,02 g
5 mg
 0,02 gram dilarutkan dalam 5 ml NaCMC 0,5% (IM)
0,5
 Membuat larutan NaCMC 0,5% = x 55 ml=0,275 gram
100
0,275 gram dilautkan dalam 55 ml air untuk melarutkan diazepam untuk IM 5
ml dan PO, SC, AP 50 ml.

Larutan yang disuntikan (Diazepam) :


1. Mencit (34,8 gram ) Oral
0,1mg
x 34,8 gram=0,00348 mg
1000
0,00348mg
x 50 ml=0, 017 ml ̴̴ 0,02ml
0,01mg x 1000
2. Mencit (28,4 gram ) SC
0,1mg
x 28,4 gram=0,00 284 mg
1000
0,00284 mg
x 50 ml=0, 0142ml
0,01mg x 1000
3. Mencit (29,9 gram ) IP
0,1mg
x 29,9 gram=0,00299mg
1000
0,00299mg
x 50 ml=0, 014 ml
0,01mg x 1000

4. Mencit (29,6 gram ) IM


0,1mg
x 29,6 gram=0,0029 mg
1000
0,0029mg
x 50 ml=0, 00074 ml ̴̴ 0,001 ml
0,02mg x 1000


HASIL PENGAMATAN

Waktu (Menit)
No. Hewan Cara Pemberian Pemberian
Onset Durasi
1. Oral Diazepam 13:42 113
2. Oral Diazepam 15 78
3. Oral Diazepam 30:30 45:05
4. Oral Diazepam 13:32 67:08
5. Oral Diazepam 48:03 79:06
6. Oral Diazepam 5:50 32:56
7. Oral Diazepam 5 60:06
8. Oral Diazepam 42:12 51:03
9. SC Diazepam 47 80:11
10. SC Diazepam 4:27 63:55
11. SC Diazepam 34:07 60:02
12. SC Diazepam 20:23 70:20
13. SC Diazepam 20:23 50:50
14. SC Diazepam 10 50:11
15. SC Diazepam 13:45 110
16. SC Diazepam 21:04 53:07
17. IM Diazepam 13:48 107
18. IM Diazepam 15 80:45
19. IM Diazepam 15:04 60:03
20. IM Diazepam 19:49 60:50
21. IM Diazepam 23:22 50:55
22 IM Diazepam 28:59 71
23. IM Diazepam 24 57
24. IM Diazepam 25:40 53:06
25. IP Diazepam 20 79:54
26. IP Diazepam 5:29 32:56
27. IP Diazepam 32:50 80:32
28. IP Diazepam 23:24 65:57
29. IP Diazepam 40:30 90
30. IP Diazepam 6 55:43
31. IP Diazepam 10:16 52:53
32. IP Diazepam 20:15 64:28
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini mempalajari tentang rute-rute pemberian obat dan
pengaruh cara pemberian obat terhadap absorpsi obat dalam tubuh. Pada dasarnya
rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang masuk kedalam
tubuh, sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi atau kemungkinan
timbulnya efek yang merugikan. Percobaan ini menggunakan 4 mencit
(Musmusculus) yang dijadikan hewan percobaan.

Berdasarkan referensi data yang diperoleh dari National Institute of


Health Primate Research centers, 1978, syarat utama dalam pemilihan hewan
percobaan yang sesuai dan dapat dipakai sebagai model adalah bahwa proses yang
terjadi pada hewan percobaan tersebut mirip atau banyak kesamaannya dengan
proses yang terjadi pada manusia. Di samping itu mudah didapat , mudah
dikembang-biakkan dan relatif murah harganya. Secara terperinci peranan hewan
percobaan berorientasi kepada kegiatan penelitian maupun pemeriksaan
laboratorium (Edhie sulaksono,1992).

Prosedur injeksi intra muskuler adalah salah satu teknik injeksi yang
sangat sering dilakukan oleh tenaga medis dengan cara menusukkan jarum suntik
melalui permukaan kulit sampai ke lapisan otot sehingga daya efektivitas obat
dapat bekerja dengan maksimal (Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 April 2015: 112–117).
Injeksi subkutan dilakukan dengan menyuntikkan jarum menyudut 45 derajat dari
permukaan kulit. Kulit sebaiknya sedikit dicubit untuk menjauhkan jaringan
subkutis dari jaringan otot. Peragallo & Dittko (1997) menggunakan CT scan
dalam penelitian mereka dan menemukan bahwa injeksi subkutan sering kali
masuk ke jaringan otot, terutama bila dilakukan pada daerah abdomen atau paha.

Dari hasil percobaan yang dilakukan terhadap mencit, baik itu jantan
maupun betina, didapatkan hasil bahwa rute pemberian yang memberikan onset
dan durasi lebih cepat dibanding oral adalah pemberian secara Intra Muscular,
sedangkan yang memberikan onset dan durasi paling lambat adalah pada
pemberian secara oral. Jika diurutkan berdasarkan onset dan durasi paling cepat
hingga paling rendah maka didapatkan :

IM > SC >ORAL>IP

Percobaan ke 1 dengan rute pemberian secara Injeksi Oral

Pemberian obat secara Injeksi Oral mencit baru terlihat tenang pada menit
30:30 efek obat akan terlihat lama karena disebabkan banyak nya faktor yang
mempengaruhi bioavaibilitas obat yaitu jumlah obat terhadap dosis yang
mencapai sirkulasi sistemik dalam tubuh. Salah satu faktor yang mempengaruhi
adalah sifat fisiko kimia obat. Sifat fisiko kimia yang mempengaruhi antara lain :
1. Stabilitas terhadap enzim-enzim pencernaan.
2. Stabilitas pada pH lambung.
3. Ukuran molekul obat.
4. Kelarutan dalam air atau cairan saluran cerna.

Percobaan ke 2 dengan rute pemberian secara Intra Muscular

Pada mencit efek terlihat pada menit ke 15:04 menit dan mulai normal
kembali pada menit ke 50:50 menit . Tetapi pada Penelitian Barbara A bahwa
Obat diinjeksikan ke dalam lapisan otot. Resorpsi obat akan terjadi dalam 10-30
menit.

Percobaan ke 3 dengan rute pemberian secara Subkutan

Pada mencit injeksi dilakukan di bawah kulit pada daerah tengkuk. Angkat
sebagian kulit dan tusukkan jarum menembus kulit, sejajar dengan otot
dibawahnya. Pada Mencit mengalami efek obat pada menit ke 20:03 menit dan
mulai normal kembali pada menit ke 50:50 menit.
Percobaan ke 4 dengan rute pemberian secara Peritoneal

Penyuntikan secara intra peritoneal dilakukan pada perut sebelah kanan


garis tengah, tidak terlalu tinggi agar tidak mengenai hati dan kandung kemih.
Hewan dipegang pada punggung supaya kulit abdomen menjadi tegang. Pada saat
penyuntikan posisi kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan
membentuk sudut 100 menembus kulit dan masuk ke rongga peritoneal. Pada
Mencit, efek mulai terlihat timbul pada menit ke 40:30 menit . Respon onset yang
timbul yaitu tidur, bila diberi rangsangan tidak bergerak.

Dalam percobaan yang kami lakukan saat praktikum didapatkan hasil


onset dan durasi yang berbeda dengan literatur dikarenakan berbagai faktor
kesalahan yang praktikan lakukan seperti, kesalahan pemberian obat pada mencit,
kekurangan/kelebihan dosis obat, dan kondisi mencit yang stress karena tidak
mendapatkan perlakukan yang baik sebelum dilakukannya pemberian obat.

Data yang diperoleh lalu dianalisis menggunakan SPSS, syarat untuk


uji ANOVA adalah populasi yang diuji berdistribusi normal, varians dari populasi
tersebut adalah sama dan sample tidak saling berhubungan. Yang pertama diuji
adalah Test Of Normality jika data yang diperoleh dapat diterima diteruskan ke uji
analisis parametik jika tidak normal dilanjutkan ke uji non_parametik.

1. Uji Test Of Normality


Uji ini dimaksudkan untuk menguji normalitas distribusi data, yaitu
dengan uji Kolmogorov_Smirnov. Uji Kolmogorov_Smirnov dipilih karena
jumlah data yang akan diuji lebih 50. Jika data kurang dari 50, digunakan uji
Shapiro Wilk. Dengan taraf kepercayaan 95%. Jika nilai signifikansi (Sig)
lebih dari 0,05 maka tidak ada perbedaan antara pemberian terhadap waktu
onset obat, namun jika nilai (Sig) kurang dari 0,05 maka ada perbedaan antara
cara pemberian terhadap waktu onset obat. Data yang kami gunakan < 50
sehingga yang kami lihat adalah Shapiro Wilk.

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Durasi Oral .171 8 .200* .959 8 .799

SubCutan .193 8 .200* .900 8 .289

IntraMuscular .266 8 .100 .836 8 .069

IntraPeritonial .162 8 .200* .964 8 .847

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

Dapat kita lihat bahwa nilai dari sig. Onset >0,05 maka data dapat dikatakan
normal sehingga data dilanjutkan ken One Way ANOVA .

Dari data hasil SPSS yang kami lakukan didapatkan hasil bahwa data
ANOVA tidak normal dimana data dapat dikatakan normal jika (Sig) <0,05.
Terjadinya ketidak normalan hasil data disebabkan karena saat praktikum
melakukan kesalahan seperti tidak teliti dalam memperhatikan reaksi mencit
terhadap obat, kesalahan dalam penyuntikan obat ke mencit, dan pengambilan
dosis dalam injeksi.
Menurut The Journal Of The Egyptian Public Health Association
pemberian obat pada injeksi cepat atau lambat efek yang diberikan dipengaruhi
apa saja yang dilewati oleh obat yang masuk didalam tubuh, seperti lemak tubuh
dapat memperlambat efek yang ditimbulkan oleh tubuh. Onset injeksi yang paling
cepat yaitu IP, IM, SC dan Oral.

1. Intra Peritoneal
Pemberian suntikan intra-peritonial. Rongga peritoneum mempunyai
permukaan absorpsi yang sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi
sistemik secara cepat.
2. Intra Muscular
Obat- obat yang larut dalam air akan diabsorbsi dengan cepat setelah
penyuntikan IM, kecepatan absorbsi injeksi Intra muscular lebih lambat
dikarenakan lapisan otot masih ada lapisan kecil lemak sehingga akan
memperlambat obat untuk diabsorbsi kedalam darah.
3. Intra SubCutan
Pemberian obat melalui sub kutan hanya boleh dilakukan untuk obat yang
tidak iritatif terhadap jaringan. Absorpsi dari rute ini biasanya berjalan lambat
dan konstan, sehingga efeknya bertahan lebih lama karena dibawah kulit
masih banyak kandungan lemak sehingga memperlambat absorbsi obat.
4. Oral
Pada peroral didapatkan durasi terpendek, disebabkan karena per oral
melewati banyak fase seperti perombakan dihati menjadi aktif dan tidak aktif.
Semakin banyak fase yang dilalui maka kadar obat akan turun sehingga obat
yang berikatan dengan reseptor akan turun dan durasinya pendek (Singagerda
et all, 2009)
Dari data hasil praktikum yang kami lakukan mendapatkan hasil bahwa
nilai pada analisa ANOVA > 0,05 sehingga tidak ada perbedaan onset yang
terjadi dengan perlakuan pada mencit, perbedaan data dengan teori dapat
terjadi karena kesalahan pada praktikum, tidak fokus perhatikan mencit saat
memasukki waktu onset dan durasi.
KESIMPULAN
1. Pemberian Obat dengan Berbagai rute memiliki dosis yang berbeda-
beda sesuai dengan bobot hewan coba masing-masing.
2. Berdasarkan percobaan,urutan efek onset dari yang tercerpat hingga
yang terlambat yaitu :
IP > IS > SC > Oral, seharusnya sesuai teori IP > SC > IM > Oral
DAFTAR PUSTAKA

Cannizzaro, E.M, martie,M, Gagliano,F, Plescia,M., La Barbe, G., Mantia, A.,


Mineo, G., Cannizzaro and Cannizzaro C, 2005 Reversal of prenatal
diazepam, induced deficit in a spatial object leraning task by brief, periodic
maternal separation in adult rats. Behavioural Brain Research 160, 320-330.

Igbal, MM., Sobhan, T., Ryais, T., 2002, Effect of Commontly Used
Benzodiazepines On The Fetus. The Neonate and The Nursing Infant.
Psychiatric Services 53, 39-49.

J. Sains & Mat. Vol. 17 No. 3, Juli 2009: 141-144

Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik , Salemba Medika,


Jakarta:2007

Marunucci. L., Balloni, S., Bodo, M., Carinci, F., Pezzetti,F.,Stabellini, Gram,
Carmela, C Lumare E., 2006. Patterns of some extracellular matrix gene
expression are similiar in cells from cleft lip-palate parients and in human
palatal 10-16.

Philip, W. L. 2005. Diazepam.http://www.mentalhealth.com. Diakses: 20 Maret


2018

Tjay, Tan Hoan, Dkk, 1987, Obat-Obat Penting Edisi IV, Departemen Kesehatan
RI, Jakarta.

Singagerda, Linda Kirana, 2009. Hewan Uji Dalam Eksperimen Farmakologi.


Bandung: ITB press.