Anda di halaman 1dari 5

Lonceng Kematian Hotel-hotel Melati di

Denpasar
Tingkat hunian hotel-hotel melati di Denpasar terus menurun.

Padahal, di sisi lain, hotel berjaringan justru terus bertambah. Inikah lonceng kematian hotel-
hotel melati di Denpasar?

Hotel Rai di kawasan Sanglah, Denpasar bisa jadi contoh.

Dari 17 kamar hotel, pada awal pekan ini, hanya dua kamar yang terisi. “Sehari-hari memang
sepi begini,” kata karyawan Hotel Rai Kristoforus Lolomsaid.

Siang itu, suasana hotel terlihat sepi. Padahal hotel ini berada persis di Jalan Diponegoro, salah
satu jalan utama Denpasar. Kristo dan satu karyawan lain, hanya sibuk main ponsel dan
menonton televisi. Teman Kristo malah rebahan di ruang resepsionis.

“Biasanya tamu kami hanya orang yang sedang berobat,” ujar Kristo.

Hotel Rai berada di kawasan Sanglah. Berjarak sekitar 1 km dari rumah sakit terbesar di Bali,
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah. Menurut Kristo, tamu yang menginap di Hotel Rai
lebih banyak dari pulau-pulau di timur Bali seperti Lombok, Sumbawa, dan Flores yang sedang
berobat di RS Sanglah.

Sekitar 500 meter dari Hotel Rai, masih di jalan sama, suasana Hotel Viking juga tak jauh
berbeda. Hotel di kawasan pusat perniagaan Denpasar tersebut terlihat sepi. Hanya tiga dari 70
kamar yang terisi.

Menurut pengelola Hotel Viking Ketut Gara, hotelnya mengandalkan tamu-tamu lokal. Karena
itu, hotel akan terisi penuh hanya pada musim tertentu seperti libur Lebaran dan Tahun Baru.
“Kalau sudah Maret dan April memang sepi. Apalagi sejak banyaknya hotel-hotel baru di
Denpasar,” katanya.

Seperti dikatakan Gara, hotel-hotel baru memang terus tumbuh di kota ini. Ironisnya, pada saat
yang sama, beberapa hotel melati justru mati. “Hotel ini (Viking) masih mending. Saya dengar
ada beberapa hotel melati yang sudah mati,” Komang Yudha, pegawai lain, menambahkan.

Yudha menyebut beberapa nama hotel melati yang sudah mati, seperti Hotel Dewi dan Hotel
Diponegoro di jalan yang sama.

Saya cek, kedua hotel tersebut memang sudah tidak ada. Hotel Diponegoro, samar-samar saya
ingat, dulunya ada di dekat Kompleks Pertokoan Genteng Biru, tempat makan saya zaman
kuliah. Adapun Hotel Dewi, di ujung Jalan Diponegoro. Teman saya pernah menginap di sana.
Namun, keduanya sudah tidak ada ketika saya cari dua hari lalu.
Tumbuhnya hotel murah dan berjaringan (city hotel) menjadi terduga utama atas matinya hotel-
hotel melati di Denpasar.

Melawan Raksasa

Jalan Teuku Umar bisa jadi lokasi paling tepat menggambarkan tidak adilnya persaingan antara
city hotel dengan hotel-hotel melati itu di Denpasar. Dalam tiga tahun terakhir, hotel-hotel baru
tumbuh di sepanjang jalan ini.

Sekadar menyebut nama hotel ada Amaris, All Season, Pop, Ibis, dan lain-lain. Hotel-hotel ini
berderet-deret muncul serupa cendawan di musim hujan di antara riuhnya Jalan Teuku Umar,
Denpasar.

Di Denpasar bagian lain juga ada Hotel Harris di Jalan Cokroaminoto, Hotel Neo di Jalan Gatsu
Barat atau Hotel Mars City di Jalan Kerta Dalem.

Umumnya, hotel-hotel murah tersebut dikelola secara berjaringan. Amaris misalnya adalah city
hotel ala Santika Group yang dimiliki Kompas Gramedia. Pop adalah hotel murah milik jaringan
Harris Hotel. Adapun All Season milik jaringan hotel Accor.

Selain menang jaringan, tarif mereka pun murah, antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per
kamar per malam. Tarif tersebut kurang lebih sama dengan tarif tertinggi hotel-hotel melati di
Denpasar. Hotel Rai dan Viking, misalnya, memasang tarif tertinggi Rp 300 ribu per malam.
Namun, pengelola Hotel Viking Ketut Gara mengatakan, tak mungkin mereka memasang harga
sama.

“Kalau mau tetap bertahan, kami harus memasang tarif paling rendah, Rp 70 ribu per malam,”
katanya.

Di antara kian banyaknya hotel baru di sepanjang Jalan Teuku Umar, tinggal beberapa hotel
melati masih bertahan. Salah satunya Hotel Puri Royan. Hotel yang berdiri sejak 2001 silam ini
harus melawan raksasa-raksasa besar seperti Santika Group, Harris, dan Accor.

Hasilnya mudah ditebak. Hotel-hotel melati kalah telak.

“Tingkat hunian kami turun terus tiap tahun sejak maraknya hotel-hotel itu,” kata AA Putu
Martino Royan, pemilik Hotel Puri Royan. Menurut Martino, maraknya hotel baru di Denpasar
terjadi sejak tiga atau empat tahun terakhir.

Begitu marak hotel murah berjaringan, tingkat hunian terus turun 10 persen tiap tahun. Biasanya,
dia melanjutkan, tingkat hunian di Hotel Puri Royan berkisar 50 hingga 60 persen pada saat high
season seperti liburan dan tahun baru. Sekarang hanya 40 sampai 50 persen.

Pada musim low season seperti sekarang hanya tinggal 30 persen. “Hari ini hanya ada satu kamar
yang terisi,” ujarnya kemarin. Hotel Puri Royan hanya punya 14 kamar.

Menurut Martino, jika terus sepi seperti saat ini, bukan tak mungkin hotel-hotel melati di
Denpasar akan segera gulung tikar. “Jika terus sepi begini kondisinya, bisa jadi hotelnya kami
alih fungsikan,” tambahnya.

Martino menyebut pemerintah sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap
ancaman kematian hotel-hotel melati. Seharusnya, kata Martino, pemerintah serius melakukan
moratorium pembangunan hotel di Bali selatan. Jika tidak, maka hotel-hotel melati pasti mati.
Tumbuh di Batu
Sepinya tingkat hunian hotel-hotel melati di Bali sejalan dengan data Badan Pusat Statistik
(BPS) Bali. Menurut data BPS, dari 2009 hingga 2013, tingkat hunian hotel-hotel non bintang
hanya berkisar pada angka 30-an persen. Pada 2013, misalnya, hanya 36 persen. Turun dua
persen dibandingkan tahun sebelumnya, 38,63 persen.

Pada hotel melati dengan jumlah kamar kurang dari sepuluh bahkan ada yang hanya 22 persen.
Bandingkan dengan hotel berbintang 1-5 pada tahun sama yang tingkat huniannya berkisar 60,68
persen.

Menurut I Nyoman Darma Putra, Ketua Program Studi S-2 Kajian Pariwisata Universitas
Udayana, hotel-hotel melati di Denpasar pada umumnya memang menghadapi dilema
manajemen dan reinvestasi.

“Banyak yang gagal bersaing,” katanya.

Darma menambahkan, hotel melati sulit bertahan kecuali mau menerima tamu kanvas atau
perkover. Maksudnya tamu pekerja, bukan tamu turis. Di sisi lain, hotel-hotel tersebut juga harus
mengubah diri dengan layanan dan kenyamanan. Misalnya dengan kamar berpendingin ruangan
(AC).

Namun, jika ini dilakukan, maka hotel-hotel melati membutuhkan biaya operasional lebih besar.
Di sisi lain, mereka juga harus memasang tarif lebih murah agar terjangkau. Akibatnya, biaya
operasi mahal tapi harga jual kamar murah.

“Mereka jadi seperti kerakap tumbuh di batu, melarat,” Darma beranalogi.


Menurut Darma, agar bisa tetap hidup hotel melati juga seharusnya mampu memposisikan merek
atau produknya. Sebab, konsumen akan mencari kalau mutu mereka bagus dan memuaskan.

Dia mencontohkan hotel-hotel murah dengan manajemen keluarga di Sanur, Kuta, maupun
Ubud. Meskipun hotelnya melati, mereka masih bisa bertahan. “Karena hotelnya diperbarui dari
fisik sampai free wifi,” tambahnya.

Seperti saran Darma, hotel-hotel melati di Denpasar sebaiknya meningkatkan kualitas layanan.
Jika tidak, ancaman kematian mereka mungkin bukanlah kekhawatiran berlebihan. [b]

http://balebengong.net/kabar-anyar/2015/04/10/lonceng-kematian-hotel-hotel-melati-di-
denpasar.html

Solusi dan Saran :

Seperti yang kita ketahui bersama, munculnya hotel-hotel baru seperti Ibis, Amaris, All Season,
Pop membuat hotel-hotel kelas melati di Denpasar seperti Hotel Rai dan Hotel Viking yang
berada di salah satu pusat kota Denpasar yaitu jalan Diponegoro makin sepi pengunjung. Harga
bersaing yang ditawarkan hotel-hotel baru membuat hotel kelas melati harus terus menerus
menurunkan harga sewa per malam nya agar dapat tetap bertahan. Namun, jika keadaan ini terus
menerus terjadi tanpa diimbangi dengan penanggulangan dari pihak hotel-hotel kelas melati
seperti Hotel Rai dan Hotel Viking ini dapat mengakibatkan kebangkrutan alias gulung tikar.
Maka dari itu hotel-hotel kelas melati sejak sekarang harus mulai memikirkan bagaimana cara
agar mampu bersaing dengan hotel-hotel baru yang terus menerus bermunculan. Hotel-hotel
kelas melati harus memperbaiki atau memperbaharui dari segi operasional, fasilitas, gedung,
maupun membuat suatu inovasi atau keunggulan bersaing yang dapat membuat hotel kelas
melati dapat bangkit kembali. Hotel-hotel kelas melati ini harus menyesuaikan diri terhadap
perkembangan jaman yang terjadi di era globalisasi ini. Selain usaha dari pihak hotel sendiri
untuk melakukan suatu perubahan agar dapat tetap bersaing, dukungan dari pemerintah juga
sangat diperlukan dalam permasalahan ini. Pemerintah seharusnya segara menindaklanjuti
masalah-masalah seperti ini yang dapat mengakibatkan banyak pengusaha yang gulung tikar dan
kehilangan lapangan kerja yang dapat menyebabkan tingkat penggangguran semakin meningkat.
Pemerintah seharusnya mengambil suatu kebijakan yang dapat membantu hotel-hotel kelas
melati bertahan serta dapat mampu bersaing dengan hotel-hotel lainnya.