Anda di halaman 1dari 16

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN


SUBKONTRAK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG DI INDONESIA

Henrico
Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email : henrico.harianja@gmail.com

Anton Soekiman
Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
Email: soekiman@unpar.ac.id

ABSTRAK : Ketimpangan komposisi kontraktor kecil yang bersifat spesialis di Indonesia sangat ditentukan oleh
pasar jasa konstruksi subkontrak terhadap usaha spesialis. Sebagai salah satu langkah awal mendorong
pelaksanaan subkontrak konstruksi kepada kontraktor spesialis adalah dengan mengetahui perilaku kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak konstruksi termasuk didalamnya faktor-faktor yang terkait keputusan
kontraktor utama melakukan subkontrak konstruksi, aspek dominan yang menjadi dasar dalam pemilihan
subkontraktor, metode pemilihan subkontraktor, metode pembayaran subkontraktor, serta persepsi kontraktor
terhadap kinerja subkontraktor. Selain itu, juga diperlukan suatu identifikasi alternatif kebijakan sebagai upaya
untuk mendorong pelaksanaan subkontrak konstruksi. Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 37 project
manager, project engineer, project supervisor dari 8 kontraktor besar di Indonesia, memberikan informasi
bahwa faktor ketersediaan kontraktor lokal yang memiliki pengalaman dan peralatan yang sesuai adalah faktor
dominan bagi kontraktor utama dalam memutuskan akan mensubkontrakkan suatu pekerjaan. Namun
demikian, hasil analisa korelasi terhadap tingkat subkontrak dari pekerjaan-pekerjaan dalam lingkup proyek
bangunan gedung, memberikan indikasi bahwa minimnya kontraktor lokal yang memiliki kemampuan dan
kapasitas khususnya dalam hal pengalaman dan kepemilikan peralatan menjadi salah satu faktor keengganan
kontraktor utama melakukan subkontrak konstruksi di Indonesia. Oleh sebab itu, upaya mendorong pelaksanaan
subkontrak konstruksi harus lebih fokus diarahkan kepada pengembangan kemampuan dan daya saing
(competitivenes) kontraktor kecil dilevel lokal dibandingkan dengan kebijakan yang mewajibkan kontraktor
utama melakukan subkontrak konstruksi. Selain itu, berdasarkan 3 responden ahli yang disurvey dengan
menggunakan metode Analytical Hiearracy Process (AHP) menghasilkan alternatif kebijakan prioritas antara
lain pengaturan yang mewajibkan peserta lelang untuk mencantumkan rencana pengguna subkontraktor dalam
dokumen penawaran, memberikan pelatihan kepada penanggungjawab teknik kontraktor kecil serta
meningkatkan akuntabilitas proses sertifikasi dan registrasi kontraktor.

Kata kunci : Subkontrak konstruksi, Kebijakan, Daya saing, Kontraktor Spesialis

ABSTRACT: Inequality in composition of small contractors who are specialists in Indonesia is largely determined
by the market of construction services subcontracted to specialist businesses. As one of the initial steps to
encourage the implementation of the construction subcontract to specialist contractor is to study the behavior of
the prime contractor in the execution of construction subcontracts including dominan factors related to the
decision made by the main contractor to subcontract some of the construction work, what is the dominant aspect
in the selection of subcontractors, subcontractor selection methods, payments methods of the subcontractor, as
well as perceptions of the performance of the contractor against the subcontractor. Moreover, it also required an
identification of policy alternatives in an effort to encourage the implementation of the construction subcontract.

1|K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Based on a survey conducted on 37 project manager , project engineer , project supervisor of 8 major contractor
in Indonesia, providing information that the availability of local contractors who have the experience and the
proper equipment is the dominant factor in deciding the prime contractor will subcontract some of the
construction work . Nevertheless, the results of correlation analysis of the level of subcontracting of the
construction work within the scope of the building project, the dominant factor was not significantly correlated
with the level of subcontracting especially for work related to structure work and architectural work. This gives
an indication that the lack of local contractors who have the ability and capacity, especially in terms of
experience and ownership of the equipment to be one factor that prime contractor reluctance to subcontract
some of construction works in Indonesia . Therefore, efforts to encourage the implementation of construction
subcontracts should be focused on capacity building and competitiveness at the level of local small contractors
compared to the policy that requires prime contractors to subcontract some of the construction work . Based on
survey conducted to 3 experts respondents using Hiearracy Analytical Process ( AHP ) generating alternatives
include setting policy priorities that require bidders to include subcontracting plan in bidding documents ,
provide technical training to managers of small contractors and increase the accountability of contractor
certification and registration process.

Keywords: Construction Subcontract, Construction Policy, Competitiveness, Specialist Contractors

PENDAHULUAN pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun


Struktur usaha yang kokoh, sesuai dengan 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
penjelasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun Pemerintah yang menyatakan pekerjaan
1999, diimplementasikan dalam bentuk konstruksi dibawah Rp 2.5 Milyar
tercapainya kerjasama yang sinergis antara diperuntukkan untuk usaha kecil sehingga
Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK) secara jumlah paket pekerjaan, akan lebih
kualifikasi besar, menengah dan kecil serta banyak paket pekerjaan yang diperuntukkan
BUJK Umum, Spesialis dan Keterampilan bagi kontraktor kecil.
Tertentu. Dari data Badan Pembinaan
Konstruksi (2011) diketahui 88 % kontraktor Namun secara total nilai paket, berdasarkan
di Indonesia merupakan kontraktor kecil, data paket pekerjaan konstruksi di 3 provinsi
dan 99.95 % diantaranya adalah kontraktor misalnya yakni Sumatera Utara, Kalimantan
kecil yang bersifat umum. Tengah dan Banten yang bersumber dari
APBN/APBD pada tahun 2011 menunjukkan
Bila dibandingkan dengan komposisi 92 % dari total nilai paket pekerjaan
kontraktor umum-spesialis pada negara lain konstruksi yang bersumber dari dana APBN
seperti Inggris yang merupakan salah satu dan 70 % total nilai paket pekerjaan
satu negara maju dibidang jasa konstruksi konstruksi yang bersumber dari APBD
dimana kontraktor dengan kualifikasi kecil merupakan paket yang diperuntukkan untuk
cenderung untuk menjadi kontraktor yang usaha non-kecil.
bersifat spesialis. Kontraktor kecil di
Indonesia yang cenderung bersifat umum Paket pekerjaan yang diperuntukkan bagi
salah satunya disebabkan oleh struktur usaha non-kecil tersebut, sesungguhnya
usaha yang dibentuk karena adanya regulasi didalamnya terkandung pasar bagi

2|K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

subkontrak konstruksi terhadap kontraktor manajemen dan aktivitas koordinasi.


kecil yang bersifat spesialis. Namun Subkontrak secara definisi merupakan suatu
demikian, besar pasar subkontrak kepada perjanjian, perintah pesanan atau instrumen
kontraktor spesialis tersebut sangat legal lainnya, dibawah kontrak utama, antara
dipengaruhi oleh perilaku kontraktor utama kontraktor utama dengan pihak ketiga yakni
dalam pelaksanaan subkontrak konstruksi. subkontraktor untuk melaksanakan suatu
pekerjaan atau produksi atau jasa yang
RUMUSAN MASALAH merupakan bagian tertentu dari lingkup
Sebagai salah satu upaya untuk dapat kontrak utama dengan kinerja tertentu
mendorong kontraktor kecil menjadi (bussinesdictionary.com, 2013). Salah satu
kontraktor yang bersifat spesialis adalah proses yang harus dilakukan oleh kontraktor
dengan mengetahui perilaku kontraktor sebelum fase mobilisasi adalah menentukkan
utama dalam pelaksanaan subkontrak bagian pekerjaan yang akan disubkontrakkan
konstruksi termasuk didalamnya faktor- (Bennet, 2003). Ketika kontraktor
faktor yang terkait keputusan kontraktor memutuskan untuk menentukkan bagian
utama melakukan subkontrak konstruksi, pekerjaan yang akan disubkontrakkan, maka
aspek dominan yang menjadi dasar dalam beberapa pertimbangan seperti keuntungan
pemilihan subkontraktor, metode pemilihan dan kerugian melakukan subkontrak untuk
subkontraktor, metode pembayaran bagian pekerjaan tersebut harus dievaluasi
subkontraktor, serta persepsi kontraktor (Bennet, 2003). Faktor –faktor yang
terhadap kinerja subkontraktor. Selain itu, mempengaruhi keputusan kontraktor utama
identifikasi alternatif kebijakan yang dapat melakukan subkontrak berserta referensi
dilakukan Pemerintah untuk mendorong sumber dapat dilihat pada tabel 1.
kontraktor utama melakukan subkontrak
konstruksi juga perlu dilakukan. Tabel 1 Faktor Keputusan Subkontrak

Referensi Faktor Subkontrak


MAKSUD DAN TUJUAN
Melakukan analisa perilaku kontraktor Input dari perencanaan
utama dalam pelaksanaan subkontrak pengadaan proyek antara lain:
konstruksi di Indonesia serta
1. Faktor Lingkungan Perusahaan
mengidentifikasi dan menganalisa alternatif-
(ketersediaan supplier)
alternatif kebijakan yang menjadi prioritas 2. Aset Proses Perusahaan
dalam rangka mendorong pelaksanaan PMBOK, 2004 (Prosedur, Panduan,
subkontrak konstruksi di Indonesia. Kebijakan)
3. Ruang Lingkup Proyek
4. WBS
LANDASAN TEORI 5. Daftar Risiko Proyek
6. Estimasi kebutuhan sumber
daya aktivitas
Penerapan subkontrak di industri konstruksi 7. Estimasi Biaya
telah menjadi praktik yang biasa dilakukan 8. Jadwal Induk Proyek
oleh kontraktor utama dimana kontraktor Moschuris, Isu dari keputusan melakukan
utama hanya berperan dalam melaksanakan 2007 subkontrak dipicu oleh:

35 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

1. Kualitas; melakukan subkontrak


2. Biaya; karena bagian dari kebijakan
3. Kapasitas sumber daya dari Corporate Social
perusahaan; Responsibility Perusahaan
4. Kinerja supplier; 3. Kontraktor utama
5. Fluktuasi penjualan; melakukan subkontrak
6. Teknologi baru karena memiliki
Faktor pekerjaan tertentu anak/cabang perusahaan
disubkontrakkan: yang memiliki sifat
spesialis/keterampilan
Madras 1. Lebih murah O’Brien dan ketersediaan sistem informasi
Management 2. Keahlian tidak tersedia atau Marakas,2009) database subkontraktor secara
Training tidak ada nasional.
3. Volume pekerjaan terlalu
Institute
kecil
(MMTI), 2008 4. Lebih efesien
5. Transfer risiko Selain faktor-faktor keputusan subkontrak,
6. Ketersediaan subkontraktor perilaku lain dalam subkontrak hasil dari
7. Tim proyek dapat fokus
studi literatur yang dilakukan antara lain
kepada pekerjaan lain
Peraturan Pekerjaan bukan merupakan
seperti dapat dilhat pada tabel 2.
Presiden bukan pekerjaan utama Tabel 1 Perilaku Kontraktor Utama Dalam
Nomor 54
Subkontrak.
Tahun 2011
Variabel Perilaku Subvariabel Perilaku
1. Kontraktor utama melakukan 1. Pekerjaan lahan (sitework)
Jenis Pekerjaan
subkontrak karena adanya 2. Pekerjaan Struktural
Yang
pengaturan dimana untuk 3. Pekerjaan Arsitektural
Disubkontrakkan
proyek besar, peserta tender 4. Pekerjaan Mekanikal
diwajibkan untuk 5. Pekerjaan Elektrikal;
mencatumkan daftar 6. Pekerjaan fasilitas eksterior
kontraktor spesialis/ bangunan
BPKSDM, 7. Pekerjaan interior
keterampilan sebagai mitra
2009 kerjanya. Sistem Pengadaan 1. Metode pelelangan terbuka
Subkontraktor dengan Prakualifikasi atau Pasca
2. Kontraktor utama melakukan
Kualifikasi.
subkontrak karena adanya
pengaturan dari Pemerintah Waktu Pemilihan 1. Penunjukkan subkontraktor yang
Subkontraktor dilakukan sebelum kontraktor utama
yang mendorong pengguna
melakukan penawaran
jasa untuk menggunakan 2. Penunjukkan subkontraktor yang
nominated subcontractor pada dilakukan setelah kontraktor utama
proyek besar. melakukan penawaran
Pemberian insentif kepada Aspek Evaluasi 1. Aspek Pengalaman
Iwantono, kontraktor utama dalam hal Subkontraktor 2. Aspek Tenaga Ahli dan/atau
terampil serta kesesuaian
2004 melakukan subkontrak dengan
kompetensi dengan lingkup
usaha kecil. pekerjaan
3. Aspek beban kerja dari
1. Kontraktor utama subkontraktor yang sedang berjalan
BPKSDM, 2004 melakukan subkontrak 4. Aspek kemampuan finansial
sebagai bagian dari mitigasi 5. Aspek teknis penawaran
risiko kepemilikan peralatan 6. Aspek harga penawaran
Metode 1. Secara bertahap sesuai progress
dan keahlian.
Pembayaran dengan uang muka.
2. Kontraktor utama 2. Pembayaran yang dilakukan jika

36 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

pengguna jasa sudah melakukan dimana setelah dilakukan uji validitas dan
pembayaran untuk pekerjaan yang
dilaksanakan oleh subkontraktor. reliabilitas seluruh item pertanyaan dalam
Jenis Subkontrak 1. Subkontrak tenaga kerja kuisioner dapat dianggap valid dan reliabel
2. Subkontrak tenaga kerja, material,
Tabel 3 Uji validitas dan reliabilitas
maupun peralatan.
3. Subkontrak Peralatan kuisioner Diolah SPSS 20
Proses 1. Keputusan subkontrak dan
Pengambilan penunjukkan subkontraktor
Keputusan diserahkan sepenuhnya kepada
organisasi proyek.
subkontrak dan
2. Keputusan subkontrak dan Correcte
pelaksanaan penunjukkan subkontraktor Scale Scale d Item nilai Cronbach's
pengadaan diserahkan sepenuhnya kepada Mean if Variance R tabel Alpha if
No.
subkontraktor manajemen pusat. Item if Item -Total product Item
3. Keputusan subkontrak dan Deleted Deleted Correlati moment Deleted
penunjukkan subkontraktor on
tergantung kepada nilai proyek
1 57.19 251.55 0.62 0.32 0.93 Valid
Persepsi Terhadap Kinerja Mutu, Kinerja Waktu, Kinerja
Kinerja Keselamatan Kerja dan Kinerja 2 57.08 254.52 0.58 0.32 0.93 Valid
Subkontraktor Kepedulian lingkungan
3 57.00 252.06 0.62 0.32 0.93 Valid
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4 57.49 258.09 0.55 0.32 0.93 Valid
Perilaku Kontraktor Utama Dalam
5 57.49 259.09 0.49 0.32 0.93 Valid
Pelaksanaan Subkontrak
Profil responden yang melakukan pengisian 6 57.08 254.35 0.65 0.32 0.92 Valid
kuisioner perilaku subkontrak dapat dilihat 7 57.43 252.64 0.63 0.32 0.92 Valid
pada gambar 1. profil responden kuisioner
8 57.35 259.62 0.51 0.32 0.93 Valid
perilaku subkontrak.
9 56.84 267.20 0.36 0.32 0.93 Valid
Profil Responden Berdasarkan Besar Proyek Pengalaman

10 57.03 255.30 0.59 0.32 0.93 Valid

11 56.46 250.64 0.67 0.32 0.92 Valid


Profil Responden Berdasarkan Jabatan

12 56.22 248.56 0.69 0.32 0.92 Valid

13 56.32 249.89 0.72 0.32 0.92 Valid


Profil Responden Berdasarkan Lama Pengalaman

14 56.70 253.94 0.61 0.32 0.93 Valid

15 56.43 253.09 0.69 0.32 0.92 Valid

16 56.46 253.26 0.66 0.32 0.92 Valid

17 56.57 252.64 0.60 0.32 0.93 Valid

Gambar 1 Profil Responden Kuisioner 18 56.86 257.45 0.56 0.32 0.93 Valid
Perilaku Subkontrak 19 56.62 255.19 0.59 0.32 0.93 Valid

Dari hasil pengisian kuisioner perilaku 20 57.54 260.09 0.44 0.32 0.93 Valid

subkontrak dilakukan uji validitas dan 21 56.97 248.25 0.73 0.32 0.92 Valid
reliabilitas dengan menggunakan SPSS versi
20 sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.

37 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

Setelah dilakukan uiji validitas dan perusahaan tidak memiliki 2.6757 .20887
basis peralatan dilokasi proyek
reliabilitas, dapat dilihat pada tabel 4 Analisa
Deskriptif Faktor-Faktor Subkontrak. Utilisasi peralatan yang 2.5676 .22104
dimiliki perusahaan sudah
maksimal
Tabel 2 Analisa Deskriptif Faktor
Subkontrak Program CSR 2.4054 .18768
Mean
Mitigasi risiko SDM 2.3243 .20887
Indikator Statistic Std. Error
Utilisasi SDM Terampil sudah 2.2703 .20003
maksimal
Ketersediaan subkontraktor 3.5405 .22123
lokal yang memiliki
Utilisasi SDM Ahli sudah 2.2703 .18844
pengalaman yang sesuai
maksimal
Ketersediaan subkontraktor 3.4324 .20335
Insentif pegguna jasa 2.2162 .20916
lokal yang memiliki peralatan
yang sesuai

Ketersediaan subkontraktor 3.3243 .19005 Adapun 5 faktor paling dominan yang


mitra yang memiliki
pengalaman yang sesuai
menjadi pertimbangan ketika kontraktor
utama akan melakukan subkontrak
Penawaran harga pekerjaan 3.2973 .21176 konstruksi adalah:
yang lebih murah dibanding
kan estimasi biaya pekerjaan
mandiri oleh kontraktor utama 1. Ketersediaan subkontraktor lokal yang
memiliki pengalaman yang sesuai.
Ketersediaan subkontraktor 3.2973 .19707
mitra yang memiliki Peralatan
yang sesuai 2. Ketersediaan subkontraktor lokal yang
memiliki peralatan yang sesuai.
Ketersediaan subkontraktor 3.1892 .21864
mitra yang memiliki SDM yang
sesuai
3. Ketersediaan subkontraktor mitra yang
memiliki pengalaman yang sesuai.
Regulasi penggunaan 3.1351 .20195
subkontraktor 4. Penawaran harga pekerjaan yang lebih
Ketersediaan subkontraktor 3.0541 .20484 murah dibanding kan estimasi biaya
lokal yang memiliki SDM Lokal pekerjaan mandiri oleh kontraktor utama.
yang sesuai

Nominated subcontractor 2.8919 .19291 5. Ketersediaan subkontraktor mitra yang


memiliki Peralatan yang sesuai.
Memiliki cabang perusahaan 2.8108 .18518
Berdasarkan data pendukung lain yang
Tersedianya sistem informasi 2.7838 .21272
berhasil didapat, maka perilaku kontraktor
Pekerjaan membutuhkan 2.7568 .21715 utama dalam pelaksanaan subkontrak juga
teknologi baru
dapat secara spesifik dilihat pada tabel 5.
Kelancaran arus kas 2.7297 .20003 Informasi Perilaku Subkontrak.
Mitigasi risiko kepemilikan 2.6757 .19005
alat

38 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

Tabel 5 Informasi Perilaku Subkontrak Sedangkan untuk tingkat subkontrak dari


item pekerjaan dalam lingkup proyek
Nama PerilakuTerkait Dengan
bangunan gedung menurut persepsi para
Penggunaan Subkontraktor responden adalah sebagaimana dapat dilihat
pada tabel 6. Tingkat subkontrak item
Subkontrakor yang bekerja di PT
Hutama Karya adalah subkontraktor pekerjaan
yang memiliki pengalaman dan sudah
diseleksi oleh kantor wilayah. Tabel 6 Tingkat Subkontrak Item Pekerjaan
Subkontraktor yang sudah memenuhi Descriptive Statistics
persyaratan akan masuk kedalam
suatu Daftar Rekanan Tetap (DRT). Std.
Pada setiap pelaksanaan: Mean Deviation Variance

1. Project Manager akan Std.


mengajukan rencana Statistic Error Statistic Statistic
PT Hutama penggunaan subkontraktor
yang ada dalam DRT. Pekerjaan
Karya 2.567 .18801 1.14359 1.308
2. Site Engineering Manajer akan Lahan
melakukan penilaian terhadap
subkontraktor, baik subkontraktor Pekerjaan
2.027 .17962 1.09256 1.194
badan usaha maupun subkontraktor Struktur
perorangan serta melaporkan
sesuai dengan standard operating Pekerjaan
2.405 .19552 1.18929 1.414
procedur (SOP) “Prosedur Arsitektur
Pengadaan Jasa dan Prosedur
Pengendalian Operasional Pekerjaan
3.8108 .18518 1.12640 1.269
Subkontraktor” Mekanikal
3. Site Engineering Manajer akan
melaporkan ke tingkat wilayah Pekerjaan
3.7838 .19810 1.20497 1.452
daftar subkontraktor terpakai yang Elektrikal
diambil dari DRT.
Subkontraktor yang dipilih pada setiap Pekerjaan
fasilitas
proyek PT. Total Bangun Persada, 3.1944 .20633 1.23796 1.533
eksterior
merupakan subkontraktor yang sudah bangunan
melewati tahap seleksi baik kinerja
maupun performanya, sehingga mutu Pekerjaan
dan kualitasnya terjamin. Berdasarkan Interior 3.2973 .21874 1.33052 1.770
kebijakan mutu TOTAL yang berbunyi bangunan
PT. Total
“Bermitra kerja dengan Pemasok /
Bangun
Subkontraktor pilihan yang dikelola
Persada
secara efektif”, TOTAL menjaga
hubungan baik dengan pemasok/ Pada tabel 6. Tingkat subkontrak item
subkontraktor dengan cara
pekerjaan, dapat dilihat bahwa pekerjaan
melaksanakan pelatihan spesifik yang
intensif (training) untuk personil di yang dominan disubkontrakkan adalah
lapangan dan pemasok/ pekerjaan mekanikal, pekerjaan elektrikal
Subkontraktor. serta pekerjaan interior bangunan.
Sumber: Kinerja Proyek Konstruksi, 2013
Secara umum, perilaku dominan kontraktor
utama dalam pelaksanaan subkontrak hasil
dari pengisian kuisioner dapat dilihat pada

39 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

tabel 7. Perilaku Dominan Terkait Identifikasi Alternatif Kebijakan


Subkontrak Subkontrak Konstruksi
Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada
Tabel 7 Perilaku Dominan Terkait penelitian ini juga dilakukan identifikasi dan
Subkontrak pemilihan alternatif kebijakan yang dapat
mendorong pelaksanaan subkontrak
Variabel Perilaku Dominan konstruksi. Responden yang merupakan
Perilaku pengambil kebijakan atau praktisi yang
Faktor 1. Ketersediaan subkontraktor lokal
yang memiliki pengalaman yang memiliki pengalaman dibidang jasa
Pekerjaan
Disubkontrakkan sesuai konstruksi akan melakukan penilaiai
2. Ketersediaan subkontraktor lokal
yang memiliki peralatan yang sesuai
terhadap kriteria penilaian alternatif
3. Ketersediaan subkontraktor mitra kebijakan serta penilaian terhadap alternatif
yang memiliki pengalaman yang kebijkan secara perbandingan berpasangan
sesuai
Aspek Pemilihan 1. Aspek pengalaman dengam responden pada tabel 8. Responden
Subkontraktor 2. Aspek Harga Penawaran Identifikasi Alternatif Kebijakan
3. Aspek Peralatan

Pekerjaan 1. Pekerjaan Mekanikal Tabel 3 Responden Identifikasi Alternatif


Dominan Yang 2. Pekerjaan Elektrikal
3. Pekerjaan Interior bangunan
Kebijakan
Disubkontrakkan

Metode Pelelangan Umum bukan merupakan


Pemilihan metode umum yang digunakan dalam
Nama
pemilihan subkontraktor dan No. Pengalaman
Responden
cenderung kepada metode pelelangan
terbatas atau penunjukkan langsung 1. Wakil Ketua LPJKN
Dr. Putut bidang sertifikasi dan
Waktu Pemilihan subkontraktor cenderung 1. registrasi
Marhayudi
Pemilihan dilakukan setelah Kontraktor Utama 2. Kepala Bidang Regulasi
memasukkan penawran kepada dan Perizinan Usaha
Pengguna Jasa Jasa Konstruksi
1. Anggota Pengurus
Metode Metode pembayaran Kepada LPJKN Nasional Dari
Ir. H. Ruslan Kelompok Unsur
Pembayaran Subkontraktor Sesuai Kemajuan Proyek 2.
Rivai, M.M Asosiasi Perusahaan.
Dengan Uang Muka lebih cenderung 2. Wakil Sekretaris
dilakukan dibandingkan metode pay Jendera I BPP GAPENSI
when paid periode 2008-2013.
1. Mantan Direksi PT.
Persepsi Subkontraktor cenderung memiliki Hutama Karya
Mengenai kinerja kepedulian lingkungan dan 2. Pengurus Asosiasi
Kinerja keselamatan dan kesehatan kerja yang Kontraktor Indonesia
3. Ir. Suryanto 3. Salah Satu Tenaga Ahli
masih minim.
Restrukturisasi Usaha
Jasa Konstruksi
4. Juri Penilaian Lomba
Kinerja Proyek
Konstruksi Indonesia

40 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

Adapun hasil dari pemilihan kebijakan subkontraktor pada


proyek besar dengan
dengan menggunakan AHP oleh responden
nilai tertentu
tersebut dihasikan peringkat alternatif
kebijakan sebagai mana pada tabel 9. Pengembangan sistem
Peringkat Alternatif Kebijakan. informasi yang
meliputi database
kontraktor
Tabel 4 Peringkat Alternatif Kebijakan spesialis/keterampilan
Rata- termasuk sumber daya 0.083 0.188 0.044 0.105
Alternatif Kebijakan Resp.3 Resp.1 Resp.2 yang dimiliki,
rata
pengalaman, serta
Meningkatkan sebarannya untuk
akuntabilitas proses setiap daerah di
0.095 0.168 0.153 0.139
sertifikasi dan Indonesia
registrasi.

Pendidikan dan PEMBAHASAN


Pelatihan bagi
Penanggung Jawab 0.172 0.203 0.174 0.183 Dalam rangka pembahasan faktor-faktor
Teknik Badan Usaha yang mempengaruhi keputusan kontraktor
Kecil utama melakukan subkontrak konstruksi,
maka dilakukan analisa korelasi spearman’s
Pemberian insentif dengan hipotesis statistik dasar pengambilan
pajak bagi kontraktor
0.031 0.039 0.059 0.043 keputusan adalah sebagai berikut:
kecil yang bersifat
spesialis/keterampilan
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho diterima
Memberikan akses
pendanaan yang lebih
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho ditolak
mudah bagi 0.259 0.062 0.056 0.126
kontraktor Adapun hasil dari analisa korelasi
spesialis/keterampilan
spearman’s terhadap 5 faktor dominan yang
Kewajiban mempengaruhi keputusan subkontrak
menggunakan beserta korelasinya dengan persepsi
nominated responden terhadap tingkat subkontrak
0.067 0.056 0.166 0.096
subcontractor pada masing-masing pekerjaan sebagaimana dapat
proyek besar dengan dililhat pada lampiran 1. Analisa Korelasi
nilai tertentu Dari Faktor-Faktor Dominan Keputusan
Subkontrak Terhadap Tingkat Subkontrak
Pengaturan yang
mewajibkan peserta
Pekerjaan.
lelang untuk
mencantumkan 0.218 0.204 0.234 0.219 Berdasarkan lampiran 1. Analisa Korelasi
rencana pengguna
Dari Faktor-Faktor Dominan Keputusan
subkontraktor dalam
dokumen penawaran
Subkontrak Terhadap Tingkat Subkontrak
Pekerjaan, dari 5 faktor dominan yang
Pengaturan pemberian menurut responden penting bagi kontraktor
insentif bagi 0.074 0.075 0.110 0.086 utama dalam memutuskan suatu pekerjaan
kontraktor yang akan disubkontrakkan atau tidak, 2 faktor
menggunakan pertama adalah faktor yang terkait dengan

41 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

kemampuan kontraktor lokal yakni faktor sebagian pekerjaan tersebut terlambat atau
ketersediaan subkontraktor lokal yang mutu pekerjaan tidak sesuai dengan
memiliki pengalaman yang sesuai dan spesifikasi yang ditetapkan pengguna jasa,
ketersediaan subkontraktor lokal yang maka risiko tersebut akan ditanggung oleh
memiliki peralatan yang sesuai. Namun kontraktor utama.
demikian dilihat hasil korelasi antara kedua
faktor dominan tersebut dengan tingkat
Lebih jauh lagi, kontraktor utama juga
subkontrak masing-masing pekerjaan secara
melihat jika suatu pekerjaan dilakukan oleh
statistik tidak cukup signifikan.
subkontraktor lokal memiliki beberapa
keuntungan seperti pengetahuan
Faktor ketersediaan subkontraktor yang (knowledge) terhadap akses material dan
memiliki pengalaman hanya berkorelasi peralatan lokal dengan harga yang kompetitif
secara signifikan dengan pekerjaan interior serta sumber daya manusia lokal yang pasti
bangunan dan faktor ketersediaan lebih baik dibandingkan dengan
subkontraktor yang memiliki peralatan subkontraktor non-lokal. Selain itu, dengan
hanya berkorelasi signifikan secara statistik bekerjasama dengan subkontraktor lokal,
dengan pekerjaan mekanikal dan elektrikal. kontraktor utama dapat menjadikan hal itu
Hal ini memberikan informasi bahwa faktor sebagai bagian dari kebijakan Corporate
yang menurut kontraktor utama paling Social Responsibillity (CSR) dengan tujuan
penting ketika memutuskan akan mengembangkan perekonomian lokal dan
mensubkontrakkan pekerjaan yakni faktor membantu untuk meningkatkan kemampuan
yang terkait dengan kemampuan kontraktor dan kapasitas kontraktor lokal. Apalagi
lokal, belum menjadi faktor yang secara riil dengan kondisi dimana kontraktor lokal
menjadi alasan kontraktor utama melakukan melalui asosiasi kontraktor yang meminta
subkontrak pekerjaan konstruksi, yang untuk mendapatkan pekerjaan dari
artinya, keengganan kontraktor utama dalam kontraktor utama yang bekerja diwilayahnya.
melakukan subkontrak konstruksi lebih
cenderung disebabkan oleh ketersediaan
Namun demikian, meskipun kontraktor
subkontraktor lokal yang memiliki
utama melihat bahwa bekerjasama dengan
pengalaman dan peralatan masih sangat
subkontraktor lokal memiliki keuntungan
terbatas atau dengan kata lain subkontraktor
yang lebih dibanding dengan bekerjasama
yang memiliki kemampuan yang sesuai
dibandingka non-lokal atau bahkan
masih sangat minim.
dibandingkan dengan melakukan pekerjaan
secara swakelola, kontraktor utama masih
Sedangkan pada aspek pemilihan sangat berhati-hati untuk bekerja sama
subkontraktor, kontraktor utama juga dengan subkontraktor yang belum
cenderung menjadikan aspek pengalaman mendapatkan aspek kepercayaan (bussiness
menjadi aspek yang paling penting ketika trust) dari kontraktor utama atau dengan
akan memiliki subkontraktor. Dari hasil ini, kata lain, kontraktor utama tidak mau
terlihat bahwa sesuai dengan karakteristik mengambil risiko memberikan pekerjaan
jasa konstruksi dimana aspek-aspek terkait kepada subkontraktor lokal dengan alasan
kepercayaan (bussiness trust) masih menjadi hanya memberdayakan dan ingin
dasar bagi kontraktor utama untuk menjalin mengembangkan kontraktor lokal.
kerjasama dengan pihak ketiga untuk
melakukan sebagian pekerjaan dalam suatu
proyek. Hal ini dapat dipahami karena ketika

42 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

Hal ini yang menjadi informasi penting juga


bagi pengambil kebijakan, bahwa usaha Terkait perjanjian kerjasama subkontrak,
untuk meningkatkan kemitraan sinergis seperti yang diutarakan oleh Dr, Sarwono
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Hardjomuljadi, perlu adanya suatu standar
Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi harus kontrak untuk ikatan kerjasama subkontrak
dengan upaya yang serius untuk konstruksi yang dapat menjamin kesetaraan
meningkatkan kapasitas dan kemampuan antara kontraktor utama dengan
kontraktor lokal. Upaya yang cenderung subkontraktor, terutama untuk
memaksakan agar kontraktor utama mengantisipasi berlakunya pasar tunggal
melakukan subkontrak konstruksi tanpa ASEAN pada tahun 2015, dimana kontraktor
diikuti dengan pengembangan kemampuan nasional kemungkinan akan cukup banyak
kontraktor lokal, akan membuat pelaksanaan yang menjadi subkontraktor bagi kontraktor
konstruksi akan menjadi tidak efisien karena asing. Contohnya terkait dengan metode
kontraktor utama akan cenderung membawa pembayaran oleh kontraktor utama yang
subkontraktor mitra-nya yang bukan berasal dilakukan secara pay if paid bukan pay when
dari wilayah tempat proyek berlangsung atau paid, dalam terminologi pay if paid,
melaksanakan pekerjaan secara swakelola. kontraktor utama melakukan pembayaran
apabila pengguna jasa telah melakukan
Selain itu, sesuai dengan pendapat ahli dari pembayaran terkait dengan pekerjaan yang
Kepala Pusat Penyelenggaraan Konstruksi, dilakukan oleh subkontraktor, namun
Kementerian Pekerjaan Umum dalam Focus demikian waktu pembayaran tidak dijelaskan
Group Discussion (FGD) Rekonstruksi secara pasti kapan kontraktor utama harus
Struktur Usaha Jasa Konstruksi, yang menilai melakukan pembayaran tersebut, berbeda
kontraktor utama masih sangat berhati-hati dengan terminologi pay when paid dimana
untuk melakukan subkontrak konstruksi ada unsur kepastian waktu yang jelas, yakni
karena adanya pengaturan dalam Peraturan ketika pengguna jasa melakukan pembayaran
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang terkait dengan pekerjaan yang dilakukan
Pengadaan Barang dan Jasa Oleh Pemerintah oleh subkontraktor, maka ketika itu juga
dimana pekerjaan yang termasuk kedalam kontraktor utama harus melakukan
pekerjaan utama atau pekerjaan inti dilarang pembayaran kepada subkontraktor untuk
untuk disubkontrakkan meskipun terdapat pekerjaan tersebut.
kalimat selanjutnya yang menyatakan bahwa
subkontrak sebagaian pekerjaan utama Namun demikian, untuk melakukan analisa
masih diperkenankan dengan catatan yang lebih mendalam terkait dengan metode
pekerjaan tersebut diberikan kepada pembayaran oleh kontraktor utama serta
kontraktor spesialis. Hal ini juga ditekankan praktik riil nya dilapangan diperlukan
oleh perwakilan dari PT. Waskita Karya yang penelitian khusus membahas mengenai hal
menyatakan perlu diberikan ruang gerak tersebut.
yang lebih kepada kontraktor utama untuk
melakukan subkontrak termasuk
didalamnya melakukan subkontrak Aspek perilaku subkontrak lainnya adalah
pekerjaan utama dengan catatan adanya terkait dengan jenis subkontrak, dimana
regulasi yang memberikan wewenang subkontrak tenaga kerja juga cukup
kepada pengguna jasa untuk melakukan signifikan menjadi praktik dilapangan,
pengawasan yang lebih terkait dengan meskipun responden menyatakan bahwa
penggunaan subkontraktor. subkontrak terima jadi masih dominan
dilakukan namun dari penelitian ini juga

43 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

dapat dilihat bahwa subkontrak tenaga kerja penilaian perbandingan berpasangan oleh
dilakukan oleh kontraktor utama dengan para responden adalah sebagai berikut:
frekuensi yang cukup tinggi. Namun
demikian, sesuai dengan pernyataan dari
1. Pengaturan yang mewajibkan peserta
Prof. Rizal Tamin yang menjadi responden
lelang untuk mencantumkan rencana
dalam FGD Rekonstruksi Struktur Usaha Jasa
pengguna subkontraktor dalam
Konstruksi, bahwa kecenderungan
dokumen penawaran. Kebijakan ini
subkontraktor yang hanya men-supply
memang sudah tercantum didalam
tenaga kerja tidak memiliki entitas hukum
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
yang jelas, yang membuat subkontraktor
2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
tenaga kerja tersebut tidak memiliki
Oleh Pemerintah, sehingga dari kriteria
kekuatan yang cukup untuk bernegosiasi
keselarasan dengan peraturan
terkait dengan hal-hal dalam pelaksanaan
perundangan ketiga responden
pekerjaan dan pembayaran oleh kontraktor
berpendapat dari seluruh alternatif
utama.
kebijakan, yang paling selaras dengan
peraturan perundangan adalah alternatif
Selain itu, responden tersebut juga ini. Selain itu, alternatif ini juga dianggap
menyatakan bahwa subkontrak tenaga kerja memiliki akseptabilitas yang cukup baik
memiliki keuntungan tersendiri bagi bagi pelaku usaha serta efisien dalam
kontrkator utama terkait dengan segi penggunaan sumber daya dalam
pembayaran pajak, dimana subkontrak penerapannya.
terima jadi yang biasanya dilakukan kepada 2. Memberikan pelatihan bagi penanggung
subkontraktor dengan entitas hukum yang jawab teknik kontraktor kecil yang
jelas, maka setiap kerjasama dan transaksi bersifat spesialis. Kebijakan ini juga
pembayaran didalamnya menjadi objek pajak merupakan salah satu upaya untuk
yang akan membuat biaya pekerjaan meningkatkan kemampuan dan
konstruksi menjadi lebih besar bila kapasitas kontraktor kecil yang bersifat
pekerjaan tersebut tidak disubkontrakkan. spesialis dengan cara memberikan
Hal ini juga diidentifikasi menjadi salah satu pelatihan terkait kemamuan manajerial
kengganan kontraktor utama melakukan manajemen proyek. Diharapkan dengan
subkontrak untuk pekerjaan yang bernilai memberikan pelatihan ini, kontraktor
besar. kecil yang bersifat spesialis dapat lebih
memiliki kemampuan melaksanakan
Pembahasan Pengembangan Alternatif pekerjaan tepat waktu dan tepat mutu.
Kebijakan Pendorong Subkontrak Konstruksi 3. Proses Sertifikasi dan registrasi yang
akuntabel dan bertanggung jawab.
Proses sertifikasi dan registrasi
Hasil dari pengembangan alternatif kebijakan
kontraktor yang keluarannya adalah
mendorong subkontrak konstruksi juga
Sertifikat Badan Usaha (SBU) sebetulnya
searah dengan perilaku kontraktor utama
dapat dijadikan dasar bagi kontraktor
dalam pelaksanaan subkontrak konstruksi,
utama untuk melakukan subkontrak
dimana menurut para responden terdapat 2
konstruksi dengan subkontraktor lokal.
alterrnatif kebijakan prioritas adalah yang
terkait dengan pengembangan kontraktor
kecil yang bersifat spesialis. 3 Alternatif Namun demikian, perilaku kontraktor
kebijakan dengan nilai tertinggi hasil utama lebih dominan untuk membuat

44 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

suatu daftar rekanan internal kontraktor utama dalam melakukan


perusahaan dengan mengesampingkan subkontrak, hasil perbandingan berpasangan
kepemilikan SBU. Artinya, kontraktor yang dilakukan oleh responden terhadap
utama memandang bahwa SBU belum alternatif kebijakan serta hasil dari data
bisa dijadikan jaminan kemampuan dan pendukung yang berhasil didapat serta
kapasitas kontraktor sehingga lebih wawancara yang telah dilakukan
cenderung hanya percaya kepada sebagaimana dapat dilihat pada tabel 10
pengalaman yang dapat ditunjukkan oleh Tabulasi Upaya Mendorong Subkontrak
calon subkontraktor. Oleh sebab itu, Konstruksi
proses sertifikasi dan registrasi untuk
mendapatkan SBU perlu dievaluasi oleh
Tabel 10 Tabulasi Upaya Mendorong
pengambil kebijakan. Saat ini memang
Subkontrak Konstruksi
sudah terjadi perubahan tata cara
Alternatif Kebijakan
sertifikasi dan registrasi dimana proses
sertifikasi dilakukan oleh unit sertifikasi Upaya mendorong pelaksanaan
yang independen. subkontrak konstruksi di Indonesia
Hasil sebagai bagian kemitraan sinergis
Kuisioner harus difokuskan kepada usaha
Pengawasan dari Pemerintah selaku Perilaku meningkatkan kemampuan dan daya
pembina jasa konstruksi terhadap proses saing kontraktor kecil yang bersifat
sertifikasi dan registrasi ini perlu spesialis di tingkat lokal.
dilakukan secara ketat, agar SBU betul-
betul dapat menjadi jaminan dan Prioritas kebijakan:
cerminan kemampuan suatu kontraktor,
1. Pengaturan yang mewajibkan
dengan demikian kontraktor utama peserta lelang untuk
ketika ingin melakukan subkontrak, mencantumkan rencana pengguna
Hasil AHP dari subkontraktor dalam dokumen
calon subkontraktor tidak harus ada
Alternatif penawaran
dalam daftar rekanan milik kontraktor 2. Memberikan pelatihan bagi
Kebijakan
utama namun cukup dibuktikan dengan penanggung jawab teknik
kepemilikan SBU, namun ketika evaluasi kontraktor kecil yang bersifat
penawaran, aspek pengalaman memang spesialis.
3. Proses Sertifikasi dan registrasi
tetap harus menjadi salah satu aspek yang akuntabel dan bertanggung
yang dinilai oleh kontraktor utama, jawab.
namun dengan tujuan hanya memastikan 1. Merubah regulasi subklasifikasi dan
bahwa calon subkontraktor memiliki subkualifikasi.
2. Memberikan ruang yang lebih
pengalaman mengerjakan suatu Data kepada kontraktor utama untuk
pekerjaan yang sesuai dengan pekerjaan Pendukung dapat mensubkontrakkan sebagian
yang akan disubkontrakkan oleh Lain (hasil pekerjaan utama.
wawancara 3. Insentif pajak bagi pelaksanaan
kontraktor utama. subkontrak konstruksi.
dan FGD
4. Meningkatkan azas nyata SBU
5. 5. Mendorong terbentuknya BANK
Setelah melakukan pengolahan data dan Konstruksi untuk pinjaman
pembahasan tersebut diatas, maka dapat pendanaan pelaksanaan proyek
dibuat suatu tabulasi upaya-upaya yang
dapat dilakukan untuk mendorong Pada tabel 10, hasil analisa perilaku
pelaksanaan subkontrak dalam rangka kontraktor utama dalam melakukan
kemitraan sinergis di sektor jasa konstruksi
subkontrak konstruksi, upaya untuk
berdasarkan hasil analisa perilaku

45 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

mendorong pelaksanaan subkontrak harus nasional dalam menghadapi perjanjian


difokuskan kepada upaya yang dapat perdagangan bebas antar negara dan antar
meningkatkan kemampuan dan daya saing regional yang diikuti oleh Indonesia.
kontraktor kecil yang bersifat spesialis
ditingkat lokal. Upaya ini dapat dilakukan KESIMPULAN
dengna melibatkan Pemerintah Provinsi dan Adapun kesimpulan yang dapat diambil hasil
Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai dari penelitian ini antara lain:
pembina jasa konstruksi didaerah. Namun 1. Faktor dominan bagi kontraktor utama
demikian, sampai dengan saat ini, peran dalam memutuskan akan
Pemerintah Daerah untuk melakukan mensubkontrakkan suatu pekerjaan
pembinaan jasa konstruksi masih dirasakan adalah ketersediaan subkontraktor lokal
sangat terbatas sehingga, upaya pembinaan yang memiliki pengalaman dan peralatan
jasa konstruksi lebih banyak dilakukan yang sesuai dengan lingkup pekerjaan.
ditingkat nasional yang belum dapat 2. Aspek dalam pemilihan subkontraktor
menyentuk tingkat daerah secara optimal. yang paling memiliki tingkat
kepentingan yang tinggi adalah aspek
Beberapa upaya lain seperti dari hasil dari pengalaman, peralatan dan harga
FGD Restrukturisasi Usaha Konstruksi, yang penawaran.
menyatakan agar regulasi diubah agar dapat 3. Perilaku lain dari kontraktor utama
memberikan ruang yang lebih sehingga dalam pelaksanaan subkontrak
kontraktor utama dapat melakukan konstruksi adalah:
subkontrak konstruksi untuk pekerjaan a. Jenis pekerjaan yang paling sering
utama memerlukan studi mendalam lebih disubkontrakkan adalah pekerjaan
lanjut. Karena dengna memberikan ruang mekanikal, elektrikal dan interior
yang lebih sehingga kontraktor utama dapat b. Metode pemililhan subkontraktor
mensubkontrakkan pekerjaan utama, maka yang paling serig dilakukan adalah
akan ada kecenderungan kontraktor utama dengan melakukan pelelangan
hanya akan menjadi agen dalam pelaksanaan terbatas kepada subkontraktor yang
proyek konstruksi namun tidak memiliki ada dalam daftar rekanan perusahaan
kompetensi inti (core competencies). c. Pemilihan subkontraktor cenderung
dilakukan setelah kontraktor utama
Upaya lain seperti perubahan regulasi memasukkan penawaran kepada
subklasifikasi dan subkualifikasi juga pengguna jasa
memerlukan studi yang mendalam, d. Metode pembayaran yang paling
mengingat pengaturan subklasifikasi dan sering digunakan adalah pembayaran
subkualifikasi sudah dibuat dengan secara bertahap sesuai tingkat
mempertimbangkan kondisi jasa konstruksi kemajuan pekerjaan disertai dengan
nasional dan disesuaikan dengan peraturan uang muka
perundangan yang berlaku serta klasifikasi e. Kinerja subkontraktor yang dianggap
yang berlaku secara internasional dalam masih kurang baik adalah kinerja
rangka mempersiapkan pelaku konstruksi

46 | K o n s t r u k s i a
ANALISA PERILAKU KONTRAKTOR UTAMA DALAM MELAKUKAN SUBKONTRAK (Henrico - Anton)

keselamatan kerja dan kepedulian Supply Chain Management. 1st Ed.


lingkungan. Mcgraw Hill, New York, NY.
4. Tingkat subkontrak untuk pekerjaan 3. Bennett, Lawrence. F. (2003), The
struktur dan arsitektural masih Management Of Construction: A Project
terbilang cukup rendah (terutama untuk Lifecycle Approach. Butterworth-
pekerjaan struktur dengan hasil jarang Heinemann, Burlington, MA.
atau 20 -40 % disubkontrakkan) dan 4. Susilawati dan Wirahadikusuma, Reini.
berdasarkan analisa korelasi yang telah D. (2006), “Kajian Pengadaan Oleh
dilakukan, hal ini terindikasi disebabkan Kontraktor Pelaksana Bangunan
oleh ketersediaan subkontraktor lokal Gedung”, Jurnal Teknik Sipil ITB.
yang memiliki pengalaman dan peralatan Bandung, 133-150.
yang masih terbatas. 5. Humphreys, Paul., Matthews, Jason. dan
5. Alternatif kebijakan yang perlu Kumaraswamy, Monan. (2003), “Pre-
mendapatkan prioritas untuk Construction Project Partnering: From
mendorong pelaksanaan subkontrak Adversial To Collaborative Relationship”,
antara lain: Supply Chain Management: An
a. Pengaturan yang mewajibkan International Journal. Volume 8, pp.166-
peserta lelang untuk mencantumkan 178.
rencana pengguna subkontraktor 6. Kementerian Pekerjaan Umum (2012),
dalam dokumen penawaran. “Pedoman Bahan Konstruksi Bangunan
b. Memberikan pelatihan bagi dan Rekayasa Sipil: Analisis Harga
penanggung jawab teknik Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan
kontraktor kecil yang bersifat Umum”, Kementerian Pekerjaan Umum,
spesialis Jakarta.
c. Meningkatkan akuntabilitas proses 7. Moschuris, Socrates. J. (2007),
sertifikasi dan registrasi sehingga “Triggering Mechanisms In Make or Buy
SBU dapat menjadi azas nyata Decisions: An Emperical Analysis”,
kemampuan kontraktor. Journal Of Supply Chain Management, pp
40-49.
DAFTAR PUSTAKA 8. Madras Management Training Institute
1. Abduh, Muhamad., Soemardi, Biemo. W., (2008), Project Management
dan Wirahadikusumah, Reini. D. (2007), Professional Examination Preparation.
“Sistem Informasi Kinerja Industri Madras Management Training Institute,
Konstruksi Indonesia: Kebutuhan Akan Madras.
Benchmarking dan Integrasi Informasi”, 9. Orczyk, Joseph (1993), “Subcontractor
Konferensi Nasional Teknik Sipil I- Management For Public Buildings”,
Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Pp. Transactions of AACE International, pg.
265-274. G.7.1
10. Peterson, Steven. J. (2009), Construction
2. Benton, W.C. dan McHenry, Linda. F. Accounting And Financial Management.
(2010), Construction Purchasing And 2nd Ed. Prentice Hall, New Jersey.

47 | K o n s t r u k s i a
Jurnal Konstruksia | Volume 5 Nomer 1 | Desember 2013

11. Project Management Institute (2004), A


Guide To The Project Management Body
Of Knowledge.3th Ed. Project
Management Institute, Four Campus
Boulevard, Newtown Square, PA.
12. Pemerintah Republik Indonesia (1999),
“Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999
Tentang Jasa Konstruksi” , Pemerintah
Republik Indonesia, Jakarta.
13. Pemerintah Republik Indonesia (2010).
“Peraturan Pemerintah Nomor 04 Tahun
2010 Tentang Perubahan Pertama Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
2000 Tentang Peran dan Usaha
Masyarakat Jasa Konstruksi”, Pemerintah
Republik Indonesia, Jakarta.
14. Smith, Jason. G. dan Hinze, Jimmy.
(2010), Construction Management:
Subcontractor Scopes Of Work. CRC
Press, New York, NY.
15. Yik, F.W.H., Lai, J.H.K., Chan, K.T. dan Yiu,
E.C.Y. (2006), “ Problems With Specialist
Subcontracting In The Construction
Industry”, Building Service Engineering.
Res. Technology. 27,3. pp. 183-193

48 | K o n s t r u k s i a