Anda di halaman 1dari 9

Masih terasa sangat luar biasa memandangi berita beritaku berseliweran di

sejumlah media massa. Walaupun sudah lebih dari dua bulan, aku dan Tontowi
Ahmad peraih mendali emas XD di olimpiade rio masih dielu elukan
kemanapun kami pergi.

Hari ini bonus yang telah dijanjikan oleh pemerintah telah mendarat sempurna
di rekeningku dan Owi, panggilan akrabnya. Rasa haru dan bangga menyelimuti
perasaanku. Akan sangat malu rasanya jika bonus ini tidak membuat aku dan
Owi lebih berprestasi lagi kedepannya. At lease aku harus lebih bermanfaat lagi
buat negaraku.

Setelah acara ceremony yang cukup padat, karena rasa letih yang mulai
melanda aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Aku harus istirahat
dan menjaga fisikku tetap bugar untuk turnament China Open yang akan aku
ikuti di pertengahan bulan November mendatang.

Setelah mandi, aku menghempas tubuhku ke atas kasur empuk di kamarku.


Aku memang lelah tapi rasa kantuk belum cukup memaksaku untuk tidur.
Kubuka instagramku di ponsel dan tentu saja sudah ratusan notifikasi
memenuhi berandaku. Di antara banyaknya ucapan selamat atas pencairan
bonusku ada pula yang memberikan saran dan kritik untuk peningkatan
performaku dan Owi.

Yang membuatku terdiam, lagi lagi banyak yang mengaitkan moment ini
dengan Lee Yong Dae. Ada yang sampai membuat meme yang bergambar
wajahku dan dia.

Walaupun meme itu lucu dan aku tesenyum ketika membacanya, ada celah
rasa perih yang mulai terasa di hatiku. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu
selalu muncul ketika nama Lee Yong Dae disebut. Rasa itu seolah meluap hebat
dan mulai menyesakan dadaku. Hebatnya lagi aku selalu mampu menutupi
perasaan itu sehingga tak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Lee yong dae sebuah nama yang sudah lebih dari delapan tahun aku kenal.
Atlet Korea yang begitu digandrungi dimana mana bahkan diluar negaranya
sendiri. Laki laki yang masih saja dikaitkan denganku hanya berdasarkan fakta
fakta yang mereka cari sendiri.

*****

Aku ingat pertama kali aku bertanding dengan Lee yong dae di Olimpiade
Beijing 2008 silam. Aku masih berpasangan dengan Kak Nova Widianto dan dia
dengan Lee Hyo Jung. Kami sangat kecewa harus menelan kekalahan di final
dan harus puas dengan hanya membawa pulang mendali perak.

Aku ingat saat makan malam seusai pertandingan, bagaimana dia mencoba
mendekatiku hanya untuk meminta maaf telah mengalahkanku. Saat itu kami
dengan dua bahasa berbeda dan bahasa Inggris yang pas pasan mencoba untuk
membuka obrolan walaupun dengan banyak bahasa tubuh.

Saat itu aku tidak merasakan hal berbeda sampai aku pulang ke Indonesia dan
dia mulai menelponku. Ternyata dia meminta nomorku pada Kak Nova dengan
modus yang cukup cerdas. Dia mencatat semua no handphone pemain
Indonesia yang saat itu berlaga dengan alasan untuk pertemanan agar tidak
ada yang menyadari kalo yong dae hanya butuh nomorku saja.

Aku ingat saat dia mulai belajar bahasa Indonesia hanya dengan mengobrol
denganku lewat telepon. Dia selalu memanggilku 'Tokii' yang artinya kelinci
karena menurutnya dua gigi depanku panjang seperti kelinci. Dan aku
memanggilnya 'Hoga' yang berarti hantu dalam bahasa Manado. Entah kenapa
aku memanggilnya begitu tapi dia nampak senang dengan panggilanku
padanya. Kami mulai berbagi tawa dan kesedihan bersama tanpa ada satu
orang pun yang tahu.

*****

Aku ingat saat tahun 2012, Mbak Widi wartawan senior PBSI yang begitu
menggilai Yong Dae memberitahu seisi Pelatnas dengan beredarnya foto intim
Yong Dae dan Byun Su Mi, perempuan yang di negeri asalnya disebut sebut
sebagai kekasih Yong Dae. Perasaan perihku harus kututupi dengan wajah cuek
yang seolah tak kenal dan tak peduli. Bagaimana mungkin yong dae tidak
pernah sekalipun menyinggung kekasihnya padaku.

Dini hari ketika yong dae menelpon, aku memutuskan untuk bertanya masalah
ini padanya. Jawaban yong dae cukup membuatku terkejut. Dia tidak
memungkiri dia memang sedang berpacaran dengan aktris pendatang baru
bernama Byun Su Mi. Foto foto itu sengaja disebar oleh seorang pelukis yang
ingin mencari uang dan popularitas. Yang tidak kalah mengejutkanku adalah dia
ingin kami tetap dekat dan bersahabat. Aku tak pernah lupa pembicaraan kami.

"Kamu jangan cemburu ya Tokii tokii.. Bagiku kamu tetap perempuan tercantik..
jauh lebih cantik dari kekasih kekasihku" katanya dengan suara lembut.

"Kekasih kekasih?? Dasar playboy kamu Hoga!! Untung aku cukup pintar tidak
termakan rayuan gombalmu.. Sampai kapan pun aku tidak akan mau jadi
kekasihmu!! " jawabku ketus.

"Walaupun di dunia ini hanya aku satu satunya laki laki??" tanyanya dengan
nada menggoda.

"Walaupun di dunia ini hanya tinggal kamu aku akan pergi ke mars untuk
menikah dengan alien!!" seruku tambah ketus. Yong dae yang di ujung telepon
terkekeh lalu terdiam sejenak.

"Tapi aku benar benar minta maaf ya Tokki, aku tidak mau kehilanganmu
karena masalah ini.. Aku sangat berharap kita bisa seperti ini selamanya"
lanjutnya lagi kali ini dengan nada lirih.

Bagaimana mungkin aku tidak bingung mendeskripsikan keinginannya. Yong


dae ingin aku tidak mempermasalahkan hubungannya dengan perempuan
manapun tapi saat gosip hubunganku dengan Hendra Setiawan menyeruak di
media dia terdengar sangat marah.
"Kamu pasti pulang bareng Hendra kan? "

"Kamu makan bareng Hendra kan?"聽

"Hendra dan aku gantengan siapa?"聽

"Kenapa lama sekali menganggat teleponku? Ada Hendra ya disana?"聽

Yong dae selalu saja menginvestigasiku dengan pertanyaan pertanyaan yang


melibatkan Hendra. Ada saja kalimat kalimat yang menyudutkanku padahal aku
sudah berkali kali bilang kalau aku menganggap Hendra tak lebih dari seorang
kakak dan aku tidak mungkin berpacaran dengannya. Hal ini mereda Yong Dae
membaca berita pernikahan Hendra dengan Susan.

*****

Aku ingat beberapa bulan sebelum Sudirman Cup 2015 Yong Dae begitu
bersemangat. Hampir setiap hari dia meneleponku dan bilang sudah tidak
sabar datang ke Indonesia untuk bertemu denganku.

Seusai Sudirman Cup berlangsung yong dae sering datang ke rumahku hanya
untuk mengobrol dan tentu saja menggodaku dengan kalimat kalimat tengilnya.
Sampai satu hari dia datang dan menunjukanku sepasang cincin.

"Tokii.. lihatlah cincin ini, bagus tidak?" tanyanya sembari membolak balikan
cincin yang dipegangnya.

"Coba sini aku lihat" kataku sembari menyambar cincin itu dari tangannya.

Mataku memandangi cincin itu dengan seksama.

"Polos begini, gak bagus ah" lanjutku dan kembali mengembalikan cincin itu
padanya.

"Ini oleh oleh dari temanku yang habis liburan di Afrika katanya cincin ini jika
dipakai oleh dua orang maka hati mereka akan selalu terhubung"

Aku terdiam.
"Tokii ku, kamu mau tidak pakai satu cincin ini?" lanjutnya dengan pertanyaan
yang tanpa basa basi.

"Kenapa kamu tidak berikan satu untuk kekasihmu saja? Kenapa harus aku
yang pakai cincin ini?" aku malah kembali bertanya.

"Aku hanya ingin kamu yang memakai cincin itu Tokii bukan perempuan lain"
jawabnya mantap tanpa jeda.

Aku berfikir tumben sekali yong dae tidak membalas ejekannku. Mungkin kali
ini dia benar benar serius ingin aku yang memakai cincin itu. Aku pun
mengambil cincin dari tangannya kembali dan aku langsung mencobanya di jari
manisku.

"Kegedean di jariku ni" kataku dengan nada datar.

"Ya ampun ternyata benar yah kebesaran.. aku sudah mengiranya ukuran ini
memang besar untuk jarimu Tokii" matanya nanar melihat cincin itu bergerak
gerak di jariku karena ukurannya yang tidak pas. Yong dae lalu menghela nafas
panjang tanda kekecewaan yang mendalam. Aku berfikir sejenak lalu
melangkah ke kamar.

"Kalo cincinnya gak dipakai di jari gak apa apa kan?" tanyanku sembari
memasukan cincin itu ke sebuah kalung yang sudah lama tidak aku pakai
karena tidak ada liontin yang cocok dipasangkan.

Yong dae menatap cincin itu yang nampak serasi menggantung di kalungku.
Wajahnya berubah sumringah.

"Sini aku pakaikan" tangannya spontan meraih kalung itu dan


mengalungkannya di leherku.

Tubuhnya melekat sempurna di punggungku bisa aku rasakan helaan nafasnya


di leherku. Detak jantungku serasa dipompa hebat dan bisa meledak kapan saja.
Aku merasa setiap tegukan air liurku menjadi sangat janggal karena terdengar
begitu keras.
Yong dae menciumi telingaku dengan sentuhan lembut bibirnya. Aku bisa
merasakan hirupan nafasnya naik turun mengikuti gerakannya bibirnya yang
sekarang mulai menciumi leherku. Dia membalikan badanku dan memengangi
wajahku dengan jari jari yang terasa begitu dingin di wajahku. Bibirnya mulai
bergetar di bibirku dengan sangat lembut. Dia hanya menciumi bibirku dengan
hembusan lembut tanpa gerakan lidah yang membabi buta.

Saat bibir kami bertemu memori tentang kami bergantian muncul di benakku.
Apa aku jatuh cinta pada seorang Lee yong dae? Pertanyaan itu membuat
tubuhku yang tadinya menikmati ciuman yong dae menjadi buyar seketika. Aku
lalu mendorong tubuhnya menjauh.

"Ya Tuhan.. Maafkan aku Yana aku tidak bisa mengontrol diriku tadi.. Aku
mohon maafkan aku" katanya dengan suara lirih. Aku belum bisa memalingkan
wajahku untuk menatapnya.

"Yong dae itu ciuman pertama untukku" jawabku singkat

Yong dae lalu mengaitkan kedua tangannya di tubuhku. Dia memelukku dari
belakang. Dekapannya terasa begitu hangat dan dekat. Kali ini aku benar benar
menikmati moment disaat kami sedekat ini jauh lebih menyatu dibanding
dengan ciumannya tadi.

"Yana.. Aku ingin seperti ini selamanya. Tolong berjanjilah kamu tidak akan
meninggalkan aku.." bisiknya di telingaku. Aku tak menjawab pertanyaannya
karena aku tahu dia tidak butuh jawaban lisanku.

Sejak saat itu aku selalu memakai kalung yang berhiaskan cincin pemberian
yong dae itu. Aku tahu dia pun memakai cincin yang sama di jarinya.

*****

Aku ingat setelah kami bertemu di Singapore Open 2016, entah kenapa yong
dae semakin jarang menghubungiku. Sampai suatu malam dia menelponku
dengan amarah yang begitu memuncak.
"Aku tahu kau sudah punya pacar!!" seru Lee yong dae dengan nada tinggi.

"Kamu bilang apa yong dae? Aku tidak punya pacar" jawabku masih mencoba
meredakan emosinya.

"Kamu bohong!! Ketika aku lama tidak menelponmu kenapa kamu tidak
mencoba menghubungiku??"

"Aku pikir kamu sibuk dan aku tidak mau mengganggumu.. Selama ini yang
selalu mulai menelponku kan kamu yong dae bukan aku"

"Ya itulah kamu.. Kamu egois yana!!"

"Apa?? Aku yang egois?!! Bukankah kamu yang selama ini egois?? Kamu selalu
takut aku berpacaran dengan laki laki lain sementara kamu sudah berganti
ganti pacar sampai jumlahnya pun aku tidak tahu.. Tapi apa aku pernah
melarangmu punya pacar? Tidak.. Tidak sama sekali!! Lalu sekarang kalau aku
sudah punya pacar kenapa kamu marah? Kamu tidak berhak untuk cemburu
padaku karena kau buka siapa siapa Yong Dae!!" seruku yang sudah tersulut
emosi. Yong dae terdiam hanya terdengar dia mengatur nafasnya yang
terengah engah.

"Baiklah Yana.. Sekarang terserah padamu aku tidak akan melarangmu lagi"
diluar perkiraan nada suara yong dae sekarang malah menurun bahkan
terdengar lirih di ujung sana. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa
wajahnya sekarang. Dia lalu menutup teleponnya. Tanpa ada candaan atau
ejekan seperti biasanya. Aku bahkan sangat rindu dipanggil Tokii oleh Hoga-ku
itu.

Setelah kejadian itu aku sangat menyesal berkata sekasar itu pada yong dae.
Sungguh pertengakaran yang tidak beralasan. Entah apa yang merasukinya
sehingga yong dae berfikir aku sudah memiliki pacar dan sudah melupakannya.

Aku sangat berharap di satu malam yong dae akan menelponku kembali. Kami
akan saling meminta maaf dan aku akan menjelaskan sampai saat ini aku belum
memiliki pacar. Dia akan memanggilku Tokii dan aku akan memanggilnya Hoga
seperti biasanya. Dan kami akan berbagi tawa dan tangisan kembali.

Namun malam itu tidak pernah datang. Semua kontak yong dae telah berubah
sehingga aku tidak bisa menghubunginya lagi seakan akan dia memang berniat
menghilang dari kehidupanku.

*****

Aku ingat saat Olimpiade Rio akhirnya kami bertemu kembali setelah sekian
lama. Aku berniat mengembalikan cincin itu padanya karena aku tidak sanggup
untuk menyimpannya apalagi untuk memakainya lagi. Aku yakin yong dae
sudah tidak memakai cincin itu di jarinya ato bahkan mungkin dia sudah
membuangnya karena sekarang dia begitu membeciku.

Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, kontingen bulu tangkis


Indonesia dan Korea harus tinggal di gedung asrama yang sama. Pagi itu ketika
aku tahu yong dae sedang ada di kamarnya aku menyelinap dan menemuinya.
Ketika yong dae membuka pintu betapa kagetnya dia melihat aku disana.

"Yong Dae.. Aku mau kembalikan ini" Dia lalu memandang tanganku yang
mengarah ke wajahnya sambil memegang cincin pemberiannnya dulu. Aku
sudah berniat tak ingin ada basa basi, straight to the point saja. Aku tidak mau
kecanggungan antara kamu berlangsung lama.

"Yana.." jawabnya. Dia menatap nanar mataku.

"Ini cincinmu aku kembalikan" sambil melemparkan cincin ke arahnya.

"Tunggu yana.." Tangannya lalu memegang tanganku dengan erat. Aku yang
hendak melengos pergi pun tertahan.

"Maafkan aku yana.. Aku memang bukan pria baik tapi percayalah aku benar
benar menyayangimu" matanya tak sedetik pun berpaling menatap mataku.
Aku masih bingung untuk membalas perkataannya tadi jadi aku memilih diam
sampai dia melanjutkan kalimatnya.
"Yana... Aku minta tolong simpanlah cincin itu supaya kamu akan mengingatku
sampai kapan pun juga.. Aku mohon"

Aku kembali diam dan memandangnya sebentar. Tatapan matanya tulus


seakan tidak pernah ada pertengkaran di antara kami sebelumnya.

"Baiklah akan kusimpan" jawabku singkat.

"Terima kasih Tokii Tokii" lalu dia mengecup keningku. Mataku terbelalak.
Hatiku berdesir saat dia memanggilku dengan panggilan sayangnya padaku.
Panggilan yang masih sangat aku rindukan.

Aku berlalu dari pintu kamarnya tanpa ada kata apapun lagi diantara kami. Saat
itu aku sadar jika Yong Dae masih memakai cincin yang sama di jarinya.

*****

Memori memori tadi seperti kembali membuka luka batinku. Rasa perih yang
sama masih terasa di dadaku. Sampai saat ini yong dae tidak pernah
meneleponku kembali.

Lee yong dae laki laki playboy yang entah sudah berapa kali dia berganti pacar
namun tetap intens meneleponku. Laki laki yang selalu merasa cemburu
padaku padahal aku bukan pacarnya. Laki laki yang memberikanku ciuman
pertama. Laki laki yang aku tidak pernah tau apa perasaannya padaku.

Aku menatap cincin pemberiannya yang pernah begitu berarti di kehidupanku.


Akankah ada satu malam ketika yong dae kembali meneleponku? Jika ada aku
akan bertanya, kenapa kamu tidak pernah menanyakan perasaanku padamu
Lee yong dae?