Anda di halaman 1dari 7

LANDASAN PENELAAHAN ILMU

Nama: Irfan Nur Fatoni

No Mahasiswa: 17/422325/PPT/00999

Mata kuliah: Filsafat Ilmu

PROGRAM PASCASARJANA ILMU PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2018
BAB V

LANDASAN PENELAAHAN ILMU

A. Pendahuluan
Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu memerlukan dua
pertimbangan. Objektivitas yang tertuju kepada kebenaran merupakan
landasan tetap yang menjadi pola dasarnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan
merupakan pertimbangan pada tahap pra-ilmu dan pasca ilmu. Nilai-nilai
kemanusiaan merupakan dasar latar belakang dan tujuan dari kegiatan
keilmuan.
B. Hubungan ilmu dengan nilai hidup

Prinsip tentang ilmu pengetahuan yang bebas nilai akan menjadikan


kebenaran sebagai satu-satunya ukuran dan segala-galanya bagi seluruh
kegiatan ilmiah termasuk penentuan tujuan bagi ilmu pengetahuan. Kebenaran
The Liang Gie menunjukkan beberapa pandangan ilmuwan yang berprinsip
bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai.

1. Jacob Bronowski berpendapat bahwa tujuan pokok ilmu adalah


mencari sesuatu yang benar tentang dunia. Aktivitas ilmu diarahkan
untuk melihat kebenaran, dan hal ini dinilai dengan ukuran
pembenaran fakta-fakta.
2. Victor Reisskop berpendapat bahwa tujuan pokok ilmu bukan pada
penerapan, tujuan ilmu ialah mencapai pemahaman-pemahaman
terhadap sebab dan kaidah-kaidah tentang proses ilmiah
3. Carl G Hempel dan Paul Oppenheim yang berpendapat bahwa
menjelaskan fenomena dalam dunia pengalaman, menjawab
pertanyaan ‘mengapa’? dari pada semata-mata pertanyaan ‘apa’
Merupakan salah satu dari tujuan utama semua penyelidikan rasional
dan khususnya penelitian ilmiah dalam aneka cabangnya berusaha
mealampaui sekedar hanya suatu pelukisan mengenai pokok sa\oalnya
dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai fenomenal yang
diselidiki.
4. Maurice Richter berpendapat bahwa tujuan ilmu sebagaimana
biasanya diakui dewasa ini meliputi perolehan pengetahuan yang
digeneralisasi, disistematisasi mengenai dunia alamiah; pengetahuan
yang membantu manusia untuk memahami alam, meramal kejadian-
kejadian alamiah dan mengendalikan kekuatan-kekuatan alamiah.

Tujuan pokok ilmu pengetahuan adalah kaidah-kaidah baru atau


penyempurnaan kaidah-kaidah lama tentang dunia kealaman. Peluang untuk
memasukkan pertimbangan nilai-nilai lain diluar nilai kebenaran dalam
kegiatan ilmiah memang tidak dimungkinkan.

Ilmu pengetahuan harus taut (gayut) nilai. Beberapa pandangan yang


berprinsip bahwa harus taut atau nilai, yaitu:

a) Francis Bacon bependapat bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuasaan,


lebih lanjut dijelaskan mengenai tujuan ilmu bahwa tujuan yang sah
dan senyata-nyatanya dari ilmu-ilmu ialah sumbangan terhadap hidup
manusia dengan ciptaan-ciptaan dan kekayaan baru.
b) Daoed Yoesoef berpendapat bahwa ilmu pengetahuan memang
merupakan suatu kebenaran tersendiri, tetapi otonomi ini tidak dapat
diartikan bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai.
c) Soeroso H. Prawirohardo menunjukkan pandangan beberapa ilmuwan
yang berdasar pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus taut nilai,
yaitu:
1) Myrdal berpendapat bahwa ilmu ekonomi telah menjadi terlalu
matematik, steril,dan tidak realistik. Objektivitas ilmiah yang
secara ketat nilainya sebagai mitos, karena dibalik teori-teori
ekonomi terdapat nilai-nilai etik.
2) Bacan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial harus mempunyai
komitmen pada usaha untuk membangun dunia dan
merumuskan metode-metode yang cocok untuk menyelesaikan
persoalan-persolan masyarakat yang mendesak.
d) CA Van Peursen mengemukakan pandangan bahwa dalam meninjau
perkembangan ilmu pengetahuan secara menyeluruh tidak lepas dari
tiga pembahasan yaitu teori pengetahuan, teknik, dan etik,

Soejono Soemargono berpendapat bahwa segi statik ilmu adalah ciri


sistem yang tercermin dalam metode ilmiah, sedangkan segi dinamikanya adalah
semacam pedoman, asas-asas yang perlu diperlu diperhatikan oleh para ilmuwan
dalam kegiatan ilmiahnya.

Metode ilmiah merupakan landasan tetap yang menjadi kerangka pokok


atau pola dasarnya, sedangkan pertimbangan nilai-nilai yang menjadi latar
belakang kegiatan ilmiah merupakan segi pertimbangan metafisik.

Jujun Suriasmiantri berpendapat bahwa semua pengetahuan apakah itu


ilmu, seni atau pengetahuan apa saja pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu,
ontologis, epistomologis, dan aksiologis.

a) Ontologis membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata
lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar
ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek
penelaah ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat
disebut sebagai pengetahuan empiris karena objeknya adalah sesuatu
yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup
selurh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia.
b) Epistemologis membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat
dalam usahah untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain,
epistomologis adalah suatu teori pengetahuan. ilmu pengetahuan yang
diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan.
Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut
syarat keilmuan, yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas
segala-galanya.
c) Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang dperoleh
manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri
bahwa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia
dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam.

Ilmu mempelajari kenyataan sebagaimana adanya dan terbatas pada


lingkup pengalaman manusia. Berbagai pendapat yang berisi penejelasan
mengenai hal ini dikemukakan oleh The Liang Gie, yaitu:

1) Robert Lindsay dalam The Role Of science in civilization, bahwa ilmu


adalah suatu metode untuk penggambaran, penciptaan, dam pemahaman
terhadap pengalaman manusia.
2) Bliss mengungkapkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang teratur dan
teruji, terproses secara metodik dan rasional dari data eksperimental dan
empirik, konsep-konsep sederhana, dan hubungan perseptual menjadi
generalisasi-generalisasi, teori-teori, kaidah-kaidah.

Pengetahuan merupakan usaha manusia untuk memahami kenyataan


sejauh dapat dijangkau oleh daya pemikiran manusia berdasar pengalaman
manusia secara empirik. Pra pengalaman dan pasca pengalaman bukan merupakan
telaah ilmu pengetahuan tetapi merupakan telaah ontologi.

Jeuken memberi suatu pengertian ontologi ilmu sebagai berikut: Pada


level ilmu ada suatu hubungan erat dengan observasi dan eksperimen. Para
ilmuwan mencoba menyatakan suatu hukum yang lebih umum tentang fenomena
agar supaya mendapatkan suatu pengertian yang lebih dalam tentang fenomena
tersebut. Jadi ontologi ilmu adalah cir-ciri yang esensial dari objek ilmu yang
berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain.

Ilmu berdasar beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan


tentang fenomena yang menampak. Asumsi dasar ialah anggapan yang merupakan
dasar dan titik tolak bagi kegiatan setiap cabang ilmu pengetahuan. Asumsi dasar
menurut Endang Saifuddin ada dua macam sumbernya:

Pertama mengambil dari postulat, yaitu kebenaran-kebenaran apriori,


yaitu dalil yang dianggap benar walaupun kebenarannya tidak dibuktikan;
kebenarannya yang sudah diterima sebelumnya secara mutlak. Kedua mengambil
teodi sarjana atau ahli lain terdahulu yang kebenarannya tidak disangsikan lagi
oleh masyarakat terutama oleh penyelidi itu sendiri.

Mengenai asumsi dasar dalam keilmuan, Harsojo menyebutkan tentang


macamnya dalam karangan “apakah ilmu itu dan gabungan tentang tingkah laku
manusia” meliputi

1) Dunia itu ada, dan kita dapat mengetahui bahwa dunia itu benar ada.
Apakah benar dunia ada? Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan ilmiah
melainkan pertanyaan filsafat. Oleh karenna itu ilmu yang yang kita
pelajari adalah itu adalah ilmu pengetahuan empiris, maka landasannya
adalah dunia empiris itu sendiri yang eksistensinya tidak diragukan lagi.

2) Dunia empiris itu dapat diketahui oleh manuisa melalui panca indera.
Bagi ilmu satu-satunya jalan untuk mengetahui fakta ilmiah adalah
melalui panca indera. Ilmu bersandar pada kemampuan pancaindera
manusia beserta alat-alat ekstentionnya.

3) Fenomena-fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu sama


lain secara klausal. Berdasarkan atas postulat bahwa fenomena-fenomena
di dunia itu saling berhubungan secara kausal, maka ilmu mencoba untuk
mencari dan menemukan sistem, struktur, organisasi, pola-pola, dan
kaidah-kaidah dibelakang fenomena itu dengan jalan menggunakan
metode ilmiahnya.

Ontologi merupakan kawasan yang tidak termasuk ilmu yang bersifat


otonom, tetapi ontologi berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan
ilmu, asumsi dasar ilmu, dan konsekuensinya juga berpengaruh pada penerapan
ilmu.
C. Kesimpulan
Pandangan para ilmuwan tentang pentingnya pertimbangan nilai memang
dapat dibedakan menjadi dua kelompok, namun keudanya tidak saling
bertentangan. Pertimbangan nilai etik dan kemanfaatan tidak dimaksudkan untuk
mengubah ciri-ciri metode ilmiah, melainkan untuk menjamin kepentingan
masyarkat.
Landasan ontologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang objek
materi dari ilmu pengetahuan. Objek ilmu pengetahuan adalah hal-hal atau benda-
benda empiris.
Landasan epistomologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang
proses tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses
yang disebut metode ilmiah (keilmuan).
Landasan aksiologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang
penerapan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Penerapan ilmu pengetahuan
dimaksudkan untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan
keluhuran hidup manusia.