Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skabies merupakan penyakit yang dapat diderita pada semua kelompok umur.

Pada umumnya penyakit ini menyerang anak-anak dan dewasa muda

(Graham-Brown, 2005). Penyebab penyakit skabies disebabkan oleh kondisi

kebersihan yang kurang terjaga, sanitasi yang buruk, gizi yang kurang, dan

kondisi ruangan yang terlalu lembab dan kurang mendapat sinar cahaya secara

langsung (Rahmawati, 2009). Penyakit kulit skabies dapat menular dengan

cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama.

Skabies merupakan penyakit endemi yang banyak diderita masyarakat

khususnya pada lingkungan pondok pesantren. Insidens sama pada pria dan

wanita. Insidens skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi

yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan (Harapan Marwali, 2004).

Skabies di Indonesia menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit yang

sering terjadi (Azizah,2011). Di Indonesia jumlah penyakit skabies pada tahun

2009 sekitar 6.915.135 jiwa (2,9%) dari jumlah penduduk 238.452.952 jiwa.

Provinsi jawa timur sebanyak 72.500 (0,2%) dari jumlah penduduk

36.269.500 jiwa. Di Pondok Pesantren lamongan sebanyak 64,2% santri

terkena skabies (Ma’rufi, 2005). Sama halnya dengan hasil penelitian

Kuspiantoro (2005) di salah satu Pondok Pesantren yang ada di Pasuruan

jumlah skabies sebanyak 70%. Jumlah skabies di Pondok Pesantren Qomarul

Hidayah sebanyak 75%. Pondok pesantren Putri Darunnajah merupakan


lembaga pendidikan non formal yang jumlah santrinya sebanyak 50 santri.

Hasil observasi sementara sebanyak 60% santri pernah menderita gatal-gatal

yang ditandai dengan adanya bintik merah yang disertai cairan di sela-sela

jari, telapak tangan, betis, dan kadang menjalar sampai lipatan lutut. Selain itu

juga tampak goresan bekas garukan.

Skabies sering ditemukan di lingkungan pondok pesantren karena para santri

gemar bertukar atau saling meminjam pakaian, handuk, sarung dan bahkan

tidurnyapun bersamaan dalam satu alas tidur atau kasur yang sama. Skabies

tidak membahayakan manusia tetapi sangat mengganggu istirahat terutama

pada malam hari akibat dari rasa gatal yang sangat hebat. Selain dapat

menimbulkan infeksi sekunder, akibat lain dari skabies adalah rasa lelah pada

siang hari, produktivitas rendah, sulit menerima pelajaran karena mengantuk

yang disebabkan kurang tidur di malam harinya (Soeharsono, 2002) dalam

(Ramani Andrei, 2012).

Wawancara kepada para santri memberikan tanggapan bahwa santri belum

pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang skabies, pada

kenyataannya santri masih sering bergantian baju, handuk, bahkan kontak

secara langsung tanpa memperhatikan adanya luka karena skabies. Dengan

alasan santri belum tahu apa itu skabies, melalui apa penularannya dan

bagaimana cara pencegahannya. Adapula yang beralasan sakit gudik ini

memang sudah jadi penyakitnya santri. Oleh sebab itu sebagian besar santri

mempunyai keyakinan bahwa “jika belum sakit gudik (skabies) tidak afdhol

(belum diterima sebagai santri di pesantren tersebut). Hal yang diungkapkan


santri tersebut merupakan faktor yang mendukung terjadinya penularan

skabies.

Upaya meningkatkan kesehatan para santri perlu adanya upaya peningkatan

pengetahuan santri tentang kesehatan, khususnya penyakit skabies.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu diberikan pendidikan

kesehatan untuk mencegah penularan pada individu yang lain. Beberapa

metode pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya metode ceramah,

diskusi, demonstrasi, eksperimen dan masih banyak metode-metode yang

lainnya. Salah satu pendidikan kesehatan yang dapat diberikan pada santri

yaitu dengan metode cedi (ceramah diskusi). Metode ceramah adalah

metode pengajaran tradsional, metode ini merupakan metode yang sejak dulu

telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan peserta didik

dalam proses belajar mengajar (Djamaroh Bahri dkk, 2006). Metode ceramah

ini dianggap lebih efektif karena dengan metode ceramah guru lebih mudah

menguasai kelas, dapat diikuti oleh jumlah siswa yang banyak, serta mudah

mempersiapkan dan melaksanakannya. Dalam pemilihan metode pendidikan

kesehatan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemilihan metode

berkaitan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebagai contoh, penelitian

Sitepu (2008) yang dilakukan pada ibu dengan metode ceramah ternyata

berdampak positif terhadap pengetahuan dan sikap tentang penyakit

pneumonia pada balita. Akan tetapi metode ceramah juga mempunyai

beberapa kekurangan diantaranya menyebabkan siswa menjadi pasif, bila

digunakan terlalu lama akan membosankan. Oleh sebab itu metode ceramah

dianggap perlu untuk dikolaborasikan dengan metode yang lainnya yakni


metode diskusi. Metode diskusi ini merupakan salah satu teknik belajar

mengajar yang dilakukan guru. Dimana belajar mengajar tersebut dilakukan

dengan adanya interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat saling

tukar menukar informasi, pengalaman, memecahkan masalah. Kurangnya

informasi dan pengetahuan mengenai penyakit skabies oleh santri akan

menjadi kendala bagi santri untuk mencegah penularan penyakit skabies. Dari

banyaknya kejadian penyakit kulit akibat dari perilaku hidup yang kurang

sehat. Dipengaruhi juga oleh pengetahuan yang kurang (Marnyoto, 2003).

Berdasarkan latar belakang di atas, pentingnya pendidikan kesehatan tentang

skabies merupakan dasar utama dalam merubah sikap santri untuk menjaga

kesehatannya. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “ Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Cedi (Ceramah

Diskusi) Terhadap Sikap Pencegahan Skabies Pada Santri Putri di Pondok

Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri”

1.2 Rumusan Masalah

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit skabies

adalah dengan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan penyakit skabies,

yaitu melalui pendidikan kesehatan dengan metode cedi (ceramah diskusi)

yang merupakan suatu metode yang telah dipergunakan sebagai alat

komunikasi untuk menyampaikan suatu informasi. Di Pondok Pesantren Putri

Darunnajah Desa Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri belum pernah

diberikan pendidikan kesehatan sebagai upaya untuk mencegah penularan

penyakit skabies.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan

permasalahannya yaitu “Bagaimana pengaruh pendidikan kesehatan dengan

metode cedi (ceramah diskusi) terhadap sikap pencegahan penularan skabies

Pada Santri Putri di Pondok Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan

Pare Kabupaten Kediri?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode cedi (ceramah

diskusi) terhadap sikap pencegahan penularan penyakit skabies Pada

Santri Putri di Pondok Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan Pare

Kabupaten Kediri

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi sikap pencegahan penularan penyakit skabies pre test

pada santri putri di Pondok Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan

Pare Kabupaten Kediri

1.3.2.2 Mengdentifikasi sikap pencegahan penularan penyakit skabies post test

pada santri putri di Pondok Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan

Pare Kabupaten Kediri

1.3.2.3 Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode cedi

(ceramah diskusi) terhadap sikap pencegahan penularan penyakit skabies

pada santri putri di Pondok Pesantren Darunnajah Desa Bendo Kecamatan

Pare Kabupaten Kediri


1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

1.4.1.1 Menambah wawasan bagi ilmu keperawatan khususnya dalam upaya

memberikan asuhan keperawatan pada lingkungan penderita penyakit

skabies.

1.4.1.2 Dapat meningkatkan Ilmu Pengetahuan Penyakit Dalam yang termasuk

dalam sistem integumen.

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

1.4.2.1 Bagi praktik lapangan dapat meningkatkan penyuluhan tentang

pencegahan skabies sehingga pencegahan dapat dilakukan secara

maksimal.

1.4.2.2 Dapat digunakan sebagai alternatif untuk mencegah penularan penyakit

skabies secara mandiri.

1.4.2.3 Pesantren dapat mengembangkan pembangunan dengan memperbanyak

kamar mandi yang menggunakan keran untuk mengurangi penularan

skabies serta mengfungsikan poskestren dengan baik dalam meningkatkan

kesehatan di lingkungan pesantren tersebut.

1.4.2.4 Menambah pengetahuan bagi penulis tentang prosedur penelitian terutama

yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan dan pencegahan penularan

skabies.
1.5 Relevansi

Trend tentang meningkatnya hidup bersama (asrama, pesantren, panti) juga

dapat meningkatkan resiko terjadinya skabies. Oleh karena itu perlu adanya

upaya pencegahan penularan skabies seperti menjaga lingkungan tetap

bersih, megupayakan ruangan tidak lembab dan mendapat sinar matahari

secara langsung.

Mengingat pentingnya menjaga kebersihan maka perlu diadakan program

pendidikan kesehatan. Dengan adanya pendidikan kesehatan diharapkan

dapat bermanfaat dalam upaya pencegahan penularan skabies pada

lingkungan Pondok Pesantren.

Program pemerintah untuk mencegah penularan penyakit yaitu dengan

meningkatkan promosi kesehatan, salah satunya dengan didirikannya P3M

(Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular). Seksi P3M mempunyai

tugas menyediakan bahan rencana dan program kerja, pelaksanaan,

pelayanan, fasilitasi teknis, pemantauan dan evaluasi, pelaporan bidang

Pencegahan, dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Pemutusan Mata

Rantai Penularan melalui Pemberantasan Vektor