Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KESEHATAN REPRODUKSI/KIA
TEORI DAN KONSEP KESEHATAN IBU DAN ANAK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah kesehatan reproduksi/KIA
Dosen Pengampu : Asparian, S.KM.,M.Kes

Kelompok 1:
Lipatri N1A117083
Fefi Tri Yuzela N1A117091
Satria Danur Wenda N1A117101
Lara Miranda N1A117106
Nova Irma Kristiani Silitonga N1A117115
Kelas 2C

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JAMBI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya
dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat
mengaharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Jambi, Februari 2018

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................... ................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan masalah ....................................................................... 1
C. Tujuan ................ ......................................................................... 1
D. Manfaat............... ......................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................3

BAB III. PEMBAHASAN

A. Pengertian kesehatan ibu dan anak......................... .................... 5


B. Ruang lingkup kesehatan ibu dan anak ....................................... 5
C. Determinan kesehatan ibu dan anak....................... ..................... .8
D. Penanganan masalah kesehatan ibu dan anak............................13

BAB IV. PENUTUP

1. Kesimpulan .................................................................................. 16
2. Saran............................................................................................ 17

DAFTAR RUJUKAN

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih dalam kondisi yang


kurang baik, terlihat dari peningkatan angka kematian ibu dan angka
kematian anak yang sebelumnya sempat menurun. Kesehatan ibu dan
anak menjadi target utama dalam tujuan pembangunan Millennium
Development Goals (MDGs) sehingga banyak program untuk
meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Program kesehatan ibu dan
anak menjadi sangat penting karena ibu dan anak merupakan unsur
penting pembangunan dan harapan masa depan.

Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu dan anak


seperti faktor sosioekonomi, keluarga, situasi dan kondisi. Ibu yang
sedang dalam masa kehamilan perlu menjaga kandungannya agar bayi
lahir sehat dan ibu selamat, kesehatan anak perlu diperhatikan agar
tumbuh kembangnya tidak terhambat. Maka dari itu perlu mengambil
tindakan yang tepat jika ibu dan anak mengalami permasalahan.
Masalah kesehatan ibu dan anak merupakan masalah yang
mempengaruhi generasi muda yang akan terbentuk.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan kesehatan Ibu dan anak?
b. Apa saja ruang lingkup kesehatan ibu dan anak?
c. Apa saja determinan kesehatan ibu dan anak?
d. Bagaimana penanganan masalah kesehatan ibu dan anak?
C. Tujuan
a. Mengetahui definisi kesehatan ibu
b. Mengetahui ruang lingkup kesehatan ibu dan anak
c. Mengetahui determinan kesehatan ibu dan anak
d. Mengetahui bagaimana menangani masalah kesehatan ibu dan
anak

1
D. Manfaat

Dari penyusunan makalah ini nantinya agar dapat


memberikan pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak
teruatama mengenai definisi, ruang lingkup, determinan KIA, dan
penanganan masalah KIA

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kesehatan ibu dan anak menjadi indikator berhasil atau tidaknya


pembangunan di suatu negara. Di Indonesia sendiri angka kematian ibu
dan anak masih cukup tinggi, sehingga Indonesia menjadi target Milenium
Development Goals.

Permasalahan utama yang menyebabkan masih tingginya angka


kematian ibu dan anak adalah faktor sosioekonomi, banyak ibu yang masih
melakukan persalinan dengan dukun karena faktor biaya, pengaruh
keluarga dan adat istiadat. Banyak cara yang telah dilakukan untuk
menurunkan angka kematian ibu di Indonesia, salah satu nya adalah
program Jaminan Persalinan (Jampersal), jampersal adalah jaminan
pembiayaan yang digunakan untuk meningkatkan akses masyarakat
terhadap pelayanan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan
kesehatan nifas termasuk Kb pasca persalinan dan pelayanan bayi baru
lahir.

Kemudian jika kita simak pembangunan kesehatan saat ini, telah


berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Sejak periode 2004
sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307
per 100.000 kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan
Angka Kematian Bayi dari 35 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 34 per
1.000 kelahiran hidup. Tetapi sejak periode 2007 sampai dengan periode
2012 kembali lagi terjadi peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 228
per 100.000 kelahiran hidup menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung


kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan setelah
persalinan. Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan faktor risiko tidak
langsung berupa keterlambatan. Ada tiga (terlambat), yaitu: 1) terlambat
mengambil keputusan dan mengenali tanda bahaya; 2) terlambat dirujuk;
dan 3) terlambat mendapat penanganan medis. Salah satu upaya

3
pencegannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan difasilitasi pelayanan kesehatan.

4
BAB III

PEMBAHASAN

A. Definisi Kesehatan Ibu dan Anak

Menurut UU No.23 Tahun 1992 kesehatan adalah keadaaan


sejahtera dari badan, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial ekonomis.

Menurut WHO sehat adalah keadaan fisik, mental, dan


kesejahteraan sosial secara lengkap dan bukan hanya sekedar tidak
mengidap penyakit atau kelemahan.

Kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang


menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Upaya yang
dilakukan agar dapat hidup produktif secara sosial ekonomis dan tidak
mengidap penyakit atau kelemahan

Pemberdayaan masyarakat dibidang KIA merupakan upaya


memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan
masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek
non klinis terkait kehamilan dan perdsalinan.

Kesehatan ibu dan anak bertujuan agar meningkatnya


kemampuan ibu dalam mengatasi masalah kesehatan.

B. Ruang Lingkup Kesehatan Ibu dan Anak


Kesehatan Ibu dan Anak diantara nya meliputi :
a. Kesehatan Maternal
1. Pengertian

Kesehatan maternal adalah ilmu yang mempelajari


tentang kesehatan yang harus diperhatikan si ibu pada saat
kehamilan, agar si calon bayi terlahir dengan keadaan yang sehat
tanpa adanya kecacatan. Kesehatan maternal perlu diketahui

5
oleh ibu hamil khususnya agar pada masa kehamilan maupun
persalinan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

2. Program Kesehatan Maternal


a. Safe Motherhood Intiative

Safe Motherhood merupakan upaya untuk


menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya sehat
dan aman, serta melahirkan bayi yang sehat. Tujuan upaya Safe
Motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian
ibu hamil, bersalin, nifas, dan menurunkan angka kesakitan dan
kematian bayi yang baru lahir.

WHO mengembangkan konsep Four Pillars of Safe


Motherhood untuk menggambarkan ruang lingkup upaya
penyelamatan ibu dan bayi (WHO, 1994). Empat pilar upaya Safe
Motherhood tersebut adalah keluarga berencana, asuhan
antenatal, persalinan bersih dan aman, dan pelayanan obstetri
esensial.

b. Gerakan Sayang Ibu (GSI)


Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah Suatu Gerakan yang
dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah
untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai
kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan
angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta
penurunan angka kematian bayi.
GSI didukung pula oleh Aliansi Pita Putih (White Ribbon
Alliance) yaitu suatu aliansi yang ditujukan untuk mengenang
semua wanita yang meninggal karena kehamilan dan melahirkan.
Pita putih merupakan symbol kepedulian terhadap keselamatan
ibu yang menyatukan individu, organisasi dan masyarakat yang
bekerjasama untuk mengupayakan kehamilan dan persalinan
yang aman bagi setiap wanita.

6
GSI diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk aktif
terlibat dalam kegiatan seperti membuat tabulin, pemetaan bumil
dn donor darah serta ambulan desa. Untuk mendukung GSI,
dikembangkan juga program suami SIAGA dimana suami sudah
menyiapkan biaya pemeriksaan dan persalinan, siap mengantar
istri ke tempat pemeriksaan dan tempt persalinan serta siap
menjaga dan menunggui saat istri melahirkan.
c. Strategi Making Pregnancy Safer

Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, pemerintah


melalui Departemen Kesehatan dewasa ini menerapkan Strategi
Making Pregnancy Safer (MPS), atau ‘Membuat Kehamilan Lebih
Aman’, yang merupakan penajaman dari kebijakan sebelumnya
tentang ‘Penyelamatan Ibu Hamil’. Strategi MPS yang memberi
penekanan kepada aspek medis, walaupun tidak mengabaikan
aspek non-medis.

d. Program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS)


Program EMAS merupakan program bantuan teknis
Pemerintah Amerika kepada Pemerintah Indonesia melalui
pendanaan United State Agency for International Development
(USAID) di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan RI selama 5
tahun (2012-2016). Program ini berupaya untuk meningkatkan
akses dan mutu pelayanan kesehatan, terutama untuk kesehatan
ibu dan anak dibidang fasilitas kesehatan. Pemerintah telah
menetapkan kebijakan tentang peningkatan pelayanan kesehatan
terutama maternal dan neonatal yang salah satu tujuannya untuk
menurunkan angka kematian ibu dan anak.
b. Kesehatan Perinatal dan Neonatal

Perinatal adalah perioide di sekitar masa (menjelang, selama,


sesudah) kelahiran (biasanya masih dalam rangka beberapa
minggu, bila sebelum dan/atau sesudah).

7
Neonatal adalah kelahiran baru atau baru lahir; periode dalam
beberapa minggu pertama dalam kelahiran anak manusia dimana
pada periode-periode tersebut si bayi harus beradaptasi dengan
lingkungan barunya diluar alam rahim dan merupakan saat yang
paling rawan bagi bayi, sehingga perlu perhatian penuh dari orang
tua dalam perawatannya.

Dalam masa perinatal kesehatan ibu dan anak perlu


diperhatikan agar ibu dan bayi mendapatkan gizi yang baik dan bayi
dapat lahir sehat. Ibu dan keluarga perlu memperhatikan hal-hal
yang beresiko bagi ibu sehingga ibu selamat saat melahirkan.

Dalam masa neonatal, bayi yang baru lahir akan beradaptasi


dengan lingkungan yang baru, hal ini sangat perlu diperhatikan,
apabila terjadi kelainan atau gangguan pada bayi dapat diketahui
dan dilakukan tindakan yang benar.

c. Kesehatan Bayi dan Anak


Kesehatan bayi dan anak meliputi kesehatan saat lahir hingga
tumbuh kembangnya.
d. Kesehatan Reproduksi

Menurut hasil ICPD (International Conference on Population


and Development) 1994 di Kairo, kesehatan reproduksi adalah
keadaan sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial dan tidak
semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal
yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses.

C. Determinan Kesehatan Ibu dan Anak


Program kesehatan ibu dan anak (KIA) untuk mengurangi AKI
dan AKB telah banyak dilakukan, seperti program Keluarga
Berencana (KB), pelayanan pemeriksaan dan perawatan kehamilan,
persalinan sehat dan aman. Faktor-faktor atau determinan yang
menyebabkan masih tinggi nya AKI dan AKB di Indonesia antara lain
faktor predisposing, faktor pemungkin (enabling) serta faktor

8
pendorong atau penguat (reinforcing). Faktor-faktor tersebut berupa
berbagai hambatan, antara lain dari aspek geografis, ekonomi,
sosiokultural, yang diperberat oleh kelemahan dalam memutuskan
tindakan, merujuk dan keterkambatan dalam menangani keluarga
sakit/bermasalah setelah sampai ditempat pelayanan kesehatan.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan Praktik Kehamilan,
Persalinan, dan Nifas Ibu (Maternal)
Beberapa variabel secara statistik berhubungan dengan
praktik responden terkait kesehatan maternal. Variabel tersebut
adalah cara pembayaran kesehatan, aksesbilitas terhadap fasilitas
kesehatan, pengaruh orang yang memutuskan dalam upaya
pencarian pelayanan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan
ibu, serta sikap ibu terhadap pelayanan kesehatan maternal.

Berdasarkan analisis multivariat diperoleh hasil bahwa probabilitas


seorang akan berpraktik buruk terhadap pelayanan kesehatan maternal jika
memiliki sifat negatif, aksesbilitas pelayanan kesehatan sulit, pengambil
keputusan dalam menentukan pelayanan kesehatan adalah suami-istri dan
melibatkan orang lain/keluarga serta berpengetahuan buruk yaitu 90%.

9
Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Anak
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masayrakat yang terdiri
atas ayah, ibu dan anak atau ayah dan anak atau ibu dan anak
mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi tumbuh
kembangnya generasi muda yang cerdas dan berkualitas.
Keluarga mempengaruhi kesehatan mealui tiga sumber, yaitu
genetik, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Salah satu
determinan yang paling kuat dari keluarga adalah posisi
sosioekonomik yang berkaitan dengan hambatan dan kesempatan
hidup sehat seperti kualitas rumah atau tempat tinggal, kondisi
lingkungan tempat tinggal, transportasi, akses terhadap pelayanan
kesehatan, pengaruh orang yang memutuskan dalam upaya
pencarian pelayanan kesehatan yang akan mempunyai impikasi
terhadap kesehatan.

Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan anak dapat


menyebabkan kesehatan anak menurun hingga menyebabkan
kematian, akses pelayanan kesehatan yang sulit sehingga
pelayanan kesehatan tidak dilakukan dengan tenaga pelayanan
kesehatan melainkan dilakukan sendiri.

Anak-anak dari ibu yang kurang berpendidikan dan


memiliki pengetahuan yang kurang umumnya memiliki angka
kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang lahir dari ibu
yang lebih berpendidikan. Selama kurun waktu 1998-2007, angka
kematian bayi pada anak-anak dari ibu yang tidak berpendidikan
adalah 73 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian
bayi pada anak-anak dari ibu yang berpendidikan menengah atau
lebih tinggi adalah 24 per 1.000 kelahiran hidup. Perbedaan ini
disebabkan oleh perilaku dan pengetahuan tentang kesehatan yang
lebih baik di antara perempuan-perempuan yang berpendidikan.
Masih banyak kepercayaan masyarakat yang belum
sesuai dengan nilai-nilai kesehatan, terutama terhadap aspek

10
KIA. Kepercayaan yang tidak sesuai tersebut sebagian besar terkait
aspek gizi selama hamil/bersalin/nifas dan menyusui.

Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini


terjadi pada masa baru lahir (nenatal), bulan pertama
kehidupan. Kemungkinan anak meninggal pada usia yang berbeda
adalah 19 per 1.000 selama masa neonatal, 15 per 1.000 darin usia
2 hingga 11 bulan dan 10 per 1.000 dari usia satu sampai lima tahun.
Seperti di negara-negara berkembang lainnya yang mencapai status
pendapatan menengah, kematian anak di Indonesia karena infeksi
dan penyakit anak-anak lainnya yang telah mengalami penurunan,
seiring dengan peningkatan pendidikan ibu, kebersihan rumah
tangga dan lingkungan, pendapatan dan akses ke pelayanan
kesehatan.
Angka kematian balita di perdesaan masih memiliki angka
kematian balita sepertiga lebih tinggi daripada angka kematian balita
di perkotaan, tetapi sebuah studi menunjukan bahwa angka
kematian di perkotaan bahkan telah mengalami peningkatan pada
masa neonatal. Tren ini tampaknya terkait dengan urbanisasi yang
cepat, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang
berlebihan, okndisi sanitasi yang buruk pada penduduk miskin
perkotaan. Kualitas pelayanan yang kurang optimal di daerah-
daerah miskin perkotaan juga merupakan faktor penyebab.
Angka kematian anak di daerah-daerah miskin di
pinggiran perkotaan jauh lebih tinggi daripada rata-rata angka
kematian anak diperkotaan. Studi tentang “mega-kota” Jakarta
(yang disebut Jabodetabek), Bandung dan Surabaya tahun 2000
menyatakan angka kematian anak sampai lima kali lebih tingi di
kecamatan-kecamatan perkotaan pinggiran kota yang miskin di
Jabodetabek daripada pusat kota Jakarta. Kematian anak yang lebih
tinggi disebabkan oleh penyakit dan kondisi yang berhubungan
dengan kepadatan penduduk yang berlebihan, serta rendahnya
kualitas air bersih dan asanitasi yang buruk.
Adanya kesenjangan pelayanan kesehatan .Pelayanan
kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dapat mencegah
tingginya angka kematian. Ketidakseimbangan antara tenaga
medis (terutama bidan) dengan jumlah penduduk, masih adanya
beberapa desa/kelurahan belum ada bidan, terutama pada kategori
desa sangat terpencil. Beberapa desa justru berlebih tenaga bidan,

11
tetapi di beberapa desa jumlah tersebut tidak sesuai dengan
cakupan wilayah kerja.
Berdasarkan kualitas ketenagaan pemberi pelayanan KIA,
sebagian besar orang mengatakan berdasarkan jenjang pendidikan
cukup ideal, sebagian besar bidan minimal berijazah D3 kebidanan.
Namun, dari pendidikan-pelatihan untuk peningkatan kompetensi
(asuhan persalinan normal, manajemen terpadu bayi muda, serta
penatalaksanaan asfiksianeonatorum) masih kurang. Beberapa
sudah ada yang mengikuti, tetapi tidak terdistribusi merata ke semua
bidan. Begitu juga terhadap jenis pelatihan yang seharusnya di ikuti.
Selain tenaga bidan, tenaga pendukung pelayanan KIA lainnya
seperti ahli gizi juga masih belum memadai. Tidak semua
puskesmas memiliki ahli gizi (minimal pendidikan D3 gizi).
Pelayanan kesehatan yang kurang baik menyebabkan ibu
dan keluarga enggan untuk melakukan persalinan ataupun
pelayanan kesehatan lainnya.

Pada gambar 4 data Riskesdas tahun 2013 menunjukan


bahwa persalinan yang dilakukan di rumah masih cukup tinggi, yaitu
sebesar 29,6%. Jika kita hubungkan tempat bersalin dengan
penyebab lain-lain atau tidak langsung kematian ibu, maka dapat
menjadi penyebab kematian ibu.

12
Ketersediaan dan ketercukupan sarana pendukung
pelayanan kesehatan ibu dan anak. Untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan yang optimal, sarana pendukung untuk
pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat dibutuhkan. Beberapa hal
yang belum memadai adalah peralatan pendukung pelayanan KIA
(sarana laboratorium, sterilisasi alat, dan lain-lain). Kekurangan
sarana ini terutama untuk daerah yang jauh, di puskesmas pembantu
(pustu) maupun pondok bersalin desa (polindes). Banyak hal yang
menyebabkan sarana ini masih kurang, antara lain keterbatasan
dana karena ada pengembangan atau penambahan puskesmas
baru. Kendala lain adalah fasilitas yang belum termanfaatkan. Hal
tersebut antara lain disebabkan oleh tidak ada pelatihan
pengoperasian alat, tidak ada tenaga teknisi/analis yang kompeten
atau tidak tersedia sarana pendukung pengoperasian alat tersebut,
seperti daya listrik.
Faktor politik juga mempengaruhi kesehatan ibu dan anak.
Kesehatan adalah bagian dari politik oleh karena pelayanan
kesehatan merupakan pelayanan publik yang tidak hanya dijadikan
sebagai kendaraan politik para calon atau kandidiat kepala daerah.
(Bambara et all, 2005). Jadi ini menunjukan pentingnya hubungan
antara kesehatan dan politik dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

D. Penanganan Masalah Kesehatan Ibu dan Anak

Beberapa permasalahan yang dihadapi masayarakat Indonesia


terutama dalam aspek kesehatan ibu dan anak diantaranya adalah
angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi yang masih tinggi,
gangguan gizi buruk, permasalahan air susu ibu (ASI), kekurangan
yodium, kekurangan zat besi, kekurangan vitamin A, dan lain-lain. Tidak
hanya permasalahan tersebut diatas saja yang menjadi masalah bagi
kesehatan ibu dan anak, terkadang fakor keluarga, budaya, dan

13
kepercayaan yang masih melekat pada masyarakat memberikan
dampak negatif terhadap kesehatan.

Berikut ini beberapa contoh masalah yang di hadapi ibu dan


dipengaruhi oleh faktor keluarga dan cara mengatasinya.

a. Ketika Keluarga Merasa Kehamilan itu Proses Alamiah


- Kehamilan itu memang proses alamiah, tetapi perlu dijaga
supaya ibu selamat ketika melahirkan dan bayi lahir sehat.
- Kehamilan adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga.
- Memeriksakan kehamilan minimal empat kali ke petugas
kesehatan agar mengetahui kondisi kesehatan ibu dan bayi.
b. Ketika Keluarga Merasa Lebih Nyaman Bersalin dengan Dukun
- Dukun memiliki keterampilan berdasarkan pengalaman turun-
menurun, sedangkan petugas kesehatan memiliki keahlian dari
pendidikan formal.
- Jika ada kelainan atau hambatan, petugas kesehatan dapat
mengetahui apa yang harus dilakukan.
c. Ketika Keluarga Merasa Lebih Mahal Bersalin dengan Bidan
- Memeriksakan kehamilan ke Bidan tidaklah mahal. Jika dinilai
dengan risiko ibu dan bayi yang mungkin meninggal akibat
ditolong bukan oleh tenaga kesehatan.
- Ibu hamil lebih aman melahirkan di fasilitas kesehatan karena bila
ada kelainan kehamilan dapat ditangani lebih awal sebagai
pencegahan supaya ibu selamat dan bayi lahir sehat.
- Mulai tahun 2011 ada program Jaminan Persalinan yang
dikhususkan bagi ibu hamil yang belum memiliki jaminan
persalinan.

d. Ketika Ibu tidak Mendapat dukungan Keluarga

- Ibu berhak menentukan atau memilih penolong saat akan


melakukan persalinan.
- Bila suami dan keluarga tidak mendukung untuk memeriksakan
kehamilan ke petugas kesehatan, ibu dapat berkonsultasi dengan

14
kader Posyandu atau petugas kesehatan untuk memberikan cara
penyelesaian masalah yang terbaik.
- Meminta bantuan kader Posyandu atau petugas kesehatan untuk
memberikan informasi kepada suami dan keluarga tentang
manfaat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan ke
petugas kesehatan.

Permasalahan kesehatan ibu dan anak (KIA) bisa juga dapat


disebabkan oleh tenaga medis yang kurang kompeten, distribusi tenaga
kesehatan yang tidak merata, ditambah lagi sarana pendukung
pelayanan kesehatan yang kurang memadai sehingga ibu dan anak
mendapatkan pelayanan kesehatan yang kurang baik.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dapat dilakukan


dengan meningkatkan kegiatan promosi kesehatan yang difokuskan
untuk mengubah perilaku, mengupayakan keluarga dalam menentukan
pilhan pelayanan kesehatan, meneruskan dan meningkatkan pprogram-
program kesehatan bagi ibu dan anak, bagi ibu hamil dapat
mengkonsumsi makanan yang bergizi dan tidak melakukan aktivitas
fisik secara berlebihan, memeriksakan kehamilan ke petugas
kesehatan, bagi anak yang telah lahir dan dalam masa pertumbuhan
dapat diberikan makan yang kaya gizi dan nutrisi, mengusahakan
kondisi lingkungan yang sehat. Meningkatkan upaya menambah
kompetensi tenaga kesehatan, khususnya dalam pelayanan KIA,
melakukan upaya optimalisasi pendistribusian tenaga kesehatan dan
pemantauan untuk menjamin keberadaan tenaga kesehatan di
lapangan.

15
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan


yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu
bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah.

Kesehatan Ibu dan anak meliputi, kesehatan maternal,


kesehatan perinatal dan neonatal, kesehatan bayi dan anak,
kesehatan reproduksi.

Masih tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia


disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor keluarga dan
ekonomi sehingga terhambat untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan, kesenjangan pelayanan kesehatan, kurangnya
pengetahuan mengenai kesehatan ibu dan anak.

Penanganan permasalahan kesehatan ibu dan anak dapat


dilakukan dengan meningkatkan kegiatan promosi kesehatan yang
difokuskan untuk mengubah perilaku, mengupayakan keluarga
dalam menentukan pilhan pelayanan kesehatan, meneruskan dan
meningkatkan pprogram-program kesehatan bagi ibu dan anak, bagi
ibu hamil dapat mengkonsumsi makanan yang bergizi dan tidak
melakukan aktivitas fisik secara berlebihan, memeriksakan
kehamilan ke petugas kesehatan, bagi anak yang telah lahir dan
dalam masa pertumbuhan dapat diberikan makan yang kaya gizi dan
nutrisi, mengusahakan kondisi lingkungan yang sehat.
Meningkatkan upaya menambah kompetensi tenaga kesehatan,
khususnya dalam pelayanan KIA, melakukam upaya optimalisasi
pendistribusian tenaga kesehatan dan pemantauan untuk menjamin
keberadaan tenaga kesehatan di lapangan.

16
B. Saran

Agar angka kematian ibu dan anak tidak terus meningkat, perlu
dilakukan optimalisasi pelayanan kesehatan seperti mendistribusikan
tenaga kesehatan yang kompeten untuk masyarakat, meningkatkan
fasilitas kesehatan terutama didaerah terpencil dan meningkatkan
program-program kesehatan yang telah ada.

17
DAFTAR RUJUKAN

UNICEF.2012.Ringkasan Kajian Ibu & Anak, [online]


https://www.unicef.org/indonesia/A5_-
_B_Ringkasan_Kajian_Kesehatan_Rev, diunduh tanggal 04 Februari
2018.
Kementrian Kesehatan RI.2011. Informasi tentang Kesehatan Ibu dan
Anak melalui Radio.
Anonim.2010. Kesehatan Ibu dan Anak, [online]
(https://nursingbegin.com/kesehatan-ibu-dan-anak/), di akses tanggal 02
Februari 2018.
Saifuddin, AB.2001. Buku Panduan Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Edisi I, Yayasan Bina Pustaka Sarworo
Prawiroharjo, Jakarta.
Zahtamal, Tuti Restuastuti, dab Fifia Chandra.2011. Analisis Faktor
Determinan Permasalahan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak. Riau.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol 6, NO.1.
Permasalahan Kesehatnan Ibu dan Anak di Indonesia. [online]
www.caramedis.com/menilik-permasalahan-kesehatan-ibu-dan-anak-di-
indonesia-saat-ini/, diakses tanggal 03 Februari 2018.
H.T, Amir.2014. Dilema program MDGs dalam penurunan Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui Jampersal di
Kabupaten Tuban.Jawa Timur. Jurnal Bina Praja. Vol 6, No. 1.
Rahayu, Endang.2014.Kamus Kesehatan:Untuk Pelajar, Mahasiswa,
Profesional & Umum.Tidak diketahui.Mahkota Kita.

18
19