Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum
Untuk jangka waktu yang sangat lama di masa lampau, fenomena
mortalitas seperti halnya fertilitas pada umunya dipandang sebagai sesuatu yang
sama sekali berada di luar kontrol manusia. Walaupun dalam bagian kedua abad
ke-17 telah ada suatu studi yang sistematis mengenai kematian oleh John Graunt,
sebenarnya sampai abad ke-18 masih sedikit sekali orang di berbagai bagian
Eropa mempertanyakan angka-angka kematian. Baru kemudia suatu langkah
kemajuan yang berarti dicapai ketika Jenner pada tahun1789 mengemukakan
keefektifan inokulasi cowpox bagi imunisasi terhadap smallpox (penyakit cacar).
Telah berabad-abad sebelumnya pada waktu-waktu tertentu penyakit cacar
berjangkit dan banyak merenggut jiwa penduduk dunia. Sejak meluasnya revolusi
industri berkembang pula usaha-usaha pengendalian diberbagai penyakit yang
kesemuanya mempengaruji angka-angka kematian. Diberbagai tempat angka dan
sebab kematian dipertanyakan. Sejalan dengan gejala ini berkembang pula
ukuran-ukuran tingkat kematian.
Kasus kematian yang sering terjadi adalah kematian ibu dan bayi. Angka
Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat
kesehatan perempuan. World Health Organization (WHO) pada tahun 2005
menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang Angka
Kematian Ibu (AKI) terbesar di dunia dan Asia Tenggara dengan AKI sebesar 307
per 100.000 kelahiran hidup. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2007 melaporkan AKI di Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran
hidup, dan laporan WHO yang dikutip oleh Depkes RI pada tahun 2008 Aki di
Indonesia mencapai 420 per 100.000 kehidupan.
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama kehamilan periode pospartum
langsung, dengan penyebab utama akibat komplikasi obstetric seperti pendarahan,
sepsis, partus lama dan gangguan pada saat melahirkan, gangguan hipertensi dan
komplikasi aborsi. Di Indonesia sekitar 28 persen kematian ibu disebabkan karena
pendarahan, 13 persen ekslampsi atau akibat gangguan tekanan darah tinggi saat
kehamilan, 9 persen partus lama, 11 persen komplikasi aborsi dan 10 persen akibat
infeksi (UNDP, 2005; Depkes, 2010).
Tingginya kasus kematian ibu diidentifikasikan pula sebagai akibat tidak
langsung dari kondisi tiga terlambat. Pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan dengan kompetensi kebidanan di fasilitas kesehatan, persalinan dibantu
tenaga kesehata terbukti mengurangi risiko kematian ibu.

B. Teori tentang Mortalitas


a. Kerangka Pikir Mortalitas oleh Mosley dan Chen (1984)
Faktor sosial-ekonomi bekerja pada tiga level, yaitu:
1. Level Individu
Pemeriksaan kehamilan, kondisi kelahiran, dan status nutrisi memiliki dampa
yang besar terhadap tahap kehidupa berikutnya. Urutan kelahiran dan jarak kelahiran juga
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak. Salah satu penduga yang kuat terhadap
status kesehatan adalah apakah bayi diberi ASI dan lama pemberian ASI.
2. Level Rumah Tangga
Sumber daya orang tua memiliki immplikasi penting terhadap kelangsungan
hidup anak. Pendidikan ayah dapat mempengaruhi kelangsungan hidup anak melalui
produktivitasnya, yaitu upah yang lebih besar dan tingkat konsumsi keluarga yang lebih
besar. Pendidikan ibu dapat meningkatkan produktivitasnya dalam hal perawatan
kesehatan yang efektif (pencegahan dan pengoobatan), kualitas rumah (jenis lantai,
dinding, listrik), akses terhadap air bersih, dan sanitasi
3. Level Komunitas/Masyarakat
Perbedaaan level komunitas terhadap akses, misalnya pelayanan kesehatan,
mempengaruhi kemampuan orangtua untuk menyediakan perawatan kesehatan bagi
anaknya.
b. Teori Transisi Epidemiologi oleh Omran (2005)
Secara konseptual, teori transisi epidemiologi fokus pada perubahan kompleks
kesehatan dan penyakit dan terhadap interaaksi antara pola ini dengan determinan dan
dampak secara demografi, ekonomi dan sosiologi. Model transisi ini berdasarkan data
longitudinal beberapa negara. Model klasik atau barat diwakili oleh negara Inggris, Wales
dan Swedia; model trasnsisi akselerasi diwakili oleh Jepang; model kontemporer atau
terlambat diwakili Chili dan Sri Langka.
Omran (2005) menghasilkan lima dalil berkaitan dengan mortalitas dan dinamika
penduduk, yaitu:
1. Teori transisi epidemiologi dimulai dengan premis mayor bahwa mortalitas
merupakan faktor fundamental dalam dinamika penduduk.
2. Selama masa transisi, pergeseran jangka panjang terjadi pada pola mortalitas dan
penyakit diamana pandemi penyakit infeksi secara perlahan digantikan dengan
penyakit degeneratif dan penyakit buatan manusia (man-made) sebagai bentuk utama
penyebab morbiditas dan kematian. Pola mortalitas dapat dibedakan menjadi tiga
tahapan transisi demografi, yaitu:
a. Tahap I: Masa Penyakit sampar dan kelaparan
Pada tahap ini, tingkat mortalitas tinggig dan berfluktuasi sehingga menghalangi
pertumbuhan penduduk berkelanjutan. Pada tahap ini rata-rata harapan hidup saat lair
adalah rendah anatara 20 dan 40 tahun.
b. Tahap II: Masa pandemi menurun
Pada tahap ini, tingkat mortalitas menurun secara bertahap dan tingkat
penurunannya semakin cepat seiring dengan menurunnya atau menghilangnya puncak
endemi. Rata-rata angka harapan hidup saat lahir meningkat terus dari 30 sampai 50
tahun. Pertumbuhan penduduk berkelanjutan dan mulai menggambarkan kurva
eksponensial.
c. Tahap III: Masa penyakit degeneratif dan buatan manusia
Tahap ini ditandai dengan tingkat mortalitas yang terus menurun dan akhirnya
mendekati stabilitas pada tingkat yang relait rendah. Rata-rata angka harapan hidup saat
lahir meningkat secara bertahap sampai melebihi 50 tahun. Pada tahap ini fertilitas
merupakan faktor penting dalam pertumbuhan penduduk.
3. Selama masa transisi epidemiologi perubahan medalam dalam pola kesehatan dan
penyakit terjadi pada anak-anak dan wanita muda.
4. Pergeseran pola kesehatan dan penyakit yang encirikan transisi epidemiologi
berkaitan erat dengan transisi demografi dan sosial-ekonomi yang mencakup
modernisasi.
5. Variasi ganjil dalam pola, kecepatan, deteriminan, dan dampak perubahan penduduk
membedakan 3 model transisi epidemiologi, yaitu model klasik atau barat, model
akselerasi, dan model kontemporer atau terlamabat.
a. Model Transisi Epidemiologi Kalsik (Barat)
Model klasik menggambarkan transisi dari tingkat mortalitas tinggi (diatas 30 per
1000 penduduk) dan fertilitas tinggi (diatas 40 per 1000) ke tingkat mortalitas rendah
(kurang dari 10 per 1000) dan fertilitass rendah (kurang dari 20 per 1000) seiring dengan
proses modernisasi di kebanyakan masyarakt Eropa Barat.
b. Model Transisi Epidemiologi Akselaerasi
Model transisi epidemiologi transisi mortalitas yang terjadi terutama di Jepang.
Perbedaaan utama model akselerasi dengan model klasik adalah bahwa periode yang
dibutuhkan untuk mencapai tingkat mortalitas 10 per 1000 adalah jauh lebih pendek.
c. Model Transisi Epidemiologi Kontemporer (Modern atau Terlambat)
Model kontemporer menggambarkan transisi relatif baru dan belum selesai pada
beberapa negara berkembang. Meskispun penurunan mortalitas lambat di beberapa
negara setelah pergantian abad, penurunan tingkat mortalitas yang cepat dan seubstansial
hanya tercatat sejak Perang Dunia II.