Anda di halaman 1dari 15

A.

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih


Menurut etimologi (bahasa), muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud
makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah (ma ahkam Al-murad bib ‘an al-
tabdil wa at-taghyir). Adapun mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna
lahirnya samar (ma khafiya bi nafs Al-lafzh).
Adapun menurut pengertian terminology (istilah) muhkam dan mutasyabih
diungkapkan para ulama seperti berikut ini.
1. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnyadapat diketahui dengan
gambling , baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara itu,
ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui
Allah, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarganya Dajjal, dan huruf
muqaththa’ah. Definisi ini kemukakan kelompok Ahlussunnah.
2. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat
mutasyabih sebaliknya.
3. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan
sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan
sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan Ibn ‘Abbas.1
4. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal,
seperti bilangan rakaat sholat, kekhusukan bulan ramadhon untuk
pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
5. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam
pemaknaannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat
lain.2

1
Kajian sekilas terhadap karya ini telah dilakukan Andrew Rippin, dalam Ibid, hlm.171-172

1
6. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui
tanpa penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan
penakwilan untuk mengetahui meksudnya.3
7. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulang-
ulang, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
8. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefarduan,
ancaman, dan janji, sedangkan ayat-ayat mutashabih berbicara tentang
kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.
9. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari `Ali bin Abi Thalib dan
Ibn `Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang
menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan
(hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun
ayat-ayat mutashabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara
tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam), dan yang
harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
10. Abdullah bin Hamid mengeluarkan sebuah riwayat dari Adh-Dhahak bin
Al-Muzahim (w.105 H). Yang menyatakan bahwa ayat-ayat muhkam
adalah ayat yang tidak dihapus, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah
ayat yang dihapus.
11. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Muqatil bin Hayyan
yang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih adalah seperti alif lam
mim, alif lam’ra , dan alif lam mim ra’
12. Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa `Ikrimah (w.105 H), Qatadah bin
Di’amah (w, 117 H), dan lainnya mengatakan ayat-ayat muhkam adalah

2. Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani, Mutiara I’mu-ilmu Al-quran, terj.Rosihoh Anwar,
pustaka setia bandung, 1999, hlm.142-144

3
Al-Jurjani, At-Tarifat, Ath-Thaha’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi. Jeddah,t.t hlm.200 dan 205

2
ayat-ayat yang harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat
mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.4

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa inti muhkam


adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi. Masuk kedalam
kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukan sesuatu yang dimaksud dengan
terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia sebutkan) dan zhahir (makna lahir).
Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Masuk ke dalam
kategori mutasyabih adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil,
dan mubham (ambigius).

B. Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Para ulama berbeda pebdapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat
diketahui pula oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Apakah ungkapan wa Al-rasikhuma fi Al-‘ilm di-athaf-kan pada lafazh Allah,


sementara lafazh yaquluna sebagai hal. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih pun
diketahui orang-orang yang mendalam ilmunya. Atau apakah ungkapan wa Al-
rasikhuma fi Al-‘ilm sebagai mubtada’, sedangkan lafazh yaquluna sebagai khabar?
Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih itu hanya diketahui Allah, sedangkan orang-
orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.5

Ada sedikit ulama yang berpihak pada penjelasan gramatikal pertama, di


antaranya adalah Mujahid (w. 104 H) yang diperolehnya dari Ibn ‘Abbas. Ibn Al-
Mundzir mengeluarkan sebuah riwayat dari Mujahid, dari Ibn Abbas, mengenai surah
Ali ‘Imran [3] ayat 7. Ibn Abbas berkata. “Aku diantara orang yang mengetahui
takwilnya”.6 Imam An-Nawawi pun termasuk dalam kelompok ini. Dalam Syarah
Muslim, ia berkata, “pendapat inilah yang paling sahih karena tidak mungkin Allah

4
Al-Husri, op.cit. hlm. 145-146
5
Ibid, hlm. 146
6
Manna Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Quran, Mansyur Al-‘ashr Al-Hadist, ttp, 1973, hlm. 217

3
meng-khitab-i hamba-hamba-Nya dengan uraian yang tidak ada di jalan untuk
mengetahuinya”. Ulama lain yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Abu Hasan
Al-Asy’ari dan Abu Ishaq Asy-Syirazi (w. 476 H). Asy-Syirazi berkata, “Tidak ada
satu ayat pun yang maksudnya hanya diketahui Allah”. Para ulama sesungguhnya
juga mengetahuinya. Jika tidak, apa bedanya mereka dengan orang awam?7

Sebagian besar sahabat, tabi’in, dan generasi sesudahnya, terutama kalangan


Ahlussunnah, berpihak pada penjelasan gramatikal yang kedua. Ini pula yang
merupakan riwayat paling sahih dari Ibn ‘Abbas.8

As-Suyuthi mengatakan bahwa validas pendapat kelompok kedua diperkuat


riwayat-riwayat berikut ini:9

1. Riwayat yang dikeluarkan ‘Abd Ar-Razzaq dalam tafsirnya dan Al-Hakim


dalam Mustadrak-nya dari Ibn ‘Abbas. Ketika membaca surat ‘Ali ‘Imran [3]:
7, Ibn ‘Abbas memperlihatkan bahwa huruf wawu pada ungkapan wa
arrasikkhuna berfungsi sebagai isti’naf (tanda kalimat baru). Riwayat ini,
walaupun tidak didukung salah satu raqam qira’ah, derajatnya serendah-
rendahnya adalah kabar dengan sanad sahih yang berasal dari Turjumah Al-
Quran (julukan Ibn ‘Abbas). Oleh karena itu, pendapatnya harus didahulukan
daripada pendapat selainnya. Pendapat ini didukung pula kenyataan bahwa
surat ‘Ali ‘Imran [3] ayat 7 mencela orang-orang memanfaatkan ayat-ayat
mutasyabih untuk menuruti hawa nafsunya dengan mengatakan “hatinya ada
kecenderungan pada kesesatan” dan menimbulkan fitnah. Sebagai
bandingnya, Allah memuji orang-orang yang menyerahkan sepenuhnya
pengetahuan tentang ayt-ayat mutasyabih kepada-Nya sebagaimana Allah pun
telah memuji orang-orang yang mengimani kegaiban.

7
Subhi Ash-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum Al-Quran, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin, Beirut. 1988, hlm, 282
8
Al-Husni, op, cit
9
Ibid, hlm, 147-149

4
2. Ibn Abu Dawud, dalam Al-Mashahif, mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-
A’masy. Ia menyebutkan bahwa diantara qira’ah Ibn Mas’ud disebutkan:
Artinya : “sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih hanya milik Allah
semata, sedangkan orang yang mendalami ilmunya berkata, “kami beriman
kepada ayat-ayat yang mutashabih.”
3. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah
yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW. Pernah bersabda ketika
mengomentari surat ‘Ali’Imran [3] ayat berikut:
Artinya : “jika engkau menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat
mutashabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya,
orang itulah yang dicela Allah maka berhati-hatilah menghadapi mereka.”10
4. Ath-Thabrani, dalam Al-Khabir, mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu
Malik Al-Asy’ari. Ia pernah mendengar Rasulullah SAW.bersabda:
Artinya : “ada tiga hal yang aku khawatirkan dari umatku, yaitu pertama,
menumpuk-numpuk harta sehingga memunculkan sifat hasad dan
mnyebabkan terjadinya pembunuhan. Kedua, mencari-cari takwil ayat-ayat
yang mutashabih, padahal hanya allah-lah yang mengetahuinya.”
5. Ibn Ali Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah bahwa yang
dimaksud dengan kedalaman ilmu pada surat Ali’Imran [3] ayat 7 itu adalah
mengimani ayat-ayat mutasyabih, bukan berusaha untuk mengetahuinya.
6. Ad-Darimi, dalam Musnad-Nya, mengeluarkan sebuah riwayat dari Sulaiman
bin Yasar yang mengatakan bahwa seorang pria yang bernama Shabigh tiba di
Madinah. Kemudian, ia bertanya-tanya tentang takwil ayat-ayat mutasyabih.
Ia lalu diperintahkan menemui ‘Umar. ‘Umar sedang memasang tangga ke
pohon kurma ketika orang itu menemuinya. “siapakah engkau?”Tanya ‘Umar.
“Saya adalah ‘Abdullah bin Shabigh”. Umar lalu memukul orang itu dengan
beberapa kayu dari tangga sehingga kepala orang itu berdarah. Dalam riwayat

10
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan slain keduanya.

5
lain disebutkan bahwa ‘Umar memukul orang itu dengan cambuk sehingga
meninggalkan bekas pada punggungnya.
Ar-Raghib Al-Asfhani mengambil jalan tengah dalam menghadapi persoalan
ini. Ia membagi ayat-ayat mutasyabih dari segi kemungkinan mengetahui
maknanya pada tiga bagian:11
1. Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahuinya, seperti saat
terjadinya hari kiamat, keluar binatang dari bumi, dan sejenisnya.
2. Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk
mengetahuinya, seperti kata-kata asing di dalam Al-Quran.
3. Bagian yang terletak di antara keduanya, yakni yang hanya dapat diketahui
orang-orang yang mendalam ilmunya.

Sikap para ulama terhadap ayat-ayat mutashabih terbagi dalam dua


kelompok, yaitu:
1. Madzab salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-
ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri
(tafwidh ilallah). Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian
lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang
diterangkan Al-Quran. Diantara ulama yang masuk kedalam kelompok ini
adalah Imam Malik. Ketika ditanya tentang istiwa’, ia menjawab:
Ibn Ash-Shalah menjelaskan bahwa madzhab salaf ini dianut oleh generasi
dan para pemuka Umat Islam pertama. Madzhab ini pulalah yang dipilih
imam-imam dan para pemukafiqih. Kepada madzhab ini pulalah, para
imam dan pemuka hadist mengajak para pengikutnya. Tidak ada seorang
pun di antara para teolog dari kalangan kami yang menolak madzhab ini.
2. Madzhab khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya
menakwilkan ayt-ayat mutashabih yang menyangkut sifat Allah sehingga

11
Ash-Shalih, op,cit,hlm.282-283

6
melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka umumnya
berasal dari kalangan ulama muta’akhirin. Imam Al-Haramain (W.478 H).
Pada mulanya termasuk madzhab ini, tetapi kemudian menarik diri
darinya. Dalam Ar-Risalah An-Nizhamiyyah, ia menuturkan bahwa
prinsip yang dipegang dalam beragama adalah mengikuti madzhab salaf
sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-
ayat mutashabih.

Berbeda dengan ulama salaf yang menyucikan Allah dari pengertian


lahir ayat-ayat mutashabih itu, mengimani hal-hal gaib sebagaimana
dituturkan Al-Quran, dan meyerahkan bulat-bulat pengertian ayat itu
kepada Allah, ulama khalaf memberikan penakwilan terhadap ayat-ayat
mutashabih. Istiwa dirakwilkan dengan “keluhuran” yang abstrak, berupa
pengendalian Allah terhadap ala mini tanpa merasa kepayahan.
“kedatangan Allah” ditakwilkan dengan kedatangan perintahnya. “Allah
berada di atas hambanya” menunjukan kemahatinggian-Nya, bukan
menunjukan bahwa dia menempati suatu tempat. “Sisi Allah” ditakwilkan
dengan hak allah. “Wajah dan mata Allah “ditakwilkan dengan
kekuasaan-Nya, dan “diri” ditakwilkan dengan siksa-Nya. Demikianlah,
prinsip penafsiran ulama khalaf.

Untuk menengahi kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibn Ad-Daqiq


Al-‘Id mengatakan bahwa apabila penakwilan yang dilakukan terhadap
ayat-ayat mutashabih dikenal oleh lisan Arab, kita harus mengambil sikap
tawaqqul (tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkannya) dan
mengimani maknanya sesuai apa yang dimaksud ayat-ayat itu dalam
rangka menyuciakn Allah.

Ibnu Qutaibah (w.276 H) menentukan dua syarat bagi absahnya


sebuah penakwilan. Pertama, makna yang dipilih sesuai dengan hakikat

7
kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti
yang dipilih dikenal oleh bahasa arab klasik. Syarat yang dikemukakan
ini lebih longgar daripada syarat kelompok Azh-Zhahiriyyah yang
menyatakan bahwa arti yang dipilih tersebut harus dikenal secara popular
oleh masyarakat Arab pada masa awal.

C. Pendapat Para Ulama Mengenai Ayat Muhkam Mutashabih

Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi 3 ( tiga ) macam :12

1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya,


seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib,
hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Sebagai mana Firman Alloh dalam QS.
Al-An’am :59

ِ ‫َو ِع ْن َدهُ َمفَاتِ ُح ا ْل َغ ْي‬


……‫ب ََل يَ ْعلَ ُمهَا إِ اَل ه َُو‬

Artinya : “dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang
mengetahui kecuali Dia sendiri…..

2. Ayat-ayat yang setiap orang bias mengetahui maksudnya melalui


penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat : Mutasyabihat yang
kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutannya, dan
seumpamanya QS An-Nisa :3

…‫اء‬
ِ ‫س‬ َ ‫طوا فِي ا ْليَتَا َمى فَا ْن ِك ُحوا َما َط‬
َ ِ‫اب لَ ُك ْم ِمنَ الن‬ ِ ‫َو ِإ ْن ِخ ْفت ُ ْم أ َ اَل ت ُ ْق‬
ُ ‫س‬

Artinya : “dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak )
perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita…”.

Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para Ulama


tertentu dan bukan semua Ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang
tinggi yang memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid.

Tentang perbedaan pendapat antara ulama khalaf dan ulama salaf mengenai ayat-ayat
mutasyabihat dimulai dari pengertian, berbagai macam sebab dan bentuknya. Dalam
12
Ramli abdul wahid ulumul quran (Jakarta:PT.Raja Grafindo persada, 1996) hlm 88-89

8
bagian ini, pembagian khusus tentang ayat-ayat mutasyabihat yang menyangkut sifat-
sifat Tuhan, yang dalam istilah As-Suyuti “ayat al-shifat” dan dalam istilah Shubi al-
Shalih “mutasyabih al-shifat” ayat-ayat yang termasuk dalam katagori ini banyak.
Diantaranya : Surah ar-Rahman [55]:13

‫َويَبْقى َوجْ هُ َربِكَ ذُو ا ْل َجالَ ِل َوا ِألك َْر ِام‬

Artinya : Dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Atau dalam Q.S. Taha [20]: 5 Allah berfirman :

‫الرحْ منُ َعلَى ْالعَ ْر ِش اسْـت َوى‬


َّ

Artinya : “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy”.

Dalam hal ini, Subhi al-Shalih membedakan pendapat ulama ke dalam dua mazhab.:

a. Mazhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-


sifat mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri.
Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil ini
bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta
menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena
mereka menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada
Allah, mereka disebut pula mazhab Mufawwidah atau Tafwid. Ketika Imam
Malik ditanya tentang makna istiwa`, dia berkata:

ُ َ ‫ْف َمجْ ُه ْو ٌل َوالس َُّؤا ُل َع ْنـهُ بِدْ َعةٌ َو ا‬


.‫ظـنُّـكَ َر ُج َل الس ُّْو َء ا َ ْخ ِر ُج ْوهُ َعنِِّ ْي‬ ُ ‫اال ْستِ َوا ُء َم ْعلُ ْو ٌم َو ْال َكي‬
ِ

Terjemahan: “Istiwa` itu maklum, caranya tidak diketahui (majhul),


mempertanyakannya bid’ah (mengada-ada), saya duga engkau ini orang jahat.
Keluarkan olehmu orang ini dari majlis saya”.

Maksudnya, makna lahir dari kata istiwa jelas diketahui oleh setiap orang. akan
tetapi, pengertian yang demikian secara pasti bukan dimaksudkan oleh ayat. sebab,
pengertian yang demikian membawa kepada asyabih (penyerupaan Tuhan dengan
sesuatu) yang mustahil bagi Allah. karena itu, bagaimana cara istiwa’ di sini Allah
tidak di ketahui. selanjutnya, mempertanyakannya untuk mengetahui maksud yang
sebenarnya menurut syari’at dipandang bid’ah (mengada-ada).

Kesahihan mazhab ini juga didukung oleh riwayat tentang qira’at Ibnu Abbas.

13
Ramli abdul wahid ulumul quran (Jakarta:PT.Raja Grafindo persada, 1996) hlm 90-91

9
َّ ‫َو َما يَ ْعلَ ُم ت َأ ْ ِو ْيلَـهُ اِالَّ هللا ُ َويُقُ ْو ُل‬
‫الرا ِس ُخ ْونَ فِى ْال ِع ْل ِم ا َمـنَّا بِه‬

Artinya : Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan berkata orang-orang
yang mendalam ilmunya, ”kami mempercayai”. (dikeluarkan oleh Abd. al-Razzaq
dalam tafsirnya dari al-Hakim dalam mustadraknya).[12]

b. Mazhab Khalaf, yaitu ulama yang menkwilkan lafal yang makna lahirnya
mustahil kepada makna yang laik dengan zat Allah, karena itu mereka disebut
pula Muawwilah atau Mazhab Takwil. Mereka memaknai istiwa` dengan
ketinggian yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa
merasa kepayahan. Kedatangan Allah diartikan dengan kedatangan
perintahnya, Allah berada di atas hamba-Nya dengan Allah Maha Tinggi,
bukan berada di suatu tempat, “sisi” Allah dengan hak Allah, “wajah” dengan
zat “mata” dengan pengawasan, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri”
dengan siksa. Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyabihat yang
ditempuh oleh ulama Khalaf.14
Alasan mereka berani menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat, menurut
mereka, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalngkan lafal dari keadaan
kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan
lafal terlantar tak bermakna. Selama mungkin mentakwil kalam Allah dengan
makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya.
Kelompok ini, selain didukung oleh argumen aqli (akal), mereka juga
mengemukakan dalil naqli berupa atsar sahabat, salah satunya adalah hadis
riwayat Ibnu al-Mundzir yang berbunyi:

‫(رواه ابن‬.ُ‫َـام َّم ْن يَ ْعلَ ُم ْونَ تَـأ ْ ِويْـلَه‬ َّ ‫(و َما يَ ْعلَ ُم ت َأ ْ ِو ْيلَهُ اِالَّ هللاُ َو‬:
ِ ‫ اَن‬:َ‫الرا ِس ُخ ْونَ فِى ا ْل ِع ْل ِم) قَال‬ َ ‫َّاس فِي قَ ْو ِل ِه‬
ٍ ‫َع ِن اب ِْن َعب‬
)‫المنذر‬

Terjemahan: “dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: : Dan tidak mengetahui
takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya”. Berkata
Ibnu Abbas:”saya adalah di antara orang yang mengetahui takwilnya.(H.R.
Ibnu al-Mundzir)15
Disamping dua mazhab di atas, ternyata menurut as-Suyuti bahwa Ibnu
Daqiq al-Id mengemukakan pendapat yang menengahi kedua mazhab di atas.
Ibnu Daqiqi al-Id berpendapat bahwa jika takwil itu jauh maka kita tawaqquf
(tidak memutuskan). Kita menyakini maknanya menurut cara yang
dimaksudkan serta mensucikan Tuhan dari semua yang tidak laik bagi-Nya.

14
Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996) hlm 111
15
Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996) hlm 97

10
D. Hikmah Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat
1. Hikmah Ayat Muhkamat
Adanya ayat-ayat Muhkamat dalam kitab Alquran, jelas banyak
faedah/hikmahnya bagi umat manusia, sebagai berikut:
a. Menjadi rahmad bagi manusia, khususnya orang yang kamampuan
bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang
sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi
mereka. Dengan demikian, mereka tidak perlu susah-susah
mempelajari apa arti maksud ayat karena arti maksud ayat itu
sudah cukup terang dan gambling.16
b. Memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga
memudahkan mereka dalam menghayati makna maksudnya agar
mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.
c. Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan
mengamalkan isi kandungan Alquran, karena lafal ayat-ayatnya
sudah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk
diamalkan.17
d. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam
mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan
sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus
menunggu penafsiran atau penjelasan dari lafal/ayat/surah yang
lain.
e. Memperlancar usaha penafsiran atau penjelasan maksud
kandungan ayat-ayat Alquran. Para mufassir tidak harus susah-
susah lebih dahulu mencari takwilan makna kata-katanya, karena

16
Ibid, hlm, 63-64
17
Ash-Shalih, op, cit, hlm. 240-241

11
semua arti lafal-lafalnya sudah jelas, terang, dan gambling
sehingga usaha-usaha penafsiran lebih cepat tercapai maksudnya.
f. Membantu para guru, dosen,mubaligh, dan juru dakwah dalam
usaha menerangkan isi ajaran kitab Alquran dan tafsiran ayat-
ayatnya kepada masyarakat. Sebab, lafal ayat-ayatnya sudah
mudah arti dan maksudnya, sehingga tinggal meneruskan
penjelasan-penjelasannya saja.
g. Mempercepat usaha tahfidhul Qur’an (menghafalkan ayat-ayat
Alquran). Sebab, ayat yang mudah diketahui artinya itu lebih
mudah menghafalnya daripada yang tidak dapat diketahui arti dan
maksudnya.18
2. Hikmah Ayat Mutashabihat

Adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Alquran membawa


faedah/hikmah yang banyak juga. Bahkan, lebih banyak daripada hikmah ayat
yang muhkamat diatas. Hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat itu ialah
sebagai berikut:

a. Rahmat Allah SWT. Sebab, sifat dan zat Allah SWT itu ditampakkan
kepada manusia yang lemah itu. Karena itu, Allah SWT menyamarkan
sifat dan zat-Nya dalam ayat-ayat mutasyabihat itu adalah jelas merupakan
rahmat Allah SWT yang besar bagi manusia. Jika tidak disamarkan, bisa
jadi merupakan siksaan bagi mereka, terutama mereka yang tidak tahan
menzahirkannya. Begitu pula Allah merahasiakan kedatangan hari kiamat,
juga merupakan rahmat bagi mereka agar tidak malas bekerja. Mereka
segan berusaha, jika sudah tahu hari kiamat. Mereka selalu dihantui rasa
takut, jika mereka mengerti kapan akan mati. Karena itu, Allah SWT
merahasiakan kematian, hari kiamat, dan sebagainya.

18
Ibid, hlm, 239.

12
b. Ujian dan cobaan terhadap kekuatan iman umat manusia. Apakah dengan
disamarkan sebagai isi Alquran yang mutasyabih itu, masih akan tetap
iman atau tidak? Karena itu, dalam ayat 7 surah Ali Imran desebutkan:
Artinya: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat
daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari
takwilnya…”
Orang yang tidak tahan uji dan tidak kuat menghadapi cobaan, makna
mereka ingkar terhadap adanya ayat-ayat mutasyabihat. Mereka tidak mau
mengikuti ajaran Alquran, sehingga mereka bisa berbuat seenaknya.
c. Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apa pun usaha
dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal
tersebut menunjukan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan
ilmu-Nya yang Maha mengetahui segala hal, meski terhadap hal-hal yang
samar, rahasia, tersembunyi seperti ayat-ayat mutasyabihat. Manusia dan
malaikat pun tidak dapat mengetahuinya. 19
d. Mendorong umat untuk giat belajar, tekun menalar, dan rajin meneliti.
Sebab, dengan adanya ayat mutasyabihat dalam Alquran yang harus
mereka pedomi itu mautidak mau mereka harus giat mempelajarinya, agar
dapat mengerti terjemahannya, menghayati meksudnya, sehingga dapat
mempedomani isi ajarannya. Seandainya semua ayat Alquran itu muhkam
seluruhnya, tentu orang akan malas belajar, enggan memikirkan, tidak
mau meneliti. Semuanya sudah jelas, terang dan gambling tinggal
menghayati dan mengamalkan saja.
e. Memperlihatkan kemukjizatan Alquran, ketinggian mutu sastra dan
balaghalnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu
bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu cipataan Allah SWT.

19
Ibid, hlm 237-238

13
Adanya kesamaran, kesukaran dan kemutasyabihan dalam Alquran itu
membuktikan dengan tegas bahwa kitab suci tersebut betul-betul mukjiz,
benar-benar dapat melemahkan manusia untuk dapat membuat
tandingannya. Jangankan bisa mengarang yang sepertinya, membaca dan
mengetahui artinya saja sudah kewalahan, terutama terhadap ayat-ayat
yang mutasyabihat.
f. Memudahkan bacaan, hafalari, dan pemahaman Alquran. Sebab, dengan
adanya ayat-ayat mutasyabihat yang sulit dimengerti dan sukar dinalar itu
mengakibatkan orang harus lebih banyak mencurahkan tenaga, pikiran,
dan perhatiannya, sehingga dengan sendirinya akan lebih meresapkan
hasil-hasil usahanya itu yang pada gilirannya dapat mempermudah
segalanya. Kalau ayat-ayat Alquran itu muhkam semua, yang berarti
mudah dipelajari semua, tentu tidak mendorong keseriusan orang dalam
menghadapinya, sehingga juga tidak banyak hasil penyerapan-
penyerapannya.20
g. Menambah pahala usaha umat manusia, dengan bertambah sukarnya
memahami ayat-ayat mutasyabihat. Sebab, semakin sukar kerjaan orang,
akan semakin besar pahalanya.
h. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang
bermacam-macam. Sebab, adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Alquran,
mendorong orang-orang yang akan memperlajari harus lebih dahulu
mempelajari beberapa disiplin ilmu terkait dengan berbagai isi ajaran
Alquran yang bermacam-macam, seperti ilmu bahasa, kimia, kedokteran,
matematika, dan sebagainya.
i. Mengajukan penggunaan dalil-dalil aqli, di samping dalil-dalil naqli.
Sebab, dengan adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Alquran, orang yang
akan mempelajarinya haruslah melengkapi diri dengan ilmu-ilmunya

20
Al-Hasani, op,cit, hlm. 149-150; As-Shalih, op,cit, hlm.285-286

14
penegtahuan umum, di samping ilmu pengetahuan agama, agar dapat
menafsirkan semua ayat Alquran baik yang muhkamat ataupun yang
mutasyabihat. Seandainya seluruh ayat Alquran itu muhkmat, tentu orang
tidak terdorong untuk mengkajinya dengan alat-alat ilmu pengetahuan
umum.
21

15