Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Psoriasis adalah penyakit kulit hiperproliferatif kronis dengan etiologi multifaktor. Faktor
penyebab psoriasis dapat dikategorikan dalam 4 kelompok; genetik, defek imun, hormon, dan
lingkungan. Penyakit autoimun yang paling sering ditemukan adalah psoriasis, yang disebabkan
oleh gangguan pada aktivitas sistem imun selular. Perubahan histopatologis pada psoriasis ditandai
dengan pola abnormal pertumbuhan keratinosit, perubahan pembuluh darah dermis, dan inflamasi
pada dermis dan epidermis. Penyebab psoriasis belum sepenuhnya dipahami. Stres dan faktor
hormon dilaporkan berperan pada patogenesis psoriasis.1,2
Kelainan kulit ini merupakan bagaian dari penyakit kulit Dermatosis Eritroskuamosa yaitu
penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritama dan skuama yang meliputi psoriasis,
parapsoriasis, pitiriasis rosea, dermatitis seboroik, lupus erimatosus, dan dermatofitosis. Kasus
psoriasis ini makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi
menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat perjalannya menahun dan residif.
Penyebabnya masih belum jelas, biasanya lebih banyak mengenai usia dewasa muda, frekuensi
pria dan wanita hampir sama. 1,2,3
Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Di Eropa
dilaporkan sebanyak 3-7%, di Amerika Serikat 1-2%, sedangkan di Jepang 0,6%. Pada bangsa
berkulit hitam, misalnya di Afrika, jarang dilaporkan, demikian pula bangsa indian di Amerika.
Lesi pada psoriasis adalah sangat khas, sering disebut dengan plak karena terdapat peninggian
pada kulit yang berwarna merah dan berbatas tegas. Psoriasis dapat mengenai kulit hampir seluruh
bagian tubuh umumnya meliputi lutut, siku, kulit kepala, badan, dan kuku. Diatas plak tersebut
terdapat skuama yang berlapis-lapis yang tersusun atas sel kulit yang mati. Kulit dengan psoriasis
biasanya sangat kering, bisanya sakit, dan juga gatal. 1,2

1
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi
Psoriasis vulgaris adalah Psoriasis adalah suatu penyakit kulit kelompok dermatosis
eritroskuamosa, penyebabnya autoimun, bersifat kronik residif dengan lesi berupa makula eritema
berbatas tegas, ditutupi oleh skuama tebal berlapis, berwarna putih bening seperti mika, disertai
fenomena tetesan lilin dan tanda Auspitz. Psoriasis vulgaris yang berarti psoriasis yang biasa atau
paling lazim ditemukan. Psoriasis bisa muncul pada seluruh usia, tetapi jarang pada usia kurang
dari 10 tahun, biasanya muncul pada usia 15-30 tahun. 3,4

2.2 Etiopatogenesis
Faktor yang diduga paling berperan adalah genetik. Bila orangtuanya tidak menderita
psoriasis risiko mendapat psoriasis 12%, sedangkan jika salah seorang orangtuanya menderita
psoriasis risikonya mencapai 34 - 39%. Faktor lain yang juga berperan adalah imunologi. Defek
genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel, yakni limfosit T, sel
penyaji antigen (dermal) atau keratinosit. Keratinosit psoriasis membutuhkan stimuli untuk
aktivasinya. 4,5,6
Lesi psoriasis matang umumnya penuh dengan sebukan limfosit T pada dermis yang
terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan limfosit T CD8. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17
sitokin yang produksinya bertambah. Sel Langerhans juga berperan pada imunopatogenesis
psoriasis. Terjadinya proliferasi epidermis diawali dengan adanya pergerakan antigen, baik
eksogen maupun endogen oleh sel Langerhans. 3,4,5
Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat, hanya 3-4 hari,
sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Nickoloff (1988) berkesimpulan bahwa psoriasis
merupakan penyakit autoimun. Lebih 90% kasus dapat mengalami remisi setelah diobati dengan
imunosupresif. Berbagai faktor pencetus pada psoriasis yang disebut dalam kepustakaan,
diantaranya adalah stres psikik, infeksi fokal, trauma (fenomena Kobner), endokrin, gangguan
metabolik, obat, juga alkohol dan merokok. Stres psikik merupakan faktor pencetus utama. Infeksi
fokal mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis ialah psoriasis gutata. 3,4,5

2
Umumnya infeksi disebabkan oleh Streptococcus. Faktor endokrin rupanya mempengaruhi
perjalanan penyakit. Puncak insiden psoriasis pada waktu pubertas dan menopause. Pada waktu
kehamilan umumnya membaik, sedangkan pada masa setelah persalinan akan memburuk.
Gangguan metabolisme, contohnya hipokalsemia dan dialisis telah dilaporkan sebagai faktor
pencetus. Obat yang umumnya dapat menyebabkan residif ialah beta-adrenergic blocking agents,
litium, antimalaria dan penghentian mendadak kortikosteroid sistemik. 3,4,5
2.3 Cara Penularan (Tramsmisi)
Penyakit psoriasis vulgaris tidak ditularkan secara langsung melainkan dapat diturunkan
karena merupakan penyakit autoimun sehingga factor genetik, imunologik dan beberapa factor
pencetus (stress psikis, obat, gangguan metabolik) sangat berperan.4,5,6
2.4 Patogenesis
1. Perubahan morfologik dan kerusaan sel epidermis akan menimbulkan akumulasi sel
monosit dan limfosit pada puncak papil dermis dan di dalam stratum basalis sehingga
menyebabkan pembesaran dan pemanjangan papil dermis. Sel epidermodermal bertambah
luas, lipatan di lapisan bawah spinosum bertambah banyak.
2. Proses ini menyebabkan pertumbuhan kulit lebih cepat dan masa pertukaran kulit menjadi
lebih pendek dari normal, dari 28 hari menjadi 3-4 hari. Stratum granulosum tidak
terbentuk dan didalam stratum korneum menjadi parakeratosis.6,7
2.5 Faktor Risiko dan Faktor Yang Memperburuk 1,2
1. Riwayat keluarga :
Riwayat keluarga yang positif merupakan faktor risiko yang signifikan untuk psoriasis.
2. Konsumsi alkohol :
Konsumsi alkohol> 5 gelas / bulan
3. Obesitas :
Obesitas adalah faktor risiko psoriasis (Indeks Massa Tubuh [BMI]> 30.
4. Smoking :
Faktor risiko yang signifikan untuk psoriasis saat ini merokok.
5. Faktor psikologis :
Faktor risiko psikologis yang signifikan untuk psoriasis adalah peristiwa kehidupan yang
penuh tekanan.
6. Penyakit kulit sebelumnya :

3
Memiliki kelainan kulit dalam satu tahun terakhir merupakan faktor risiko psoriasis.
7. Infeksi kulit :
Resiko psoriasis dua kali lipat pada pasien dengan infeksi kelainan kulit
8. Koebner Phenomenon :
Perkembangan lesi kulit di lokasi luka.
9. Aktivitas fisik :
Aktivitas fisik yang kuat dikaitkan dengan penurunan risiko psoriasis
10. Narkoba :
Bedasarkan laporan penelitian obat seperti beta blocker, NSAID dan lithium dapat
menyebabkan psoriasis.
2.6 Gejala Klinis
Psoriasis adalah penyakit kulit eritroskuamosa kronik, yang ditandai dengan plak
eritematosa dalam berbagai ukuran berbatas tegas dengan skuama kering. Lesi kulit umumya
tersebar simetris dan diliputi oleh skuama putih keperakan. 5,7,8,

Gambar 2.1 Plak Eritematosa

Di bawah skuama, terdapat lesi eritematosa berkilat yang homogen, dan terdapat titik-titik
perdarahan apabila skuama disingkirkan secara perlahan, yang merupakan pelebaran kapiler di
bawah kulit. Hal ini dikenal sebagai tanda Auspitz. 5,7,8,
Predileksi lesi kulit pada skalp, kuku, permukaan ekstensor ekstremitas, umbilikus, dan
sakrum. Lesi kulit juga dapat timbul pada daerah yang terkena trauma atau mengalami jejas, hal

4
ini dikenal sebagai fenomena Koebner. Fenomena Koebner ini biasanya terjadi 7-14 hari setelah
terjadi jejas, dan sebanyak 25% pasien pernah mengalami fenomena ini. 5,7,8,

Gambar 2.2 Tanda Auspitz, yaitu adanya titik perdarahan pada kulit bila skuama dilepaskan.

Psoriasis yang bersifat progresif atau tidak terkontrol dapat berkembang menjadi
eritroderma. Keterlibatan kuku dapat terjadi terutama bila terdapat artritis psoriatika. Psoriasis juga
dapat melibatkan mukosa oral atau lidah, membentuk gambaran menyerupai peta yang dikenal
dengan geographic tongue. Gejala subjektif, misalnya gatal atau terbakar, sering terjadi dan sangat
mengganggu. Luas permukaan tubuh yang terlibat bervariasi, mulai dari lokalisata hingga
universalis. 7,8,9
Psoriasis vulgaris adalah bentuk klinis psoriasis yang paling sering dijumpai, meliputi 90%
pasien psoriasis. 4,6,7

5
Gambar 2.3 Plak eritema pada kedua lutut

Gambar 2.4 Plak eritema pada kedua siku

Lesi kulit khas berupa plak eritematosa berskuama yang tersebar simetris pada bagian
ekstensor ekstremitas, khususnya siku dan lutut, juga pada skalp, lumbosakral, bokong, dan
genitalia. Beberapa lesi kecil dapat berkonfluens membentuk plak dengan batas menyerupai
gambaran peta, disebut sebagai psoriasis geografika. Lesi juga dapat menyebar ke lateral dan
berbentuk sirsinar akibat konfluensi beberapa plak, dikenal dengan psoriasis girata. 4,6,7

6
Gambar 2.5 Eritematosa yang ditandai dengan plak di daerah lumbosacral

Terkadang terdapat central clearing mirip gambaran cincin, disebut psoriasis anular. Hal
ini menandakan prognosis yang baik. Bentuk klinis lain diantaranya adalah psoriasis rupioid, yaitu
menyerupai kerucut. Psoriasis ostraseus, jarang ditemui, berupa lesi seperti cincin, hiperkeratotik,
konkaf. Bentuk lain yang jarang ditemui adalah psoriasis elefantina, yang ditandai dengan plak
besar berskuama tebal pada ekstremitas bawah. 6,8,9

Gambar 2.6 Psoriasis Gutata

7
Bentuk klinis psoriasis yang lain meliputi psoriasis gutata, berupa papul eritematosa
sebesar tetesan air, berdiameter 2-5 mm, dan berhubungan dengan infeksi Streptococcus. Bentuk
klinis lain yang dapat terjadi adalah psoriasis inversa, eritroderma psoriatika, dan psoriasis
pustulosa generalisata Von Zumbusch. 6,8,9
2.7 Bentuk Klinis
Pada psoriasis terdapat berbagai bentuk klinis :
1. Psoriasis vulgaris :
Psoriasis vulgaris yang paling sering ditemukan pada kurang lebih 90% pasien.
Plakat eritematosa, berbatas tegas, berskuama dan tersebar simetris merupakan gambaran
khas, terdapat di daerah ekstensor ekstermitas (terutama siku dan lutut), skalp, lumbosakral
bawah, bokong dan genital. Daerah lain yang dapat terkena adalah periumbilikus dan
lipatan intergluteal. Luas lesi sangat bervariasi, sedangkan bentuk dan distribusi setiap
plakat hanya sedikit berubah. 8,9,10
Skuama dibentuk terus-menerus.Lesi dapat diawali terbatas di skalp selama
bertahun-tahun. Lesi kecil maupun besar dapat meluas dan berkonfluens membentuk
plakat atau plakat lebih besar sehinga membentuk gambaran khas (psoriasis
geografika/girata). 8,9,10

8
Gambar 2.7 Psoriasis Vulgaris

Kadang terdapat penyembuhan sentral parsial sehingga membentuk psoriasis


anular, keadaan ini sering dihubungkan dengan penyembuhan atau prognosis yang baik.
kelainan klinis lain telah dijelaskan tergantung dari morfologi lesi, sebagian besar terdapat
hiperkeratosis. Patogenesisnya tidak begitu diketahui tetapi mungkin muncul dari inhibisi
sintesis prostaglandin. Pada anak terdapat bentuk papul folikular berkelompok dan bentuk
linear mengikuti garis Blaschko. 11,12,13,14
2. Psoriasis gutata :
Bentuk ini sering timbul pada anak dan dewasa muda, biasanya timbul
mendadak, seringkali setelah infeksi streptokokus. Lesi papular, bulat, atau oval,
berdiameter 0.5 - 1cm, di atasnya terdapat skuama putih, tersebar simetris di badan dan
ekstremitas proksimal,kadang di muka, telinga, dan skalp, jarang di telapak tangan dan
kaki. Lesi biasanya bertahan selama 3 - 4 bulan dan dapat hilang spontan, tetapi
kadang dapat sampai lebih dari setahun. Sebagian besar dapat kambuh dalam 3 - 5
tahun. 10,12,13,14

9
Gambar 2.7 Psoriasis guttata pada paha, tangan, dan punggung.

3. Psoriasis inverse :
Pada tipe ini muncul di lipatan-lipatan kulit seperti aksila, genitokruris, serta leher.
Lesi biasanya berbentuk eritema mengkilat berbatas tegas dengan sedikit skuama, disertai
gangguan perspirasi pada area yang terkena. 12,13

Gambar 2.8 Psoriasis inversa pada lipat payudara dan ketiak.

4. Psoriasis eksudativa :
Bentuk tersebut sangat jarang, biasanya kelaian psoriasis kering, tetapi pada bentuk
ini kelainannya eksudatif seperti dermatitis akut12,13

10
Gambar 2.9 Psoriasis eksudativa

5. Psoriasis seboroik :
Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis dan
dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan agak lunak.
Selain berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada tempat seboroik. Lesi
seboroik biasanya di wajah, di bawah payudara, kulit kepala, dan axilla.13,15
6. Psoriasis pustulosa :
Terdapat 2 bentuk psoriasis pustulosa, bentuk lokalisata dan bentuk generalisata.
Bentuk lokalisata, contohnya psoriasis pustulosa palmo-plantar. Sedangkan bentuk
generalisata, contohnya psoriasis pustulosa generalisata akut. 13,15

11
2.10 Plak eritematosa dengan psoriasis pustulosa

7. Psoriasis Eritroderma :
Disebabkan oleh pengobatan topical yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri
yang meluas. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena eritema dan
skuama yang tebal dan universal. Ada kalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar,
yakni lebih erimatosa dan kulitnya lebih meninggi.12,13
2.8 Cara Pemeriksaan
1. Karsvlek phenomena (phenomena bercak lilin) yaitu skuama psoriasis dikerok akan
terlihat warna keruh seperti kerokan lilin.
2. Auspitz sign yaitu bila cara mengerok tadi diteruskan akan terlihat titik, titik perdarahan
oleh karena terkena papilla dermis pada ujung-ujung yang memanjang.
3. Koebner phenomena yaitu bila pada kulit yang masih normal terkena trauma atau
garukan maka akan timbul lesi baru yang bersifat sama dengan yang telah ada. Sifat
seperti ini juga ditemukan pada likhen planus, likhen ritidus, veruka plana, dan
eksematoid dermatitis.14,15
2.9 Diagnosis 14,15
Diagnosis ditegakkan secara :
1. Klinis
2. Histopatologi :
1) Akantosis dengan disertai pemanjangan dari rate ridges
2) Pemanjangan dan pembesaran papilla dermis

12
3) Hiperkeratosis dan parakeratosis
4) Penipisan sampai hilangnya stratum granulosum
5) Peningkatan mitosis pada stratum basalis
6) Oedema dermis disertai infiltrasi limfosit dan monosit
7) Miko abses dari Munro yang merupakan kumpulan kecil dari sel-sel neutrofil
pada stratum korneum (khas pada psoriasis vulgaris) 14,15

Gambar 2.4 Gambaran klinis dan histopatologis psoriasis.

2.10 Diagnosis Banding


1. Morbus Hansen tipe T
2. Dermatomikosis superfisialis
3. Pitriasis rosea14,15
2.11 Penatalaksanaan
1. Dalam penatalksanaan psoriasis perlu diperhatikan mengenai :
1) Luasnya lesi kulit
2) Lokalisasi lesi kulit

13
3) Umur penderita
4) Ada tidaknya kontra indikasi terhadap obat yang akan kita berikan. 13,14
2. Pengobatan kausal belum dapat diberikan, sehingga pengobatan ditunjukan untuk :
1) Menghilangkan factor-faktor yang dianggap sebagai pencetus timbulnya psoriasis
antara lain : stress, diberikan sedativa, fokal infeksi dapat berupa tonsillitis, gigi
karies, investasi parasit harus diberantas.
2) Menekan/menghilangkan lesi psoriasis yang telah ada meliputi :
 Pengobatan topikal
Biasanya digunakan salep/krim yang mengandung steroid, tar (salep LCD
5 %), kalsipotriol atau Takrolimus.
 Pengobatan sistemik :
Untuk lesi yang terbatas digunakan folic acid tablet dengan dosis sehari
3 kali 1 tablet, dan untuk lesi yang luas digunakan methotrexate (MTX).
14,15

14
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas
Nama : Tn. P.N
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Sentani
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Sorong
No. Data Medik : 439377
3.2 Anamnesis
Keluhan utama : Bercak keputihan dan gatal dikepala, tangan, dada, dan
puggung.
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan bercak keputihan dan gatal dikepala,
tangan, dada dan punggung ± 2 minggu (+), dan terasa panas
dikulit ± 4-5 hari (+), bila keringat terasa gatal (+), nyeri (-),
tampak kemerahan (+), pasien mengaku dalam lingkungan
rumah ada yang mengalami keluhan yang sama (+), pasien
menyangkal adanya riwayat kontak dengan bahan tertentu,
ataupun riwayat alergi.
Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada.
Riwayat Alergi : Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien mengaku dalam keluarga tidak ada yang mengalami
seperti ini.
Riwayat Sosial : Pasien tinggal bersama istri dan anaknya, pekerjaan pasien
swasta.

15
Gambar 3.1 Pasien Psoriasis Vulgaris

3.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tinggi badan : 160 cm
Berat badan : 67 kg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 22 x/menit

16
Status General
 Kepala-leher
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterus -/-
Telinga : Sekret (-/-)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Mulut : Oral Candidiasis (-)
Teggorokan : Uvula ditengah, tonsil T0-T0 tenang, faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)
 Thoraks
Pulmo
Inspeksi : Simetris, retraksi (-/-)
Palpasi : Taktil vocal fremitus dekstra = sinistra
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-). Gallop (-)
 Abdomen
Inspeksi : Tampak datar
Auskultasi : Bissing usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar (tidak teraba membesar), lien (tidak
teraba membesar)
Perkusi : Timpani
 Ekstremitas : Akral teraba hangat, edema tungkai (-). Lesi pada tangan
kanan dan tangan kiri, lesi pada dada dan punggung sesuai dengan status dermatologi.

17
Status Dermatologi
Lokasi : Kepala, tangan kanan dan kiri, dada, dan punggung.
Effloresensi : Plak eritema batas tegas bentuk bulat sampai lonjong
dengan diameter 1.5 – 2 cm, makula hiperpengmentasi (+),
terdapat skuama kasar berwarna putih diatasnya, fenomena
tetesan lilin (+).
3.4 Status Dermatologi dan Hasil Laboratorium
Pada pasien ditemukan plak eritema batas tegas bentuk bulat sampai lonjong dengan
diameter 1.5 – 2 cm, makula hiperpengmentasi (+), terdapat skuama kasar berwarna putih
diatasnya, fenomena tetesan lilin (+). Dan dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang dengan
melakukan pemeriksaan bakterioskopik dengan tes KOH dengan cara pengambilan sampel
kerokan pada epidermis. Pada hasil pemeriksaan ini ditemukan morfologi : spora penuh / Lp hifa
5-10 /Lp. Kesan : mendukung adanya infeksi jamur.
3.5 Diagnosis Kerja
Psoriasis vulgaris
3.6 Diagnosis Banding
1. Morbus Hansen tipe T makuler
2. Pitiriasis rosea
3. Eksema seborhoikum
3.7 Tatalaksana
1. Dalam penatalaksanaan psoriasis perlu perhatikan mengenai :
1) Luasnya lesi kulit
2) Lokalisasi lesi kulit
3) Umur penderita
4) Ada tidaknya kontra indikasi terhadap obat yang akan diberikan
2. Pengobatan kausal belum dapat diberikan sehingga pengobatan ditunjukan untuk :
1) Menghilangkan faktor-faktor yang dianggap sebagai pencetus timbulnya psoriasis
antara lain : stres diberikan sedativa, fokal infeksi dapat berupa tonsillitis, investasi
parasite harus diberantas.

18
2) Menekan atau menghilangkan lesi psoriasis yang telah ada, meliputi :
A. Pengobatan topical :
Biasanya digunakan salep/cream yang mengandung steroid atau tar (salep
LCD 5%)
B. Pengobatan sistemik
 Untuk lesi yang terbatas digunakan folic acid tablet dengan dosis sehari
3 kali 1 tablet
 Untuk lesi yang luas digunakan methotrexate (MTX) dengan dosis
sebagai berikut :
1. Cara pertama :
Sehari 2 kali tablet selama 7 hari, kemudian istirahat 1 minggu untuk
observasi LFT, RFT dan darah rutin. Bila hasil laboratorium tetap
baik MT dapat diberikan lagi dengan dosis dan aturan yang sama
sampai terjadi perbaikan klinis (lesi tidak aktif lagi), yang kemudian
dosis MTX dapat diturunkan secara tapering off sampai tercapai
dosis maintenance .
2. Cara kedua :
Methotrexate 2 tablet diberikan 2-3 kali selang 12 jam, istirahat 1
minggu. Setelah itu diberikan dengan dosis yang kurang 1 tablet
setiap minggu sampai tidak minum lagi.
3) Pengobatan kombinasi :
1) Psoralen sistemik dengan penyinaran ultra violet (PUVA) pada lesi kulit
dalam beberapa hal bias dipakai sebagai pengobatan alternatif.
2) Kombinasi obat topical dan sistemik.
3.8 Prognosis
Qou Ad vitam : Dubia Ad Bonam
Qou Ad Fungtionam : Dubia Ad Bonam
Qou Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam

19
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada pasien ini dapat disimpulkan bahwa Tn. P.N berusia 45 tahun didiagnosa dengan
psoriasis vulgaris. Diagnosa ditegakkan berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Dari hasil anamnesa pasien mengaku didalam lingkungan tempat tinggal
ada yang mengalami penyakit yang sama, dari pemeriksaan fisik didapati plak eritema batas tegas
bentuk bulat sampai lonjong dengan diameter 1.5 – 2 cm, makula hiperpengmentasi (+), terdapat
skuama kasar berwarna putih diatasnya, fenomena tetesan lilin (+). Dan dilanjutkan dengan
pemeriksaan penunjang dengan melakukan pemeriksaan bakterioskopik dengan tes KOH dengan
cara pengambilan sampel kerokan pada epidermis. Pada hasil pemeriksaan ini ditemukan
morfologi : spora penuh / Lp hifa 5-10 /Lp. Kesan : mendukung adanya infeksi jamur.
Status Dermatologis
Lokasi : Kepala, tangan kanan dan kiri, dada, dan punggung.
Effloresensi : Plak eritema batas tegas bentuk bulat sampai lonjong dengan diameter 1.5 – 2 cm,
makula hiperpengmentasi (+), terdapat skuama kasar berwarna putih diatasnya,
fenomena tetesan lilin (+).
Dalam penatalaksanaan psoriasis perlu perhatikan mengenai :
1. Luasnya lesi kulit
2. Lokalisasi lesi kulit
3. Umur penderita
4. Ada tidaknya kontra indikasi terhadap obat yang akan diberikan
Pengobatan kausal belum dapat diberikan sehingga pengobatan ditunjukan untuk :
1. Menghilangkan faktor-faktor yang dianggap sebagai pencetus timbulnya psoriasis
antara lain : stres diberikan sedativa, fokal infeksi dapat berupa tonsillitis, investasi parasite
harus diberantas.

20
2. Menekan atau menghilangkan lesi psoriasis yang telah ada, meliputi :
1) Pengobatan topical :
Biasanya digunakan salep/cream yang mengandung steroid atau tar (salep LCD
5%)
2) Pengobatan sistemik
 Untuk lesi yang terbatas digunakan folic acid tablet dengan dosis sehari 3
kali 1 tablet
 Untuk lesi yang luas digunakan methotrexate (MTX) dengan dosis sebagai
berikut :
Cara pertama :
Sehari 2 kali tablet selama 7 hari, kemudian istirahat 1 minggu untuk
observasi LFT, RFT dan darah rutin. Bila hasil laboratorium tetap
baik MT dapat diberikan lagi dengan dosis dan aturan yang sama
sampai terjadi perbaikan klinis (lesi tidak aktif lagi), yang kemudian
dosis MTX dapat diturunkan secara tapering off sampai tercapai
dosis maintenance .
Cara kedua :
Methotrexate 2 tablet diberikan 2-3 kali selang 12 jam, istirahat 1
minggu. Setelah itu diberikan dengan dosis yang kurang 1 tablet
setiap minggu sampai tidak minum lagi.
3) Pengobatan kombinasi :
 Psoralen sistemik dengan penyinaran ultra violet (PUVA) pada lesi
kulit dalam beberapa hal bias dipakai sebagai pengobatan alternatif.
 Kombinasi obat topikal dan sistemik.
Prognosis kasus psoriasis vulgaris pada Tn. P.T, umur 45 tahun :
Qou Ad vitam : Dubia Ad Bonam
Qou Ad Fungtionam : Dubia Ad Bonam
Qou Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam
Prognosis psoriasis vulgaris adalah baik. Meskipun tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat
dikontrol dengan pengobatan yang rutin dan teratur. Meskipun psoriasis tidak menyebabkan

21
kematian, tetapi bersifat residif. Sehingga diperlukan pemberian edukasi kepada penderita tentang
bagaimana psoriasis itu dan bagaimana menghindari faktor pencetus yang memungkinkan
terjadinya psoriasis

22
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya, Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/SMF
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi III, 2005.
2. M.L. Roberti, L. Ricotinni, Immunomodulating Treatment With Low Dose Interleukin-4,
Interleukin-10 and Interleukin-11 in Psoriasis Vulgaris. 2014.
3. Erine A. Kupetsky, DO, MSc, and Matthew Keller, MD, Psoriasis Vulgaris: An Evidence-
Based Guide for Primary Care. Agustus 2013.
4. Susana Coimbra, Hugo Oliveira, Américo Figueiredo, Petronila Rocha-Pereira and Alice
Santos-Silva, Psoriasis: Epidemiology, Clinical and Histological Features, Triggering
Factors, Assessment of Severity and Psychosocial Aspects. Juni 2015.
5. Department of Dermatology and Venereology, Rijeka University Hospital Center, Psoriasis
Vulgaris – An Inflammatory Skin Disease and/or Benign Epidermal Hyperplasia. 2011.
6. Department of Dermatology, The Second Affiliated Hospital of Zhejiang University School
of Medicine, Traditional Chinese medicine for the treatment of psoriasis vulgaris: A
systematic review. November, 2012.
7. R. Gniadecki, K. Kragballe, T.N. Dam and L. Skov ,Department of Dermatology, Bispebjerg
University Hospital, 2200 Copenhagen N, Denmark, Comparison of drug survival rates for
adalimumab, etanercept and infliximab in patients with psoriasis vulgaris, 2011.
8. Graciano-Machuca Omar1, Salazar-Torres Francisco Javier2, Zepeda-Nuño Sergio3,
Villanueva-Quintero Delfina Guadalupe2, Alvarado-Navarro Anabell4, Ramírez-Dueñas
María Guadalupe1, Sánchez-Hernández Pedro Ernesto, Journal of Clinical & Experimental
Dermatology Research, 2015.
9. Vivek Mehta, S. K. Malhotra, Psychiatric Evaluation of Patients with Psoriasis Vulgaris and
Chronic Urticaria, 2007.
10. Audrey Bélanger, Catiuscia Padilha de Oliveira, Maxim Maheux, Roxane Pouliot, Plaque
Psoriasis: Understanding Risk Factors of This Inflammatory Skin Pathology, 30 October
2015.

23
11. A. Nast,1,* P. Gisondi,2 A.D. Ormerod, European S3-Guidelines on the systemic treatment
of psoriasis vulgaris – Update 2015 – Short version – EDF in cooperation with EADV and
IPC, 2015.
12. Arzu Kilic, Seray Cakmak, Psoriasis and Comorbidities, 2013.
13. Binnur Tuzun Medofis Private Dermatology Office, International Kolan Hospital, Turkey,
The Differential Diagnosis of Psoriasis Vulgaris, 2016.
14. Purvi Shah, Jalpa Bhatt, Nimish Pandya, Atul Munshi, An Uncommon Case of Pregnancy
with Psoriasis, Desember 2013.
15. Clinical Pratice Guidelines,Management Of Psoriasis Vulgaris, Juni 2013.
16. World Healty Organization, Global Report on Psoriasis, 2015.

24