Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan


intoleren glukosa. Penyakit ini dapat dikelola dengan menyesuaikan
perencanaan makanan, kegiatan jasmani dan pengobatan yang sesuai
dengan pengelolaan diabetes di Indonesia dan perlunya diadakan
pendekatan individual bagi penderita diabetes.
Diabetes mellitus sering disebut sebagai the great imitator karena
penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan
berbagai macam keluhan dengan gejala sangat bervariasi. Gejala-gejala
tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan sampai ketika orang
tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya.
Diabetes Mellitus berhubungan dengan meningkatnya kadar
glukosa darah dan bertambahnya risiko komplikasi gawat darurat bila
tidak dikelola dengan baik(Soegondo,2004). Komplikasi dapat timbul oleh
karena ketidak patuhan pasien dalam menjalankan program terapi
sebagai berikut : pengaturan diet, olah raga dan penggunaan obat-obatan
(Putra,2000). Berbagai penelitian telah menunjukan ketidak patuhan
pasien DM terhadap perawatan diri sendiri( Efendi Z,2002).
Jumlah penderita DM di dunia dan Indonesia diperkirakan akan
meningkat, jumlah pasien DM di dunia dari tahun 1994 ada 110,4 juta,
1998 kurang lebih 150 juta, tahun 2000= 175,4 juta (1 ½ kali tahun 1994),
tahun 2010=279,3 juta ( kurang lebih 2 kali 1994). Di Indonesia dapatlah
diperkirakan jumlah penderita DM pada tahun 1994 adalah 2,5 juta, 1998=
3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta.
Disamping peningkatan prevalensi DM, penderita memerlukan
perawatan yang komplek dan perawatan yang lama. Kepatuhan berobat
merupakan harapan dari setiap penderita DM. Berarti setiap penderita DM
sanggup melaksanakan instruksi–instruksi ataupun anjuran dokternya

1.
agar penyakit DM nya dapat dikontrol dengan baik(Haznam,2004). Pada
umumnya penderita DM patuh berobat kepada dokter selama ia masih
menderita gejala / yang subyektif dan mengganggu hidup rutinnya sehari-
hari. Begitu ia bebas dari keluhan – keluhan tersebut maka kepatuhannya
untuk berobat berkurang. Ketidakpatuhan ini sebagai masalah medis yang
sangat berat, Taylor (1998). La Greca & Stone (1999)menyatakan bahwa
mentaati rekomendasi pengobatan yang dianjurkan dokter merupakan
masalah yang sangat penting. Tingkat ketidakpatuhan terbukti cukup
tinggi dalam populasi medis yang kronis. Walaupun pasien DM telah
mendapatkan pengobatan OAD, masih banyak pasien tersebut
mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
pengetahuan yang relatif minim tentang penyakit DM, tidak menjalankan
diet dengan baik dan tidak melakukan latihan fisik secara teratur
(Tjokroprawiro,A.,1998).
Salah satu upaya pencegahan DM adalah dengan perbaikan pola
makan melalui pemilihan makanan yang tepat. Semakin rendah
penyerapan karbohidrat, semakin rendah kadar glukosa darah.
Kandungan serat yang tinggi dalam makanan akan mempunyai indeks
glikemik yang rendah sehingga dapat memperpanjang pengosongan
lambung yang dapat menurunkan sekresi insulin dan kolesterol total
dalam tubuh. Menurut Basuki (2004), penderita DM dianjurkan menganut
pola makan seimbang.
Pengetahuan pasien tentang pengelolaan DM sangat penting untuk
mengontrol kadar glukosa darah. Penderita DM yang mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang diabetes, kemudian selanjutnya
mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya
sehingga dapat hidup lebih lama (Basuki, 2005).
Sehingga keperawatan keluarga di sini sangat dibutuhkan untuk
memberikan bimbingan, arahan, dan pengetahuan bagi semua anggota
keluarga untuk dapat menjaga kesehatannya teruatama dalam hal
mencegah supaya gangguan kesehatan yang muncul dapat dikendalikan.

1.
B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar klinik mampu
menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan pada pasien diabetes melitus dan
perkembangan keluarga.
2. Tujuan khusus :
a. Mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan
keluarga
b. Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan
masalah kesehatan keluarga
c. Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan
d. Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan
e. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga
g. Membantu meningkatkan pengetahuan anggota keluarga
tentang penyakit diabetes mellitus.

1.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar

1. Keperawatan Kesehatan Keluarga

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup


bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu
mempunyai peran masing-masing yang mempunyai peran masing-
masing yang merupakan bagian dari keluarga. ( Friedman, 1998).
Keluarga merupakan sistem sosial karena terdiri dari kumpulan
dua orang atau lebih yang mempunyai peran sosial yang berbeda
dengan ciri saling berhubungan dan tergantung antarindividu
(Suprajitno, 2002). Keluarga sebagai unit pelayanan perawatan
adalah keluarga sebagai unit utama dari masyarakat dan merupakan
lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat, keluarga sebagai
kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau
memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya
sendiri, masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit
pada salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh
keluarga tersebut, keluarga merupakan perantara yang efektif dan
mudah untuk berbagai usaha-usaha kesehatan masyarakat, keluarga
merupakan lingkungan yang serasi untuk mengembangkan potensi
tiap individu dalam keluarga. (Friedman, 1998).

2. Type-Type Keluarga

a. Keluarga inti (Nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari ayah,
ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau
keduanya.
b. Keluarga besar (Extended family) yaitu keluarga inti ditambah
dengan anggota keluarga yang lain yang masih mempunyai
1.
hubungan darah, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara
sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Kelurga bentukan kembali (Dyadic family) yaitu keluarga baru yang
terbentuk dari pasangan yang telah cerai atau kehilangan
pasangannya.
d. Keluarga dengan orang tua tunggal (single parent family) yaitu
keluarga yang Terdiri dari salah satu orang tua dengan anak-anak
akibat perceraian atau ditinggal pasangannya.
e. Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (Cahabitation) yaitu dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

3. Tanggung Jawab Perawat dalam keperawatan keluarga

Perawat yang melakukan pelayanan keperawatan di rumah


mempunyai tanggung jawab yang meliputi :
a. Memberikan pelayanan secara langsung
Pelayanan keperawatan dapat meliputi pengakajian fisik
atau psikososial, menunjukkan pemberian tindakan secara
trampil dan memberikan intervensi. Kerjasama dari klien dan
keluarga serta pemberi perawatan utama di keluarga dalam
perencanaan sangaat penting untuk menjaga kesinambungan
perawatan selama perawat tidak ada di rumah. Perawat hanya
memberikan perawatan dalam waktu yang terbatas. Perawatan
yang dilakukan di rumah lebih merupakan tanggung jawab dari
keluarga dari pada perawat. Oleh karena itu pendidikan
kesehatan menjadi intervensi yang utama dalam perawatan di
rumah.
b. Dokumentasi
Pendokumentasian yang dilakukan selama perawatan di

1.
rumah sangat penting untuk melihat kemajuan keluarga dalam
mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya.
c. Koordinasi antara pelayanan dan manajemen kasus
Perawat bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan para
professional lain dalam memberikan pelayanan kepada keluarga.
Focus peran perawat yang yang menjadi manajer kasus adalah
kemampuan untuk mengkaji kebutuhan, menentukan prioritas
kebutuhan, mengidentifikasi cara untuk mememuhi kebutuhan
tersebut dan mengimplementasikan rencana yang disusun.

B. Konsep Masalah Kesehatan

1. Pengertian Diabetes Melitus

Mansjoer (1999) menyatakan bahwa DM adalah keadaan


hiperglikemi kronik yang disertai dengan berbagai kelainan metabolik
akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Sedangkan Tapan ( 2006 ) menjelaskan bahwa DM adalah
penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin (
kuantitas / kualitas ) baik oleh keturunan atau didapat. Konsentrasi
glukosa yang berlebih pada darah dapat menyebabkan kerusakan sel
tubuh.
Dari berbagai definisi diatas tentang DM diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa DM adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
gangguan hormonal ( dalam hal ini adalah hormon insulin yang
dihasilkan oleh pankreas) dan melibatkan kelainan metabolisme
karbohidrat dimana seseorang tidak dapat memproduksi cukup insulin
atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik,
karena proses autoimmune, dipengaruhi secara genetik dengan gejala

1.
yang pada akhirnya menuju tahap perusakan imunologi sel – sel yang
memproduksi insulin.

2. Penyebab

DM dapat disebabkan oleh banyak faktor. Noer ( 1999 )


menyebutkan bahwa ada 4 penyebab terjadinya DM, yaitu faktor
keturunan, fungsi sel pankreas, dan sekresi insulin yang berkurang,
kegemukan atau obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan
dengan resistensi insulin.
Faktor keturunan dapat menjadi penyebab yang mengambil
peranan paling penting dalam terjadinya DM karena pola familial yang
kuat (keturunan) mengakibatkan terjadinya kerusakan sel sel beta
pankreas yang memproduksi insulin. Sehingga terjadi kelainan dalam
sekresi insulin maupun kerja insulin ( Long, 1996 ).
Kegemukan atau obesitas dapat sebagai pencetus terjadinya
DM karena insiden DM menurun pada populasi dengan suplai yang
rendah dan meningkat pada mereka yang mengalami perubahan
makanaan secara berlebihan. Obesitas merupakan faktor resiko tinggi
DM karena jumlah reseptor insulin menurun pada obesitas
mengakibatkan intoleransi glukosa dan hiperglikemia ( Price dan
Wilson, 1995 ).

3. Klasifikasi

Klasifikasi yang ditentukan oleh National Diabetes Data Group of


The National Institutes of Health, sebagai berikut :
a. Diabetes Melitus tipe I atau IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Melitus
) atau tipe juvenile Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan
ketergantungan pada terapi insulin untuk mempertahankan hidup.

1.
b. Diabetes Melitus tipe II atau NIDDM ( Non Insulin Dependent Diabetes
melitus) Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan
ada kecenderungan familiar.
c. Gestational Diabetes Disebut juga DMG atau diabetes melitus
gestational. Yaitu intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan,
dimana meningkatnya hormon – hormon pertumbuhan dan
meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang
mengurangi keefektifitasan insulin. Intoleransi glukosa Berhubungan
dengan keadaan atau sindroma tertentu., yaitu hiperglikemi yang terjadi
karena penyakit lain.

4. Pathofisiologi

Insulin diproduksi dalam pankreas, yang merupakan kelenjar


eksokrin dan endokrin. Terdapat 3 jenis sel – sel endokrin, yaitu sel
alpha yang memproduksi glukagon ; sel beta, yang mensekresi insulin;
sel delta yang mensekresi gastrin dan somatostatin
pankreas.Mekanisme kerja insulin adalah hipoglikemik dan anabolitik.
Dalam keadaan normal jika terdapat insulin, asupan glukosa yang
melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen dalam sel –
sel hati dan otot yang disebut proses glikogenesis. Proses ini
mencegah terjadinya hiperglikemi.
Ketosis menyebabkan asidosis dan terjadi koma. Hiperglikemia
meningkatkan osmolaritas darah. Jika konsentrasi glukosa dalam darah
meningkat dan melebihi ambang ginjal, maka pada penyaringan di
glomerulus dan reabsorpsi glukosa pada tubulus pun berkurang
sehingga terjadi glukosuria. Karena glukosa dalam larutan, maka
pengeluaran urine pun banyak sebanding dengan pengeluaran
glukosa. Hal ini dinamakan poliuri. Banyak garam mineral tubuh pun
ikut keluar bersama urine sehingga menyebabkan kekurangan kadar
garam dan terjadi penarikan cairan dari intraseluler dan ektraseluler
dan merangsang rasa haus berkepanjangan ( polidipsi ), starvasi

1.
seluler dan kehilangan kalori akan merangsang rasa lapar yang
berkepanjangan ( polifagi ).

5. Manifestasi Klinis

Gejala klasik pada DM adalah :


a. Poliuri ( banyak buang air kecil ), frekuensi buang air kecil
meningkat termasuk pada malam hari.
b. Polidipsi ( banyak minum ), rasa haus meningkat
c. Polifagi ( banyak makan ), rasa lapar meningkat.

Gejala lain yang dirasakan penderita

a. Kelemahan atau rasa lemah sepanjang hari.


b. Keletihan
c. Penglihatan atau pandangan kabur.
d. Pada keadaan ketoasidosis akan menyebabkan mual, muntah dan
penurunan kesadaran.

Tanda yang bisa diamati pada penderita DM adalah :

a. Kehilangan berat badan.


b. Luka, goresan lama sembuh.
c. Kaki kesemutan, mati rasa.
d. Infeksi kulit.

6. Pemeriksaan Penunjang

Mansjoer ( 1999 ), mengatakan bahwa pemeriksaan penunjang


sangat penting dilakukan pada penderita DM untuk menegakkan
diagnosa. Kelompok resiko DM, yaitu kelompok usia dewasa tua ( lebih
dari 40 tahun ), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM,
riwayat kehamilan dengan bayi lebih dari 4000 gram, riwayat DM
selama kehamilan.

1.
Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan gula darah
sewaktu kemudian dapat diikuti dengan Test Toleransi Glukosa Oral (
TTGO ). Untuk kelompok resiko yang hasil pemeriksaanya negatif,
perlu pemeriksaan ulangan setiap tahunnya.
Pada pasien dengan DM di pemeriksaan laboratoriumnya akan
didapatkan hasil gula darah puasa > 140 mg/dl pada dua kali
pemeriksaan. Dan pada pemeriksaan gula darah post prandial > 200
mg/dl

7. Komplikasi

Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi


akut dan komplikasi kronik. ( Carpenito, 2001 )
Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus
yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa
darah dalam jangka pendek, ketiga komplikasi tersebut adalah (
Smeltzer, 2002)
a. Diabetik Ketoasedosis ( DKA )
Ketoasedosis diabatik merupakan defisiensi insulin berat dan akut
dari suatu perjalananpenyakit diabetes mellitus. Diabetik
ketoasedosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata
b. Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN)
Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang
didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai
perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perbedaan utama KHHN
dengan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada
KHHN (Smetzer, 2002)
c. Hypoglikemia
Hypoglikemia ( Kadar gula darah yang abnormal yang rendah)
terjadi kadar glukosa dalam darah turun dibawah 50 hingga 60
mg/dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin

1.
atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu
sedikit (Smeltzer, 2002)

Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada dasarnya terjadi


pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati
Diabetik). Angiopati Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu : (Long 1996) :
a. Mikrovaskuler
1) Penyakit Ginjal
Salah satu akibat utama dari perubahan – perubahan
mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal.
Bila kadar glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi
ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran
protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002 )
2) Penyakit Mata (Katarak)
Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan
sampai kebutaan. Keluhan penglihan kabur tidak selalu
disebabkan retinopati (Sjaifoellah, 1999). Katarak disebabkan
karena hiperglikemia yang berkepanjangan yang menyebabkan
pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long, 1996)
3) Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf
otonom, Medulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi
sorbital dan perubahan – perubahan metabolik lain dalam sintesa
atau fungsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat
menimbulkan perubahan kondisi saraf ( Long, 1996)

b. Makrovaskuler

1) Penyakit Jantung Koroner


Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka
terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya
keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi.

1.
Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan
mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita
penyakit jantung koroner atau stroke
2) Pembuluh darah kaki
Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf – saraf sensorik,
keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak
terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren. Infeksi dimulai
dari celah – celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel –sel
kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki yang
menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah – daerah yang
tekena trauma (Long, 1996)
3) Pembuluh darah otak
Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga
suplai darah keotak menurun (Long, 1996)

8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan secara medis


a. Obat Hipoglikemik oral
1) Golongan Sulfonilurea / sulfonyl ureas
Obat ini paling banyak digunakan dan dapat
dikombinasikan denagn obat golongan lain, yaitu biguanid,
inhibitor alfa glukosidase atau insulin. Obat golongan ini
mempunyai efek utama meningkatkan produksi insulin oleh sel-
sel beta pankreas, karena itu menjadi pilihan utama para
penderita DM tipe II dengan berat badan yang berlebihan. Obat
– obat yang beredar dari kelompok ini adalah:
(a) Glibenklamida (5mg/tablet).
(b) Glibenklamida micronized (5 mg/tablet).
(c) Glikasida (80 mg/tablet).
(d) Glikuidon (30 mg/tablet).
2) Golongan Biguanid / Metformin

1.
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi glukosa
hati, memperbaiki ambilan glukosa dari jaringan (glukosa
perifer). Dianjurkan sebagai obat tunggal pada pasien
dengan kelebihan berat badan.
3) Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase
Mempunyai efek utama menghambat penyerapan
gula di saluran pencernaan, sehingga dapat menurunkan
kadar gula sesudah makan. Bermanfaat untuk pasien
dengan kadar gula puasa yang masih normal.
b. Insulin
1) Indikasi insulin
Pada DM tipe I yang tergantung pada insulin biasanya
digunakan Human Monocommponent Insulin (40 UI dan 100
UI/ml injeksi), yang beredar adalah Actrapid. Injeksi insulin
juga diberikan kepada penderita DM tipe II yang kehilangan
berat badan secara drastis. Yang tidak berhasil dengan
penggunaan obat – obatan anti DM dengan dosis maksimal,
atau mengalami kontraindikasi dengan obat – obatan tersebut,
bila mengalami ketoasidosis, hiperosmolar, dana sidosis
laktat, stress berat karena infeksi sistemik, pasien operasi
berat, wanita hamil dengan gejala DM gestasional yang tidak
dapat dikontrol dengan pengendalian diet.
2) Jenis Insulin
(a) Insulin kerja cepat Jenis – jenisnya adalah regular insulin,
cristalin zink, dan semilente.
(b) Insulin kerja sedang Jenis – jenisnya adalah NPH (Netral
Protamine Hagerdon)
(c) Insulin kerja lambat Jenis – jenisnya adalah PZI (Protamine
Zinc Insulin)

Penatalaksanaan secara keperawatan


a. Diet

1.
Salah satu pilar utama pengelolaan DM adalah perencanaan makan.
Walaupun telah mendapat tentang penyuluhan perencanaan
makanan, lebih dari 50 % pasien tidak melaksanakannya. Penderita
DM sebaiknya mempertahankan menu diet seimbang, dengan
komposisi idealnya sekitar 68 % karbohidrat, 20 % lemak dan 12 %
protein. Karena itu diet yang tepat untuk mengendalikan dan
mencegah agar berat badan tidak menjadi berlebihan dengan cara :
Kurangi kalori, kurangi lemak, konsumsi karbohidrat komplek, hindari
makanan yang manis, perbanyak konsumsi serat.

b. Olahraga
Olahraga selain dapat mengontrol kadar gula darah karena membuat
insulin bekerja lebih efektif. Olahraga juga membantu menurunkan
berat badan, memperkuat jantung, dan mengurangi stress. Bagi
pasien DM melakukan olahraga dengan teratur akan lebih baik, tetapi
jangan melakukan olahraga yang berat – berat.

1.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN MASALAH DM pada Tn.W

I. PENGKAJIAN
Hari / tanggal : 03 Juni 2015

Oleh : Mahasiswa kelompok III

A. Struktur dan sifat keluarga :


1. Identitas Kepala Keluarga.
Nama : Tn. W

Umur : 68 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan terakhir : SD

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Desa Runggu Kec. Belo

2. Daftar anggota keluarga


HUB
NO NAMA UMUR SEX PNDDKN PKRJN AGAMA KES
KK

1. Tn W 68 L Suami SD Swasta Kr. Prot Lemah

2. Ny R. 63 P Istri SD IRT Kr. Prot Sehat

3. Nn.B 19 P Anak SMA - Kr. Prot Sehat

3. Anggota keluarga yang meninggal


Tidak ada anggota keluarga yang meninggal dalam 6 bulan terakhir.

4. Tipe keluarga

1.
Keluarga ini adalah keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri
dari ayah, ibu, anak-anak.

5. Genogram

Keterangan :

= Laki-laki = Garis perkawinan

= Perempuan = Tinggal serumah

Hobi masing – masing anggota


=6.Meninggal keluarga
= Klien
Masing-masing anggota keluarga tidak mempunyai hobi khusus, Ny R
mengatakan bahwa suaminya sibuk menjaga warung,anaknya sibuk dengan
bekerja, sedangkan Ny S sendiri hanya suka membersihkan rumah dan
kadang-kadang suka menyalurkan hobi memasak. Akan tetapi pada malam hari
mereka menonton TV bersama.

7. Hubungan antar anggota keluarga


Keluarga Tn. W tergolong keluarga yang harmonis dan bahagia, hubungan
dengan anak baik.

1.
8. Anggota yang berpengaruh dalam mengambil keputusan
Tn. W sebagai anggota kepala keluarga sangat dominan dalam mengambil
keputusan dan ini sering dimusyawarahkan dengan istrinya. Akan tetapi pada
saat ini sang anakpun turut berperan dalam pengambilan keputusan mengingat
kedua orang tua sudah lanjut usia.

9. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afeksi
Menurut keterangan keluarga Tn. W , dalam kehidupan sehari-
harinya mereka selalu damai dan saling menjaga kepentingan
bersama. Walaupun ada perselisihan-perselisihan kecil tapi pada
saat ini masih dapat teratasi.

b. Fungsi sosial
Keluarga Tn. W selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku
sosial yang baik. Contohnya kalau ada kegiatan kemasyarakatan,
keluarga selalu ikut didalamnya. Tapi untuk saat ini karena
keterbatasan fisik pertemuan pada malam hari sudah mulai
dibatasi.

c. Fungsi perawatan kesehatan.


Dalam hal kesehatan keluarga Tn. W masih kurang tahu tentang
cara merawat kesehatan anggota keluarganya yang DM.

d. Fungsi ekonomi
Pendapatan utama keluarga saat ini adalah dari hasil penjualan di
warung. Menurut Tn. W mendapatkan uang tambahan dari anak-
anak yang sudah berkeluarga setiap bulannya.

10. Kebiasaan anggota keluarga sehari-hari.


a. Nutrisi
1) Jenis makanan
Keluarga Tn. W makan 3 kali sehari, dengan komposisi : nasi, lauk
pauk, sayuran dan buah-buahan, susu kadang-kadang. Porsi
makan rata-rata satu sampai dua piring dan tergantung selera,
waktu makan tidak selalu bersama-sama tergantung dari waktu
masing-masing anggota kelurga.
1.
Tn. W mengatakan : bahwa saat ini telah mengurangi penggunaan
garam dan mengurangi konsumsi gula bahkan saat ini gula yang
dipakai yaitu tropokana slim. Selain itu konsumsi daging mulai
dikurangi.

2) Cara pengolahan makanan.


Tn. W mengolah makanan sebelum dimasak bahan dicuci baru
dipotong-potong.

3) Cara mengolah makanan


Makanan disajikan secara langsung setelah selesai dimasak dalam
keadaan hangat. Makanan dimasak untuk dimakan dalam sehari.
Bila tersisa ditutup, dihangatkan kembali bila disajikan dimakan
bersama-sama, dan biasanya keluarga makan bersama dimeja
makan.

b. Kebiasaan minum
Semua anggota keluarga mempunyai kebiasaan air putih dari air aqua
isi ulang rata-rata 6-8 gelas perhari (1 galon 3 hari).

c. Aktivitas dan istirahat


Kebiasaan istirahat masing-masing anggota keluarga tidak sama, rata-
rata 6-7 jam yaitu Pkl. 22.00 s/d 05.00 wita.

d. Rekreasi
Keluarga melakukan rekreasi bila ada kesempatan dan biasanya saat
ada kunjungan dari anak-anak barulah pergi ke tempat wisata atau
sekedar berkumpul-kumpul di kebun.

e. Pemanfaatan waktu senggang.


Waktu senggang dalam keluarga digunakan untuk santai contohnya
keluarga nonton Tv bersama.

f. Hygiene perorangan
Anggota keluaraga rata-rata mandi 1 x/hari dengan menggunakan
sabun dengan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, mencuci rambut
biasanya 1 x/hari dengan menggunakan shampo dan berganti pakaian
kalau kotor.

1.
B. Luar rumah
1. Lingkungan sekitar tempat tinggal cukup baik dan jarak antar rumah
cukup luas.
2. Depan dan samping rumah terdapat halaman dan dibagian depan
langsung terhubung dengan jalan umum.
3. Sampah ditampung ditempat yang ada dibelakang rumah. Sampah yang
ada biasanya dibakar.
4. Sumber air minum aqua isi ulang dan mampunyai sumur bor milik sendiri
dengan pompa listrik, dengan kondisi air cukup bersih.
5. Saluran pembuangan air limbah langsung melalui SPAL, tinja melalui
WC menggunakan jamban.

C. Denah Rumah
1. Gambar Rumah

Keterangan :

1. Ruang tamu
U
2. Warung
3. Kamar tidur
4. Kamar tidur
5. Ruang makan
9
6. Kamar mandi
8 7. WC
7 8. Dapur
9. Jalan raya
10. Tanah kosong

6 5 14 3 2

10

1.
2. Fasilitas
Fasilitas kesehatan yaitu puskesmas pembantu + 500 m sampe jarak
rumah dan RS Bethesda harus naik angkutan umum sekali dan jaraknya
sekitar 2 km.

D. Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Riwayat kesehatan sekarang :
Saat ini Tn. W mengeluh sering merasa panas dibagian kepala, pusing
dan sakit kepala.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan


membeli obat diwarung.

b. Riwayat kesehatan sekarang :


Sebelumnya Tn. W hanya menderita diabetes melitus sejak 10 tahun
yang lalu, dan sudah sering berobat kedokter dan ke puskesmas, akan
tetapi seringkali hanya pergi ke perawat yang ada di desa.

II. KEADAAN FISIK Tn. W


1. Ku : lemah , BB : 76 kg, Tb : 153 cm
2. Tanda-tanda vital :
T : 200/100 mmHg

N : 88 x/mnt

R : 24 x/mnt

3. Kepala : bentuk kepala bulat, rambut mulai beruban.


4. Mata : konjungtiva agak kemerahan, penglihatan kadang berkunang-kunang
sehingga mengeluarkan air mata dan pada saat ini sudah menggunakan
kacamata untuk membantu penglihatan.
5. Leher : kelenjar tiroid tidak membesar, tidak ada luka bekas operasi
6. Dada : simetris
7. Abdomen : kadang kala merasa sakit di bagian px.
8. Ekstremitas : tidak ada edema, tidak terdapat varises tungkai
9. Genetalia : Tidak ada keluhan.

1.
III. POLA KEGIATAN SEHARI-HARI (GORDON)
a. Pola Persepsi Management Kesehatan :
 Tn. W belum tahu diet penderita DM, karena masih sering makan makanan
yang manis.
b. Pola Nutrisi Metabolic
1. Makanan
 Jika makan tidak merasa mual/muntah
 Porsi makan Tn. W mulai berkurang
 Terjadi gangguan menalan karena ada sariawan.
2. Minuman
 Jumlah air yang diminum : + 1200 cc (6 gelas)
 Jenis air yang diminum : Air putih
c. Pola Eliminasi
1. Buang Air Kecil
 Rasa Nyeri : tidak
 Frekuensi : >3 x/hari
 Warna urine : Kuning
 Bau urine : Amoniak
2. Buang Air Besar
 Rasa nyeri : tidak
 Frekuensi : 1 x/hari
 Warna faeces : Kekuningan
 Konsistensi : Lembek
d. Pola Aktivitas dan Latihan
1. Mobilisasi
 Aktivitas Tn. W : Bisa sendiri.
 Menggunakan alat Bantu : Tidak
 Gangguan lain yang dirasakan Tn. W saat beraktivitas adalah
kelelahan.
2. Respirasi
 Tn. W tidak merasa sesak nafas R : 24 x/mnt
 Tn. W merasa batuk.

1.
e. Pola Tidur/Istirahat
 Tidur malam : Jam 10.00 dan bangun Jam 06.00.
 Tidur siang : Jam 13.00 dan bangun Jam 15.00.
f. Pola Kognitif Perceptual
 Status Mental Tn. W : Sadar
 Kemampuan berbicara, membaca dan interaksi : normal
 Penglihatan Pasien : Berkurang
 Vertigo : Normal
g. Pola Persepsi/Konsep Diri
 Harga diri, ideal diri, identitas diri, gambaran diri serta ideal diri pasien tidak
terganggu.
h. Pola Peran Hubungan
 Peran dan hubungan Tn. W dengan orang-orang terdekat : baik.
 Beberapa anak-anak dan cucu-cucu sering berkunjung.
i. Pola Seksual/Reproduksi
 Pola seksual Tn. W : tidak ada gangguan.
j. Pola Koping Toleransi.
 Masalah utama Tn. W selama ini adalah belum tahu cara diet DM dan sering
mengkonsumsi gula.
k. Pola Nilai Kepercayaan.
 Tn. W menganut agama Kristen Protestan
 Tn. W taat menjalankan ibadah, masih rajin pergi Gereja.

1.
IV. ANALISA DATA

NO DATA PENYEBAB (E) MASALAH (P)

1. Data subjektif :

Saat ini Tn. W mengeluh


sering merasa panas
Kurang 1. Ketidakmampuan
dibagian kepala, pusing dan
Pengatahuan keluarga
sakit kepala.
tentang penyakit melakukan
Data Objektif : DM. upaya untuk
merawat.
BB : 76 kg, Tb : 153 cm

Tanda-tanda vital :

T : 200/100 mmHg

N : 88 x/mnt

R : 24 x/mnt

GDS : 171

2. Data subjektif :

Tn. W pernah berobat ke


dokter praktek dan
Kurang 2. Tidak
dianjurkan untuk kontrol
Pengatahuan menggunakan
kembali dan meminum obat
tentang prosedur sarana
secara teratur. Akan tetapi
pelayanan kesehatan
pada saat ini Tn. W mulai
kesehatan.
malas pergi ke dokter untuk
kunjungan berikutnya.

1.
V. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal gejala DM berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan keluarga tentang DM.
2. Ketidakmampuan keluarga kesarana pelayanan kesehatan untuk mengontrol
gula darah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang
manfaat serta prosedur pelayanan kesehatan.

VI. INTERVENSI
TUJUAN
TUJUAN JANGKA
NO DIAGNOSA JANGKA INTERVENSI
PENDEK
PANJANG

1 Ketidakmampuan Setelah 5 kali 1. Setelah 2 kali Berikan penyuluhan


keluarga kunjungan kunjungan rumah tentang :
mengenal gejala rumah keluarga keluarga dapat/
DM berhubungan dapat mampu
dengan mengenal menjelaskan arti - Tanda dan gejala,
kurangnya gejala DM. DM. penyebab, serta
pengetahuan 2. Keluarga mampu komplikasi dari DM
keluarga tentang menjelaskan tanda - Diet pasien DM.
DM dan gejala DM. - Masalah yang
3. Keluarga mampu timbul saat DM
menjelaskan - Diskusikan dengan
penyebab DM. keluarga tentang
4. Keluarga mampu keadaan yang
menjelaskan dialami
komplikasi dari DM.
5. Keluarga mampu
menjelaskan
tindakan dalam
mengatasi masalah
DM.
2 Ketidak Setelah 5 kali Setelah 2 kali Berikan penyuluhan
mampuan kunjungan kunjungan rumah, tentang :
keluarga rumah, keluarga dapat kriteria :
1. Apa yang

1.
merawat keluarga dapat 1. Keluarga dapat dimaksud dengan
kesarana merawat lanjut mengerti tentang sarana pelayanan
pelayanan ke fasilitas dsarana pelayanan kesehatan
kesehatan untuk pelayanan kesehatan 2. Manfaat
mengontrol kesehatan 2. Keluarga dapat pelayanan
tekanan darah terdekat dan mengetahui kesehatan dan
dan gula darah dapat manfaat pelayanan menggunakannya.
berhubungan menggunakan kesehatan dan
dengan fasilitas dapat
kurangnya pelayanan menggunakannya.
pengetahuan kesehatan,
keluarga tentang untuk
manfaat serta memecahkan
prosedur masalah
pelayanan kesehatan
kesehatan. yang dihadapi.

VII. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI .

NO IMPLEMENTASI EVALUASI

1. Rabu, 03 Juni 2015 Rabu, 03 Juni 2015

Jam 11.00 Jam 11.30

Tujuan : S : keluarga mengatakan sangat senang


jika ada yang datang mengontrol
- Mengecek tekanan darah, nadi
keadaan klien.
dan Respirasi klien khususnya
gula darah. O :keluarga tampak senang dengan
- Memperkenalkan diri pada klien
1.
dan mengadakan kontrak waktu tawaran yang diberikan.
dengan klien.
A : Tujuan tercapai

P : Perlu BHSP (bina hubungan saling


percaya)

2. Kamis, 04 Juni 2015 Kamis, 04 Juni 2015

Jam 14.00 Jam 15.00

Diagnosa I S : keluarga mengatakan mengerti dan


dapat menjelaskan kembali arti DM,
tanda dan gejala, penyebab serta
Tujuan : komplikasi dari hypertensi.

Memberi penyuluhan menggunakan O: keluarga tampak mengerti penjelasan


leaflet : yang diberikan.

Arti DM, tanda dan gejala, penyebab, A : Tujuan tercapai


komplikasi dan tindakan keluarga
P : Perlu adanya pemantauan untuk
dalam mengatasi masalah DM.
mengetahui tingkat pemahaman
keluarga tentang DM.

3 Jumat , 06 Juni 2015 Jumat , 06 Juni 2015

Jam 15.00 Jam 15.45

Diagnosa II S : keluarga mengerti dan dapat


menjelaskan manfaat fasilitas
Memberikan penyuluhan tentang apa
pelayanan kesehatan serta mau
yang dimaksud dengan saranan
menggunakannya.
pelayanan kesehatan dan manfaat

1.
dari fasilitas kesehatan O : keluarga tampak mengerti dan
bersedia menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat.

A: tujuan tercapai

P : perlu adanya pemantauan untuk


mengetahui tingkat pemahaman
keluarga.

4 Sabtu , 07 Juni 2015 Sabtu , 07 Juni 2015

jam 11.00 jam 12.00

Diagnosa II S : keluarga mengatakan bahwa mereka


sudah menggunakan fasilitas
Tujuan :
kesehatan yang ada. Bahkan klien
Menanyakan apaka keluarga telah sudah melakukan check-up di RS.
menggunakan sarana pelayanan
O : Keluarga tampak puas dengan
kesehatan, dan menanyakan
penggunaan fasilitas pelayanan
manfaat dari fasilitas kesehatan.
kesehatan tersebut. Bahkaan
keluarga menunjukkan hasil
pemeriksaan lab.

A : Tujuan tercapai.

P : perlu adanya pemantauan untuk


mengetahui tingkat pemahaman
keluarga.

1.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Adapun masalah keluarga yang ditemukan Manajemen


regimen terapeutik keluarga tidak efektif: (diet DM) pada keluarga Tn .
SR khususnya Ny. S berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga
Tn SR mengenal masalah kesehatan (Diet DM).
Semua perencanaan sesuai dengan lima tugas kesehatan
keluarga dan sumber – sumber serta kekuatan keluarga.
Semua perencanaan yang dilakukan sesuai dengan rencana
yang telah disusun berdasarkan pada masalah dan kondisi keluarga
Dari 3 masalah keperawatan yang ditemukan dapat teratasi
sebagian karena adanya sikap terbuka dan kooperatif dari keluarga.

B. SARAN

Saran – saran yang penulis berikan untuk perbaikan dalam


meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada keluarga adalah
sebagai berikut :
1. Untuk teman sejawat yang akan memberikan asuhan keperawatan
pada keluarga hendaknya perlu mempersiapkan diri dalam
melakukan pengkajian menggunakan komunikasi yang lugas,
memberikan informasi yang jelas tentang maksud dan tujuan
meningkatkan kemampuan dalam melihat masalah kesehatan serta
dalam menentukan intervensi – intervensi yang harus
dipertimbangkan faktor-faktor hambatan yang ada didalam
keluarga.
2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan ada keluaarga
hendaknya melibatkan keluarga untuk mengambil keputusan.

1.
3. Untuk keluaraga diharapkan telah mendapatkan asuhan
keperawatan keluarga secara komprehensif, keluarga dapat
mengenal masalah kesehatan dan dapat mengambil keputusan
atau tindakan untuk mengatasi masalah serta dapat melanjutkan
kembali perawatan terhadap anngota keluarga.
4. Melakukan kerjasama lintas program (puskesmas) dan lintas
sektoral (RT, Kelurahan) dan instansi yang terkait sehingga
memudahkan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan
yang ada di masyarakat.

1.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/6/01-gdl-mohammadah-
281-1-p10038-m-a.pdf Diposkan oleh Fajar Alam di 22.32
2. Carpenito, Lynda Juall, 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi
6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC..
3. Doenges, Marilyn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3
alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC.
4. Effendi, Nasrul, 1998.Perawatan Kesehatan Masyarakat, Jakarta :
Depkes RI.
5. http://www.ilmukeperawatan.com. Diakses pada tanggal 6 Pebruari 2012
jam 16.04 WIB.

1.
1.
1.
67 | P a g e