Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Potensi bahaya terdapat hampir disetiap tempat dimana dilakukan suatu
aktivitas, baik dirumah, dijalan, maupun di tempat kerja. Kecelakaan tidak
terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi
yang tidak aman. Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tak
terduga, semula tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur
dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik bagi manusia dan
atau harta benda, Sedangkan kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga
dan tidak diharapkan dan tidak terencana yang mengakibatkan luka, sakit,
kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan.
Apabila potensi resiko bahaya dalam lingkungan tidak di kendalikan
dengan tepat akan dapat menyebabkan sakit,cidera, dan bahkan kecelakaan
yang serius. Resiko dapat didefinisikan sebagai suatu kombinasi dari
kemungkinan terjadinya peristiwa yang berhubungan dengan cidera parah atau
sakit akibat kerja dan terpaparnya seseorang atau alat pada suatu bahaya.
Resiko kecelakaan kerja tidak mungkin untuk dihilangkan sama sekali,
beberapa jenis risiko hanya dapat dikurangi.
Mengingat potensi bahaya dan resikonya terdapat hampir diseluruh di
beberapa lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, maka upaya untuk
mencegah dan mengurangi resiko yang mungkin timbul akibat proses
pekerjaan perlu segera dilakukan. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang penanggulangan
resiko yang mungkin timbul perlu diidentifikasi, dinilai, dan dikendalikan
sedini mungkin melalui pendekatan secara preventif, inovatif, dan partisipatif.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor resiko yang mungkin timbul di lingkungan kampus secara
umum? Lalu bagaimana cara pengendalian resiko bahaya tersebut?
2. Apa saja faktor resiko yang mungkin timbul di lingkungan kampus secara
khusus? Lalu bagaimana cara pengendalian resiko bahaya tersebut?
3. Apa saja faktor resiko yang mungkin timbul di laboratorium atau tempat
kerja? Lalu bagaimana cara pengendalian resiko bahaya tersebut?
4. Apa saja faktor resiko yang timbul dalam lingkungan rumah? Lalu
bagaimana cara pengendalian resiko bahaya tersebut?
I.3 Tujuan
1. Agar Mahasiswa dapat mengetahui faktor resiko yang mungkin timbul di
lingkungan kampus secara umum dan cara pengendalian resiko bahaya
tersebut
2. Agar Mahasiswa dapat mengetahui faktor resiko yang mungkin timbul di
lingkungan kampus secara khusus dan cara pengendalian resiko bahaya
tersebut
3. Agar Mahasiswa dapat mengetahui faktor resiko yang mungkin timbul di
laboratorium atau tempat kerja dan cara pengendalian resiko bahaya tersebut
4. Agar Mahasiswa dapat mengetahui faktor resiko yang mungkin timbul di
lingkungan rumah cara pengendalian resiko bahaya tersebut

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1 Pengertian Kesehatan Lingkungan
Potensi resiko dan bahaya dalam lingkungan harus dapat dikendalikan
secara tepat agar tidak dapat merugikan banyak orang di beberapa lingkungan
seperti kampus, tempat kerja, maupun rumah.
Kesehatan lingkungan yaitu bagian integral ilmu kesehatan masyarakat
yang khusus menangani dan mempelajari hubungan manusia dengan
lingkungan dalam keseimbangan ekologis.Jadi kesehatan lingkungan
merupakan bagian dari ilmu kesehatan mayarakat
Ada 3 pengertian yang dikemukakan para ahli tentang kesehatan
lingkungan, masing-masing pengertian lahir dalam upaya memecahkan
masalah kesehatan sesuai jaman dan kebutuhannya. Ketiga pengertian
tersebut adalah :
1. Pengertian Kesehatan Lingkungan sebagai suatu upaya, dikemukakan
oleh P.Halton Purdon (1971). Purdon menyatakan bahwa Kesehatan
Lingkungan merupakan bagian dari dasar-dasar kesehatan bagi
masyarakat modern, kesehatan lingkungan adalah aspek kesehatan
masyarakat yang meliputi semua aspek kesehatan manusia dalam
hubungannya dengan lingkungan. Tujuannya untuk mempertahankan dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada tingkat yang setinggi-
tingginya dengan jalan memodifikasi factor social, factor fisik
lingkungan, sifat-sifat dan kelakuan lingkungan yang dapat berpengaruh
terhadap kesehatan.
2. Pengertian Kesehatan Lingkungan menurut WHO adalah "Suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia ".
3. Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)
kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.
II. 2 Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Menurut Mangkunegara, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia
pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil
dan makmur.
2. Menurut Suma’mur (1981: 2), keselamatan kerja merupakan rangkaian
usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para
karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
3. Menurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah kondisi
keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana
kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja
4. Menurut Ridley, John (1983), mengartikan kesehatan dan keselamatan
kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu
bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan
sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
5. Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan kerja adalah
ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat
kerja. (Lalu Husni, 2003: 138).
Setelah melihat berbagai pengertian di atas, pada intinya dapat
ditarik kesimpulan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu
usaha dan upaya untuk menciptakan perindungan dan keamanan dari
resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional
terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi berbicara
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja tidak melulu membicarakan
masalah keamanan fisik dari para pekerja, tetapi menyangkut berbagai
unsur dan pihak
BAB 3
PEMBAHASAN
III. 1 Faktor Resiko Bahaya Di Lingkungan Kampus Secara Umum

Lingkungan kerja adalah suatu kegiatan yang ada di sekitar kerja yang
mempengaruhi pekerja dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung
jawabnya. Untuk meningkatkan produktivitasnya maka lingkungan kerja
sangat mempengaruhi kinerja karena lingkungan kerja yang baik akan
menciptakan kemudahan pelaksanaan tugas. Lingkungan kerja ini sendiri
terdiri dari lingkungan kerja fisik dan non-fisik yang melekat dengan
karyawan sehingga tidak dapat dipisahkan dari usaha pengembangan
kinerja karyawan (Yunanda, 2013).
Faktor resiko bahaya secara umum di lingkungan kampus secara
umum adalah tawuran antar mahasiswa. Menurut Mansoer (dikutip dalam
Solikhah, 1999) “perkelahian pelajar” atau yang biasa disebut dengan
tawuran adalah perkelahian massal yang merupakan perilaku kekerasan
antar kelompok pelajar laki-laki yang ditujukan pada kelompok pelajar dari
beberapa lingkungan yang lain.
Tawuran ini tentu akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar
karena selain mengancam nyawa dari beberapa mahasiswa yang terlibat
dalam tauran tersebut, pihak kampus tentu akan rugi. Hal tersebut
dikarenakan rusaknya beberapa fasilitas di dalam kampus seperti kaca
jendela atau
III.2 Faktor Resiko Bahaya Di Lingkungan Kampus Secara Khusus
Faktor-faktor yang mempengaruhi dilingkungan kampus khususnya
dalam bidang farmasi secara fisik yaitu, temperature (suhu), pencahayaan,
kebisingan, dan lain -lain. Kondisi lingkungan bagunan akan turut
berpengaruh terhadap kinerja operator/mahasiswa. Dengan
mempertimbangkan seluruh aspek lingkungan kerja fisik yang memiliki
potensi bahaya pada saat proses perkuliahan, beserta sistem pengendalian,
maka kondisi-kondisi bahaya tersebut dapat diantisipasi dan diberi tindakan-
tindakan preventif lainnya. Pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap
produktivitas kerja lingkungan kerja fisik merupakan kondisi yang
mempengaruhi terhadap kemampuan manusia, Manusia akan mampu
melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang optimal
apabila lingkungan kerjanya mendukung manusia akan mampu
melaksanakan pekerjaannya dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan
kerja yang baik. penelitian ini bermaanfaat untuk mengetahui bagaimana
kondisi lingkungan kerja fisik yang baik yang meliputi situasi pencahayaan,
temperatur dan kebisingan (Ramadon, 2013).

III.3 Faktor Resiko Bahaya Di Laboratorium


Laboratorium sebagai sarana memperaktekkan teori yang diajarkan
memiliki aktifitas yang bersentuhan secara langsung dan tidak langsung
dengan potensi bahaya. Potensi bahaya atau sering disebut juga sebagai
“hazard” merupakan sumber risiko yang mengakibatkan kerugian baik pada
material, lingkungan maupun manusia. Pengaruh manifestasi potensi bahaya
industrial seringkali tidak hanya berakibat pada industri dan tenaga kerja
saja, tetapi juga mengakibatkan kerugian pada masyarakat maupun
lingkungan sekitar industri, misalnya pada kasus kebakaran, peledakan atau
pencemaran akibat industri. Potensi bahaya yang ada di laboratorium sering
tidak disadari oleh orang-orang yang terlibat di laboratorium dikarenakan
belum adanya standar penilaian dan rendahnya sosialisasi atau
pembelajaran mengenai potensi bahaya sehingga perlu dilakukan
identifikasi tingkat bahaya di laboratorium (Sitepu, 2014).
Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan
bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, demikian pula dengan
solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan
dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat
ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka. Gangguan
kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang
pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit
saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik
(trichloroethane,tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap
melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan
kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan
jaringan yang irreversible pada daerah yang
terpapar.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
a. ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada
untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium
b. Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah
tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol
c. Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan,
celemek, jas laboratorium) dengan benar.
d. Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata dan
lensa.
e. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.
III.4 Faktor Resiko Bahaya Di Lingkungan Rumah
Barangkali sebagian besar masyarakat menganggap bahwa Rumah
'tempat tinggal' adalah tempat yang paling aman, namun disadari atau tidak
bahwa 'Rumah' juga merupakan sumber atau mengandung potensi bahaya
karena menjadi tempat kerja bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT) untuk
melakukan aktivitas pekerjaan. Disaat PRT melakukan pekerjaan, tidak
menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja yang berakibat fatal
bagi PRT itu sendiri dan juga bagi anggota keluarga majikan bahkan
mungkin investasi dan barang berharga lainnya.
Banyak contoh yang bisa kita lihat dari berbagai pemberitaan
televisi atau media lain. Hampir sebagian besar kebakaran rumah
diakibatkan karena kecelakaan kerja (kecerobohan) baik yang dilakukan
oleh PRT atau anggota keluarga penghuni rumah. Kerusakan peralatan
listrik/elektronik atau kebocoran tabung/selang gas juga diakibatkan
ketidaktahuan atau abai terhadap faktor-faktor yang beresiko menyebabkan
terjadinya kecelakaan ditempat kerja dan pada akhirnya akan mengancam
keselamatan penghuni rumah.
Potensi bahaya dalam rumah tangga cukup banyak, seperti kabel
listrik mengandung potensi bahaya, jika ada bagian yang terkelupas, maka
kabel tersebut beresiko menyebabkan arus pendek yang mungkin berakibat
fatal terjadinya kebakaran. Dalam hal ini peran PRT cukup penting
untuk mengetahui dan memahami adanya resiko bahaya karena setiap hari
mereka berkutat dengan bahaya tersebut, begitu juga dengan kebocoran
tabung/selang gas, kebersihan ruang keluarga, dapur, tempat tidur dan
kamar mandi, penyimpanan dan penggunaan bahan kimia berbahaya atau
mungkin kotoran hewan piaraan, dsb. Semua itu menjadi penting untuk
memahami tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam
lingkungan rumah tangga, tidak hanya untuk PRT tetapi juga majikan PRT.
Berikut adalah pencegahan potensi bahaya dari berbagai lingkungan
kerja, khususnya di rumah yaitu harus lebih estra waspada terjadinya factor
bahaya pada rumah. Dilakukan pengawasan dan kontrol yang lebih
maksimal. Serta kebersihan dalam setiap bagian-bagian rumah dan harus
saling membantu dalam mengontrol isi rumah.
BAB IV
PENUTUP
IV. 1 KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya
untuk menciptakan perlindungan dan keamanan dari resiko kecelakaan
dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja,
perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi kesehatan dan keselamatan
kerja tidak melulu berkaitan dengan masalah fisik pekerja, tetapi juga
mental, psikologis dan emosional.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang
penting dalam ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak
berbagai peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk mengatur
nmasalah kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak ketentuan
yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih
banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata.
Masih banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi standar
keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak terjadi kecelakaan
kerja.
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan
dan keselamatan kerja yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi
semua pihak. Tidak hanya bagi para pekerja, tetapi juga pengusaha itu
sendiri, masyarakat dan lingkungan sehingga dapat tercapai peningkatan
mutu kehidupan dan produktivitas nasional.
IV.2 SARAN
Untuk menghindari hazard kesehatan kerja atau bahaya terhadap
keselamatan kerja sebaiknya setiap jenis tempat kerja memperhatikan
alat pelindung diri dari para tenaga kerja agar terhindar dari bahaya
terhadap keselamatan kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Husni, Lalu. 2003. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Markkanen, Pia K. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Indonesia. Jakarta :
Internasional Labour Organisation Sub Regional South-East Asia and The
Pacific Manila Philippines
Saksono, Slamet. 1998. Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius.
Suma’mur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta:
Gunung Agung.
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi. 2007. Prosedur Keamanan, Keselamatan, &
Kesehatan Kerja. Sukabumi: Yudhistira.