Anda di halaman 1dari 78

BIOAKUMULASI LOGAM BERAT PADA KERANG

KALANDUE (Polymesoda erosa, Lightfoot,1786) DI


EKOSISTEM MANGROVE TAMAN NASIONAL RAWA
AOPA WATUMOHAI

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana (S-1)

OLEH :

ANDI HILDAYANI
F1D112031

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
APRIL, 2016

i
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas

rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan penelitian dan skripsi

dengan berjudul “Bioakumulasi Logam Berat pada Kerang Kalandue

(Polymesoda erosa Lightfoot, 1786) di Ekosistem Mangrove Taman Nasional

Rawa Aopa Watumohai” ini dapat terselesaikan sebagai mestinya

Ungkapan rasa cinta dan terimah kasih yang dalam penulis tunjukan

kepada ayahanda Andi Basri dan ibunda tercinta Cece yang telah memberikan

dorongan, pengorbanan dan do’anya yang tulus demi kesuksesan penulis. Penulis

menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini di hadapkan dengan berbagai

macam hambatan dan kendala, namun dengan bantuan berbagai pihak akhirnya

penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis

mengucapkan terimah kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada

bapak Analuddin, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D selaku pembimbing I dan bapak Dr.

Jamili, M.Si selaku pembimbing II yang dengan penuh keikhlasan dan

kesungguhan telah meluangkan waktunya, memberikan petunjuk, arahan dan

bimbingan sejak awal penyusunan hingga selesainya hasil penelitian ini untuk itu,

penulis mengucapkan terimah kasih kepada

1. Rektor Universitas Halu Oleo

2. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu

Oleo

v
3. Wakil Dekan I Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Halu Oleo.

4. Wakil Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Halu Oleo.

5. Wakil Dekan III Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Halu Oleo.

6. Bapak Dr. Yusuf Sabilu, M.Si selaku penasehat akademik yang telah

memberikan pengarahan bimbingan dalam memprogramkan mata kuliah.

7. Ketua Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Halu Oleo, bapak Muhsin,

S.Pd., M.Si dan Sekertaris Jurusan Biologi ibu Dr. Hj. Sitti Wirdana Ahmad,

S.Si., M.Si

8. Kepala Laboratoratorium Biologi FMIPA Universitas Halu Oleo, Ibu Dra. Sri

Ambardini, M.Si dan Laboran Bapak Rahmat Hasan, A.Md.

9. Kepala Perpustakaan FMIPA Universitas Halu Uleo, Ibu Dra. Hj. Indrawati,

M.Si beserta Stafnya

10. Seluruh Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Halu Oleo.

11. Tim penguji Bapak Dr. Amirullah, M.Si., Bapak La Ode Siwi, S.P., M.Si., dan

Bapak Drs. Nasaruddin, M.Si yang memberikan saran dan kritikan .

12. Sahabat Penulis Siti feni Musdalifah, Nurisnaini Ulfa terima kasih atas

keceriaan, bantuan dan motivasinya.

13. Saudara-saudara saya A. Selviani, Sapriadi, A. Fahriawan, Upit Supriadi,

Asrianti dan Asriansya friadi yang banyak memberi bantuan dan motivasinya.

vi
14. Teman-teman seangkatan biologi 2012 Siti Surahmi, Irmayanti Arif, Dafid

Pratama, Saharudin, Muh.Azwar syah,S.Si., Desti Tryaswati, S.Si., Rosminah,

S.Si, Winda Astuti, Euis Nurhilyah, Retno Wulan Saputri, Dessyani Mantu,

Irman, Febryanto Meiyer, Ld.Muh.Yusuf, Desi Afdaliana dan teman teman

seangkatan yang tidak biasa saya sebutkan satu persatu persatu yang telah

banyak membantu dan menghibur penulis selama penelitian.

15. Senior-seniorku Saban Rahim,S.Si., M.PW, Adi Karya,S.Si, M.Sc., LD.

Abdul Fajar Hasidu,S.Si., WD. Nanang Trisna Dewi,S.Si, M.Si., Fitri,S.Si,

Rahmatan Juhaepa,S.Si., dan senior-senior lainya yang tidak bisa penulis

sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penulis selama penelitian.

16. Junior-juniorku Angkatan 2013-2014 Ebit Yasakti, Ahmad Akbar, Clara

Cecilia, Umratul Hasanah, Harma, Diaz Eka Anjani, Musalifah Islamiy, Putra

Prabowo, dan adik lainya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang

telah memberi bantuan dan semangatnya.

Selanjutnya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh

dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis

menerima segala saran yang sifatnya membangun demi penyempurnaannya.

Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak

yang membutuhkan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas segala

dukungan serta bimbingannya semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai

dan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Aamiin.

Kendari, Maret, 2016

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP iii
SURAT KETERANGAN BEBAS PLAGIAT iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR LAMPIRAN xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN xiii
ABSTRAK xiv
ABSTRACT xv
I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan penelitian 4
D. Manfaat Penelitian 4
II. TINJAUAN PUSTAKA 5
A. Klasifikasi, Morfologi, Anatomi dan Habitat Kerang 5
1. Klasifikasi Kerang Kalandue (Polymesoda erosa) 5
2. Morfologi dan Anatomi Kerang 5
3. Habitat Kerang 7
B. Kebiasaan Makan Kerang 8
C. Logam Berat 8
D. Jenis Logam Berat 9
1. Timbal (Pb) 9
2. Kadmium (Cd) 10
3. Merkuri (Hg) 11
E. Pencemaran Logam Berat dalam Perairan 11
F. Bioakumulasi 13
III.METODE PENELITIAN 15
A. Waktu dan Tempat Penelitian 15
B. Alat dan Bahan 16
C. Variabel penelitian 17
D. Jenis Penelitian 17

viii
E. Definisi Operasional dan Indikator Penelitian 17
1. Definisi Operasional 17
2. Indikator Penelitian 19
F. Prosedur Penelitian 19
1. Penetapan Lokasi 19
2. Teknik Pengumpulan data dan pengambilan Sampel 20
3. Analisis Logam Berat Sampel 21
a. Preparasi Sampel Sedimen dan Daging Kerang 21
b. Analisis Statistik Penentuan Kadar Logam Hg, Cd dan Pb 25
c. Analisis Faktor Bioakumulasi (BCF) Logam Hg, Cd dan Pb pada
Daging Kerang 25
G. Analisis Data 25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 26
A. Parameter Lingkungan Perairan 26
B. Kadar Logam Berat Dalam Air 28
C. Kadar Logam Berat Dalam Air dan Sedimen 29
D. Kadar Logam Berat Pada Daging Kerang Kalandue (Polymesoda erosa)
dan Sedimen 30
E. Kadar Logam Berat Hg, Pb dan Cd pada Daging Kerang Kalandue
(Polymesoda erosa) Berdasarkan Ukuran Tubuh 35
F. Faktor Bioakumulasi (BCF) Logam Berat 39
G. Faktor Bioakumulasi Logam Berat Hg, Pb dan Cd pada Daging Kerang
Kalandue (Polymesoda erosa) Berdasarkan Ukuran Tubuh 41

V. PENUTUP 45
A. Simpulan 45
B. Saran 45
DAFTAR PUSTAKA 46
LAMPIRAN 51

ix
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1. Alat dan fungsi yang digunakan pada penelitian 16

2. Bahan dan fungsi yang digunakan pada penelitian 17

3. Parameter lingkungan di Sungai Lampopala 26

4. Rerata Kadar Logam Berat Hg, Cd, Pb dalam Air 28

5. Rerata Kadar Logam Berat Hg, Cd, Pb dalam Air dan

Sedimen 29

x
DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Gambar Kerang Kalandue (Polymesoda erosa) 6

2. Gambaran Lokasi Pengambilan Sampel 16

3. Kreteria Pengambilan Sampel 21

4. Diagram Prosedur Kerja Analisis Logam Berat 24

5. Kadar Logam Hg pada Sedimen, Kerang Besar dan Kerang Kecil 31

6. Kadar Logam Pb pada Sedimen, Kerang Besar dan Kerang Kecil 32

7. Kadar Logam Cd pada Sedimen, Kerang Besar dan Kerang Kecil 33

8. Kadar Logam Hg, Pb dan Cd pada Kerang Besar 36

9. Kadar Logam Hg, Pb dan Cd pada Kerang Kecil 37

10. Faktor Bioakumulasi Logam Hg pada Kerang 39

11. Faktor Bioakumulasi Logam Pb pada Kerang 40

12. Faktor Bioakumulasi Logam Cd pada Kerang 41

13. Faktor Bioakumulasi Logam Hg, Pb dan Cd pada Kerang Besar 42

14. Faktor Bioakumulasi Logam Hg, Pb dan Cd pada Kerang Kecil 43

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Teks Halaman

1. Hasil Pengukuran Parameter Lingkungan Perairan Sungai Lampopala

Kawasan TNRAW 51

2. Konsentrasi logam Hg, Pb dan Cd dalam air dan sedimen Perairan

Sungai Lampopala Kawasan TNRAW 52

3. Konsentrasi Logam Hg, Pb dan Cd pada daging kerang Kalandue

(Polymesoda erosa) Kawasan TNRAW 53

4. Faktor Bioakumulasi (BCF) logam Hg, Pb dan Cd pada daging

kerang kalandue (Polymesoda erosa) kawasan TNRAW 54

5. Analisis Data TTEST Kadar Logam 55

6. Analisis Data TTEST Faktor Bioakumulasi (BCF) 56

7. Dokumentasi Penelitian Lapangan dan Laboratorium 57

8. Peta Lokasi Penelitian 63

xii
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Lambang/singkatan Arti dan keterangan


µg Mikrogram
o
C Derajat Celcius
ppm Part per million
ppt Part per triliun
DO Dissolved oxygen
g Gram
mL Mililiter
mg/L Milligram per liter
cm Sentimeter
gr/cm3 Gram per sentimeter kubik
HNO3 Asam nitrat
Hg Merkuri
Pb Timbal
Cd Kadmium
Zn Zeng
Cu Tembaga
> Lebih besar
< Lebih kecil
KAAS Konsentrasi AAS (Atomic Absorption spectrophotometer)
Vp Volume pelarut
Ws Massa sampel
P Probabilitas
BCF Faktor bioakumulasi
AAS Atomic Absorption spectrophotometer
SE Standar eror

xiii
Bioakumulasi Logam Berat pada Kerang Kalandue (Polymesoda erosa,
Lightfoot, 1786) di Ekosistem Mangrove Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai

OLEH :

Andi Hildayani
F1D1 12 031

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kandungan logam berat Hg, Pb dan
Cd pada daging kerang kalandue (Polymesoda erosa) (2) mengetahui faktor
bioakumulasi (BCF) logam berat pada daging kerang kalandue (Polymesoda
erosa). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2016. Lokasi
penelitian pengambilan sampel di ekosistem mangrove Taman Nasional Rawa
Aopa Watumohai menggunakan metode purposive sampling dimana sampel
kerang dikoleksi dengan kreteria ukuran panjang kerang yaitu ukuran besar (>7)
dan ukuran kecil (<5) dan dilanjutkan analisis logam berat menggunakan Atomic
Absorption spectrophotometer (AAS) di laboratorium forensik dan biomolekuler.
Hasil penelitian kandungan logam berat pada kerang besar kadar Hg (0,176±0,000
µg/g) kadar Pb (5,08±0,015 µg/g) dan kadar Cd (2,376±0,014 µg/g) sedangkan
untuk kandungan logam berat kerang kecil, kadar Hg (0,123±0,000 µg/g) kadar
Pb (3,656±0,021 µg/g) dan kadar Cd (0,84±0,025µg/g). Berdasarkan perhitungan
Faktor Bioakumulasi (BCF) logam berat pada kerang besar, logam Hg
(0,723±0,002) logam Pb (0,740±0,001) dan logam Cd (0,793±0,077) sedangkan
faktor bioakumulasi pada kerang kecil, logam Hg (0,504±0,003) logam Pb
(0,532±0,005) dan logam Cd (0,281±0,042). Namun kandungan logam berat pada
Polymesoda erosa ukuran besar secara signifikan lebih tinggi (P < 0,05)
dibandingkan dengan ukuran kecil. Faktor bioakumulasi (BCF) logam berat pada
ukuran besar diperkirakan lebih tinggi (BCF = 0,7) dibandingkan pada ukuran
kecil Polymesoda erosa (BCF = 0,6). Sehingga kapasitas bioakamulasi
dipengaruhi oleh ukuran tubuhnya.

Kata kunci: Bioakumulasi Logam Berat, Polymesoda erosa, Taman Nasional


Rawa Aopa Watumohai

xiv
Heavy Metal Bioaccumulation In Shellfish (Polymesoda Erosa Lightfoot,
1786) In Mangrove Ecosystem The National Park Rawa Aopa Watumohai

BY:
Andi Hildayani
F1D1 12 031

ABSTRACT

This study aimed to (1) determine the content of heavy metals Hg, Pb and Cd in
the mussel meat of Polymesoda erosa (2) know heavy metals bioaccumulation
factor (BCF) by P.erosa. This research was conducted from January to March
2016. The P. erosa samples were collected in the mangrove ecosystem of RAWN
Park by using purposive sampling method. The mussel samples were separated
into large size (> 7 cm) and small size (<5 cm). Mussel meat removed from their
shells and then blended. Analysis of heavy metals of mercury Hg, cadmium Cd
and lean Pb heavy metals were done by using Atomic Absorption
spectrophotometer (AAS) in the laboratory of Forensic and Bio-molecular. The
contents of Hg, Cd and Pb were calculated. The results showed that content of
Hg, Pb and Cd metals in large P. erosa were significantly different (P< 0.05),
which were estimated as 0.176 ± 0.0 µg/g, 5.08 ± 0.015 µg/g and 2.376 ± 0.014
µg/g, respectively. Similarly, the contents of Hg, Pb and Cd metals in small P.
erosa were significantly different (P< 0.05), which were estimated as 0.123 ± 0.0
µg/g, 3.656 ± 0.021 µg/g and 0.84 ± 0.025μg/g. However, the contents of heavy
metals in large P. erosa were significantly higher ( P< 0.05) than those of in small
P. erosa. The bioaccumulation factors (BCF) of all heavy metals in large P. erosa
were estimated to be higher (BCF = 0.7) than those of in small P. erosa (BCF =
6). Thus, bioaccumulation capacity to heavy metals by P. erosa seems to depend
on their size.

Keywords: Heavy Metal Bioaccumulation, Mercury, Cadmium, Lean,


Polymesoda erosa, RAWN Park.

xv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pencemaran logam berat di lingkungan perairan merupakan masalah

serius karena kelarutan dan mobilitasnya menimbulkan toksisitas dan ancaman

bagi kehidupan organisme perairan, termasuk manusia. Logam berat yang

masuk kedalam perairan akan mencemari laut. Selain mencemari air, logam

berat juga akan mengendap di dasar perairan yang mempunyai waktu tinggal

(residence time) sampai ribuan tahun dan logam berat akan terkonsentrasi ke

dalam tubuh makhluk hidup dengan proses bioakumulasi dan biomagnifikasi

melalui beberapa jalan, yaitu melalui saluran pernafasan, saluran makanan dan

melalui kulit (Darmono, 2001).

Darmono (1995), menyatakan bahwa toksisitas logam pada manusia

menyebabkan beberapa akibat negatif, seperti timbulnya kerusakan jaringan,

terutama detoksitas dan ekskresi (hati dan ginjal). Salah satu biota yang

diduga akan terpengaruh langsung akibat penurunan kualitas perairan dan

sedimen di lingkungan pantai adalah hewan jenis kerang-kerangan. Odum

(1994), menjelaskan bahwa komponen biotik dapat memberikan gambaran

mengenai kondisi fisik, kimia, dan biologi suatu perairan, salah satu biota

yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi

suatu perairan adalah jenis kerang-kerangan. Supriharyono (2002),

menyatakan bahwa kerang adalah satu diantara beberapa hewan laut yang

paling efisien mengakumulasi logam berat. Hal ini disebabkan, kerang hidup

dilapisan sedimen dasar perairan, bergerak sangat lambat dan makanannya

xvi1
2

adalah detritus didasar perairan, sehingga peluang masuknya logam berat

sangat besar.

Jenis kerang juga banyak dikomsumsi oleh masyarakat khususnya

kerang yang hidup pada sedimen, umumnya ditemukan di daerah pantai.

Kerang memiliki habitat yang menetap dan cenderung lambat dalam

pergerakan, sehingga jenis kerang ini diduga dapat mengakumulasi logam

berat sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam memonitoring

pencemaran lingkungan perairan. Kerang banyak dijumpai di perairan pesisir

kawasan ekosistem mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

(TNRAW). Ekosistem mangrove mempunyai produktivitas yang tinggi bagi

perairan sehingga banyak organisme yang ditemukan di ekosistem tersebut.

Salah satu diantaranya adalah bivalvia dari jenis Polymesoda erosa yang

dikenal oleh masyarakat Kota Kendari dengan nama kerang kalandue (Akbar,

2014).

Sampai saat ini belum ada penelitian tentang bioakumulasi logam berat

pada kerang kalandue (Polymesoda erosa) di kawasan TNRAW. Pengetahuan

tentang akumulasi logam berat pada kerang di kawasan TNRAW sangat

penting, mengingat berbagai kegiatan pertambangan di sekitar Kabupaten

Konawe Selatan diperkirakan telah berdampak terhadap penurunan kualitas

lingkungan pesisir khususnya perairan di kawasan TNRAW dan sekitarnya.

Selain itu, konversi hutan mangrove di sekitar TNRAW menjadi area

pertambakan berdampak negatif terhadap produktifitas perairan mengingat

xvii
fungsi penting mangrove sebagai sumber karbon biru dan penyaring logam-

logam berat (Analuddin, et al., 2015).

Aktifitas pembangunan di darat menyebabkan sedimentasi di

lingkungan perairan sehingga berdampak negatif terhadap daya dukung

lingkungan pesisir sebagai habitat untuk kehidupan kerang serta biota lain

yang bernilai ekologi maupun secara ekonomi bagi masyarakat disekitarnya.

Menurut Rahim (2015), bahwa terjadi peningkatan konsentrasi logam berat

Hg, Cd, Pb, Cu dan Zn dalam air dan sedimen di sekitar kawasan TNRAW

yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan maupun limbah rumah tangga

yang terbawa oleh aliran sungai. Keberadaan logam berat dalam air dan

sedimen akan mudah diakumulasi oleh organisme yang hidup dan mencari

makan di perairan kawasan mangrove TNRAW tidak terkecuali kerang

kalandue (Polymesoda erosa).

Pencemaran logam di dalam perairan menyebabkan kerang kalandue

(Polymesoda erosa) yang hidup didalamnya memiliki toleran atau daya

akumulasi terhadap logam agar dapat hidup di kawasan yang tercemar.

Makhluk hidup yang toleran terhadap logam biasanya memiliki kepekatan dua

atau tiga kali lebih besar daripada normalnya. Salah satu organisme yang

sangat menarik dijadikan sebagai indikator pencemaran adalah kerang

kalandue (Polymesoda erosa). Maka perlu mendapat perhatian dan kajian

yang lebih mendalam, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “Bioakumulasi Logam Berat pada Kerang Kalandue (Polymesoda

erosa) di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai”.

3
xviii
4

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana kandungan logam berat Hg, Cd, dan Pb pada daging kerang

kalandue (Polymesoda erosa) di TNRAW?

2. Bagaimana faktor bioakumulasi (BCF) logam berat pada daging kerang

kalandue (Polymesoda erosa) di TNRAW?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian yang akan dilaksanakan bertujuan:

1. Untuk mengetahui kandungan logam berat Hg, Cd, dan Pb pada daging

kerang kalandue (Polymesoda erosa) di TNRAW

2. Untuk mengetahui faktor bioakumulasi (BCF) logam berat pada daging

kerang kalandue (Polymesoda erosa) di TNRAW

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu :

1. Dapat menjadi acuan dan informasi bagi peneliti lain terutama yang

mengkaji penelitian yang relavan dengan penelitian ini mengenai kapasitas

bioakumulasi pada daging kerang kalandue (Polymesoda erosa) dalam

meyerap logam berat

2. Dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah setempat dalam perumusan

kebijakan konservasi kerang kalandue (Polymesoda erosa) di Taman

Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW).

xix
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi, Morfologi, Anatomi dan Habitat Kerang Kalandue


(Polymesoda erosa)

1. Klasifikasi Kerang Kalandue (Polymesoda erosa)

Taksonomi kerang kalandue (Polymesoda erosa) menurut

Lightfoot, (1786) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Bivalvia
Ordo : Veroida
Famili : Corbiludae
Genus : Polymesoda
Spesies : Polymesoda erosa (Lightfoot,1786)

2. Morfologi dan Anatomi Kerang

Secara umum kerang merupakan kelompok hewan tidak bertulang

belakang dan bentuknya mudah untuk dikenali. Sebagian besar dicirikan

dengan adanya cangkang yang melindungi tubuhnya. Cangkang

merupakan alat pelindung diri, terdiri atas lapisan karbonat (crystalline

calcium carbonate), dipisahkan oleh lapisan tipis (lembaran) protein di

antara cangkang dan bagian tubuh (otot dan daging) (Setyono, 2006).

Kerang mempunyai bentuk dan ukuran cangkang yang bervariasi.

Variasi bentuk cangkang ini sangat penting dalam menentukan jenis-jenis

bivalvia. Kerang mempunyai bagian luar cangkang yang bertekstur kasar,

sedangkan bagian dalamnya bertekstur licin (Kira, 1976). Kerang kalandue

(Polymesoda erosa) ditunjukkan pada gambar berikut :

5
xx
6

Gambar 1. Kerang Kalandue (Polymesoda erosa)

Kerang memiliki kaki yang berbentuk pipih secara lateral dan

mengarah keanterior sebagai adaptasi untuk menggali substrat. Gerak kaki

menjulur diatur oleh kombinasi tekanan darah dan otot protaktor anterior

dan gerak menarik kaki kedalam cangkang oleh sepasang otot retraktor

anterior dan posterior, untuk merayap dalam substrat lumpur dan pasir

(Suwignyo, 2005). Mentel pada lobus kanan dan kiri memipih, sifon dua

buah terdapat disisi posterior, insang umumya berbentuk lempengan

berjumlah satu atau dua pasang, kepala tidak ada, mulut dilengkapi labial

palp, tanpa rahang atau radula, organ reproduksinya berumah dua

(Umaryati, 1990). Kerang bernafas dengan menggunakan insang yang

terdapat dalam rongga mantelnya (Nontji, 2005).

Saluran pencernaan makanan terdiri atas mulut (terletak diantara 2

pasang labial palpus bersilia, silia ini berfungsi untuk menggiring makanan

xxi
masuk kedalam mulut), esophagus pendek, lambung (menerima enzim

pencernan yang dikeluar oleh kelenjar pencernaan/hati), intestine, rectum

(dikelilingi oleh jantung dan pericardium). Anus yang terbuka dekat

lubang tempat keluarnya air dari bagian dorsal sehingga sisa makanan

tersebut akan keluar bersama-sama aliran air (Rusyana, 2011).

3. Habitat Kerang

Kerang merupakan hewan filter feeder yang hidup didasar

perairan menanam diri dalam substrat berlumpur (Melinda, 2015). Kerang

ini hidup di perairan pantai yang memiliki pasir berlumpur dan dapat juga

ditemukan pada ekosistem estuari, mangrove dan padang lamun

(Mzighani, 1758 dalam Marzuki, dkk., 2006). Kerang umumnya banyak

ditemukan pada substrat yang kaya bahan organik, dimana bahan organik

akan mempengaruhi ketersediaan makanan, karena hewan tersebut

memilih hidup pada habitat yang sesuai didasar perairan, baik sesuai

dengan faktor fisika kimia perairan maupun makanannya (Marzuki, dkk.,

2006).

B. Kebiasaan Makan Kerang

Kerang memperoleh makanannya dengan menyaring partikel-partikel

bahan organik dan plankton yang terdapat dalam air laut (Nontji, 2005).

Partikel-partikel makanan dan zat-zat yang terlarut masuk ke dalam saluran

masuk (incurrent siphon) dengan bantuan sillia yang terdapat dalam insang.

Partikel-partikel makanan yang berukuran besar dicerna terlebih dahulu

dengan bantuan mukosa yang disekresikan oleh insang dan palpus kerongga

7
xxii
8

mulut. Pasir dan partikel-partikel lain yang tidak dapat dicerna didrop masuk

kerongga mantel, selanjutnya ke luar karena ada aktifitas silia (Rusyana,

2011). Kerang laut mendapatkan makanan dengan filter feeder menggunakan

siphon untuk mendapatkan makanan (Bachok, 2006). Berhubungan dengan

sifat makan kerang yang filter feeder, Dahuri (2002), menyatakan bahwa

pentingnya sanitasi kerang-kerangan karena organisme filter feeder tersebut

akan mengakumulasikan makanan, kotoran dan bahan cemaran lainnya dalam

dagingnya.

C. Logam Berat

Logam berasal dari kerak bumi berupa bahan-bahan murni organik dan

anorganik. Secara alami siklus perputaran logam adalah dari kerak bumi ke

lapisan tanah, ke mahluk hidup, ke dalam air, selanjutnya mengendap dan

akhirnya kembali ke kerak bumi (Darmono, 1995). Logam berat (heavy metal)

adalah logam yang memiliki densitas yang tinggi > 5 gr/cm 3 (Hutagalung,

1991). Logam berat termasuk dalam kategori bahan berbahaya dan beracun

(B3), bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau

konsenterasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat

mencemarkan atau merusak lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup

manusia serta mahluk hidup lain (Pasal 1 (17) UU No. 23 1997). B3 dapat

berupa bahan biologis (hidup/mati) atau zat kimia. Zat kimia B3 dapat berupa

senyawa logam berat (anorganik) atau senyawa organik, sehingga dapat

diklasifikasikan sebagai B3 biologis, B3 logam berat dan B3 organik.

xxiii
Logam berat merupakan bahan pencemar yang berbahaya karena

bersifat toksik, logam berat yang ada dalam perairan akan mengalami proses

pengendapan dan terakumulasi dalam sedimen, kemudian terakumulasi dalam

tubuh biota laut yang berada dalam perairan, baik melalui insang maupun

melalui rantai makanan dan akhirnya akan sampai pada manusia. Fenomena

ini dikenal sebagai bioakumulasi atau biomagnifikasi yaitu proses biologi

yang terjadi pada organisme dengan mengendapkan logam berat pada tubuh

organisme melalui rantai makanan (Amriani, 2011).

Logam berat dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu logam berat esensial

dan logam berat non esensial. Logam berat esensial keberadaannya dalam

jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah

yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun (Khasanah, 2009). Logam

yang dibutuhkan (esensial) oleh organisme contohnya adalah Cu, Zn, Fe, Co,

Mn maupun logam yang tidak dibutuhkan (non esensial) oleh organisme

seperti Pb, Cd, Cr, Hg. Logam tersebut bisa menimbulkan efek toksik di

dalam tubuh jika dalam jumlah berlebih. Peningkatan kadar logam berat dalam

air laut akan diikuti oleh peningkatan kadar logam berat dalam tubuh biota

laut khususnya pada kerang (Selpiani, dkk., 2015).

D. Jenis Logam Berat

1. Timbal (Pb)

Cemaran timbal (Pb) ke laut berasal dari buangan di wilayah

pesisir dari daratan dan dari udara (sisa pembakaran kendaraan bermotor).

Limbah yang mengandung unsur timbal umumnya berasal dari limbah

9
xxiv
10

industri cat, baterai, dan bahan bakar mobil (Mukhtasor, 2007). Baku mutu

logam berat timbal (Pb) berdasarkan Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut,

Lampiran III, Tanggal 8 april tahun 2004, baku mutu Timbal (Pb) untuk

biota perairan yaitu 0,008 mg/L.

Logam Pb bersifat toksik pada manusia dan dapat menyebabkan

keracunan akut dan kronis. Keracunan akut biasanya ditandai dengan rasa

terbakar pada mulut, adanya rangsangan pada sistem gastrointestinal yang

disertai dengan diare. Gejala kronis umumnya ditandai dengan mual,

anemia, sakit di sekitar mulut, dan dapat menyebabkan kelumpuhan

(Darmono, 2001).

2. Kadmium (Cd)

Kadmium merupakan logam berat yang sangat toksik setelah

merkuri (Hg) (Connel, 1995). Kadmium (Cd) sering digunakan sebagai

bahan utama atau tambahan materi dalam industri, antara lain industri

baterai nikel, bahan coating, bahan stabilizers dalam industri plastik dan

barang sintetis lain (Csuros, 2002 dalam Awalina, 2011).

Baku mutu logam berat kadmium (Cd) berdasarkan Keputusan

Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang baku

mutu air laut, Lampiran III, Tanggal 8 april tahun 2004, baku mutu

kadmium (Cd) untuk biota perairan yaitu 0,001 mg/L. Kadmium dapat

menyebabkan nefrotoksisitas (toksik ginjal), yaitu gejala glikosuria dan

aminoasiduria disertai dengan penurunan laju filtrasi glomerolus ginjal.

xxv
Kasus keracunan Cd kronis juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler

dan hipertensi, hal tersebut terjadi dikarenakan tingginya afinitas jaringan

ginjal terhadap kadmium, selain itu, kadmium juga dapat menyebabkan

terjadinya gejala osteomalasia karena terjadi interferensi daya

keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal (Darmono,

2001).

3. Merkuri (Hg)

Merkuri dalam perairan dapat berasal dari buangan limbah industri

kelistrikan dan elektronik, baterai, pabrik bahan peledak, fotografi,

pelapisan cermin, industri bahan pengawet, pestisida, industri kimia,

petrokimia, limbah kegiatan laboratorium dan pembangkit tenaga listrik

yang menggunakan bahan baku bakar fosil (Suryadiputra, 1995). Baku

mutu logam berat merkuri (Hg) berdasarkan Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut,

Lampiran III, Tanggal 8 april tahun 2004, baku mutu merkuri (Hg) untuk

biota perairan yaitu 0,001 mg/L.

E. Pencemaran Logam Berat Dalam Perairan

Pencemaran perairan merupakan salah satu permasalahan di daerah

pesisir perairan. Logam berat merupakan salah satu pencemar mempengaruhi

ekosistem pesisir. Kemungkinan toksisitas logam berat pada ekosistem

akuatik ditentukan oleh komponen zat kimia. Keadaan perubahan oksidasi

logam berat memiliki efek yang sangat besar pada toksisitas (Rajamohan, et

al., 2010).

11
xxvi
12

Banyak logam berat yang bersifat toksik maupun esensial terlarut

dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Sumber pencemaran ini

banyak berasal dari pertambangan, peleburan logam dan jenis industri lainnya,

juga dapat berasal dari lahan pertanian yang menggunakan pupuk atau anti

hama yang mengandung logam. Pencemaran logam berat dapat merusak

lingkungan perairan dalam hal stabilitas dan keanekaragaman ekosistem.

Dilihat dari aspek ekologis, kerusakan ekosistem perairan akibat pencemaran

logam berat dapat ditentukan oleh faktor kadar dan zat pencemar yang masuk

dalam perairan, sifat toksisitas dan bioakumulasi (Darmono, 2001).

Banyaknya limbah yang berada di laut, limbah logam berat termasuk

limbah yang dapat mengancam kesehatan tubuh manusia. Logam berat yang

ada pada perairan, suatu saat akan turun dan mengendap pada dasar perairan,

membentuk sedimentasi dan hal ini akan menyebabkan biota laut yang

mencari makan di dasar perairan (udang, kerang, kepiting) akan memiliki

peluang yang sangat besar untuk terkontaminasi logam berat tersebut. Biota

laut yang telah terkontaminasi logam berat tersebut jika dikonsumsi, dapat

merusak sistem biokimia dan merupakan ancaman serius bagi kesehatan

manusia dan hewan (Khan, et al., 2009).

Logam-logam berat yang terlarut dalam badan perairan pada

konsentrasi tertentu akan berubah fungsi menjadi sumber racun bagi

kehidupan perairan. Meskipun daya racun yang ditimbulkan oleh satu logam

berat terhadap semua biota perairan tidak sama, namun hilangnya sekelompok

organisme tertentu dapat menjadikan terputusnya satu mata rantai kehidupan.

xxvii
Pada tingkat lanjutan, keadaan tersebut tentu saja dapat menghancurkan satu

tatanan ekosistem perairan (Palar, 1994).

F. Bioakumulasi

Bioakumulasi merupakan peningkatan konsentrasi secara progresif

suatu jenis senyawa dalam suatu organisme yang disebabkan oleh laju

pengambilan senyawa tersebut lebih besar bila dibandingkan pelepasannya

(Fisher, 2003). Menurut Boyd (1990) dalam Velichkova (2013), filtrasi

biologi adalah cara yang dipergunakan untuk menghancurkan komponen

bahan organik maupun anorganik. Faktor bioakumulasi adalah rasio dua

pengukuran yang sama dari suatu keadaan yang nyata dan fenomena

penggabungan dari akumulasi pada rantai makanan (Wright and Welbourn,

2002).

Menurut Soemirat (2005), bioakumulasi diartikan terdapatnya

pencemar dalam organisme, dalam konsentrasi jauh lebih besar daripada

konsentrasi didalam lingkungannya. Biokonsentrasi/bioakumulasi dalam

organisme merupakan sifat yang sangat penting dalam evaluasi bahaya atau

tidaknya suatu zat dan uji toksisitas. Bioakumulasi itu dimulai dengan

kapasitas racun memasuki biota. Hal ini menjadi sangat besar

kemungkinannya, apabila xenobiotik itu persisten dalam lingkungan.

Mekanisme masuknya xenobiotik ke dalam organisme dapat lewat pernafasan,

atau permukaan tubuh.

Keberadaan logam berat didalam air sangat mempengaruhi organisme

air, terutama pada konsentrasi yang melebihi batas normal. Organisme air

13
xxviii
14

mengambil logam berat dari badan air atau sedimen dan memekatkannya ke

dalam tubuh hingga 100-1000 kali lebih besar dari lingkungan. Akumulasi

melalui proses ini disebut bioakumulasi. Kemampuan organisme air dalam

menyerap (absorpsi) dan mengakumulasi logam berat dapat melalui beberapa

cara, yaitu melalui saluran pernapasan (insang), saluran pencernaan dan difusi

permukaan kulit (Mandibelli, 1976 dalam Hutagalung, 1991). Sebagian besar

logam berat masuk ke dalam tubuh organisme air melalui rantai makanan

(Waldichuck, 1974).

Peningkatan kadar logam berat diair laut akan sangat berbahaya,

karena yang semula dibutuhkan untuk berbagai proses metabolisme berubah

menjadi racun bagi organisme laut (Dahuri, dkk., 2001). Logam berat dapat

berpindah dari lingkungan ke organisme, dan dari organisme satu ke

organisme lain melalui rantai makanan (Yalcin, et al., 2008). Bivalvia

(kerang-kerangan) adalah biota yang biasa hidup menetap didalam substrat

dasar perairan (biota bentik) yang relatif lama sehingga biasa digunakan

sebagai bioindikator untuk menduga kualitas perairan dan merupakan salah

satu komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi (Stowe, 1987).

Kerang-kerangan merupakan suatu jenis biota laut yang sering dijadikan

sebagai biomonitoring tingkat polusi logam berat di suatu perairan terutama

daerah pantai, karena tingkat mobilitasnya yang rendah (Andriyani, 2009).

Bioindikator yang tepat untuk mengetahui pencemaran logam yaitu jenis

kerang dan mikroalgae (Hutagalung, 1984).

xxix
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2016,

dengan lokasi penelitian yaitu ekosistem mangrove pada tegakan Rhizophora

stylosa sekitar Sungai Lampopala yang berada dalam kawasan Taman

Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) Sulawesi Tenggara.

Sungai Lampopala merupakan salah satu sungai yang di sekitarnya

terdapat ekosistem mangrove yang menjadi tempat aktivitas masyarakat

sekitar mengambil kerang kalandue (Polymesoda erosa). Secara umum,

Sungai Lampopala ditampilkan pada gambar 2 :

Gambar 2. Peta Lokasi Sungai Lampopala, sumber : Google.com

15
xxx
16

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 1.


Tabel 1. Alat yang digunakan beserta kegunaannya.
No Nama Alat Satuan Kegunaan
1 2 3 4 5
1. Alat Sebagai wadah
Box es -
Lapangan penyimpanan sampel
2. Kamera Untuk mengambil
-
Digital gambar dokumentasi
3. Untuk menuliskan data
Alat tulis -
pengamatan
4. Sebagai wadah
Plastik ciplok -
penyimpanan sampel
5. Botol sampel Sebagai wadah sampel air
6. Untuk menentukan titik
koordinat
GPS
stasiun pengambilan
sampel
7. DO meter ppm Untuk mengukur DO
8. pH meter - Untuk mengukur pH air
9. Refrakometer ppt Untuk mengukur salinitas
10. Thermometer °C Untuk mengukur suhu air
11. Alat Pipet filler mL Untuk mengambil larutan
12. Laboratorium Untuk memanaskan
Hotplate -
sampel/destruksi
13. Untuk menghaluskan
Blender -
sampel
14. Untuk membantu
Corong -
penyaringan
AAS (Atomic Sebagai alat untuk
15. Absorption menganalisis logam
-
Spectrophoto Berat
meter)
16. Untuk memanaskan
Oven - sampel

17. Sebagai wadah sampel


Erlenmeyer mL saat ekstraksi

18. Gelas ukur mL Untuk mengukur larutan


19. Tabung Sebagai wadah sampel
mL
reaksi fitrat jernih

xxxi
2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan beserta kegunaannya.


No Nama Bahan Kegunaan
1 2 3
1. Sampel air, sedimen dan Sebagai sampel pengamatan
daging kerang kalandue
(Polymesoda erosa)
2. HNO3 Sebagai larutan destruktif
3. Kertas label Sebagai penanda sampel
4. Aquades Sebagai larutan pengencer
5. Kertas Whatman Sebagai penyaring ekstrak
Sebagai wadah daging kerang saat
6. Aluminium foil
dioven

C. Variabel Penelitian

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel bebas : air, sedimen dan daging kerang kalandue (Polymesoda erosa)

Variabel terikat: kadar logam berat Hg, Cd dan Pb.

D. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi. Sampel kerang

kalandue (Polymesoda erosa) dikoleksi kemudian dianalisis kandungan logam

beratnya menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer).

E. Definisi Operasional dan Indikator Penelitian

1. Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya kekeliruan, maka dijelaskan beberapa

definisi operasional yaitu sebagai berikut:

a. Bioakumulasi merupakan kemampuan kerang kalandue (Polymesoda

erosa) yang ada di ekosistem mangrove dalam kawasan Taman Nasional

17
xxxii
18

Rawa Aopa Watumohai dalam menyerap dan mengakumulasi logam

berat dan bahan polusi lainnya dari lingkungan ke dalam organ tubuh

kerang.

b. Logam berat merkuri (Hg) adalah logam yang apabila terdapat dalam

perairan akan diubah oleh aktivitas mikroorganisme menjadi komponen

metil merkuri (CH3-Hg) yang bersifat racun, dapat berasal dari buangan

limbah industri kelistrikan dan elektronik, baterai, pabrik bahan peledak,

fotografi, pelapisan cermin, pelengkap pengukur, industri bahan

pengawet, pestisida, industri kimia, petrokimia, limbah kegiatan

laboratorium dan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan

baku bakar fosil (Suryadiputra, 1995).

c. Timbal (Pb) secara alami banyak ditemukan dan tersebar luas pada

bebatuan dan lapisan kerak bumi. Apabila masuk di perairan ditemukan

dalam bentuk senyawa anorganik dan organik diantaranya Pb2+ PbSO4.

Cemaran timbal (Pb) ke laut berasal dari buangan di wilayah pesisir dari

daratan dan dari udara (sisa pembakaran kendaraan bermotor). Limbah

yang mengandung unsur timbal umumnya berasal dari limbah industri

cat, baterai, dan bahan bakar mobil (Mukhtasor, 2007).

d. Kadmium (Cd) merupakan logam yang apabila terdapat di perairan

ditemukan dalam bentuk senyawa anorganik seperti Cd2+, Cd(OH)+,

CdSO4 dan Cd organik. Sering digunakan sebagai bahan utama atau

tambahan materi dalam industri, antara lain industri baterai nikel, bahan

xxxiii
coating, bahan stabilizers dalam industri plastik dan barang sintetis lain

(Csuros, 2002 dalam Awalina, 2011).

e. Kerang kalandue (Polymesoda erosa) termasuk dalam kelas bivalvia,

family corbiludae mencakup kerang-kerangan, yang ditemukan pada

kawasan hutan mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

2. Indikator Penelitian

Indikator dalam penelitian ini adalah kandungan logam berat Hg,

Pb dan Cd pada kerang kalandue (Polymesoda erosa) yang terakumulasi

dalam daging kerang.

F. Prosedur Penelitian

1. Penetapan Lokasi

Kerang kalandue (Polymesoda erosa) dalam penelitian ini berlokasi di

ekosistem mangrove tegakan Rhizophora stylosa sekitar Sungai Lampopala

yang berada dalam kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

(TNRAW) Sulawesi Tenggara. Penentuan stasiun pengambilan sampel

dilakukan dengan metode untuk mencari kerang kalandue (Polymesoda

erosa), stasiun penelitian ditentukan berdasarkan keberadaan jenis kerang

kalandue (Polymesoda erosa). Stasiun pengambilan sampel kerang

kalandue (Polymesoda erosa) pada tegakan Rhizophora stylosa dengan titik

koordinat S:0,4°29’48.9”-E:122°07’18.3”. Pengambilan sampel air di

Sungai Lampopala dengan titik koordinat S:0,4°29’50,6”-E:122°07’21.5”

Pengambilan sampel kerang kalandue (Polymesoda erosa) yang dikoleksi

dengan metode purposive sampling

19
xxxiv
20

2. Teknik Pengumpulan Data dan Pengambilan Sampel

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data lapangan mengenai kualitas air meliputi

parameter suhu, salinitas, pH dan DO. Dilakukan dengan

menggunakan alat pH meter, DO meter, Refrakometer, dan

thermometer. Teknik pengukuran dilakukan dengan cara menurunkan

alat pH meter, DO meter dan thermometer dari permukaan ke badan

air.

b. Pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel sedimen dilakukan pengambilan

di sekitar ekosistem mangrove muara Sungai Lampopala. Sedimen

diambil dengan menggunakan tangan dengan kedalaman 7 cm.

Sedimen yang dikoleksi dimasukkan kedalam plastik ciplok, lalu

diletakan pada box sampel. Pengambilan sampel air dilakukan di

muara Sungai Lampopala dengan menggunakan botol sampel, air

dimasukkan kedalam botol sampel dan selanjutnya dianalisis di

Laboratorium Forensik dan Biomolekuler FMIPA UHO.

Pengambilan sampel kerang dilakukan pada saat air laut surut

dengan menggunakan tangan, pengambilan kerang berdasarkan

ukuran besar (>7 cm) sebanyak 10 individu dan kecil (<5 cm)

sebanyak 10 individu. Sampel kerang dicuci dengan air hingga semua

lumpur yang melekat hilang, pengambilan sampel kerang disetiap

stasiun kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik yang telah

xxxv
diberi tanda dan disimpan dalam ice box untuk mencegah kontaminasi

logam selama pengangkutan ke Laboratorium. Secara jelas

ditampilkan pada gambar :

Daging Kerang Besar

Daging Kerang Kecil

Gambar 3. Kriteria pengambilan sampel

3. Analisis Logam Berat Sampel

Analisis logam berat Hg, Cd dan Pb mengacu kepada Radulescu, et

al., (2013) yang dimodifikasi adalah sebagai berikut :

a. Preparasi sampel sedimen dan daging kerang

Preparasi sampel air, sedimen dan daging kerang kalandue

(Polymesoda erosa) dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut :

1. Sampel air

a. Menyaring sampel air agar terpisah dari benda-benda asing seperti

potongan plastik, daun atau bahan-bahan lain.

b. Mengambil sampel air sebanyak 100 mL

c. Menambahkan larutan HN03 pekat sebanyak 10 mL

d. Melakukan penguukuran logam Hg, Pb dan Cd menggunakan alat

AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer).

xxxvi
21
22

2. Sampel sedimen

a. Mengeringkan sampel sedimen

b. Menggerus sampel sedimen yang telah kering dengan

menggunakan mortar hingga halus.

c. Menimbang 0,3 gram sampel dengan menggunakan wadah

erlenmeyer pada timbangan analitik.

d. Menambahkan reagen campuran HNO3 pekat sebanyak 10 mL

e. Memasukkan wadah erlenmeyer ke dalam ruang destruksi Hotplet,

kemudian sampel didestruksi selama 20 menit pada suhu 250oC

sampai diperoleh hasil destruksi (filtrat).

f. Mendinginkan fitrat, lalu menambahkan 20 ml aquadest.

g. Menyaring hasil destruksi menggunakan kertas Whatman.

h. Mendinginkan filtrat yang telah dihasilkan.

i. Melakukan pengukuran logam Hg, Cd dan Pb terhadap filtrat

menggunkan alat AAS (Atomic Absorption Spectrofotometer).

3. Sampel daging kerang

a. Memisahkan daging kerang dari cangkangnya

b. Mengoven daging kerang pada suhu 60°C selama 2 hari

c. Menghaluskan sampel daging kerang dengan menggunakan

blender.

d. Menimbang sampel sebanyak 0,3 gram dengan menggunakan

wadah erlenmeyer pada timbangan analitik.

e. Menambahkan HNO3 pekat 10 mL

xxxvii
f. Mendekstruksi sampel pada suhu 250°C–300°C hingga sampel

larut dan diperoleh uap asap putih.

g. Mendinginkan filtrat, lalu menambahkan 20 mL aquadest.

h. Menyaring sampel dengan menggunakan kertas saring kedalam

labu ukur.

i. Filtrat jernih yang diperoleh diukur ke alat pembacaan logam

sampel dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption

Spectrophotometer).

Secara singkat, diagram alir prosedur kerja dalam penelitian

dapat dilihat pada gambar 4 :

23
xxxviii
24

Studi lokasi, pengambilan


stasiun pengambilan sampel

Koleksi sampel sedimen dan


daging kerang

Preparasi dan penggerusan

+ HNO3 pekat,10 mL

Penimbangan sampel sebanyak 0,3 gram sampel sedimen dan


sampel daging kerang dalam erlenmeyer pada timbangan analitik

Destruksi selama 20 menit,


pada suhu 250oC

Penyaringan menggunakan
kertas saring

Filtrat

Didinginkan
+Aquades 20
mL
Analisis menggunakan AAS (Atomic
Absorption Spectrophotometer)

Analisis kadar logam berat sebenarnya dengan rumus


Kadar sebenarnya = KAAS x Vp
Ws

Gambar 4. Diagram Prosedur Kerja Analisis Logam Berat

xxxix
b. Analisis Statistik Penentuan Kadar Logam Hg, Cd dan Pb

Untuk penentuan kadar logam berat sederhana menggunakan

rumus Hutagalung dan Permana (1994) sebagai berikut:

. =

Dimana

K. Sebenarnya : Konsentrasi sebenarnya (µg/g)


KAAS : Konsentrasi AAS (mg/L)
Vp : Volume pelarut (mL)
Ws : Massa sampel (mg)

c. Analisis Faktor Biokumulasi (BCF) Logam Hg, Cd dan Pb pada


Daging Kerang.

Untuk mengetahui bioakumulasi logam berat pada sampel

daging kerang dihitung dengan menggunakan rumus yang mengacu

pada Ma et al., 2001 dalam Rezvani, (2011)

BCF = Cbiota / CSoil

Dimana: Cbiota = total konsentrasi logam pada organisme

CSoil = total konsentrasi logam pada sedimen.

G. Analisis Data

Kadar logam yang diperoleh dari hasil uji konsentrasi sebenarnya untuk

seluruh sampel dianalisis perbandingan rerata kadar logam antar sampel

secara statistik menggunakan t-test untuk mengetahui perbedaan antara

konsentrasi logam pada sedimen, dan daging kerang dengan Microsoft excel,

serta grafik menggunakan program KaleidaGraph versi 4.0.

xl25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Parameter Lingkungan Perairan

Hasil pengukuran parameter lingkungan di Sungai Lampopala Taman

Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) ditampilkan pada tabel 3 sebagai

berikut:

Tabel 3. Parameter lingkungan di Sungai Lampopala


Salinitas
Ulangan Suhu (°C) pH air DO
(%o)
I 28°C 20 8,0 5,4
II 28°C 19 8,0 5,3
III 29°C 20 8,0 5,4
Rata-rata 28°C 20 8,0 5,4
Baku Mutu 28-32 0-34 7-8,5 >5

Parameter lingkungan di Sungai Lampopala Taman Nasional Rawa Aopa

Watumohai, pengukuran suhu, pH, salinitas dan DO. Nilai suhu perairan TNRAW

berkisar 28-29°C, kisaran suhu tersebut merupakan kondisi normal bagi kehidupan

bivalvia termasuk kerang Polymesoda erosa. Nilai suhu masih dalam batas standar

baku mutu menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004

bahwa standar baku mutu air laut untuk biota laut untuk suhu air adalah 28-32°C.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Parenrengi, et al., (1998), dalam Prasojo (2012),

yang menjelaskan bahwa suhu yang sesuai untuk bivalvia berkisar antara 28-31°C.

Selanjutnya Kastoro (1988) menyatakan bahwa kisaran suhu normal bagi kerang-

kerangan dapat hidup di daerah tropis yaitu 20-35ºC. Menurut Odum (1993), suhu

mempengaruhi reaksi kimia, metabolisme, pelepasan logam berat oleh organisme,

dan meningkatkan proses bioakumulasi logam dalam tubuh organisme.

26
xli
27

pH di ekosistem mangrove TNRAW cenderung tetap yaitu 8. Hal ini

menunjukkan bahwa ekosistem mangrove TNRAW masih tergolong produktif

dan ideal bagi kehidupan hewan akuatik. Nilai pH masih dalam batas standar baku

mutu menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004

bahwa standar baku mutu air laut untuk biota laut untuk pH adalah 7-8,5. Sesuai

dengan pernyataan Hasri (2004) menyatakan bahwa derajat keasaman (pH) yang

dimiliki perairan laut senantiasa berada dalam keseimbangan karena perairan laut

memiliki sistem penyangga (buffer capacity) yang mampu mempertahankan nilai

pH. Selanjutnya Yona (2002) menyatakan bahwa pH 7,0-8,5 termasuk baik untuk

perkembangan moluska sebab pH yang kurang dari 5 dan lebih besar dari 9

menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi makrozoobenthos.

Perairan dengan pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi

ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya (Odum,1993). Connell

(1995), menyatakan bahwa kenaikan pH di perairan akan diikuti dengan

penurunan kelarutan logam berat, sehingga logam berat cenderung mengendap.

Suhu dan pH merupakan parameter lingkungan yang memberikan pengaruh

terhadap kadar logam. Menurut Odum (1993) peningkatan suhu menyebabkan

laju penyerapan dan proses bioakumulasi logam berat dalam tubuh organisme

juga meningkat. Kenaikan pH akan menyebabkan turunnya kelarutan logam berat

sehingga logam cenderung mengendap.

Nilai salinitas di ekosistem mangrove TNRAW berkisar 19-20%o, nilai

salinitas yang diperoleh dari hasil pengukuran yang dilakukan di ekosistem

mangrove TNRAW masih dalam kondisi baik bagi pertumbuhan bivalvia. Hal ini

xlii
sesuai dengan pernyataan Widasari (2013), yang menyatakan bahwa sebagian

besar bivalvia dapat hidup dengan baik pada kisaran salinitas 5-35 ‰. Selanjutnya

Widhowati dkk., (2005), berpendapat bahwa salinitas yang optimum untuk

kehidupan kerang adalah 5 ‰–35 ‰. Beragamnya salinitas di perairan

bergantung pada musim, topografis, pasang surut dan jumlah air tawar yang

masuk di daerah estuari.

DO sangat diperlukan untuk mendukung eksistensi organisme akuatik,

perombakan bahan-bahan organik dan digunakan sebagai petunjuk besarnya

produktivitas primer di perairan. Nilai DO dalam perairan sangat tergantung pada

jumlah zat organik di perairan dan juga tergantung pada suhu air dimana semakin

tinggi suhu air maka semakin rendah nilai DOnya (Melinda, dkk., 2015). Nilai

DO perairan yang diamati yaitu 5,4 ppm, kandungan DO 5,4 ppm sudah cukup

untuk mendukung kehidupan biota kauatik, nilai masih dalam batas standar baku

mutu menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004

bahwa standar baku mutu air laut untuk biota laut untuk DO adalah > 5 ppm.

B. Konsentrasi Logam Berat Dalam Air

Hasil pengukuran kadar logam berat Hg, Cd, Pb dalam air di Sungai

Lampopala ekosistem mangrove di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

(TNRAW) ditampilkan pada tabel 4 sebagai berikut:

Tabel 4. Rerata Kadar Logam Berat Hg, Cd, Pb dalam Air.


Logam Air (mg/L) ± SE Baku Mutu (mg/L)
Hg 0.00062±0.000 0.001
Pb 0.0204±0.000 0.008
Cd 0.0040±0.000 0.001

xliii
28
29

Hasil pengukuran konsentrasi logam berat Hg, Cd dan Pb dalam Air di

ekosistem mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Konsentrasi logam

Hg (0,0006±0,000 mg/L) Pb (0,0204±0,000 mg/L) dan Cd (0,004±0,000 mg/L)

dalam air, konsentrasi logam Hg tidak melebihi ambang batas yang diizinkan

sesuai dengan baku mutu logam berat merkuri (Hg) Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk Hg

berkisar 0.001 mg/L. Kadar logam Pb (0,0204±0,000 mg/L) dan Cd (0,004±0,000

mg/L) melebihi ambang batas yang diizinkan sesuai dengan Keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut

berkisar 0.008 mg/L untuk kadar logam Pb, sedangkan untuk kadar logam Cd

berkisar 0,001 mg/L. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan kadar logam

Hg dalam air tidak melebihi dari ambang batas yang ditentukan. Sedangkan untuk

logam Pb dan Cd dalam air telah melebihi ambang batas yang telah ditentukan

dan tidak layak untuk digunakan.

C. Perbandingan Kadar Logam Berat Dalam Air dan Sedimen

Hasil pengukuran kadar logam berat Hg, Cd, Pb dalam air dan sedimen di

Sungai Lampopala ekosistem mangrove di Taman Nasional Rawa Aopa

Watumohai (TNRAW) ditampilkan pada tabel 5 sebagai berikut:

Tabel 5. Rerata Kadar Logam Berat Hg, Cd, Pb dalam Air dan Sedimen
Logam Air (ppm) Sedimen (ppm)
Hg 0.0006±0.000 0.0024±0.000
Pb 0.0204±0.000 0.0686±0.000
Cd 0.0040±0.000 0.0301±0.001

Hasil pengukuran konsentrasi logam berat Hg, Cd, Pb dalam air dan

sedimen di ekosistem mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

xliv
Konsentrasi logam Hg (0,0024±0,000 ppm), Pb (0,0686±0,000 ppm) dan Cd

(0,0301±0,001 ppm) dalam sedimen di TNRAW lebih tinggi dibandingkan

konsentrasi logam Hg (0,0006±0,000 ppm), Pb (0,0204±0,000 ppm) dan Cd

(0,0040±0,000 ppm) dalam air. Hal ini sesuai dengan penelitian Amriani, dkk.,

(2011), melakukan penelitian di Perairan Teluk Kendari menemukan kandungan

Pb dan Zn dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air. Timbal (Pb) dalam

air sebesar 0,016±0,002 ppm, dalam sedimen 0,802±0,022 ppm dan kandungan

seng (Zn) dalam air 0,407±0,149 ppm dan dalam sedimen 5,328±0,713 ppm. Pada

air laut logam berat masih bisa bergerak bebas akibat pengaruh arus, pasang surut

dan gelombang sehingga terjadinya pengenceran. Harahap (1991) menyatakan

bahwa logam berat bersifat mengendap dalam perairan. Logam berat mempunyai

sifat mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen, maka kadar logam

berat dalam sedimen umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan di perairan.

D. Perbandingan Kadar Logam Berat Merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan


Kadmium (Cd) pada Daging Kerang Kalandue (Polymesoda erosa) dan
Sedimen

Hasil analisis kadar logam berat Hg, Pb dan Cd pada kerang Polymesoda

erosa dan sedimen secara jelas, rerata kadar logam ditampilkan pada gambar

berikut :

30
xlv
31

Kadar Logam Hg (µg/g) 5

1
0.244 a 0.176 b 0.123 c
0
Sedimen Kerang Besar (>7 cm) Kerang Kecil (<5 cm)

Gambar 5. Kadar logam Hg pada sedimen, kerang besar dan


kerang kecil

Hasil pengukuran kadar logam Hg pada sedimen dan kerang dapat dilihat

pada Gambar 5. Kadar logam Hg bervariasi antara kerang dengan sedimen. Kadar

Hg sedimen nampak tinggi (0,244±0,000 µg/g) dibandingkan kadar Hg pada

kerang berukuran besar (0,176±0,000 µg/g) dan kerang berukuran kecil

(0,123±0,000 µg/g). Uji statistik dengan t-test (Lampiran 5) menunjukan bahwa

kadar logam berat Hg pada kerang berukuran besar berbeda secara signifikan

dengan kadar logam Hg pada kerang berukuran kecil (P = 7,4×10-7), dan kadar

logam Hg pada kerang besar berbeda signifikan dengan kadar logam Hg sedimen

(P = 9,5×10-8), serta kadar logam Hg pada kerang kecil berbeda signifikan

dengan kadar logam Hg sedimen (P = 2,5×10-8).

xlvi
7 6.86 a

Kadar Logam Pb (µg/g)


5.08 b
5

4 3.66 C

0
Sedimen Kerang Besar (>7 cm) Kerang Kecil (<4 cm)

Gambar 6. Kadar logam Pb pada sedimen, kerang besar


dan kerang kecil

Hasil pengukuran kadar logam Pb pada sedimen dan kerang dapat dilihat

pada Gambar 6. KadarS logam Pb bervariasi antara kerang dengan sedimen.

Kadar Pb sedimen nampak tinggi (6,863±0,014 µg/g) dibandingkan pada kerang

berukuran besar (5,08±0,015 µg/g) dengan kerang berukuran kecil (3,656±0,021

µg/g). Uji statistik dengan t-test (Lampiran 5) menunjukan bahwa kadar logam

berat Pb pada kerang berukuran besar berbeda secara signifikan dengan kadar

logam Pb pada kerang berukuran kecil (P = 7,3×10-7), dan kadar logam Pb pada

kerang besar berbeda signifikan dengan kadar logam Pb sedimen (P = 1,1×10-7),

serta kadar logam Pb pada kerang kecil berbeda signifikan dengan kadar logam

Pb sedimen (P = 2,6×10-8).

32
xlvii
33

Kadar Logam Cd (µg/g)


5

3.02 a
3
2.38 b
2

1 0.84 c

0
Sedimen Kerang Besar (>7 cm) Kerang Kecil (<5 cm)

Gambar 7. Kadar logam Cd pada sedimen, kerang besar


dan kerang kecil

Hasil pengukuran kadar logam Cd pada sedimen dan kerang dapat dilihat

pada Gambar 7. Kadar logam Cd bervariasi antara kerang dengan sedimen. Kadar

Cd sedimen nampak tinggi (3,017±0,194 µg/g) dibandingkan pada kerang

berukuran besar (2,376±0,014 µg/g) dengan kerang berukuran kecil (0,84±0,025

µg/g). Uji statistik dengan t-test (Lampiran 5) menunjukan bahwa kadar logam

berat Cd pada kerang berukuran besar berbeda secara signifikan dengan kadar

logam Cd pada kerang berukuran kecil (P = 7,6×10-7), dan kadar logam Cd pada

kerang besar berbeda signifikan dengan kadar logam Cd sedimen (P = 0,03), serta

kadar logam Cd pada kerang kecil berbeda signifikan dengan kadar logam Cd

sedimen (P = 36×10-4).

Hasil pengukuran kadar logam Hg, Pb dan Cd (Gambar 5, 6 dan 7), kadar

logam Hg, Pb dan Cd nampak lebih tinggi pada sedimen dibandingkan kadar

logam Hg, Pb dan Cd pada kerang besar dan kerang kecil. Sesuai dengan

xlviii
penelitian Suwarsito (2014), menemukan kadar logam Cd (0,079 ppm) dan Pb

(1,212 ppm) lebih tinggi dalam sedimen, dibandingkan kadar logam Cd (0,008

ppm) dan Pb (0,257 ppm) pada kerang. Dari data tersebut mengindikasikan terjadi

akumulasi logam dalam sedimen. Hal ini menunjukkan bahwa sedimen

merupakan tempat proses akumulasi logam berat di sekitar perairan laut.

Berdasarkan kondisi tipe sedimen yang terdapat pada stasiun pengambilan kerang

Polymesoda erosa di TNRAW yaitu tipe sedimen berlumpur berwarna hitam.

Wardani (2014), menyatakan bahwa komposisi (tekstur) sedimen yang berupa

lumpur berwarna hitam, mempunyai sedimen yang lebih halus dan akan

mengakumulasi bahan organik yang jauh lebih besar dari pada sedimen yang

mengandung fraksi lebih kasar seperti pasir dan kerikil, sehingga mempunyai

konsentrasi logam berat yang lebih besar.

Sedimen dengan kandungan lumpur yang tinggi akan meningkatkan

akumulasi logam. Kondisi sedimen dengan fraksi lumpur akan berpengaruh

terhadap konsentrasi logam (Hamzah, 2010). Diperkuat dengan pernyataan Amin

(2002), menyatakan tipe sedimen dapat mempengaruhi kadar logam berat di

dalamnya. Berdasarkan penelitian Hasidu (2015) di TNRAW menemukan kadar

logam berat Hg di sedimen mencapai 0,230±0,018 µg/g, kadar Pb 0,0131±0,000

µg/g, dan kadar Cd 0,319±0,001 µg/g, hal ini mengindikasikan bahwa akumulasi

logam berat Hg, Cd dan Pb pada sedimen yang menjadi habitat Rhizophora

apiculata, Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata di kawasan TNRAW.

Hasidu (2015) juga menyatakan terjadi perbedaan kadar logam berat di TNRAW

kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti tipe substrat sedimen, aliran

34
xlix
35

air tawar dari daratan dan hempasan air laut maupun keberadaan vegetasi

mangrove. Aliran air dari daratan yang kemungkinan mengandung logam berat

dari hasil aktifitas penambangan yang terjadi di kawasan Bombana maupun

Konawe selatan dapat masuk ke kawasan mangrove melalui aliran beberapa

sungai sehingga dapat meningkatkan akumulasi logam berat di kawasan mangrove

termasuk pada kawasan habitat kerang Polymesoda erosa di TNRAW.

Tingginya kadar logam Pb dikawasan mangrove tegakan Rhizophora

stylosa sekitar sungai Lampopala diduga berasal dari darat dan logam Pb terbawa

oleh air laut pada saat pasang. Logam Hg diduga berasal dari aktifitas

pertambangan emas di kabupaten Bombana, maupun kegiatan pertanian di darat.

Logam Cd diduga berasal dari limbah rumah tangga yang terbawa oleh aliran

sungai. Rahim (2015), menyatakan bahwa tingginya kadar logam berat Hg, Pb,

Cd, Cu dan Zn di perairan estuari kawasan TNRAW berasal dari darat dan

terbawa oleh air laut pada saat pasang kemudian mengendap dalam sedimen.

E. Perbandingan Kadar Logam Berat Merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan


Kadmium (Cd) pada Daging Kerang Kalandue (Polymesoda erosa)
Berdasarkan Ukuran Tubuh

Hasil analisis kadar logam berat Hg, Pb dan Cd pada kerang Polymesoda

erosa ukuran besar, rerata kadar logam ditampilkan pada gambar berikut :

l
6

5.08
5

Kadar Logam (µg/g)


4

3
2.38
2

1
0.176
0
Hg Pb Cd
Kerang Besar (>7 cm)

Gambar 8. Kadar logam Hg, Pb dan Cd pada kerang besar

Hasil pengukuran kadar logam Hg, Pb dan Cd pada kerang besar dapat

dilihat pada Gambar 8. Kerang besar cenderung mengakumulasikan logam berat

Pb (5,08±0,015 µg/g) paling tinggi, dibandingkan dengan logam Hg (0,176±0,000

µg/g) dan Cd (2,376±0,014 µg/g). Dengan demikian dapat diindikasikan bahwa

pada kerang besar cenderung lebih aktif menyerap dan mengakumulasi logam Pb

dibandingkan logam Cd dan Hg.

36
li
37

Kadar Logam (µg/g) 4 3.66

1 0.84

0.123
0
Hg Pb Cd
K erang K ecil (<5 cm )
Gambar 9. Kadar logam Hg, Pb dan Cd kerang kecil

Hasil pengukuran kadar logam Hg, Pb dan Cd pada kerang kecil dapat

dilihat pada Gambar 9. Kerang kecil lebih cenderung mengakumulasi logam Pb

(3,656±0,021 µg/g) lebih tinggi dibandingkan logam Hg (0,123±0,000 µg/g) dan

Cd (0,84±0,025 µg/g). Dengan demikian dapat diindikasikan bahwa kerang kecil

lebih aktif menyerap dan mengakumulasi logam berat Pb dibandingkan dengan

logam berat Cd dan Hg. Dari data tersebut pada kerang Polymesoda erosa di

TNRAW, menunjukkan bahwa kerang berukuran besar (Gambar 8), memiliki

konsentrasi logam berat Pb yang lebih tinggi dibandingkan logam Cd dan Hg.

Sedangkan kerang kecil (Gambar 9), memliki konsentrasi logam Pb yang paling

tinggi dibandingkan logam Cd dan Hg.

Perbandingan kemampuan dalam mengakumulasi logam berat Hg, Pb dan

Cd pada kerang berdasarkan ukuran tubuh (Gambar 8 dan 9), kerang ukuran besar

memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menyerap dan mengakumulasi

logam Pb, Cd dan Hg dibandingkan kerang ukuran kecil. Hal ini dipengaruhi oleh

lii
beberapa faktor, diantaranya terkait dengan cara hidup kerang yang cenderung

menetap dan menanamkan diri di lumpur sedimen serta cara makan kerang yaitu

filter feeder. Dalam proses filter feeder, kerang menyaring makanan yang masuk

ke dalam tubuhnya. Saat makanan tersebut masuk ke dalam tubuh kerang, maka

partikel logam berat akan ikut terserap ke dalam tubuh, sehingga semakin banyak

makanan yang disaring maka semakin banyak pula logam berat dalam tubuh

kerang. Hal ini juga berkaitan dengan besarnya ukuran kerang dan waktu tinggal

kerang selama hidupnya, karena kerang yang berukuran besar akan melakukan

proses makan yang lebih banyak daripada kerang berukuran kecil, serta kerang

besar mempunyai waktu akumulasi logam berat telah berlangsung lebih lama

dibandingkan kerang kecil.

Sesuai dengan penelitian Amriani, dkk., (2011), pada kerang darah

(Anadara granosa) dan kerang bakau (Polymesoda bengalensis) kedua jenis

kerang dalam mengakumulasi logam timbal (Pb) dan seng (Zn) lebih tinggi pada

kerang ukuran besar, disebabkan pula tingkat metabolisme pada ukuran kerang

besar juga tinggi. Diperkuat dengan penelitian Fauziah (2012), pada kerang darah

(Anadara granosa), yang menyatakan bahwa ukuran cangkang yang besar

berkorelasi positif dengan meningkatnya umur dan meningkatknya umur juga

berkorelasi positif dengan meningkatnya konsentrasi logam berat pada tubuh.

Amriani, dkk., (2011) menyatakan bahwa besarnya cangkang suatu spesies

makrofauna benthik biasanya diidentikkan dengan umur spesies tersebut. Artinya

semakin besar ukuran cangkang maka umur spesies tersebut juga diperkirakan

lebih tinggi, sehingga waktu akumulasi logam berat telah berlangsung lebih lama

38
liii
39

dibandingkan kerang dengan ukuran cangkang kecil (umur lebih muda). Riget, et

al., (1996) juga melakukan penelitian pada Mytilus edulis menemukan korelasi

positif antara ukuran cangkang dengan kemampuan mengakumulasi logam berat.

Dapat juga dikatakan bahwa selama spesies tersebut mengalami pertumbuhan,

maka kemampuannya untuk mengakumulasi logam juga meningkat. Hutagalung

dan Razak (1981), menyatakan bahwa kerang mempunyai kemampuan

mengakumulasikan logam berat dalam tubuhnya maka kandungan logam berat

dalam tubuh kerang akan meningkat terus bersamaan dengan lamanya kerang

tersebut tinggal dalam perairan yang mengandung logam berat.

F. Faktor Bioakumulasi (BCF) Logam Berat

Hasil perhitungan faktor bioakumulasi setiap logam berat Hg, Pb dan Cd

pada daging kerang Polymesoda erosa di Taman Nasional Rawa Aopa

Watumohai ditampilkan pada gambar berikut :

0.8
BCF Logam Hg

0.6

0.4

0.2 0.176 a
0.123 b

0
Kerang Besar (>7 cm) Kerang kecil (<5 cm)

Gambar 10. Faktor bioakumulasi logam Hg pada kerang

liv
Faktor bioakumulasi logam berat Hg dapat dilihat pada Gambar 10, faktor

bioakumulasi (BCF) nampak tinggi pada kerang besar (0,723±0,002)

dibandingkan kadar kerang kecil (0,504±0,003). Uji statistik dengan t-test

(Lampiran 6) menunjukan bahwa kadar logam Hg pada kerang berukuran besar

berbeda secara signifikan dengan kadar logam Hg pada kerang berukuran kecil (P

= 7,4×10-7).

0.8 a
0.74
BCF logam Pb

0.6
0.532 b

0.4

0.2

0
Kerang Besar (>7 cm) Kerang kecil (<5 cm)
Gambar 11. Faktor bioakumulasi logam Pb pada kerang

Faktor bioakumulasi logam Pb dapat dilihat pada Gambar 11, faktor

bioakumulasi (BCF) nampak tinggi pada kerang besar (0,740±0,001) dibandingkan

kerang kecil (0,532±0,005), Uji statistik dengan t-test (Lampiran 6) menunjukan

bahwa kadar logam Pb kerang berukuran besar dan kadar logam Pb kerang kecil

berbeda secara signifikan (P = 4,9×10-7).

40
lv
41

0.8 0.793 a

BCF Logam Cd 0.6

0.4
0.281 b

0.2

0
Kerang Besar (>7 cm) Kerang kecil (<5 cm)

Gambar 12. Faktor bioakumulasi logam Cd pada kerang

Faktor bioakumulasi logam Cd dapat dilihat pada Gambar 12, faktor

bioakumulasi (BCF) logam Cd nampak tinggi pada kerang besar (0,793±0,077),

dibandingkan pada kerang kecil (0,281±0,042). Uji statistik dengan t-test

(Lampiran 6) menunjukan bahwa kadar logam Cd kerang berukuran besar dan

kadar logam Cd kerang kecil berbeda secara signifikan (P = 55×10-4).

G. Faktor Bioakumulasi Logam Berat Merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan


Kadmium (Cd) pada Daging Kerang Kalandue (Polymesoda erosa)
Berdasarkan Ukuran Tubuh

Hasil perhitungan faktor bioakumulasi logam berat Hg, Pb dan Cd pada

daging kerang Polymesoda erosa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

ditampilkan pada gambar berikut :

lvi
1

Faktor Bioakumulasi (BCF) Logam


0.793
0.8 0.74
0.723

0.6

0.4

0.2

0
Hg Pb Cd
Kerang Besar (>7 cm)
Gambar 13. Faktor bioakumulasi logam Hg, Pb dan Cd pada
kerang ukuran besar

Faktor bioakumulasi logam berat pada kerang besar dapat dilihat pada

Gambar 13, faktor bioakumulasi (BCF) kerang besar cenderung mengakumulasi

logam berat Cd (0,793±0,002) paling tinggi, dibandingkan pada logam Pb

(0,740±0,001) dan Hg (0,723±0,003). Hal tersebut mengindikasikan tingkat

akumulasi logam Cd yang paling aktif oleh daging kerang besar.

42
lvii
43

Faktor Bioakumulasi (BCF) Logam


0.8

0.6
0.504 0.532

0.4
0.281

0.2

0
Hg Pb Cd
Kerang Kecil (<5 cm)
Gambar 14. Faktor bioakumulasi logam Hg, Pb dan Cd pada
kerang ukuran kecil

Faktor bioakumulasi logam berat pada kerang kecil dapat dilihat pada

Gambar 14, faktor bioakumulasi (BCF) kerang besar cenderung mengakumulasi

logam berat Pb (0,532±0,005) paling tinggi, dibandingkan pada logam Cd

(0,281±0,042) dan Hg (0,504±0,003). Hal tersebut mengindikasikan tingkat

akumulasi logam Pb yang paling aktif oleh daging kerang kecil. Perbandingan

faktor bioakumulasi logam berat Hg, Pb dan Cd pada kerang berdasarkan ukuran

tubuh (Gambar 13 dan 14), kerang ukuran besar memiliki kemampuan yang lebih

besar dalam menyerap dan mengakumulasi logam Cd dibandingakan logam Pb

dan Hg, sedangkan kerang ukuran kecil memiliki kemampuan yang lebih besar

dalam menyerap dan mengakumulasi logam Pb dibandingakan logam Cd dan Hg.

Perbedaan akumulasi logam-logam berat pada daging kerang besar dan kerang

kecil tersebut mencerminkan perbedaan adaptasi terhadap keberadaan logam. Hal

ini mengindikasikan adanya keanekaragaman mekanisme fisiologi dari kerang

lviii
untuk tumbuh dan berkembang pada kondisi cekaman logam berat. Faktor

bioakumulasi (BCF) menunjukkan lebih besar akumulasi pada kerang besar

dibandingkan kerang kecil, sehingga biokamulasi dipengaruhi oleh ukuran tubuh

kerang.

Menurut Dallinger (1993), in Yap, (2014), nilai BCF didefinisikan sebagai

makrokonsentrator (BCF >2), mikrokonsentrator (1< BCF <2) dan dekonsentrator

(BCF <1). Melihat kapasitas akumulasi pada kerang Polymesoda erosa baik pada

kerang besar dan kerang kecil adalah akumulator yang baik meskipun tergolong

dekonsentrator karena BCF <1.

44
lix
V. PENUTUP

A. Simpulan

1. Kandungan logam berat Pb (5,08±0,015 µg/g) lebih tinggi dibandingkan logam

Cd (2,376±0,014 µg/g) dan Hg (0,176±0,000 µg/g) pada kerang berukuran

besar (>7 cm). Kandungan logam Pb (3,656±0,021 µg/g) lebih tinggi

dibandinkan logam Cd (0,84±0,025 µg/g) dan Hg (0,123±0,000 µg/g) pada

kerang yang berukuran kecil (<5 cm).

2. Faktor bioakumulasi (BCF) pada kerang kalandue (Polymesoda erosa)

tergolong dekonsentrator dimana BCF<1 baik pada kerang besar dan kerang

kecil yang mengindikasikan bahwa kerang kalandue (Polymesoda erosa)

adalah akumulator yang baik.

B. Saran

1. Perlu menjaga keanekaragaman biota laut khususnya kerang kalandue

(Polymesoda erosa) di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang

mempunyai fungsi antara lain sebagai bioakumulator logam berat.

2. Penelitian lanjutan tentang Bionutrien pada kerang kalandue (Polymesoda

erosa) di Taman nasional Rawa Aopa Watumohai mungkin perlu dilaksanakan.

lx45
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, J., Bahtiar., Ishak, E., 2014, Studi Morfometrik Kerang Kalandue
(Polymesoda erosa) di Hutan Mangrove Teluk Kendari, Jurnal Mina
Laut Indonesia, 04(01) : 1-2

Amin, B., 2002, Distribusi Logam Berat Pb, Cu dan Zn pada Sedimen Di Perairan
Telaga Tujuh Karimun Kepulauan Riau, Jurnal Natur Indonesia, 5(1) : 13.

Amriani., Hendrarto, B., dan Agus, H., 2011, Bioakumulasi Logam Berat Timbal
(Pb) dan Seng (Zn) Pada Kerang Darah (Anadara Granosa L.) dan
hJurnal Ilmu Lingkungan, 9(2) : 47-49

Analuddin, Jamili, dan Sahidin, I., 2015, Ecosystem Function of Mangroves as


Biofilter and Blue Carbon Source for The Coastal Zone at The Rawa Aopa
Watumohai National Park and its Surrounding Areas, Southeast Sulawesi,
Indonesia, Laporan Akhir Penelitian, Universitas Halu Oleo, Kendari.

Andriyani, R., dan Mahmudiono, T., 2009, Kadar Logam Berat Cadnium, Protein
dan Organoleptik Pada Daging Bivalvia Dan Perendaman Larutan Asam
Cuka, Jurnal Penelitian Eksakta, 8(2) : 153

Awalina, 2011, Bioakumulasi Ion Logam Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) dalam
Fitoplankton Pada Beberapa Perairan Situ Di Sekitar Kabupaten Bogor,
Tesis, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program
Magister Kimia, Depok.

Bachok, Z., Mfilinge, P, L., & Tsuchiya, M., 2006, Food Sources of Coexisting
Suspension-Feeding Bivalves as Indicated by Fatty Acid Biomarkers,
Subjected to the Bivalves Abundance on a Tidal Flat. Journal of
Sustainability Science and Management,1(92) : 111

Connel, D. W., and Gregory,J,M., 1995, Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.


UI Press, Jakarta.

Connel, D. W., 1995, Bioakumulasi Senyawaan Xenobiotik. (Diterjemahkan oleh


Yanti R. H. Koestoer), UI Press, Jakarta.

Dahuri, R. J., Rais, S. P., Ginting dan Sitepu, M, J,. 2001, Pengelolaan
Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terapdu, Pradya
Paramita, Jakarta.

-------, 2002, Membangun Kembali Perekonomian Indonesia Melalui Sektor


Perikanan dan Kelautan, LISPI, Jakarta.

lxi
46
47

Darmono, 2001, Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan


Toksikokogi Senyawa Logam, Universitas Indonesia (UI) Press: Jakarta.

---------,1995, Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup, UI-Press, Jakarta.

Fauziah, A. R., Rahardja, S. B., dan Cahyoko,Y., 2012, Korelasi Ukuran Kerang
Darah Anadara granosa dengan Konsentrasi Logam Berat Merkuri (Hg)
di Muara Sungai Ketinggian Sidoarjo, Fakultas Perikanan dan Kelautan.
Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Journal of Marine and
Coastal Science, 1(1), 34-44

Fisher, N. S., 2003, Adventage and Problems in the Apllication of Radiotracer for
Determining the Bioaccumulation of Contaminant in Aquatic Organism
RCM on Biomonitoring, IAEA, Monaco.

Hamzah, F., dan Setiawan, A., 2010, Akumulasi Logam Berat Pb, Cu, Dan Zn Di
Hutan Mangrove Muara Angke Jakarta Utara, Jurnal Ilmu dan Teknologi
Kelautan Tropis IPB, 2(2): 44

Harahap, S., 1991, Tingkat Pencemaran Air Kali Cakung dikaji dari Sifat Fisika-
Kimia Khususnya Logam Berat dan Keanekaragaman Jenis Hewan Bentos
Makro, IPB.

Hasidu, L. O. A. F., 2015, Biokumulasi Logam Berat pada Beberapa Jenis


Mangrove Famili Rhizophoraceae di Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai, Skripsi Program Studi Biologi, Universitas Halu Oleo.

Hasri, I., 2004, Kondisi, Potensi dan Pengembangan Sumber Daya Moluska dan
Krustase pada Ekosistem Mangrove di Daerah Ulee Lheue Banda Aceh,
Skripsi Sarjana, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

Hutagalung, H. P., 1984, Logam Berat Dalam Lingkungan Laut, Jurnal Oseana,
XI(1) : 11

---------,1991, Pemcemaran Laut Oleh Logam Berat Dalam Status Pencemaran


Laut Di Indonesia dan Teknik pemantauannya, P3-LIPI, Jakarta.

Hutagalung, H. P., Razak, H., 1981, Pengamatan pendahuluan kadar Pb dan Cd


dalam air dan biota di estuaria Muara Angke, Oseanologi di Indonesia,
15(1) : 10

Jasin, M., 1989, Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata, Universitas


Sinar Wijaya, Surabaya.

lxii
Kastoro, W. W., dan Sudjoko, B., 1988, Biologi Budidaya Oseanografi Geologi
dan Kondisi Perairan, LIPI, Jakarta.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang


baku mutu air laut untuk biota perairan, Lampiran III, Tanggal 8 april
tahun 2004.

Khan, S., Farooq, R., Shahbaz, S., Khan, M. A., and Sadique, M., 2009,
Healthrisk Assessment Of Heavy Metals For Population Via Consumption
Of Vegetables, Journal World Appl. Sci, 6(12) : 1602

Khasanah, N. E., 2009, Adsorpsi Logam Berat, Jurnal Oseana, 34(4) : 2-3

Khristoforova, N., 1981, Ussr National Report To The Westpac Task Team
Meeting, Dalam "Ioc Westpac Task Team Team Meeting On Marine
Pollution Research And Monitoring Using Commercially Exploited
Shellfish As Determinants". Unesco. Manila. 25 Hlm.

Kira, T., 1976, Shells of the Western Pacific in Ccolor, Hoikusha Publishing Co,
ltd, Japan: I(VIII) : 224

Marzuki, J., Deswandi, R., Asmara, A., Izmiarti, Marusin, N., dan Nurdin, J.,
2006, Kepadatan Populasi dan Pertumbuhan Kerang Darah Anadara
antiquata L. (Bivalvia: Arcidae) di Teluk Sungai Pisang, Kota Padang,
Sumatera Barat, Jurnal Makara sains, 10(2) : 122

Melinda, M., Sari, P. S., dan Rosalina, D., 2015, Kebiasaan Makan Kerang Kepah
(Polymesoda erosa) di Kawasan Mangrove Pantai Pasir Padi, Jurnal
OSEATE, 9(01) :35-36, ISSN: 1858 – 4519

Morton, B., 1983, The Mollusca Academis Press, Inc, Oriondo, New York.

Mukhtasor, 2007, Pencemaran Pesisir dan Laut. Pradnya Paramita, Jakarta.

Nontji, A., 2005, Laut Nusantara, Penerbit Jembatan, Jakarta.

Odum, E. P., 1994, Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

--------, E. P., 1993, Dasar-dasar Ekologi (Alih Bahasa: T. Samingan), Edisi


Ketiga, UGM Press, Yogyakarta.

Palar, H., 1994, Pencemaran dan toksikologi logam berat, Rineka cipta, Jakarta.

lxiii
48
49

Prasojo, S. A., 2012, Distribusi dan Kelas Ukuran Panjang Kerang Darah
(Anadara granosa) di Perairan Pesisir Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Journal Of Marine Research, 1(1) : 152-160

Rahim, S., 2015, Analisis Kondisi Lingkungan Estuaria Untuk Pengelolaan


Sumber Daya Pesisir Di Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai (TNRAW) dan Sekitarnya, Tesis Program Studi Perencanaan
dan Pengembangan Wilayah, Universitas Halu Oleo.

Rajamohan, R., Rao, T. S., Anupkumar, B., Sahayam, A. C., Krishna, M. V. B.,
Venugopalan, V. P., Narasimhan, S. V., 2010, Distribution of Heavy
Metals in the Vicinity of a Nuclear Power Plant, East Coast of India: With
Emphasis on Copper Concentration and Primary Productivity, Indian
Journal of Marine Sciences. 39 (2) : 182-191

Radulescu, C., Stihi, C., I.V. Popescu, I.V., Dulama, I.D., Chelarescu, E.D., and
Chilian, A., 2013, Heavy Metal Accumulation and Translocation in
Different Parts of Brassica oleracea L, Rom. Journ. Phys., 58 (9) : 1337.

Rezvani, M., and Zaefarian, F., 2011, Bioaccumulation and Translocation Factors
of Cadmium and Lead in Aeluropus littoralis, Australian Journal of
Agricultural Engineering/ AJAE 2(4):114-119 (2011) ISSN:1836-9448.

Riget, F., Johansen, P., and Asmund, G., 1996, Influence of length on element
concentrations in blue mussels (Mytilus edulis), Journal Marine Pollution
Bulletin, 32(10) : 112

Rusyana, A., 2011, Zoologi Invertebrata (Teori dan Praktik), ALFABETA,


Bandung.

Selpiani, L., Umroh dan Rosalina, D., 2015, Konsentrasi Logam Berat (Pb, Cu)
Pada Kerang Darah (Anadara Granosa) di Kawasan Pantai Keranji
Bangka Tengah dan Pantai Teluk Kelabat Bangka Barat, Jurnal
OSEATEK, 9(01) : 22. ISSN: 1858 – 4519

Suwarsito., dan Sarjanti, E., 2014, Analisa Spasial Pencemaran Logam Berat pada
Sedimen dan Biota Air di Muara Sungai Serayu Kabupaten Cilacap,
Jurnal Geoedukasi, III (1) : 32

Setyono, 2006, Karakteristik Biologi Dan Produk Kekerancan Laut. Jurnal


Oseana, XXXI(1). ISSN 0216-1877

Soemirat, 2005, Toksikologi Lingkungan, UGM Press, Yogyakarta.

Stowe, K., 1987, Essentials Of Ocean Science, John Wiley and Sons, Canada,
353 p.

lxiv
Supriharyono, 2002, Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah
Pesisir Tropis, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suryadiputra, I. N. N., 1995, Pengolahan air limbah dengan metode biologi,


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Suwignyo, S., 2005, Avertebrata Air, Penebar Swadaya, Jakarta.

Umaryati, B. S., 1990, Taksonomi Avertebtara Cetakan Pertama, Universitas


Indonesia Press, Jakarta.

Velichkova, Naneva, K., and Sirakov, I. N., 2013, The Usage of Aquatic Floating
Macrophytes (Lemna And Wolffia) as Biofilter in Recirculation
Aquaculture System (RAS), Turkish Journal of Fisheries and Aquatic
Sciences 13: 101, ISSN 1303-2712

Waldichuck, M., 1974, Some biological concern in heavy metals pollution, In


Venberg, F., J., and W., B., Venberg (ed), Pollution and Physiology Of
Marine Organism, Academic Press, Inc, New York.

Wardani, D. A. K., Dewi, N. K., Dan Utami, N. R., 2014, Akumulasi Logam
Berat Timbal (Pb) Pada Daging Kerang Hijau (Perna viridis) Di Muara
Sungai Banjir Kanal Barat Semarang, Journal Of Life Science, 3(1) : 6.

Widhowati, I,, Suprijanto, J., Dwiono, S. A. P., dan Hartati, R., 2005, Hubungan
dimensi cangkang dengan berat Kerang Totok Polymesoda erosa
(Bivalvia: Corbiculidae) dari Segara Anakan Cilacap, Fakultas Biologi
Program Sarjana Perikanan dan Kelautan Universitas Jendral Soedirman,
Purwokerto, Purwokerto.

Wright, D. A., and Welbourn, P., 2002, Environmental Toxicology, Cambridge


University Press.

Yalcin, G., Narin, I., & Soylak, M., 2008, Multivariate Analysis of Heavy Metal
Contents of Sediments From Gumusler Creek, Nigde, Turkey. Journal
Environmental Geology, 54 : 1155

Yap, C. K., 2014, Shells of Telescopium Telescopium as Biomonitoring Materials


of Ni Pollution in the Tropical Intertidal Area, International Journal of
Advances in Applied Sciences (IJAAS), 3(1) : 14. ISSN: 2252-8814

Yona, D., 2002, Struktur Komunitas dan Strategi Adaptasi Moluska Dikaitkan
dengan Dinamika Air pada Habitat Mangrove Kawasan Prapat Benoa,
Bali, Skripsi Sarjana, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

lxv
50
Lampiran 1. Hasil Pengukuran Parameter Lingkungan Perairan Sungai Lampopala Kawasan
TNRAW

Salinitas
Ulangan Suhu (°C) pH air DO
(%o)
I 28°C 20 8,0 5,4
II 28°C 19 8,0 5,3
III 29°C 20 8,0 5,4
Rata-rata 28°C 20 8,0 5,4

lxvi
51
52

Lampiran 2. Konsentrasi logam Hg, Pb dan Cd dalam air dan sedimen Perairan Sungai
Lampopala Kawasan TNRAW

Kandungan Logam (mg/L) ± SE


Air
Timbal (Pb) Cadmium (Cd) Merkuri (Hg)
Ulangan I 0,0202 0,0038 0,00061
Ulangan II 0,0206 0,0039 0,00062
Ulangan III 0,0206 0,0042 0,00062
Rata-rata 0,0204±0,000 0,004±0,000 0,0006±0,000

Kandungan Logam (µg/g) ± SE


Sedimen
Timbal (Pb) Cadmium (Cd) Merkuri (Hg)
Ulangan I 6,84 2,74 0,243
Ulangan II 6,89 2,92 0,245
Ulangan III 6,86 3,39 0,244
Rata-rata 6,863±0,014 3,016±0,193 0,244±0,000

Logam Air (mg/L) Sedimen (mg/L)


Hg 0,0006±0,000 0,0024±0,000
Pb 0,0204±0,000 0,0686±0,000
Cd 0,0040±0,000 0,0301±0,001

lxvii
Lampiran 3. Konsentrasi Logam Hg, Pb dan Cd pada daging kerang kalandue (Polymesoda
erosa) Kawasan TNRAW

Kandungan Logam (µg/g) ± SE


Sampel
Timbal (Pb) Cadmium (Cd) Merkuri (Hg)
Kerang Besar (9) 5,08±0,015 2,376±0,014 0,176±0,000
Kerang Kecil (6) 3,656±0,021 0,84±0,025 0,123±0,000

lxviii
53
54

Lampiran 4. Faktor Bioakumulasi (BCF) logam Hg, Pb dan Cd pada daging kerang
kalandue (Polymesoda erosa) kawasan TNRAW

Faktor Bioakumulasi (BCF)


Kadar Logam
Pb ± SE Cd ± SE Hg ± SE
Kerang Besar (9 Cm) 0,740±0,001 0,793±0,077 0,723±0,002
Kerang Kecil (6 Cm) 0,532±0,005 0,281±0,042 0,504±0,003

lxix
56

Lampiran 5. Analisis TTEST Kadar Logam Berat

Kerang Besar-Kerang Kerang Kecil-


TTEST Kerang Besar-Sedimen
Kecil Sedimen
Kadar Hg 7,4×107 9,5×108 2,5×108
Rerata 0,1499 0,2105 0,1836
STDEV 0,0294 0,0369 0,0921
SE 0,0207 0,0261 0,0651

Kerang Besar-Kerang Kerang Besar- Kerang Kecil-


TTEST
Kecil Sedimen Sedimen
Kadar Pb 7,3×107 1,1×107 2,6×108
Rerata 4,3684 0,6365 5,9717
STDEV 0,7801 0,9770 1,7565
SE 0,5516 0,6908 1,2421

Kerang Besar-Kerang Kerang Besar- Kerang Kecil-


TTEST
Kecil Sedimen Sedimen
Kadar
7,6 × 107 0,0301 0,0003
Cd
Rerata 1,6083 2,6967 1,9284
STDEV 0,8422 0,4101 1,2112
SE 0,5955 0,2899 0,8564

lxx
55
Lampiran 6. Analisis TTEST Faktor Bioakumulasi (BCF)

TTEST BCF Kerang Besar-Kerang Kecil


KADAR Hg 7,4 ×107
RERATA 0,6138
STDEV 0,1204
SE 0,0851

TTEST BCF Kerang Besar-Kerang Kecil


KADAR Pb 4,9 × 107
RERATA 0,6364
STDEV 0,1136
SE 0,0803

TTEST BCF Kerang Besar-Kerang Kecil


KADAR Cd 0,0005
RERATA 0,5375
STDEV 0,2859
SE 0,2022

lxxi
Lampiran 7. Dokumentasi Penelitian Lapangan dan Laboratorium

Gambar 1. Penentuan lokasi (stasiun pengambilan sampel) di kawasan ekosistem


mangrove sekitar sungai Lampopala

Gambar 2. Stasiun pengambilan sampel

Gambar 2. Stasiun pengambilan sampel

57
lxxii
58

Gambar 3. pengambilan sampel kerang

Gambar 3. pengambilan sampel kerang

Gambar 4. Pengambilan sampel air

lxxiii
Gambar 5. Pengambilan sampel sedimen

Gambar 5. Pengambilan sampel sedimen

Gambar 6. Pengukuran morfometri kerang dan mengoven sampel kerang

lxxiv
59
60

Gambar 7. Penimbangan sampel kerang dan sedimen

Gambar 8. Preparasi sampel

lxxv
Gambar 9. Destruksi sampel

Gambar 10. Penyaringan sampel hasil destruksi

lxxvi
61
62

Gambar 11. Pembacaan pada AAS (Atomic Absorption Spectrofotometer)

lxxvii
Lampiran 8. Peta Lokasi Penelitian

63
lxxviii