Anda di halaman 1dari 7

KESKOM.

2017;3(3):110-116

JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS


J ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H )
http://jurnal.htp.ac.id

Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap


Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dengan
Autism
Relationship Parenting of Parents on Growth and
Development of Children with Autism
Yena Wineini Migang

Poltekkes Kemenkes Palangka Raya, Indonesia

ABSTRACT ABSTRAK
Au sm is a developmental disorder of the nervous system to Au sm adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada
someone who is mostly caused by heredity and some mes have seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas
been detected since the baby is 6 months old. Paren ng parents dan kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6
are also needed in the stage of growth and development, for the bulan. Pola asuh orangtua juga sangat dibutuhkan dalam tahap
most me interac on of children with au sm in the family. pertumbuhan dan perkembangan, karena waktu terbanyak
Parents act as a s mulator of growth and development of interaksi anak au s ada dalam keluarga. Orangtua berperan
children with au sm. the cross-sec onal study, with bivariate sebagai s mulator pertumbuhan dan perkembangan anak au s.
Spearman rho test. the number of samples of 84 children with Desain peneli an cross sec onal, dengan uji bivariat dengan
au sm and their parents in the city of Palangka Raya, sampling Spearman rho. jumlah sampel 84 anak au sm dan orangtua
with purposive sampling techniques, data collec on using mereka di Kota Palangka Raya, pengambilan sampel dengan
observa on sheets, ques onnaires and WHO Anthro so ware tehnik sampling purposive, pengambilan data menggunakan
plus 2011. The pa ern of the highest paren ng, paren ng lembar observasi, kuesioner dan so ware Anthro WHO Plus
democra c (84.5%), permissive paren ng (8.3%), paren ng 2011. Pola asuh orangtua yang ter nggi, pola asuh demokra s
authorita ve (7.1%). The nutri onal status of children with (84,5%), pola asuh permisif (8,3%), pola asuh ototriter (7,1 %).
au sm is the highest percentage of normal nutri onal status Status gizi pada anak au sm persentase ter nggi adalah status
(53.6%), the nutri onal status of obese (21.4%), the nutri onal gizi normal (53,6%), status gizi gemuk (21,4%), status gizi obesitas
status of obesity (17.9%), nutri onal status and very thin (17,9%), status gizi kurus dan sangat kurus masing-masing sama
respec vely at (3.6%). Cogni ve level au sm, the highest (3,6%). Tingkat Kogni f anak au sm, persentase ter nggi ngkat
percentage increase cogni ve level (73.8%), and the degree of kogni fnya meningkat (73,8%), dan ngkat kogni f tetap
cogni ve and equipment (26.2%). There is a significant (26,2%). Ada hubungan signifikan anatara pola asuh orangtua
rela onship with paren ng parents with nutri onal status of dengan status gizi anak au sm, dimana nilai ρ 0,008 > α 0,01. Ada
children with au sm, where the value of ρ 0.008> α 0.01. There is hubungan signifakan antara pola asuh ibu dengan ngkat kogni f
a rela onship between paren ng significant mother with au sm anak au sm ρ 0,001 > α 0,01. Perlu diteli lagi faktor lainnya yang
ρ cogni ve level of 0.001> α 0.01. It should be inves gated other menyebabkan status gizi anak au s dapat menjadi obesitas
factors that cause nutri onal status of children with au sm can bahkan ada yang sangat kurus, sehingga walaupun anak au sm
become obese even there is a very thin, so that even children harus diet glutein dan casein, sebagai syarat awal terapi anak
with au sm have to diet gluten and casein, as a condi on of early au s, mereka tetap dapat memiliki status gizi normal, serta dak
treatment of children with au sm, they can s ll have a normal mengalami obesitas akibat komposisi makanan yang dak
nutri onal status, and did not experience obesity due to food diperha kan. Orangtua perlu menentukan pola asuh yang tepat
composi on that is not observed. Parents need to determine the sebagai media interaksi yang dengan anak au s, karena anak
appropriate paren ng as a medium of interac on with au s c au sm yang mengalami hambatan berkomunikasi akan sulit
children, because children with au sm who have problems untuk menerima informasi dari lingungan, yang ar nya akan sulit
communica ng will be difficult to receive informa on from the untuk meningkat kogni fnya dalam proses belajar dan akan sulit
environment as, which means it will be difficult to increase the pula menerima pengaturan diet sebagai non medikamentosa
cogni ve learning and would be difficult anyway receive the diet terapi anak au s.
as a non-medical treatment of children with au sm.
Keywords : Children with au sm, Cogni ve, Nutri onal Status, Keywords : Anak Au sm, Kogni f, Pola asuh orangtua, Status
Pa ern Foster Parent. Gizi,
Correspondence : Yena Wineini Migang, jln. Sultan Adam Komplek Madani 1 jalur II no. 18B Banjarmasin Kalimantan Selatan 081392975142 dan 087865513340
Email : yenawineini.migang@yahoo.co.id

• Received 7 April 2017 • Accepted 22 July 2017 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 •
DOI: h ps://doi.org/10.25311/keskom.Vol3.Iss3.132
Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve
Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4.0 Interna onal License (h p://crea vecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium
Keskom, Vol. 3, No. 3
111 April 2017

pola pengasuhan yang buruk, dan kekerasan pada anak. Sebagian


PENDAHULUAN
besar anak dengan masalah perkembangan (Artha 2014)
Au sm adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada Perkembangan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas melipu a) gen atau keturunan orang tua, b) pola asuh orang tua,
dan kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 sistem pendidikan disekolah dan c) sistem pendidikan di
bulan. Deteksi dan terapi sedini mungkin akan menjadikan si masyarakat, gene ka atau keturunan merupakan faktor pertama
penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak.
normal. Au sme dapat pula merupakan gangguan neurologis Pola asuh merupakan suatu cara terbaik yang ditempuh orangtua
berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi ataupun pendidik dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari
atau berhubungan dengan orang lain disekitarnya secara wajar rasa tanggung jawab kepada anak, dimana tanggung jawab untuk
(Edgington et al. 2016). Umumnya mereka mengalami kesulitan mendidik anak ini merupakan tanggung jawab primer
berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Sikap tersebut (Bourgondien, 2014).
seper menarik diri, dak menjalin komunikasi, berbicara Pola asuh orangtua juga sangat dibutuhkan dalam tahap
sendiri, menyanyi sendiri tanpa sebab, berputar-putar tanpa pertumbuhan anak dengan au sm karena berdasarkan
alasan, bahkan dapat menimbulkan kejengkelan orang peneli an, sebagian besar anak au s, terutama pada ngkat
disekitarnya (Prasetyoningsih 2016). lanjut, memiliki respons yang baik ke ka mendapat makanan
Anak au sm memiliki kemampuan dan karakteris k yang rendah kadar gandum, susu, dan produk sejenisnya. Peneli an
berbeda satu sama lain, sehingga hal tersebut menentukan lainnya juga menyebutkan bahwa jenis makanan yang harus
caranya berinteraksi terhadap diri dan lingkungan serta dihindari oleh penderita au s adalah makanan yang
menjadikan anak au sme sebagai pribadi yang unik. mengandung gluten, casein, glukosa, dan lemak (Whiteley et al.
Ke dakmampuan dalam berkomunikasi ini disebabkan adanya 2012).
kerusakan sebagian fungsi otak. Gangguan perilaku ini dapat Pola asuh orangtua juga sangat berpengaruh terhadap
berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, pertumbuhan anak au s, karena anak au sm harus mengatur
kesulitan dalam mengembangkan bahasa dan pengulangan dietnya secara ketat, banyak bahan makanan yang dak boleh
ngkah laku (Prasetyoningsih 2016). dimakan anak au s, yang membuat dilema orangtua terhadap
Penyandang au sm di Indonesia, pada tahun 2013 status gizi anak mereka. Pengaturan diet merupakan bagian
diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita terapi non medikamentosa yang sangat menentukan
au sme dalam usia 5-19 tahun. Gangguan spektrum au s adalah keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak au sm.
salah satu anak yang paling umum pada gang guan Berbagai peneli an dalam bidang metabolisme menunjukkan
perkembangan. Gangguan au s atau kondisi yang berkaitan banyak anak au s yang mengalami berbagai gangguan
ditemukan mempengaruhi 11,3 pada 1.000 (1 di 88) anak-anak metabolisme. Gangguan metabolisme yang banyak ditemui pada
berusia 8 tahun nggal di 14 komunitas dipantau oleh Pusat anak au s di antaranya alergi terhadap berbagai jenis makanan,
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Es masi pertumbuhan jamur dan 'yeast' yang berlebihan, gangguan
prevalensi Namun, secara keseluruhan spektrum au sm pencernaan, dan keracunan logam berat (Mujiyan 2011). Selain
gangguan bervariasi secara luas di seluruh 14 komunitas itu, terdapat kelainan yang ditemukan di usus anak au s berupa
dipantau (kisaran, 4,8-21,2 1.000 anak-anak berusia 8. Studi, lubang-lubang kecil di mucosa usus dan meningkatnya
yang CDC melaporkan kenaikan 23% dalam prevalensi 2006-2008 permeabilitas usus yang dikenal dengan nama "leaky gut", gluten
pada anak usia 8 tahun, atau meningkat dari 9 di 1.000 sampai 11 (protein dari gandum) dan casein (protein dari susu sapi),
di 1.000 untuk 11 situs yang menyediakan data untuk kedua keduanya adalah protein yang susah dicerna (pep de), terutama
surveilans tahun. Dari tahun 2002 sampai 2008, meningkat karena kebocoran mukosa usus yang berakibat masuk ke sirkulasi
sekitar 78% terjadi pada anak usia 8 tahun. darah. Namun, pep de tersebut dak lama berada dalam darah,
Yayasan Au sma Indonesia, sepuluh tahun 2013 jumlah karena sebagian dari pep de itu dikeluarkan lewat urine dan
penduduk di Palangkaraya, Kalimantan ada 250 ribu orang, 20% sebagian lainnya masuk ke otak yang akan menempel pada
diantaranya atau sekitar 50.000 adalah anak-anak. Pada saat itu reseptor opioid. Apabila sudah seper itu, pep de ini akan
diperkirakan ada 100 anak Au s di dalamnya. Ada berubah fungsi menjadi morfin yang dapat memengaruhi fungsi
kecenderungan kasus tersebut terus meningkat. Masalah susunan syaraf pusat, sehingga mbul gangguan perilaku
perkembangan anak cenderung meningkat terutama dengan (Whiteley et al. 2012).
latar belakang psikososial yang dak baik, seper kekerasan Dukungan orangtua dalam kemandirian anak, agar mereka
dalam rumah tangga, kemiskinan, gangguan perilaku orangtua, dapat melakukan ak vitas fisik, mela h psikomotor juga

h p://jurnal.htp.ac.id
Yena Wineini Migang
Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dengan Au sm
Rela onship Paren ng of Parents on Growth and Development of Children with Au sm
112

sangat berpengaruh, orangtua harus sabar dan konsisten mela h anak, peneli mengukur nggi badan, berat badan, usia dan jenis
psikomotor anak au s, mela h ak vitas fisik sehari-hari untuk kelamin sehingga mendapatkan data status gizi anak yang
pemenuhan kebutuhannnya, seper berpakaian, mandi, makan, kemudian diolah dengan so ware anthro WHO Plus 2011,
dan lain-lain. Konsistensi perawatan yang ade kuat maupun pola Sedangkan untuk ngkat kogni f peneli melihat dari nilai raport
asuh terhadap perkembangan kogni f anak au s, dan yang dapat saat pengambilan data dan empat bulan sebelum peneli an.
melakukannya adalah keluarga, maka sangat di perlukan Sebelum pengambilan data peneli terlebih dahulu
perha an penuh keluarga, karena dalam menghadapi anak au s mengumpulkan data responden, dengan mendatangi Sekolah
diperlukan kesabaran, dan ketulusan kasih sayang (Na onal Luar Biasa (SLB), klinik terapi anak au s di Kota Palangka Raya
Ins tute of Mental Health 2011). untuk menanyakan data anak au sm, didapatlah data yang dapat
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis sangat tertarik menjadi responden 84 anak diambil datanya. Informed Consent
untuk meneli tentang pola asuh orangtua terhadap diberikan kepada orangtua sebagai kesediaan menjadi
pertumbuhan dan perkembangan anak dengan au sm di Kota Responden.

METODE Variabel peneli an


Variable Independent (Bebas): pola asuh orangtua
Sampel
Variable Dependent (Terikat): pertumbuhan (status gizi) dan
Sampel dari peneli an ini adalah: orangtua dan anak au sm.
perkembangan ( ngkat kogni f) anak au sm
Lokasi peneli an di SLBN 1 dan LPK Mela Ceria Kota Palangka
Raya, bulan Agustus 2016. Jumlah sampel berdasarkan rumus
Metode Pengolahan dan Analisis Data
es masi besar sampel dengan α 0.05, maka dibutuhkan minimal
Status gizi (pertumbuhan) diukur dengan aplikasi Anthro
80 sampel, dan pada peneli an ini jumlah sampel ada 84 orang
WHO Plus 2011, untuk kogni f melalui nilai raport anak au s
anak au sm dan orangtua anak au sm.
yang telah ada penilaian perkembangan kogni f. Uji sta s k yang
digunakan spearman rho
Tehnik Sampling.
Peneli an ini menggunakan purposive sampling yaitu cara HASIL
pengambilan sampel berdasarkan strata, kelompok atau acak,
tetapi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi (Saryono, 2008). Peneli an dilakukan mulai bulan Agustus 2016 di SLBN dan
Adapun kriterianya adalah: LPK Mela Ceria. Data yang diambil merupakan data primer, pada
a.Kriteria inklusi 84 responden anak au sm dan 84 orangtua anak au sm. Berikut
1)Anak Usia ≥ 60 bulan adalah data-data:
2)Anak yang sehat
3)Ibu atau ayah bersedia menjadi responden a. Data Umum Responden Orang Tua
4)Anak dan orangtuanya menetap dalam satu rumah. Pada Tabel 4.1 merupakan data pendidikan dan pekerjaan
b.Kriteria Drop out orangtua anak au sm, persentase ter nggi 41 orang (48,8%)
1)Anak yang sakit (demam, diare, flu, dll). orangtua anak au sm memiliki pendidikan sarjana (mulai dari
2)Anak yang mempunyai ibu yang sulit berkomunikasi. pendidikan D III )
3)Anak au s yang dak mau koopera f Tabel 1. Tingkat Pendidikan Orangtua Anak Au sm

Tingkat Jumlah Persen Valid Total


Desain Peneli an/Rancangan Peneli an Pendidikan Persen Persen
Rancangan peneli an ini adalah korelasi dengan pendekatan Sarjana 41 48,8 48,8 48,8
“cross sec onal” Peneli an ini akan mengkorelasikan pola asuh SMA 37 44,0 44,0 92,9
orangtua dengan pertumbuhan dan perkembangan pada anak SMP 6 7,1 7,1 100,0
Total 84 100,0 100,0
dengan aus sm.
Berikut ini adalah tabel 4.2 merupakan tabel distribusi
Metode Pengumpulan data frekuensi pekerjaan dari orangtua anak au sm, dimana
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam peneli an persentase ter nggi adalah swasta sebanyak 41 orang (48,8%),
ini adalah menggunakan data primer. Kuesioner diberikan yakni mereka selain pegawai negeri sipil (PNS) dan Ibu Rumah
kepada subjek peneli an yang menjadi responden orangtua Tangga (IRT).
untuk mendapatkan data pola asuh orangtua dan untuk

j u r n a l
J KESEHATAN
KOMUNITAS
Keskom, Vol. 3, No. 3
113 April 2017

Tabel 2. Pekerjaan Orangtua Anak Au sm Tabel 5. Tingkat Kogni f Anak Au sm

Valid Total Tingkat Valid Total


Pekerjaan Jumlah Persen Kogni f Jumlah Persen
Persen Persen Persen Persen
IRT 16 19,0 19,0 19,0 TETAP 22 26,2 26,2 26,2
PNS 27 32,1 32,1 51,2 MENINGKAT 62 73,8 73,8 100,0
SWASTA 41 48,8 48,8 100,0 Total 84 100,0 100,0
Total 84 100,0 100,0

b. Data Umum Responden Anak Aus sm f. Data Pola Asuh Orangtua Terhadap Status Gizi Anak Au sm
Tabel 4.3 merupakan data jenis kelamin dari responden anak Berdasarkan diagram 4.1 Pola Asuh Orangtua yang
au sm, dimana persentase terbanyak adalah anak au sm demokra s, memiliki beragam status gizi anak au sm, yakni ada
berjenis keamin laki-laki 28 orang (85,7%). yang sangat kurus 3 orang, kurus 3 orang, normal 32 orang,
gemuk 18 orang, obesitas 15 orang. Sedangkan pada pola asuh
Tabel 3. Jenis Kelamin Anak Au sm yang otoriter dan permisif hanya terdapat anak au sm yang
normal status gizinya.
Jenis Kelamin Jumlah Persen Valid Total
Persen Persen
LAKI-LAKI 72 85,7 85,7 85,7
PEREMPUAN 12 14,3 14,3 100,0
Total 84 100,0 100,0
c. Data Pola Asuh OrangTua Anak Au sm
Berdasarkan tabel 4.4 pada responden orangtua, pola asuh
yang banyak diterapkan adalah pola asuh demokra s, sebanyak
71 orangtua (84,5%).

Tabel 4.4. Pola Asuh Orangtua


Pola Asuh Valid Total
Orangtua Jumlah Persen
Persen Persen
OTORITER 6 7,1 7,1 7,1 Diagram 1. Pola Asuh Orangtua Terhadap Status Gizi
PERMISIF 7 8,3 8,3 15,5
DEMOKRATIS 71 84,5 84,5 100,0
Total 84 100,0 100,0 g. Data Pola Asuh Orangtua Terhadap Tingkat Kogni f Anak
Au sm
d. Data Status Gizi Anak Au sm Berdasarkan Diagram 4.2 pada pola asuh orangtua yang
demokra s ngkat kogni f anaknya lebih banyak yang
Tabel 4.4. Status Gizi Anak Au sm meningkat yakni sebanyak 57 anak, dibandingkan pola asuh
Status Gizi Valid Total otoriter dan permisif, ngkat kogni fnya lebih banyak yang tetap,
IMB/U Jumlah Persen ar nya selama 4 bulan hasil raport anak dak mengalami
Persen Persen
SANGAT KURUS 3 3,6 3,6 3,6 perubahan.
KURUS 3 3,6 3,6 7,1
NORMAL 45 53,6 53,6 60,7
GEMUK 18 21,4 21,4 82,1
OBESITAS 15 17,9 17,9 100,0
Total 84 100,0 100,0
Berdasarkan data pada tabel 4.5 jumlah persentase ter nggi
pada status gizi anak au sm adalah normal, 45 orang (53,6%),
ditemukan 3 orang (3,3%) sangat kurus dan kurus.

e. Data Tingkat Kogni f Anak Au sm


Berdasarkan tabel 4.6 jumlah persentase ter nggi pada
ngkat kogni f anak au sm meningkat 62 orang anak (73,8%)
yang dihitung 4 bulan sebelum bulan Agustus dan dibandingkan
saat data diambil. Diagram 2. Pola Asuh Orangtua Terhadap Tingkat Kogni f

h p://jurnal.htp.ac.id
Yena Wineini Migang
Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dengan Au sm
Rela onship Paren ng of Parents on Growth and Development of Children with Au sm
114

Pada diagram 4.2 pola asuh orangtua yang otoriter dan permisif sejalan dengan kondisi anak au s itu sendiri yang merupakan
kogni f anak yang meningkat lebih rendah dibanding ngkat gangguan komunikasi dan interaksi Anak kesulitan belajar
kogni f anak yang tetap dak ada perubahan. merupakan gangguan yang mengganggu aspek khusus dari
prestasi sekolah seper menyimak, berbicara, membaca,
h. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Status Gizi dan Tingkat menulis, atau matema ka, sehingga mereka banyak yang
Kogni f Anak Au sm menunda untuk masuk ke lingkungan sekolah (Poslawsky 2013)
Berdasarkan hasil uji bivariat dengan Spearman Rho, maka Pola asuh demokra s, merupakan kemampuan orangtua
hubungan 2 (dua) variabel antara pola asuh orangtua dengan untuk dapat berkomunikasi dengan anak au sm, kemampuan ini
status gizi anak au sm dan hubungan pola asuh orang tua dengan dak lepas dari ngkat pendidikan orangtua, pada peneli an ini
ngkat kogni f, hasil uji sta s k, hubungan pola asuh orangtua persentase terbanyak pendidikan orangtua adalah sarjana
dengan status gizi memiliki hubungan signifikan dimana nilai ρ 48,8%, sehingga hal ini pula yang menjadi faktor mudahnya
0,008 <0,01 dengan nilai korelasi koefisien 0,260. Demikian juga orangtua menerapkan komunikasi dua arah dengan anak au sm,
pola asuh orangtua dengan kogni f anak au sm memiliki dimana ngkat pendidikan orangtua dapat menentukan
hubungan signifikan, dengan nilai ρ 0,001 <0,01 dan nilai korelasi wawasan orangtua terhadap perlakuan anak au sm (Palmer,
koefisien 0,346. 2006). Faktor lain yang juga menentukan status gizi pada anak
adalah jenis kelamin, pada peneli an ini persentase anak laki-laki
Tabel 6. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Status Gizi dan lebih besar (85,7%) sedang responden anak perempuan (14,3%),
Tingkat Kogni f teori juga mengatakan ada perbedaan indeks massa tubuh antara
STATUS POLA ASUH anak laki-laki dan anak perempuan (Kemenkes, 2010) dan hal
GIZI ORTU tersebut dibuk kan dengan peneli an Mitchel, tahun 2003
menyatakan adanya 1 kasus anak au s per 175 bayi, atau 58 per
status gizi Correla on 1,000 ,260**
Coefficient 10000 pada anak au s laki-laki dan perempuan dengan
Sig. (1-tailed) . ,008
Spearmen’s perbandingan 4:1.
N 84 84
rho Berdasarkan penjelasan di atas tentang pola asuh orangtua,
Pola Asuh Correla on ,260** 1,000
Ortu Coefficient maka pada tabel 4.7 ada hubungan signifikan antara pola asuh
Sig. (1-tailed) ,008 . dengan status gizi anak au sm, hal ini sejalan pada diagran 4.1
N 84 84
terlihat bahwa jumlah persentase gizi normal pada pola asuh
STATUS KOGNITIF otoriter (17,6%), sama dengan permisif (17,%), sedang jumlah
GIZI
status gizi normal pada pola asuh yang demokra s memang lebih
status gizi Correla on 1,000 ,346** nggi 64,7% tetapi pada pola asuh demokra s lebih beragam
Coefficient
Sig. (1-tailed) . ,001 ditemukan status gizi anak, juga terdapat anak yang status gizinya
Spearmen’s N 84 84 sangat kurus dan kurus, bahkan gemuk dan obesitas. Ar nya pola
rho
KOGNITIF Correla on ,346** 1,000 asuh dapat menentukan status gizi anak au sm (Bourgondien et
Coefficient
. al. 2014).
Sig. (1-tailed) ,001
N 84 84 Melihat substansi kuesioner pada pernyataan yang
**. Correla on is significant at the 0,01 level (1-tailed) mencerminkan pola asuh demokara s (pertanyaan no 10 s.d 19)
terlihat memang anak boleh membicarakan yang dia inginkan,
PEMBAHASAN bahkan orangtua dapat saja mengarahkan ke tempat yang anak
a. Pola Asuh Orang Tua dengan Status Gizi Anak Au sm au sm inginkan walaupun orangtua dak suka (pertanyaan
Pada data tabel 4.1 persentase ter nggi 48,8%, orangtua yang kuesioner no 12). Hal tersebut termasuk dalam hal selera makan,
memiliki anak au sm, banyak menerapkan pola asuh Ar nya walaupun orangtua tahu bahwa anak au s harus diet
demokra s, dimana pola asuh demokra s anak diberi glutein dan kasein (Mardhiyah 2014), tapi kalau anak sudah
kesempatan untuk membicarakan apa yang dia inginkan yang memaksa keinginannya maka orangtua demokra s dapat saja
sebelumnya dirundingkan bersama, ada proses pendampingan memenuhi keinginan anak tersebut. Orang tua merupakan salah
terhadap apa yang dilakukan anak supaya anak tahu mana yang satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap penerapan diet
baik dan mana yang buruk, orangtua juga mengingatkan hal-hal pada anak au sme, karena pola makan pada anak au sme dak
yang perlu dilakukan anak. terlepas dari peran seorang ibu dalam menyediakan makanan
Pola asuh demokra s lebih mengarah pada komunikasi dua yang baik serta bergizi dan sesuai dengan kebutuhannya
arah antara anak dengan orangtua. Penerapan pola asuh seper (Whiteley et al. 2012), namun mengingat sifat anak au s yang

j u r n a l
J KESEHATAN
KOMUNITAS
Keskom, Vol. 3, No. 3
115 April 2017

cenderung menyukai makanan yang manis, sehingga bagi orang tergantungnya komunikasi dan imajinasi, serta rentang ak vitas
tua yang memiliki pola asuh demokra s sulit untuk bisa dan minat yang sangat terbatas (Kandaswamy 2016) .
komitmen untuk menjaga diet anak au s. Salah satunya perilaku Berdasarkan pertanyaan kuesioner sub bagian pola asuh yang
anak au sme yang mungkin dapat menjadi hambatan orang tua, demokra s (kuesioner no. 10 s.d 19), orangtua yang demokra s
seper perilaku tantrum dan picky eaters yang muncul pada anak selalu mengkomunikasikan apa yang dikehendaki oleh anak, dan
yang cenderung membuat orang tua mengalah sehingga mereka juga menyampaikan apa yang seharusnya anak mereka
mempengaruhi perilaku orang tua itu sendiri dalam menerapkan lakukan, tentukan dengan penjelasan yang dapat dimenger .
diet (Mujiyan 2011). Serta pada pola asuh demokra s, orangtua terlibat dalam proses
Pada diagram 4.1 Pola asuh yang otoriter dan permisif juga belajar anak, dengan memperha kan jam belajar dan hal-hal
memiliki status gizi anak yang normal, bahkan pola asuh yang yang dilakukan disekolah. Pada pola asuh yang intensive
otoriter dimana orangtua yang harusnya lebih banyak dominan berkomunikasi dengan akan mens mulasi interaksi sosial dan
mengatur anaknya (Mujiyan 2011), dak ditemukan data anak imajinasi anak, sehingga akan mens mulasi kemampuan otak
au sm yang kurus sekali atau kurus, yang dimungkinkan karena untuk menangkap bahasa yang diucapkan orangtua (Tripathi
diet ketat dari orangtua yang otoriter. Pada pola asuh orangtua 2015). Jadi sejalan pada peneli an ini ada hubungan antara pola
yang permisif yang merupakan pola asuh orangtua yang hampir asuh dengan ngkat perkembangan kogni f pada anak au sm,
dak memperdulikan anaknya, termasuk dalam hal diet dan berdasarkan persentase anak au sm dengan orangtua
makanan, mereka peduli apakah anaknya makan makanan yang demokra s memiliki persentase paling nggi ngkat kogni f
dak mengandung gluten dan kasein atau yang mengandung anaknya meningkat, dari yang perlu bantuan penuh menjadi
glueten dan kasein. Pada pola yang permisif dak juga terdapat hanya dibantu bahkan ada yang dapat melakukan ak vitas ranah
anak yang gemuk ataupun obesitas. Jadi pada peneli an ini ada kogni f tanpa bantuan lagi (Rajendran & Mitchell 2007).
hubungan anatara pola asuh orangtua terhadap status gizi anak
au sm. KESIMPULAN
b. Pola Asuh Orangtua dengan Tingkat Kogni f Anak Au sm Berdasarkan tujuan dari peneli an ini, maka kesimpulan dari
Berdasarkan tabel 4.7 hasil analisa Spearman Rho, didapat data yang didapat selama peneli an, sebagai berikut:
bahwa ada hubungan antara pola asuh ibu dengan ngkat a. Dari 80 responden orangtua yang beri insrumen kuesioner,
kogni f anak au s, dimana nilai ρ 0,001 <0,01 dan nilai korelasi maka pola asuh orangtua yang ter nggi adalah pola asuh
koefisien 0,346. Berdasarkan diagram 4.2 terlihat juga perbedaan demokra s (84,5%), sedang pola asuh permisif (8,3%), pola
jumlah anak yang ngkat kogni fnya meningkat 90% pada pola asuh ototriter (7,1 %)
asuh demokra s dibandingkan pola asuh otoriter dan permisif. b. Status gizi pada anak au sm persentase ter nggi adalah status
Anak au s adalah anak yang mengalami gangguan gizi normal (53,6%), status gizi gemuk (21,4%), status gizi
perkembangan dan perilaku, gangguan komunikasi. Gangguan obesitas (17,9%), status gizi kurus dan sangat kurus masing-
kogni f merupakan bagian dari gangguan perkembangan yang masing sama (3,6%).
terjadi pada sekitar 8% anak . Perkembangan bahasa merupakan c. Tingkat Kogni f anak au sm, persentase ter nggi ngkat
salah satu indikator perkembangan menyeluruh dari kogni fnya meningkat (73,8%), dan tetap dak ada
kemampuan kogni f anak yang berhubungan dengan peningkatan atau penurunan (26,2%).
keberhasilan di sekolah. Keterlambatan perkembangan awal d. Ada hubungan signifikan anatara pola asuh orangtua dengan
kemampuan bahasa dapat mempengaruhi berbagai fungsi dalam status gizi anak au sm, dimana nilai ρ 0,008 > α 0,01
kehidupan sehari-hari (Dhamayan & Herlina 2009). Selain e. Ada hubungan signifakan antara pola asuh ibu dengan ngkat
mempengaruhi kehidupan personal sosial, juga akan kogni f anak au sm ρ 0,001 > α 0,01
menimbulkan kesulitan belajar, bahkan hambatan dalam bekerja
kelak. Iden fikasi dan intervensi secara dini dapat mencegah
Konflik Kepen ngan
terjadinya gangguan dan hambatan tersebut (Hanum & Khosman Peneli an dilakukan dalam m. Tetapi ar kel pada jurnal ini
2012). diajukan atas nama 1 orang (ketua peneli ), terkait angka kredit
Pada orangtua yang pola asuhnya demokra s mereka yang ingin diperoleh. Ada kesepakatan dengan anggota m
cenderung membuka komunikasi yang ak f dengan anak, lainnya bahwa mereka akan publish di jurnal lainnya dengan
dibandingkan pola asuh otoriter dan permisif (Poslawsky 2013). variabel yang berbeda dan uji analisis berbeda (mul variat
Anak Au sm mengalami perkembangan pervasive dari otak, analysis), sehingga dak ada duplikasi ar kel.
ditandai oleh kurangnya interaksi sosial normal, mereka

h p://jurnal.htp.ac.id
Yena Wineini Migang
Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dengan Au sm
Rela onship Paren ng of Parents on Growth and Development of Children with Au sm
116

Ucapan Terima Kasih Edgington, L., Hill, V. & Pellicano, E., 2016. Research in
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Developmental Disabili es The design and
karena atas berkat-Nya, peneli an ini bisa terselesaikan dengan implementa on of a CBT-based interven on for
baik. Peneli an ini dilaksanakan sebagai bagian dari Tri Dharma sensory processing difficul es in adolescents on
Perguruan Tinggi bagi dosen. Penulis juga mengucapkan terima the au sm spectrum. Research in Developmental
kasih atas bantuan dan bimbingan dari segenap pihak, Disabili es, 59, pp.221–233. Available at:
diantaranya adalah: h p://dx.doi.org/10.1016/j.ridd.2016.09.004.
1. Badan PPSDMK atas kesempatan yang diberikan, sehingga Hanum, N.L. & Khosman, A., 2012. Pola Asuh Makan,
kami dosen dapat melaksanakan peneli an. Perkembangan Bahasa, dan Kogni f Anak Balita
2. Direktur Poltekkes Kemenkes Palangka Raya yang telah Stunted dan Normal di Kelurahan Sumur Batu,
memfasilitasi terlaksananya peneli an ini Bantar Gebang Bekasi. Gizi dan pangan, 7(2),
3. Pudir I, II dan III Poltekkes Kemenkes Palangka Raya, terima pp.81–88.
kasih atas bantuannya Kandaswamy, R., 2016. iMedPub Journals The Neurological
4. Tim reviewer, terima kasih atas kri kan dan saran, sehingga D a m a g e C a u s e d b y Re p e v e B e h av i o r
peneli an ini lebih baik lagi. Modifica on Based Therapies in Au sm and the
5. Kepala Sekolah SLBN 1 Palangka Raya dan Lembaga Pendidikan Myth of “ Early Intensive Interven on ” in Au sm
Mela Ceria, Terima kasih atas kerjasamanya The Myth of “ Early Interven on ” in Au sm with “
6. Responden dan orangtuanya, terimakasih untuk kerjasamanya Intensive ” Methods and Applica o. , pp.2–4.
sehingga peneli dimudahkan dalam mengambil data. Mardhiyah, A.D.S.H.H.R.A., 2014. Kepatuhan Orang Tuan
7. Semua pihak yang terlibat dalam membantu teraksananya Dalam Menerapkan Terapi Diet Glutein Free dan
peneli an ini. Casein Free Pada Anak Penyandang Au sme di
Semoga Tuhan memberikan limpahan berkanya kepada kita Yayasan Pelita Hafizh dan SLBN Cileunyi Bandung. ,
semua dan peneli an ini dapat berguna bagi penulis sendiri pp.1–15.
maupun pihak lain yang memanfaatkannya. Mujiyan , D.M., 2011. Tingkat Pengetahuan Ibu dan Pola
DAFTAR PUSTAKA Konsumsi pada Anak Au s di Kota Bogor. Ins tut
Pertanian Bogor.
Artha, Nur M; Sutomo, Retno; Gamayan , Indria L.,2014. Na onal Ins tute of Mental Health, 2011. A Parent’s Guide
Kesepakatan Hasil antara Kuesioner Pra Skrining to Au sm Spectrum Disorder. , pp.3–9.
P e r k e m b a n g a n , P a r e n t ’s E v a l u a o n o f Poslawsky, I.E., 2013. Paren ng a child with au sm,
Developmental Status, dan Tes Denver-II untuk Nederlands.
Skrining Perkembangan Anak Balita. Jakarta: Sari Prasetyoningsih, S.A. (FKIP U.I.M., 2016. Pengembangan
Pediatri, Vol. 16, No. 4. Tindak Bahasa Terapi Dalam Intervensi Anak Au s
Bourgondien, Mary E. Van; Dawkins, Tamara; & Marcus, Spektrum Perilaku. Litera, volume 15, pp.120–127.
Lee., 2014. Families of Adults with Au sm Rajendran, G. & Mitchell, P., 2007. Cogni ve theories of
Spectrum Disorder. New York. Journal of Au sm au sm. ScienceDirect, 27, pp.224–260.
and Developmental Disorders, 42, 1818–1826. Tripathi, N. (Department of P., 2015. Paren ng Style and
Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya., 2014. Profil Parents ’ Level of Stress having Children with
Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014. Kota Au s c Spectrum Disorder ( CWASD ): A Study
Palangka Raya: Dinas Kesehatan Kota Palangka based on Northern India Abstract. iMedPub
Raya. Journals, 1 No1:7, pp.1–8. Available at:
Bourgondien, M.E. Van, Dawkins, T. & Marcus, L., 2014. h p://neuropsychiatry.imedpub.com/ .
Families of Adults with Au sm Spectrum Whiteley, P. et al., 2012. Gluten- and casein-free dietary
Disorders. , pp.15–41. interven on for au sm spectrum condi ons.
Dhamayan , M. & Herlina, M., 2009. Skrining Gangguan Fron ers in human neuroscience, 6(January),
Kogni f dan Bahasa dengan MenggunakanCapute p . 3 4 4 . Ava i l a b l e a t :
Scales (Cogni ve Adap ve Test/Clinical Linguis c & h p://www.pubmedcentral.nih.gov/ar clerender
Auditory Milestone Scale-Cat/Clams). Sari Pediatri, .fcgi?ar d=3540005&tool=pmcentrez&rendertyp
11(3), pp.189–209. Available at: e=abstract.
h p://saripediatri.idai.or.id/pdfile/11-3-8.pdf.

j u r n a l
J KESEHATAN
KOMUNITAS