Anda di halaman 1dari 18

Iltifat dan Hadzf Al-Qur'an

Di susun untuk memenuhi salah satu tugas


Mata Kuliah: Ilmu Maani Al-Qur'an
Dosen Pembimbing: Dr. Taufik Warman Mahfudzh Lc., M.Thi

Disusun Oleh

Munawarah
NIM.1503130002

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

JURUSAN USHULUDDIN

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

1438 H/2017 M
KATA PENGANTAR

‫بسم ا الرحمن الرحيم‬


Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas segala
rahmat dan karunia-Nya pada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan karya ilmiah ini berupa Makalah yang berjudul “Iltifat dan Hadzf Al-
Qur'an ”. Makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu tugas kelompok
mata kuliah “Ilmu Maani Al-Qur'an ”.
Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih
kepada bapak Dr. Taufik Warman Mahfudzh Lc., M.Thi sebagai dosen
pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama
penyusunan karya ilmiah ini dari awal hingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan.
Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, sehingga kami sangat
menyadari apabila di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan sangat
jauh dari kata sempurna. Dengan ini kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah sederhana ini dapat memberikan manfaat yang luar biasa
bagi kami sebagai tim penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian pada
umumnya. Aamiin yaa robbal’aalamiin.

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Palangka Raya, 8 November 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang.........................................................................................2

B. Rumusan Masalah...................................................................................2

C. Tujuan Masalah.......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Iltifat Al-Qur’an.......................................................................................5

B. Hadzf Al-Qur'an.....................................................................................12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan............................................................................................16

B. Saran......................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................17

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam interaksi sehari-hari kita dituntut untuk menggunakan bahasa yang
baik dan mudah dimengerti orang lain. Penggunaan bahasa yang baik dan
diungkapkan dengan sopan akan sangat membantu untuk terbinanya hubungan
yang baik dengan orang lain.
Dalam percakapan sehari-hari ketika kita ingin mengutarakan isi hati atau
ketika ingin menyampaikan sesuatu , akan memilih salah satu dari ketiga cara
pengungkapan ini. Terkadang mengutarakannya dengan menggunakan kalimat
dengan seringkas-ringkasnya, terkadang mengutarakannya panjang lebar, dan
terkadang diutarakan dengan sedang-sedang saja. Kesemuanya itu tergantung
penyesuaian dengan kedaan dan situasi pembicaraannya.
Al-Quran yang menggunakan bahasa Arab pun tidak terlepas dari hal itu.
ada kalimat yang diungkapkan secara ringkas, ada perkataan atau ungkapan yang
panjang lebar dan ada kalimat yang diungkapkan sedang-sedang saja dari apa
yang dimaksud.
Dalam memahami Al-Quran, banyak pembahasan makna Al-Quran yang
berhubungan dengan lafaz, antara lain fashl, washl, ijaz, iltifat , dzikr , dan hadzaf.
Berpijak dari hal di atas, maka penulis mencoba menganalisis dan
mendeskripsikan dalam bentuk tugas makalah berkaitan dengan tema iltifat dan
hadzf dalam Al-Qur'an .

B. Rumusan Masalah
Adapun hal-hal yang menjadi rumusan masalah dalam pembahasan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Iltifat dan Hadzf Al-Qur'an ?
2. Apa Macam-Macam Iltifat dan hadzf Al-Qur'an?

4
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini, antara
lain:
1. Untuk mengetahui tinjaun Al-qur'an pada QS.Al-Baqarah/02:235 dan QS. Al-
Mumtahanah/60:10, terhadap ayat ayat peminangan.

D. Kajian Pustaka
Dalam kajian pustaka ini, pemakalah akan mendeskripsikan beberapa
karya yang ada relevansinya dengan judul makalah “Iltifat dan Hadzf Al-Qur'an ”
ini. Beberapa karya itu antara lain:
Jurnal yang di tulis oleh Mamat Zaenuddin dosen tetap program bahasa
Arab FPBS UPI dengan judul Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an. Hasil dari tulisan ini
bertujuan untuk mengetahui 1) pengembangan dalam medan uslub iltifât 2)
karakteristik uslub iltifât dalam Alquran 3) keindahan uslub iltifât dalam Alquran
4) konsep baru tentang iltifât sebagai hasil dari penelitian ini. Melalui analisis
kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa uslub iltifât dalam Alquran
menemukan pengembangan dalam medan uslub iltifât yang sudah ada dengan
menjadikan iltifât ‘adad dhamîr (perpindahan dalam bilangan pronomina) dan
iltifât anwa’ al-jumlah (perpindahan dalam ragam kalimat) sebagai bagian dari
padanya.
Artikel yang di tulis oleh Faizah Ali Syibromalisi Dosen Tetap Fakultas
Ushluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul Uslub Al-Hazf dan Efek
Psikologis Estetika Al-Qur'an terhadap Pembaca dan Pendengarnya. Tujuan dari
penulisan artikel tersebut bukan hanya untuk mengetahui pengaruh psikologis
estetika Al-Qur'an dalam kehidupan umat Islam tetapi juga untuk mengetahui
penjelasan para pakar bahasa dan tafsir Al-Qur'an terhadap kata-kata yang
dihilangkan dari ayat-ayat tertentu beserta maknanya yang dirasa memerlukan
penjelasan. Hal ini akan sangat membantu umat Islam memahami Al-Qur'an
secara maksimal.
Artikel yang ditulis oleh Mamat Zaenuddin, Maman AR, dan Zaka Af
dengan judul Gaya Bahasa Iltifat dalam Al-Qur'an sebagai Inovasi Pengajaran

5
Balaghah/Stylistik di Perguruan Tinggi. Hasil dari penilitiannya tersebut adalah
penelitian ini menemukan bilangan penggunaan gaya bahasa iltifât dalam
Alquran, pengembangan dalam medan gaya bahasa iltifât yang sudah ada dengan
menjadikan iltifât ‘adad dhamîr (perpindahan dalam bilangan pronomina) dan
iltifât anwa’ al-jumlah (perpindahan dalam ragam kalimat) sebagai bagian dari
padanya.
Makalah yang ditulis oleh Rifqi Aulia Rahman, mahasiswa konsentrasi
pendidikan bahasa arab, program pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga, yang

berjudul Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an. Makalah ini memaparkan

definisi hadzf dan awal kemunculannya, Klasifikasi Hadzf, factor penyebab hadzf,
serta perbedaaan terma hadzf dan ijaz.
Adapun makalah yang saya susun ini ialah pembahasan mengenai dua
objek ilmu maani Al-Qur'an yaitu tentang Iltifat dan al-Hadzf dalam Al-Qur'an.
Pembahasannya meliputi definisi, macam, contoh, dan urgensi atau keindahan
uslub iltifat dan Hadzf Al-Qur'an .

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Iltifat Al-Qur'an
1. Definisi Iltifat
Kata iltifat adalah bentuk mashdar dari kata iltafata, mengikuti wazan
Ifta’ala dengan tambahan hamzah dan ta’. Kata dasarnya adalah lafata secara
etimologis, kata lafata memiliki arti perubahan, genggaman, lilitan, makan,
melihat, campuran.1
Menurut Al-Hasyimi, Iltifat adalah perpindahan dari semua dhamir,
mutakallim, mukhathab atau ghaib kepada dhamir lain, karena tuntunan dan
keserasian yang lahir melalui pertimbangan karena tuntutan dan keserasian
yang lahir melalui pertimbangan dalam menggubah perpindahan itu, untuk
menghiasi percakapan dan mewarnai seruan, agar tidak jemu dengan satu
keadaan dan sebagai dorongan untuk lebih memperhatikan, karena dalam
setiap yang baru itu ada kenyamanan, sedangkan sebagian iltifât memiliki
kelembutan, pemiliknya adalah rasa bahasa yang sehat.
Al-Zamakhsyari mengemukakan definisi iltifât bahwa sesungguhnya
iltifat menyalahi realita dalam mengungkapkan sesuatu dengan jalan
menyimpang dari salah satu jalan yang tiga kepada yang lainnya. Sedangkan
Abd al-Qadir Husen menjelaskan bahwa Iltifât adalah perpindahan gaya
bahasa dari bentuk mutakallim atau mukhâthab atau ghâib kepada bentuk yang
lainnya, dengan catatan bahwa dhamîr yang dipindahi itu dalam masalah yang
sama kembali kepada dhamîr yang dipindahkan, dengan artian bahwa dhamîr
kedua itu dalam masalah yang sama kembali kepada dhamîr pertama.2
Dari beragam uraian definisi diatas dapat disimpulkan bahwa iltifat adalah
pengalihan objek pembicaraan yang tidak hanya mengacu pada satu objek
saja, tetapi dirancang untuk melahirkan makna-makna yang tidak terbatas

1 Mamat Zaenuddin, Gaya Bahasa Iltifat, hlm. 6, diakses dari


(http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/195307271980111-
MAMAT_ZAENUDDIN/Gaya_Bahasa_Iltifat.pdf), pada tanggal 8 November 2017 pukul 18:09
WIB
2 Ibid, hlm. 10

7
sesuai dengan kehendak pembicara. diperoleh pada saat menggunakan
kalimat dengan tuntutan keadaan tertentu dalam suatu gaya bahasa.

2. Macam dan Contoh Iltifat


a. ILTIFÂT AL-DHAMÎR
1) Iltifât dari mutakallim (persona I) kepada mukhâthab (persona II),
seperti:
‫ل مل أمععبددد اللذيِ فمطممرلن موإللمعيله تدتعرمجدعوُمن‬‫ل‬
‫مومماَ م‬
“Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku
dan yang hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan”. (QS.
Yasiin/36:22).3
2) Iltifât dari mutakallim (persona I) kepada ghâib (persona III), seperti:
‫ب ل لماَ نمتلزلعنماَ معلمىى مععبلدمناَ فمأعتدوُا بلدستوُمرةب لمتعن لمثعللتله مواعدعدتوُا دش مهمداءمدكعم لمتعن ددولن‬
‫وإلعن دكعنتدم لف ريع ب‬
‫ع م‬ ‫م‬
..… ‫اللله‬
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami
wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat
(saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah ” (QS. Al-Baqarah/2:23).
3) Iltifât dari mukhâthab (persona II) kepada ghâib (persona III), seperti:
.…‫… مولمعوُ أمنتلدهعم إلعذ ظملمدموُا أمنعتدفمسدهعم مجاَدءومك فماَعستمتعغمفدروا اللهم مواعستمتعغمفمر ملددم اللردسوُدل‬
“… Sesungguhnya, jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, …”(QS. An-Nisa’/4: 64).4

4) Iltifât dari ghâib (persona III) kepada mukhâthab (persona II), seperti:
‫ إللياَمك نمتععبددد‬-‫ك يمتعوُلم البديلن‬
‫ ماَلل ل‬- ‫حملن اللرلحيلم‬
‫م‬ ‫ اللر ع ى‬- ‫ي‬ ‫اعلمدد لللله ر ب ل‬
‫ب العمعاَلمم م‬‫م‬ ‫مع‬
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada
Engkaulah kami menyembah …”(QS. Al Fatihah: 4-5)
5) Iltifât dari ghâib (persona III) kepada mutakallim (persona I), seperti:
‫موإلعذ تمأمذلمن مربدكعم لمئلعن مشمكعردعت ململزيمدنلدكعم‬
3 Mamat Zaenuddin, Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an, hlm.4, diakses dari
(http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/195307271980111-
MAMAT_ZAENUDDIN/Keindahan_Uslub_Iltifat.pdf), pada tanggal 8 November 2017 pukul
19:51 WIB
4Ibid, hlm.5

8
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu mema’lumkan: Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu
…” (QS. Ibrahim/14:7). 5

b. ILTIFÂT ‘ADAD AL-DHAMIR


1) Iltifât dari mutakallim mufrad kepada mutakallim ma’al ghair :
‫ب التلذيمن مكمفتدروا أمعن يمتتللختدذوا لعبمتتاَلديِ لمتعن ددولنت أمعولليمتتاَءم ۚ إلنتلتاَ أمععتمتعدمناَ مجمهنلتمم للعلمكتتاَفللريمن‬ ‫ل‬
‫أمفممحست م‬
‫نتددزلل‬
“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat)
mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?
Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat
tinggal bagi orang-orang kafir”. (QS. Al-Kahfi/18:102)
2) Iltifât dari mutakallim ma’al ghair kepada mutakallim mufrad
ً‫جيلعاَ ۖ فملإلماَ يمأعلتيمتنلدكعم لمبن دهلدى‬
‫قدتعلنماَ اهبلطدوُا لمعنتهاَ مل‬
‫م‬ ‫ع‬
“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian
jika datang petunjuk-Ku kepadamu, …” (QS. Al-Baqarah/2:38)
3) Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab mutsannâ :
َ‫ك لف مزعولجمهاَ موتمعشتملكيِ إلمل اللله مواللهد يمعسممدع ممتاَدومردكمما‬ ‫ل‬
‫قمعد ملسمع اللهد قمتعوُمل اللت دمتاَدلد م‬
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang
memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan
(hâlnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu
berdua, …”(QS. Al-Mujadalah/58:1)
4) Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab jamak :
‫ياَ أميتبمهاَ النلل ب ل‬
‫ب إمذا طملعقتددم النبمساَءم‬ ‫م‬
“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu …” (QS. Ath-
Thalaq/65:1)
5) Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab mufrad :
‫… فممل ديعلرمجنلدكمماَ لممن اعلمنللة فمتتمعشمقىى‬
“… maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua
dari syurga, yang menyebabkan kamu jadi celaka”.(QS.Tahaa/20:117)
6) Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab jamak :
‫… مفاَعذمهبماَ لبآِمياَتلمناَ ۖ إللناَ مممعدكعم دمعستملمدعوُمن‬

5 Ibid

9
“… maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami
(mu’jizatmu’jizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan
(apa-apa yangmereka katakan)”.(QS. Asy-Syu’ara/26:15).
7) Iltifât dari mukhâthab jamak kepada mukhâthab mufrad:
‫ىل‬
‫ت إلعذ مرممعي م‬
‫ت‬ ‫فمتلمعم تمتعقتدتدلوُدهعم مولمكلن اللهم قمتتمتلمدهعم ۚ مومماَ مرممعي م‬
“Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan
tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang
melempar ketika kamu melempar …”(QS. Al-Anfal/8:17)
8) Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib mutsannâ;
‫ل‬
‫مكممثملل اللشعيمطاَلن إلعذ قماَمل ل عللنعمستتاَلن اعكدفتعر فمتلملمتاَ مكمفتمر قمتاَمل إلبنت بملريِتءء لمعنت م‬
‫ك إلبنت أممختتاَ د‬
‫ف اللتهم‬
‫لل‬ ‫ل‬ ‫ل ل‬ ‫ل‬
‫ فممكاَمن معاَقمبتمتدهمماَ أمنتلدهمماَ لف اللناَلر مخاَلمديعلن فيمهاَ ۚ موىمذل م‬.‫ي‬ ‫رل ل‬
‫ك مجمزاءد اللظاَلم م‬
‫ي‬ ‫ب العمعاَلمم م‬‫م‬
“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan
ketika dia berkata kepada manusia: Kafirlah kamu, maka tatkala
manusia itu telah kafir ia berkata: Sesungguhnya aku berlepas diri
dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan
semesta alam. Maka adalah kesudahan keduanya bahwa
sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka”. (QS. Al-
Hasyr/59:16-17)
9) Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib jamak :
‫ مكلل ۖ بمعل ۜ مرامن معملىى قدتدلوُلبلعم مماَ مكاَندوُا يمعكلسدبوُمن‬.‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫إلمذا تدتعتتلمىى معلمعيه آمياَتدتمناَ مقاَمل أممساَطيد اعلملول م‬
“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: Itu
adalah dongengan orang-orang yang dahulu. Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup
hati mereka”. (QS.Al-Muthaffififin/83:13-14).6
10) Iltifât dari ghâib mutsannâ kepada ghâib jamak:
‫ل ل‬ ‫ل‬
‫ مونم م‬.‫نيتمناَدهماَ موقمتعوُممدهمماَ ممن العمكعرب العمعظيلم‬
… ‫صعرمناَدهعم‬ ‫موملع‬
“Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang
besar. Dan Kami tolong mereka …” (QS.Ash-Shaffat/37:115-116)
11) Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mufrad:
‫ت أميعلديلهعم فملإلن اعللنعمساَمن مكدفوُءر‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫موإلعن تد ع‬
‫صبتدهعم مسيبئمةء مباَ قملدمم ع‬

6Mamat Zaenuddin, Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an, hlm.6

10
“… Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan
mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia
itu amat ingkar (kepada ni’mat)”. (QS. Asy-Syura/42:48)
12) Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mutsannâ:
… ‫ي أممخموُيعدكعم‬ ‫إللمناَ العمؤلمنوُمن إلخوُةء فمأم ل‬
‫صلدحوُا بمت ع م‬
‫دع د عم ع‬
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu …”(QS. Al-Hujurat/49:10)

c. ILTIFÂT ANWA’ AL-JUMLAH


1) Iltifât dari jumlah fi’liyyah kepada jumlah ismiyyah.
…‫ي مكمفدروا‬ ‫ل‬ ‫ىل‬
‫…مومماَ مكمفمر دسلمعيمماَدن مولمكلن اللشمياَط م‬
“… (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir),
padahâl Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya
syaitan-syaitan itulah itulah yang kafir (mengerjakan sihir) …”
(QS.Al-Baqarah/2:102)
2) Iltifât dari jumlah ismiyyah kepada jumlah fi’liyyah:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada
Engkau-lah kami menyembah …” (QS. Al-Fatihah/1:4-5)
3) Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat melarang:
‫ك ۖ فممل تمدكوُنملن لممن العدمعم ملتيمن‬
‫اعلمبق لمعن مرب م‬
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali
kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (QS.Al-Baqarah/2:147)
4) Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat perintah:

‫جيلعاَ ۚ إللن اللهم معلمىى دكبل مشعيِبء قملديءر‬ ‫د د‬ ‫م‬


‫وللدكلل لوجهةء هوُ موُبليهاَ ۖ مفاَستمبلدقوُا ا ع ل‬
‫ت ۚ أمين ماَ تمدكوُندوُا يأع ل‬
‫ت بلدكم الله مل‬
‫ليتمرا ع م م‬
‫مع‬ ‫ع م د م دم م ع‬ ‫م‬
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat)
kebaikan…”(QS.Al-Baqarah/2:148).7
5) Iltifât dari kalimat perintah kepada kalimat berita:
‫ي مكمفدروا‬ ‫ل‬ ‫ىل‬
‫مومماَ مكمفمر دسلمعيمماَدن مولمكلن اللشمياَط م‬
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada
Allah) dengan sabar dan shâlat, sesungguhnya Allah beserta orang-
orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah/2:153)
6) Iltifât dari kalimat melarang kepada kalimat berita:
‫صملةل ۚ إللن اللهم مممع ال ل‬
‫صاَبللريمن‬ ‫مياَ أميتبمهاَ اللذيمن آممندوُا اعستملعيندوُا لباَل ل‬
‫ص علب موال ل‬
7 Mamat Zaenuddin, Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an, hlm.7

11
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur
di jalan Allah, (bahwa mereka itu (mati); bahkan (sebenarnya) mereka
itu hidup”(QS. Al-Baqarah/2:154)
7) Iltifât dari kalimat bertanya kepada kalimat berita:
‫اللذين يتتللخدذومن العمكاَفللرين أموللياَء لمن دولن العمعؤلمنلي ۚ مأيتبتمتدغوُمن لععنمدهم الععللزمة فملإلن الععللزمة لللله مل‬
َ‫جيلعا‬ ‫دد‬ ‫م ع م م ع د د م مع‬ ‫مم‬
“… Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka
sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”.(QS.An-
Nisa’/4:139).8

3. Keindahan Iltifat dalam Al-Qur'an


Dalam pandangan Ibn Rasyiq, iltifât itu dipahami dalam kerangka makna
yang utuh, dan tidak parsial. Hal ini mempertajam pandangan terhadap
pengetahuan, sebab yang parsial akan menimbulkan pemahaman keseluruhan,
dan keseluruhan akan menambah pengertian baru pada yang parsial.
Sedangkan pandangan yang menyeluruh merupakan teori belajar paling baru
dalam barometer pendidikan. Inilah yang kemudian disebut dengan metode
Gestalt. Ibn Rasyiq menjadikan iltifât dan nilai seni sastranya dalam
kesesuaian umum terhadap nas antara lingkungan yang bersifat psikologis dan
sosiologis.9
Apa-apa yang ada dalam Alquran, termasuk di dalamnya uslub iltifât, pasti
memiliki makna khusus sesuai dengan kebesaran Alquran sebagai wahyu dan
mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. Bukti keindahan iltifat adalah iltifât dari
mutakallim kepada mukhâthab pada QS.yasin:22 menggambarkan bahwa
pembicaraan berpindah dari menasihati dirinya kepada menasihati kaumnya
secara lembut, dan memberi tahukan bahwa ia bermaksud kepada dirinya
sendiri, lalu berpindah kepada mereka untuk menakutnakuti dan mengajak
mereka kepada Allah, karena pada saat itu mereka sedang mengingkari untuk
beribadah kepada Allah.10
Adapun Iltifât dari mukhâthab mutsanna kepada mukhâthab mufrad pada
surah Tahaa:20 bertujuan untuk mengajari mukhâthab (persona II) yaitu Nabi
Adam as akan tanggung jawab seorang suami sebagai kepala keluarga.11
8 Ibid
9 Ibid, hlm. 12
10 Mamat Zaenuddin, Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an, hlm.8
11 Ibid, hlm. 9

12
Paparan di atas menunjukkan bahwa menurut kaca mata Balâghah yang
meliputi Ma’âni, Bayân dan Badî’ menunjukkan bahwa iltifât dalam Alquran
melahirkan keindahan bunyi, mulai dari untaian huruf, susunan kata dan
kalimat juga melahirkan keindahan makna dengan tujuan-tujuan yang
terkandung di dalamnya. Di samping itu, uslub iltifât dalam Alquran telah
mencapai puncak tertinggi yang tidak sanggup kemampuan bahasa manusia
untuk menghadapinya.

B. Hadzf Al-Qur'an
1. Definisi Hadzf Al-Qur'an
Merujuk kepada kamus lisan al-arab, makna leksikal yang ditunjukkan
oleh kata hadzf berkisar kepada tiga makna:12
.‫ قمطعه من طمرفه‬:ِ‫ حمذف الشيِء ميذفه؛ُ أي‬:‫المقطعدع؛ُ إذ نقوُل كماَ جاَء ف لساَن العرب‬ o
.‫ قمطعه‬:ِ‫ "قمطف الشيِء ميقطفه؛ُ أي‬:‫ضاَ بعن القطع؛ُ كماَ ذممكر صاَحب اللساَن‬‫ُ وهوُ أي ل‬،‫ف‬
‫المقطع د‬ o
.‫ُ والطلعرحْ كذلك السقاَط‬،ْ‫الطلعرحْ؛ُ إذ إنه ل ديمذف شيِء إلل طدلرح‬ o
Secara bahasa, Hadzf yaitu kondisi terputus, terbuang, dan gugur. Melihat
definisi lingustik yang disampaikan, at-Tahanawi dan as-Syamari lebih
memilih kata ‫( السإ قاط‬eliminasi) untuk mendefinisikan uslub hadzf.13 Hal ini
pada gilirannya mengasumsikan, dalam kasus klausa tentunya, bahwa sebelum
diberlakukannya hadzf, terdapat huruf, kata, atau kalimat tertentu yang
kemudian dieliminasi. Sebab, tidak logis, ada sesuatu yang dibuang namun
dikatakan bahwa ia tidak eksis sebelumnya. Sedangkan menurut istilah hadzf
adalah
َ‫ُ أو لللعلم به وكوُنه معرولفا‬،‫إسقاَط وطعرحْ جزبء من الكلم أو الستغناَء عنه؛ُ لدليل مدلل عليه‬
Yang artinya menggugurkan sebagian dari ungkapan atau tidak
dibutuhkannya sebagian ungkapan tersebut, karena ada bukti yang

12 Rifqi Aulia Rahman, Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an, makalah, (Programa
Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta:2013), hlm. 2, diakses dari
(https://www.academia.edu/10243801/Elipsis_dalam_Bahasa_al-Quran?auto=download), lihat
pulaIbnu Mandzur, Lisan al-arab, juz II (Kairo: Dar Al Ma’arif), hlm.810
13Rifqi Aulia Rahman, Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an, hlm. 2. Lihat Azam Bachtiar,
Al-Hadzf atau Al-Ijaz...hlm. 80

13
menunjukkan terbuangnya sesuatu itu, atau karena sudah difahaminya hal
tersebut, atau juga karena sangat familiarnya hal tersebut.14
Sedangkan al-Khaufi (1395 H) memberikan definisi lebih lengkap bahwa
al-hadzf adalah menghilangkan kata atau beberapa kalimat, karena kalimat
yang disebutkan sebelum atau sesudahnya telah menunjukkan apa yang
dihilangkan, baik dari sisi lafaz maupun dari sisi konteks. Pakar bahasa
Izzudin mengatakan bahwa al-hadzf adalah memendekkan kalimat untuk
mendekatkan makna-maknanya kepada pemahaman. Sebagai perbandingan
uslub al-hadzf dalam sastra arab sebanding dengan gaya bahasa elliptic atau
ellipsis dalam teori Stilistika Indonesia, yaitu gaya bahasa yang
menghilangkan unsur kalimat yang dengan mudah dapat dipahami.15
Dari uraian definisi diatas dapat dikatakan bahwa al hadzf adalah
menghilangkan satu unsur dari ayat, baik itu kata, kalimat atau yang lainnya
untuk tujuan-tujuan kebahasaan karena ada qarinah yang menunjukkannya.
2. Macam dan Contoh Hadzf Al-Qur'an
Adapun secara ijmaly, tipologi hadzf dalam terminologi bahasa arab dibagi
menjadi dua, yaitu:16
a. Konteks dimana mahdzuf bisa diperlihatkan atau diperjelas dengan
bantuan I’rob, seperti ungkapan ahlan wa sahlan, akan ketahuan bahwa
ada yang me nashab kan ketika dii’rob. Hasil penerawangan i’rob nya
adalah
‫جئت اهل ونزلت مكاَناَ سهل‬
b. Konteks dimana mahdzuf tidak bisa diperjelas walaupun dengan bantuan
I’rob (gramatika). Namun bisa diketahui posisinya dengan jelas jika
ditelusuri lewat semantika tuturannya, seperti ungkapan

‫ُ أصله يعطيِ ماَ يشاَء وينع ماَ يشاَء‬، ‫يعطيِ وينع‬


Klasifikasi yang berbeda dipaparkan oleh Suyuti. Dia mencatat ada
beberapa bentuk elipsis, yakni:
1) Iqtita’, yaitu menghilangkan sebagian partikel huruf dalam satu kata,
seperti dalam potongan ayat surat al-Maidah : 6, (‫)وامست ت تتحوُا برؤست ت تتكم‬,

14 Ibid
15 Faizah Ali Syibromalisi, Uslub Al-Hazf dan Efek Psikologis Estetika Al-Qur'an terhadap
Pembaca dan Pendengarnya, Hlm.5
16 Rifqi Aulia Rahman, Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an, hlm. 4. Lihat Ahmad al-
hasyimi. Jawahir al-Balaghoh. (Beirut : maktabah ashriyah). hlm. 103

14
menurutnya huruf ‫ ب‬bermula dari kata ‫ بعععععض‬. faedah tidak
dituliskannya kata ‫ بعض‬secara utuh bertujuan untuk memberikan porsi
ijtihad bagi fuqaha’ dalam memutuskan suatu hukum, dalam kasus ini
adalah mengusap rambut kepala. Oleh karenanya, membasuh kepala
dalam konteks wudlu terdapat beberapa mazhab, ada yang
mengharuskan diusap semua helai rambut tersebut, selanjutnya ada
juga yang mencukupkan mengusap hanya pada sebagian rambut saja.
2) Ikhtifa’, yaitu penuturan salah satu dari dua materi atau lebih, yang
memiliki relasi konjungsional yang kuat, karena dianggap cukup
mewakili, seperti dalam potongan ayat surat an-Nahl : 81, (‫سإرابيل تقيكم‬
‫)الحر‬. Menurutnya tidak disebutkan perbandingan dari kata ‫ الحر‬yaitu
‫ البرد‬dikarenakan yang menjadi sasaran pembicaraan itu bangsa Arab,
yang hidup di daerah panas dan tandus, dan tentu saja perlindungan
dari “panas” lebih mereka butuhkan ketimbang “dingin”. Alasan
selanjutnya, dikarenakan perlindungan dari “dingin” telah dijelaskan
dalam ayat sebelumnya, an-Nahl ayat 80 dan 5.
3) Ihtibak, yakni terkumpulnya dua hal yang berlawanan dalam satu
ungkapan, lalu dieliminir salah satunya sebagai petanda atau penunjuk
pada yang lain. Seperti yang dicontohkan dalam kisah nabi Musa pada
surat an-Naml : 12,
‫ضاَءم‬ ‫موأمعدلخعل يممدمك لف مجعيبل م‬
‫ك متعدرعج بتمعي م‬
Menurutnya ada kata (‫)غير بيضعاء‬, sebab warna tangan Musa belum
putih (bersinar) sebelum dimasukkan ke kantong.
4) Ikhtizal, menghilangkan satu kata atau lebih, baik nomina, verba, atau
konjungsi.17 Contoh yang diajukan Suyuti seperti penanggalan
konjungsi (‫ )أن‬dalam potongan ayat surat ar-Rum ayat 24 (‫ومن آياته يريكم‬
‫العععبرق‬...), kalau melihat secara gramatika, semestinya ada ‘an
mashdariyyah’ yang mendahului kata yurikum. Argumentasinya ialah
memang benar ‘an mashdariyyah’ dibuang dan itu menjadikan fi’ilnya

17 Rifqi Aulia Rahman, Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an, hlm. 5. Lihat Azam Bachtiar,
Al-Hadzf atau Al-Ijaz...hlm. 85

15
dirafa’. Hal itu didukung oleh kata sebelumnya yaitu huruf min yang
berfaidah tab’idh (parsial).18
3. Keindahan gaya Bahasa Hadzf Al-Qur'an
hadzf merupakan salahsatu fenomena kemukjizatan Al-Qur'an yang
mencerminkan kekayaan makna serta keindahan gaya bahasanya. Karena itu
tidak ada di dalam Al-Qur'an bentuk ellipsisis yang mengandung makna rancu
atau kosong. Abdul Qahir al-Jurjani mengatakan bahwa kata apapun yang
dihilangkan (dari teks Al-Qur'an) dari posisinya yang seharusnya ia sebutkan,
maka dihilangkan kata itu lebih ablagh dari pada disebutkan.
Al-Zarkasyi mengatakan di anatara faedah al-hadzf adalah menambah
kenikmatan pembaca atau pendengar ketika bias menemukan kata yang
dihilangkan. Semakin sulit mencari kata yang hilang itu, semakin menggugah
kenikmatan pembacanya. Sementara Abu Syadi mengatakan bahwa uslub al-
hadzf menambah perhatian dan respon pembaca ketika berhdapan dengan
ayat-ayat yang dirasakan memiliki kata-kata yang dihilangkan, kemudian ia
berusaha menemukannya. Proses penemuan ini akan menambah sempurna
pemahaman terhadap kandungan ayat dan pesan-pesan yang dikandungnya
semakin mantap dalam ingatan sehingga tidak muda dilupakan. 19

18Ibid, lihat At-Tafsir at-Thobari juz 20 hlm. 87, maktabah as-Syamilah


19 Faizah Ali Syibromalisi, Uslub Al-Hazf dan Efek Psikologis Estetika Al-Qur'an terhadap
Pembaca dan Pendengarnya, Hlm.6

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
iltifat adalah pengalihan objek pembicaraan yang tidak hanya mengacu
pada satu objek saja, tetapi dirancang untuk melahirkan makna-makna yang tidak
terbatas sesuai dengan kehendak pembicara. diperoleh pada saat menggunakan
kalimat dengan tuntutan keadaan tertentu dalam suatu gaya bahasa.iltifat terbagi
dalam 3 macam yaitu, Iltifât Al-Dhamîr, Iltifât ‘Adad Al-Dhamir, Iltifât Anwa’ Al-
Jumlah. al hadzf adalah menghilangkan satu unsur dari ayat, baik itu kata, kalimat
atau yang lainnya untuk tujuan-tujuan kebahasaan karena ada qarinah yang
menunjukkannya.adapun macam-mcam alhadzf ialah Iqtita’, Ikhtifa’, Ihtibak,
Ikhtizal,

B. Saran
Dalam uraian makalah ini, penulis berharap kepada pembaca terutama
penulis sendiri mendapatkan manfaat serta menambah wawasan bagi para
pembaca. adapun mengenai teknik penulisan dalam makalah ini, penulis sangat
yakin banyak sekali terdapat suatu kesalahan kekurangan. Maka dari itu, penulis
berharap kepada pembaca agar memberikan masukan atas kesalahan dan
kekurangan dalam makalah ini. Sekian dari kami.

17
DAFTAR PUSTAKA
A. Artikel

Syibromalisi, Faizah Ali. Uslub Al-Hazf dan Efek Psikologis Estetika Al-Qur'an
terhadap Pembaca dan Pendengarnya. Diakses dari
http://103.229.202.68/dspace/handle/123456789/31014 pada tanggal 9
November 2017 Pukul 20:00 WIB
Zaenuddin, Mamat. Gaya Bahasa Iltifat, diakses dari
(http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/1953
07271980111-MAMAT_ZAENUDDIN/Gaya_Bahasa_Iltifat.pdf), pada
tanggal 8 November 2017 pukul 18:09 WIB
___________________. Uslub Iltifat dalam Al-Qur'an. diakses dari
(http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/1953
07271980111-MAMAT_ZAENUDDIN/Keindahan_Uslub_Iltifat.pdf),
pada tanggal 8 November 2017 pukul 19:51 WIB

B. Makalah

Rahman, Rifqi Aulia. Uslub Al-Ḥażf (Elipsis) Dalam Al-Qur’an, makalah,


(Programa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta:2013), hlm. 2,
diakses dari
(https://www.academia.edu/10243801/Elipsis_dalam_Bahasa_al-Quran?
auto=download), pada tanggal 8 November 2017

18