Anda di halaman 1dari 5

PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No.

3 Agustus 2015 ISSN 2302 - 2493

FORMULASI TABLET KLORFENIRAMIN MALEAT DENGAN BAHAN


PENGIKAT GETAH KULIT BUAH PISANG GOROHO (Musa acuminafe L)
MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH

Lemborano Nugratama Hano1), Paulina Yamlean1), Hamidah Sri Suprianti2)


1)
Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado,95115
2)
Program Studi DIII Farmasi STIKES Muhammadiyah Manado, 95115

ABSTRACT
Goroho’s sap peel has the stongest adhesive force, and also has antiseptic and antioxidant effect.
The aim of this research to formulate chlorpheniramine maleic tablet used Goroho’s sap peel as
a binder substance by wet granulation method . The formulations made by variation of Goroho’s
sap peel concentration at 15% and 25%. The resulting granule evaluation preformulation .further
more granule is compressed into a tablet and be tested evaluation tablet. at the q 25% fulfill all
the assigned qualification consist of Organoleptic test, water content, flow rate, the angle of
respose, the physicalappearance, size and weight uniformity, hardness, friability, disintegration
time of tablet. From this result can be concluded concentration of 25% fulfill the qualification as
binder substance at the chlorpheniramine maleic tablet.

Key words : Banana sap peel Goroho, binder substance of tablet, wet granulation

ABSTRAK
Getah kulit buah Pisang Goroho memiliki daya rekat yang sangat kuat, memiliki efek antiseptik
dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menformulasikan tablet Klorfeniramin maleat
menggunakan getah kulit buah Pisang Goroho sebagai bahan pengikat dengan metode granulasi
basah. Formulasi ini dibuat dengan variasi konsentrasi getah yaitu 15% dan 25%.Granul yang
dihasilkan diuji preformulasi.Selanjutnya granul dikempa menjadi sediaan tablet dan dilakukan
evaluasi pengujian tablet. Pada konsentrasi 25% memenuhi semua persyaratan meliputi,uji
organoleptik, kadar air, sifat alir, sudut diam, penampilan fisik, keseragaman bobot, keseragaman
ukuran, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
konsentrasi 25% memenuhi persyaratan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet
Klorfeniramin Maleat

Kata Kunci: Getah kulit buah Pisang Goroho, bahan pengikat tablet, klorfeniramin maleat

29
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN 2302 - 2493

PENDAHULUAN kulit buah pisang Goroho (Musa acuminafe


L) memiliki daya rekat yang sangat kuat
Dengan berkembangnya teknologi di ketika mengenai kulit, hal ini didasari oleh
bidang farmasi mendorong para farmasis kemampuan dari getah buah pisang dalam
untuk membuat suatu formulasi yang tepat menyembuhkan luka bakar, sebagai
untuk mengolah bahan alam menjadi suatu antiseptik dan antioksidan (Muhabuddin et
bentuk sediaan yang mudah diterima oleh al.,2012). Pemikiran tersebut
masyarakat, selain ditinjau dari kualitas melatarbelakangi dilakukannya penelitian
yang tetap harus dipenuhi.Salah satu bentuk tentang pembuatan bentuk sediaan tablet
sediaan farmasi yang sering dijumpai saat dengan menggunakan getah sebagai bahan
ini yaitu bentuk sediaan tablet. pengikat pada tablet.
Tablet merupakan salah satu sediaan Tanaman pisang Goroho memiliki
yang banyak mengalami perkembangan dari morfologi yaitu pohon dengan batang tegak,
segi formulasi. Beberapa keuntungan akar mempunyai susunan yang kuat, batang
sediaan tablet diantaranya ialah sediaan semuanya tersusun oleh pelepah daun. Daun
lebih kompak, biaya pembuatannya lebih terpencar, bentuk daun seperti meruncing,
murah, dosisnya tepat, mudah ujungnya tumpul, tepi rata, mudah robek
pengemasannya, sehingga penggunaannya dengan tangkai daun agak panjang dan
lebih praktis jika dibandingkan dengan lebar. Memiliki Bunga majemuk dengan
sediaan lain. Tablet dibuat dari bahan aktif tangkai yang panjang dan kuat, bulat, ada
dan bahan tambahan yang meliputi bahan yang berbulu ada yang tidak, bunganya
pengisi, penghancur, pengikat dan banyak. Hampir semua buah pisang Goroho
pelicin(Lachman et al, 1994). memiliki kulit berwarna kuning ketika
Dalam pembuatan komponen matang, meskipun ada beberapa yang
sediaan tablet diperlukan zat tambahan berwarna jingga, merah, ungu, atau bahkan
untuk mendapatkan kualitas sediaan yang hampir hitam(Tasirin, 2011). Getah Pisang
memenuhi persyaratan formulasi. Salah satu mengandung tanin dan asam galat
zat tambahan yang memiliki peran khusus (Kwartiningsih et al.,2010). Getah pisang
dalam formulasi sediaan tablet yaitu bahan banyak digunakan sebagai pengobatan
pengikat. Bahan pengikat dalam formulasi alternatif tradisional yang telah terbukti
tablet digunakan untuk mengikat komponen- cukup ampuh.Bila anggota tubuh terkena
komponen tablet untuk dijadikan granul goresan benda tajam dengan luka yang
dengan ukuran yang sama dan bentuk yang terlalu dalam dan berdarah, maka getah
kompak. Dengan adanya bahan pengikat, pohon pisang dapat dioleskan dengan merata
komponen tablet akan mudah dibentuk pada anggota tubuh yang terkena luka.
menjadi granul, sehingga akan memudahkan Penelitian ini membuat formulasi
pencetakan. Pemilihan bahan pengikat dari tablet Klorfeniramin Maleat dengan
bergantung kepada sifat fisika dan kimia bahan pengikat getah kulit buah Pisang
dari bahan obat, daya ikat yang diperlukan Goroho (Musa acuminafe L). Klorfeniramin
dan tujuan pemakaian obatnya (Soekemi, Maleat ialah obat anti histamin H1 yang
1987). sering digunakan sebagai obat pilihan
Salah satu komponen bahan alam pertama untuk mencegah atau mengobati
yang diharapkan mampu untuk digunakan gejala reaksi alergi. Klorfeniramin maleat
sebagai bahan pengikat sediaan tablet yaitu sebagai AH1 menghambat efek histamin
getah buah Pisang Goroho (Musa acuminafe pada pembuluh darah, bronkus dan
L). Berdasarkan asumsi yang beredar bermacam-macam otot polos. AH1 juga
dimasyarakat dan karakteristiknya getah

30
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN 2302 - 2493

bermanfaat untuk mengobati reaksi Formulasi Tablet


hipersensitivitas dan keadaan lain yang R/:Klorfeniramin maleat 0,4 mg
disertai pelepasan histamin endogen berlebih Getah Kulit Buah Pisang Goroho X g
(Simbolon,2008). Amilum manihot 5%
Metode yang digunakan dalam Talkum 1%
penelitian ini ialah metode granulasi basah. Mg Stearat 1%
Metode ini merupakan metode pembuatan Pewarna qs
yang paling banyak digunakan dalam Saccharum lactis qs
memproduksi tablet kompresi. Langkah- m.f. tab dtd No.D
langkah yang diperlukan dalam pembuatan Selanjutnya tablet dibuat dengan cara
tablet dengan dengan metode ini dapat granulasi basah dengan cara mencampurkan
dibagi sebagai berikut: menimbang dan semua bahan dengan getah kulit buah Pisang
mencampur bahan-bahan, pembuatan Goroho sesuai dengan konsetrasi 15% dan
granulasi basah, pengayakan granul basah, 25% dan dillakukan uji preformulasi yang
pengeringan, pengayakan granul kering, meliputi uji organoleptik, kadar air, sifat alir
pencampuran bahan pelicin dan bahan dan sudut diam. Langkah berikutnya proses
penghancur, pembuatan tablet dengan percetakan tablet dengan berat 200 mg
kompresi (Ansel, 1989) pertablet dengan diameter 8 mm. setelah
semua tablet tercetak dilakukan uji
METODE PENELITIAN penampilan fisik, keseragaman bobot,
keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan
Bahan dan Alat dan waktu hancur tablet.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini
ialah getah buah pisang Goroho (Musa HASIL DAN PEMBAHASAN
acuminafe L) zat aktif Klorfeniramin maleat
(CTM) 4 mg, laktosa, amilum manihot, Uji Preformulasi
talkum, magnesium stearat dan pewarna Formula Kadar Air Kecepatan alir Sudut
makanan. diam
Alat yang digunakan untuk membuat I % LOD = 5,3 13,13 33,93o
%
tablet antara lain mesin pencetak tablet TDP % MC = 5,5
1 (STH,Cina), alat uji kekerasan tablet HT-1 %
(Sotax, Prancis), alat uji waktu hancur BJ-2 II % LOD = 4,2 9,90 32,98o
%
(Goaming, Cina) ,Oven, alat uji kerapuhan % MC = 4,4
CS-2 (Goaming ,Cina) ,Alat-alat gelas, %
Corong ,Sonde, lumpang, alu, stopwatch, Hasil organoleptik sediaan
mistar, ayakan mesh 14 dan 16, dan yangmengandung klorfeniramin maleat dan
timbangan analitik getah kulit buah pisang goroho sebagai
pengikat ini akan selalu membentuk granul
Persiapan Sampel yang merupakan bentuk umum sediaan
Sampel yang digunakan yaitu getah sebelum pengempaan . formula dengan
buah pisang yang masih segar.,yang konsentrasi 25 % memiliki ukuran granul
dipotong pada bagian sisir pisangnya, yang lebih kompak dan partikel yang lebih
kemudian dipotong kedua ujung pangkal besar dibandingkan dengan konsentrasi 15
kulit buah pisang Goroho secara melintang % , kedua formula memiliki bentuk dan
dan getahnya yang keluar dikumpulkan ke warna kuning muda yang teratur yang
dalam cawan petri. menunjukan kedua formulasi memiliki
campuran yang homogen sehingga kedua
31
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN 2302 - 2493

formulasi ini memenuhi uji organoleptik fisik tablet dilihat secara langsung mulai dari
sesuai dengan persyaratan yang ada bentuk, warna dan bau dari tablet yang
menyatakan bahwa uji organoleptik dilihat dihasilkan. Bentuk dan warna yang
secara langsung mulai dari bentuk, warna dihasilkan sedapat mungkin sama antara
dan bau dari granul yang dihasilkan. Bentuk satu dengan yang lainnya (Lachman et
dan warna yang dihasilkan sedapat mungkin al,1994).
sama antara satu dengan yang lainnya Hasil uji keseragamaan bobot
(Anonim,1995). menunjukkan bahwa formula tablet dengan
Uji kadar air menunjukan, dari kedua konsentrasi 15% dan 25 % memenuhi
formulasi ini konsentrasi 25 % memenuhi persyaratan yang ditentukan Farmakope
persyaratan ganul yang baik karena Indonesia yaitu tidak boleh lebih dari dua
memiliki kandungan lembab ≤ 5%, tablet yang bobotnya menyimpang dari
sedangkan pada konsentrasi 15% tidak kolom A (7,5%) dan tidak satupun bobotnya
memenuhi persyaratan granul karena menyimpang dari bobot rata–ratanya lebih
memiliki kandungan lembab ≥ 5%. besar dari kolom B (15%). Keseragam bobot
Uji sifat alir dan sudut diam pada suatu tablet juga dipengaruhi oleh sifat alir
formula dengan konsentrasi 25% granul, semakin baik sifat alir suatu granul
menunjukan hasil < 10 detik dengan maka indeks pengetapan yang dihasilkan
kecepatan alir 9,90 detik dan sudut alfa juga semakin baik, sudut diam yang
sebesar 32,98o, bila dibandingkan dengan dihasilkan juga menjadi semakin kecil
syarat yang ditetapkan ≤ 10 detik dan sudut sehingga keseragaman bobot yang diperoleh
α ≤ 400 (Voight,1995), maka granul tersebut pun menjadi lebih stabil (Siregar,2007).
membuktikan dapat mengalir dengan baik Hasil pemeriksaan ukuran tablet
dan bebas dan memenuhi persyaratan uji menunjukkan bahwa tebal tablet umumnya
luncur dan daya alir. Sedangkan pada konstan karena menggunakan punch dan die
formula dengan konsentrasi 15% yang berukuran sama dari kedua formulasi
menunjukan hasil > 10 detik dengan yang ada diperoleh hasil diameter rata-rata
kecepatan alir 13,13 detik dan sudut α tablet adalah 0,8 cm dengan tebal tablet 0,3
sebesar 33,93o, hal ini menunjukan bahwa cm. berdasarkan hasil evaluasi tersebut
granul tersebut memiliki aliran yang kurang diperoleh keseragaman ukuran tablet yang
baik memenuhi persyaratan, dimana diameter
tablet tidak lebih dari tiga kali tebal tablet
Evaluasi Pengujian Tablet dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet
Formula Kesera Kesera Kekera Kerapu Waktu (Anonim,1979)
g-aman g-aman s-an h-an Hancur Hasil yang diperoleh dari uji
Bobot Ukuran (Kg) (%)
(%) (cm) kekerasan tablet dari semua formula
I (15%) 1,02 D=0,8, 5,16 0,8 9 menit memenuhi persyaratan kekerasan (4-8 kg).
T=0,3 58 detik
II(25%) 1,35 D=0,8, 5,67 0,2 10 menit Tablet dengan formulasi konsentrasi 25 %,
T=0,3 50 detik memiliki kekerasan yang lebih besar
Evaluasi Penampilan Fisik Tablet dibandingkan dengan formulasi konsentrasi
menunjukan kedua formulasi menghasilkan 15%. Hal ini menunjukan bahwa semakin
tablet dengan bentuk bulat , warna yang besar konsetrasi dari bahan pengikat maka
tersebar merata dan permukaan tablet yang sifat kompresibilitasnya lebih baik
merata dan hampir tidak berbau. kedua Hasil yang diperoleh dari uji
formulasi ini memenuhi evaluasi kerapuhan menunjukan, kedua formulasi
penampilan fisik sesuai dengan persyaratan menunjukan hasil yang memenuhi
yang ada menyatakan bahwa penampilan

32
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN 2302 - 2493

persyaratan dimana tidak boleh lebih dari Kwartinigsih, E., A Ardani.,S. Budiastuti, A
1% kehilangan bobot dalam pengujian. .Nugroho dan F. Rahmawati. 2010.
Formulasi dengan konsentrasi 15% memiliki Pemanfaatan Getah Berbagai Jenis dan
tingkat kerapuhan yang lebih besar yaitu Bagian Dari Pohon Pisang Sebagai Zat
0,8% dibandingkan dengan formulasi Pewarna Alami Tekstil. Universitas
dengan konsentrasi 25% yang hanya Sebelas Maret
memiliki tingkat kerapuhan 0,2%. Lachman L., Lieberman H. A., Kanig J.
Hasil uji waktu hancur, L.,1994.Teori dan Praktek Farmasi
menunjukkan bahwa kedua formula Industriditerjemahkan oleh Suyatni S.,
memberikan tablet dengan waktu hancur Edisi II,UI Press, Jakarta
yang memenuhi persyaratan yaitu kurang Muhibuddin, Nanang. 2012.Pengaruh Getah
dari 15 menit. Formulasi dengan konsentrasi Batang Pisang (Musa paradisiaca
25% memberikan waktu hancur yang lebih Linn) TerhadapKecepatan
lama yaitu 10 menit, 50 detik dibandingkan Penyembuhan Luka Bakar Derajat II
dengan formulasi dengan konsentrasi 15% Dangkal Pada Tikus Putih (Rattus
dengan waktu hancur 9 menit , 58 detik norvergicus). STIKes Bakti Mulia.
Kediri
KESIMPULAN DAN SARAN Simbolon, B. 2008.Uji Disolusi
Kesimpulan
Klorfeniramin Maleat secara
Berdasarkan hasil penelitian yang
spektrofotometri ultra violet
telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
[skripsi].Fakultas Farmasi USU.
bahwa, getah kulit buah Pisang Goroho
Medan.
(Musa acuminafe L) sebagai bahan pengikat
Siregar,C.2007.TeknologiFarmasi Sediaan
pada formulasi sediaan tablet Klorfeniramin
Tablet Dasar-Dasar Praktis.Buku
maleat dengan konsentrasi 25% dapat
Kedokteran EGC, Jakarta
memenuhi kriteria yang baik sesuai
Soekemi, RA, 1987. Tablet.Mayang
persyaratan. Dan untuk getah kulit buah
Kencana. Jakarta.
Pisang Goroho dengan konsentrasi 15%
belum memenuhi kriteria yang diharapkan.

Saran
Perlu dilakukan penelitian kembali
untuk melihat apakah formulasi getah kulit
buah Pisang Goroho dengan konsentrasi
15% memenuhi persyaratan yang ditetapkan
untuk dijadikan bahan pengikat pada alat
produksi yang sama dan perlu dilakukan
penelitian lanjutan pada sediaan lain.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi
ke-3. DepartemenKesehatan Republik
Indonesia , Jakarta
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi
ke-4.DepartemenKesehatan Republik
Indonesia, Jakarta

33