Anda di halaman 1dari 2

Pengertian Nilai, Norma dan Moral

 Pengertian Nilai
Nilai atau “value” termasuk bidang kajian filsafat. Persoalan-persoalan tentang
nilai dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat nilai (Axiology, Theory of value).
Filsafat sering juga diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai dalam bidang
filsafat dipakai untuk menunjuk benda abstrak yang artinya “Keberhargaan” (worth) atau
kebaikan (goodness), dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam
menilai atau melakukan penilaian (Franke, 1987:229)[1].
Di dalam Dictionary Of Sosciology and Related Sciences di kemukakan bahwa
nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan
manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau
kelompok (The believed capacity of any object to statisfy a human desire). Jadi, nilai itu
pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu
sendiri[2].
Menilai berarti menimbang-nimbang dan membandingkan sesuatu dengan yang
lainnya untuk kemudian mengambil sikap atau keputusan. Hasil pertimbangan dan
perbandingan itulah yang disebut nilai. Karena ada unsur pertimbangan dan perbandingan
maka objek yang diberi penilaian tersebut tidak tunggal. Artinya, suatu objek baru
dikatakan bernilai tertentu apabila ada objek serupa sebagai pembandingnya[3]. Objek di
sini dapat berupa sesuatu yang bersifat fisik atau psikis, seperti benda, sikap atau tindakan
seseorang.

 Pengertian Norma
Nilai pada dasarnya bersifat subjektif, sehingga nilai tidak mudah dijadikan
panutan prilaku bagi seseorang atau masyarakat. Agar nilai (Sistem nilai) dapat diangkat
kepermukaan, maka perlu ada wujud nilai yang lebih kongkret. Kongretisasi dari nilai
inilah yang disebut sebagai (menghasilkan) norma. Dapat terjadi bahwa norma tidak
hanya mengandung satu nilai saja, tetapi dapat lebih dari satu nilai. Sekalipun demikian
tidak ada norma yang tidak mengandung nilai[4]. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa, norma adalah penjabaran dari nilai sebagai penuntun perilaku seseorang atau
masyarakat.
Pengertian lain dari norma adalah petunjuk tingkah laku (perilaku) yang harus
dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan suatu
alasan (motivasi) tertentu dengan disertai sanksi[5].
 Pengertian Moral
Istilah moral berasal dari kata latin “mores” yang berarti norma-norma baik buruk
yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, akhlak ataupun
kesusilaan manusia. Di dalam bidang filsafat, moral mempersoalkan kesusilaan mengenai
ajaran-ajaran yang baik dan buruk. Manusia berkewajiban mempelajari dan mengamalkan
ajaran-ajaran moral tersebut, agar di dalam pergaulan dengan sesama manusia dapat
terjalin suatu hubungan yang baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral adalah (ajaran tentang) baik buruk
yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi
pekerti; susila. Jadi bermoral berarti mempunyai pertimbangan baik buruk, berakhlak
baik[6].
Dapat disimpulkan bahwa moral merupakan ajaran baik dan buruk tentang
perbuatan dan kelakuan (akhlak). Jadi, moral membicarakan tingkah laku manusia atau
masyarakat yang dilakukan dengan sadar dipandang dari sudut baik dan buruk sebagai
suatu hasil penilaian.

http://marlinara.blogspot.co.id/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

C. nilai dasar
1. Nilai Dasar
Setiap nilai memiliki nilai dasar yaitu berupa hakikat, esensi, intisari atau makna yang
dalam dari nilai-nilai tesebut. Nilai dasar itu bersifat universal karena menyangkut kenyataan
objektif dari segala sesuatu. Contohnya, hakikat Tuhan, manusia, atau makhluk lainnya.
Apabila nilai dasar itu berdasarkan kepada hakikat kepada suatu benda, kuantitas, aksi,
ruang dan waktu, sehingga nilai itu dapat juga disebut sebagai norma yang direalisasikan
dalam kehidupan yang praktis. Namun, nilai yang bersumber dari kebendaan itu tidak boleh
bertentangan dengan nilai dasar yang merupakan sumber penjabaran norma tersebut. Nilai
dasar yang menjadi sumber etika bagi bangsa Indonesia adalah nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila.
2. Nilai Instrumental
Nilai instrumental ialah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai dasar. Nilai
dasar belum dapat bermakna sepenuhnya apabila nilai dasar tersebut belum memiliki
formulasi serta parameter atau ukuran yang jelas dan konkret. Apabila nilai instrumental itu
berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, maka nilai tersebut akan
menjadi norma moral. Akan tetapi, jika nilai instrumental itu merupakan suatu arahan
kebijakan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar, sehingga dapat juga dikatakan
bahwa nilai-nilai instrumental itu merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.
Dalam kehidupan ketatanegaraan, kita menilai instrumental itu dapat kita temukan
dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan penjabaran dari nilai-nilai
yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Tanpa ketentuan dalam pasal-pasal UUD 1945,
maka nilai-nilai dasar yang termuat dalam Pancasila belum memberikan makna yang konkret
dalam praktek ketatanegaraan kita.
3. Nilai Praktis
Nilai praktis merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam kehidupan
yang lebih nyata. Dengan demikian, nilai praktis merupakan pelaksanaan secara nyata dari
nilai-nilai dasar dan nilai instrumental. Berhubung fungsinya sebagai penjabaran dari nilai
dasar dan nilai instrumental, maka nilai praksis dijiwai oleh nilai-nilai dasar dan instrumental
dan sekaligus tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar dan instrumental tersebut.
Nilai praktis dalam kehidupan ketatanegaraan dapat ditemukan dalam undang-undang
organik, yaitu semua perundang-undangan yang berada dibawah UUD 1945 sampai kepada
peraturan pelaksanaan yang dibuat oleh pemerintah. Apabila dikaitkan dengan nilai-nilai
yang dibahas diatas, maka nilai-nilai dasar terdapat dalam UUD 1945, yaitu dalam
pembukaannya, sedangkan nilai instrumental dapat ditemukan dalam pasal-pasal UUD 1945
dan juga dalam ketetapan MPR. Nilai praktis dapat ditemukan dalam peraturan perundang-
undangan berikutnya, yaitu dalam Undang-undang sampai kepada peraturan dibawahnya.
http://lusi67.blogspot.co.id/2016/06/makalah-pancasila-sebagai-etika-politik.html