Anda di halaman 1dari 4

Latihan Isometrik

Pengertian Latihan Isometrik

Latihan isometrik adalah bentuk latihan statis yang mengkontraksikan otot dan
menghasilkan tahanan tanpa perubahan panjang otot dan tanpa gerakan sendi (Kisner &
Colby, 2007; Millar, McGowan, Cornelissen, Araujo & Swaine, 2013). Tekanan dan
tahanan dihasilkan otot tanpa tegangan mekanis (tahanan x jarak). Sumber resistensi pada
latihan isometrik meliputi menggenggam dan melawan tahanan secara manual,
menggenggam beban pada posisi khusus, mengatur posisi melawan berat tubuh, atau
menarik dan mendorong objek yang tak dapat bergerak (Kisner & Colby, 2007).

Tujuan Latihan Isometrik

Latihan isometrik merupakan bagian penting dalam desain program rehabilitasi untuk
meningkatkan kemampuan fungsional. Menurut Funnell, Koutoukidis dan Lawrence
(2009) serta Kisner dan Colby (2007), tujuan melakukan latihan isometrik adalah:

a. Untuk mencegah dan meminimalisir atropi otot ketika pergerakan sendi tidak
memungkinkan akibat imobilisasi eksternal (gips, bidai, traksi skeletal)
b. Untuk mengaktifkan otot untuk memulai mengembalikan kontrol neuromuskuler
dengan tetap menjaga jaringan yang mengalami penyembuhan ketika pergerakan
sendi tidak diperbolehkan setelah cedera jaringan lunak atau operasi.
c. Untuk meningkatkan stabilitas postural dan sendi 24
d. Untuk meningkatkan kekuatan otot ketika penggunaan latihan tahanan dinamik
dapat mengganggu integritas sendi atau menyebabkan nyeri sendi.
e. Untuk mengembangkan kekuatan otot statis khususnya pada titik ROM sesuai
dengan kebutuhan tertentu yang diinginkan.

Keuntungan dan Kerugian Latihan Isometrik

Latihan isometrik oleh pasien dengan posisi statik memiliki beberapa keuntungan,
diantaranya memiliki risiko injuri lebih kecil dibandingkan latihan lain, memerlukan
waktu yang minimal sehingga mengefisiensi waktu, dapat dilakukan dimana saja
asalkan ruang gerak cukup, alat yang digunakan sedikit atau tidak ada, serta membantu
pasien/klien untuk meningkatkan rentang kontraksi statis (Fair, 2011; Pearl, 2005).
Kerugian yang mungkin dari latihan isometrik adalah bahwa otot yang terbentuk hanya
pada sudut yang dilatih pasien/klien (Fair, 2011).

Prinsip Latihan Isometrik

a. Intensitas latihan
Jumlah tekanan yang dapat dihasilkan selama kontraksi otot isometrik dibedakan
oleh bagian pada posisi sendi dan panjang otot pada waktu kontraksi. Untuk
meningkatkan kekuatan otot, intensitas latihan dengan 60%-80% maximum
voluntary contraction (MVC) dianggap kurang. Namun resistensi harus
ditingkatkan secara progresif untuk melanjutkan pemberian beban yang tinggi pada
otot hingga menjadi lebih kuat (Kisner & Colby, 2007; Devereux, Wiles & Swaine,
2010). Sedangkan untuk menurunkan tekanan darah pasien hipertensi, intensitas
latihan yang tepat untuk menurunkan tekanan darah belum diteliti (Badrov,
Bartol, DiBartolomeo, Millar, McNevin & McGowan, 2013). Namun, dalam
beberapa penelitian, para peneliti memberikan latihan dengan intensitas 30%
MVC (Owen, Wiles & Swaine, (2010). Variasi intensitas kontraksi yang digunakan
pada beberapa penelitian dalam yang dikaji dengan meta-analisis oleh Millar,
McGowan, Corneilissen, Araujo dan Swaine, (2013) adalah antara 10%-50%
MVC dengan hasil menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 4-15 mmHg,
tekanan darah diastolik sebesar 3-9 mmHg, serta menurunkan MAP sebesar 3-4
mmHg.
b. Durasi aktivasi otot
Untuk mendapatkan perubahan adaptif pada performa otot statis, kontraksi otot
harus diimbangi dengan waktu jeda. Hal ini memungkinkan adanya istirahat agar
tidak terjadi kelelahan otot. Waktu ini juga memberikan kesempatan untuk
terjadinya perubahan metabolik di otot setelah tekanan puncak (Davies, 2013; Kisner
& Colby, 2007). Menurut McGowan, et al (2007) dan Millar, McGowan,
Corneilissen, Araujo dan Swaine, (2013) durasi kontraksi otot untuk pasien hipertensi
adalah 45 detik sampai dua menit. Periode istirahat untuk tiap kontraksi adalah satu
sampai empat menit yang memungkinkan terjadinya peningkatan aliran darah ke
otot (Badrov, Bartol, DiBartolomeo, Millar, McNevin & McGowan, 2013; Millar,
McGowan, Corneilissen, Araujo & Swaine, 2013). Dalam satu sesi latihan
biasanya terdiri atas 4 kali pengulangan kontraksi yang masing-masing diselingi
dengan waktu istirahat. Pasien hipertensi disarankan melakukan tiga sampai lima
sesi dalam satu minggu (Millar, McGowan, Corneilissen, Araujo & Swaine, 2013;
Owen, Willes & Swaine, 2010).

Kontraindikasi Latihan Isometrik

Latihan isometrik dengan intensitas tinggi dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat
gangguan jantung dan pembuluh darah yang berat (Kisner & Colby, 2007). Apabila latihan
isometrik intensitas tinggi diberikan, dikhawatirkan dapat mengakibatkan adanya gangguan
pembuluh darah dan jantung yang lebih serius. (McGowan, et al, 2007; Millar, et al, 2013;
Owen, Willes & Swaine, 2010).

Pengaruh Latihan Isometrik terhadap Tekanan Darah

Meskipun mekanisme yang mendasari penurunan tekanan darah pasca latihan isometrik
masih belum jelas, penurunan tekanan darah ini dapat disebabkan oleh adanya adaptasi
sistem pembuluh darah yang menurunkan resistensi perifer total yang dapat mempengaruhi
cardiac output. Selain itu, adanya mekanisme neural mengakibatkan adaptasi yang
mempengaruhi aliran darah (McGowan, Levy, McCartney & McDonald, 2007). Penelitian
terkini menunjukkan adanya efek hipotensi yang signifikan pada tekanan darah sistolik
lima menit setelah menyelesaikan satu set kontraksi bilateral handgrip. Hasil ini penting
untuk meningkatkan adaptasi tekanan darah jangka panjang (Millar, MacDonald, Bray &
McCartney, 2009). Latihan isometrik handgrip juga menurunkan reaktivitas
kardiovaskuler terhadap stresor psikofisiologis pada orang dengan tekanan darah tinggi
(Badrov, Horton, Millar & McGowan, 2013). Mekanisme lain yang dapat terjadi adalah
perubahan pada sistem saraf yaitu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik
(McGowan, Levy, McCartney & MacDonald, 2007).

Pada penelitian, 5 menit setelah satu kali kontraksi bilateral handgrip nadi meningkat yang
dapat diinterpretasikan sebagai perubahan keseimbangan neurokardiak yaitu peningkatan
respon vagal dan/atau penurunan modulasi simpatik (Millar, McDonald, Bray & McCartney,
2009). Terdapat efek yang menguntungkan dari kontraksi handgrip bilateral akut pada
reaktivasi vagal setelah latihan. Terjadinya perbaikan pada modulasi otonom kardiak
meningkatkan aktivasi vagal. Isometrik handgrip meningkatkan kontrol neurokardiak dan
menyeimbangkan sistem simpatovagal (Millar, MacDonald, Bray & McCartney, 2009).
Peningkatan respon vagal memperlambat kontraksi jantung dan menurunkan fungsi
sirkulasi, sedangkan penurunan modulasi saraf simpatik mengakibatkan penurunan kerja
jantung dan pembuluh darah (Muttaqin, 2009). Latihan isometrik mengakibatkan
penekanan otot pada pembuluh darah sehingga menghasilkan stimulus iskemik dan
menstimulasi mekanisme shear stress (Guyton & Hall, 2006). Stimulus iskemik
menginduksi peningkatan aliran arteri brakialis untuk menurunkan efek langsung iskemia
pada pembuluh darah tersebut. Ketika tekanan dilepaskan, aliran darah pembuluh darah
lengan bawah membesar dikarenakan dilatasi pembuluh darah distal yang menginduksi
stimulus shear stress pada arteri brakialis (McGowan, et al, 2007). Mekanisme shear
stress menimbulkan pelepasan turunan NO-endotelium, vasodilator potensial (McGowan,
et al, 2007). Penemuan terbaru menemukan bahwa terjadi peningkatan kapasitas
istirahat pada sistem produksi, pelepasan dan/atau penggunaan NO-dilator memiliki
kontribusi pada penurunan tekanan darah sistolik setelah latihan. Selain itu stimulus
hiperemia reaktif berkontribusi dalam pelepasan substansi vasodilator lain termasuk
prostasiklin dan metabolit iskemik (McGowan, Levy, McCartney & MacDonald, 2007).
Respon reaktivitas puncak aliran darah dari keadaan dasar menghasilkan peningkatan
akumulasi metabolit (misalnya asam laktat) yang berespon dalam melawan iskemia.
Latihan kronik akan menyeimbangkan metabolisme aerob dan anaerob yang mendorong
pengurangan produksi metabolit dalam berespon terhadap stimulus iskemik yang sama
(McGowan, Levy, McCartney & MacDonald, 2007). Hal ini menghasilkan penurunan
kebutuhan aliran darah ke jaringan lengan bawah (Guyton & Hall, 2006; McGowan, et
al, 2007). Selain itu, dalam latihan, kekuatan tekanan akibat sumbatan pada pembuluh darah,
meningkatkan perfusi dan pasokan oksigen selama oklusi pembuluh darah sehingga
menurunkan stimulus aliran (Guyton & Hall, 2006; McGowan, Levy, McCartney &
MacDonald, 2007). Jadi, penurunan puncak reaktivitas aliran darah hiperemia dapat
mempengaruhi perubahan fungsi otot polos pembuluh darah dan mendasari perubahan
struktur pembuluh darah sehingga menyebabkan penurunan resistensi perifer (McGowan,
Levy, McCartney & MacDonald, 2007).