Anda di halaman 1dari 81

SKRIPSI

PREVALENSI AMBLIOPIA PADA MAHASISWA FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI ANGKATAN 2014-
2015 DAN TINJAUANNYA DARI SISI ISLAM

Disusun oleh :

ALVIN ARIANO
NPM 1102014014

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


JAKARTA
TAHUN 2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui oleh dosen pembimbing skripsi dari:

Nama : Alvin Ariano

NPM : 1102014014

Fakultas : Kedokteran

Universitas : YARSI

Tingkat : Pendidikan Sarjana 1

Judul : Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas


Kedokteran Universita YARSI Angkatan 2014-2015 dan
Tinjauannya dari Sisi Islam

Pembimbing Klinis : dr. Saskia Nassa Mokoginta, Sp.M

Pembimbing Agama : Dra. Siti Nur Riani, M.Ag

Diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas akhir pendidikan Sarjana.

Jakarta, 5 Januari 2018

Pembimbing Agama Penulis

Dra. Siti Nur Riani, M.Ag Alvin Ariano

Pembimbing Klinis

dr. Saskia Nassa Mokoginta, Sp.M

ii
SURAT KETERANGAN ETIK

iii
SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Jakarta, 11 Desember 2017

Alvin Ariano

iv
PREVALENSI AMBLIOPIA PADA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
ANGKATAN 2014-2015 DAN TINJAUANNYA DARI SISI ISLAM

Alvin Ariano1, Saskia Nassa Mokoginta2, Siti Nur Riani3


1
Mahasiswa Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
2
Pendidik Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
3
Pengajar bagian Agama Islam, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

ABSTRAK
Latar Belakang: Ambliopia merupakan suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak
mencapai optimal walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya. Biasanya ambliopia disebabkan
oleh kurangnya rangsangan pada perkembangan penglihatan saat masa tumbuh kembang.
Permasalahan yang muncul adalah banyaknya kasus ambliopia pada anak dan kurangnya perhatian
dari wali atau orang tua sehingga tidak dapat mencegah dampak dari ambliopia sejak dini. Maka
dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014-2015.
Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional. Populasi dan sampel
adalah mahasiswa angkatan 2014 dan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Sampel dipilih
dengan simple random sampling dengan menggunakan rumus slovin. Data diperoleh dari hasil Uji
Ketajaman Penglihatan dengan menggunakan Snellen Chart, Pinhole, Trial frame dan Trial lens
kepada responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebelumnya.
Hasil: Dari hasil penelitian terdapat Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI yaitu sebanyak 5 orang dari 88 responden yang mengikuti penelitian. Dari 5
orang yang mengalami ambliopia, 2 orang diantaranya mengalami ambliopia anisometropia,
sedangkan 3 orang lainnya mengalami ambliopia isometropia.
Simpulan: Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI yaitu
sebanyak 5 orang. Pemeriksaan skrining kelainan refraksi merupakan upaya dalam menegakan
syariat Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT sebagai pemeliharaan jiwa (hifdz al-Nafsh),
pemeliharaan agama (hifdz al-Diin), pemeliharaan akal (hifz al-aql) dan pemeliharaan harta (hifz
al-maal).

Kata Kunci: prevalensi ambliopia, skrining mata, mahasiswa, tujuan syariat Islam.

v
PREVALENCE OF AMBLYOPIA
AT MEDICAL STUDENTS FACULTY OF MEDICINE
YARSI UNIVERSITY ACADEMIC YEAR 2014-2015
BASED ON MEDICAL EDUCATION AND ISLAMIC POINT OF VIEW

Alvin Ariano1, Saskia Nassa Mokoginta2, Siti Nur Riani3


1
Faculty of Medicine Student, YARSI University
2
Faculty of Medicine Lecture, YARSI University
3
Faculty of Medicine Lecture of Islamic Religion, YARSI University

ABSTRAK
Background: Amblyopia is a vision development disorder in which an eye fails to achieve normal
visual acuity. Usually amblyopia is occured by abnormal development when child grow. The
problem that occured is the large number of amblyopia cases in children and the lack of attention
of the guardians or parents so as not to prevent the effects of amblyopia from an early age.
Therefore, this study aims to determine the prevalence amblyopia at medical student Faculty of
Medicine Yarsi University academic year 2014-2015 based on medical education and Islamic point
of view
Methods: This study was done by analytical survey with descriptive observational study. Population
and sampels are medical students of Yarsi University academic year 2014-2015. Samples was
selected by using simple random sampling. The data was aqcuired from visual acuity test by the
samples within inclusion and exclusion criteria.
Result: The result of the study, the prevalence of amblyopia at medical student Faculty of Medicine
Yarsi University academic year 2014-2015 is 5 (5,7%) from 88 samples. 2 (2,3%) Anisometropic
amblyopia, and 3 isometropic amblyopia (3,4%).
Conclusion: The prevalence of amblyopia at medical student Faculty of Medicine Yarsi University
academic year 2014-2015 is 5 (5,7%) from 88 samples. Vision screening test is highly recommended
because it is beneficial in maintaining health and benefit, to improve one of the goals of Islamic law
namely hifz al-nafs.

Keywords: prevalence, amblyopia, college student, eye screening, islam.

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
YARSI Angkatan 2014-2015 dan Tinjauannya dari Sisi Islam”.

Penulisan skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Dokter Muslim di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu dalam kesempatan ini penulis dengan tulus
menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat:

1. dr.Hj. Rika Yuliwulandari, MSc.,PhD, selaku Dekan Fakultas


Kedokteran Universitas YARSI.
2. dr. H. Zwasta Pribadi M., MMedEd, selaku Ka. Prodi Akademik
Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas YARSI dan Penguji
Skripsi.
3. dr. Lilian Batubara, M.kes, selaku Ketua Komisi Penelitian Skripsi
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
4. dr. Saskia Nassa Mokoginta, Sp.M, selaku Dosen Pembimbing Medik
yang telah meluangkan waktunya untuk dapat membimbing, memberikan
pengarahan, memberikan ilmu dan mengoreksi penulisan skripsi ini serta
memberikan do’a dan kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis.
Semoga Allah SWT senantiasa selalu memberikan perlindungan dan
kesehatan agar beliau dapat memberikan ilmu yang bermanfaat kepada
seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
5. Dra. Siti Nur Riani, M.Ag selaku Dosen Pembimbing Agama yang telah
meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, memberikan ilmu
dan mengoreksi skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan

vii
perlindungan dan kesehatan perlindungan serta selalu melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya kepada beliau.
6. dr. Farida Amin, SpPK, selaku Dosen Pembimbing Akademik Universitas
YARSI.
7. Ibu (Riko Yuniandri) dan Ayah (Budi Prayitno), terimakasih atas do’a,
dukungan, semangat dan nasihat yang selalu diberikan sehingga penulis
diberi kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga mamih dan
papah selalu diberikan kesehatan dan perlindungan dari Allah SWT.
8. Kakak (Ardi Yudha) terimakasih atas do’a, semangat, dukungan dan
waktunya dalam menyelesaikan skripsi ini, semoga kita sukses selalu.
9. Adik (Luna) terimakasih telah memberi dukungan dan bantuan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman seperjuangan kuliah Auliya Sauma, Asep Aulia Rachman,
Almarchiano Sandi, Amanda Putri, Abyantara , Cakra Karim, Dini
Pela Rudia, Faza Aditya Kencana, serta teman-teman Angkatan 2014
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI dan teman sekolah Rhio
Novalino, Hj. Memet, Raynaldi Aditya, Anugerah Adityana, Fadhil
Muhammad, Chandra Miraz, Irvan Yuda Pradipta, Syahmitirafi, Rafa
Yusha Falano yang selalu mendukung penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini. Terimakasih karena sudah memberikan dukungan dan semangat
serta do’a dan semoga kita sukses menjadi dokter yang bermanfaat bagi
semua orang.

11. Dosen-dosen pengajar Fakultas Kedokteran Universitas YARSI atas ilmu dan
pengetahuan serta bimbingan yang telah diberikan kepada Penulis.
12. Staf dan karyawan P2K serta kepala dan staf Perpustakaan Universitas YARSI atas
bantuan yang telah diberikan kepada Penulis.
13. Pihak-pihak yang belum disebutkan namanya namun memberikan dukungan dan
do’a yang berarti bagi penulis. Terima kasih banyak dan semoga Allah selalu
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Penulis bersyukur dapat menyelesaikan skripsi ini, tetapi penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari segi Bahasa maupun dari

viii
segi materi, maka dari itu penulis memohon maaf atas segala kekurangan.
Demi perbaikan selanjutnya kritik dan saran akan penulis terima dengan
senang hati.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi penulis, civitas akademika Universitas YARSI dan mensyrakat pada
umumnya.

Jakarta,……….
Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................................ii

SURAT KETERANGAN ETIK....................................................................................iii

SURAT PERNYATAAN................................................................................................iv

ABSTRAK.......................................................................................................................v

KATA PENGANTAR....................................................................................................vii

DAFTAR ISI....................................................................................................................x

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................1


1.2 Perumusah Masalah.....................................................................................3
1.3 Pertanyaan Penelitian...................................................................................4
1.4 Tujuan Penelitian.........................................................................................4
1.4.1 Tujuan Umum...........................................................................4
1.4.2 Tujuan Khusus..........................................................................4
1.5 Manfaat Penelitian........................................................................................4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................6

2.1 Kajian Pustaka..............................................................................................6

2.1.1 Anatomi Bola Mata.......................................................................6

2.1.2 Fisiologi Mata...............................................................................11

2.1.3 Ambliopia......................................................................................14

2.1.3.1 Definisi..........................................................................14

2.1.3.2 Etiologi..........................................................................14

2.1.3.3 Patofisiologi..................................................................14

2.1.3.4 Klasifikasi....................................................................15

x
2.1.3.5 Gejala.........................................................................16

2.1.3.6 Pemeriksaan...............................................................16

2.1.3.7 Tatalaksana................................................................19

2.2 Kerangka Teori..........................................................................................21

2.3 Kerangka Konsep......................................................................................22

2.4 Definisi Operasional..................................................................................23

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN.....................................................................25

3.1 Jenis Penelitian...........................................................................................25

3.2 Rancangan Penelitian...............................................................................25

3.3 Populasi.......................................................................................................25

3.4 Sampel........................................................................................................25

3.5 Cara Penetapan Sampel.............................................................................25

3.6 Jenis Data....................................................................................................26

3.7 Cara Pengumpulan dan Pengukuran Data.............................................26

3.8 Instrumen Pengumpulan Data..................................................................27

3.9 Analisa Data................................................................................................27

3.10 Alur Penelitian..........................................................................................29

3.11 Jadwal Penelitian.....................................................................................30

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................31

4.1 Hasil...............................................................................................................31

4.2 Pembahasan...................................................................................................34

BAB 5 TINJAUAN AGAMA ISLAM...........................................................................36

5.1 Fungsi Mata Ditinjau dari Pandangan Islam...........................................36

5.2 Takdir Ditinjau dari Pandangan Islam.....................................................39

xi
5.3 Pemeriksaan Skrining dan Tinjauannya dari sisi Islam........................41

5.4 Analisa Pandangan Islam terhadap Miopia belum Terkoreksi.............45

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................47

6.1 Kesimpulan..................................................................................................47

6.2 Saran............................................................................................................48

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................49

ANGGARAN PENELITIAN..........................................................................................51

BIODATA PENELITI....................................................................................................53

LAMPIRAN 1...................................................................................................................54

LAMPIRAN 2...................................................................................................................56

LAMPIRAN 3.......................................................................................................59

xii
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1 ANATOMI BOLA MATA....................................................................6

GAMBAR 2 SNELLEN CHART…………………………………………………..17

GAMBAR 3 TES PINHOLE……………………………………………………….18

xiii
DAFTAR BAGAN

BAGAN 1 KERANGKA TEORI..............................................................................21

BAGAN 2 KERANGKA KONSEP..........................................................................22

BAGAN 3 ALUR PENELITIAN..............................................................................29

xiv
DAFTAR TABEL

TABEL 1 DEFINISI OPERASIONAL....................................................................23

TABEL 2 JADWAL PENELITIAN.........................................................................30

TABEL 3 KARAKTERISTIK RESPONDEN........................................................31

TABEL 4 DISTRIBUSI FREKUENSI KELAINAN REFRAKSI........................32

TABEL 5 DISTRIBUSI FREKUENSI AMBLIOPIA............................................32

TABEL 6 DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN JENIS KELAMIN......33

TABEL 7 PROPORSI KLASIFIKASI AMBLIOPIA.............................................33

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan sinar pada mata sehingga sinar
tidak jatuh tepat pada makula lutea (Ilyas, 2006). Kelainan refraksi juga dikenal
dalam bentuk hipermetropia, miopia, dan astigmatisma (Ilyas, 2013).
Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat menimbulkan beberapa
komplikasi, bila pada masa tumbuh kembang seorang anak kelainan refraksinya
tidak dikoreksi dengan cepat dapat terjadi komplikasi, yaitu salah satunya adalah
ambliopia.
Ambliopia merupakan suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak
mencapai optimal walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya. Biasanya
ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan pada perkembangan penglihatan
saat masa tumbuh kembang. Beratnya ambliopia berhubungan pada lamanya
seseorang tidak mengalami rangsangan untuk perkembangan penglihatan makula
nya dengan optimal (Ilyas, 2013).
Prevalensi ambliopia di Amerika Serikat sulit untuk ditaksir dan berbeda
pada tiap literatur, berkisar antara 1 – 3,5 % pada anak yang sehat samapi 4 – 5,3
% pada anak dengan problema mata. Hampir seluruh data mengatakan sekitar 2 %
dari keseluruhan populasi menderita ambliopia (NH Siregar, 2009).
Penelitian mengenai ambliopia pada 2.268 siswa SD usia 7 – 13 tahun di
Yogyakarta pada tahun 2008 mendapatkan hasil prevalensi ambliopia sebesar
1,5%, di daerah pedesaan sebesar 0,98% dan di daerah perkotaan sebesar 1,93%,
dengan penyebab ambliopia terbanyak pada studi tersebut adalah anisometropia
yaitu sebesar 44,4% (Suhardjo et al, 2008).
Dengan ditemukan banyaknya kasus ambliopia pada anak dan kurangnya
perhatian dari wali atau orang tua sehingga tidak dapat mencegah dampak dari
ambliopia sejak dini, maka peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian
dengan bertemakan ambliopia. Sampai saat ini tingkat kejadian ambliopia pada

1
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI belum diketahui, oleh karena
itu kami melakukan penelitian tentang ambliopia dengan tujuan untuk memperoleh
data prevalensi atau tingkat kejadian ambliopia pada mahasisa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI.
Agama Islam menganjurkan umatnya untuk selalu menjaga kesehatan dan
mencegah datangnya penyakit atau keburukan. Apabila seorang mukmin
mempunyai penyakit, dalam mencapai kesembuhan dilakukan melalui usaha yang
maksimal, karena Allah SWT menurunkan penyakit juga dengan obatnya, seperti
sabda Rasulullah SAW :

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu
obatnya.”(HR.Al-Bukhari no. 5678).

Hadist tersebut mengandung makna bahwa Allah SWT mengingatkan pada


hamba-Nya bahwa, setiap penyakit ada obatnya. Melakukan pemeriksaan skrining
kelainan refraksi mata pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
adalah salah satu upaya untuk mencegah dan mengobati atau meringankan
penyakit.
Dilakukannya pemeriksaan skrining kelainan refraksi mata pada mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI diharapkan dapat memberikan manfaat,
juga agar dapat mengingatkan para mahasiswa pentingnya untuk menjuhkan
penyakit, menjaga kesehatan diri sendiri, dan mencapai kemaslahatan. Al-Quran,
mengutip ucapan Nabi Ibrahim A.S yang menyebutkan:

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (Q.S Al-
Syu’ara’42:80).

2
Semua tindakan pengobatan terapi kesehatan dan penggunaan metode
pengobatan jika nyata-nyata bermanfaat maka hukumnya boleh, dan jika
membahayakan maka hukumnya haram (Zuhroni, 2003).

“Hukum asal dari sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya
(memakruhkannya dan mengharamkannya).” (Imam As Suyuthi: 43).

Maslahat merupakan tujuan dari Maqashid Syari’ah. Memelihara jiwa,


keturunan dan akal merupakan hal yang langsung berkaitan dengan kesehatan
manusia (kedokteran). Seorang mukallaf akan memperoleh kemashlahatan
manakala ia dapat memelihara kelima aspek pokok tersebut, sebaliknya ia akan
merasakan mafsadat manakala ia tidak dapat memelihara kelima unsur pokok
tersebut secara baik (Zuhroni, 2003).
Dalam memelihara jiwa (hifz al-nafs) pemeriksaan skrining kelainan
refraksi mata merupakan upaya untuk menjaga kesehatan dan Allah SWT sangat
menganjurkan akan hal itu.
Dalam memelihara akal (hifz al-aql) dan harta (hifz al-maal) pemeriksaan
kelainan refraksi dan melakukan koreksi pada ambliopia dapat meningkatkan
kualitas hidup seseorang dalam belajar dan mencari pekerjaan.

1.2. Perumusan Masalah

Belum diketahuinya prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas


Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2014 – 2015.
Pemeriksaan skrining kelainan refraksi mata dilakukan dalam upaya untuk
mencegah terjadinya penyakit atau upaya dalam menjaga kesehatan, dan
menjauhkan keburukan seperti yang diperintahkan Allah SWT dalam mencapai
kemaslahatan.

3
1.3. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan yang dapat timbul berdasarkan uraian diatas, yaitu:


1. Bagaimana tingkat kejadian Ambliopia pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 – 2015 ?
2. Apa klasifikasi ambliopia yang ditemukan pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI ?
3. Bagaimana pandangan Islam tentang prevalensi ambliopia pada mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI?

1.4. Tujuan Penelitian


1.4.1. Tujuan Umum
Secara umum, tujuan penulisan skripsi ini ialah mendapatkan
pengetahuan mengenai prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 – 2015 ditinjau dari
kedokteran dan agama Islam.

1.4.2. Tujuan Khusus


Mengetahui prevalensi ambliopia serta klasifikasi yang ditemukan
dalam penelitan ambliopia terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI angkatan 2014 – 2015 dan mengetahui pandangan
Islam mengenai prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI.

1.5. Manfaat Penelitian


1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan tentang prevalensi Ambliopia pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran YARSI ditinjau dari kedokteran dan
Islam, serta untuk memenuhi syarat kelulusan sebagai sarjana kedokteran
di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

4
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan skripsi ini bermanfaat bagi masyarakat dalam memberi
informasi mengenai prevalensi ambliopia serta mendapat pengetahuan
dari sisi agama Islam, sebagai sarana untuk melakukan pemeriksaan pada
mata tanpa pemungutan biaya, dan juga untuk meningkatkan kesadaran
akan pentingnya melakukan pemeriksaan mata guna menjaga dan
meningkatkan kesehatan mata.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Anatomi Bola Mata

Gambar 1. Anatomi bola mata


Sumber : http://www.glaucoma.org/
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24mm. Bola mata di
bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga
terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3
lapisan jaringan, yaitu :

 Sklera adalah merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk
pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian
terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan
sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar
dibanding sklera.

6
 Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea
dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi
perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan supra koroid.
Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris
didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar
masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator terdiri atas jaringan ikat jarang
yang tersusun dalam bentuk yang dapat berkontraksi yang disebut sebagai
mioepitel. Sel ini dirangsang oleh sistem sarag simpatetik yang
mengakibatkan sel berkontraksi yang akan melebarkan pupil sehingga lebih
banyak cahaya yang masuk. Otot dilatator pupil bekerja berlawanan dengan
otot konstriktor yang mengecilkan pupil dan mengakibatkan cahaya kurang
masuk kedalam mata. Sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh
parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa
untuk kebutuhan akomodasi.
Badan siliar yang terletak di belakanang iris menghasilkan cairan
bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang
terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.
 Retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak
10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah
sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat
rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat
terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina.
Badan kaca (vitreus) mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat
gelatin yang hanya menempel papil saraf optik, makula dan pars plana. Bila
terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada
retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina.
Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya
pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan
pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di
daerah makula lutea (Ilyas, 2013).

7
Kornea
Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata,
bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan jaringan
yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu:

1. Epitel
 Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis se lepitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
 Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke
depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel
gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di
sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula
okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan glukosa yang
merupakan barrier.
 Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
 Epitel berasal dari ektoderm permukaan

2. Membran Bowman
 Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan
dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.
Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak
di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar
dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

8
4. Membran Descement
 Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya
 Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai
tebal 40 μm.

5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-40 μm.
Endotel melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan
zonula okluden(Ilyas, 2014)

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V. saraf siliar longus berjalan supra koroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Boeman melepaskan
selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi samapai kepada kedua
lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin
ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah
limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola
mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana
40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea
(Ilyas, 2014).

Aqueous Humor (Cairan Mata)


Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya
tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini
akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk
dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris,
turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu
saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah. Jika aqueous humor tidak
dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai contoh, karena
sumbatan pada saluran keluar), kelebihan cairan akan tertimbun di rongga

9
anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (“di dalam mata”).
Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan
mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous humor, yang kemudian
terdorong menekan lapisan saraf dalam retina. Penekanan ini menyebabkan
kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak
diatasi ( Sherwood, 2011).

Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di
dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di
belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti
cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik
mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat
lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-
menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral
lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat
lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul
lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di
bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai
korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut
sebagai korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus
lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih
muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang
menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar (Ilyas, 2014).

 Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:


 Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi
untuk menjadi cembung
 Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan,
 Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan vitreous
body dan berada di sumbu mata.

10
 Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:
 Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia,
 Keruh atau apa yang disebut katarak,
 Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi
(Ilyas, 2014).

Badan Vitreous (Badan Kaca)


Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit
kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous
mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat
(Luiz Carlos Junqueira, 2003). Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan
sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak
terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya
kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada
pemeriksaan oftalmoskopi (Ilyas, 2014).

Panjang bola mata


Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan. Panjang
bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar
oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya perubahan panjang
(lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat
terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa
miopia, hipermetropia, atau astigmatisma (Ilyas, 2014).

2.1.2 Fisiologi Mata

Tidak semua cahaya yang melewati kornea bisa mencapai


fotoreseptor peka-cahaya karena adanya iris. Iris adalah suatu otot polos
tipis berpigmen yang membentuk struktur mirip cincin di dalam cairan
aqueous. Lubang bundar di bagian tengah iris sebagai tempat masuknya
cahaya ke interior mata adalah pupil. Untuk menerima sinar lebih banyak

11
atau sedikit, ukuran lubang ini dapat disesuaikan oleh kontraksi otot-otot
iris. Iris mengandung dua set anyaman otot polos, yaitu sirkular dan radial.
Apabila otot sirkular (konstriktor) berkontraksi menyebabkan pupil menjadi
kecil, hal ini terjadi saat mata terkena sinar terang agar mengurangi jumlah
cahaya yang masuk. Sebaliknya, otot radial (dilator) dapat membuat ukuran
pupil bertambah yang terjadi saat cahaya redup agar sinar yang masuk ke
mata lebih banyak. Dua
struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah
kornea dan lensa. Kemampuan refraktif kornea seseorang tidak bisa berubah
sedangkan kemampuan refraktif lensa dapat diubah dengan mengubah
kelengkungannya sesuai kebutuhan untuk melihat dekat atau jauh. Agar
pengelihatan jelas, struktur-struktur refraktif mata harus membawa
bayangan dari sumber cahaya jauh atau dekat jatuh fokus ke retina.
Kemampuan untuk menyesuaikan kekuatan lensa dikenal sebagai
akomodasi untuk pengelihatan jarak dekat dan dikendalikan oleh otot
siliaris. Ketika otot siliaris berelaksasi, lensa menjadi gepeng dan kurang
refraktif. Sebaliknya, ketika otot siliaris berkontraksi lensa menjadi lebih
cembung karena elastisitas inherennya. Fungsi utama mata adalah
memfokuskan berkas cahaya dari lingkungan ke sel batang dan sel kerucut
yaitu sel fotoreseptor retina. Bagian saraf retina terdiri dari tiga lapisan
fotoreseptor, lapisan paling luar yaitu sel batang dan sel kerucut, lapisan
tengah yaitu sel bipolar dan lapisan dalam sel ganglion. Akson-akson sel
ganglion menyatu untuk membentuk saraf optik. Titik di retina tempat saraf
optik keluar dan pembuluh darah berjalan disebut diskus optikus.Setiap
saraf optikus yang keluar dari retina membawa informasi dari kedua paruh
retina yang disarafinya. Informasi ini terpisah ketika kedua saraf optikus
bertemu di kiasma optikum yang terletak di bawah hipotalamus. Di dalam
kiasma optikum, serat-serat separuh medial tiap-tiap retina menyebrang ke
sisi kontralateral, tetapi yang dari separuh lateral tetap berada di sisi semula.
Berkas-berkas serat yang meninggalkan kiasma optikum dikenal sebagai
traktus optikus. Masing-masing traktus optikus nantinya menyalurkan

12
informasi ke separuh otak di sisi yang sama dengan separuh lapang pandang
kontralateral. Perhentian
pertama di otak untuk informasi di jalur pengelihatan adalah nukleus
genikulatus lateral di talamus. Bagian ini memisahkan informasi yang
diterima dari mata dan menyalurkan melalui berkas-berkas serat yang
dikenal sebagai radiasi optik ke berbagai daerah di korteks yang terletak di
lobus oksipital. Setiap daerah mengolah berbagai aspek rangsangan
pengelihatan (misalnya warna, bentuk, kedalaman, dan gerakan)
(Sherwood, 2014).
Perkembangan kemampuan melihat seseorang sangat bergantung
pada perkembangan tumbuh kembang sejak kecil. Tajam pengelihatan anak
baru dapat diukur secara kuantitatif pada usia 2 tahun karena kemampuan
sistem pengelihatan maksimal dapat dicapai sejak umur tersebut.

1. bayi pada bulan pertama


 saat lahir : menggerakan kepala ke sumber cahaya kuat
 6 minggu: mulai melakukan fiksasi dan gerakan mata tidak
teratur ke arah sinar
2. Pengelihatan pada usia 2-3 bulan
Bayi pada usia 3 bulan dapat menggerakan mata ke arah benda
bergerak. Pada usia ini mata mulai terbentuk tajam pengelihatan dan mata
mulai bergerak, mengikuti pergerakan benda dan mulai berupaya mencapai
benda yang dilihatnya.
3. Perkembangan pengelihatan pada usia 4-6 bulan
 Koordinasi pengelihatan dengan gerakan mata
 Dapat melihat dan mengambil objek
 Tajam pengelihatan mencapai 20/200

Pada usia 6 bulan terlihat kemajuan pengelihatan yang berpusat


pada otak, dimana bayi dapat melihat lebih jelas.
4. Perkembangan pada usia 7-12 bulan

13
 9 bulan : tajam pengelihatan 20/200
 1 tahun : tajam pengelihatan 20/100
5. Perkembangan pengelihatan pada usia selanjutnya
 2 tahun : tajam pengelihatan 20/40
 3 tahun : tajam pengelihatan 20/30
 5 tahun : tajam pengelihatan 20/20 (Ilyas,2013).

2.1.3 Ambliopia

2.1.3.1 Definisi
Ambliopia merupakan suatu keadaan dimana tajam penglihatan
tidak mencapai penglihatan normal dengan koreksi terbaik // sudah
dikoreksi kelainan refraksinya. Biasanya ambliopia disebabkan oleh
kurangnya rangsangan pada perkembangan penglihatan saat masa
tumbuh kembang. Beratnya ambliopia berhubungan pada lamanya
seseorang tidak mengalami rangsangan untuk perkembangan
penglihatan makula nya dengan optimal (Ilyas, 2013).

2.1.2.2 Etiologi
Kurangnya pengalaman penglihatan pada otak, yang menyebabkan
tidak optimalnya perkembangan penglihatan. Sebab pada mata.

 Bayangan yang tidak terbentuk


 Bayangan yang tidak terfokus pada makula lutea
 Mata juling (Ilyas, 2014).

2.1.3.3 Patofisiologi
Pada mata ambliopia terdapat kerusakan pada penglihatan sentral,
sedangkan pada penglihatan perifernya dapat dikatakan normal. Dalam
perkembangan ambliopia terdapat suatu periode yang disebut periode kritis,
yaitu dimana suatu periode yang peka akan perkembangan ambliopia pada
masa tumbuh kembang anak. Umumnya, periode kritis ambliopia deprivasi
lebih cepat dibanding ambliopia strabismik atau ambliopia anisometropik.

14
Periode kritis tersebut adalah :
i. Perkembangan visus dari 6/60 sampai 6/6 yaitu pada saat
lahir sampai rentang usia 3 – 5 tahun.
ii. Periode yang beresiko tinggi dalam terjadinya ambliopia
deprivasi, yaitu pada saat beberapa bulan hingga usia 7 – 8
tahun.
Sistem penglihatan membutuhkan pengalaman melihat agar dapat
berkembang hingga dewasa. Bayi sudah dapat melihat sejak lahir, dan
mereka harus belajar menggunakan matanya sejak dini. Bila bayangan
kabur pada salah satu matanya, atau bayangan tidak sama pada kedua mata,
maka penglihatan tidak akan berkembang dengan baik. Akibatnya otak akan
memberi perintah untuk hanya bergantung pada 1 mata saja, atau pada mata
yang lebih baik.

2.1.3.4 Klasifikasi

Ambliopia dibagi kedalam beberapa bagian sesuai dengan gangguan


kelainan yang menjadi penyebabnya.

 Amliopia Strabismik :
Ambliopia yang sering ditemui ini terjadi pada mata yang berdeviasi
konstan.
 Ambliopia Anisometropik
Terbanyak kedua setelah ambliopia strabismik adalah ambliopia
anisometropik, terjadi ketika adanya perbedaan refraksi kedua mata
yang menyebabkan lama kelamaan bayangan pada satu retina tidak
fokus.
 Ambliopia Isometropia
Ambliopia isometropia terjadi akibat kelainan refraksi tinggi yang
tidak dikoreksi, yang ukurannya hampir sama pada mata kiri dan
mata kanan. Dimana walaupun telah dikoreksi dengan baik tidak
langsung memberi hasil penglihatan normal.

15
 Ambliopia Deprivasi
Istilah lama amblyopia ex anopsia atau “disuse amblyopia” sering
masih digunakan untuk amblyopia deprivasi, dimana sering
disebabkan oleh kekeruhan media kongenital atau dini (NH
Siregar, 2009).

2.1.3.5 Gejala

 Mata tidak selamanya lurus. (seakan akan tidak bekerja bersama).


 Gangguan pada penglihatan dalam.
 Sensitif kotras rendah.
 Penglihatan stereoskopik kurang.

2.1.3.6 Pemeriksaan

Dalam melakukan pemeriksaan refraksi ada 2 cara, yaitu :


1. Refraksi Subjektif
Memeriksa kelainan pembiasan mata pasien dengan
memperlihatkan kartu lihat jauh dan memasang lensa sesuai
dengan hasil pemeriksaan bersama pasien.
Pada pemeriksaan subjektif diperlukan hubungan atau
komunikasi yang baik antara pemeriksa dengan
pasien.Ketajaman visual diperiksa dengan ukuran optotype
yang berbeda. Dalam pemeriksaan ini, optotype diletakkan
sejauh 5 atau 6 meter dari pasien yang akan diperiksa, karena
pada jarak tersebut sinar-sinar datang dianggap merupakan sinar
sejajar dan mata pasien dalam keadaan istirahat atau tidak
berakomodasi. Keadaan penerangan dalam ruang pemeriksaan
tidak terlalu cerah (Ilyas, 2010).
Snellen Chart tersusun dari barisan, di mana tiap barisan berisi
huruf-huruf yang semakin lama semakin mengecil. Tiap baris di
desain memiliki angka yang menandakan jarak dalam feet atau

16
meter, di mana mata normal dapat membaca huruf pada tiap
baris tersebut.

Gambar 2 : Snellen Chart (Goldberg,2015)


Ketajaman penglihatan di skoring dalam bentuk fraksi
(pecahan), misalnya 20/40. Pembilang menunjukan jarak antara
pasien dan snellen chart ketika pemeriksaan, dan penyebut
menunjukan jarak pasien dengan mata normal bisa membaca
baris yang sama pada snellen chart. Karena itu, ketajaman
penglihatan normal adalah 20/20 dan pada 20/60 dimana mata
pasien hanya bisa melihat huruf dari jarak 20 feet dimana mata
normal bisa melihat dari jarak 60 feet (Vaughan, 2011).

Mata yang biasa diperiksa terlebih dahulu adalah mata kanan,


dengan cara:

1. Letakkan bingkai uji coba pada posisi yang tepat


2. Dilihat apakah titik tengah terletak tepat di depan mata
3. Pasang penutup (occluder) pada mata yang tidak diperiksa
(mata kiri)
4. Catat tajam penglihatan mata yang dibuka (Ilyas, 2010)

17
Tes Uji Pinhole dapat menentukan apakah masalah dengan
ketajaman penglihatan adalah hasil dari kelainan refraksi
(pasien membutuhkan lensa koreksi) atau karena proses lain
(Goldberg, 2015).
Ketajaman yang terkoreksi bisa ditaksir dari uji penglihatan
dengan “pinhole”. Melihat snellen chart dengan pinhole yang
berukuran kecil mencegah sebagian besar sinar yang salah fokus
memasuki mata. Sehingga hanya beberapa sinar terfokus yang
selaras dengan pusat akan mencapai retina, dan menghasilkan
gambar yang lebih tajam. Apabila masalah ketajaman
penglihatan terjadi karena kelainan refraksi, dengan cara ini
pasien visus pasien akan menjadi lebih baik (Vaughan, 2011).

Gambar 3 : Tes Uji Pinhole (Goldberg,2015)

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan khusus untuk miopia,


hipermetropia, dan astigmatisma (Ilyas, 2010).

2. Refraksi Objektif
Melakukan pemeriksaan kelainan pembiasan mata pasien
dengan alat tertentu tanpa perlunya kerjasama dengan pasien,
alat yang dipakai adalah :
1. Refraktometer

18
Refraktometer disebut juga Refraktor automatik.Alat ini
diharapkan dapat mengukur dengan tepat kelainan refraksi
mata.
2. Retinoskopi
Pemeriksaan yang diperlukan bila pasien tidak kooperatif
untuk pemeriksaan refraksi biasa.Retinoskop sinarnya
dimasukkan ke dalam mata atau pupil pasien.Pada keadaan
ini terlihat pantulan sinar dari dalam mata. Dilakukan
netralisasi seperti mata kucing dengan penambahan lensa di
depan mata pasien (Ilyas, 2010).
3. Funduskopi
1. Memegang oftalmoskop dengan tangan kanan atau kiri dan
untuk memeriksa mata kanan atau kiri orang percobaan
dengan posisi jari telunjuk terletak pada pengatur lensa.
2. Menyalakan oftalmoskop, memegang dengan menempel
pada matanya pada jarak 30 cm di depan penderita dan
mengarahkan sinar oftalmoskop ke pupil penderita untuk
menilai reflex fundus (positif/negatif).
3. Sambil tetap memegang oftalmoskop menempel pada mata,
lalu perlahan bergerak maju mendekati orang percobaan
dengan oftalmoskop diposisikan pada sisi temporal
penderita hingga gambaran fundus terlihat.
4. Jari telunjuk yang terletak pada pengatur lensa mengatur
besarnya dioptri yang diperlukan untk menyesuaikan focus
sehingga detail fundus dapat terlihat jelas(bila diperlukan).
5. Mengamati yang terlihat.

2.1.3.7 Tatalaksana

Tatalaksana atau terapi untuk ambliopia hanya bertujuan untuk


mengembalikan tajam penglihatan sampai mendekati 6/6.

19
Tatalaksana untuk kelainan refraksi adalah :

 Kaca mata.
Kaca mata diberikan untuk koreksi kelainan refraksi, yang lensanya
dapat terbuat dari kaca dan plastik.
 Lensa kontak.
Lensa kontak merupakan pilihan lainnya untuk koreksi kelainan
refraksi.

Bedah Refraksi

 Fotorefraktif keratektomi (PRK)


PRK adalah teknik dimana kornea diratakan dengan cara penguapan
dari permukaan kornea. PRK mengguanakan laser untuk meratakan
kornea dengan dibantu oleh komputer untuk melakukan perhitungan
pada modifikasi yang diinginkan.
 Laserassisted in-situ keratomileusis (LASIK).
Lasik adalah teknik variasi dari PRK, dilakukan pada myopia sedang
dan berat. Lasik menggunakan laser dengan alat pemotong kornea
mikrokeratom untuk membentuk flep. Flep akan diangkat saat
pemberian sinar laser untuk merubah permukaan kornea
(Ilyas, 2014).

2.3 Kerangka Teori

20
Masa Tumbuh dan perkembangan (Periode Kritis)

Terjadi kelainan pada mata :


- Deprivasi
- Strabismus
- Kelainan refraksi

Otak akan memberikan perintah untuk


mengabaikan penglihatan mata yang buruk,
dan hanya bergantung pada mata yang
penglihatannya lebih baik.

Ambliopia

Bagan 1. Kerangka Teori

2.4 Kerangka Konsep

21
Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi
angkatan 2014 & 2015 yang Prevalensi ambliopia
mengalami ambliopia

Bagan 2 : Kerangka Konsep

2.5 Definisi Operasional

22
No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Hasil Ukur

1.Mahasisw
1 Jumlah orang kuisioner Data Ordinal YA:
a yang dalam responde menggun
1. mengguna populasi yang n akan
kan menggunakan kacamata
kacamata kacamata atau / lensa
/ lensa lensa kontak kontak.
kontak. pada suatu
TIDAK :
periode
tidak
tempuh yang
menggun
dihubungkan
akan
dengan besar
kacamata
populasi dari
/ lensa
mana kasus
kontak.
itu berasal

2. Pemeriksaa Jumlah orang Visus mata Snellen Nominal Ya : Ada


n kelainan dalam populasi mahasiswa Chart dan gangguan
refraksi yang mengalami diperiksa kacamata pada
Kelainan menggunakan Pinhole refraksi
refraksi (kasus Snellen Chart, mata
lama) pada suatu apabila visus < 6/6
Tidak :
waktu tempuh maka akan
Tidak ada
yang dilanjutkan dengan
gangguan
dihubungkan pemeriksaan
pada
dengan besar menggunakan
refraksi
populasi dari kacamata Pinhole
mata
mana kasus itu untuk mengetahui
berasal apakah kelainan
terdapat pada

23
refraksi mata atau
tidak

3. Pemeriksaa Jumlah orang Menggunakan Optalmosk Nominal Ya : bukan


n anatomi dalam populasi optalmoskop untuk op ambliopia
mata yang mengalami melakukan
Tidak :
Kelainan pemeriksaan
ambliopia
refraksi (kasus terhadap segemen
lama) pada suatu posterior mata, juga
waktu tempuh segmen anterior
yang mata untuk
dihubungkan mengetahui apakah
dengan besar ada kelainan pada
populasi dari bola mata.
mana kasus itu
berasal

4. Prevalensi Jumlah orang Setelah didapatkan Trial frame, Nominal Ya : tidak


ambliopia yang mengalami data visus, trial lens, ambliopia
kelainan selanjutnya akan snellen
Tidak :
refrak(kasus dilakukan dengan chart
ambliopia
lama) pada suatu mengkoreksi tajam
waktu tempuh penglihatan dengan
yang tujuan untuk
dihubungkan mengetahui berhasil
dengan besar atau tidaknya dalam
populasi dari mengoreksi tajam
mana kasus itu penglihatan pada
berasal mata mahasiswa

Tabel 1 : Definisi Operasional

24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, yaitu
menggambarkan besarnya masalah dimana peneliti hanya melakukan observasi,
tanpa memberikan intervensi pada variabel yang akan diteliti.

3.2 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif untuk
menggambarkan seberapa besar angka kejadian ambliopia pada mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014-2015.

3.3 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI angkatan 2014 dan 2015yang berjumlah 520 orang.

3.4 Sampel
Kriteria Inklusi :
 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 dan
2015.
 Mahasiswa yang menggunakan kacamata maupun lensa kontak.
 Mahasiswa yang tercatat visusnya tidak mencapai 6/6
 Mahasiswa yang telah menyetujui untuk menjadi responden.
 Mahasiswa dengan mata yang sehat atau tidak ada kelainan mata lain.

Kriteria Eksklusi :

 Mahasiswa yang tidak menggunakan kacamata.


 Mahasiswa yang tidak masuk atau sakit pada hari pengambilan sampel.
 Mahasiswa yang kurang kooperatif selama pelaksanaan penelitian.

25
3.5 Cara Penetapan Sampel
Cara penetapan sampel adalah dengan teknik probability sampling yaitu
simple random sampling dengan menggunakan rumus slovin. Menurut Sugiyono
(2010), Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus
Slovin sebagai berikut:

n = N / ( 1 + N.(e)2)

= 520 / (1 + 520.(0,1)2)

= 520 / 6,2

= 83 orang.

dimana:

n = jumlah elemen / anggota sampel

N = jumlah elemen / anggota populasi

e = error level (tingkat kesalahan) (catatan: umumnya digunakan 1 % atau 0,01, 5


% atau 0,05, dan 10 % atau 0,1) (catatan dapat dipilih oleh peneliti).

3.6 Jenis Data


Sumber data yang akan digunakan oleh penulis dalam penelitian mengenai
prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
angkatan 2014-2015 adalah data kuesioner terlebih dahulu kemudian data primer,
yaitu data yang diperoleh melalui hasil uji ketajaman penglihatan dan status refraksi
dengan Optotipe berupa Snellen Chart, Pin hole, trial framedan trial lens.

3.7 Cara Pengumpulan dan Pengukuran Data

26
Pengumpulan data dilakukan setelah mendapat persetujuan dan pengisian
kuesioner terlebih dahulu dari pribadi mahasiswadan persetujuan dari institusi
pendidikan setempat yaitu Universitas YARSI. Data yang diperlukan diperoleh dari
hasil Uji Ketajaman Penglihatan dengan menggunakan Snellen Chart, Pinhole,
funduskopi, trial frame dan trial lens kepada responden di Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI yang telah memenuhi kriteria sebelumnya.

3.8 Instrumen Pengumpulan Data


Alat yang digunakan dalam penelitian:
- Lembar permohonan izin kepada Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
- Lembar permohonan kepada mahasiswa untuk menjadi responden
penelitian inidengan penjelasan secara ringkas tentang penelitian yang akan
dilakukan.
- Lembar kuesioner.
- Snellen Chart. Yaitu dilakukan dengan membaca 'chart' dari jarak yang
ditentukan, biasanya 5 atau 6 meter.
- Tes Pin Hole yang dilakukan untuk membedakan apakah gangguan
disebabkan oleh kelainan refraksi atau bukan.
- Trial Frame dan Trial Lens untuk menentukan koreksi kacamata
yang memberikan penglihatan paling jelas.
- Tes Funduskopi untuk menentukan ada atau tidaknya kelainan
pada anatomi bola mata.

3.9 Analisa Data


Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat
yang dilakukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap
variabel penelitian. Analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan
presentase dari setiap variable yang bertujuan untuk mengetahui gambaran masing-
masing variable yang dipaparkan dalam tabel distribusi frekuensi (Notoatmodjo,
2010). Pada penelitian ini, dilakukan analisis data dengan melihat distribusi
frekuensi atau presentasi ambliopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran

27
Universitas YARSI angkatan 2014-2015.

Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data melalui hasil Uji


Ketajaman Penglihatan, menggunakan Stastical Package for The Social Sciences
(SPSS) versi 22.0. Pengolahan data akan dijelaskan menurut tahapan berikut:

1. Editing
Kesalahan-kesalahan dalam pengambilan data dikoreksi pada tahap ini,
data yang telah dikumpulkan dilakukan pengecekan ulang.
2. Coding
Pada tahap ini diberikan pengkodean terhadap data yang telah diambil.
3. Entry
Data yang telah diambil kemudian dimasukkan dalam program
komputer.
4. Tabulating
Data yang telah lewat tahapan diatas akan disusun kedalam table dan
grafik untuk memudahkan saat menganalisa data menggunakan
program komputer.
5. Clearing
Data dievaluasi kembali untuk menghindari kesalahan dalam
pengolahan data

28
3.10 Alur Penelitian

Penetuan Tema Penelitian

Pembuatan Proposal dan Revisi

Pengajuan Proposal dan Izin Penelitian

Pelaksanaan penelitian, pembagian kuesioner dan


Pengumpulan Data dengan Pemeriksaan Ketajaman
Penglihatan

Pengolahan Data

Pengujian Hasil dan Pembuatan Laporan

Revisi Laporan

Penyerahan Laporan Penelitian

Bagan 3. Alur Penelitian

29
3.11 Jadwal Penelitian

2016 – 2017

Kegiatan OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES JAN

Penyusunan
Proposal

Persiapan
Ujian
Proposal

Ujian
Proposal

Persiapan
Pelaksanaan
Penelitian

Pelaksanaan
Penelitian
dan
Pengumpulan
data

Pengolahan
Data dan
Analisis Data

Penyusunan
Hasil
Penelitian

Revisi Hasil
Penelitian

Ujian Hasil
Penelitian

Tabel 2. Jadwal Penelitian

30
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada penelitian prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi angkatan 2014 dan 2015 di rencanakan dengan responden
sebanyak 83 orang, namun jumlah responden meningkat pada hari di
laksanakannya pemeriksaan kelainan refraksi menjadi 88 orang. Hal ini di
karenakan banyak mahasiswa yang tertarik untuk melakukan pemeriksaan
kelaianan refraksi. Karakteristik responden yang terbagi berdasarkan jenis kelamin
dan angkatan dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3. Karakteristik Responden Mahasiswa Fakultas Kedokteran


Universitas YARSI Angkatan 2014 dan 2015 (n=88)

Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent
Percent
Laki-Laki 31 35.2 35.2
Perempuan 57 64.8 100.0
Total 88 100.0

Angkatan

Cumulative
Frekuensi Percent
Percent
2014 57 64.8 64.8
2015 31 35.2 100.0
Total 88 100.0

Berdasarkan data pada tabel 3, proporsi jenis kelamin responden perempuan


berjumlah 57 orang (64.8%) lebih banyak dari proporsi jenis kelamin laki-laki yang

31
berjumlah 31 orang (35.2%). Pada tabel 3 terdapat pula proporsi angkatan dimana
responden pada angkatan 2014 berjumlah 57 orang (64.8%) lebih banyak dari
proporsi responden pada angkatan 2015 yang berjumlah 31 orang (35.2%).
Pada tabel 4 dijelaskan mengenai angka kejadian kelainan refraksi pada
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 dan 2015
sebagai berikut :

Tabel 4. Distribusi Frekuensi kelainan refraksi pada mahasiswa angkatan


2014 dan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Frequency Percent
Emetropia 18 20.5
Ametropia 70 79.5
Total 88 100.0

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa sejumlah 70 orang mahasiswa


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 dan 2015 dari total 88
responden mengalami kelainan refraksi mata dengan angka presentase sebesar 79.5
%, sedangkan mahasiswa yang tidak mengalami kelainan refraksi hanya sebanyak
18 orang dengan angka presentase 20.5%.
Pada tabel 5 dijelaskan mengenai angka kejadian ambliopia dengan hasil
sebagai berikut :

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas


Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014 dan 2015

Ambliopia

Frequency Percent Cumulative Percent


Ambliopia Tidak 83 94,3 94,3
Ya 5 5,7 100,0
Total 88 100,0

32
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa dari 5 responden dengan presentase
sebesar 5,7% mengalami ambliopia dari 88 responden yang mengikuti penelitian.
Pada tabel 6 dijelaskan mengenai angka kejadian ambliopia berdasarkan
jenis kelamin sebagai berikut :

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Ambliopia Berdasarkan Jenis Kelamin pada


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2014 dan 2015

Ambliopia

Frequency Percent Cumulative Percent


Ambliopia 83 94,3 94,3

Perempuan 5 5,7 100,0


Total 88 100,0

Berdasarkan tabel 6 didapatkan hasil presentase kejadian ambliopia pada


mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI pada laki-laki 0% dan pada
perempuan sebanyak 5,7%.
Selanjutnya, didapatkan hasil klasifikasi ambliopia yang ditemukan pada
responden sebagai berikut :

Tabel 7. Klasifikasi Ambliopia di Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi


Angkatan 2014 dan 2015

Klasifikasi
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 83 94,3 94,3 94,3
Ambliopia Anisometropik 2 2,3 2,3 96,6
Ambliopia Isometropia 3 3,4 3,4 100,0
Total 88 100,0 100,0

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pada tabel 7 didapatkan


2 responden yang mengalami ambliopia anisometropik dan 3 responden yang

33
mengalami ambliopia isometropia. Didapatkan hasil presentase 2,3% pada
ambliopia anisometropik dan 3,4% ambliopia isometropia dari total 88 responden
yang mengikuti penelitian kelainan refraksi.

4.2 Pembahasan
Ambliopia merupakan suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak
mencapai optimal walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya. Biasanya
ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan pada perkembangan penglihatan
saat masa tumbuh kembang. Beratnya ambliopia berhubungan pada lamanya
seseorang tidak mengalami rangsangan untuk perkembangan penglihatan makula
nya dengan optimal (Ilyas, 2013). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
angkatan 2014 dan 2015.
Berdasarkan hasil pada tabel 4, dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi
responden yang mengalami kelainan refraksi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI sebesar 70 responden (79,5%) dan yang tidak mengalami
kelainan refraksi sebesar 18 responden (20,5%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian lain yang dilakukan oleh World
Health Organization (WHO), di seluruh dunia pada tahun 2010 terdapat sebanyak
285 juta orang (4,24%) populasi dengan gangguan penglihatan dan penyebab
gangguan penglihatan terbanyak di seluruh dunia ialah kelainan refraksi (43%).
Dan juga hasil penelitian yang dilakukan Suhardjo (2010) di Indonesia, bahwa
prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata.
Ditemukan jumlah penderita kelainan refraksi di indonesia hampir 25% populasi
penduduk atau sekitar 55 juta jiwa.
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa dari 5 responden dengan presentase
sebesar 5,7% mengalami ambliopia dari 88 responden yang mengikuti penelitian.
Hasil penelitian lain yang dilakukan olah Attebo k. pada tahun 1998, didapatkan
hasil ambliopia pada 118 responden dari 3654 total responden, atau didapatkan
persentase sebesar 3,2%. Pada penelitian yang dilakukan Ashok Kumar N (2008)
di Pakistan ditemukan 19 pasien (3,62%) ambliopia dari 3452 pasien. Dan juga

34
hasil penelitian yang dilakukan Suhardjo (2008) di Indonesia, di dapatkan
prevalensi ambliopia sebesar 1,5%, di daerah pedesaan sebesar 0,98% dan di daerah
perkotaan sebesar 1,93%.
Berdasarkan tabel 6 didapatkan hasil presentase kejadian ambliopia pada
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI pada laki-laki 0% dan pada
perempuan sebanyak 5,7%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian lain yang dilakukan oleh
Fikryah et al. yang menyatakan bahwa distribusi frekuensi ambliopia berdasarkan
jenis kelamin yang paling banyak didapatkan pada perempuan sebanyak 4 orang
(57%), sedangkan laki- laki sebanyak 3 orang (43%). Meskipun secara umum
prevalensi ambliopia tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin, namun hasil
penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang didapat sebelumnya oleh Faghihi
et al. menyatakan frekuensi pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Hal
tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yekta et al. di Shiraz,
Iran yang menunjukkan prevalensi ambliopia lebih tinggi didapatkan pada laki-laki
dibandingkan perempuan.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pada tabel 7 didapatkan
2 responden yang mengalami ambliopia anisometropik dan 3 responden yang
mengalami ambliopia isometropia. Didapatkan hasil presentase 2,3% pada
ambliopia anisometropik dan 3,4% ambliopia isometropia dari total 88 responden
yang mengikuti penelitian kelainan refraksi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian lain mengenai ambliopia pada
2.268 siswa SD usia 7-13 tahun di Yogyakarta pada tahun 2008 mendapatkan hasil
prevalensi ambliopia sebesar 1,5%, di daerah pedesaan sebesar 0,98% dan di daerah
perkotaan sebesar 1,93%, dengan penyebab ambliopia terbanyak pada studi
tersebut adalah anisometropia yaitu sebesar 44,4% (Suhardjo et al., 2008).

35
BAB V
PREVALENSI AMBLIOPIA PADA MAHASISWA FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
MENURUT PANDANGAN ISLAM

5.1 Fungsi Mata Menurut Islam


Allah SWT dengan segala kuasaNya menciptakan manusia lengkap dengan
panca indera agar manusia dapat berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Semua indera manusia memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia, salah
satunya adalah mata (Nadiah, 2013).
Pada dasarnya, setiap organ yang terdapat pada tubuh manusia memiliki
tugasnya masing-masing, di mana satu sama lainnya memiliki hubungan erat yang
tidak dapat dipisahkan. Ketika salah satu bagiannya terganggu maka hal itu akan
berpengaruh pada fungsi kerja organ lain dalam menjalankan tugasnya. Allah SWT
menganugerahkan semua manusia dengan panca indera, yang berupa pendengaran,
penglihatan, pembau, pengecap, dan perasa agar manusia dapat berinteraksi dengan
lingkungan di sekitarnya. Dengan anugerah yang diberikan Allah SWT, semua
umat manusia dapat melihat fenomena dan keindahan yang ada di dunia ini
(Nadiah, 2013).
Kelima bagian yang termasuk panca indera merupakan hal yang penting,
karena tanpa memilikinya manusia tidak dapat merasakan indahnya di kehidupan
ini, seperti Allah memberikan manusia sepasang kuping, mata, dan indera lainnya
agar manusia bisa merasakan indahnya dunia. Allah SWT berfirman :

36
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur.” (Q.S An-Nahl (16):78).

Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada


retina, lantas dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus mengalihkan
rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan (Evelyn C. Pearce,
2009).
Manusia, khususnya umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan dengan
sebaik mungkin apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Nikmat yang Allah SWT
berikan seperti indera penglihatan, pendengaran. Allah memberikan panca indera
kepada manusia sehingga manusia dapat selalu menghargai pemberianNya dan
menyadari tentang kebesaran Allah SWT, sehingga seluruh umat Islam dapat
memanfaatkan dengan baik dan tidak menggunakan anugerah yang Allah SWT
berikan pada keburukan. Karena pada akhirnya manusia akan timbang amal baik
dan buruknya, juga mempertanggungjawabkan semua yang telah manusia lakukan
dan perbuat.
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al-Israa’ 17:36).

Dalam ilmu embriologi terbukti bahwa indera penglihatan diciptakan setelah


indera pendengaran. Penciptaan indera penglihatan terjadi pada minggu ke-empat.
Telinga bagian dalam janin akan sempurna dan mampu mendengar pada bulan
kelima, sedangkan mata baru terbuka dan lapisan yang sensitif terhadap cahaya
tidak berkembang kecuali pada bulan ketujuh. Sampai saat itu saraf penglihatan
tidak akan sempurna untuk membawa sinyal-sinyal cahaya dengan cukup, dan mata
tidak akan bisa melihat karena ia tenggelam dalam tiga kegelapan (dalam rahim).

37
Ketika janin belum bisa melihat selama di dalam rahim, hal itu bukan karena
kegelapan yang meliputinya, melainkan juga karena kelopak matanya masih
tertutup dan jaringan matanya belum matang. Selain juga karena saraf
penglihatannya belum sempurna hingga akhir masa di dalam kandungan (Nadiah,
2013).
Mata diciptakan agar manusia bisa mendapatkan petunjuk di dalam
kegelapan. Dengan perantaraan mata manusia dapat menyaksikan keindahan alam,
melihat segala macam yang diciptakan oleh Allah SWT. Dengan diberikannya
manusia dua bola mata, manusia dapat menjalani aktivitas sehari hari, seperti
pentingnya fungsi mata untuk melihat dalam bekerja, dan belajar. Oleh karena itu,
begitu besarnya kenikmatan yang diperoleh lewat mata, maka manusia wajib untuk
selalu mensyukuri pemberian nikmat penglihatan dari Allah. Sehingga dapat
selamat dari segala kemudharatan ataupun kemaksiatan dunia yang dapat dilakukan
mata (Musthafa, 1987).
Allah SWT akan memberikan nikmat yang kekal di surga, sebagaimana
dinyatakan pada firman Allah SWT :

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam
surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata
dan kamu kekal di dalamnya" (Q.S Az-Zukhruf 43:71).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan fungsi mata yang Allah SWT berikan
kepada manusia untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, baik yang
di langit maupun yang berada di bumi, dan untuk memperoleh petunjuk dalam
kegelapan.

38
5.2 Takdir Menurut Islam
Secara etimologis takdir berasal dari bahasa Arab, qadara-yaqduru-qadran,
yang berarti kuasa mengerjakan sesuatu. Dan taqdir mempunyai arti yang
ditakdirkan, ditentukan Allah SWT.
Percaya kepada takdir atau qadla dan qadar, adalah merupakan rukun iman
ke-6 atau terakhir. Rukun iman ke-6, mempercayai takdir artinya bahwa seseorang
mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT telah menjadikan segala makhluk
ciptaanNya dengan kodrat dan irodatNya dan segala hikmahNya (Zuhroni, 2013).
Dari segi bahasa, qadla berarti keputusan atau ketetapan. Sedangkan qadar
artinya ketentuan atau ukutan. Dalam pengertian yang lebih rinci, qadla adalah
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT sejak jaman azali tentang
segala sesuatu yang menyangkut makhluk-Nya, seperti bulan mengitari matahari,
nasib baik dan buruk, sukses dan gagal, sehat dan sakit, dan sebagainya. Sedangkan
qadar adalah sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari
apa-apa yang terjadi hingga akhir masa.
Perbedaan antara qadar dan qadla menurut Syeikh Ustaimin, bahwa al-
Qadar adalah apa yang Allah SWT takdirkan secara azali (terdahulu). Sedangkan
al-Qadla adalah ketetapan Allah pada (semua) makhlukNya, dengan menciptakan,
meniadakan (mematikan) dan mengubah (keadaan mereka) (Zuhroni, 2013).
Takdir atau qadla dan qadar tidak terbantah adanya. Sebagai umat Islam
wajib untuk mempercayai qadla dan qadar. Allah SWT berfirman :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Q.S
Al-Hadiid 57:22).

Dilihat dari segi kemutlakan dan tidaknya, taqdir terbagi dua, yaitu:

39
1. Takdir Mubram adalah adalah takdir yang tidak dapat mengelak dan hanya
bisa diterima saja. Contohnya, semua manusia pasti akan mati, calon bayi
sudah ditentukan jenis kelaminnya, dimana lahirnya, siapa bapak dan
ibunya.

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan


Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.“(Q.S Yasiin 36:38).

2. Takdir Mu’allaq adalah takdir yang masih dapat diubah melalui upaya, ikhtiar,
dan doa sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Contohnya, seseorang
akan mendapatkan kehendaknya atau keinginannya apabila ia berusaha,
sementara seseorang tidak akan mendapatkan keinginannya jika ia hanya diam
saja dan tidak berusaha.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’du 13:11).

Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan sinar pada mata sehingga sinar
tidak jatuh tepat pada makula lutea (Ilyas, 2006).
Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat menimbulkan beberapa
komplikasi, bila pada masa tumbuh kembang seorang anak kelainan refraksinya
tidak dikoreksi dengan cepat dan tepat dapat terjadi komplikasi, yaitu salah satunya
adalah ambliopia.

40
Ambliopia merupakan suatu keadaan mata di mana tajam penglihatan tidak
mencapai optimal walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya. Biasanya
ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan pada perkembangan penglihatan
saat masa tumbuh kembang. Beratnya ambliopia berhubungan pada lamanya
seseorang tidak mengalami rangsangan untuk perkembangan penglihatan makula
nya dengan optimal (Ilyas, 2013).
Kelainan refraksi merupakan kuasa Allah SWT dalam hal tersebut dikenal
sebagai taqdir Allah SWT yang terbagi menjadi taqdir Mubram dan taqdir Mu’allaq
(Zuhroni, 2013). Berkaitan dengan pengertian dari takdir, kurangnya rangsangan
pada perkembangan penglihatan saat masa tumbuh kembang merupakan faktor
penyebab terjadinya kelainan refraksi ambliopia yang bisa disebut dengan taqdir
Mu’allaq. Dengan melakukan usaha berupa pengobatan dan penggunaan alat bantu
koreksi dapat memulihkan penglihatan kembali. Sebagai umat muslim hendaknya
menerima dengan lapang dada sebagaimana semua umat muslim mempercayai
rukun iman ke-6. Dan juga tetap menghargai dan bersyukur atas apa yang sudah
diberikan oleh Allah SWT. Karena apabila seorang mukmin sakit, Allah SWT akan
menggugurkan kesalahan-kesalahannya. Adapun juga hikmah-hikmah beriman
kepada takdir :

1. Menghilangkan rasa putus asa dalam menghadapi halangan.


2. Membangun ketenangan hati dan selalu merasa dekat dengan Allah
SWT
3. Selalu berprasangka baik terhadap rencana dan keputusan Allah SWT
4. Tidak sombong jika meraih keberhasilan, dan akan selalu ingat bahwa
keberhasilan adalah salah satu pemberian dari Allah SWT.
Kelainan refraksi ambliopia merupakan takdir Mu’allaq, karena seseorang
yang mengalami ambliopia masih bisa mengembalikan kualitas penglihatannya
dengan melakukan pemeriksaan dan pengobatan atau terapinya yaitu dengan
memakai kacamata.

41
5.3 Pemeriksaan Skrining Kelainan Refraksi Mata pada Mahasiswa Ditinjau
dari sudut Pandang Islam

Mata adalah panca indera penting yang perlu pemeriksaan dan perawatan
secara teratur. Pemeriksaan rutin pada mata sebaiknya dimulai pada usia dini. Pada
anak 2,5 – 5 tahun, skrining mata perlu dilakukan untuk mendeteksi apakah
menderita gangguan tajam penglihatan yang nantinya akan mengganggu aktivitas
di tempat belajarnya nanti (Deddy et al., 2009).
Pemeriksaan skrining kelainan refraksi mata adalah sebuah metode untuk
mendeteksi ada atau tidaknya kelainan refraksi pada mata. Setelah dilakukan
skrining, maka mahasiswa akan mengetahui apakah ia memiliki kelainan refraksi
atau tidak, dan juga skrining ini dapat menjadi langkah awal untuk sebuah
pengobatan pada kelainan refraksi tersebut. Sebagai umat muslim, hendaknya ada
kesadaran untuk menggunakan alat bantu koreksi pada kelainan refraksinya sebagai
upaya untuk menjaga kesehatan.
Adanya perintah untuk berobat diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi SAW
sebagai berikut :

“Ya, wahai sekalian hamba Allah, berobatlah kalian. Karena sesungguhnya Allah
tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya
kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apakah itu wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu penyakit tua (pikun)” (HR. Abu Daud).

Dilakukannya pemeriksaan skrining kelainan refraksi mata pada mahasiswa


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI diharapkan dapat memberikan manfaat,
juga agar dapat mengingatkan para mahasiswa pentingnya untuk menjauhkan
penyakit, menjaga kesehatan diri sendiri, dan mencapai kemaslahatan. Al-Quran,
mengutip ucapan Nabi Ibrahim A.S yang menyebutkan:

42
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (Q.S Al-
Syu’ara’42:80).

Ayat tersebut menekankan agar orang yang sakit mengupayakan sehat


sebagai anjuran agama. Dalam menafsirkan ayat ini, al- Dzahabi menyatakan,
bahwa tindakan upaya penyembuhan penyakit secara medis merupakan perbuatan
baik dan terpuji (Zuhroni, 2003).
Setiap penyakit pada dasarnya berasal dari Allah SWT, yang dapat
disimpulkan bahwa yang dapat menyembuhkan juga Allah SWT. Namun untuk
mencapai kesembuhan tersebut dilakukan melalui usaha yang maksimal. Sesuai
dengan sabda Rasulullah SAW :

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu
obatnya.”(HR.Al-Bukhari no. 5678)

“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh
dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 5705).

Semua tindakan pengobatan terapi kesehatan dan penggunaan metode


pengobatan jika nyata-nyata bermanfaat maka hukumnya boleh, dan jika
membahayakan maka hukumnya haram (Zuhroni, 2003).

“Hukum asal dari sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya
(memakruhkannya dan mengharamkannya).” (Imam As Suyuthi: 43).

43
Hal ini terkait dengan diadakannya pemeriksaan skrining kelainan refraksi mata
pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, yang diharapkan dapat
membawa manfaat untuk mencapai kemashlahatan.
Maslahat merupakan tujuan dari Maqashid Syari’ah. Maqashid
Syari’ah adalah konsep untuk mengetahui hikmah (nilai-nilai dan sasaran syara'
yang tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an dan Hadits). Seperti halnya pada tujuan
hukum Islam, yaitu mencapai kemaslahatan atau kebahagiaan hidup manusia di
dunia dan akhirat. Menurut al-Shatibi kemaslahatan tersebut dapat dicapai apabila
lima unsur pokok sudah dapat diwujudkan dan dipelihara. Untuk mewujudkan ke
lima unsur pokok tersebut, ia membagi kepada tiga tingkat maqashid atau tujuan
syari’ah, yaitu:
1. Maqashid al-Daruriyat : dimaksudkan untuk memelihara lima unsur
pokok dalam kehidupan manusia.
2. Maqashid al-Hajiyat : dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan atau
menjadikan pemeliharaan terhadap lima unsur pokok menjadi lebih baik
lagi.
3. Maqashid al-Tahsiniyat : dimaksudkan agar manusia dapat melakukan
yang terbaik untuk penyempurnaan pemeliharaan lima unsur pokok
(Iman, 2011).
Abu Ishaq al-Shatibi merumuskan lima unsur pokok untuk mencapai
kemaslahatan, yaitu:
1. Hifdz Ad-Din (Memelihara Agama): Menjaga atau memelihara agama, yaitu
memelihara dan melaksanakan kewajiban keagamaan yang termasuk peringkat
primer, seperti untuk menegakan agama, Allah SWT memerintahkan umat manusia
beriman, sholat, puasa, zakat dan haji.
2. Hifdz An-Nafs (Memelihara Jiwa): Untuk memelihara keberadaan jiwa yang
telah diberikan Allah SWT bagi kehidupan, maka ia harus memenuhi kebutuhan
pokoknya, seperti makan, minum, munutup badan dan mencegah yang berguna
untuk mempertahankan hidup.
3. Hifdz Al’Aql (Memelihara Akal): Memelihara akal merupakan sesuatu yang
menentukan bagi seseorang dalam menjalankan kehidupannya.

44
4. Hifdz An-Nasb (Memelihara Keturunan): Memelihara keturunan berarti
memelihara kehidupan.
5. Hifdz Al-Maal (Memelihara Harta): memelihara harta dalam peringkat
dhururiyyat, untuk mempertahankan kehidupannya manusia memerlukan kharta
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,sehinggga mereka berupaya mendapatkan
harta dengan cara yang halal dan baik.
Memelihara jiwa, keturunan dan akal merupakan hal yang langsung
berkaitan dengan kesehatan manusia (kedokteran). Seorang mukallaf akan
memperoleh kemashlahatan manakala ia dapat memelihara kelima aspek pokok
tersebut, sebaliknya ia akan merasakan mafsadat manakala ia tidak dapat
memelihara kelima unsur pokok tersebut secara baik (Zuhroni, 2003).
Dalam memelihara jiwa (hifz al-nafs) pemeriksaan skrining kelainan
refraksi mata merupakan upaya untuk menjaga kesehatan dan Allah SWT sangat
menganjurkan akan hal itu.
Dalam memelihara akal (hifz al-aql) pemeriksaan kelainan refraksi dan
melakukan koreksi pada ambliopia dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang,
mencegah timbulnya stress akibat dari rendahnya kualitas mata untuk melihat,
seperti dalam belajar dan bekerja, dan dalam harta (hifz al-maal) untuk
memaksimalkan fungsi penglihatan mata agar dapat digunakan dalam bekerja
untuk menafkahi keluarga.
Dengan manusia menjaga kesehatan mata dan anggota tubuh lainnya,
adalah salah satu upaya atau cara untuk mencapai kemaslahatan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-


Insyirah:5).

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh:6).

45
Dalam kehidupan ini penyakit dapat diibaratkan sebagai kesulitan. Namun
tidak lupa bahwa Allah SWT menurunkan penyakit, juga menyertakan
pengobatannya. Sama halnya dengan kelainan refraksi, Allah SWT juga sudah
menurunkan cara pengobatan atau meringankan penyakitnya.

5.4 Analisa Pandangan Islam terhadap Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Berdasarkan hasil penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
mengenai Prevalensi Ambliopia pada angkatan 2014 dan 2015 dengan responden
sebanyak 83 orang didapatkan hasil 5 responden dengan presentase sebesar 5,7%
mengalami ambliopia. Ambliopia merupakan komplikasi yang disebabkan oleh
kelainan refraksi yang tidak dikoreksi pada saat masa tumbuh kembang seorang
anak (Ilyas, 2013). Hal itu menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa tidak
melakukan skrining kelainan refraksi pada saat masa tumbuh kembang dan tidak
melakukan koreksi pada kelainan refraksinya sehingga dapat terjadi ambliopia,
dalam agama Islam, bahwa suatu tindakan upaya penyembuhan penyakit secara
medis merupakan perbuatan baik dan terpuji. Untuk itu Dalam kasus ini
pemeriksaan skrining sangat bermanfaat untuk mendeteksi kelainan refraksi yang
ada pada beberapa mahasiswa. Allah SWT juga menganjurkan umatnya agar selalu
menjaga kesehatan, pemeriksaan kelainan refraksi sangat penting agar seseorang
dapat melakukan koreksi dengan menggunakan kacamata sehingga penglihatan
menjadi lebih baik dan sebagai upaya menegakkan salah satu tujuan Islam yaitu
memelihara jiwa (hifz al-nafs).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan 2 responden
yang mengalami ambliopia anisometropik dan 3 responden yang mengalami
ambliopia isometropia. Didapatkan hasil presentase 2,3% pada ambliopia
anisometropik dan 3,4% ambliopia isometropia dari total 88 responden yang
mengikuti penelitian kelainan refraksi. Dalam hal ini, kelainan pada mata
merupakan takdir Mu’allaq yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagai umat
muslim hendaknya menerima dengan lapang dada sebagaimana semua umat
muslim mempercayai rukun iman ke-6. Dan juga tetap menghargai dan bersyukur

46
atas apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Karena apabila seorang mukmin
sakit, Allah SWT akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya.

47
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai
prevalensi ambliopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
angkatan 2014 dan 2015, dapat disimpulkan bahwa:

1. Berdasarkan hasil penelitian skrining kelainan refraksi yang dilakukan


pada 05 Oktober 2017 yang diselenggarakan di Universitas YARSI pada
88 responden yang mengikuti penelitian didapatkan hasil 20 responden
mengalami emetropia, 40 responden mengalami astigmatisme, 20
responden mengalami miopia, 5 responden mengalami ambliopia dan 3
responden mengalami hipermetropia. Dari hasil ini dapat disimpulkan
bahwa kelainan refraksi yang banyak diderita oleh mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI adalah astigmatisme, sedangkan kelaianan
refraksi sedikit diderita oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran YARSI
adalah hipermetropia.
2. Berdasarkan hasil penelitian skrining kelainan refraksi yang dilakukan
pada 05 Oktober 2017 yang diselenggarakan di Universitas YARSI
didapatkan responden yang mengalami kelainan refraksi ambliopia
sebanyak 5 orang dari 88 responden yang mengikuti penelitian. Dari 5
orang yang mengalami ambliopia 2 orang diantaranya mengalami
ambliopia anisometropia, sedangkan 3 orang lainnya mengalami ambliopia
isometropia. Distribusi ambliopia pada angkatan 2014 dan 2015
berdasarkan jenis kelamin adalah 5 orang perempuan dan tidak ditemukan
pada laki-laki.
3. Tindakan skrining kelainan refraksi ambliopia hukumnya sangat
dianjurkan. Karena tujuan dari penelitian ini berupaya untuk mendeteksi
kelainan refraksi serta untuk memberikan koreksi atau upaya perbaikan
pada penglihatan mata, sebagai upaya dalam mencapai pemeliharaan jiwa
(hifdz al-Nafsh), pemeliharaan agama (hifdz al-Diin), pemeliharaan

48
akal (hifz al-aql) dan pemeliharaan harta (hifz al-maal). Melakukan
skrining kelainan refraksi ini juga berkaitan dalam penegakan syariat Islam
yang merupakan perintal Allah SWT.

6.2 Saran
Berdasarkan pengalaman saat melakukan penelitian dan analisa terhadap hasil
penelitian, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa diharapkan untuk lebih peduli dalam melakukan skrining
kelainan refraksi mata agar tidak menurunkan kualitas belajar dan juga tidak
menurunkan kualitas mata untuk melihat dalam segala aktivitas, dan apabila
terdeteksi adanya kelainan refraksi untuk melakukan tatalaksana agar
memperbaiki kualitas penglihatan.

2. Bagi Institusi
Bagi institusi menjadi bahan masukan bagi civitas akademika mengenai
prevalensi kelainan refraksi mata dan tinjauannya dari sisi Islam pada
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, serta dapat menjadi
pertimbangan untuk mengadakan pemeriksaan kelainan refraksi bagi
mahasiswa kedokteran Universitas YARSI secara gratis.

3. Bagi Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan kesehatan mata dengan
melakukan deteksi dini kelainan refraksi dan menggunakan alat bantu
koreksi agar mengurangi dampak terjadinya ambliopia.

4. Bagi Ulama
Ulama diharapkan dapat memberikan edukasi terhadap masyarakat akan
pentingnya menjaga kesehatan mata dari kelainan refraksi ambliopia
dalam upaya meningkatkan kualitas penglihatan dan memenuhi tujuan
syariat Islam.

49
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahnya. 2008. Departemen Agama RI. Bandung: Diponegoro.


Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. 1987. Tafsir Al-Maraghi Juz VI. Semarang :
Tohaputra.
Deddy Farchian et al. 2009. Prevalensi Kelainan Tajam Penglihatan pada Pelajar
SD “X” Jatinegara Jakarta Timur. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 59,
No. 6.
Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdikbud.
Evelyn C Pearce. 2008. Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: PT
Gramedia.
Faghihi M, Ostadimoghaddam H, Yekta A A. 2011. Amblyopia and Starbismus in
Iranian School Children, Mashhad. Vol. 19, Hlm. 147-152.
Goldberg M.D., Charlie. 2015. A Practical Guide to Clinical Medicine: A
Comprehensive Physical Examination and Clinical education site for
medical students and Other Health Care Proffesionals.
www.meded.ucsd.edu/clinicalmed/eyes.htm. Diakses pada tanggal
29 Oktober 2016.
Ilyas, H. Sidarta. (Ed). 2008. Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Ilyas, H. Sidarta. (Ed). 2013. Ilmu Penyakit Mata. Edisi kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Ilyas, H. Sidarta. (Ed). 2014. Ilmu Penyakit Mata. Edisi kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Mauser, Michael W. 2011. Exploring the Anatomy of Your Own Eye. Vol. 73. No.
1, Hlm. 28-33.
Miller, Kevin M. 2001 – 2002. Basic and Clinical Science Course Section 3: Optic,
Refraction, and Contact lens. San Fransisco: American Academy of
Ophthalmology.

50
NH, Siregar. 2009. Ambliopia.
http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/09E08152.pdf.
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2016.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Saputri, F, Tongku, Y, Poluan, H. 2016. Angka Kejadian Ambliopia pada Usia
Sekolah di SD Negeri 6 Manado. Jurnal e-clinic. Vol. 4, No. 2.
Sherwood, L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Siregar, Nurchaliza. 2009. Amblyopia. Medan: Departemen Ilmu Kesehatan Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung:
Alfabeta.
Suhardjo & Hartono. 2007. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu
Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Thayyarah, Nadiah. 2013. Buku Pintar Sains Dalam Al-Qur’an. Jakarta: Penerbit
Zaman.
Vaughan D. 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Widadi, W Kuntadi et al. 2015. Amblyopia among junior school students. Opthalmol Ina. Vol. 41,
No. 3, Hlm. 283- 288.
Widodo, Agung, Prillia T. (2007). Miopia Patologi. Jurnal Oftalmologi Indonesia.
Vol. 5, No. 1, Hlm. 19-26.
Yekta A, Fotouhi A, Hashemi H. 2010. The Prevalence of Anisometropia
Ambliopia and Starbismus in School Children of Shiraz, Iran. Vol.
18, No. 3, Hlm. 104-110.
Zuhroni. 2000. Hukum Berobat Dalam Perspektif Hukum Islam. Kumpulan
Makalah Agama Islam 1998-2011. Jakarta: Universitas YARSI.
Zuhroni. 2003. Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran 2 (Fiqh
Kontemporer). Jakarta: Bagian Agama Universitas YARSI.
Zuhroni. 2013. Dasar dan Sumber Syariat Islam. Edisi revisi. Jakarta: Bagian
Agama Islam UPT MKU dan Bahas Universitas YARSI Jakarta.

51
ANGGARAN PENELITIAN

A. PROPOSAL PENELITIAN

No Nama barang Jumlah Harga satuan Total

26 lembar x 3
1. Proposal Rp. 2.00 Rp. 15.600
bundel

2. Cover proposal 3 lembar Rp. 2.000 Rp. 6.000

3. Jilid proposal 3 bundel Rp. 4.000 Rp. 12.000

4. Surat izin dekan 1 lembar Rp. 2.00 Rp. 2.00

Total keseluruhan Rp.33.800

B. PELAKSANAAN PENELITIAN

2 lembar x 83
1. Kuisioner Rp.200 Rp. 33.200
bundel

1 lembar x 83
2. Informed concent Rp 2.00 Rp. 16.600
bundel

3. Refraksionis 1 orang Rp. 5.00.000 Rp. 500.000

4. Souvenir responden 83 orang Rp.15.000 Rp. 1.245.000

Total keseluruhan
Rp. 1.794.800

52
C. PENGOLAHAN HASIL PENELITIAN
100 lembar x Rp.2.00 Rp.60.000
3 bundel
1. Skripsi
3 bundel Rp.30.000 Rp.90.000
2. Jilid hard cover

Total keseluruhan
Rp.150.000

TOTAL ANGGARAN DANA

A. PROPOSAL PENELITIAN Rp.33.800

B. PELAKSANAAN PENELITIAN Rp. 1.794.800

C. PENGOLAHAN HASIL PENELITIAN Rp.150.000

TOTAL Rp.1.978.600

53
BIODATA PENELITI

A. Identitas Diri

Nama Lengkap : Alvin Ariano

Jenis Kelamin : Laki - Laki

Program Studi : Kedokteran Umum

NPM : 1102014014

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 2 Juni 1995

Alamat : Komplek PTB Blok R2 no.8 Duren Sawit


Jakarta Timur

E-mail : arianoalvin@yahoo.com

Nomor Telepon / Hp : 081294565670

B. Riwayat Pendidikan

SD SMP SMA
Nama Instusi SDN 03 PAGI SMP NEGERI 1 SMA NEGERI
MENTENG JAKARTA 77 JAKARTA
JAKARTA
Jurusan - - -
Tahun Masuk- 2001-2007 2007-2010 2010-2013
Lulus

54
LAMPIRAN 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

(Information Sheet)

Kepada Yth.
Jakarta, 21 Agustus
2017
Calon Responden

Di Tempat
Dengan Hormat,

Saya Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Alvin Ariano
NPM : 1102014014
Fakultas : Kedokteran
Pembimbing : dr. Saskia Nassa Mokoginta, SpM
Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul Prevalensi Ambliopia
Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
Penelitian ini tidak akan menimbulkan kerugian bagi saudara sebagai responden.
Peneliti akan menjaga hak-hak saudara dengan cara tidak memaksa untuk menjadi
responden untuk melakukan pemeriksaan refraksi.
Nama maupun data pribadi responden tidak akan dicantumkan dan akan
dihilangkan setelah data diolah dan penelitian selesai.
Saya mohon kesediaan saudara untuk menjadi responden penelitian ini dengan
menandatangani lembar persetujuan dan mengikuti arahan peneliti.

55
Hormat Saya,
Peneliti

Alvin Ariano

56
LAMPIRAN 2
KUISIONER

LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini,


Nama :
NIM :
No. Telpon :

Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden penelitian yang


dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran YARSI Berikut:
Nama : Alvin ariano
NIM : 1102014014
Judul Penelitian : Prevalensi Ambliopia pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2014-2015
Setelah membaca dan mendapatkan penjelasan serta memahami
sepenuhnya tentang penelitian ini , persetujuan ini saya buat dengan kesadaran
tanpa paksaan.

Jakarta, 2017
Responden

( )

57
Kuisioner Penelitian

Identitas

Nama :

Usia :

Suku Bangsa :

Alamat :

No. Tlp :

1. Apakah anda menggunakan kacamata?


a. YA
b. TIDAK

2. Setelah memakai lensa, apakah pengelihatan menjadi lebih baik atau tidak?
a. YA
b. TIDAK

3. Apakah jenis lensa kacamata anda?


a. cekung (untuk mata (-) / miopia)
b. cembung (untuk mata (+) / hipermetropia)
c. silindris (untuk mata (+ dan -) / astigmatisme)

4. Berapakah ukuran dioptri kacamata anda?


...........

5. Apakah ayah anda sudah memakai kacamata (+/-) sejak usia muda?
a. YA

58
b. TIDAK

6. Apakah ibu anda sudah memakai kacamata (+/-) sejak usia muda?
c. YA
d. TIDAK

7. Riwayat kelahiran :

 Lahir dengan cara :


a. normal
b. operasi (sectio caesarea)

 Berat badan lahir :


a. < 1500 gram
b. 1500 – 2000 gram
c. >2000 gram

 Adakah riwayat masuk ke Neonatal Intensive Care Unit (NICU) saat


lahir?
a. YA
b. TIDAK

8. Apakah anda pernah mengalami kecelakaan / trauma pada mata?


a. YA
b. TIDAK

9. Apakah anda sering mengalami keluhan seperti dibawah ini :


(pilih yang sesuai dengan keluhan anda)
a. sakit kepala
b. kelelahan mata
c. memicingkan atau menyipitkan mata
d. kabut/ buram saat melihat benda jarak dekat atau jauh

59
LAMPIRAN 3

LAMPIRAN DATA PENELITIAN


VOD VOS VOD VOS
No Nama Diagnosis
DASAR DASAR KACAMATA AKHIR AKHIR
1.0 (- 1.75 1.0 (-1.50
Faza Aditya C-0.75 X160 C-0.50
1 K 0.1 0,2 F2 ) X175) AMC
1.0 (-0.25
Azizah F. 1.0 (-0.25 C- C-1.25
2 Andyra 0.7 0.8 0.25 X176) X172) AMC
R: 1.0 F3(-
Gemia 0.75) L: 1.0 Myopia
3 Clarisa F. 0.8 0.9 F3(-0.50) 1.0 ( -1.00) 1.0 (-1.00) Simplex
Fajar Agung High
4 P. 6/60 6/60 Myopia
Dhana Fitria
5 S. 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
6/6 (-8.50 c- 6/6 (-8.25 c-
6 Fuad F. 6/60 6/30 R:6/7.5 L:6/6 1.25 x145) 1.50 x178) AMC
Putri Ayu
7 K.S. 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
1.0 (-6.00 c- 1.0 (-6.00 c-
8 Husna M.S 6/60 6/60 1.25 x180) 1.50 x180) AMC
R:6/9 (-4.25) Myopia
9 Dimas Aji K. 6/60 6/60 L:6/6 (-5.50) 6/6 (-5.50) 6/6 (-5.50) Simplex
6/6 (-2.75
Deni Rizki 6/6 (-2,75 c- c-1.00 AMC +
10 K. 6/21 6/21 1.25 x1) x165) Exophoria
1.0 (-3.75 c- 1.0 (-3.50 c-
11 Mutia Hayu 6/60 6/60 0.50 x180) 0.50 x10) AMC
Myopia
12 Tri Handini 6/60 6/60 1.0 (-2.25) 1.0 (-2.25) Simplex
13 Bella Bonita 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop

60
R:(-0.25) L: (- 1.0 (-0.25 Myopia
Fajar 0.25 C-0.25 C-0.25 OD +
14 Pambudi 6/6 F3 6/6 X34) 1.0 (-0.50) X30) AMC OS
Asep Myopia
15 Zainuddin S. 6/18 6/9 1.0 (-0.75) 1.0 (-0.50) Simplex
M. Rifki 1.0 (-2.25 C- 1.0 (-2.75
16 Kholis P. 0.3 F2 0.2 F1 1.00 x155) C-0.50 x10) AMC
Myopia
17 Iqbal M. 6/6 F3 6/6 1.0 (-0.50) 1.0 (-0.25) Simplex
Shabrina Myopia
18 A.A. 6/6 F1 6/9 1.0 (-1.25) 1.0 (-1.25) Simplex
Myopia
Nadilla 1.0 F1 (- Simplex
19 Yasinta 6/12 F1 6/6 F1 0.75) 1.0 F1 OD
Laura
20 Rahardini 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
R:0.9 (-1.50)
L:0.9 (-1.25 Myopia
21 Atika Aulia 0.1 0.1 C-0.25 x170) 1.0 (-1.75) 1.0 (-1.50) Simplex
1.0 (-5.25
Nanda Riski 1.0 (-5.00 C- C-1.50 High
22 T.U 6/60 6/60 0.75 X150) X180) Myopia
Nabila Nur
23 F. 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
Amalia 1.0 (-0.50 C- 1.0 (-0.25 -
24 Farahtika 0.8 F2 0.8 F2 Tidak Bawa 0.50 x105) 0.50 X60) AMC
25 Febrian.A 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
26 Karina Utari 6/5 6/5 6/5 6/5 Emetrop
R:0.9 (-3.25
C-0.75 X5)
L:1.0 F3 (- 1.0 (-3.50
3.25 C-0.75 1.0 (-4.00 C- C-1.00
27 Siti Afifah F. 0.1 0.1 X180) 0.75 X5) X180) AMC

61
1.0 (-4.00
Putri Mufrida 1.0 (-425 C- C-0.50
28 R. 0.1 0.1 R:1.0 L:1.0 1.00 X175) X175) AMC
1.0 ( -2.00
Arly 1.0 (-2.75 C- C-1.00
29 Fadhillah 0.1 0.2 R1.0 L:1.0 1.25 X180) X170) AMC
R: 1.0 F1 (-
2.50 c-0.50
x165) L: 0.9
Raditya (-2.25 c-0.75 1.0 (-3.00 c- 1.0 (-2.50 c-
30 Prasidya 0.1 0.1 x5) 0.50 x165) 0.75 x5) AMC
R:6/7.5 (-4.00
c-1.50 x146)
L:6/7.5 (-4.00 1.0 (-5.00 c- 1.0 (-5.50 c-
31 Ery R. 0.1 0.2 c-1.50 x5) 1.25 x5) 1.25 x50) AMC
Myopia
32 Ahmad Sibli 6/9 6/6 1.0 (-0.75) 1.0 (-0.50) Simplex
Fulristami
33 Zaenab 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
34 Ramzy K. 1.0 1.0 1.0 (+0.25) 1.0 Emetrop
R: 1.0 (-1.25
c-0.25 x170)
Awal L: 0.8 (-0.75 1.0 (-1.00 c- 1.0 (-1.00 c-
35 Ramadhan 6/20 6/15 c-0.75 x47) 0.75 x170) 0.75 x47) AMC
Mia
36 Purhayati 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
MS +
Ambliopi
37 Humaerah 6/9 F1 6/6 6/9 (-0.50) 1.0 (-0.50) a OD
Ayu Retno Hipermetr
38 B. 6/6 F3 6/6 F4 (+0.25) op OS
Khaulah 1.0 (c-0.75 AM OD +
39 Nurul F. 0.8 F3 1.0 F4 x90) 1.0 (-0.50) MS OS
Myopia
40 Siti Mutia 6/6 F1 6/6 F1 1.0 (-0.25) 1.0 (-0.75) Simplex

62
Asri 1.0 (-2.75 1.0 (-0.25 c-
41 Rahmania 6/6 F3 6/6 ~ c0.50 x170) 0.50 x180) AMC
42 Firmansyah 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
Khalfia
43 Khairin 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
Khansadia
44 H.M 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
45 Kinanti S.P 1.0 1.0 - 1.0 1.0 - AMC
Putri Aifanny 1.0 (c-0.75 AM OD +
46 J.S. 0.9 F2 0.3 x175) 1.0 (-1.25) MS OS
Annisa Fitri Kacamata 1.0 (-3.00 c- 1.0 (-3.25 c-
47 B 0.1 0.1 masih sesuai 0.50 x2) 0.25 x177) AMC
Aisyah 1.0 (-4.50 c- 1.0 (-4.00 c-
48 Khairina P. 6/6 F1 6/6 2.00 x170) 1.75 x170) AMC
M. Jordan Kacamata 1.0 (-5.50 c- AMC OD
49 Fadhilla 2/60 2/60 masih sesuai 0.25 x30) 1.0 (-5.50) + MS OS
Myopia
50 M. Rivaldi 6/6 F1 6/6 F2 1.0 (-0.25) 1.0 (-0.25) Simplex
Myopia
51 Desi Tahari 0.8 0.7 1.0 (-1.00) 1.0 (-1.00) Simplex
52 M. Rezki 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
Andika R: (-3.25) L: Myopia
53 Shanzaz G. 6/60 6/60 (-3.25) 6/9 (-3.50) 6/6 (-3.75) Simplex
R: (-4.50 c-
0.25 x20) L:
(-4.50 c-0.50 1.0 (-5.25 c- 1.0 (-4.25 c-
54 Farizal Arief 6/16 6/9 x4) 0.25 x5) 0.75 x180) AMC
R: (-1.25) L: 1.0 (-2.75 c- MS OD +
55 Mutiara P.S 6/6 6/15 (-1.75) 1.0 (-1.25) 0.50 x180) AMC OS
R: (-6.50 c-
2.75 x9) L: (- 6/6 F4 (-
Bianca 8.50 c-1.50 8.00 c-1.25 High
56 Caterina 6/60 6/60 x165) 6/9 (-6.00) x165) Myopia

63
Monica
57 Octafiani 6/6 6/7.5 1.0 1.0 Emetrop
Tia Aprilia 1.0 (-1.00 c- 1.0 (-0.75 c-
58 A. 6/15 6/15 0.50 x40) 0.25 x180) AMC
Meutia Liska 1.0 (-0.50 c- MS OD +
59 U. 0.1 0.9 1.0 (-3.00) 0.50 x45) AMC OS
Astigmat
Minchatul 1.0 (c-2.50 1.0 (-0.75 c- OD +
60 M. 6/30 6/18 x180) 0.75 x180) AMC OS
R: (-3.50 c- AMC OD
3.25 x180) L: +
(-3.00 c-3.25 1.0 (-0.50 c- 1.0 (c-4.00 Astigmat
61 Melinda R.P 6/15 6/15 x165) 4.00 x180) x160) OS
Miftahurrah 1.0 (-6.00 c- 1.0 (-6.25 c-
62 mi 6/20 6/30 3.50 x170) 4.25 x7) AMC
R: 0.9 (-4.00
c-0.50 x160)
L: 0.9 F1 (-
Kurnia 3.75 c-0.74
63 Hasanah 0.1 0.1 x160) AMC
64 Pamor Faisal 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
R: 1.0 (-1.00)
Rivan L: 0.8 (-1.00 Myopia
65 Trisatyo 6/9 6/9 c-0.25) 1.0 (-1.00) 1.0 (-1.00) Simplex
Firdaus 1.0 (c-0.25 1.0 (-0.50 Astigmati
66 Pratama x180) x40) sme
Nabil Dhiya 1.0 (c-0.25
67 U. 6/6 F1 6/6 x90) 1.0 Emetrop
Kacamata Myopia
68 Alif Putri Y. 0.4 F2 0.4 F2 Masih Sesuai 1.0 (-1.00) 1.0 (-1.00) Simplex
R: (c-0.50
Farham x101) L: (c- 1.0 (-0.25 c- 1.0 (-0.25 c-
69 Fauzan 6/9 F1 6/6 0.75 x69) 1.00 x100) 1.00 x20) AMC

64
Astigmat
Anggi R: 6/18 6/12 (+0.5 c- 6/7.5 (c- Mixtus
70 Larasati 6/30 6/18 L:6/7.5 4.75 x5) 2.50 x5) OD +
Astigmat
OS +
Ambliop
Wahyu R: (-1.00) L: 1.0 (-1.50 c- AMC OD
71 Ramadhan 6/7.5 6/7.5 (-0.50) 0.50 x90) 1.0 (-0.50) + MS OS
Gery 1.0 (-4.00 c- 1.0 (-4.25 c-
72 Aldilatama 6/30 6/30 0.75 x180) 0.75 x180) AMC
Dwinta
73 Anggraini 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
Gigih Myopia
74 Usahawan 0.1 0.1 1.0 (-3.75) 1.0 (-3.75) Simplex
75 Andi Aulia 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
M. Herman 1.0 (-2.00 c- 1.0 (-2.00 c-
76 L. 6/30 6/30 1.75 x86) 1.75 x86) AMC
Tidak bawa 1.0 (c-0.75 1.0 (-0.50 Astigmati
77 Daniah K. 0.9 0.9 kacamata x180) x165) sme
Anggun Myopia
78 Kusuma D. 0.1 0.1 1.0 (-2.00) 1.0 (-1.75) Simplex
1.0 (c-0.50 MS OD +
79 Anis M. 0.9 0.9 1.0 (-0.50) x180) AM OS
Ain Fitrah
80 A.N 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop
R: 4/15 (-3.00
c-0.50 x168)
Chintya L: 4/7.5 (-3.00 1.0 (-4.00 c- 1.0 (-3.75 c-
81 Rizki A. 0.1 0.1 c-0.50 x179) 0.75 x155) 0.75 x175) AMC
1.0 (c-1.25 1.0 (c-1.50 Astigmati
82 Nahdira 6/6 6/15 x180) x170) sme
Anggita
83 Kumala D. 1.0 1.0 1.0 1.0 Emetrop

65
R: (-1.00 c-
Ananda 1.50 x180) L: 1.0 (-2.25 c- 1.0 (-2.25 c-
84 Umica R. 0.1 0.1 (-0.50) 0.75 x180) 0.25 x180) AMC
1.0 (+0.25
1.0 (+0.25 c- c-0.50 Astigmat
85 Wisnuarto S. 6/7.5 6/6 1.00 x180) x180) Mixtus
1.0 (-4.25 c- 1.0 (-3.25 c-
86 Balqish T.R 0.1 0.1 1.50 x180) 2.50 x180) AMC
Fatimah Kacamata 1.0 (-0.75 c- 1.0 (c-3.50 AMC OD
87 Salma 0.6 0.6 F2 Masih Sesuai 2.25 x175) x10) + AM OS
Hipermetr
88 Ika Septiani 1.0 1.0 1.0 (+0.75) 1.0 op OD

66