Anda di halaman 1dari 106

HUBUNGAN NILAI PRODUKTIVITAS PRIMER DENGAN

KONSENTRASI KLOROFIL a, DAN FAKTOR FISIK


KIMIA DI PERAIRAN DANAU TOBA, BALIGE,
SUMATERA UTARA

TESIS

Oleh

MANGATUR SITORUS
077030016/BIO

K O L A
E
H
S
PA

A
N

C
A S A R JA
S

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
HUBUNGAN NILAI PRODUKTIVITAS PRIMER DENGAN
KONSENTRASI KLOROFIL a, DAN FAKTOR FISIK
KIMIA DI PERAIRAN DANAU TOBA, BALIGE,
SUMATERA UTARA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister


Sains dalam Program Studi Biologi pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara

Oleh

MANGATUR SITORUS
077030016/BIO

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Judul Tesis : HUBUNGAN NILAI PRODUKTIVITAS PRIMER DENGAN KONSENTRASI
KLOROFIL- a,
DI PERAIRAN DANAU TOBA, BALIGE, SUMATERA UTARA
Nama Mahasiswa : Mangatur Sitorus
Nomor Pokok : 077030016
Program Studi : Biologi

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ing. Ternala. A. Barus, MSc) (Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, MSc)
Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(Prof. Dr. Dwi Suryanto, MSc) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, MSc)

Tanggal lulus: 10 Juni 2009

Telah diuji pada


Tanggal: 10 Juni 2009

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ing. Ternala A. Barus, MSc
Anggota : 1. Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, MSc
2. Prof. Dr. Dwi Suryanto, MSc
3. Prof. Dr. Retno Widyastuti, MS

ABSTRAK

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Penelitian tentang “Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan Konsen trasi
Klorofil- a, di Perairan Danau Toba, Balige Sumatera Utara” yang bertujuan
untuk mengetahui nilai produktifitas primer di Danau Toba sebagai hasil aktifitas
fotosintesis fitoplankton dan hubungannya dengan nilai klorofil-a, faktor fisik kimia
perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2008- Maret 2009 pada 4
lokasi penelitian di Perairan Danau Toba, Balige. Lokasi penelitian ditentukan
berdasarkan aktifitas yang bervariasi pada masing-masing lokasi penelitian.
Produktifitas primer diukur dengan Metode Oksigen yang menggunakan dua botol
dengan konsentrasi fitoplankton yang disuspensikan pada kedalaman penelitian yang
telah ditentukan. Botol Gelap dibungkus dengan alumunium foil untuk menutupi
cahaya matahari, sedangkan Botol “Terang “ tidak ditutup dengan alumunium foil.
Kualitas oksigen sebanding dengan jumlah total bahan organik (produktifitas kotor)
yang dihasilkan oleh proses fotosintesis pada botol terang. Pada waktu yang
bersamaan juga digunakan untuk respirasi. Analisis lainnya akan dilakukan
pengukuran faktor fisik kimia perairan seperti temperatur, pH, DO, penetrasi cahaya,
BOD5, nitrat, fosfat, dan klorofil.
Nilai rata-rata produktifitas primer berkisar antara 115, 43 mg C/m3/hari
sampai 750,72 mg C/m3/hari, dengan nilai produktifitas primer terendah sebesar
75,08 mg C/m3/hari yang ditemukan pada kedalaman 10 m (lokasi 4), sedangkan nilai
rata-rata klorofil tertinggi terdapat pada lokasi 4 sebesar 225,423 mg/m3 dan terendah
di lokasi 1 sebesar 11,51 mg/m3. Berdasarkan uji statistik ada perbedaan yang
signifikan nilai produktivitas primer antara Stasiun 4 dengan stasiun 1,2 dan 3,
dengan nilai signifikan sebesar 0,000 di mana lebih kecil dari 0,05, sedangkan nilai
produktivitas primer berdasarkan kedalaman tidak memiliki nilai yang signifikan.

Kata Kunci: Produktifitas Primer, Klorofil, Fitoplankton, Danau.

ABSTRACT

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
The Research of the "Relationships value of Primary Productivity with concentration
Chlorophil-a, In The Lake Toba Balige, District of North Sumatra" the aims is for
knowing the value of primary productivity in Lake Toba as a result of photosynthesis
fitoplankton and activities related to the value Chlorophil-a, water chemistry,
physical factors. This research was done on October 2008 - January 2009 in 4
locations sites in The Lake Toba, Balige. Location is determined based on the
research activities, which varios in each location research. Primary productivity is
measured by the method Oxygen use two bottles, of a concentration fitoplankton in
suspended on the depth of the research that has been determined. Dark bottles were
wrapped with aluminum of foil to cover the sun light, while the Light bottle is not
covered with aluminum of foil. The quality of the oxygen comparable to the number
of total organic material (gross productivity) generated by the process of
photosynthesis in the light bottles. At the same time it also used for respiration.
Analysis of other factors will be measure of physical chemistry, such as water
temperature, pH, DO (Disolved Oxygen), light penetration, BOD5, nitrate, phosphate,
and klorofil.
The average value of primary productivity in the range of 115, 43 mg C/m3/
day C/m3 up to 750.72 mg/day, with the lowest primary productivity value of 75.08
mg C/m3/day were found on the depth of 10 m ( location 4), the while the average
value klorofil top 4 are on the location of 225,423 mg/m3 and lowest in the location 1
of 11.51 mg/m3. Based on the test statistics there are differences significant in the
value of primary productivity compared among the locations that have a value of
0,000 is significantly less than the 0.05 of the station 4 (Tara Bunga) and station
1,2,3, as well not as when compared with the value based on the primary productivity
at the depth hasn’t a significant value.

Keywords: Primary Productivity, Chlorophil, Fitoplankton, Lakes.

KATA PENGANTAR

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Puji dan syukur Penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan karuniaNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Penelitian ini dengan
judul “Hubungan nilai Produktivitas Primer dengan Konsentrasi Klorofil a dan
Faktor Fisik Kimia di Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara”, dibuat
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Magister
Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ing. Ternala
Alexander Barus M.Sc, sebagai Pembimbing I, dan Prof. Dr. Ir. B. Sengli. J.
Damanik, MSc selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan dorongan,
bimbingan dan arahan, waktu dan perhatian yang besar selama proses penulisan dan
penyusunan hasil penelitian ini.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih pada kesempatan ini kepada:
1. Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS. dan Prof. Dr. Dwi Suryanto M.Sc, sebagai
penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam
penyempurnaan penyusunan hasil penelitian ini.
2. Prof. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc., sebagai Ketua Program Studi Magister
Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar di Sekolah Pascasarjana Jurusan Biologi
Universitas Sumatera Utara, Medan yang telah membekali Penulis dengan
berbagai disiplin ilmu.
4. Gubernur Provinsi Sumatera Utara dan Ketua Bappeda Sumatera Utara yang
telah memberikan Beasiswa S-2 kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan Studi S-2.
5. Istri tersayang (Rida br Simangunsong) dan anak-anakku tercinta (Steven
Yusuf, Grace Alice, Franklin Kennedy), Ibunda (Samina br Doloksaribu),
mertua (Lesneria br Simanjuntak).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
6. Adik-adikku (Nurmala Ir., Elvi, SE., Erbin, S.Pd.), iparku (Drs. Beresman,
Drs. Dahlan, Ir. Radiun) dan sahabatku Ir. Ardiston Simanjuntak, MM.
7. Keluarga Besar Guru Datu Sumalanggak Sitorus, Raja Namora Panangian
Sitorus, Parsadaan Toga Raja Sitorus Kota Madya Medan, Raja Marjalan
Sitorus, Keluarga Besar SMA Dwi Karya Jaya, Keluarga Besar Angkasa
Lanud Medan dan Keluarga Besar SMP Negri 3 Lubuk Pakam.
8. Teman-teman dalam tim Penelitian (Juliana, Cypriana, Tiorinse, Benny) dan
asisten Dosen, yang telah membantu penulis sejak awal survei sampai pada
saat penelitian (Sri Sinaga, Rosa, Boy, Yurik, Fransisko, David, Gokman).
9. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana ini.
Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati kita siang dan
malam dalam kita mengejar ilmu pengetahuan dan semoga hasil penelitian ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.

Medan, Maret 2009

Penulis

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 22 Pebruari 1966 di Porsea Kabupaten Tapanuli utara
(Sekarang Kabupaten Tobasa) Provinsi Sumatera Utara, anak ke enam dari sepuluh
bersaudara dari pasangan Solat Sitorus (alm) dengan Samina br Doloksaribu. Tahun
1980 penulis lulus dari SD negeri Sihubak-hubak. Pada tahun 1983 lulus dari SMP
Negeri Janjimatogu dan pada tahun 1986 lulus dari SMA Negeri Porsea Kabupaten
Tapanuli Utara. Pada tahun 1986 meneruskan pendidikan di Fakultas matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam IKIP Negeri Medan, Jurusan Pendidikan Biologi Program
Diploma-3 untuk guru SMA dan tamat pada tahun 1989. Pada bulan Juli 1989
mengabdi di Perguruan Methodist 4 Medan sampai tahun 1996. Tahun 1992
melanjutkan Pendidikan S-1 di UPBJJ-UT-Jakarta pada Jurusan Pendidikan Biologi
tamat tahun 1994. Tahun 1996 mengabdi di Yayasan Angkasa LANUD Medan.
Januari Tahun 1998 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di SMP Negeri 1 Gomo
Pulau Nias, pada bulan Nopember 1998 pindah ke SMP Negeri 3 Lubuk Pakam.
Tahun 2006 mengabdi di SMA Dwi Karya Jaya Deli Serdang dan Tahun 2000
dipanggil kembali ke Yayasan Angkasa LANUD Medan sampai sekarang. Tahun
2007 mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan Program Magister (S-2)
di Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dengan
Beasiswa dari Pemerintah Sumatera Utara.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK.......................................................................................................... i
ABSTRACT.......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP............................................................................................. v
DAFTAR ISI....................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL............................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... x
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2. Permasalahan........................................................................................ 5
1.3. Tujuan................................................................................................... 6
1.4. Hipotesis............................................................................................... 6
1.5. Manfaat................................................................................................. 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 8
2.1. Ekosistem Danau.................................................................................. 8
2.2. Danau Toba.......................................................................................... 12
2.3. Produktivitas Primer............................................................................ 15
2.4 Fitoplankton dan Zooplankton............................................................. 19
2.5. Hubungan Produktivitas Primer dengan Faktor Fisik Kimia............... 20
2.6. Klorofil a.............................................................................................. 36
BAB III. BAHAN DAN METODA.................................................................. 39
3.1. Deskripsi Setiap Stasiun Pengamatan.................................................. 39
3.2. Waktu dan Tempat.............................................................................. 43
3.3 Alat dan Bahan.................................................................................... 44

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.4. Metoda Penelitian............................................................................. 44
3.5. Pengamatan di Lapangan.................................................................. 44
3.5.1. Pengambilan Sampel............................................................... 44
3.5.2. Produktivitas Primer............................................................... 45
3.5.3. Pengukuran Konsentrasi Klorofil a........................................ 46
3.5.4. Pengukuran Faktor Fisik-Kimia Perairan.............................. 46
3.6. Analisis Data.................................................................................... 49
3.6.1. Rumus Menghitung Nilai Produktivitas Primer (PP)............ 49
3.6.2. Rumus Menghitung Klorofil -a.............................................. 49
3.6.3. Kejenuhan Oksigen................................................................ 50
3.6.4. Uji F/Analisis of Varians....................................................... 51
3.7. Analisa Korelasi Pearson................................................................. 51
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………. 52
4.1. Nilai Produktivitas Primer, Faktor Fisik Kimia Perairan, dan
Konsentrasi Klorofil-a……............................………………….... 52
4.2. Uji F/Uji ANOVA.......................................................................... 63
4.3. Analisis Korelasi Pearson dengan Program SPSS Ver. 16. 00..…. 69
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………………………………….. 72
5.1. Kesimpulan………………………………………………………. 72
5.2. Saran……………………………………………………………... 72
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 73

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Klasifikasi Tingkat Kesuburan Perairan Danau............................ 11

2. Status Kualitas Air Berdasarkan Kadar Oksigen Terlarut............. 30

3. Status Kualitas Air Berdasarkan Nilai BOD5 ............................... 31

4, Status Kualitas Air Berdasarkan Kandungan nitrit……………... 35

5. Alat dan Satuan yang Dipergunakan dalam Pengukuran Faktor


Fisik-Kimia Perairan..................................................................... 49

6. Interval Korelasi dan Tingkat Hubungan Antar Faktor................ 51

7. Nilai Produktivitas Primer, Faktor Fisik Kimia Perairan, dan


Konsentrasi Klorofil -a.................................................................. 52

8. Hasil Uji Hubungan Diantara Variabel PP dengan Stasiun


dan Kedalaman.............................................................................. 63

9. Hasil Perbandingan Variabel PP dengan Stasiun.......................... 67

10. Hasil Perbandingan Variabel PP dengan Kedalaman.................... 68

11. Nilai Korelasi Pearson dengan Menggunakan Program SPSS


Vers. 16. 00.................................................................................... 69

12. Interval Korelasi dan Tingkat Hubungan Antar Faktor................. 70

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Kawasan Perairan Danau Toba Balige dengan Perumahan


Penduduk di Sekitarnya................................................................ 39

2. Dermaga Kapal, Stasiun Pengamatan 1 yang Disinggahi Kapal


yang Datang dari Muara, Porsea, Nainggolan dan dari Ajibata
Parapat.......................................................................................... 40

3. Lumban Bulbul dengan Deretan Keramba Ikan Milik


Penduduk...................................................................................... 41

4. Lumban Binanga/Silintong Kawasan Wisata dengan Pondok


Santai yang Ada di Tepi Danau.................................................... 42

5. Tara Bunga Merupakan Stasiun Pengamatan 4 dengan Keadaan


Air yang Sangat Jernih.................................................................. 42

6. Peta Lokasi Penelitian di Perairan Danau Toba Balige pada 4


Titik Pengamatan.......................................................................... 43

7. Penanaman Botol Terang/Gelap pada Setiap Kedalaman Selama


6 Jam…………………………………......................................... 45

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Peta Lokasi Penelitian……………………………………… 79

2. Bagan Kerja Metode Winkler untuk DO………………….. 80

3. Nilai Oksigen Terlarut Maksimum pada Berbagai


Besaran Temperatur Air............................................................ 81

4. Bagan Kerja Metode Winkler untuk BOD5............................ 82

5. Bagan Kerja Kandungan Nitrat............................................... 83

6. Bagan Kerja Kandungan Fosfat............................................... 84

7. Bagan Kerja Pengukuran Absorban Klorofil-a.................... 85

8. Nilai Pengukuran Konsentrasi Klorofil-a............................... 86

9. Nilai Pengukuran Produktivitas primer................................... 87

10. Analisa Korelasi Pearson dengan SPSS. 16.00....................... 88

11. Contoh Perhitungan................................................................... 89

12. Bagan Kerja Kandungan COD................................................. 91

13. Hasil Perhitungan Kejenuhan Oksigen.................................... 92

14. Gambar Pada Penelitian............................................................ 93

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penelitian mengenai produktivitas primer suatu badan perairan senantiasa

banyak mendapat perhatian dari para ahli bidang Limnologi dan Oceanografi, hal

tersebut disebabkan pentingnya nilai produktivitas primer, dengan mengetahui nilai

produktivitas yang dimiliki oleh suatu ekosistem perairan akan dapat diketahui

tingkat kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini apakah ia termasuk dalam kategori

yang eutrofik, mesotrofik atau oligotrofik (Lemusluoto, 1977; Odum, 1983).

Pengetahuan kategori trofik ini penting hubungannya dengan pemanfaatannya.

Russel, W.D dan Hunter (1970) menyatakan, perairan (danau) yang termasuk

kategori yang eutrofik sangat baik dimanfaatkan untuk perikanan, sedangkan yang

oligotrofik lebih ideal dimanfaatkan sebagai reservoir air minum.

Produktivitas primer merupakan laju pengubahan energi matahari melalui

proses fotosintesis menjadi substansi organik yang dilakukan oleh produsen (Odum,

1983; Emberlin, 1983). Produktivitas primer dibedakan atas produktivitas kotor

(bruto) yang merupakan hasil asimilasi total, dan produktivitas bersih (neto).

Produktivitas kotor adalah jumlah total bahan organik yang dihasilkan sedangkan

produktivitas primer bersih merupakan jumlah bahan organik yang tinggal setelah

beberapa darinya dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk mendapatkan energi selama

respirasi (Emberlin, 1983). Pada umumnya produktivitas suatu ekosistem perairan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
dikendalikan oleh kondisi lingkungan, misalnya: radiasi cahaya matahari, konsentrasi

nutrien yang tersedia serta oleh kemampuan fotosintesis spesies fitoplankton yang

ada (Lemusluoto, 1977; Moss, 1980). Laju produktivitas akan tinggi bila faktor-

faktor lingkungan cocok atau optimal. Pengukuran produktivitas primer pada

umumnya didasarkan pada reaksi fotosíntesis.

Untuk mengukur atau menaksir nilai produktivitas primer suatu perairan,

berbagai metoda pengukuran telah ditemukan, dikembangkan dan diperkenalkan oleh

para ahli. Diantara metode tersebut adalah metode panenan, oksigen, karbon dioksida,

klorofil, dan metode isotop dengan menggunakan karbon 14 (Michael, 1984). Metode

panenan cocok untuk ekosistem pertanian, metode botol gelap dan botol terang untuk

pengukuran oksigen, metode pH dan metode klorofil untuk mengukur kadar klorofil,

metode isotop dan metode CO2 cocok untuk ekosistem perairan (http://pustaka.

ut.ac.id/puslata/ online. php, menu = bmpshort_detail2 & ID = 53). Metode yang

umum digunakan di dalam mengukur nilai produktivitas primer adalah metode

oksigen, yang dapat mengukur produktivitasnya secara tidak langsung. Pemilihan

metode ini terutama didasarkan atas sifatnya yang praktis dan mudah dilakukan.

Metode oksigen dengan menggunakan botol terang-gelap pertama sekali dilakukan

oleh Gaarder dan Gran pada tahun 1927 (Odum, 1971).

Ekosistem air yang terdapat di daratan secara umum dapat dibagi 2 yaitu

perairan lentik, atau juga disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa,

waduk, situ, telaga dan sebagainya. Perairan lotik, disebut juga sebagai perairan yang

berarus deras, misalnya sungai, kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaan utama

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
antara perairan lotik dan lentik adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik

mempunyai kecepatan arus yang lambat serta terjadi akumulasi massa air yang

berlangsung dengan cepat (Barus, 2001).

Danau Toba merupakan suatu perairan yang banyak dimanfaatkan di berbagai

sektor, seperti: pertanian, perikanan, pariwisata, perhubungan air, dan merupakan

sumber air minum bagi masyarakat di kawasan Danau Toba. Adanya berbagai

aktivitas manusia di sekitar danau tersebut, sehingga Danau Toba akan mengalami

perubahan-perubahan ekologis di mana kondisinya sudah berbeda dengan kondisi

alaminya dengan kata lain diduga telah mengalami pencemaran.

Makhluk hidup dalam danau, terdapat biota air yang memiliki peranan

penting menjaga keseimbangan ekosistem, biota tersebut adalah fitoplankton.

Fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan penting dalam

ekosistem air, dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosintesis.

Hasil fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan fitoplankton merupakan sumber

nutrisi utama bagi kelompok organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen.

Pada peristiwa fotosintesis dihasilkan energi dengan memanfaatkan sinar matahari

dan senyawa anorganik yang mendukung perairan tersebut.

Produktivitas primer fitoplankton merupakan suatu kondisi perairan di mana

kandungan zat-zat organik yang dapat dihasilkan oleh fitoplankton dari zat-zat

anorganik melalui proses fotosintesis (Parsons, 1984; Nybakken, 1992). Besarnya

produktivitas primer fitoplankton merupakan ukuran kualitas suatu perairan. Semakin

tinggi produktivitas primer fitoplankton suatu perairan semakin besar pula daya

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
dukungnya bagi kehidupan komunitas penghuninya, sebaliknya produktivitas primer

fitoplankton yang rendah menunjukkan daya dukung yang rendah pula.

Cahaya yang berasal dari matahari penting untuk kehidupan makhluk hidup,

hampir semua energi yang menggerakkan dan mengontrol metabolisme di perairan

berasal dari energi matahari yang dikonversi secara biokimia melalui proses

fotosintesis menjadi energi kimia potensial. Laju fotosintesis akan tinggi bila

intensitas cahaya tinggi dan menurun bila intensitas cahaya berkurang, oleh karena itu

cahaya berperan sebagai faktor pembatas utama dalam fotosintesis atau produktivitas

primer yang dilakukan oleh fitoplankton. Dalam rantai makanan di perairan,

kehidupan fitoplankton dipengaruhi oleh biota air lainnya seperti zooplankton

(Manurung, 1992).

Menurut Wetzel dan Linkens (2000), produktivitas adalah semua yang

menyangkut tentang jumlah kenaikan pertumbuhan dari semua hal yang berhubungan

dengan specimen atau bagian dari suatu populasi. Produktivitas adalah semua hal

di suatu perairan yang berhubungan dengan produksi primer, efisiensi makanan,

jumlah rantai makanan dan produksi ikan (Hutabarat, 1998). Produktivitas

zooplankton di perairan mempunyai arti yang sangat penting karena berhubungan

dengan masa hidup zooplankton di mana reproduksi dan tingkat kehilangan atau

pengurangan suatu populasi secara terus menerus merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi keberadaan rantai makanan organisme perairan khususnya

fitoplankton sebagai organisme fotosintetik yang memiliki klorofil. Semakin tinggi

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
konsentrasi klorofil a semakin berlimpah fitoplankton di air tersebut, (United State

Enviromental Protection Agency, http://seawifs, gsfc, nasa,gov/SEA- WIFS, html).

Klorofil adalah kelompok pigmen fotosintesis yang terdapat dalam tumbuhan,

menyerap cahaya merah, biru dan ungu, serta merefleksikan cahaya hijau yang

menyebabkan tumbuhan memperoleh ciri warnanya. Terdapat dalam kloroplas dan

memanfaatkan cahaya yang diserap sebagai energi untuk reaksi-reaksi cahaya dalam

proses fotosintesis. Klorofil a merupakan salah satu bentuk klorofil yang terdapat

pada semua tumbuhan autotrof. Klorofil b terdapat pada ganggang hijau chlorophyta

dan tumbuhan darat. Klorofil c terdapat pada ganggang coklat Phaeophyta serta

diatome Bacillariophyta. Klorofil d terdapat pada ganggang merah Rhodophyta (Rifai

dan Nasution, 1993).

1.2. Permasalahan

Perairan Danau Toba khususnya di sekitar kawasan perairan Balige telah

banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas manusia, antara lain untuk aktivitas

pariwisata, transportasi air, aktivitas rumah tangga dan sebagai areal keramba ikan.

Aktivitas tersebut kemungkinan menyebabkan perubahan kondisi fisik-kimia dan

Produktivitas Primernya, sehingga akan berbengaruh juga terhadap kelangsungan

hidup organisme di dalamnya. Penulis beranggapan terdapat hubungan antara

Produktivitas Primer dengan klorofil-a di perairan Danau Toba Balige, namun sejauh

ini belum diperoleh data dan informasi yang lengkap mengenai “Hubungan Nilai

Produktivitas Primer dengan Konsentrasi Klorofil-a”, sehingga dilakukan suatu

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
penelitian lapangan untuk mengetahui penomena tersebut di atas. Bertitik tolak dari

pentingnya nilai produktivitas primer yang dimiliki oleh suatu badan perairan bagi

kehidupan manusia dan organisme heterotrop yang terdapat di dalamnya, serta belum

pernah dilakukan pengukuran produktivitas primer di perairan Danau Toba Balige,

penelitian ini perlu dilakukan.

1.3. Tujuan

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui hubungan nilai produktivitas primer dengan konsentrasi

klorofil-a di kawasan perairan Danau Toba, Balige.

b. Untuk mengetahui hubungan faktor fisik-kimia perairan terhadap nilai

produktivitas primer di perairan Danau Toba, Balige.

1.4. Hipotesis

a. Ada Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan Konsentrasi Klorofil-a

di perairan Balige, Danau Toba.

b. Ada Hubungan Faktor Fisik-kimia perairan terhadap nilai Produktivitas

Primer perairan Balige, Danau Toba.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
1.5. Manfaat

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Memberikan informasi awal mengenai hubungan nilai Produktivitas Primer

dengan konsentrasi klorofil-a sehingga dapat ditentukan tingkat kesuburan

perairan Danau Toba Balige, Kabupaten Tobasa.

b. Memberikan informasi mengenai hubungan faktor fisik kimia

perairan terhadap nilai Produktivitas Primer di perairan Danau Toba, Balige,

Kabupaten Tobasa.

c. Memberi informasi kondisi kesuburan perairan Danau Toba, Balige

Kabupaten Tobasa.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ekosistem Danau

Danau merupakan ekosistem yang memiliki sumber daya akuatik yang

bermanfaat bagi manusia sehingga harus diperhatikan kelestariannya (Dinas

Perikanan, Daerah Tingkat I Sumatera Utara 1993). Danau Toba termasuk ke dalam

perairan tenang, atau di sebut juga sebagai perairan lentik (Barus, 2001).

Ekosistem air tawar secara umum dibagi atas 2 yaitu perairan lentik (perairan

tenang) misalnya danau dan perairan lotik (perairan mengalir) yaitu sungai.

Perbedaan utama antara perairan lotik dan perairan lentik adalah arus. Di mana arus

pada perairan lentik umumnya sangat lambat sehingga kelihatan seperti air tenang.

Menurut Odum (1994), suatu danau terdiri dari 3 zona yaitu:

a. Zona litoral, yaitu daerah perairan dangkal dengan penetrasi cahaya sampai ke

dasar.

b. Zona limnetik, yaitu daerah air terbuka sampai kedalaman penetrasi cahaya

yang efektif, disebut juga tingkat kompensasi, yaitu daerah di mana

fotosintesa seimbang dengan respirasi.

c. Zona profundal, yaitu merupakan bagian dasar dan daerah air yang dalam,

yang tidak tercapai oleh penetrasi cahaya efektif.

Pembagian danau menurut Payne (1986) & Sumich (1992), atas 3 jenis

berdasarkan keadaan nutrisinya yaitu:

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
a. Danau Oligotrofik, yaitu suatu danau yang mengandung sedikit nutrien (miskin

nutrien), biasanya lebih dalam dan produktivitas primernya rendah. Sedimen pada

bagian dasar kebanyakan mengandung senyawa anorganik dan konsentrasi

oksigen pada bagian hipolimnion tinggi. Walaupun jumlah organisme pada danau

ini rendah tetapi keanekaragaman spesies tinggi.

b. Danau Eutrofik, yaitu suatu danau yang mengandung banyak nutrien (kaya

nutrien), khususnya Nitrat dan Fosfor yang menyebabkan pertumbuhan algae dan

tumbuhan akuatik lainnya meningkat. Dengan demikian produktivitas primer

pada danau ini tinggi dan konsentrasi oksigen rendah. Walaupun jumlah dan

biomassa organisme pada danau ini tinggi tetapi keanekaragaman spesies rendah.

c. Danau Distrofik, yaitu suatu danau yang memperoleh sejumlah bahan-bahan

organik dari luar danau, khususnya senyawa-senyawa asam yang menyebabkan

air berwarna coklat. Produktivitas primer pada danau ini rendah, yang umumnya

berasal dari hasil fotosintesa plankton. Tipe danau distrofik ini juga sedikit

mengandung nutrien dan pada bagian hipolimnion terjadi defisit oksigen. Suatu

danau berlumpur mewakili bentuk danau distrofik ini.

Pada danau juga terjadi stratifikasi termal yang menyebabkan danau terbagi

atas 3 lapisan secara vertikal yaitu lapisan epilimnion (bagian permukaan danau)

di mana air lebih hangat dan tersirkulasi; lapisan mesolimnion (bagian tengah danau)

di mana pada lapisan ini terjadi termoklin dan lapisan hipolimnion (bagian bawah

danau) air lebih dingin (Odum, 1994; Heddy dan Kurniati, 1996).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Perairan danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada

di permukaan bumi. Secara fisik, danau merupakan suatu tempat yang luas yang

mempunyai air yang tetap, jernih atau beragam dengan aliran tertentu (Jorgensen dan

Volleweiden, 1989).

Ruttner (1977) dan Satari (2001) danau adalah suatu badan air alami yang

selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam

dari satu danau ke danau yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang

tinggi. Ekosistem danau termasuk habitat air tawar yang memiliki perairan tenang

yang dicirikan oleh adanya arus yang sangat lambat sekitar 0,1–1 cm/detik atau tidak

ada arus sama sekali. Oleh karena itu residence time (waktu tinggal) air bisa

berlangsung lebih lama.

Odum (1994), pada dasarnya proses terjadinya danau dapat dikelompokkan

menjadi dua yaitu: danau alami dan danau buatan. Danau alami merupakan danau

yang terbentuk sebagai akibat dari kegiatan alamiah, misalnya bencana alam,

kegiatan vulkanik dan kegiatan tektonik. Sedangkan danau buatan adalah danau yang

dibentuk dengan sengaja oleh kegiatan manusia dengan tujuan tujuan tertentu dengan

jalan membuat bendungan pada daerah dataran rendah.

Umumnya perairan danau selalu menerima masukan air dari daerah tangkapan

air di sekitar danau, sehingga perairan danau cenderung menerima bahan-bahan

terlarut yang terangkut bersamaan dengan air yang masuk. Oleh karena itu

konsentrasi zat-zat yang terdapat di danau merupakan resultante dari zat-zat yang

berasal dari aliran air yang masuk (Payne, 1986). Kualitas perairan danau sangat

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
tergantung pada pengelolaan atau pengendalian daerah aliran sungai (DAS) yang

berada di atasnya. Menurut Goldman dan Horne (1983), berdasarkan kandungan hara

(tingkat kesuburan) danau diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu: danau eutrofik, danau

oligotrofik dan danau mesotrofik. Danau eutropik (kadar hara tinggi) merupakan

danau yang memiliki perairan yang dangkal, tumbuhan litoral melimpah, kepadatan

plankton lebih tinggi, sering terjadi blooming alga dengan tingkat penetrasi cahaya

matahari umumnya rendah. Sementara itu, danau oligotropik adalah danau dengan

kadar hara rendah, biasanya memiliki perairan yang dalam, dengan bagian

hipolimnion lebih besar dibandingkan dengan bagian epilimnion.

Semakin dalam danau tersebut semakin tidak subur, tumbuhan litoral jarang

dan kepadatan plankton rendah, tetapi jumlah spesiesnya tinggi. Danau mesotropik

merupakan danau dengan kadar nutrien sedang, juga merupakan peralihan antara

kedua sifat danau eutrofik dan danau oligotrofik. Jorgensen (1990) menambahkan

bahwa tingkat trofik (kesuburan) suatu danau juga dapat dinyatakan berdasarkan

kandungan total nitrogen (TN), total fosfat (TP), klorofil-a dan biomassa

fitoplankton, seperti disajikan pada Tabel 1, dibawah ini.

Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kesuburan Perairan Danau

Total
Biomassa Klorofil a Total Fosfat
Tipe Trofik Nitrogen
Fitoplankton Mg/l (µg/l)
(µg/l)
oligotrofik 10 - 30 0,3 - 3 <250 <5
mesotrofik 100 -300 2 - 15 260 - 600 5 – 10
eutrofik > 300 10 - 500 500 – 1100 10 -30
hipermetrofik - - 500 - 1500 30 - 5000
Sumber: Jorgersen, 1990

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
2.2. Danau Toba

Danau Toba merupakan danau yang terbesar di Sumatera, sumber airnya

berasal dari puluhan sungai yang mengalir dan berasal dari tepi luar Danau Toba dan

Pulau Samosir yang bermuara ke Danau Toba sebagai sumber air permukaan,

mengalir ke sungai Asahan sepanjang 150 Km menyusuri pantai Timur Sumatera

(http://www.google.co.id/search?hl=id&q= Biro Bina Lingkungan Hidup, Bappeda

2000 diakses tanggal 12 Pebruari 2008).

Danau Toba yang terletak pada ketinggian 995 m di atas permukaan laut

merupakan danau terluas di Indonesia yang luasnya sekitar 1129,7 Km2, keliling 194

Km, panjang 87 Km, lebar 31 Km dan kedalaman maksimum 455 m. Danau Toba

berbentuk elips dengan jumlah teluk yang sedikit dan daerah litoralnya sempit,

sehingga produktivitasnya relatif rendah. Keadaan ini didukung oleh pantainya yang

sangat curam, dasar perairan litoral umumnya pasir berbatu dan daerah sekelilingnya

merupakan daerah perbukitan yang gundul (Ruttner, 1977 dalam Tjahjo, et al, 1998).

Secara geografis, Danau Toba terletak antara 980 - 990 BT dan 20 -30 LU.

Bagian yang landai terletak disebelah Tenggara dan Selatan daratan Sumatera, serta

bagian Barat dengan daratan Samosir. Di samping letaknya yang strategis meliputi 7

(tujuh) wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara,

Tobasa, Samosir dan Humbang Hasundutan, faktor alam sekitarnya juga sangat

mendukung keindahan alam kawasan Danau Toba tersebut.

Danau Toba sebagai aset nasional, disamping berfungsi sebagai sumber air

minum bagi masyarakat kawasan Danau Toba dan sekitarnya, juga berfungsi sebagai

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
sumber air yang untuk keperluan pertanian, pengembangbiakan flora dan fauna

danau, suplai air untuk berbagai jenis industri hilir serta sangat potensial dalam

kaitannya dengan pengembangan kepariwisataan di Sumatera Utara (http:// www.

google.co.id/search? Hl=id&q=Biro Bina Lingkungan Hidup, Bappeda 2000 diakses

tanggal 12 Pebruari 2008).

Menurut Damanik (1984) kegiatan penduduk di ekosistem kawasan Danau

Toba baik yang berada ditepi pantai maupun di daratan mempengaruhi kualitas air

danau. Kegiatan pertanian, peternakan, industri, perhotelan memberikan limbah padat

maupun cair, disisi lain kegiatan transportasi air, kerambah jaring apung secara

langsung berdampak negatif terhadap kualitas air. Kegiatan ini berperan

meningkatkan kadar BOD dan COD di perairan, akibatnya kadar DO menurun.

Peningkatan bahan organik air dapat meningkatkan unsur nitrogen, fosfor dan

kalium yang menghasilkan penyuburan perairan sehingga enceng gondok dan

ganggang meningkat. Penggunaan pupuk pestisida di lahan Daerah Tangkapan Air

(DTA) mengakibatkan kadar pestisida, nitrogen fosfor, kalium dan zat organik

lainnya meningkat. Limbah pakan ikan juga menimbulkan pencemaran perairan serta

meningkatnya kadar N, P dan K yang pada akhirnya terjadi eutrofikasi (penyuburan),

faktor lain, terjadinya pembukaan hutan, petani merambah hutan untuk perluasan

areal perladangan dan lahan pertanian menetap. Kebakaran hutan setiap tahun

terutama pada areal hutan muda. Konversi hutan menjadi lahan pertanian akan

mengakibatkan lahan terbuka, sehingga laju erosi dan sedimen yang masuk ke danau

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
meningkat pula (http://tapanuligo. blogspot. Com /2008 /04, diakses tanggal 19-9-

2008).

Nasution mengatakan Ekosistem Kawasan Danau Toba (EKDT) merupakan

habitat berbagai jenis flora dan fauna yang masih liar maupun yang telah

dibudidayakan manusia. Secara umum habitat EKDT dikelompokkan menjadi dua

bagian. Pertama adalah habitat perairan Danau Toba yang terletak di atas tanah

andesit dan leterit yang kekurangan mineral terlarut, memiliki kandungan besi yang

tinggi sedang unsur N, P dan Ca sangat rendah dan yang kedua adalah habitat daratan

berupa Pulau Samosir dan daratan di sekeliling luar danau dalam cakupan Daerah

Tangkapan Air.

Pengaruh kegiatan manusia menjadikannya sebagai ancaman terhadap

keanekaragaman hayati diantaranya pengrusakan habitat karena kebakaran, konversi,

aplikasi pestisida, limbah pakan dan obat-obatan dari budidaya ikan sistem kerambah.

Sitanggang juga menyimpulkan bahwa kondisi hutan Danau Toba sudah habis, tanah

sudah gersang sehingga tanaman andalan masyarakat semakin punah. DTA dengan

luas 370.000 Ha memerlukan pengelolaan yang bijaksana karena aspek dan fungsi

strategis yang dimiliki yaitu ekologis dan ekonomis serta sosial budaya. Saat ini,

masyarakat telah dimiskinkan akibat eksploitasi kawasan Danau Toba. Menyadari

kondisi EKDT, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan pemerintah

kabupaten dan kota di kawasan Danau Toba sepakat membentuk Badan Kordinasi

Pelestarian Ekosistem Kawasan Danau Toba (BPKEKDT).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Tujuan Lake Toba Ecosystem Management Plan (LTEMP) jelas untuk

memelihara dan melindungi ekosisitem kawasan Danau Toba melalui kerjasama,

kemitraan dan tanggung jawab antar-pemangku amanah. Ada tujuh sasaran yang

hendak dicapai yaitu air danau layak dikonsumsi, Danau Toba dapat direnangi

dengan aman, lahan di DTA mempunyai fungsi yang optimal, ikan hasil pertanian

tidak terkontaminasi, air Danau Toba dapat digunakan sebagai sumber tenaga listrik

dan wisata, terpeliharanya ekosistem flora dan fauna serta udara di kawasan EKDT

mendukung kehidupan ekosistem yang sehat (http://tapanuligo. Blog- spot.com/

2008/04/).

2.3. Produktivitas Primer

Setiap ekosistem, atau komunitas, atau bagian-bagiannya memiliki

produktivitas dasar atau disebut Produktivitas Primer. Batasan Produktivitas primer

adalah kecepatan penyimpanan energi potensial oleh organisme produsen, melalui

proses fotosintesis dan kemosintesis dalam bentuk bahan-bahan organik yang dapat

digunakan sebagai bahan pangan. Dapat dikenal pula kategori produktivitas, yaitu:

1. Produktivitas Primer kotor yaitu kecepatan total fotosintesis, mencakup pula

bahan organik yang dipakai untuk respirasi selama pengukuran.

2. Produktivitas Primer bersih, yaitu kecepatan penyimpanan bahan-bahan

organik dalam jaringan tumbuhan, sebagai kelebihan bahan yang dipakai

untuk respirasi oleh tumbuhan itu selama terjadi pengukuran. Kecepatan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
penyimpanan energi potensial pada tingkat tropik konsumen dan pengurai,

disebut Produktivitas Sekunder (Resosoedarmo, 1993).

Cara yang umum dipakai dalam mengukur Produktivitas Primer suatu

perairan adalah dengan menggunakan botol gelap dan botol terang. Botol terang

dipakai untuk mengukur laju potosintesis yang disebut juga sebagai Produktivitas

Primer kotor (= jumlah total sintesis bahan organik yang dihasilkan dengan adanya

cahaya), sementara botol gelap digunakan untuk mengukur laju respirasi.

Produktivitas Primer dapat diukur sebagai produktivitas kotor dan atau Produktivitas

bersih, hubungan diantara keduanya dapat dinyatakan sebagai:

Produktivitas bersih (PN) = Produktivitas Kotor (Pg) – Respirasi (R)

R = (O2)awal – (O2) akhir pada botol gelap

Pg = (O2) akhir pada botol terang – (O2) akhir pada botol gelap

Untuk mengubah nilai mg/l oksigen menjadi mg C/m3, maka nilai dalam mg/l

dikalikan dengan faktor 375,36, hal ini akan menghasilkan mg C/m3 untuk jangka

waktu pengukuran. Untuk mendapatkan nilai produktivitas dalam satuan hari, maka

nilai perjam harus dikalikan dengan 12, mengingat cahaya matahari hanya selama 12

jam per hari (Barus, 2004 ).

Menurut Romimohtarto et al, (2001), proses fotosintesis terjadi baik di atas

permukaan lautan, di darat, di air tawar maupun di dalam laut. Sinar matahari

bergabung dengan komponen-komponen kimiawi dalam air untuk menghasilkan

jaringan tumbuh-tumbuhan hidup dengan reaksi kimia sederhana:

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
cahaya matahari
6CO2 + 6H20 ⎯⎯ ⎯ ⎯ ⎯ ⎯ ⎯⎯→ C6H12O6 + 602
klorofil

Reaksi kimia ini terjadi pada semua organisme fotositetik dan merupakan dasar bagi

semua kehidupan di perairan, kecuali bakteri tertentu dan biota laut yang mampu

berkemosintesis atau membuat makanan tanpa bantuan sinar matahari. Mereka yang

dinamakan Produktivitas Primer, menjadi sumber makanan secara langsung atau

tidak bagi semua konsumen, prosesnya disebut Produksi Primer.

Menurut Michael (1994), dalam Barus (2004), hasil dari proses fotosintesis

yang dilakukan oleh tumbuhan berklorofil disebut sebagai Produktivitas Primer.

Fotositesis yang memainkan peranan sangat penting dalam pengaturan metabolisme

komunitas, sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, konsentrasi

karbondioksida terlarut dan faktor temperatur. Laju fotosintesis bertambah 2–3 kali

lipat untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 10oC. Meskipun demikian, intensitas

sinar dan temperatur yang ekstrim cenderung memiliki pengaruh yang menghambat

laju fotosintesis. Secara sederhana dapat diuraikan bahwa dalam fotosintesis terjadi

proses penyerapan energi cahaya dan karbondioksida serta pelepasan oksigen yang

berupa salah satu produk dari fotosintesis tersebut. Sebagai proses kebalikan dari

fotosintesis dikenal proses respirasi yang meliputi pengambilan oksigen serta

pelepasan karbondioksida dan energi. Apabila cahaya tidak ada maka proses

fotosintesis akan terhambat, sementara aktivitas respirasi terus berlangsung.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Energi matahari yang mencapai bumi sebenarnya merupakan kisaran sempit

dalam spektrum radiasi elektromagnetik. Energi itu mencakup radiasi dengan panjang

gelombang antara 400 nm dan 730 nm (1nm = 10-9 m). Intensitas radiasi yang

mengenai bumi dengan latituda dan dengan musim tahun. Sumbu bumi menyinggung

23,5o terhadap bidang gerak bumi mengitari matahari. Untuk alasan ini, belahan bumi

utara menerima lebih dari 12 jam cahaya matahari selama 6 bulan (kira-kira 21 Maret

sampai 23 September), ketika sumbu bumi menyinggung mengarah kematahari dan

kurang dari 12 jam selama bulan-bulan sisanya ketika sumbu itu menjauh. Situasi

kebalikannya terjadi dibelahan bumi Selatan.

Fenomena ini berakibat keuntungan bersih radiasi matahari selama separuh

tahun dan kerugian bersih selama separuh tahun lagi, dan karena itu menentukan

musim-musimnya. Dengan demikian kita mengharapkan produktivitas hariannya

selama bulan-bulan musim panas dapat menyamai beberapa penelitian yang

dilakukan terhadap produktivitas di daerah tropis (Kimbal, 1999). Cuaca dapat

mempengaruhi Produktivitas Primer melalui tutupan awan, dan secara tidak langsung

melalui suhu. Awan dapat mengurangi penembusan cahaya ke permukaan laut dan

mengurangi kecepatan proses Produktivitas Primer. Pada umumnya Produktivitas

Primer di laut bebas relatif rendah karena jauh dari daratan yang menyediakan zat

hara, faktor volume air yang besar yang mengencerkan kadar zat hara (Romimohtarto

dan Juwana, 2001).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
2.4. Fitoplankton dan Zooplankton

Plankton adalah bagian dari komunitas makhluk hidup di perairan. Komunitas

tumbuhan disebut fitoplankton, dan komunitas dari hewan plankton disebut

zooplankton. Fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan sangat

penting dalam ekosistem air, kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu

melakukan fotosintesis. Dalam ekosistem air hasil fotosintesis yang dilakukan oleh

fitoplankton bersama dengan tumbuhan air lainnya disebut sebagai Produktivitas

primer. Fitoplankton hidup terutama pada lapisan perairan yang mendapat cahaya

matahari yang dibutuhkan untuk melakukan proses fotosintesis.

Kepadatan Zooplankton disuatu perairan lotik jauh lebih sedikit dibandingkan

dengan fitoplankton. Pengaruh kecepatan arus terhadap zooplankton jauh lebih kuat

dibandingkan pada fitoplankton. Di samping itu temperatur yang relatif hangat sangat

mendukung keberadaan fitoplankton (Barus, 2004).

Kecepatan arus menunjukkan korelasi negatif di mana kelimpahan fitoplankton

menurun dengan meningkatnya kecepatan arus. Korelasi terbalik ini mungkin terjadi

karena meningkatnya kecepatan arus, dapat mempertinggi peluang terangkutnya

populasi fitoplankton yang hidupnya melayang ke tempat lain. Sebaliknya pada

kondisi perairan yang relatif tenang di mana kecepatan arus relatif rendah terlihat

kelimpahan fitoplankton relatif tinggi. Perbedaan rata-rata kandungan oksigen terlarut

antar grup pada kelimpahan fitoplankton terjadi karena oksigen terlarut merupakan

produksi dari proses fotosintesa. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi akan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
menghasilkan oksigen yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kelimpahan

fitoplankton yang lebih rendah. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi cenderung

menghasilkan kandungan oksigen yang tinggi sebagai hasil dari proses fotosintesa.

Nielsen (1975); Clark (1977) dalam Widjaja (1994) menambahkan bahwa

peningkatan Produktivitas Primer hasil proses fotosintesis sebanding dengan jumlah

oksigen yang dihasilkan, dan kandungan oksigen terlarut di perairan dapat

memberikan petunjuk tentang tingginya produktivitas primer suatu perairan. Nitrat

memiliki peranan dalam membedakan tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton

dengan perbedaan rata-rata yang signifikan antar grup. Menurut Sumich (1992) dan

Tomascik et al., (1997), peningkatan dan pertumbuhan populasi fitoplankton pada

perairan berhubungan dengan ketersediaan nutrien dan cahaya.

2.5. Hubungan Produktivitas Primer dengan Faktor Fisik Kimia

Menurut Nybakken (1992), sifat fisik kimia perairan sangat penting dalam

ekologi. Bermacam-macam faktor fisik-kimia dapat mempengaruh pertumbuhan

kelangsungan hidup, dan produktivitas tumbuhan teresterial maupun perairan. Faktor-

faktor yang sangat penting bagi tumbuhan tersebut ialah cahaya, suhu, kadar zat-zat

hara. Kisaran suhu di biosfer teresterial dapat mencapai suatu tingkat yang dapat

mempengaruhi produktivitas. Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan faktor

fisik kimia perairan adalah sebagai berikut:

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
1) Suhu

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari

permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman dari

badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi

di badan air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia

dan evaporasi. Selain itu, peningkatan suhu air juga mengakibatkan penurunan

kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995).

Beberapa sifat thermal air seperti panas jenis, nilai kalor penguapan dan nilai

peleburan air mengakibatkan minimnya perubahan suhu air, sehingga variasi suhu air

lebih kecil bila dibandingkan dengan variasi suhu udara. Danau di daerah tropik

mempunyai kisaran suhu tinggi yaitu antara 20o-30oC, dan menunjukkan sedikit

penurunan suhu dengan bertambahnya kedalaman. Perubahan suhu dapat

menghasilkan stratifikasi yang mantap sepanjang tahun, sehingga pada danau yang

amat dalam, cenderung hanya sebagian yang tercampur (Effendi, 2003). Adanya

penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya lapisan air yang

mempunyai suhu yang berbeda. Bagian lapisan yang lebih hangat biasanya berada

pada daerah eufotik, sedangkan lapisan yang lebih dingin biasanya berada di bagian

afotik (bagian bawah).

Menurut Goldman dan Horne (1983), bila pada danau tersebut tidak

mengalami pengadukan oleh angin, maka kolam air danau terbagi menjadi beberapa

lapisan, yaitu: (1) epilimnion, lapisan yang hangat dengan kerapatan jenis air kurang,

(2) hipolimnion, merupakan lapisan yang lebih dingin dengan kerapatan air kurang,

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
dan (3) metalimnion adalah lapisan yang berada antara lapisan epilimnion dan

hipolimnion. Pada daerah metalimnion terdapat lapisan termoklin yaitu lapisan

dimana suhu akan turun sekurang-kurangnya 1oC dalam setiap 1 meter (Jorgensen

dan Volleweiden, 1989). Suhu merupakan controling factor (faktor pengendali) bagi

proses respirasi dan metabolisme biota akuatik yang berlanjut terhadap pertumbuhan

dan proses fisiologi serta siklus reproduksinya (Hutabarat dan Evans, 1984). Suhu

juga dapat mempengaruhi proses dan keseimbangan reaksi kimia yang terjadi dalam

air (Stum dan Morgan, 1981).

Menurut hukum Vant Hoffs dalam Barus (2004), kenaikan temperatur sebesar

10oC (hanya pada kisaran temperatur yang masih ditolerir) akan meningkat laju

metabolisme dari organisme sebesar 2-3 kali lipat, meningkatnya laju metabolisme

akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, sementara dilain pihak dengan

naiknya temperatur akan mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air menjadi

berkurang. Hal ini menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk

melakukan respirasi (Barus, 2004).

Suhu berpengaruh langsung terhadap tumbuhan dan hewan, yakni pada laju

fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat

metabolisme dan siklus reproduksinya. Selain itu suhu juga berpengaruh tidak

langsung terhadap kelarutan CO2 yang digunakan untuk fotosintesis dan kelarutan O2

yang digunakan untuk respirasi hewan-hewan laut.

Daya larut O2 akan berkurang seiring dengan meningkatnya suhu perairan,

suhu yang sesuai mendukung kehidupan fitoplankton berkisar 20o-30oC, sedangkan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
suhu yang baik untuk menumbuhkan plankton adalah 25o-30oC. Pengamatan tentang

suhu secara umum hampir merata di seluruh kolom air. Hal ini dapat dimengerti oleh

karena daerah penelitian masih dikategorikan perairan pantai dan dangkal.

Selanjutnya, seiring dengan semakin besarnya sudut datang matahari, secara

berkelanjutan intensitas cahaya semakin kuat masuk ke kolom perairan. Hal ini

tentunya sangat berpengaruh terhadap aktivitas fitoplankton untuk memperbanyak

diri, sehingga pada kolom air yang mendapat penyinaran yang lebih besar akan

mempunyai jumlah fitoplankton lebih banyak. Oleh karena kedalaman dekat

permukaan mendapatkan penyinaran yang lebih banyak tentunya akan semakin

banyak ditemukan kelimpahan fitoplankton lebih tinggi dari pada kedalam yang lebih

dalam. Hal ini terlihat pada selang waku inkubasi kedua dan ketiga yang

mendapatkan kelimpahan tertinggi pada kedalaman 0 m. Di samping itu pada

kedalaman 0 m intensitas cahaya yang masuk ke perairan sangat cocok untuk

perkembangan fitoplankton, bukan merupakan faktor penghambat, sehingga dengan

kondisi seperti itu fitoplankton cenderung semakin aktif berkembang biak dan

bertahan pada kedalaman 0 m (adanya kesesuaian intensitas cahaya).

2) Penetrasi cahaya dan intensitas cahaya matahari

Menurut Barus (2004) faktor cahaya matahari yang masuk kedalam air akan

mempengaruhi sifat-sifat optis dari air. Sebagian cahaya matahari tersebut akan

diabsorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan keluar dari permukaan air. Dengan

bertambahnya lapisan air intensitas cahaya tersebut akan mengalami perubahan yang

signifikan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Cahaya gelombang

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
pendek merupakan yang paling kuat mengalami pembiasan yang mengakibatkan

kolam air yang jernih akan terlihat berwarna biru dari permukaan. Sedangkan

menurut Haerlina (1987) penetrasi cahaya merupakan faktor pembatas bagi

organisma fotosintetik (fitoplankton) dan juga penetrasi cahaya mempengaruhi

migrasi vertikal harian dan dapat pula mengakibatkan kematian pada organisme

tertentu.

Menurut Nybakken (1992) fotosintesis hanya dapat berlangsung bila

intensitas cahaya yang sampai kesuatu sel alga lebih besar daripada suatu intensitas

tertentu. Cahaya matahari dibutuhkan oleh tumbuhan air (fitoplankton) untuk proses

assimilasi. Besarnya nilai penetrasi cahaya ini dapat diidentikkan dengan kedalaman

air yang memungkinkan masih berlangsungnya proses fotosintesis. Nilai penetrasi

cahaya sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, kekeruhan air serta

kepadatan plankton suatu perairan.

Total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1 µm)

yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 µm. TSS terdiri atas

lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan

tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke

dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air, hal ini menyebabkan menurunnya

laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang

pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan.

Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan melalui

dua cara. Pertama, menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
air, sehingga menghambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air

lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air.

Kedua, secara langsung TDS yang tinggi dapat mengganggu biota perairan seperti

ikan karena tersaring oleh insang.

Nybakken (1992), peningkatan kandungan padatan tersuspensi dalam air

dapat mengakibatkan penurunan kedalaman eufotik, sehingga kedalaman perairan

produktif menjadi turun. Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam

analisis perairan tercemar dan buangan serta dapat digunakan untuk mengevaluasi

kekuatan air, buangan domestik, maupun menentukan efisiensi unit pengolahan.

Padatan tersuspensi mempengaruhi kekeruhan dan kecerahan air. Oleh karena itu

pengendapan dan pembusukan bahan-bahan organik dapat mengurangi nilai guna

perairan.

Total padatan terlarut merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak

tersaring dengan kertas saring millipore dengan ukuran pori 0,45 µm. Padatan ini

terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral

dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik

berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering

mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air

buangan rumah tangga dan industri pencucian yang mengakibatkan kekeruhan air.

Mahida (1993) mendefinisikan kekeruhan sebagai intensitas kegelapan

di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan

umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat,

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
lumpur, bahan-bahan organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya.

Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan

banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat

dalam air (Davis dan Cornwell, 1991).

Kekeruhan yang terjadi pada perairan tergenang seperti danau lebih banyak

disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan parikel-partikel halus.

Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi

seperti pernafasan dan daya lihat organisme akuatik serta dapat menghambat

penetrasi cahaya ke dalam air. Menurut Koesbiono (1989), pengaruh kekeruhan yang

utama adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga aktivitas

fotosintesis fitoplankton dan alga menurun, akibatnya produktivitas perairan menjadi

turun. Di samping itu Effendi (2003), menyatakan bahwa tingginya nilai kekeruhan

juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi

pada proses penjernihan air.

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara

visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi, 2003). Kecerahan perairan sangat

dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikel-partikel

dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat

mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat

menurunkan nilai produktivitas perairan (Nybakken, 1992).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3) pH air (derajat keasaman)

pH merupakan suatu ekspresi dari konsentarsi ion hidrogen (H+) di dalam air.

Biasanya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentasi ion H, pH sangat penting

sebagai parameter kualitas air, karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi

beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan makhluk-makhluk akuatik lainnya hidup

pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu

apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjung kehidupan organisme air (Rifai

dan Nasution 1993).

Organisme dapat hidup dalam suatu perairan yang mempuyai nilai pH netral

dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi

kehidupan organisme air pada umumnya sangat basa akan membahayakan

kelangsungan hidup organisme, karena akan menyebabkan terjadinya gangguan

metabolisme dan respirasi (Barus, 2004). Derajat keasaman perairan tawar berkisar 5

sampai 10 (Dirjen DIKTI Depdikbut, 1994), jika pH di bawah 5 mengakibatkan

perkembangan alga biru pada perairan itu akan sangat jarang (Shubert, 1984).

Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter yang dapat

menentukan produktivitas suatu perairan. Setiap organisme membutuhkan derajat

keasaman (pH) yang optimum bagi kehidupannya. Prescott (1973) mengatakan

bahwa batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi bergantung pada faktor

fisika, kimia dan biologi. pH yang ideal untuk kehidupan fitoplankton berkisar antara

6,5 – 8,0.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen

dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat

keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral,

pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi

perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan

menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam

karbonat menaikkan keasaman suatu perairan.

Sejalan dengan pernyataan tersebut Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah

buangan industri dan rumah tangga dapat mempengaruhi nilai pH perairan. Nilai pH

dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan toksisitas dari unsur-unsur renik

yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat toksik banyak ditemui

di perairan tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah. Selain itu, pH juga

mempengaruhi nilai BOD5, fosfat, nitrogen dan nutrien lainnya (Dojildo dan Best,

1992).

4) Dissolved oxygen (DO)

Oksigen diperlukan oleh organisme air untuk menghasilkan energi yang

sangat penting bagi proses pencernaan dan asimilasi makanan pemeliharaan

keseimbangan osmotik, dan aktivitas lainnya. Jika persediaan oksigen terlarut

di perairan sangat sedikit maka perairan tersebut tidak baik bagi ikan, mahluk hidup

lain yang hidup di perairan, karena akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan

organisme air tersebut. Kandungan oksigen terlarut minimum 2 mg/l sudah cukup

mendukung kehidupan organisme perairan secara normal (Wardana, 1995).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Pengaruh oksigen terlarut terhadap fisiologis air terutama adalah dalam proses

respirasi. Konsentrasi oksigen terlarut hanya berpengaruh secara nyata terhadap

organisme air yang memang tidak mutlak membutuhkan kosigen terlarut untuk

respirasinya. Konsumsi oksigen bagi organisme air berfluktuasi mengikuti proses-

proses hidup yang laluinya. Pada umumnya komsumsi oksigen bagi organisme air ini

akan mencapai maksimum pada masa-masa reproduksi berlangsung. Konsumsi

oksigen juga dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen terlarut itu sendiri (Barus, 2004:

57).

Oksigen terlarut adalah gas oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen terlarut

dalam perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur metabolisme tubuh

organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber oksigen terlarut dalam air

berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air

hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan

Olem, 1994).

Di perairan danau, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh fotosintesis alga yang

banyak terdapat pada zone epilimnion, sedangkan pada perairan tergenang yang

dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan oksigen

lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Keberadaan oksigen

terlarut di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan

atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian,

dan berkurangnya tekanan atmosfer Jeffries and Mills, (1996) dapat dilihat pada

Tabel 2, berikut ini.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Tabel 2. Status Kualitas Air Berdasarkan Kadar Oksigen Terlarut

No Kadar Oksigen Status Kualitas Air


Terlarut (mg/l)
1 > 6,5 Tidak tercemar sampai tercemar sangat ringan
2 4,5 – 6,4 Tercemar ringan
3 2,0 – 4,4 Tercemar sedang
4 < 2,0 Tercemar berat
Sumber: Jeffries/Mills, 1996

Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air disebabkan

karena adanya zat pencemar yang dapat mengkonsumsi oksigen. Zat pencemar

tersebut terutama terdiri dari bahan-bahan organik dan non organik yang berasal dari

berbagai sumber, seperti kotoran (hewan dan manusia), sampah organik, bahan-bahan

buangan dari industri dan rumah tangga. Menurut Connel dan Miller (1995), di mana

sebagian besar dari zat pencemar yang menyebabkan oksigen terlarut berkurang

adalah limbah organik.

5) Biochemical Oxygen Demand (BOD)

BOD (kebutuhan oksigen biologis) adalah jumlah kebutuhan oksigen yang

dibutuhkan oleh organisme dalam lingkungan air, pengukuran BOD didasarkan

kepada kemampuan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik, artinya

hanya terhadap senyawa yang terdapat yang mudah diuraikan secara biologis seperti

senyawa yang terdapat dalam rumah tangga. Untuk produk-produk kimiawi, seperti

senyawa minyak dan buangan kimia lainnya akan sangat sulit dan bahkan tidak bisa

diuraikan oleh mikroorganisme (Barus, 2004).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BOD5 merupakan salah satu indikator pencemaran organik pada suatu

perairan. Perairan dengan nilai BOD5 tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut

tercemar oleh bahan organik. Bahan organik akan distabilkan secara biologi dengan

melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik.

Oksidasi aerobik dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut

di perairan sampai pada tingkat terendah, sehingga kondisi perairan menjadi anaerob

yang dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik. PP Nomor 82 Tahun 2001

menyatakan bahwa tingkat pencemaran suatu perairan dapat dinilai berdasarkan nilai

BOD5-nya, seperti disajikan pada Tabel 3, di bawah ini;

Tabel 3. Status Kualitas Air Berdasarkan Nilai BOD5

No Nilai BOD5 Status Kualitas Air


1 2 mg/l Kelas I (bahan baku air minum)
2 3 mg/l Kelas II (Prasarana/sarana rekreasi)
3 6 mg/l Kelas III (Pembudidayaan Ikan air tawar)
4 12 mg/l Kelas IV (Mengairi pertamanan)
Sumber: PP Nomor 82 Tahun 2001

Selain BOD5, kadar bahan organik juga dapat diketahui melalui nilai COD.

Effendi (2003) menggambarkan COD sebagai jumlah total oksigen yang dibutuhkan

untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi

secara biologi maupun yang sukar didegradasi menjadi CO2 dan H2O, di mana

berdasarkan kemampuan oksidasi, penentuan nilai COD dianggap paling baik dalam

menggambarkan keberadaan bahan organik baik yang dapat didekomposisi secara

biologis maupun yang tidak.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
6) Chemycal Oxygen Demand (COD)

COD merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi

kimia yang dinyatakan dalam mg O2/l. Dengan mengukur nilai COD maka akan

diperoleh nilai yang menyatakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk proses

oksidasi terhadap total senyawa organik baik yang mudah diuraikan secara biologis

maupun terhadap yang sukar atau tidak bisa diuraikan sacara biologis (Barus, 2004).

7) Kandungan Nitrat dan Fosfat

Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat

tumbuh dan berkembang, sementara nitrit merupakan senyawa toksik yang dapat

mematikan organisma air. Keberadaan nitrat diperairan sangat dipengaruhi oleh

buangan yang dapat berasal dari industri, bahan peledak, pirotehnik dan pemupukan.

Secara alamiah kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi

sekali dalam air tanah didaerah yang diberi pupuk nitrat/nitrogen (Alaerts, 1987).

Nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2-, NO3-, NH3 dan NH4+

serta sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks (Haryadi, 2003). Sumber

nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80% dalam bentuk nitrogen bebas yang

masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik. Menurut Chester

(1990), keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik.

Nitrogen anorganik terdiri atas ion nitrit (NO2-), ion nitrat (NO3-), ammonia (NH3),

ion ammonium (NH4 +) dan molekul N2 yang larut dalam air, sedangkan nitrogen

organik berupa protein, asam amino dan urea akan mengendap dalam air. Effendi

(2003) menyatakan bahwa bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transformasi

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
(ada yang melibatkan mikrobiologi dan ada yang tidak) sebagai bagian dari siklus

nitrogen. Transformasi nitrogen secara mikrobiologi mencakup hal-hal sebagai

berikut:

1. Asimilasi nitrogen anorganik (nitrat dan ammonium) oleh tumbuhan dan

mikroorganisme (bakteri autorof) untuk membentuk nitrogen organik

misalnya asam amino dan protein.

2. Fiksasi gas nitrogen menjadi ammonia dan nitrogen organik oleh mikro

organisme Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa

jenis alga Cyanophyta (alga biru) dan bakteri.

N2 + 3 H2 ⇔ 2 NH3 (ammonia); atau NH4+ (ion ammonium).

Ion ammonium yang tidak berbahaya adalah bentuk nitrogen hasil hidrolisis ammonia

yang berlangsung dalam kesetimbangan seperti reaksi berikut:

H2O + NH3 ⇔ NH4OH ⇔ NH4+ + OH-

Kondisi pada pH tinggi (suasana basa) akan menyebabkan ion ammonium menjadi

ammonium hidroksida yang tidak berdisosiasi dan bersifat racun (Goldman

and Horne, 1983).

3. Nitrifikasi yaitu oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat dapat dilakukan

oleh bakteri aerob. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan

berkurang secara nyata pada pH < 7:

NH4+ + 3/2 O2 Nitrosomonas 2 H+ + NO2- + H2O

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
NO2- + ½ O2 Nitrosobacter NO3-

Hasil oksidasi ini sangat reaktif dan mudah sekali larut, sehingga dapat langsung

digunakan dalam proses biologis (Hendersen dan Markland, 1987).

4. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan ammonia selama proses

dekomposisi bahan organik. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan

jamur yang membutuhkan oksigen untuk mengubah senyawaan organik

menjadi karbondioksida (Hendersend dan Markland, 1987). Selain itu,

autolisasi atau pecahnya sel dan ekskresi ammonia oleh zooplankton dan ikan

juga berperan sebagai pemasok ammonia.

5. Denitrifikasi yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit (NO2-), dinitrogen oksida

(N2O) dan molekul nitrogen (N2). Proses reduksi nitrat berjalan optimal pada

kondisi anoksik (tak ada oksigen). Dinitrogen oksida (N2O) adalah produk

utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah,

sedangkan molekul nitrogen (N2) adalah produk utama dari proses

denitrifikasi pada kondisi anaerob. Proses denitrifikasi akan berkurang atau

lambat pada kondisi pH dan suhu rendah, tetapi akan berjalan optimum pada

suhu rata-rata danau pada umumnya. Kondisi anaerob di sedimen membuat

proses denitrifikasi lebih besar, yaitu dengan laju rata -rata 1 mg/l/hari

(Jorgensen, 1990).

Kadar nitrogen yang tinggi dalam perairan dapat merangsang pertumbuhan

algae secara tak terkendali (blooming). Konsentrasi nitrogen organik di perairan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
berkisar 0,1 sampai 5 mg/l, sedangkan di perairan tercemar berat kadar nitrogen bisa

mencapai 100 mg/l (Dojlido dan Best, 1992). Konsentrasi nitrit yang tinggi dapat

menyebabkan perairan menjadi tercemar. Schmit (1978) dalam Wardoyo (1989)

menyatakan bahwa pencemaran perairan dapat dinilai berdasarkan kandungan

nitritnya, seperti Tabel 4, di bawah ini:

Tabel 4. Status Kualitas Air Berdasarkan Kandungan Nitrit

No Kadar Nitrit (mg/l) Status Kualitas Air


1 0,001 > 0,003 Tidak tercemar sampai tercemar sangat ringan
2 0,003 – 0,014 Tercemar sedang
3 0,014 < Tercemar berat
Sumber: Schmit, 1978 dalam Wardoyo, 1989

Keberadaan fosfor di perairan adalah sangat penting terutama berfungsi dalam

pembentukan protein dan proses metabolisme bagi organisme. Fosfor juga berperan

dalam transfer energi di dalam sel misalnya adenosine triphosfate (ATP) dan

adenosine diphosfate (ADP). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam

ortofosfat adalah bentuk yang paling sederhana di perairan (Boyd, 1982). Reaksi

ionisasi ortofosfat ditunjukkan dalam persamaan berikut:

H3PO4 ⇔ H+ + H2PO4-
H2PO4- ⇔ H+ + HPO42-
HPO4- ⇔ H+ + PO43-

Fosfor dalam perairan tawar ataupun air limbah pada umumnya dalam bentuk fosfat,

yaitu ortofosfat, fosfat terkondensasi seperti pirofosfat (P2O74-), metafosfat (P3O93-)

dan polifosfat (P4O136- dan P3O105-) serta fosfat yang terikat secara organik (adenosin

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
monofosfat), senyawaan ini berada sebagai larutan, partikel atau detritus atau berada

di dalam tubuh organisme akuatik (Fergusson, M.N, 1996).

Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan secara langsung

oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk

ortofosfat terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor.

Menurut Perkins (1974), kandungan fosfat yang terdapat di perairan umumnya tidak

lebih dari 0,1 mg/l, kecuali pada perairan yang menerima limbah dari rumah tangga

dan industri tertentu, serta dari daerah pertanian yang mendapat pemupukan fosfat.

Oleh karena itu, perairan yang mengandung kadar fosfat yang cukup tinggi melebihi

kebutuhan normal organisme akuatik akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi.

2.6. Klorofil -a

Ada dua macam klorofil yang terdapat pada tanaman dan alga hijau, yaitu

klorofil- a dan klorofil- b. Kedua klorofil tersebut menyerap cahaya paling kuat pada

spectrum merah dan ungu. Cahaya hijau hanya sedikit sekali yang diserap, oleh

karena itu pada saat cahaya menyinari klorofil yang memiliki struktur seperti daun,

cahaya hijau diteruskan dan dipantulkan sehingga struktur khlorofil kelihatan

berwarna hijau. Klorofil adalah pigmen hijau yang terdapat pada tumbuhan. Klorofil-

a adalah tipe klorofil yang paling umum dari tumbuhan, kegunaannya bagi tanaman

adalah untuk fotosintesis.

Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan

beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi

yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting

bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar

oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi

melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof.

Pada tanaman fotosintetik terjadi proses fotosintesis, di mana tanaman ini

memiliki kolofil yang merupakan pigmen fotosintetik. Pigmen fotosintetik ini

berfungsi menyerap cahaya merah dan biru, serta memantulkan cahaya hijau.

Klorofil terdiri dari klorofil-a dan klorofil-b, klorofil -b berfungsi menyerap energi

foton cahaya matahari kemudian menyalurkannya ke klorofil-a. Bagan reaksi kimia

fotosintesis:

Cahaya Matahari

6CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6O2

Klorofil

Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan

produktivitas primer di perairan. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a

sangat terkait dengan kondisi geografis suatu perairan. Beberapa parameter fisik-

kimia yang mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a, adalah intensitas

cahaya, nutrien. Perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung

merupakan penyebab bervariasinya Produktivitas Primer di beberapa tempat di laut.

Selain itu “grazing” juga memiliki peran besar dalam mengontrol konsentrasi

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
klorofil-a di perairan (Sverdrup et al., 1961; Riley dan Skirrow, 1975; Parsons et al.,

1984).

Umumnya sebaran konsentrasi klorofil-a tinggi di perairan pantai sebagai

akibat dari tingginya suplai nutrien yang berasal dari daratan melalui limpasan air

sungai, sebaliknya cenderung rendah di daerah lepas pantai. Meskipun demikian pada

beberapa tempat masih ditemukan konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi, meskipun

jauh dari daratan. Keadaan tersebut disebabkan oleh adanya proses sirkulasi massa air

yang memungkinkan terangkutnya sejumlah nutrien dari tempat lain, seperti yang

terjadi pada daerah arus naik.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BAB III

BAHAN DAN METODA

Penelitian ini dilakukan di Perairan Danau Toba Kecamatan Balige,

Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara (Lampiran 1). Berdasarkan rona lingkungan yang

ada ditetapkan 4 stasiun pengamatan yang berbeda. Perairan ini banyak digunakan

untuk berbagai aktivitas masyarakat antara lain: Transportasi air, budidaya ikan,

pariwisata, perhotelan, pemukiman penduduk, peternakan dan pertanian (Gambar 1).

Gambar 1. Kawasan Perairan Danau Toba Balige dengan Perumahan


Penduduk di Sekitarnya

3.1. Deskripsi Setiap Stasiun Pengamatan

a. Stasiun I

Stasiun ini secara geografis terletak pada titik 2o20′09,7″LU dan 99o 03′39,2

″BT. Pada lokasi daerah ini merupakan Dermaga Kapal yang datang dari Nainggolan,

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Muara, Sigaol, Panamean, Porsea bahkan dari Parapat. Di sekitar pelabuhan ini

banyak dijumpai eceng gondok dan sepanjang pinggiran lokasi ini terdapat

pemukiman penduduk di mana setiap hari Jumat pesisir ini dijadikan Pekan. Dari

pantauan terhadap permukaan air banyak ditemukan sampah berupa limbah organik

yang berasal dari rumah tangga, perhotelan, pekan, paret dan limbah berupa minyak

yang berasal dari kapal-kapal yang sandar (Gambar 2).

Gambar 2. Dermaga Kapal, Stasiun Pengamatan 1 yang Disinggahi Kapal yang


Datang dari Muara, Porsea, Nainggolan dan dari Ajibata Parapat

b. Stasiun II

Stasiun ini secara geografis terletak pada titik 2o20′42,2″LU dan

99o03′59,3″BT. Pada lokasi ini banyak ditemukan usaha peternakan ikan dalam

bentuk keramba yang dimiliki oleh penduduk Lumban Bulbul. Di sekitar lokasi ini

juga ditemukan pemukiman penduduk berikut persawahan, mereka secara langsung

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
membuang limbahnya ke danau dan sekitar perairan ini banyak ditemukan eceng

gondok dan tumbuhan hydrilla. Lokasi ini juga didominasi oleh substrat berlumpur

dan sedikit pasir, diperkirakan terindikasi tercemar limbah domestik dan pakan ikan

yang terlarut masuk kedalam perairan Danau Toba (Gambar 3).

Gambar 3. Lumban Bulbul dengan Deretan Keramba Ikan Milik Penduduk

c. Stasiun III

Stasiun ini secara geografis terletak pada titik 2o20′56,2″ LU dan

99o,02′34,1″BT. Pada lokasi yang berdekatan dengan pemukiman penduduk

di Lumban Silintong/Lumban Binanga dengan daerah pemandian untuk wisata,

dengan banyak dibangun pondok-pondok untuk bersantai dan makan. Lokasi ini juga

ditemukan eceng gondok dan hydrilla beserta tumbuhan lainnya. Lokasi ini

diperkirakan terindikasi tercemar limbah domestik yang masuk kedalam perairan

Danau Toba (Gambar 4).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Gambar 4. Lumban Binanga/Silintong Kawasan Wisata dengan Pondok Santai
yang Ada di Tepi Danau

d. Stasiun IV

Stasiun ini secara geografis terletak pada titik 2o 21′ ,38,3″LU dan 99o 01′30,7

″ BT. Stasiun IV merupakan lokasi kontrol yaitu di Tara Bunga, di mana pada daerah

ini cukup jernih dan jauh dari pemukiman penduduk dan didominasi juga oleh

substrat pasir berbatu. Lokasi ini jauh dari aktivitas penduduk berada di sekitar Tara

Bunga (Gambar 5).

Gambar 5. Tara Bunga Merupakan Stasiun Pengamatan 4 dengan Keadaan Air


yang Sangat Jernih

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.2. Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 sampai Januari

2009 di empat stasiun pengamatan yang berbeda di Perairan Danau Toba Balige, Kab.

Tobasa, Sumatera Utara. Stasiun I adalah pada 2o 20′ 09,7″LU dan 99o 03′ 39,2″ BT,

Stasiun II adalah 2o 20′ 42,2″ LU dan 99o 03′ 59,3″ BT, stasiun III adalah pada 2o

20′56,2″ LU dan 99o 02′ 34,1″BT, Stasiun IV adalah pada 2o 21′ 38,3″LU dan 99o 01′

30,7 ″ BT (Lampiran 1). Pada masing-masing stasiun dilakukan inkubasi selama 6

jam dengan lokasi seperti peta satelit di bawah ini (Gambar 6).

Lokasi Penelitian

L .2
L.4
L .3 L .1

Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian di Perairan Danau Toba Balige pada 4 Titik
Pengamatan

Keterangan gambar:
L1 : Lokasi 1 (Sekitar Dermaga Balige)
L2 : Lokasi 2 (Lumban Bulbul)
L3 : Lokasi 3 (Lumban Silintong/Lumban Binanga)
L4 : Lokasi 4 (Tara Bunga)

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.3. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah pH meter,

termometer, keping sechii, Lamnot, Eikman Grab, botol Winkler gelap dan terang,

pipet tetes, erlenmeyer 125 ml, split, ember 5 liter, botol film, aluminium foil, termos

es, plastik 5 kg, lakban, botol alkohol dan GPS. Bahan yang digunakan adalah

MnSO4, KOH-KI, H2SO4, Na2S2O3, alkohol dan amilum.

3.4. Metoda Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 di Balige Danau Toba,

Kecamatan Balige Pekan, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Penentuan Lokasi

penelitian dilakukan dengan menggunakan metode “Purpossive Sampling” yaitu

dengan menentukan 4 stasiun pengukuran. Pada setiap stasiun dilakukan 3 ulangan,

pada 3 kedalaman yaitu 0 m (permukaan), 5 m dan 10 m.

3.5. Pengamatan di Lapangan

3.5.1. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan ember ukuran 5 liter

untuk kedalaman 0 m, pengambilan sampel air untuk kedalaman 5 m dan 10 m

dilakukan dengan menggunakan Tabung Lamnot dengan ulangan masing-masing

kedalaman sebanyak dua puluh kali. Pada pengambilan sampel air diupayakan tidak

terjadi goncangan pada permukaan air, hal ini bertujuan supaya tidak terjadi

percampuran air permukaan dengan air di kedalaman 5 m dan 10 m (Lampiran 14).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.5.2. Produktivitas Primer

Untuk pengukuran produktivitas primer dilakukan dengan menggunakan

reagen-reagen kimia sesuai dengan metode winkler dan disesuaikan dengan rumus

produktivitas primer. Pengukuran nilai produktivitas primer dilakukan dengan

menggunakan botol Winkler gelap dan terang. Sampel air yang diambil, terlebih

dahulu diukur DO awal sebelum diinkubasi, sampel dimasukkan ke dalam 3 botol

winkler gelap dan 3 botol winkler terang dengan volume yang sama sebagai ulangan

untuk masing-masing stasiun pengamatan. Kemudian diinkubasi dalam kedalaman

yang berbeda yakni 0 m (permukaan), 5 m dan 10 m selama 6 jam secara bersamaan

(Gambar 7).

Gambar 7. Penanaman Botol Terang/Gelap pada Setiap Kedalaman Selama 6


Jam

Penentuan kedalaman didasarkan pada batas penetrasi cahaya di mana setelah

dilakukan survey pada lokasi penelitian diperoleh batas penetrasi cahaya sebesar 10

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
m. Botol-botol winkler gelap dan terang yang telah diinkubasi selama 6 jam diangkat

pada tiap stasiun dan dihitung nilai oksigen terlarutnya dengan menggunakan metode

winkler, kemudian dihitung nilai produktivitasnya (Lampiran 8 dan 9).

3.5.3. Pengukuran Konsentrasi Klorofil a

Sampel air diambil dari setiap kedalaman masing-masing sebanyak 1000 ml,

kemudian dibawa ke laboratorim Struktur Perkembangan Tumbuhan Biologi FMIPA

USU kemudian diukur konsentrasi klorofil-a dengan menggunakan spektrofotometer.

Alur kerja dapat kita lihat pada Lampiran 7.

3.5.4. Pengukuran Faktor Fisik-Kimia Perairan

Faktor fisik-kimia perairan yang diukur adalah temperatur, penetrasi cahaya,

pH air, intensitas cahaya, BOD5, COD, DO, kejenuhan oksigen, kandungan nitrat dan

fosfat.

3.5.4.1.Temperatur air

Temperatur air (oC) diukur dengan termometer merkuri, yakni dengan cara

mencelupkan termometer ke dalam sampel air 10 menit lalu dibaca skala suhunya dan

dicatat.

3.5.4.2.Penetrasi cahaya

Untuk pengukuran penetrasi cahaya menggunakan keping sechii. Keping

sechii dimasukkan kedalam danau, sampai pada batas keping sechii tersebut tidak

kelihatan, kemudian diukur panjang talinya.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.5.4.3.pH air

Untuk pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter. Diambil

satu ember dari sampel air kemudian dimasukkan pH meter kedalamnya, lalu dibaca

nilainya dan dicatat.

3.5.4.4.Intensitas cahaya

Intensitas cahaya matahari diukur dengan menggunakan lux meter yang

diletakkan kearah datangnya cahaya matahari yang lebih banyak tersinari. Lalu

ditunggu sampai skala yang ditunjukkan oleh lux meter stabil, lalu dicatat skala yang

ditunjukkan tersebut.

3.5.4.5.BOD5

Pengukuran BOD5 dilakukan dengan menggunakan metode Winkler. Sampel

yang diambil dari setiap kedalaman dimasukkan kedalam botol Winkler kemudian

dibawa kelaboratorium. Diinkubasi pada suhu 20oC selama 5 hari, setelah itu

dilakukan pengukuran oksigen terlarut. Alur kerja BOD5 dapat dilihat di Lampiran 4.

3.5.4.6.Chemical oxygen demand (COD)

Pengukuran COD dilakukan dengan menggunakan metode Winkler. Sampel

yang diambil dari setiap kedalaman dimasukkan kedalam botol Winkler kemudian

dibawa ke laboratorium (Lampiran 12).

3.5.4.7.Oksigen terlarut (DO)

Untuk pengukuran DO dilakukan dengan metode winkler dengan

menggunakan reagen-reagen kimia yaitu MnSO4, KOH-KI, H2SO4, Na2S2O3, dan

amilum. Alur kerja DO dapat dilihat pada Lampiran 2.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3.5.4.8.Kejenuhan oksigen

Untuk menghitung nilai kejenuhan oksigen digunakan rumus:

O 2(u )
Kejenuhan (%) = x 100%
O 2(t )

Keterangan:

O2 (u) = Nilai konsentrasi oksigen yang diukur (mg/l)

O2 (t) = Nilai konsentrasi oksigen sebenarnya (pada tabel) sesuai dengan harga

temperatur. Hasil perhitungan Kejenuhan Oksigen ada pada Lampiran 13.

3.5.4.9.Kandungan Nitrat

Pengukuran nilai Nitrat diukur dengan menggunakan metoda Winkler.

Sampel air yang diambil dari setiap kedalaman dimasukkan kedalam botol Winkler,

dibawa ke laboratorium Uji Mutu -LP- USU, kemudian dihitung nilai Nitrat. Alur

kerja terlampir (Lampiran 5).

3.5.4.10.Kandungan fosfat

Pengukuran nilai Fosfat diukur dengan menggunakan metoda Winkler.

Sampel air yang diambil dari setiap kedalaman dimasukkan kedalam botol Winkler,

dibawa ke laboratorium Uji Mutu -LP- USU, kemudian dihitung nilai Fosfat. Alur

kerja terlampir (Lampiran 5 dan Lampiran 6).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Tabel 5. Alat dan Satuan yang Dipergunakan dalam Pengukuran Faktor
Fisik-Kimia Perairan

Parameter
No Fisik – Kimia- Satuan Alat Tempat Pengukuran
Biologi
1 Temperatur Air °C Termometer Air In - situ
Raksa
2 Penetrasi Cahaya cm Keping Sechii In - situ
3 Intensitas cahaya Can- Lux meter In - situ
della
4 BOD5 mg/l Metoda Winkler Lab.Kimia Puslit USU
dan inkubasi
5 COD mg/l Metoda Winkler Lab.Kimia Puslit USU
6 pH Air - pH meter In - situ
7 DO mg/l Metoda Winkler In - situ
8 PP mg/l Metoda Winkler In - situ
9 Kejenuhan Oksigen % - In - situ
10 Nitrat mg/l Spektrofotometri Lab.Uji Mutu-LP USU
11 Fosfat mg/l Spektrofotometri Lab.Uji Mutu-LP USU
12 Klorofil a mg/m3 Spektrofotometri Lab.Kimia Puslit USU

3.6. Analisis Data

Data yang diperoleh diolah dengan menghitung Nilai Produktivitas Primer,

Klorofil -a, Kejenuhan Oksigen, dengan Analisis of varians (ANOVA).

3.6.1. Rumus Menghitung Nilai Produktivitas Primer (PP)

Cara yang umum dipakai untuk mengukur nilai Produktivitas Primer suatu

perairan adalah menggunakan botol terang dan gelap. Produktivitas Primer dapat

diukur sebagai Produktivitas kotor dan Produktivitas bersih. Hubungan diantara

keduanya dapat dinyatakan sebagai berikut:

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Produktivitas bersih (PN) = Produktivitas Kotor (PG) – Respirasi (R)

Keterangan:

R = (O2) awal – (O2) akhir pada botol gelap


Pg = (O2) akhir pada botol terang – (O2) akhir pada botol gelap

Untuk mengubah nilai mg/l oksigen menjadi mg C/m3, maka nilai dalam mg/l

dikalikan dengan faktor 375,36, hal ini akan menghasilkan mg C/m3 untuk jangka

waktu pengukuran. Untuk mendapatkan nilai produktivitas dalam satuan hari, maka

nilai perjam harus dikalikan dengan 12, mengingat cahaya matahari hanya selama 12

jam per hari (Barus, 2004).

3.6.2. Rumus Menghitung Klorofil -a

Untuk menghitung konsentrasi klorofil a digunakan rumus:

Klorofil a (mg/m3) = (11,0)(2,43)(A1 – A2)(V1/V2)/d

Dengan catatan:

11,0 = koefisien absorsi


2,43 = faktor koreksi
A1 = absorbsi klorofil a dan pheophytin sampel
A2 = absorban sampel yang disaring (m3)
V1 = volume ekstrak aseton (liter)
V2 = volume sampel yang disaring (m3)
D = Diameter kuvet (cm nilai A1 dan A2 terlebih dahulu
dikoreksi dengan mengurangkan dari absorban blanko
730 nm (Sugianto, 2004).

3.6.3. Kejenuhan Oksigen

Untuk menghitung nilai kejenuhan oksigen digunakan rumus:

O 2(u )
Kejenuhan (%) = x 100%
O 2(t )

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
O2 (u) = Nilai konsentrasi oksigen yang diukur (mg/l)
O2 (t) = Nilai konsentrasi oksigen sebenarnya (pada tabel) sesuai dengan harga
temperatur. Tabel Nilai oksigen terlarut maksimum dapat dilihat pada
Lampiran 3.

3.6.4. Uji F/Analisis of Varians

Uji F dilakukan dengan menggunakan metode komputerisasi SPSS Ver.16.

Pada kasus ini uji ANOVA satu faktor digunakan untuk melihat apakah ada

perbedaan yang nyata antara PP di antara stasiun dan kedalaman.

3.7. Analisis Korelasi Pearson

Analisis Korelasi Pearson dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi

pearson SPSS Ver.16.00 (Santoso, S. 2005). Uji ini merupakan uji statistik untuk

mengetahui korelasi antara faktor fisik kimia perairan dengan nilai Produktivitas

Primer. Menurut Sugiyono (2005), menyatakan nilai indeks korelasi sebagai berikut

pada Tabel 6:

Tabel 6. Interval Korelasi dan Tingkat Hubungan Antar Faktor

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00 - 0,199 Sangat Rendah
0,20 - 0,399 Rendah
0,40 - 5,99 Sedang
O,60 - 0,799 Kuat
O,80 - 1,00 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono, 2005

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Nilai Produktivitas Primer, Faktor Fisik Kimia Perairan, dan


Konsentrasi Klorofil - a

Berdasarkan hasil Penelitian yang dilakukan di Danau Toba Balige,

Kabupaten Tobasa didapatkan nilai rata-rata faktor fisik kimia, sebagai berikut:

Tabel 7. Nilai Produktivitas Primer, Faktor Fisik Kimia Perairan, dan


Konsentrasi Klorofil-a

St Kd PP Klorofil -a DO BOD5 NO3 PO4 COD pH Suhu P.C I.C Kej .O2
m mgC/m3/hari mg/m3 mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l - 0
C m Cd %
0 150,14 5,35 7,00 1,6 0,3970 0,0250 3,1872 7,1 24,5 - - 85,57
1 5 275,26 18,711 7,20 2,2 0,3382 0,0150 3,1872 7,1 24 - - 87,27
10 75,08 10,69 7,00 1,1 0,3455 0,0266 3,1872 7,2 24 - - 84,85
Rt 166,83 11,51 7,07 1,63 0,36 0,0222 3,1872 7,13 24,17 10 741 85,90
2
0 475,45 66,825 7,1 0.3 0,3897 0,0133 9,5616 7,2 25 - - 87,55
2 5 125,12 56,133 6,80 O,8 0,4558 0,0108 9,5616 7,3 24,5 - - 83,13
10 110,00 16,038 6,80 1,1 0,5147 0,0158 9,5616 7,26 25 - - 83,85
Rt 236,86 46,33 6,90 0,733 0.4534 0,0133 9,5616 7,25 24,83 10 767 84,84
2
0 110,00 72,17 7,2 1,0 0,3897 0,0133 11,1552 7,3 25 - - 88,78
3 5 110,00 163,053 6.60 0,4 0,3602 0,0108 11,1552 7,2 25 - - 81,38
10 125,13 122,958 6,90 0,7 0,4779 0,0158 11,1552 7,3 25 - - 85,08
Rt 115,43 119,39 6,90 0,7 0,4093 0,0133 11,1552 7,27 25 10 915 85,08
2
0 800,77 205,821 7,20, 0,4 0,2794 0,0125 6,3744 7,3 24,5 - - 88,01
4 5 525,50 227,205 7,10 1,7 0,2058 0,0116 6,3744 7,5 24 - - 90,90
10 925,89 243,24 7,10 2,5 0,2426 0,0128 6,3744 7,3 25 - - 92,48
Rt2 750,72 225,42 7,13 1,53 0,2426 0,0123 6,3744 7,34 24,5 10 505 90,46

Keterangan:
ST. 1 : Dermaga Balige (2o20′09,7″LU dan 99o 03′39,2 ″BT.)
ST. 2 : Lumban Bulbul (2o20′42,2″LU dan 99o 03′ 59,3 ″BT.)
ST. 3 : Lumban Binanga/Silintong (2o20′56,2″ LU dan 99o, 02′34,1″BT)
ST. 4 : Tara Bunga (2o 21′ ,38,3″LU dan 99o 01′30,7 ″BT)
PP : Produktivitas Primer
Kd : Kedalaman
PC : Penetrasi cahaya

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
IC : Intensitas cahaya
Kej.O2 : Kejenuhan Oksigen

1. Produktivitas Primer (PP)

Dari data Tabel 7, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata PP tertinggi terdapat

pada stasiun 4 (Tara Bunga) sebesar 750,72 mgC/m3 /hari, sedangkan nilai PP

terendah pada stasiun 3 (Lbn Silintong/Binanga) sebesar 115,43 mgC /m3/ hari,

sedangkan nilai konsentrasi klorofil-a tertinggi ada pada stasiun 4 dengan nilai rata-

rata 225,42 mg/m3, dan terendah pada stasiun 1 (dermaga Balige) dengan nilai rata-

rata sebesar 11,51 mg/m3. Tingginya nilai PP pada stasiun 4 karena memiliki

intensitas cahaya yang maksimal dan jauh dari aktivitas manusia sehingga aktivitas

fotosintesis fitoplankton berlangsung dengan baik.

Tingginya nilai konsentrasi klorofil-a di stasiun 4 sangat mendukung untuk

proses fotosintesis sehingga menghasilkan nilai PP yang tinggi. Menurut Barus

(2001: 113), pengaruh keanekaragaman plankton di suatu ekosistem perairan dapat

menyebabkan laju fotosintesis yang tinggi sehingga menghasilkan PP yang tinggi.

Keadaan seperti ini diduga fitoplankton yang berperan sebagai produsen primer sudah

mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Selain kondisi

biologisnya, juga dapat disebabkan oleh kondisi fisika dan kimia perairan yang sangat

mendukung dan menguntungkan untuk tumbuh dan berkembangnya para produsen

primer tersebut. Pada fotosintesis terjadi proses penyerapan energi cahaya dan

karbondioksida serta pelepasan oksigen sebagai salah satu dari produk fotosintesis

tersebut.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
2. Klorofil -a

Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan

produktivitas primer di perairan. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a

sangat terkait dengan kondisi fisik-kimia suatu perairan. Beberapa parameter fisik-

kimia yang mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a, adalah intensitas

cahaya, nutrien. Perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung

merupakan penyebab bervariasinya produktivitas primer di beberapa tempat

di perairan. Pada Tabel 7 Nilai rata-rata klorofil-a tertinggi ada pada stasiun 4 yaitu

225,42 mg/m3 dan yang terendah ada pada stasiun 1 yaitu 11,51 mg/m3. Tingginya

konsentrasi Klorofil-a di stasiun 4 (Tara Bunga) merupakan salah satu parameter

yang sangat menentukan tingginya nilai PP di stasiun 4 sebagaimana terlihat pada

Tabel 7.

Peningkatan nilai PP merupakan hasil proses fotosintesis sebanding dengan

jumlah oksigen yang dihasilkan, dan kandungan oksigen terlarut di perairan dapat

memberikan petunjuk tentang tingginya PP disuatu perairan. Klorofil-a merupakan

salah satu parameter yang sangat menentukan PP di danau, di mana kelimpahan

fitoplankton yang tinggi akan menghasilkan oksigen yang lebih banyak jika

dibandingkan dengan kelimpahan fitoplankton yang rendah, artinya kelimpahan

fitoplankton yang tinggi cenderung menghasilkan oksigen yang tinggi sebagai hasil

dari proses fotosintesis.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
3. Dissolved Oxygen (DO)

Kandungan oksigen terlarut sangat berperan di dalam menentukan

kelangsungan hidup organisma perairan untuk mengoksidasi nutrient yang masuk

kedalam tubuhnya. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang

terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis

oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994). Nilai dissolved

oxygen (DO) pada Tabel 7 yang diperoleh dari keempat stasiun pengamatan berkisar

rata-rata antara 6,90 - 7,13 mg/l, dengan nilai tertinggi terdapat pada stasiun 4 sebesar

7,13 mg/l dan terendah pada stasiun 2 dan 3 sebesar 6,90 mg/l, dengan kisaran

kejenuhan O2 yaitu 84,84% - 90,46%.

Kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian,

dan berkurangnya tekanan atmosfer Jeffries dan Mills, (1996). Nilai rata-rata

kejenuhan oksigen yang paling besar terdapat pada stasiun 4 (Tara Bunga) sebesar

90,46%, hal ini disebabkan badan perairan memiliki sumber pemasukan oksigen yang

cukup besar yang berasal dari hasil fotosintesis fitoplankton. Tingginya nilai oksigen

terlarut pada stasiun 4 karena adanya keberadaan tumbuhan air yang menghasilkan

oksigen sehingga meningkatkan nilai kelarutan oksigen, sedangkan rendahnya nilai

oksigen terlarut pada stasiun 2 dan 3 disebabkan karena kurangnya keberadaan

tumbuhan air yang menghasilkan oksigen.

Schwrobel (1987) dalam Barus (1996: 111), menyatakan bahwa nilai oksigen

terlarut pada suatu perairan mengalami fluktuasi harian maupun musiman, yang

sangat dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan aktivitas fotosintesis tumbuhan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
yang akan menghasilkan oksigen. Terjadinya penurunan nilai oksigen terlarut

menyebabkan kebutuhan DO oleh biota air untuk menguraikan limbah tersebut akan

meningkat, di samping itu terjadi penambahan nilai kejenuhan oksigen yang

menunjukkan ada defisit oksigen pada lokasi yang seharusnya dapat diserap oleh air

pada lokasi tersebut. Dengan rata-rata konsentrasi oksigen terlarut lebih tinggi dari

7,13 mg/l, sesuai dengan standar baku mutu air untuk air minum yang disyaratkan > 6

mg/l baku mutu air PP No. 82 Tahun 2001 dalam Barus hal.163, artinya air danau

toba Balige kriteria kelas I, layak untuk diminum.

4. BOD5

Dari data Tabel 7 nilai BOD5 pada keempat stasiun penelitian berbeda,

berkisar 0,3 – 2,5 mg/l, maka berdasarkan hal tersebut perairan danau Toba Balige

belum tercemar. Nilai BOD5 yang tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 1,63 mg/l

dan terendah pada stasiun 3 sebesar 0,7 mg/l. Adanya perbedaan nilai BOD5 di setiap

stasiun penelitian disebabkan oleh jumlah bahan organik yang berbeda pada masing-

masing stasiun, yang berhubungan dengan defisit oksigen karena oksigen tersebut

digunakan oleh mikroorganisme dalam proses penguraian bahan organik sehingga

mengakibatkan nilai BOD5 meningkat.

Tingginya nilai BOD5 pada stasiun 1 dikarenakan adanya berbagai aktivitas

masyarakat yang terdapat pada stasiun tersebut. Terjadinya penambahan nilai BOD5

pada lokasi pemukiman penduduk karena buangan limbah organik yang memberikan

fluktuasi terhadap nilai BOD5 tersebut, hal ini disebabkan masuknya limbah organik

ke badan perairan, sehingga menyebabkan kebutuhan oksigen terlarut oleh biota air

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
(bakteri) untuk mengurainya akan meningkat. Nilai BOD5 yang diperoleh pada lokasi

pengamatan pada prinsipnya menunjukkan indikasi rendahnya kadar bahan organik

di dalam air, karena nilai BOD5 merupakan parameter indikator pencemaran oleh zat

organik, di mana semakin tinggi nilai BOD5, menyebabkan semakin tinggi tingkat

pencemaran oleh zat organik dan sebaliknya (Barus, 2001: 65).

5. Nitrat (NO3)

Rendahnya konsentrasi nitrat ini di duga senyawa nitrat telah dibongkar oleh

segolongan bakteri-bakteri dinitrifikasi menjadi nitrogen-nitrogen bebas juga karena

tidak sepenuhnya diubah menjadi nitrat oleh bakteri anaerob (Effendi, 2003). Dari

Tabel 7 dapat dilihat rata-rata kadar Nitrat pada keempat stasiun pengamatan rendah

berkisar antara 0,2426 - 0,4534 mg/l. Kadar nitrat tertinggi dijumpai pada stasiun 2

dengan rata-rata 0,4534 mg/l dan terendah pada stasiun 4 dengan rata-rata 0,2426

mg/l. Hal ini disebabkan adanya mikroorganisme yang mengoksidasi amonium/

amoniak menjadi nitrit dan akhirnya menjadi nitrat pada setiap stasiun yang berbeda.

Mackentum (1969) dalam Haerlina (1987: 8), menyatakan bahwa kadar nitrat

yang optimal untuk pertumbuhan fitoplankton adalah 3,9-15,5 mg/l. Secara alamiah

kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali dalam air

tanah di daerah yang diberi pupuk nitrat/nitrogen (Alaerts, 1987). Tingginya unsur

nitrat pada stasiun 2 disebabkan lokasi ini merupakan lokasi pemukiman penduduk

dan banyaknya aktivitas masyarakat yang menghasilkan limbah domestik yang

mengakibatkan peningkatan kadar nitrat di badan perairan. Konsentrasinya di dalam

perairan akan semakin bertambah bila semakin dekat dari titik pembuangan (semakin

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
berkurang bila jauh dari titik pembuangan yang disebabkan aktivitas dari

mikroorganisme), yang akan mengoksidasi amonium menjadi nitrit yang akhirnya

menjadi nitrat.

6. Fosfat (PO4)

Menurut Perkins (1974), kandungan fosfat yang terdapat di perairan

umumnya tidak lebih dari 0,1 mg/l, kecuali pada perairan yang menerima limbah dari

rumah tangga dan industri tertentu, serta dari daerah pertanian yang mendapat

pemupukan fosfat. Dari Tabel 7 dapat dilihat konsentrasi kadar fosfat pada ke empat

stasiun pengamatan berkisar antara 0,0123-0,0222 mg/l. Nilai kadar fosfat tertinggi

dijumpai pada stasiun 1 dengan nilai 0,0222mg/l dan terendah pada stasiun 4 dengan

nilai 0,0123 mg/l. Hal ini disebabkan masuknya limbah dari kapal, limbah industri,

limbah dari hasil pertanian seperti pupuk yang masuk ke badan perairan, sehingga

dapat meningkatkan nilai fosfat di lokasi ini.

Alaerts (1987: 234), terjadinya penambahan konsentrasi fosfat sangat

dipengaruhi oleh adanya masukan limbah industri, penduduk, pertanian dan aktivitas

masyarakat lainnya. Fosfor terutama berasal dari sedimen yang selanjutnya akan

terinfiltrasi ke dalam air tanah dan akhirnya masuk ke dalam sistem perairan terbuka

(badan perairan). Selain itu dapat berasal dari atmosfer dan bersama dengan curah

hujan masuk ke dalam sistem perairan (Barus, 2004: 68).

7. Chemical Oxygen Demand (COD)

Effendi (2003) menggambarkan COD sebagai jumlah total oksigen yang

dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
didegradasi secara biologi maupun yang sukar didegradasi menjadi CO2 dan H2O.

Berdasarkan kemampuan oksidasi, penentuan nilai COD dianggap paling baik dalam

menggambarkan keberadaan bahan organik, baik yang dapat didekomposisi secara

biologis maupun yang tidak. Pada Tabel 7 terdapat nilai COD dengan rata-rata 3,1872

- 11,1552 mg/l, yang tertinggi di stasiun 3 yaitu 11,1552 mg/l dan nilai COD terendah

di stasiun 1 yaitu 3,1872 mg/l, dengan memperhatikan kadar COD yang cukup tinggi,

maka perairan memerlukan kadar oksigen untuk proses oksidasi kimia, hal ini

menurunkan cadangan oksigen dalam air. Konsentrasi karbon dioksida ini cukup

untuk menunjang kebutuhan akan karbon dioksida oleh tumbuhan air untuk proses

fotosintesis.

8. Derajat Keasaman (pH)

Berdasarkan hasil pengukuran nilai pH pada keempat stasiun penelitian

didapatkan nilai pH berkisar 7,13 – 7,34, hal ini sebagai acuan idealnya perairan

Danau Toba untuk kehidupan fitoplankton. Nilai pH pada keempat stasiun berbeda-

beda tergantung kondisi perairan pada masing-masing stasiun penelitian.

Nilai pH tertinggi terdapat pada stasiun 4 (Tara Bunga) sebesar 7,34 dan

terendah pada stasiun 1 (Dermaga Balige) sebesar 7,13. Cole (1988), menyatakan

bahwa adanya perbedaan nilai pH pada suatu perairan disebabkan penambahan atau

kehilangan CO2 melaui proses fotosintesis yang akan menyebabkan perubahan pH

di dalam air. Nilai pH di suatu perairan sangat dipengaruhi oleh kemampuan air untuk

melepas atau mengikat sejumlah ion hidrogen yang menunjukan larutan tersebut

asam atau basa (Barus, 1996; Michael, 1984). Hawkes (1979) dalam Sinambela

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
(1994: 33), menyatakan bahwa kehidupan dalam air masih dapat bertahan bila

perairan mempunyai kisaran pH 5-9. Secara keseluruhan, nilai pH yang didapatkan

dari keempat stasiun penelitian masih mendukung kehidupan biota perairan.

Dari data Tabel 7 nilai pH perairan Danau Toba Balige rata-rata antara 7,13 –

7,34, hal ini menunjukkan perairan masih dalam kisaran normal. Menurut Barus

(2004: 61), menyatakan bahwa nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air

pada umumnya terdapat antara 7 - 8,5. Dengan kisaran pH seperti ini dapat

dikategorikan perairan yang produktif, ini didukung baku mutu air PP No. 82 Tahun

2001 dalam Barus (163), artinya air Danau Toba Balige kriteria kelas I, layak untuk

diminum, yang menyatakan pH air 6 – 9 tergolong perairan produktif.

9. Suhu

Dari data Tabel 7, suhu air pada keempat stasiun penelitian berkisar 24-25oC,

hal ini menyatakan perbedaan temperatur air antara permukaan dan kedalaman tidak

terlalu jauh di perairan Danau Toba Balige. Kisaran temperatur di Danau Toba Balige

tidak mengalami fluktuasi atau relatif konstan karena tidak mengalami perubahan

yang tinggi. Temperatur rata-rata tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 25oC dan

terendah pada stasiun 1 sebesar 24,17oC.

Perbedaan temperatur air pada setiap stasiun penelitian disebabkan perbedaan

tempat pengukuran serta kondisi cuaca saat pengukuran dilakukan pada masing-

masing stasiun. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi

kimia dan evaporasi, peningkatan suhu air juga mengakibatkan penurunan kelarutan

gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995). Menurut Brehm dan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Meijering (1990) dalam Barus (1996: 45 ), pola suhu ekosistem perairan dipengaruhi

oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air

dengan udara di sekelilingnya dan juga faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari

pepohonan yang tumbuh di tepi. Temperatur air di Danau Toba umumnya homogen

yang berfluktuasi secara vertikal sesuai dengan kedalaman lapisan air.

Hasil penelitian ditemukan bahwa nilai temperatur air pada lapisan permukaan

Danau Toba Balige tidak berbeda jauh jika dibandingkan pada temperatur pada

berbagai kedalaman danau (pada kedalaman 0 m - 10 m), perbedaannya didapatkan

hanya 1oC. Hal ini menunjukkan sangat sulit menemukan daerah termoklin, di mana

terjadi degradasi temperatur dengan sangat drastis dengan menambah kedalaman

suatu badan perairan (Barus, 2004: 107).

10. Penetrasi Cahaya

Kecerahan ini berhubungan erat dengan penetrasi cahaya matahari yang dapat

menembus perairan tersebut. Kecerahan tertinggi pada hari pengamatan adalah

sebanding dengan iluminasi cahaya yang juga tertinggi pada hari pengamatan

tersebut. Begitu juga sebaliknya, yang terjadi dengan kecerahan yang bernilai rendah,

maka penulis melakukan penelitian pada kecerahan matahari tertinggi yang terjadi

sepanjang minggu itu. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang

ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi, 2003). Kecerahan

perairan sangat dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut,

partikel-partikel dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga

dapat menurunkan nilai produktivitas perairan (Nybakken, 1992).

Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa penetrasi antara keempat stasiun

penelitian ini rata-rata sebesar 10 m. Hal ini menunjukkan bahwa kejernihan badan

air antara keempat stasiun ini masih relatif sama. Besar nilai penetrasi cahaya ini

dapat diidentikkan dengan kedalaman air yang memungkinkan masih berlangsungnya

proses fotosintesis. Nilai penetrasi cahaya sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya

matahari, kekeruhan air serta kepadatan plankton suatu perairan, menurut Nybakken

(1992: 62), menyatakan bahwa adanya zat-zat tersuspensi dalam perairan akan

menimbulkan kekeruhan pada perairan tersebut dan kekeruhan ini akan

mempengaruhi ekologi dalam hal penurunan penetrasi cahaya yang sangat mencolok.

Menurut Odum (1998: 370), bahwa penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat-zat

terlarut di dalam air sehingga membatasi zona fotosintesis.

11. Intensitas Cahaya

Pada Tabel 7, hasil pengukuran didapatkan bahwa intensitas cahaya tertinggi

sebesar 915 Cd pada stasiun 3. Sedangkan intensitas cahaya terendah sebesar 505 Cd

pada stasiun 4. Perbedaan yang terjadi disebabkan adanya perbedaan lintang

pengukuran pada lokasi pengambilan sampel. Faktor cahaya matahari yang masuk ke

badan air akan mempengaruhi sifat optis dari air. Sebagian cahaya matahari tersebut

akan diabsorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan keluar dari permukaan, dengan

bertambahnya kedalaman lapisan air, maka intensitas cahaya akan mengalami

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
perubahan yang signifikan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Barus,

2004: 43).

12. Kejenuhan Oksigen

Pada Tabel 7, nilai rata-rata kejenuhan oksigen yang tertinggi ada pada stasiun

4 yaitu 90,46% dan yang terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 84,84% hal ini berarti

dari 4 stasiun memiliki kelarutan oksigen yang cukup baik dibandingkan dengan

stasiun 2, hal ini disebabkan badan perairan memiliki sumber pemasukan oksigen

yang cukup besar yang berasal dari hasil fotosintesis fitoplankton, didukung

lingkungan yang jauh dari aktivitas penduduk.

4.2. Uji F/Uji ANOVA

Data PP pada empat stasiun dengan tiga Kedalaman di Analisis dengan SPSS

Versi 16, hasilnya sebagai berikut:

Tabel 8. Uji Hubungan Diantara Variabel PP dengan Stasiun dan Kedalaman

Sumber Jumlah Derajat Kudrat tengah Tanda F F Tabel


kuadrat bebas Hitung 0,05 0,01
Model koreksi 2929360,002 11 266232.447 .000 43.607
Menangkap 3569530.062 1 3569530.062 .000 584.665
Stasiun 2349955.394 3 783318.465 .000 128.302 8,76 27,13
Kedalaman 95184.089 2 47592.045 .002 7.795 19,40 99,41
Stasiun * Kedalaman 483417.436 6 80569.573 .000 13.197 4,03 7,79
kesalahan 146526.131 24 6105.255
Total 6644613.112 36
Total koreksi 3075083.050 35

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Analisis

Pada Tabel 8. Dapat kita lihat hubungan Poduktivitas Primer dengan Stasiun,

hubungan Produktivitas Primer dengan kedalaman dan bagaimana interaksi Stasiun

dan Kedalaman terhadap Produktivitas Primer, hasil analisis Uji ANOVA (Analisis of

Variance) sebagai berikut:

Uji ANOVA digunakan untuk melihat apakah ada perbedaan yang nyata: antara PP

pada setiap stasiun dan antara PP pada setiap kedalaman.

Perbedaan rata-rata PP berdasarkan stasiun, hipotesis untuk kasus ini:

Ho = Keempat rata-rata stasiun adalah identik


H1 = Keempat rata-rata stasiun adalah tidak identik

Dasar Pengambilan Keputusan berdasarkan nilai Probabilitas:

Jika probabilitas > 0,05, Ho, diterima


Jika probabilitas < 0,05, Ho, ditolak

Kesimpulan:

Pada Tabel 8. Terlihat bahwa F hitung adalah 128,302 > F Tabel (8,76)

dengan Probabilitas 0,000, oleh karena Probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak atau

rata-rata PP keempat Stasiun tersebut adalah berbeda nyata, sesuai dengan hasil

penelitian yang dilakukan di perairan Danau Toba, Balige seperti yang tertulis pada

tabel 7, bahwa rata-rata nilai PP pada tiap stasiun berbeda yaitu stasiun 1 = 166,83

mgC/m3/hari, stasiun 2 = 238,86 mgC/m3/hari, stasiun 3 = 115,43 mgC/m3/hari dan

pada stasiun 4 = 750,72 mgC/m3/hari.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Perbedaan rata-rata PP berdasarkan kedalaman, hipotesis untuk kasus ini:

Ho = Ketiga rata-rata kedalaman adalah identik


H1 = Ketiga rata-rata kedalaman adalah tidak identik

Dasar Pengambilan Keputusan berdasar nilai Probabilitas:

Jika probabilitas > 0,05, Ho, diterima


Jika probabilitas < 0,05, Ho, ditolak

Kesimpulan:

Terlihat bahwa F hitung adalah 7,795 < F Tabel (19,40) dengan Probabilitas

0,02, oleh karena Probabilitas < 0,05, maka Ho diterima atau rata-rata PP keempat

kedalaman tersebut adalah tidak berbeda nyata, sesuai dengan hasil penelitian yang

dilakukan di perairan Danau Toba,Balige seperti yang tertulis pada Tabel 7, bahwa

rata-rata nilai PP pada tiap kedalaman tidak berbeda nyata yaitu kedalaman 0 m =

386,59 mgC/m3/hari, kedalaman = 258,97 mgC/m3/hari, dan pada kedalaman 10 m =

308,83 mgC/m3/hari.

Perbedaan rata-rata PP berdasarkan stasiun dan kedalaman, hipotesis untuk kasus

ini:

Ho = Tidak ada interaksi antara PP keempat stasiun dengan ketiga


kedalaman.
H1 = Ada interaksi antara PP keempat stasiun dengan ketiga kedalaman.

Dasar Pengambilan Keputusan berdasar nilai Probabilitas:

Jika probabilitas > 0,05, Ho, diterima


Jika probabilitas < 0,05, Ho, ditolak

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Kesimpulan:

Terlihat bahwa F hitung adalah 13.197 > F Tabel (4,03) dengan Probabilitas

0,000 oleh karena Probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak atau ada interaksi antara PP

keempat stasiun dengan ketiga kedalaman memang berbeda nyata.

Model pada Tabel 8

Bagian ini menjelaskan tiga baris output yang berhubungan dengan

penggunaan model ANOVA tersebut, yaitu model koreksi, galad dan total koreksi.

1) Baris total koreksi menyatakan jumlah kuadrat dari variabel PP (sebagai

variabel terikat) yaitu 3075083,050.

2) Baris model koreksi menyatakan jumlah kuadrat yang dihitung oleh model

ANOVA di atas, yaitu: 2,92936.

3) Baris kesalahan menyatakan jumlah kuadrat yang tidak dihitung oleh model

ANOVA di atas, yaitu selisih total koreksi dengan model koreksi:

3075083,050 – 2929360,002 = 145723,048.

Perbandingan model koreksi dengan total koreksi sebagai berikut:

2929360,002
X 100% = 95,24%
3075083,050

Terlihat bahwa 95,43% dari jumlah kuadrat dapat dijelaskan oleh model yang adalah

hasil analisis di atas, oleh karena hanya 4,76% yang tidak dapat dijelaskan oleh

model, maka bisa dikatakan bahwa model diatas sangat memadai untuk menjelaskan

rata-rata Produktivitas Primer antara stasiun dan kedalaman. Kesimpulan hasil

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
analisis pada tabel di atas menunjukkan bahwa Produktivitas Primer antara stasiun

dan kedalaman ada perbedaan yang signifikan, untuk mengetahui pada stasiun dan

kedalaman mana yang mengalami perbedaan itu, dilakukan Uji One Way ANOVA,

hasilnya sebagai berikut:

Tabel 9. Hasil Perbandingan Variabel PP dengan Stasiun

Beda Rata- Std. tanda 95% tingkat kepercayaan


Stasiun Stasiun rata kesalahan Batas Batas atas
(I) (J) (I-J) bawah

Tukey Stasiun 1 Stasiun 2 -66.73111 70.96202 .783 -258.9929 125.5307


HSD
Stasiun 3 58.38444 70.96202 .843 -133.8773 250.6462
Stasiun 4 -583.89333* 70.96202 .000 -776.1551 -391.6315
Stasiun 2 Stasiun 1 66.73111 70.96202 .783 -125.5307 258.9929
Stasiun 3 125.11556 70.96202 .309 -67.1462 317.3773
Stasiun 4 -517.16222* 70.96202 .000 -709.4240 -324.9004
Stasiun 3 Stasiun 1 -58.38444 70.96202 .843 -250.6462 133.8773
Stasiun 2 -125.11556 70.96202 .309 -317.3773 67.1462
Stasiun 4 -642.27778* 70.96202 .000 -834.5396 -450.0160
Stasiun 4 Stasiun 1 583.89333* 70.96202 .000 391.6315 776.1551
Stasiun 2 517.16222* 70.96202 .000 324.9004 709.4240
Stasiun 3 642.27778* 70.96202 .000 450.0160 834.5396
*. Rata-rata berbeda nyata pada taraf uji 0,05%

Pada Tabel 9. Diketahui bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara

Stasiun 1 dengan stasiun 4, antara stasiun 2 dengan stasiun 4, antara stasiun 3 dengan

stasiun 4, sebagaimana terlihat pada baris pertama pada hasil Uji Tukey-HSD yang

menguji perbedaan PP antara stasiun 1 dengan stasiun PP stasiun 4. Pada kolom

Mean Difference (perbedaan rata-rata) diperoleh angka -583,89333*. Pada kolom

95% confidence interval, terlihat range perbedaan mean tersebut berkisar antara -

391.6315 sampai -776.1551 unit. Uji signifikansi perbedaan Mean PP antara stasiun 1

dengan stasiun PP stasiun 4, berdasarkan nilai Probabilitas:

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Jika probabilitas > 0,05, Ho, diterima
Jika probabilitas < 0,05, Ho, ditolak

Kesimpulan:

Terlihat pada Tabel 9, kolom 4 bahwa nilai probabilitas adalah 0,000, maka

probabilitas < 0,05 berarti Ho ditolak, dengan demikian perbedaan rata-rata

Produktivitas: antara stasiun 1 dengan stasiun 4, stasiun 2 dengan stasiun 4, stasiun 3

dengan stasiun 4 benar-benar berbeda nyata.

Tabel 10. Hasil Perbandingan Variabel PP dengan Kedalaman

Stasiun Stasiun Beda Std. tanda 95% Tingkat


(I) (J) Rata-rata Kesalahan Kepercayaan
(I-J) Batas Batas
Bawah Atas

Tukey kedalaman 0 kedalaman 5 125.12167 122.67842 .570 -175.9060 426.1493


HSD
kedalaman 10 75.06833 122.67842 .815 -225.9593 376.0960
kedalaman 5 kedalaman 0 -125.12167 122.67842 .570 -426.1493 175.9060
kedalaman 10 -50.05333 122.67842 .913 -351.0810 250.9743
kedalaman 10 kedalaman 0 -75.06833 122.67842 .815 -376.0960 225.9593
kedalaman 5 50.05333 122.67842 .913 -250.9743 351.0810

Pada Tabel 10. Diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara

Kedalaman 0 m dengan Kedalaman 5 m, antara Kedalaman 0 m dengan Kedalaman

10 m, antara Kedalaman 5 m dengan Kedalaman 10 m, sebagaimana terlihat pada

baris pertama pada hasil Uji Tukey-HSD yang menguji perbedaan PP antara

Kedalaman 0 dengan Kedalaman PP stasiun 5 m. Pada kolom perbedaan rata-rata

diperoleh angka 125.12167. Pada kolom 95% tingkat kepercayaan, terlihat rentang

perbedaan rata-rata berkisar antara -175.9060 sampai 426.1493 unit. Uji signifikansi

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
perbedaan rata-rata PP antara Kedalaman 0 m dengan rata-rata PP Kedalaman 5 m,

10 m, berdasarkan nilai Probabilitas:

Jika probabilitas > 0,05, Ho, diterima


Jika probabilitas < 0,05, Ho, ditolak Kesimpulan:

Terlihat pada Tabel 10, kolom 4 bahwa nilai probabilitas adalah 0,570 sampai 0,913,

maka probabilitas > 0,05 berarti Ho diterima, dengan demikian perbedaan rata-rata

Produktivitas: antara kedalaman 0 m dengan kedalaman 5 m, kedalaman 0 m dengan

kedalaman 10 m, dan kedalaman 5 m dengan 10 m tidak berbeda nyata.

4.3. Analisis Korelasi Pearson dengan Program SPSS Ver. 16. 00

Berdasarkan pengukuran faktor fisik kimia dan biologi perairan yang telah

dilakukan pada stasiun penelitian dan kedalaman yang dikorelasikan antara

Produktivitas Primer dengan faktor lingkungan, maka diperoleh indeks korelasi

seperti pada tabel berikut (Lampiran 10).

Tabel 11. Nilai Korelasi Pearson dengan Menggunakan Program SPSS Ver. 16. 00

Korelasi Klorofil DO BOD5 NO3 PO4 COD pH Suhu Int.Cah Kej.O2


Pearson
pp .742(**) -.191 .293 -.726(**) -.371 -.214 .345 .010 -.838(**) .765(**)

Keterangan:
(**) : Sangat signifikan
Nilai + : Arah korelasi searah
Nilai - : Arah korelasi berlawanan

Dari Tabel 11, dapat dilihat bahwa hasil uji korelasi antara beberapa faktor

fisik kimia perairan berbeda tingkat dan arah korelasinya. Nilai (+) menunjukkan

hubungan yang searah antara nilai faktor fisik kimia perairan dengan nilai

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
produktivitas primer, artinya semakin besar nilai faktor fisik kimianya maka nilai

produktivitas primer akan semakin besar pula. Sedangkan nilai (-) menunjukkan

hubungan yang berbanding terbalik antara nilai faktor fisik-kimia perairan dengan

produktivitas primer, artinya semakin besar nilai faktor fisik-kimia perairan maka

produktivitas primer akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya, jika semakin kecil

nilai faktor fisik-kimia maka nilai produktivitas primer akan semakin besar.

Pada Tabel 11, di atas dapat dilihat bahwa klorofil-a, BOD5, pH, suhu,

kejenuhan oksigen berkorelasi searah dengan PP, sedangkan DO, nitrat, fosfat, COD

dan Intensitas Cahaya berkorelasi berlawanan arah dengan PP. Berdasarkan Interval

koefisien korelasi menurut Sugiyono (2005), seperti pada tabel berikut:

Tabel 12. Interval Korelasi dan Tingkat Hubungan Antar Faktor


Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0.40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,00 Sangat kuat
Sumber: Sugiyono, 2005

Nilai korelasi antara produktivitas primer dengan klorofil-a sebesar 0,742,

maka hubungan korelasi antara klorofil-a dengan produktivitas primer memiliki

tingkat hubungan yang kuat, sedangkan BOD5 dengan produktivitas primer memiliki

tingkat hubungan yang rendah dengan nilai 0,293, pH memiliki tingkat hubungan

yang rendah dengan nilai 0,345, suhu memiliki tingkat hubungan yang sangat rendah

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
dengan nilai 0,010 dan kejenuhan oksigen memiliki tingkat hubungan yang kuat

dengan nilai 0,765 (Contoh Perhitungan Lampiran 11).

Hasil uji korelasi pada Tabel 12 diperoleh parameter, DO, nitrat, posfat,

COD dan intensitas cahaya berkorelasi berlawanan dengan PP. Berdasarkan interval

korelasi koefisien menurut Sugiyono (2005), hubungan korelasi antara DO dengan

produktivitas primer memiliki tingkat hubungan rendah dengan nilai sebesar 0,191,

nitrat dengan nilai 0,726 memiliki tingkat hubungan kuat fosfat dengan nilai 0,371

memiliki tingkat hubungan rendah. COD dengan nilai sebesar 0,214 memiliki tingkat

hubungan rendah. Intensitas Cahaya dengan nilai korelasi sebesar 0.838 memiliki

tingkat hubungan sangat kuat, sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh klorofil-a

dan faktor fisik kimia perairan terhadap produktifitas primer dikategorikan kuat-

rendah sangat rendah-sedang dan sangat kuat, artinya ada salah satu faktor fisik kimia

perairan yang mendominasi terhadap produktivitas primer, yaitu Nitrat, intensitas

cahaya dan kejenuhan oksigen.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian “Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan

Konsentrasi Klorofil-a dan faktor fisik kimia air di Perairan Danau Toba, Balige,

Kabupaten Tobasa”, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Ada hubungan nilai produktivitas primer dengan konsentrasi klorofil-a dan faktor

fisik kimia air.

2. Nilai rata-rata Produktivitas Primer tertinggi di stasiun 4 sebesar 750,72 mg

C/m3/hari, terendah di stasiun 3 yaitu 115,43 mg C/m3/hari.

3. Nilai Produktivitas Primer pada stasiun 4 sangat berbeda nyata terhadap nilai

produktivitas primer pada stasiun 1, stasiun 2 dan stasiun 3.

4. Nilai Produktivitas Primer pada kedalaman 0 m, 5 m, 10 m tidak berbeda nyata

di empat stasiun penelitian.

5. Nilai rata-rata konsentrasi klorofil-a tertinggi di stasiun 4 sebesar 225,423 mg/m3,

dan terendah di stasiun 1 sebesar 11,51 mg/m3.

5.2. Saran

Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan dan melanjutkan

penelitian mengenai produktivitas primer, dan hubungannya dengan kualitas air

di perairan Danau Toba, Balige, Kabupaten Tobasa.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
DAFTAR PUSTAKA

Alaert, G. &, Sri, S. 1987. Metode Penelitian Air: Usaha Nasional. Surabaya.

[APHA] American Public Health Association, [AWWA] American Water Works


Association. 1995. Standart Methods for the Examination of Water and
Waste Water. Ed. Washington.

Barus, T.A. 2001. Pengantar Limnologi, Studi tentang Ekosistem Air Daratan
Jurusan Biologi. Fakultas MIPA USU. Medan.

.................... 2004. Pengantar Limnologi, Studi tentang Ekosistem Sungai dan


Danau. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA USU. Medan.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality in Warm Water Fish Pond. Auburn University
Agricultural Experimenta Satation. Auburn Alabama.

Campbell, J.B; Reece, L.G; Mitchell. 2004. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 3. Penerbit
Erlangga. Jakarta.

Chester, R. 1990. Marine Geochemistry. Unwin Hyman Ltd. London.

Cole, G.A. 1988. Textbook of Limnologi. Third Edition. Waverland Press Inc.
New Work ISA.

Connel, W. Des dan Gregor. J.Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi


Pencemaran. Alih Bahasa; Yanti Koestori. Universitas Indonesia. Jakarta.

Damanik, S. J., J. Anwar, N. Hisyam, A. J. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem


Sumatera. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Davis, M.L., and D.A. Cornwell. 1991. Introduction to Environmental Engi


neering . Second edition. Mc-Graw-Hill, Inc. New York.

Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Sumatera Utara. 1993. Laporan Kegiatan


dalam Rangka Persiapan Penetapan Zona Reservat Danau Toba. Medan.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


1994. Analisa Kimia dan Limbah Industri. Laporan Pelaksanaan Kursus
Analisa Limbah Indusri Angkatan II Staff Akademik PTPN Indonesia Bagian
Timur 7 – 12 Juli 1994.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Dojildo, J.R., and G.A. Best. 1992. Chemistry of Water and Water Pollution. Ellis
Horwood Limited. New York.

Emberlin, J.C. 1983. Introduction to Ecology. Mac Donald and Evans. Estrover,
Plymouth.

Effendie, M.I., 2003. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara.

Fergusson, M. N. 1996. A Text Book of Parnacognasy. The Macmillan Company,


New York.

Goldman, C.R. & A.J Horne 1983. Limnology. Mc. Graw Hill. New York.

Haerlina, E. 1987. Komposisi dan Distribusi Vertikal Harian Fitoplankton pada


Siang dan Malam Hari di Perairan Pantai Bojonegoro, Teluk Banten.
Fakultas Perikanan Bogor. IPB.

Haryadi, S. 2003. Pencemaran Daerah Aliran Sungai (DAS). Di dalam Workshop


Pengembangan Konsep Bioregional Sebagai Dasar Pengelolaan Kawasan
Secara Berkelanjutan. Bogor, 4-5 Nopember 2002. Pusat Penelitian Biologi
LIPI. Bogor. pp. 165-172.

Haslam, S.M. 1995. River Pollution, an Ecological Perspective. Belhaven Press.


London UK.

Heddy, S & Kurniati. 1996. Prinsip-prinsip Dasar Ekologi. PT Raja Grafindo


Persada. Jakarta.

Hendersend-Seller, B., and H.R. Markland. 1987. Decaying Lakes, The Origin and
Control of Cultural Eutrophication. John wiley & Sons. Britain.

Hutabarat, S. 1998. Produktivitas Perairan dan Plankton. UI Press. Jakarta.

Hutabarat, S., dan S.M. Evans. 1984. Pengantar Oseonografi. UI Press. Jakarta.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/07/cakrawala/lain04. htm, diakses


tanggal 12 Mei 2008.

http://www.google.co.id/search ?h l= id&q= Biro Bina Lingkungan Hidup, Bappeda


2000 diakses tanggal 12 Pebruari 2008.

http://www.google.co.id/search,G:\ikan ruyitno_files, kualitas air laut untuk


budidaya perikanan.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php,menu=bmpshort_detail2&ID=53
diakses tanggal 19-9- 2008 jumat ,Energi dalam Ekosistem, Daniel
Primawanto.

http://tapanuligo.blogspot.com/2008/04/  Menyatukan 
Kesepahaman  Pengelolaan. html, diakses tanggal 19‐9‐2008. 

Jeffries, M., and D. Mills. 1996. Freshwater Ecology, Principles and Applica
tions. John Wiley and Sons. Chicester UK.

Jorgensen, S.E. and R.A.Volleweiden.1989. Guedelines of Like


Management, Principles of Like Management, Vol.1.International Like
Enviroment Committee United Nations Enviromental Programme, Shiga.
Japan.

________. 1990. Lake Management. Pergamond Press Ltd. Oxford-Great Britain.

Kimbal, J.W. 1999. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Koesbiono. 1989. Dasar-Dasar Ekologi Umum. IPB. Bogor.

Lee Kwan Yi and Laksono. 1978. The Water. Publishers. United States of America,
2460 Kerper Boulevard Dubuque IA 52001.

Lemusluoto, P.O. 1977. Introduction to Phytoplankton Primary Productivity in


Waters. United Nations Development Programe OTC/SE.

Mahida, U. N. 1993. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.

Manurung, B. 1992. Produktivitas Primer di Tiga Stasiun pada Perairan Situ


Sangiang Tasikmalaya. ITB Press. Bandung.

Michael, P. 1984. Metoda Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan


Laboratorium. Penerjemah: Yanti R, Koestoer. UI Press. Jakarta.

Moss,B. 1980. Ecology of Freshwater. Blackwell Scientic Publ. Oxford. London.


Vol- 47 issue 3 Pages 343 – 365.

Novonty, V., and H. Olem. 1994. Water Quality, Prevention, Identification and
Management of Diffuse Pollution. Van Nostrans Reinhold. New York. vol –
19 issue 4, Pages 464-468.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. Penerjemah:
H.Muhammad Eidman. PT Gramedia Pustaka. Jakarta.

Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. W.B. Sounders Company Ltd.


Philadelphia.

_______. 1983. Basic Ecology. Saunders College Publ. Holt Saunder. Tokyo.

_______. 1994. Dasar Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Parsons, T. R, M. Takahashi, dan B. Hargrave. 1984. Biological Oceanographyc


Processes. Pergamon Press. 3rd Edition. New York-Toronto. Volume 277,
Number 1/March, 1994 Pages1-15.

Payne, A.I. 1986. The Ecology of Tropical Lakes and Rivers. Jhon Wiley & Sons.
Singapore.

Perkins, E.J. 1974. The Biology of Estuaries and Coastal Water. Academi Press Co.
New York.

Prescott, G.W. 1973. How to Know the freshwater Algae. W.M.C.Brown Company
Publiser, Dubuque, Lowa USA. www.eurojournals.com/ejsr%.2016%
203.pdf.

Riley, J. P, dan G. Skirrow. 1975. Chemical Oceanography. Vol.2, 2ndEdition.


Academic Press. New York.

Rifai, S.A., sukaya, N. & Nasution, Z. 1993. Biologi Perikanan. Edisi 1. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Romimohtarto, S. Juwana; 2001. Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Penerbit


Djambatan. Jakarta.

Rososoedarmo, K.Kartawinata, A.Sugiarto. 1993. Pengantar Ekologi. Cetakan


Kesembilan. PT Remaja Rasdakarya. Bandung.

Russel, W.D & Hunter. 1970. Aquatic Productivity. Jhon Wiley & Sons. Inc. New
York.

Ruttner. 1977. Fundamental of Limnology. University of Toronto Press. Canada.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Santoso, S. 2005. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS Versi 16.00.
Penerbit PT Elex Media Komputindo. Kelompok Gramedia. Jakarta.

Satari, G. 2001. Pengelolaan dan Pemanfaatan Danau dan Waduk. Di dalam


Proseding Semiloka Nasional. Universitas Padjadjaran Bandung, 7 Nopember
2000. Universitas Padjadjaran Bandung. Bandung. pp 3-41 – 3-47.

Sharples, J, C. M. Moore, T. P. Rippeth, P. M. Holligan, D. J. Hydes, N. R. Fisher,


dan J. H. Simpson. 2001. Phytoplankton Distribution and Survival in The
Thermocline. J. Limn. and Oceanogr., 46 (3): 486-496.

Shubert, E. L. 1984. Algae Ecologigal Indicators. Academic Press Inc. London.

Sinambela, M.M. 1994. Keanekaragaman Makrozoobenthos Sebagai Indikator


Kualitas Sungai Babura. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Stum, W., and J.J. Morgan. 1981. Aquatic Chemistry: an Introduction Emphasizing
Chemical Equalibra in Natural Water. John Wiley & Sons, Inc. Canada.

Soegianto, A. 2004. Metoda Pendugaan Pencemaran dengan Indikator Biologis.


Airlangga University Press. Surabaya.

Sugiyono. 2005. Analisa Statistik Korelasi Linier Sederhana. 06 November 2008.

Suin, N. M. 2002. Metode Ekologi. Universitas Andalas. Padang.

Sumich, J.L. 1992. An Introduction to the Biology of Marine Life. Fifth edition.
WCB Wm.C. Brown Publishers. United States of America, 2460 Kerper
Boulevard Dubuque IA 52001.

Sverdrup, H. U, M. W. Johnson, dan R. H. Fleming. 1961. The Ocean, Their


Physisc, Chemistry and General Biologi. Prentice-Hall, Englewood Cliffs.
New Jersey.

Tjahjo, D., A. S. Nastiti., K. Purnomo., Kartamiharjo, & A. S. Sarnita. 1998. Potensi


Sumberdaya Perikanan di Perairan Danau Toba. Sumatera Utara. Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia.

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji and M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the
Indonesian Seas. Part Two. The Ecology of Indonesian Series. Vol.
VIII.Periplus Editions (HK) Ltd.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
United State Enviromental Protection Agency,http://seawifs, gsfc,nasa,gov/
SEAWIFS, html, diaksel tanggal 27 Maret 2008.

Wardana, W.A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset. Yogyakarta.

Wardoyo, S.T.H. 1989. Kriteria Kualitas Air untuk Pertanian dan Perikanan.
Makalah pada Seminar Pengendalian Pencemaran Air. Dirjen Pengairan
Departemen Pekerjaan Umum. Bandung.

Widjaja, F. 1994. Komposisi Jenis, Kelimpahan dan Penyebaran Plankton Laut


di Teluk Pelabuhan Ratu Jawa Barat. Fakultas Perikanan Institut Pertanian,
Bogor.

Wetzel, R. G. and Linkens, 2000. Limnologi, Second Edition. CBS. College


Publishing, New Work, US.

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian

Peta Titik Lokasi Pengamatan di Empat Stasiun

L.2
L.4
L.3 L.1

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 2. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur DO
Sampel air 1 ml MnSO4
1 ml KOH-KI
Dikocok
Didiamkan

Sampel dengan endapan putih/coklat 1 ml H2S


Dikocok
Didiamkan

Larutan sampel berwarna coklat


Diambil sebanyak 100 ml
Ditetesi Na2S2O3 0,0125N

Sampel berwarna kuning pucat


Ditambahkan 5 tetes Amilum

Sampel berwarna biru


Dititrasi dengan Na2S2O3 0,0125 N

Sampel bening Di hitung Volume Na2S2O3 Yang di


Pakai ( = Nilai DO Akhir )

Hasil
(Michael, 1984: Suin, 2002 )

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 3. Nilai Oksigen Terlarut Maksimum (mg/l) pada Berbagai Besaran
Temperatur Air (Barus, 2004)
T °C 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9

0 14,16 14,12 14,08 14,04 14,00 13,97 13,93 13,89 13,85 13,81

1 13,77 13,74 13,70 13,66 13,63 13,59 13,55 13,51 13,48 13,44

2 13,40 13,37 13,33 13,30 13,26 13,22 13,19 13,15 13,12 13,08

3 13,05 13,01 12,98 12,94 12,91 12,87 12,84 12,81 12,77 12,74

4 12,70 12,67 12,64 12,60 12,57 12,54 12,51 12,47 12,44 12,41

5 12,37 12,34 12,31 12,28 12,25 12,22 12,18 12,15 12,12 12,09

6 12,06 12,03 12,00 11,97 11,94 11,91 11,88 11,85 11,82 11,79

7 11,76 11,73 11,70 11,67 11,64 11,61 11,58 11,55 11,52 11,50

8 11,47 11,44 11,41 11,38 11,36 11,33 11,30 11,27 11,25 11,22

9 11,19 11,16 11,14 11,11 11,08 11,06 11,03 11,00 10,98 10,95

10 10,92 10,90 10,87 10,85 10,82 10,80 10,77 10,75 10,72 10,70

11 10,67 10,65 10,62 10,60 10,57 10,55 10,53 10,50 10,48 10,45

12 10,43 10,40 10,38 10,36 10,34 10,31 10,29 10,27 10,24 10,22

13 10,20 10,17 10,15 10,13 10,11 10,09 10,06 10,04 10,02 10,00

14 9,98 9,95 9,93 9,91 9,89 9,87 9,85 9,83 9,81 9,78

15 9,76 9,74 9,72 9,70 9,68 9,66 9,64 9,62 9,60 9,58

16 9,56 9,54 9,52 9,50 9,48 9,46 9,45 9,43 9,41 9,39

17 9,37 9,35 9,33 9,31 9,30 9,28 9,26 9,24 9,22 9,20

18 9,18 9,17 9,15 9,13 9,12 9,10 9,08 9,06 9,04 9,03

19 9,01 8,99 8,98 8,96 8,94 8,93 8,91 8,89 8,88 8,86

20 8,84 8,83 8,81 8,79 8,78 8,76 8,75 8,73 8,71 8,70

21 8,68 8,67 8,65 8,64 8,62 8,61 8,59 8,58 8,56 8,55

22 8,53 8,52 8,50 8,49 8,47 8,46 8,44 8,43 8,41 8,40

23 8,38 8,37 8,36 8,34 8,33 8,32 8,30 8,29 8,27 8,26

24 8,25 8,23 8,22 8,21 8,19 8,18 8,17 8,15 8,14 8,13

25 8,11 8,10 8,09 8,07 8,06 8,05 8,04 8,02 8,01 8,00

26 7,99 7,97 7,96 7,95 7,94 7,92 7,91 7,90 7,89 7,88

27 7,86 7,85 7,84 7,83 7,82 7,81 7,79 7,78 7,77 7,76

28 7,75 7,74 7,72 7,71 7,70 7,69 7,68 7,67 7,66 7,65

29 7,64 7,62 7,61 7,60 7,59 7,58 7,57 7,56 7,55 7,54

30 7,53 7,52 7,51 7,50 7,48 7,47 7,46 7,45 7,44 7,43

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 4. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur BOD5

Sampel air

Sampel air I Sampel air II


Dihitung Nilai DO Diinkubasi Selama 5 Hari pada
Awal Temperatur 20 oC

Dihitung nilai DO Akhir

DO awal DO akhir
Keterangan :
- Perhitungan Nilai DO Awal Dan DO Akhir sama dengan perhitungan Nilai DO
pada lampiran B
- Nilai BOD = Nilai DO Awal - DO Akhir.

( Michael,1984: Suin, 2002)

Lampiran 5. Bagan Kerja Kandungan Nitrat (NO3)

5 ml Sampel Air
1 ml NaCl (dengan pipet volume)
5 ml H2SO4 75 %
4 tetes asam brucine sulfat sulfanic

Larutan

Dipanaskan selama 25 menit,suhu 95oC

Larutan
Didinginkan
Diukur dengan spektofotometer pada
λ = 410 nm

Hasil (Konsentrasi Nitrat )


Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
( Michael,1984: Suin, 2002)
Lampiran 6. Bagan Kerja Analisa Fosfat (PO43-)

5 ml Sampel Air
2ml Reagan Amstrong
1 ml Asam Askorbat

Larutan
Dibiarkan selama 20 menit
Diukur dengan
spektofotometer pada
λ = 880 nm

Hasil
(Konsentrasi Fosfat )

(Michael, 1984: Suin, 2002)

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 7. Bagan Kerja Pengukuran Absorban Klorofil a

1000 ml Sampel air Disaring dengan kain kasa

Hasil Filtrasi
Dipindahkan ke dalam Lempung
Ditambah 5 ml Aseton
Digiling dengan alu
Dituang ke dalam Tabung Sentrifus
Dicuci kain kasa penyaring filtrate dengan 5
ml Aseton
Dituang Kedalan sentrifus yang sama

Ekstraksi Aseton dalam Tabung Sentrifus


Didiamkan selama 0,5 – 1 jam
Disentrifus dengan kecepatan 1500 rpm selama 5 menit
Dituang ke dalam kuvet

Ekstrak Aseton dalam Kupet


Diukur Absorban Klorofil a dengan spektofometer pada
λ = 665 nm dan λ = 730 nm
Dipindahkan ke dalam tabung sentrifus

Ekstraksi Aseton dalam Tabung


DitambahSentrifus
0,1 ml HCl 4 N
Disentrifus selama 30 detik
Dipindahkan ke dalam kuvet

Ekstrak Aseton dalam Kupet


Diukur Absorban Klorofil a dengan spektofometer pada
λ = 665 nm dan λ = 730 nm

(Sugianto,2004)
Hasil

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 8. Nilai Pengukuran Konsentrasi Klorofil a di Balige

Lokasi/kedalaman λ
665 730

A1 A2 A1 A2
I 0m 0,025 0,019 0,045 0,038
5m 0,042 0,035 0,052 0,038
10 m 0,052 0,040 0,065 0,049
II 0m 0,028 0,025 0,089 0,061
5m 0,025 0,119 0,122 0,195
10m 1,276 1,130 1,359 1,207
III 0m 0,119 0,213 0,527 0,592
5m 0,550 0,047 0,648 0,078
10 m 1,313 1,422 1,438 1,497
IV 0m 0,820 0,880 0,926 0,907
5m 0,573 0,605 0,672 0,619

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 9. Nilai Pengukuran Produktivitas Primer

Sta Keda O2 Respirasi O2 Produktivitas


siun laman Awal Akhir (R) Akhir Akhir Kotor Bersih Bersih Bersih
Botol Botol Botol (Pg) (PN) (PN) (PN)
gelap terang Gelap Mg Mg
C/m /6jam C/m3/hari
3

I 0m 7,0 6,4 0,6 6,8 6,4 0,4 0,2 75,07 150,14


7,0 6,4 0,6 7,2 6,4 0,8 0,2 75,07 150,14
7,0 6,4 0,6 7,2 6,4 0,8 0,2 75,07 150,14
5m 7,2 6,4 0,8 7,0 6,4 0,6 0,2 75,07 150,14
7,2 6,4 0,8 7,0 6,4 0,6 0,2 75,07 150,14
7,2 6,4 0,8 6,5 6,4 0,1 0,7 262,75 525,50
10 7,0 6,6 0,4 6,9 6,6 0,3 0,1 37,54 75,08
7,0 6,6 0,4 6,9 6,6 0,3 0,1 37,54 75,08
7,0 6,5 0,4 6,8 6,5 0,3 0,1 37,54 75,08
II 0m 7,1 7,0 0,1 6,4 7,0 0,6 0,5 187,68 375,36
7,1 7,0 0,1 6,2 7,0 0,8 0,7 262,75 525,50
7,1 7,0 0,1 6,2 7,0 0,8 0,7 262,75 525,50
5m 6,8 6,6 0,2 7,0 6,6 0,4 0,2 75,07 150,14
6,8 6,7 0,1 7,0 6,7 0,3 0,2 75,07 150,14
6,9 6,8 0,1 6,6 6,8 0,2 0,1 37,54 75,08
10 6,9 6,8 0,1 7,2 6,8 0,2 0,1 37,54 75,08
6,9 6,8 0,1 7,2 6,8 0,2 0,1 37,54 75,08
6,8 6,7 0,1 7,0 6,7 0,3 0.2 75,07 150,14
III 0m 7,2 6,6 0,6 7,0 6,6 0,4 0,2 75,07 150,14
7,2 7,0 0,2 7,1 7,0 0,1 0,1 37,54 75,08
7,2 7,0 0,2 7,1 7,0 0,1 0,1 37,54 75,08
5m 6,6 6,2 0,4 6,5 6,2 0,3 0,1 37,54 75,08
6,6 6,3 0,3 6,5 6,3 0,2 0,1 37,54 75,08
6,6 6,3 0,3 6,4 6,3 0,1 0,2 75,07 150,14
10 6,9 6,3 0,6 6,8 6,3 0,5 0,1 37,54 75,08
6,9 6,3 0,6 6,8 6,3 0,5 0,1 37,54 75,08
6,9 6,0 0,9 6,6 6,0 0,6 0,3 112,61 225,22
IV 0m 7,2 6,0 1,2 6,2 6,0 0,2 1,0 375,36 750,72
7,2 6,0 1,2 6,1 6,0 0,1 1,1 412,90 825,80
7,2 6,0 1,2 6,1 6,0 0,1 1,1 412,90 825,80
5m 7,5 6,6 0,9 6,8 6,6 0,2 0,7 262,75 525,50
7,5 6,6 0,9 6,8 6,6 0,2 0,7 262,75 525,50
7,5 6,6 0,9 6,8 6,6 0,2 0,7 262,75 525,50
10m 7,5 6,2 1,3 6,3 6,2 0,1 1,2 450,432 900,86
7,5 6,0 1,5 6,3 6,0 0,3 1,2 450,432 900,86
Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
7,5 6,0 1,5
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009 6,2 6,0 0,2 1,3 487,97 975,94
USU Repository © 2008
Lampiran 10. Nilai Korelasi Pearson Versi 16.00
PP Klorofil DO BOD5 NO3 PO4 COD pH Suhu Int.Cah Kej.O2
PP Pearson
1 .742(**) -.191 .293 -.726(**) -.371 -.214 .345 .010 -.838(**) .765(**)
Corr
Sig. (2-
.003 .276 .178 .004 .117 .252 .136 .488 .000 .002
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Klo Pearson
.742(**) 1 -.546(*) .078 -.682(**) -.594(*) .192 .669(**) .148 -.552(*) .528(*)
rofil Corr
Sig. (2-
.003 .033 .404 .007 .021 .275 .009 .323 .031 .039
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
DO Pearson
-.191 -.546(*) 1 -.280 .261 .292 -.172 -.502(*) -.120 .266 -.074
Corr
Sig. (2-
.276 .033 .189 .206 .178 .296 .048 .355 .202 .409
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
BOD5 Pearson
.293 .078 -.280 1 -.429 .168 -.599(*) -.027 -.359 -.446 .567(*)
Corr
Sig. (2-
.178 .404 .189 .082 .301 .020 .467 .126 .073 .027
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
NO3 Pearson
-.726(**) -.682(**) .261 -.429 1 .165 .462 -.348 .438 .747(**) -.711(**)
Corr
Sig. (2-
.004 .007 .206 .082 .304 .065 .134 .077 .003 .005
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
PO4 Pearson
-.371 -.594(*) .292 .168 .165 1 -.619(*) -.508(*) -.347 .105 -.183
Corr
Sig. (2-
.117 .021 .178 .301 .304 .016 .046 .135 .373 .285
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
COD Pearson .772(*
-.214 .192 -.172 -.599(*) .462 -.619(*) 1 .348 .533(*) -.277
Corr *)
Sig. (2-
.252 .275 .296 .020 .065 .016 .134 .002 .037 .191
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
pH Pearson
.345 .669(**) -.502(*) -.027 -.348 -.508(*) .348 1 -.005 -.403 .427
Corr
Sig. (2-
.136 .009 .048 .467 .134 .046 .134 .494 .097 .083
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Suhu Pearson
.010 .148 -.120 -.359 .438 -.347 .772(**) -.005 1 .411 -.118
Corr
Sig. (2-
.488 .323 .355 .126 .077 .135 .002 .494 .092 .358
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Int.Cah Pearson
-.838(**) -.552(*) .266 -.446 .747(**) .105 .533(*) -.403 .411 1 -.674(**)
Corr
Sig. (2-
.000 .031 .202 .073 .003 .373 .037 .097 .092 .008
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Kej.O2 Pearson
.765(**) .528(*) -.074 .567(*) -.711(**) -.183 -.277 .427 -.118 -.674(**) 1
Corr
Sig. (2-
.002 .039 .409 .027 .005 .285 .191 .083 .358 .008
tailed)
N 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 11. Contoh Hasil Perhitungan
1. Produktivitas Primer (PP) pada stasiun 1

Produktivitas bersih (PN) = Produktivitas Kotor (PG) – Respirasi (R)


Keterangan :
R = (O2)awal – (O2)akhir pada botol gelap
Pg = (O2)akhir pada botol terang – (O2)akhir pada botol gelap

Ulangan 1 :
PG = 6,8 - 6,4 = 0,4
R = 7,0 - 6,4 = 0,6
PN = PG - R
0,4 - 0,6 = 0,2 x 375,36 = 150,14

Ulangan 2 :
PG = 7,2 - 6,4 = 0,8
R = 7,0 - 6,4 = 0,6
PN = 0,8 - 0,6 = 0,2 x 375,36 = 150,14

Ulangan 3 :
PG = 7,2 - 6,4 = 0,8
R = 7,0 - 6,4 = 0,6
PN = 0,8 - 0,6 = 0,2 x 375,36 = 150,14

2. Klorofil a

Klorofil a (mg/m3) = (11,0)(2,43)(A1 – A2)(V1/V2)/d

Dengan catatan :
11,0 = koefisien absorsi
2,43 = faktor koreksi
A1 = absorbsi klorofil a dan pheophytin sampel
A2 = absorban sampel yang disaring (m3)
V1 = volume ekstrak aseton (liter)
V2 = volume sampel yang disaring (m3)
D = Diameter kuvet (cm)

Nilai A1 dan A2 terlebih dahulu dikoreksi dengan mengurangkan dari absorban blanko
730 nm (Sugianto, 2004).

Stasiun I klorofil a 0 meter


A1 = 0,045 - 0,025 = 0,020
A2 = 0,038 - 0,019 = 0,018
Klorofil a (mg/m3) = (11,0) (24,3) (A1-A2) (V1/V2) / d
= (11,0) (24,3) (0,0,020 - 0,018) (0,01/1000) / 1

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
= 5,35

Stasiun I klorofil a 5 meter

A1 = 0,052 - 0,042 = 0,010


A2 = 0,038 - 0,035 = 0,003
Klorofil a (mg/m3) = (11,0) (24,3) (A1-A2) (V1/V2) / d
= (11,0) (24,3) (0,010 - 0,013) (0,01/1000) / 1
= 18,711

Stasiun I klorofil a 10 meter

A1 = 0,065 - 0,052 = 0,013


A2 = 0,049 - 0,040 = 0,009
Klorofil a (mg/m3) = (11,0) (24,3) (A1-A2) (V1/V2) / d
= (11,0) (24,3) (0,013 - 0,009) (0,01/1000) / 1
= 10,69

3. Kejenuhan Oksigen
Untuk menghitung nilai kejenuhan oksigen digunakan rumus :
O 2(u )
Kejenuhan (%) = x 100%
O 2(t )
O2 (u) = Nilai konsentrasi oksigen yang diukur (mg/l)
O2 (t) = Nilai konsentrasi oksigen sebenarnya (pada tabel) sesuai dengan harga
temperatur. Tabel Nilai oksigen terlarut maksimum terlampir
(Lampiran )

7,0
Kejenuhan (%) = x 100% = 85, 57
8,18

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 12. Alur Kerja Penentuan Nilai COD

Sampel air
KMnO4 0,1 ml
Dipanaskan selama 1 jam
Lalu didinginkan 10 menit
Ditambahkan 10 ml KI 10%
Ditambahkan H2SO4 4N 10 ml
Dititrasi dengan larutan Triosulfat

Sampel Berwarna Kuning Pucat

Ditambahkan larutan Amilum 1%

Sampel Berwarna Biru

Dititrasi dengan Larutan Triosulfat

Sampel Berwarna Bening Dihitung Banyaknya


Tiosulfat yang terpakai
sebagai nilai COD

(Sugianto, 2004)
Lampiran 13. Nilai Kejenuhan Oksigen

Stasiun Kedalaman Suhu Oksigen Oksigen Kejenuhan Rata-


air yang Tabel Oksigen(%) rata
diukur
I 0m 24,5 7,0 8,18 85,57 85,57
24,5 7,0 8,18 85,57
24,5 7,0 8,18 85,57
5m 24 7,2 8,25 87,27 87,27
24 7,2 8,25 87,27
24 7,2 8,25 87,27
10m 24 7,0 8,25 84,85 84,85
24 7,0 8,25 84,85
24 7,0 8,25 84,85
II 0m 25 7,1 8,11 87,55 87,55
25 7,1 8,11 87,55

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
25 7,1 8,11 87,55
5m 24,5 6,8 8,18 83,13 83,13
24,5 6,8 8,18 83,13
24,5 6,9 8,18 83,13
10m 25 6,9 8,11 83,85 83,85
25 6,9 8,11 83,85
25 6,8 8,11 83,85
III 0m 25 7,2 8,11 88,78 88,78
25 7,2 8,11 88,78
25 7,2 8,11 88,78
5m 25 6,6 8,11 81,38 81,38
25 6,6 8,11 81,38
25 6,6 8,11 81,38
10m 25 6,9 8,11 85,08 85,08
25 6,9 8,11 85,08
25 6,9 8,11 85,08
IV 0m 24,5 7,2 8,18 88,78 88,01
24,5 7,2 8,18 88,78
24,5 7,2 8,18 88,78
5m 24 7,5 8,25 90,90 90,90
24 7,5 8,25 90,90
24 7,5 8,25 90,90
10m 25 7,5 8,11 92,48 92,48
25 7,5 8,11 92,48
25 7,5 8,11 92,48

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008
Lampiran 14. Gambar pada Waktu Penelitian

Gambar Pengambilan Sampel Air dengan Lamnot pada Setiap Kedalaman

Gambar Penanaman Botol Winkler dengan Menggunakan Pelampung

Gambar Pemasangan Pertanda Posisi Botol Winkler pada Setiap Stasiun Pengamatan

Mangatur Sitorus : Hubungan Nilai Produktivitas Primer Dengan Konsentrasi Klorofil a, Dan Faktor Fisik Kimia Di
Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera Utara, 2009
USU Repository © 2008