Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan upaya pembangunan
berkelanjutan yang menjadi acuan dalam kerangka pembanggunan dan
perundingan negara-negara di dunia sebagai pengganti pembangunan global
Millenium Development Goals (MDGs) yang telah berakhir di tahun 2015. SDGs
memiliki beberapa tujuan, diantaranya menjamin kehidupan yang sehat dan
mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia, dengan salah satu
outputnya mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) hingga 70 per 100.000
kelahiran hidup (KH) pada tahun 2030. Output ini tentunya semakin turun jika
dibandingkan target MDGs tahun 2015 yaitu menurunkan AKI menjadi 102 per
100.000 KH dalam kurun waktu 1990-2015.
Kematian maternal merupakan masalah kesehatan global yang menjadi
indikator penting dalam keberhasilan program kesehatan ibu sekaligus salah satu
indikator dalam menggambarkan derajat kesehatan masyarakat.
Angka Kematian Ibu secara nasional dari tahun 1991-2015 bergerak
fluktuatif. Hasil Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan
penurunan AKI selama periode tahun 1991-2007 dari 390 menjadi 228 per
100.000 KH, tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 359 per 100.000 KH,(2, 5,
6) dan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015 kembali
menunjukkan penurunan AKI menjadi 305 per 100.000 KH.(2) Penurunan angka
kematian tersebut belum mencapai target MDGs yaitu menurunkan AKI menjadi
102 per 100.000 KH pada tahun 2015 dan masih jauh dari output SDGs untuk
mengurangi AKI hingga 70 per 100.000 KH pada tahun 2030.
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 43 tahun 2016 tentang standar
pelayanan kesehatan minimal di bidang kesehatan di kabupaten atau kota
khususnya pelayanan kesehatan ibu hamil dengan target capaian kinerja100
persen termasuk kedalamnya berupa cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. K1
yaitu kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Cakupan Kl
di bawah 70% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu

1
2

tahun) menunjukkan keterjangkauan pelayanan antenatal yang rendah, yang


mungkin disebabkan oleh pola pelayanan yang belum cukup aktif.
Rendahnya K1 menunjukkan bahwa akses petugas kepada ibu masih perlu
ditingkatkan. Sedangkan K4 yaitu Kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan
untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri atas minimal 1 kali kontak
pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester
ketiga. Cakupan K4 di bawah 60% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam
kurun waktu satu tahun) menunjukkan kualitas pelayanan antenatal yang belum
memadai . Rendahnya K4 menunjukkan rendahnya kesempatan untuk menjaring
dan menangani risiko tinggi obstetric.
Pelayanan kesehatan diperkirakan dapat menurunkan angka kematian ibu
sampai 20% namun dengan sistem rujukan yang efektif, angka kematian dapat
ditekan sampai 80%. Menurut United Nations Children's Fund (UNICEF) 80%
kematian ibu dan perinatal terjadi di rumah sakit rujukan. Dengan demikian maka
upaya peningkatan derajat kesehatan ibu mendapat perhatian serius (Sastro
Asmoro, 2000).
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan
pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian
besar masalah kesehatan masyarakat dapat teratasi. Berbagai pelayanan kesehatan
dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan antara lain pelayanan
kesehatan ibu dan anak diantaranya adalah kunjungan K4 (Manuwoto, 2006).
Pelayanan kesehatan tersebut merupakan bagian integral dari pelayanan dasar
yang terjangkau oleh seluruh rakyat. Didalamnya termasuk pelayanan kesehatan
ibu yang berupaya agar setiap ibu hamil dapat melalui kehamilan dan
persalinannya dengan selamat. Upaya dapat tercapai bila dalam memberikan
pelayanannya bermutu dan berkesinambungan atau komprehensif (Manuwoto,
2006).
Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan menetapkan
peningkatan jangkauan serta mutu pemeriksaan KIA secara efektif dan efisien.
Pemantapan pemeriksaan KIA dewasa ini diutamakan pada keinginan pokok yaitu
peningkatan pemeriksaan antenatal di semua fasilitas pemeriksaan dengan mutu
3

yang baik serta jangkauan yang setinggi-tingginya (Departemen Kesehatan RI,


1995).
Cakupan K1 di Indonesia pada tahun 2007 adalah 83% dari target 100% dan
cakupan K4 adalah 65,90% dari target 100%, sedangkan Cakupan K1 di Provinsi
Riau pada tahun 2016 sebesar 84,70% dan cakupan K4 sebesar 79,6%. Meskipun
demikian Cakupan K4 di Kabupaten Pelalawan tahun 2016 cukup tinggi sebesar
91,1%. Sementara cakupan K1 dan K4 di Puskesmas Bersinar Kecamatan
Pangkalan Lesung pada tahun 2017 sebesar 706 dan 677. Berdasarkan data
tersebut maka terdapat kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 di Puskesmas
Bersinar Kecamatan Pangkalan Lesung pada tahun 2017.
Efektifitas pelayanan antenatal tidak hanya diukur berdasarkan dari
keberhasilan cakupan K4 saja tetapi perlu keteraturan dalam melakukan
kunjungan, agar informasi yang penting bagi ibu hamil dapat tersampaikan.
Beberapa factor yang dapat menyebabkan kesenjangan capaian K1 dan K4
antara lain perpindahan penduduk, tingkat pengetahuan ibu, jarak fasilitas
pelayanan kesehatan dan abortus. Berdasarkan data Pusekesmas bersinar
kecamatan pangkalan lesung menunjukkan jumlah kasus abortus sebanyak 10
orang selama tahun 2017 dan jumlah ini terus meningkat daripada tahun-tahun
sebelumnya.
Angka kejadian abortus yaitu 15 persen diketahui secara klinis, 30-50
persen dideteksi dengan beta-hCG assay yang peka. Prevalensi terjadinya abortus
mengalami peningkatan sesuai dengan umur ibu yaitu 12 persen wanita usia
kurang dari 20 tahun dan 50% lebih adalah wanita usia lebih dari 45 tahun.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menganalisis kesenjangan
cakupan K1 dan K4 di puskesmas bersinar kecamatan pangkalan lesung dari
sudut pandang administrasi dan kebijakan kesehatan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganalisa capaian cakupan kinerja pelayanan
antenatal K1 dan K4 di Puskesmas Bersinar Kecamatan Pangkalan
Lesung.

1.2.2 Tujuan Khusus


4

a. Mahasiswa mampu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data


dan informasi yang diperoleh sehingga mampu memberikan kontribusi
terhadap program yang telah dilaksanakan di Puskesmas Bersinar
Kecamatan Pangkalan Lesung

b. Mahasiswa mampu mengelola suatu program kesehatan berdasarkan


identifikasi masalah yang ditemukan dilapangan dengan melakukan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.

1.3 Manfaat Residensi


1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat menerapkan teori yang diperoleh selama perkuliahan
b. Mendapatkan pengalaman langsung dengan berkecimpung dalam
program kesehatan yang dilakukan di Puskesmas Bersinar
c. Mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuan pribadi sebagai
seorang manager yang handal
2. Bagi Tempat Residensi
a. Dapat memanfaatkan tenaga terdidik untuk kepentingan institusi
b. Hasil laporan Residensi dapat menjadi bahan masukan dalam
meningkatkan pelayanan antenatal care khususnya kunjungan K1 dan
K4.
c. Membuka peluang kerjasama lebih lanjut dalam bidang penelitian dan
pengabdian masyarakat
3. Bagi Program Studi Magister KESMAS STIKes Hang Tuah Pekanbaru
a. Menciptakan mahasiswa yang handal dan aplikatif terhadap ilmu dan
teori selama perkuliahan
b. Dapat dijadikan acuan untuk melakukan evaluasi pemberian materi
perkuliahan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
c. Terjalinnya kerjasama antara program studi dengan unit kesehatan
terkait
d. Mempunyai bahan kajian dan studi kasus yang dapat disajikan kepada
angkatan berikutnya.
5