Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mendapatkan

perhatian serius karena peranannya cukup tinggi dalam perekonomian nasional.

Jal ini terlihat dari luas area tanaman kakao yang cukup tinggi di Indonesia yaitu

1.704.982 hektar dengan total produksi 701.229 ton pada 2015. Luas lahan kakao

tersebut 87,4% dikelola oleh rakyat selebihnya dikelola perkebunan besar negara

(6,0%) dan perkebunan besar swasta (6,7%). Peranan penting komoditi ini adalah

sebagai sumber pendapatan, meningkatkan perkembangan ekonomi daerah

terutama daerah daerah pedesaan (Aptriani, 2017).

Kakao adalah sumber pendapatan utama keluarga pedesaan dan

memainian peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan serta dalam

memperbaiki kualitas hidup dibanyak negara tropis, termasuk Papua Nugini

(PNG). Meskupun demikian, manfaat potensial bahan tanam baru yang tersedia

sejak 1980an belum dapat diwujudkan. Perbaikan pengelolaan tanaman kakao

dewasa dapat menghasilkan produksi yang berkelanjutan lebih daripada 1000 kg

per hektar per tahun tetapi hasil rata rata saat ini masih 300 kg biji kakao per

hektar per tahun (Daniel dan David, 2009).

Hama tanaman didefinisikan sebagai binatang yang memakan tanaman

dan secara ekonomis merugikan. Hama merupakan semua organisme pengganggu

tanaman budidaya. Kelas Insekta merupakan bagian yang terbesar hama yang

diketahui. Insekta sangat mudah berpindah dan mempunyai daya adaptasi tinggi

terhadap lingkungan baru, selain itu insekta berkembangbiak dengan cepat

terutama pada kondisi yang menguntungkan (Arnita, 2017).


2

Jenis serangga hama yang menyerang tanaman kakao di Indonesia

jumlahnya sangat banyak. Salah satunya adalah ulat kantong, ulat kantong

mempunyai potensi sebagai serangga perusak tanaman karena memiliki inang

yang luas bahkan beberapa jenis gulma dapat menjadi inang alternatif sehingga

pada kondisi tertentu ulat kantong dapat mengakibatkan tanaman gundul dan tidak

berproduksi (Indriati dan Khaerati, 2013).

Berbagai cara pengendalian telah diketahui dan diuji pada kedua jenis

hama tersebut termasuk cara pengendalian yang sederhana, murah dan ramah

lingkungan antara lain dengan penggunaan pestisida nabati yang memanfaatkan

tumbuhan, penggunaan musuh alami seperti parasitoid, predator dan patogen

serangga serta penggunaan senyawa/bahan penolak serangga

(Siswanto dan Elna, 2012).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Hama Ulat Kantong

(Clania sp dan Mahasena sp) pada tanaman kakao (Theobroma cacao L.) dan

teknik pengendaliannya.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari paper ini adalah sebagai salah satu syarat untuk

dapat memenuhi komponen penilaian Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta

sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan


3

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Hama Ulat Kantong (Clania sp dan Mahasena sp)

Ulat kantong adalah hama yang biasa menyerang daun kakao hingga

menyebabkan tanaman menjadi gundul.Ulat kantong dapat diklasifikasikan

sebagai berikut Kingdom : Animalia, Subkingdom : Bilateria, Phylum :

Arthropoda, Subphylum : Mandibulata, Class : Insecta, Subclass : Dicondylia,

Ordo: Lepidoptera, Family : Acrolophidae, Genus : Mahasena, Species :

Mahasena corbetti (Pujianto, 2008).

Ciri khas utama dari ulat kantong adalah hidupnya didalam sebuah

bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan potongan daun, tangkai

bunga tanaman inang, disekitar daerah serangan. Ulat kantong C.ignobilis

ditemukan pada cabang tanaman. Klasifikasinya adalah Kingdom : Animalia,

Phylum : Arthropoda, Class : Insecta, Ordo : Lepidoptera, Family : Clania,

Genus : Clania ignobilis (Pracaya, 2009).

Keluarga ulat ini membentuk kantong, larva ini tinggal didalamnya sampai

dewasa. Hama ini bergerak dengan mengeluarkan kepala dan sebagian dadanya.

Bentuk kantongnya bermacam macam, ada yang kecil dan sempit serta ada pula

yang besar dan longgar. Jika ulat bertambah besar, kantong bagian mukanya

diperbesar dan diperpanjang untuk keperluan menggantung saat tidak berjalan.

Warna kantong ini hitam kelabu (Wijayanti dan Winiarti, 2013).

Siklus Hidup Hama Ulat Kantong (Clania sp dan Mahasena sp)

Telur bewarna kuning pucat dan berbentuk seperti tong yang

mempunyai lapisan korion yang halus. Telur akan berubah warna menjadi

kecokelatan menjelang penetasan dan masa inkubasinya adalah 19,7  0,3 hari.
4

Produktivitas betina pada pembiakan di laboratorium lebih tinggi daripada betina

yang hidup di alam bebas (Basri dan Kevan, 2012).

Kopulasi terjadi didalam kantung imago betina dengan telur yang

dihasilkan sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur diletakkan dalam

kantong imago betina dan menetas dalam waktu 18 hari. Produktivitas M.plana

relative rendah jika dibandingkan dengan spesies ulat kantong yang lain seperti

Mahasena corbetti rerata keperindian mencapai 2000-3000 telur per betina,

Eumeta variegate 300 telur/betina dan Pteroma plagiophleps 1774 telur/betina

(Siswanto, 2010).

Telur menetas dalam waktu 18 hari. Pada akhir perkembangannya dapat

mencapai panjang sekitar 12mm, dengan panjang kantong 15-17mm. Kantong

terbuat dari potongan kecil daun . Pada waktu berkepompong kantong terlihat

halus pada permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15mm dan

menggantung seperti kait di permukaan bawah daun (Sulistyo, 2010).

Pembentukan kantong hampir semua sama pada instar. Setelah penetasa,

instar pertama pada kantong pupa induk keluar dari bagian anterior kantong.

Kemudian larva tersebut mengerus jaringan pada permukaan daun kemudian

dikaitkan satu sama lain dengan benang sutera sehingga terbentuk kantong.

Seperti halnya dengan ulat kantong yang lain, pengenala instar dilakukan dengan

mengukur lebar kapsul kepala larva (Siswanto, 2010)..

Ciri khas masing masing instar adalah : instar 1, permukaan kantong relatif

lembut; instar 2, sedikit kecil dari instar 1 dan sekeliling potongan daun terikat

dengan longgar pada bagian ujung anterior kantong; instar 3, lebih besar,

potongan daun daun berbentuk bulat sampai persegi panjang yang terikat dengan
5

longgar, terlihat seperti semak; instar 5, kebanyakan potongan daun yang longgar

menempel kebawah, terlihat halus dan terdapat tanda putih yang menyempit ;

instar 6, semua potongan daun yang longgar menempel kebawah dan tanda putih

melebar sampai seperempat panjang kantong; instar 7, sama dengan instar 6 tetapi

dengan tanda putih yang lebih lebar dan lebih panjang (Basri dan Kevan, 2012).

Larva yang baru menetas bewarna kuning kecokelatan. Dengan benang air

liurnya larva akan keluar dari dan bergantungan mencari sasaran, kadang kadang

larva tetap berkelompok disekitar kantong induknya. Pembentukan kantong

hampir sama pada semua instar. Setelah penetasan, instar pertama berada pada

kantong pupa induk dan keluar dari bagian anterior kantong. Kemudian larva

tersebut memotong jaringan dari permukaan daun, kemudian dikaitkan satu sama

lain dengan sutera (Sulistyo, 2010).

Ulat berkepompong menjadi pupa. Pada masa kepompong kantung ini

menggantung di permukaan bawah helaian daun dengan benang penggantungnya

berbentuk kait pada Ulat Kantong (M.plana). Siklus hidupnya 3 bulan dimana

stadia telur 18hari, ulat 50hari (4-5instar) dan berkepompong 25 hari. Tingkat

populasi kritis pada pelepah daun adalah 5-10 ulat/pelepah (Lubis, 2008).

Dimorphisme seksual juga tercatat pada ukuran pupa

(jantan lebih kecil dari betina). Panjang pupa jantan lebih pendek dibandingkan

betina ( 8-12mm vs 11-15mm). Pupa jantan menggantung seperti kait

pada permukaan bawah daun. Waktu perkembangan pupa keseluruhan selama 25

hari (Siswanto,2010).

Imago jantan dewasa hama Ulat kantong mempunyai sayap seperti kupu

kupu, sehingga dapat terbang. Sedangkan imago betina tidak mempunyai sayap,
6

sehingga tetap tinggal didalam kantong. Imago betina dapat hidup selama 7 hari

dan menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir serta akan mati setelah telur

menetas. Imago jantan memiliki rentan sayap hingga 12-20mm dan dapat terbang.

Sayap bewarna cokelat kehitaman dan dapat hidup selama 1-2hari dalam kondisi

laboratorium untuk melakukan kopulasi. Imago jantan akan mendatangi imago

betina untuk melakukan perkawinan (Sulistyo, 2010).

Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna didalam

managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari

siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu

tindakan pengendalian yang paling tepat. Informasi siklus hidup juga akan

memberikan pemahaman biologi yang lebih baik bagi pengelolaan hama

(Kusuma, 2003).

Gejala Serangan Hama Ulat Kantong (Clania sp dan Mahasena sp)

Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tajuk tanaman

yang kering seperti terbakar dan menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat

mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat

kantong tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman denga umur leboh

dari 8tahun (Umar, 2013).

Hama ulat kantong mulai menyerang dari tengah daun sehingga

daun berlubang lubang, kerusakan yang disebabkannya dalam bentuk bercak

bercak nekrotis (hangus) karena banyak daun menjadi kering. Ulatnya kecil tetapi

serangannya lebih berat karena ulat memakan dan cepat berpindah pindah.

Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong

(Sembiring, 2013).
7

Ulat kantong menyerang daun dalam bentuk lingkaran kecil yang makin

lama makin lebar dan luas. Penyerangan ini dimulai dari pinggir daun dengan

bentuk tidak rata. Ulat kantong ini tidak memakan lidi daun. Pada serangan berat

tanaman tampak gundul. Di lapangan serangan ulat kantong ditandai dengan

kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar

(Prawirosukarto, 2002).

Gejala serangan Ulat Kantong adalah daun tidak utuh lagi, rusak dan

berlubang-lubang. Kerusakan helaian daun dimulai dari lapisan epidermisnya.

Kerusakan lebih lanjut adalah mengeringnya daun yang menyebabkan tajuk

bagian bawah berwarna abu-abu dan hanya daun muda yang masih berwarna

hijau. Kerusakan akibat hama ini dapat menimbulkan susut produksi sekitar 40 %

(Sudharto dkk, 2006).

Penyebaran Hama Ulat Kantong (Clania sp dan Mahasena sp)

Naik turunnya serangan ulat kantong ditentukan oleh dinamika populasi

larva. Perbedaan tanaman inang akan berpengaruh terhadap kemampuan larva

dalam merusak tanaman. Faktor tekanan (stress) dari luar merupakan faktor

negatif dalam perkembangan ulat. Pengurangan nutrisi pada tanaman yang

mengakibatkan tanaman mengalami stress juga berpengaruh pada perkembangan

ulat. Tanaman dengan nitrogen tinggi akan memberikan nutrisi yang baik untuk

ulat kantong dalam perkembangannya (Indirati dan Khaerati, 2013).

Penyebaran oleh ulat kantong dapat dipercepat oleh angin, binatang dan

manusia. Walaupun demikian, penyerangannya lebih lambat daripada ulat api. Hal

ini karena imago betina ulat kantong tidak dapat berpindah seperti halnya ulat api.

Tanaman pada semua umur cukup rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi
8

lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun.

Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada

tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan

(Purba dan Rolettha, 2004).

Di lapangan serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan

tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Kehilangan daun dapat

mencapai 46,60% Tanaman pada semua umur cukup rentan terhadap serangan

ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur

lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran

ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling

bersinggungan (Sulistyo, 2010).

Mudahnya penyebaran ulat kantung ini berasal dari dukungan berbagai

macam media penyebaran seperti angin, pengangkutan, dan pekerja lapangan

disamping populasi generasi (500 s/d 3.000 ekor pupa per kantung). Ulat sangat

aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang agak kasar atau

kasar. Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala

dan kaki depannya dari dalam kantong (Sembiring, 2013).


9

PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN KAKAO


( Theobroma cacao L.)

Kultur Teknis

Pengendalian secara kultur teknis (Cultural control), pada prinsipnya

merupakan cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan

perkembangan populasi hama. Pengendalian ini merupakan pengendalian yang

bersifat preventif. Contoh pengelolaan tanah, sanitasi, pemupukan, irigasi, strip

farming, rotasi tanaman dan pengaturan waktu tanaman (Lubis, 2008).

Pemeliharaan tanaman atau kontrol hama yang baik dapat meningkatkan

kesehatan tanaman. Penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit,

serta penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Secara tidak langsung, kultur teknis yang baik dapat memantau keberadaan hama

dan penyakit secara dini (Wiasa, 2017).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kultur teknis

yaitu : pengurangan kesesuaian ekosistem sanitasi, penghancuran atau modofikasi

inang dan habitat pengganti, pengerjaan tanah, pengolahan air, ganguan

komunitas penyedian berkembangnya penyakit, pergiliran tanaman, perkiraan

lahan, penanaman serempak, penetapan jarak tanam, lokasi tanaman, dan

memutuskan sinkronisasi antar tanaman dan penyakit (Nugroho, 2015).

Mekanis/Fisik

Pengendalian hama secara mekanis mencakup usaha untuk menghilangkan

secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis

ini biasanya bersifat manual, yaitu dengan cara pemangkasan pelepah yang

terdapat banyak larva ulat, mengambil larva yang sedang menyerang dengan
10

tangan secara langsung, menumpuk dan kemudian membakarnya

(Sunarko, 2007).

Pengendalian mekanik bertujuan untuk mematikan atau memindahkan hama

secara langsung, baik dengan tangan atau dengan bantuan alat dan bahan lain.

Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian dan penyebaran hama. Jadi dapat

ditentukan waktu pengendalian mekanik yang tetap, dan fase hidup yang menjadi

praktik pengendalian hama, yaitu pengambilan dengan tangan, gropyokan,

memasang perangkap, pengusiran, dan cara-cara lain (Kusuma, 2003).

Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan mengubah lingkungan

khusus untuk mematikan atau menghambat kehidupan hama dan bukan

merupakan bagian praktek budidaya yang umum. Pengendalian fisik dan mekanik

harus dilandasi oleh pengetahuan yang menyeluruh tentang ekologi serangan

hama sehingga dapat diketahui kapan, dimana, dan bagaimana tindakan terdebut

harus dilakukan agar diperoleh hasil seefektif dan seefisien mungkin

(Sunarko, 2007).

Biologi

Pengendalian secara biologi dilakukan dengan melestarikan parasit dan

predator alami ulat kantong. Di antara parasitoid yang berkerja cukup efektif

adalah Goryhus bunoh, Hiper parasitoid, dan Dolichogenidea metesae. Selain itu,

Bacillus thuringiensis dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami yang ramah

terhadap lingkungan (Pracaya, 2009).

Parasitoid yang sering digunakan untuk mengendalikan hama ulat kantong

antara lain parasitoid primer dan sekunder, serta predator mempengaruhi populasi

ulat Mahasena corbetti. Telah ditemukan 33 jenis parasitoid dan 11 jenis predator
11

hama pemakan daun . Penggunaan Bacillus thuringiensis (Bt) sebagai insektisida

biologi. Contoh produk Bt yaitu Dipel WP, Turex WP, Bactospene WP

(Prawirosukarto, 2002).

Pengendalian alami adalah merupakan proses pengendalian yang berjalan

dengan sendiri tanpa ada campur tangan manusia. Pengendalian alami terjadi

tidak hanya karena bekerjanya musuh-musuh alami tetapi juga karena bekerjanya

komponen-komponen ekosistem. Dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau

memanipulasi musuh-musuh alami untuk menurunkan populasi hama

(Siswanto, 2010).

Kimia

Pengendalian OPT secara kimiawi merupakan pengendalian OPT dengan

menggunakan zat kimia. Pengendalian OPT ini biasa dilakukan dengan

penyemprotan zat kimia pada bagian tumbuhan. Pengendalian OPT ini sering

dilakukan oleh petani. Oleh karena itu, pengendalian hama secara kimiawi serig

dimasukkan kedalam langkah pemberantasan hama (Yenti, 2015).

Pengendalian secara kimiawi dilakukan sebagai pilihan terakhir apabila

keadaan cara lain tidak dapat menghentikan perkembangan populasi ulat kantong

di areal kelapa sawit. Mengingat hama ini selalu terlindung di dalam kantongnya,

maka pada prinsipnya perlu digunakan insektisida yang bersifat racun perut atau

sistemik (Sembiring, 2013).

Ulat kantong dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi

batang menggunakan insektisida. Jenis insektisida yang biasa digunakan

menggunakan bahan aktif Deltametrin. Untuk tanaman yang lebih muda (< umur

2 tahun), knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan . Untuk tanaman


12

lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi

batang. Contoh produknya adalah Decis 25 EC dengan dosis anjuran 200-300

ml/Ha (Pracaya, 2009).