Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Berkat dan
RahmatNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan sebaik baiknya.
Dalam makalah ini dibahas tentang “FORMULASI SEDIAAN SUSPENSI DARI EKSTAK
DAUN KELOR”. Penulis juga menyadari bahwa di dalam tugas makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun agar penulis dapat menyempurnakan tugas makalah ini di masa yang akan datang.
Dengan demikian, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya dan dapat dijadikan pengetahuan.

Kediri, Januari 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan dari bahaya
berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap asing bagi tubuh seperti bakteri, virus, jamur,
parasit dan protozoa (Abbas et al., 2015; Baratawidjaja & Rengganis, 2009; Benjamini et al.,
2000). Ketika daya tahan tubuh lemah maka agen infektif akan dengan mudah menembus
pertahanan tubuh dan menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, upaya meningkatkan sistem imun
menjadi penting untuk dilakukan, salah satunya adalah dengan menggunakan imunomodulator
khususnya yang bersifat imunostimulan.

Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen,
misalnya bakteri adalah menghancurkan bakteri bersangkutan secara non spesifik melalui
proses fagositosis. Makrofag sebagai sel fagosit mononuklear dalam pertahanan seluler non
spesifik memegang peranan penting demikian pula neutrofil. Sel-sel fagosit merupakan sel
pertahanan tubuh yang mampu menelan dan memusnahkan organisme asing yang masuk ke
dalam tubuh kita tanpa adanya antibodi. Sel-sel tersebut akan segera bekerja dengan cepat
untuk mengatasinya jika pertahanan lini pertama, yaitu kulit tidak mampu menahan masuknya
mikroorganisme.

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak
boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi
kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi. Kekentalan
suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Penyimpanan
dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk. (Farmakope Indonesia Ed.III Halaman 32)

Peningakatan respon imun dengan berbagai bahan tanaman, untuk pencegahan


penyakit telah menjadi pendekatan yang menarik sejak zaman kuno [5]. Salah satu tanaman
yang dapat berfungsi dalam meningkatkan respon imun adalah daun kelor (Moringa oleifra
Lam.). Daun kelor mengandung 27% protein dan merupakan sumber yang kaya vitamin A
dan C, kalsium, zat besi dan fosfor. Kandungan kimia daun kelor (Moringa oleifera Lam.)
yang dapat meningkatkan sistem imun, yaitu flavonoid, polifenol, terpenoid [6], alkaloid,
saponin, dan mineral seperti : selenium, zink, tembaga, mangan, dan magnesium.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud suspensi?
2. Apa yang dimaksud ekstrak etanol daun kelor?
3. Bagaimana cara pembuatan suspensi ekstrak etanol daun kelor?
4. Bagaimana hasil evaluasi suspensi ekstrak etanol daun kelor?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bahan bahan pembuatan suspensi ekstrak etanol daun kelor
2. Untuk mengetahui cara membuat suspensi ekstrak etanol daun kelor
3. Untuk mengetahui hasil evaluasi suspensi ekstrak etanol daun kelor
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TUMBUHAN KELOR

Kelor (Moringa oleifera Lam.) merupakan tanaman perduyang tinggi pohonnya


dapat mencapai 10 meter, tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1000
meter di atas permukaan laut. Juga dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah
kecuali tanah berlempung berat dan menyukai pH tanah netral sampai sedikit asam
(Kurniasih, 2013).

Daun kelor memiliki fungsi sebagai pencahar, diterapkan sebagai tapal untuk luka,
dioleskan pada kening untuk sakit kepala, digunakan untuk kompres demam, sakit
tenggorokan, mengatasi asam urat dan nyeri sendi, tonik penguat jantung, mencegah
pembentukan tumor dan kanker, jus daun diyakini untuk mengontrol kadar glukosa darah
dan digunakan untuk mengurangi pembengkakan kelenjar (Kurniasih, 2013).
Dari hasil analisis kandungan nutrisi, dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki
potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Dengan
mengonsumsinya, keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi sehingga seseorang
bisa meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya. Berkhasiat mengatasi berbagai keluhan
yang diakibatkan oleh kekurangan vitamin dan mineral (Tilong, 2012).

B. KLASIFIKASI TUMBUHAN KELOR

Secara botanis tanaman kelor diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Capparales
Famili : Moringaceae

Genus : Moringa

Spesies : Moringa oleifera Lam.

C. MORFOLOGI TUMBUHAN KELOR

Tanaman ini berupa semak atau pohon dan mempunyai umur panjang (perenial).
Batangnya berkayu, tegak, berwarna putih kotor, berkulit tipis dengan permukaan kasar
dan mudah patah. Hal ini dikarenakan jenis kayunya lunak dan memiliki kualitas rendah.
Daunnya tipis, bersirip tidak sempurna, berbentuk kecil dan menyerupai telur, serta hanya
sebesar ujung jari. Buahnya berbentuk panjang sekitar 20 – 60 cm, ketika masih muda
berwarna hijau, namun setelah tua warnanya berubah menjadi cokelat, biji berbentuk
bulat berwarna cokelat kehitaman dengan sayap biji rringan, sedangkan kulit biji mudah
dipisahkan sehingga meninggalkan bijiyang berwarna putih (Tilong, 2012).

D. SISTEM IMUN

Kata imun berasal dari bahasa Latin immunis yang berarti bebas dari beban
(Benjamini et al., 2000). Dahulu imunitas diartikan sebagai daya tahan realtif hospes
terhadap mikroba tertentu (Bellanti, 1985). Sistem imun adalah semua mekanisme yang
digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya sebagai perlindungan terhadap
bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup yang dianggap asing
bagi tubuh (Baratawidjaja, 2000; Benjamini et al., 2000). Mekanisme tersebut melibatkan
gabungan sel, molekul, dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi yang
disebabkan oleh berbagai unsur patogen yang terdapat di lingkungan sekitar kita seperti
virus, bakteri, fungus, protozoa dan parasit (Kresno, 1996; Baratawidjaja & Rengganis,
2009). Sedangkan reaksi yang dikoordiansi oleh sel-sel, molekul-molekul dan bahan
lainnya terhadap mikroba disebut dengan respon imun (Baratawidjaja & Rengganis,
2009).

Sistem imun memiliki tiga fungsi yaitu fungsi pertahanan (melawan patogen,
fungsi homeostasis (mempertahankan keseimbangan kondisi tubuh dengan cara
memusnahkan sel-sel yang sudah tidak berguna) dan pengawasan (surveillance). Pada
fungsi pengawasan dini (surveillance) sistem imun akan mengenali sel-sel abnormal yang
timbul di dalam tubuh dikarenakan virus maupun zat kimia. Sistem imun akan mengenali
sel abnormal tersebut dan memusnahkannya. Fungsi fisiologis sistem imun yang
terpenting adalah mencegah infeksi dan melakukan eradikasi terhadap infeksi yang sudah
ada (Abbas et al., 2014).

E. SUSPENSI

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat dalam bentuk halus yang
tidak larut tetapi terdispersi dalam cairan. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh
cepat mengendap, jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali.
Suspensi umumnya mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitasnya, sebagai
stabilisator dapat dipergunakan bahan-bahan disebut sebagai emulgator (Joenoes, 1990).
Menurut Ansel (2005), ada beberapa alasan pembuatan suspense oral. Salah satunya
karena adanya obat-obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutan tetapi
stabil apabila disuspensi. Dalam hal ini, suspensi oral menjamin stabilitas kimia dan
memungkinkan terapi untuk cairan. Pada umumnya, bentuk cair lebih disukai daripada
bentuk padat karena pemberiannya lebih mudah, aman, dan keluwesan dalam pemberian
dosis terutama untuk anak-anak.
BAB III

METODELOGI

A. BENTUK SEDIAAN YANG TERPILIH

Pada praktikum semi solid kelompok kami memilih sediaan suspense karena
mudah diberikan kepada pasien yang mengalami kesulitan untuk menelan.Sediaan dalam
bentuk suspense diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari
segi warna ataupun bentuk wadahnya. Sediaan dibuat suspensi karena ekstrak etanol dari
daun kelor tidak larut sempurna dalam air, dan suspensi mempunyai keuntungan bahwa
(oleh karena partikel sangat halus) penyerapan zat berkhasiatnya lebih cepat daripada bila
obat diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet, dan bioavaibilitasnya lebih baik.

B. ALAT

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain blender ,pisau, ayakan,
nampan, cawan, water bath, kertas saring, mortir dan stemper, gelas ukur , timbangan dan
anak timbangan, pot salep, sudip, sendok tanduk.

C. BAHAN

Bahan yang digunakan untuk pembuatan cream anti jerawat antara lain ekstrak daun
kelor, Na-CMC, Propylen Glycol, sirup simplex, Natrium benzoate, Asam sitrat, Oleum
rosae,Aquadest.
D. FORMULASI

No Nama Bahan Khasiat Rentang Persentase


(%)
1. Ekstrak daun kelor Zat aktif - 2,5 %

2. Na-CMC Suspending 0,1-1 0,5 %


agent
3. Propylen Glycol Pembasah 10-25 10 %

4. Sirupus simplex Pemanis - 25 %

5. Natrium benzoate Pengawet - 0,1 %

6. Asam sitrat Flavour - 0,3 %

7. Oleum rosae Pengaroma - 0,01 %

8. Aquadest Pelarut - Ad 100 ml

E. PENIMBANGAN

2,5
Ekstrak daun kelor = x 100 g = 2,5 g
100

0,5
Na- CMC = 100 x 100 g = 0,5 g

10
PG = 100 x 100 g = 10 g

25
Syr.simplex = 100 x 100 g = 25 g

0,1
Natrium benzoate = 100 x 100 g = 0,1 g
0,3
Asam sitrat = 100 x 100 g = 0,3 g

0,01
Oleum rosae = x 100 g = 0,01 g
100

Aquadest = 100g - (2,5+0,5+10+25+0,1+0,3+0,01)

=100g – 38,41

= 61,59 g

F. PROSEDUR KERJA

 Ekstrak simplisia daun kelor

Ditimbang simplisia daun kelor sebanyak 60 gram dan dimasukkan kedalam


erlenmeyer

Ditambah etanol 70% sebanyak 600 ml,ditutup dengan alumunium foil

Dibiarkan selama 3 hari terlindung dari cahaya,dengan sesekali


pengadukan

Disaring setelah 3 hari,diletakkan didalam cawan


porselin

Diuapkan dengan suhu 50°C diatas waterbath

Didapatkan ekstrak kental


 Pembuatan Sediaan Cream

Menyetarakan Timbangan

Masukkan ekstrak daun kelor 2,5 g kedalam mortir


ditambah dengan propilengikol 0,5 g gerus ad homogen

Na-Cmc didispersikan dalam air hangat hingga terbentuk mucilago


,Na CMC dimasukkan ke dalam mortir yang berisi ekstrak dan
propilengikol gerus ad homogen ( Campuran 1 )

Kemudian semua campuran yang sudah sudah tercampur dimasukkan ke


dalam beaker glass untuk dihomogenkan dengan pengadukan konstan selama
20 menit ditambah syr.simplex 25 g ( Campuran II )

Larutkan masing-masing asam sitrat dan natrium benzoate dengan aquadest


secukupnya kemudian maasukkan ke dalam campuran II,homogenkan

Cukupkan volume hingga 100 ml dengan aquadest,kemudian tambahkan oleum rosae aduk
ad homogen

Uji Organoleptis Uji pH Uji Sedimentasi Uji Redispers


OrganoleptOrganolept RedispersHom
is ogenitas

Masukkan sediaan suspensi kedalam botol beri etiket biru dan serahkan
pasien
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL EVALUASI

 Uji Organoleptis
Bentuk : Cair (Liquid)
Warna : Hijau khas daun
Bau : Aromatik khas daun
Rasa : Manis
 Uji pH : 7,00
 Uji Sedimentasi
Hari 1 : Vu =9
Vo =50
F =
Hari 2 : Vu =6
Vo =10
F =
Hari 3 : Vu =4,5
Vo =50
F =
Hari 4 : Vu =3
Vo =50
F =
Hari 5 : Vu = 2cm
Vo = 50cm
F =
Rata – Rata F
 Uji Redispers :
 Uji Homogenitas
Memiliki homogenitas yang baik, dan sediaan tidak menggumpal
B. PEMBAHASAN

Pada praktikum pembuatan sediaan emulsi, digunakan formulasi terpilih yaitu :

R/ Ekstrak etanol daun kelor 2,5%

CMC-Na 6,5%

Propylen Glycol 10%

Syrup Simplex 25%

Na. Benzoat 0,1%

Asam Sitrat 0,3%

Oleoum Rosae 0,01%

Aquadestilata 61,59%

Pada praktikum ini dilakukan pembuatan suatu sediaan suspensi sistem imun dari
ekstrak etanol daun kelor. Ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera Lam.) diperoleh
dengan mengekstraksi 60 g simplisia dengan etanol 70% sebanyak 600 ml. Ekstrak kental
yang diperoleh kemudian diformulasikan dalam sediaan suspensi karena ekstrak etanol
daun kelor tidak larut dalam air. Suspensi yang telah dibuat kemudian dilakukan
pengujian kestabilan fisik supensi yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji volume
sedimentasi dan kemampuan redispersi.

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus
dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan
tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera
terdispersi kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi.
Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk. (Farmakope Indonesia Ed.III
Halaman 32) .
Sediaan dibuat suspensi karena ekstrak etanol dari daun kelor tidak larut sempurna
dalam air, dan suspensi mempunyai keuntungan bahwa (oleh karena partikel sangat
halus) penyerapan zat berkhasiatnya lebih cepat daripada bila obat diberikan dalam
bentuk kapsul atau tablet, dan bioavaibilitasnya lebih baik. Formulasi yang terpilih
memiliki fungsi masing-masing dalam pembuatan sediaan suspensi sebagai sistem imun.
Bahan aktif yang dipilih adalah daun Kelor. Salah satu tanaman yang dapat berfungsi
dalam meningkatkan respon imun adalah daun kelor (Moringa oleifra Lam.). Daun kelor
mengandung 27% protein dan merupakan sumber yang kaya vitamin A dan C, kalsium,
zat besi dan fosfor. Kandungan kimia daun kelor (Moringa oleifera Lam.) yang dapat
meningkatkan sistem imun, yaitu flavonoid, polifenol, terpenoid , alkaloid, saponin, dan
mineral seperti : selenium, zink, tembaga, mangan, dan magnesium. Telah dilaporkan
bahwa ekstrak etanol dan ekstrak metanol daun kelor dengan dosis 250 mg/kg BB dapat
berefek sebagai imunomodulator.

Basis suspensi yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ekstrak etanol daun
kelor, CMC-Na, Propylen Glycol, Syrup Simplex, Na.Benzoat, Asam Sitrat, Oleoum
Rosae, sedangkan Aquadest digunakan sebagai pelarut. Basis tersebut dipilih karena Na-
CMC merupakan zat dengan warna putih atau sedikit kekuningan, tidak berbau dan tidak
berasa, berbentuk granula yang halus atau bubuk yang bersifat higroskopis (Inchem,
2002). Menurut Tranggono dkk. (1991), CMC ini mudah larut dalam air panas maupun
air dingin. Pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat dapat balik
(reversible). Viskositas larutan CMC dipengaruhi oleh pH larutan, kisaran pH Na-CMC
adalah 5-11 sedangkan pH optimum adalah 5, dan jika pH terlalu rendah (<3), Na-CMC
akan mengendap (Anonymous. 2004). Penambahan Na-CMC berfungsi sebagai bahan
pengental, dengan tujuan untuk membentuk sistem dispersi koloid dan meningkatkan
viskositas. Dengan adanya Na-CMC ini maka partikel-partikel yang tersuspensi akan
terperangkap dalam sistem tersebut atau tetap tinggal ditempatnya dan tidak mengendap
oleh pengaruh gaya gravitasi (Potter, 1986). Mekanisme bahan pengental dari Na-CMC
mengikuti bentuk konformasi extended atau streched Ribbon (tipe pita). Tipe tersebut
terbentuk dari 1,4 –D glukopiranosil yaitu dari rantai selulosa. Bentuk konformasi pita
tersebut karena bergabungnya ikatan geometri zig-zag monomer dengan jembatan
hydrogen dengan 1,4 -Dglukopiranosil lain, sehingga menyebabkan susunannya menjadi
stabil. Na-CMC yang merupakan derivat dari selulosa memberikan kestabilan pada
produk dengan memerangkap air dengan membentuk jembatan hydrogen dengan molekul
Na-CMC yang lain (Belitz and Grosch, 1986).

Basis kedua yang digunakan adalah Propylen Glycol. Propilen glikol berupa
cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis, dan higroskopik.
Propilen glikol dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan kloroform P,
larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P dan dengan
minyak lemak. Propilen glikol dapat berfungsi sebagai pengawet, antimikroba,
disinfektan, humektan, solven, stabilizer untuk vitamin dan kosolven yang dapat
bercampur dengan air. Sebagai pelarut atau kosolven, propilen glikol digunakan dalam
konsentrasi 10-30% larutan aerosol, 10-25% larutan oral, 10-60% larutan parenteral dan
0-80% larutan topikal. Propilen glikol digunakan secara luas dalam formulasi sediaan
farmasi, industri makanan maupun kosmetik, dan dapat dikatakan relatif non toksik.

Dalam formulasi atau teknologi farmasi, propilen glikol secara luas digunakan
sebagai pelarut, pengekstrak dan pengawet makanan dalam berbagai sediaan farmasi
parenteral dan non parenteral. Propilen glikol merupakan pelarut yang baik dan dapat
melarutkan berbagai macam senyawa, seperti kortikosteroid, fenol, obat-obat sulfa,
barbiturat, vitamin (A dan D), kebanyakan alkaloid dan berbagai anastetik local.

Basis ketiga yang digunakan adalah Syrup Simplex. Srup simplex adalah sirp
yang mengandung 65% gula dengan larutan nipagin 0,25% b/v. Digunakan sebagai
pemanis dalam sediaan suspensi.

Basis keempat yang digunakan adalah Asam Sitrat. Asam sitrat adalah merupakan
asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-
jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan
sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia,
asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam
mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat
digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.
Basis kelima yang digunakan adalah Natrium Benzoat. Natrium benzoat adalah
rumusnya NaC7H5O2. Digunakan sebagai pengawet makanan dengan nomor E E211.
Merupakan garam natrium dari asam benzoat yang muncul ketika dilarutkan dalam air.
Dapat diproduksi dengan mereaksikan natrium hidroksida dengan asam benzoat. Natrium
benzoat dapat menahan bakteri dan jamur dalam kondisi asam.

Bahan lainnya digunakan Oleoum Rosae sebagai corigen odoris dan digunakan
aquadest sebagai pelarut.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sediaan


suspensi sistem imun dari ekstrak etanol daun kelor yang memiliki konsentrasi baik.
Secara organoleptis terlihat bentuk sediaan cair atau liquid. Warna sediaan adalah hijau
karena terbuat dari daun kelor, sedangkan bau sediaan adalah khas aromatic daun kelor
dan sedikit bau rosae. Hasil uji homogenitas menunjukkan susunan yang homogen karena
pada bagian atas, tengah, dan bawah sediaan terdapat penyebaran partikel secara merata.
Adapun syarat sediaan yang baik adalah homogen (SNI,1996). Sediaan yang homogen
akan memberikan hasil yang yang baik karena bahan obat terdispersi dalam bahan
dasarnya secara merata, sehingga dalam setiap bagian sediaan mengandung bahan obat
yang jumlahnya sama. Jika bahan obat tidak terdispersi merata dalam dasarnya maka obat
tersebut tidak akan mencapai efek terapi yang diinginkan.

Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil pH sediaan adalah 7,0. pH tersebut


memenuhi persyaratan pH sediaan oral yaitu 5-7. Basis suspensi juga akan mempengaruhi
kualitas suatu sediaan.
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak
boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi
kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi.
Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk. (Farmakope Indonesia Ed.III
Halaman 32)

Dari praktikum pembuatan sediaan suspensi didapatkan hasil uji organoleptis,


yaitu berbentuk cair atau liquid, bau khas aromatic daun kelor, dan warnanya adalah
hijau. Pada uji pH mendapatkan hasil pH 7,0. Uji homogenitas menunjukkan sediaan
homogen dengan tidak adanya partikel yang menggumpal.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, perlu dilakukan pengembangan dan sosialisasi


pemanfaatan tanaman obat seperti daun kelor dalam bidang pengobatan. Selain itu
mahasiswa perlu melakukan penelitian tentang aktivitas daun kelor yang dikombinasi
dengan tanaman lain.
DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K. G. 2000, Sindrome Defisisensi Immune; Imunologi Dasar, Edisi IV,


Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
. Banji, O. J. F., Banji, D. and Kavitha, R. 2012, Immunomodulatory Effect of Alcoholic
and Hydroalcoholic Extracts of Moringa oleifera Lam. Leaves, Indian Journal of Experimental
Biology, 50: 270-276
Fatmawaty, A., Nisa, M. dan Riski, R. 2015, Teknologi Sediaan Farmasi, Deepublish,
Yogyakarta.
Gaikwad, S.B. Mohan, G.K. and Reddy, K.J. 2011, Moringa oleifera Leaves:
Immunomodulation in Wistar Albino Rats, International Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical Sciences, 3 : 426-430.
Gupta, A., Gautam, M. K., Singh, R.K., Kumar. M.V., Rao, C.V., Goel, R.K. and
Anupurba, S. 2010, Immunomodulatory Effect of Moringa oleifera Lam. Extract on
Chyclophosphamide Induced Toxicity in Mice, Indian Journal of Experimental Biology, 48 :
1157-1160.
Hasan, H. A. M. 2014, ‘Evaluasi Parameter Fisik Sirup Ekstrak Etanol Daun Kelor
(Moringa oleifera) dengan Beberapa Variasi Pemanis’, Skripsi, S1., Sekolah Tinggi Ilmu
Farmasi, Makassar.
Kresno,S.B. 2010, Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium, Edisi V, Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Oyewo, E. B., Adewale, Adetutu, Ayoade, A., Adesokan and Akanji, M.A. 2013,
Repeated Oral Administration of Aqueous Leaf Extract of
Moringa oleifera Modulated Immunoactivities in Wistar Rats, Journal of Natural Sciences
Research, 3(6).
. Sudha, P., Syed, M. B. A., Sunil, S.D. and Gowda, K.C. 2010, Immunomodulatory
Activity of Methanolic Extract of Moringa oleifera in Animals, Indian J Physiol Pharmacol,
54(2).
Wood, P. 2006, Understanding Immunology, Second edition, 22, Pearson Education
Limited, Harlow.
LAMPIRAN