Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obesitas didefinisikan sebagai kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang
serius dalam jaringan adiposa sedemikian hingga mengganggu kesehatan. Obesitas masih
menjadi permasalahan kesehatan yang penting di berbagai negara, baik di negara maju
maupun negara berkembang. Obesitas telah dikaitkan dengan kemunculan sejumlah
penyakit termasuk aterosklerosis, diabetes, fatty liver, dan sejumlah penyakit lainnya
(Grundy et al., 2004).
World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 2005 terdapat
sekitar 1,6 miliar orang di seluruh dunia yang mengalami overweight atau berat badan
berlebih dan setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas atau kegemukan. Pada
tahun 2015, WHO memperkirakan bahwa sekitar 2,3 miliar penduduk dewasa akan
mengalami overweight dan setidaknya 700 juta orang mengalami obesitas. (Nguyen &
El-Serag, 2010).
Di Indonesia, tingkat kegemukan cenderung meningkat grafiknya. Menurut data
Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, prevalensi nasional obesitas pada penduduk berusia
15 tahun keatas mencapai 10,3%, dengan prevalensi pada laki-laki 13,9%, dan pada
perempuan 23,8%. Hal tersebut dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius
karena obesitas berkaitan erat dengan kelainan metabolik, kardiovaskuler, hepar, ginjal,
dan respon inflamasi (Nguyen & El-Serag, 2010).
Antropometri merupakan salah satu metode untuk mengukur status gizi
seseorang dan juga dapat digunakan sebagai screening obesitas, dan paling sering
digunakan untuk fungsi yang terakhir adalah BMI, waist circumference (lingkar
pinggang), dan lingkar perut. Akan tetapi, dalam penilaian risiko, ukuran lingkar
pinggang lebih reliabel ketimbang rasio lingkar pinggang – pinggul. Selain itu
antropometri dapat dilakukan untuk menurunkan kadar gula darah penderita DM adalah
dengan pencapaian status gizi yang baik. (Arisman, 2011).
Lingkar pinggang adalah salah satu cara mengukur distribusi lemak dalam
tubuh. Ukuran lingkar pinggang normal pada orang Asia adalah 80 cm untuk wanita dan
90 cm untuk pria. Apabila melebihi batas normal (wanita > 80 cm dan pria > 90 cm)
berisiko terkena penyakit jantung koroner disebabkan oleh beberapa perubahan
metabolisme, termasuk daya tahan terhadap insulin dan meningkatkan produksi asam

1
lemak bebas yang jahat. Lingkar pinggang yang melebihi normal menyebabkan tanda
kegemukan, jadi merupakan faktor utama timbulnya penyakit- penyakit degeneratif
seperti Diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan bahkan sekarang di hubungkan
dengan kanker. (Utaminingsih, 2009).
Lingkar pinggang yang melebihi normal berhubungan dengan peningkatan
kadar glukosa plasma melalui keseimbangan energi positif dari asupan energi yang
berlebihan sehingga terjadi akumulasi lemak di jaringan adiposa abdominal yang
berdampak pada peningkatan asam lemak bebas, proses glukogenesis, akumulasi
trigliserida yang menyebabkan resistensi insulin. Sehingga peningkatan lingkar pinggang
merupakan faktor risiko mayor diabetes tipe 2 (Gautier et al., 2010).
Proporsi DM pada penduduk usia > 15tahun hasil wawancara di Indonesia
Tahun 2007 sebanyak 2% dan tahun 2013 sebanyak 3%. Penderita DM di Jawa Timur
pada Riskerdas tahun 2007 6,9% dimana yang terdiagnosis sebanyak 30,4%, dan
Riskesdas pada tahun 2013 penderita DM 5,7% dimana yang terdiagnosis sebanyak
26,3%. Dimana 6,9% dari 176.689.336 penduduk usia 15 tahun ke atas, dengan perkiraan
jumlah 12.191.564. (Riskesdas 2007,2013, kementrian Kesehatan).
Pada Puskesmas Barengkrajan ditemukan penderita DM pada tahun 2015 total
jumlah 1.231 penderita. Dan pada tahun 2016 bulan january dan february didapatkan
total penderita DM 82 orang dimana laki-laki 62 orang dan perempuan 20 orang. (Data
Puskesmas Penderita DM tahun 2015).
Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula
sederhana) yang ada didalam darah terlalu tinggi. Tingginya kadar gula dalam darah
disebabkan tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup (Rusdi
& Iisnawati, 2009). Insulin adalah protein yang pada orang normal dihasilkan oleh sel
beta pankreas dan berperan untuk mengendalikan kadar gula darah tetap normal, dengan
memperlancar pengangkutan glukosa kedalam sel jaringan dan disimpan dalam bentuk
cadangan tenaga yaitu glikogen (Bilous, 2008). Kelainan utama adalah berkurangnya
insulin didalam sirkulasi darah. Meningginya gula darah terjadi karena bertambahnya
glukosa yang dikeluarkan oleh hati, sedangkan penggunaan glukosa oleh jaringan perifer
menurun (Sutedjo, 2010).

Dalam studi meta-analisis Vazques et al. (2007) disebutkan bahwa obesitas


abdominal berhubungan dengan penurunan toleransi glukosa, perubahan pada
homeostasis glukosa-insulin, dan penurunan pengeluaran insulin yang distimulasi

2
glukosa. Namun, penelitian mengenai hubungan antara lingkar pinggang terhadap kadar
gula darah darah tinggi. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti hubungan antara
lingkar pinggang dengan kadar gula darah tinggi. ( Vazques et al. (2007)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, perumusan masalah dalam
penelitian kali ini antara lain sebagai berikut: Apakah terdapat hubungan antara lingkar
pinggang dengan kadar gula darah di daerah cakupan puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo
tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan lingkar pinggang dengan
kadar gula darah di di daerah cakupan puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasikan kadar gula pada masyarakat di daerah cakupan puskesmas
Barengkrajan, Sidoarjo.
b. Mengidentifikasikan ukuran lingkar pinggang pada masyarakat di daerah cakupan
puskesmas barengkrajan, Sidoarjo.
c. Menganalisa hubungan lingkar pinggang dengan kadar gula darah pada masyarakat
di daerah cakupan puskesmas barengkrajan, Sidoarjo.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Memberikan gambaran pada masyarakat tentang kadar gula darah yang dampak dan
factor resikonya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Menambah kepustakaan dan menjadi bahan bacaan untuk kegiatan pendidikan
kesehatan masyarakat khususnya tentang kadar gula darah.
3. Bagi Pengembang Ilmu
Menjadi sumber informasi bagi Puskesmas dan Polindes untuk dapat menjalankan
program kesehatan terutama pada perbaikan gizi yang berhubungan dengan kadar gula
darah.
4. Bagi Peneliti

3
Menambah pengetahuan peneliti terutama mengenai hubungan lingkar pinggang
dengan kadar gula darah pada masyarakat di daerah cakupan puskesmas barengkrajan,
Sidoarjo.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan keseimbangan antara asupan nutrisi dan yang
dibutuhkan oleh tubuh, status gizi ini memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan
dan penyakit (Dudek, 1997). Status gizi dibagi menjadi 3 kategori, yaitu status gizi
kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005 dalam Khairina 2008). Status gizi
merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk ke dalam tubuh
dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi tersebut (Supariasa, 2001). Oleh karena itu, status
gizi sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang berasal dari makanan yang dikonsumsi
setiap hari dan penggunaan zat gizi tersebut.
Status gizi seseorang dapat ditentukan oleh beberapa pemeriksaan gizi. Pemeriksaan
gizi yang memberikan data paling meyakinkan tentang keadaan aktual gizi seseorang
terdiri dari empat langkah, yaitu pengukuran antropometri, pemeriksaan laboratorium,
pengkajian fisik atau secara klinis dan riwayat kebiasaan makan (Moore, 2009). The Mini
Nutritional Assessment (MNA) adalah alat penilaian gizi lain yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi risiko malnutrisi pada lansia (Ebersole, 2009).
Pemeriksaan status gizi dapat memberikan informasi tentang keadaan gizi seseorang
saat itu dan kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi. The AmericanSociety for Parenteral
and Enteral Nutrition (ASPEN) dalam Meiner, 2006 mengidentifikasi tujuan dari
pengkajian status gizi adalah untuk mendirikan parameter gizi secara subjektif dan
objektif, mengidentifikasi kekurangan nutrisi dan menentukan faktor risiko dari masalah
gizi seseorang. Selain itu pengkajian status gizi juga dapat menentukan kebutuhan gizi
seseorang dan mengidentifikasi faktor psikososial dan medis yang dapat mempengaruhi
dukungan status gizi seseorang.

B. Antopometri
Istilah anthropometry berasal dari kata “anthropos (man)” yang berarti manusia dan
“metron (measure)” yang berarti ukuran (Moore : 2009). Antropometri dibagi atas dua
bagian, yaitu:

5
1. Antropometri statis, di mana pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang 


berada dalam posisi diam. Dimensi yang diukur pada Anthropometri statis diambil
secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasil pengukuran
representatif, maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap
berbagai individu, dan tubuh harus dalam keadaan diam.
2. Antropometri dinamis, di mana dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh
yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur.

Pengukuran antopometri dilakukan dengan cara-cara yang baku sebanyak beberapa


kali secara berkala pada beratdan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkar pinggang,
lingkaran kepala, tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukanuntuk penilaian pertumbuhan dan
status gizi. (Moore: 2009)

1. Berat dan Tinggi Badan terhadap umur :


2. Lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar pinggang, dan lingkaran dada diukur dengan
pita pengukur yang tidak molor.
3. Tebal kulit di ukur dengan alat Skinfold caliper pada kulit lengan, subskapula dan
daerah pinggul. penting untuk menilai kegemukan. Memerlukan latihan karena sukar
4. Body Mass Index (BMI) adalah Quetelet’s index, yang telah dipakai secara luas,yaitu
berat badan(kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m2). BMI mulai disosialisasikan
untukpenilaian obesitas.

Beberapa pengukuran antopometri yang merupakan faktor resiko terhadap kadar gula :

1. Indek Massa Tubuh


a. Definisi
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah metode pengukuransederhana yang
menggambarkan hubungan antara beratbadan dan tinggi badan, serta digunakan
sebagai skriningobesitas dan untuk memantau status gizi. IMT
dihitungmenggunakan rumus BB/TB2 dimana BB adalah beratbadan dalam
kilogram dan TB adalah tinggi badan dalammeter (Nygaard, 2008; Scheneider et
al., 2007). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan pengukuran antropometri yang
disarankan oleh WHO (Sampei et al., 2003).

6
b. Klasifikasi IMT
Pada tahun 1993 WHO mempublikasikan klasifikasi BB berdasarkan IMT
dalam beberapa derajat klasifikasi. Peningkatan tiap derajat klasifikasi sebanding
dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Klasifikasi IMT dari WHO telah
mengalami beberapa penambahan subdivisi sejak pertama kali dipublikasikan
(WHO, 2004). Klasifikasi IMT dari WHO dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1: Klasifikasi IMT Internasional (WHO, 2004)

Klasifikasi IMT (kg/m2)


Underweight < 18,5
Batas Normal 18,5-24,9
Overweight > 25
Pre-obese 25,0-29,9
Obese I 30,0-34,9
Obese II 35,0-40,0
Obese III > 40,0

Klasifikasi IMT dari WHO diharapkan dapat digunakan secara


internasional. Klasifikasi Overweight dan obesitas mencerminkan faktor risiko
tinggi untuk sindrom metabolik, diabetes mellitus tipe dua dan penyakit
kardiovaskuler yang menjadi penyebab kematian terbesar orang dewasa pada
seluruh populasi di dunia. Akan tetapi, pada populasi Asia didapatkan data bahwa
terdapat prevalensi yang tinggi diabetes mellitus tipe dua dan peningkatan
morbiditas dari penyakit kardiovaskular pada rentang batas normal IMT.
Sebuah penelitian meta analisis yang dilakukan di beberapa negara Asia
juga menghasilkan data 66% laki-laki dan 88% wanita dengan klasifikasi BB
normal berdasar IMT memiliki > 1 risiko penyakit kardiovaskuler. Hal ini
memicu adanya pengecualian klasifikasi IMT bagi populasi Asia (Misra, 2003).
Klasifikasi IMT bagi populasi Asia dapat dilihat pada table di bawah ini.

Tabel 2.2: Klasifikasi IMT pada Penduduk Asia Dewasa (WHO, 2004).
Klasifikasi IMT (kg/m2)

7
Underweight < 18,5
Batas Normal 18,5-22,9
Overweight > 23
Obese I 23,0-24,9
Obese II > 30,0

2. Lingkar Lengan Atas


a. Definisi
Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah,
murah dan cepat. Pengukuran lingkar lengan atas tidak memerlukan data umur yang
terkadang susah diperoleh pada pasien usia lanjut dan dapat memberikan gambaran
tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Selain itu, lingkar
lengan atas dapat mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mengetahui :
- Status KEP (Kurang Energi Protein) pada balita.
- Kurang Energi Kronis pada wanita usia subur dan ibu hamil, sehingga dapat
mengurangi risiko bayi dengan berat badan lahir rendah (Susilowati, 2008).

Cutt of point untuk lingkar lengan atas pada orang dewasa adalah 26,3 cm
untuk laki-laki dan 20,9 untuk wanita. Sedangkan untuk bayi umur 0-30 hari adalah >
9,5 cm (Riset Kesehatan Dasar, 2007).Kekurangan dari pengukuran lingkar lengan
atas iniadalah cutt of point yang sekarang digunakan belummendapat pengujian yang
memadai untuk digunakan diIndonesia. Kesalahan pengukuran yang terjadi juga
relative lebih besar dibandingkan dengan pengukuran tinggi badan.Selain itu,
pengukuran lingkar lengan atas hanya sensitive untuk suatu golongan tertentu
(prasekolah), tetapi kurangsensitif untuk golongan dewasa (Susilowati, 2008).

b. Cara Pengukuran
 Persiapan
- Pastikan pita pengukur tidak kusut, tidak terlipat lipat atau tidak sobek.
- Jika lengan responden > 33cm, maka dapatmenggunakan meteran kain.
- Responden diminta berdiri dengan tegak tetapirileks, tidak memegang
apapun serta otot lengantidak tegang.

8
- Baju pada lengan kiri disingsingkan keatas sampaipangkal bahu terlihat atau
lengan bagian atas tidaktertutup.

 Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan mengukur jarakacromion-radiale tangan kiri
(kecuali kidal) pada posisi lengan ditekuk 90° dan kemudian diberi tanda pada
titik tengah acromion-radiale. Pita pengukur dililitkan melewati titik tengah
lengan pada posisi lengan diluruskan dalam posisi relax, kemudian hasil
pengukuran dapat dibaca. (Riset Kesehatan Dasar, 2007).

3. Lingkar Pinggang
a. Definisi
Lingkar pinggang adalah ukuran antropometri yang dapat digunakan untuk
menentukan obesitas sentral, dan kriteria untuk Asia Pasifik yaitu ≥90 cm untuk pria,
dan ≥80 cm untuk wanita. Lingkar pinggang dikatakan sebagai indeks yang berguna
untuk menentukan obesitas sentral dan komplikasi metabolik yang terkait.
Lingkar pinggang berkorelasi kuat dengan obesitas sentral dan risiko
kardiovaskular. Lingkar pinggang terbukti dapat mendeteksi obesitas sentral dan
sindroma metabolik dengan ketepatan yang cukup tinggi dibandingkan indeks massa
tubuh (IMT) dan lingkar panggul. (Lean,1995).
Lemieux, et.al. 2000, menggunakan lingkar pinggang dan kadar trigliserida
untuk mendeteksi sindroma metabolik, dan menemukan lingkar pingang ≥90 cm
dikombinasikan dengan kadar trigliserida plasma puasa >150 mg/dl dapat mendeteksi
penderita sindroma metablik sebanyak 80% dari 185 pria subjek penelitian. Hal ini
membuktikan bahwa pemeriksaan lingkar pinggang dapat digunakan sebagai
pemeriksaan uji saring yang mudah, murah dan berguna untuk mendeteksi sindroma
metabolic.
b. Patofisiologi
National Cholesterol Education Program Expert Panel on Detection
Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults Treatment Panel III
(NCEP-ATP III) tahun 2001, menyatakan sindroma metabolik adalah sekelompok
kelainan metabolik lipid maupun non-lipid, merupakan faktor risiko penyakit jantung
koroner terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida

9
meningkat, kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL) rendah), hipertensi dan
peningkatan kadar glukosa plasma. (Lakka, 2002).
Peningkatan jumlah penderita sindroma metabolik sejalan dengan peningkatan
obesitas. Obesitas adalah keadaan ditemukannya kelebihan lemak dalam tubuh,
terbagi menjadi obesitas general dan obesitas sentral. Penimbunan lemak dalam perut
yang dikenal dengan obesitas sentral atau obesitas viseral lebih berkaitan dengan
kejadian sindroma metabolik dan penyakit jantung coroner
Penelitian yang berhubungan dengan hal ini telah banyak dilakukan, dan
sebagian besar peneliti menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan lemak subkutan
atau lemak tubuh total (obesitas general), lemak viseral (obesitas sentral) lebih kuat
hubungannya dengan kelainan sindroma metabolik. Adiposit jaringan lemak ini
adalah adiposit berukuran besar, kurang peka terhadap kerja antilipolisis sehingga
lebih mudah dilipolisis yang menyebabkan peningkatan kadar asam lemak bebas (Lin,
2002)
Sebuah penelitian dari Swedia mengatakan bahwa lingkar pinggang dapat
digunakan untuk mengukur resistensi insulin, dimana resistensi insulin merupakan
keadaan saat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara baik. Bila dilakukan
pemeriksaan dapat ditemukan kadar gula darah yang lebih tinggi dari normal tetapi
belum sampai menjadi diabetes. Keadaan ini disebut pra-diabetes.(Janssen, 2002)
Resistensi insulin disebabkan adanya peningkatan asam lemak bebas
meningkatkan pula distribusi asam lemak di hati. Hal tersebut meningkatkan proses
glukoneogenesis, menghambat pengambilan serta penggunaan glukosa di otot.
Akumulasi trigliserida di hati dan di otot akan mengakibatkan resistensi insulin.
Selain itu jaringan lemak ternyata menghasilkan beberapa sitokin dan hormon yang
menghambat kerja insulin. Hormon insulin merupakan regulator penting pada
metabolisme karbohidrat, lipid dan protein, maka setiap gangguan aksi insulin akan
menimbulkan konsekuensi metabolik yang tampak pada sindroma metabolik.(Janssen,
2002)
c. Cara Pengukuran lingkar pinggang
Pengukuran lingkar pinggang pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui
tingkatan obesitas abdomen pada pasien hiperglikemi dengan satuan ukur sentimeter
(cm). Untuk memudahkan dalam pengelompokan data, maka hasil pengukuran
dibedakan menjadi 2 tingkatan baik pada pria maupun wanita.(Zhu, 2004)
 Alat:

10
- Meteran (metline)
- Spidol

 Langkah – Langkah
- Jelaskan pada responden tujuan pengukuran lingkar pinggang dan tindakan
apa yang akan dilakukan.
- Untuk penguuran ini responden diminta dengan cara yang santun untuk
membuka pakaian bagian atas dan meraba costa XII responden untuk
endapatkan titik pengukuran.
- Tetapkan titik bawah tepi costa XII.
- Tetapkan titik ujung diatas SIAS
- Tetapkan titik tengah antara titik bawah tepi costa XII dan titik ujung atas
SIAS.
- Minta responden untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal
- Lakukan pengukuran lingkar pinggang dimulai dari titik tengan kemudian
secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik
tengah awal pengukuran.
- Apabila responden memiliki perut yang gendut kebawah, pengukuran
mengambil bagian yang paling buncit.
- Pita ukur tidak boleh terlipat dan ukur lingkar pinggang mendekati angka 0,1.

4. Kadar Gula Darah


Kadar glukosa darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di
dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat
di dalam tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit
sepanjang hari (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya
berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan (Henrikson J. E. et
al., 2009).

11
Tabel 2.3: Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan
diagnosis DM (mg/dl)

Bukan DM Belum pasti DM


Kadar Plasma <100 100-199 ≥200
glukosa darah vena
sewaktu Darah <90 90-199 ≥200
(mg/dl) kapiler
Kadar Plasma <100 100-125 ≥126
glukosa darah vena
puasa (mg/dl) Darah <90 90-99 ≥100
kapiler
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia, PERKENI,
2011.

Ada beberapa tipe pemeriksaan glukosa darah. Pemeriksaan gula darah puasa
mengukur kadar glukosa darah selepas tidak makan setidaknya 8 jam. Pemeriksaan
gula darah postprandial 2 jam mengukur kadar glukosa darah tepat selepas 2 jam
makan. Pemeriksaan gula darah random mengukur kadar glukosa darah tanpa
mengambil kira waktu makan terakhir (Henrikson J. E. et al., 2009).

a. Pencernaan Karbohidrat
Setelah makanan dikonsumsi, komponen makanan akan dicerna oleh
serangkaian enzim di dalam tubuh. Karbohidrat dicerna oleh α-amilase di dalam air
liur dan α-amilase yang dihasilkan oleh pankreas yang bekerja di usus halus.
Disakarida diuraikan menjadi monosakarida. Sukrase mengubah sukrosa menjadi
glukosa dan fruktosa,laktase mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Sel
epitel usus akan menyerap monosakarida,glukosa, dan fruktosa bebas dan dilepaskan
dalam vena porta hepatika (Champe P. C. et al., 2005).
b. Metabolisme Glukosa
Semua sel dengan tiada hentinya mendapat glukosa; tubuh mempertahankan
kadar glukosa dalam darah yang konstan, yaitu sekitar 80- 100 mg/dl bagi dewasa dan
80-90 mg/dl bagi anak, walaupun pasokan makanan dan kebutuhan jaringan berubah-
ubah sewaktu kita tidur, makan, dan bekerja (Cranmer H. et al., 2009).

12
Proses ini disebut homeostasis glukosa. Kadar glukosa yang rendah, yaitu
hipoglikemia dicegah dengan pelepasan glukosa dari simpanan glikogen hati yang
besar melalui jalur glikogenolisis dan sintesis glukosa dari laktat, gliserol, dan asam
amino di hati melalui jalur glukonoegenesis dan melalui pelepasan asam lemak dari
simpanan jaringan adiposa apabila pasokan glukosa tidak mencukupi. Kadar glukosa
darah yang tinggi yaitu hiperglikemia dicegah oleh perubahan glukosa menjadi
glikogen dan perubahan glukosa menjadi triasilgliserol di jaringan adiposa.
Keseimbangan antarjaringan dalam menggunakan dan menyimpan glukosa selama
puasa dan makan terutama dilakukan melalui kerja hormon homeostasis metabolik
yaitu insulin dan glukagon (Ferry R. J., 2008). Metabolisme glukosa terjadi pada
beberapa organ dalam tubuh, sebagai berikut :
- Metabolisme glukosa di hati
Jaringan pertama yang dilewati melalui vena hepatika adalah hati. Di
dalam hati, glukosa dioksidasi dalam jalur-jalur yang menghasilkan ATP untuk
memenuhi kebutuhan energi segera sel-sel hati dan sisanya diubah menjadi
glikogen dan triasilgliserol. Insulin meningkatkan penyerapan dan penggunaan
glukosa sebagai bahan bakar, dan penyimpanannya sebagai glikogen serta
triasilgliserol. Simpanan glikogen dalam hati bisa mencapai maksimum sekitar
200-300 g setelah makan makanan yang mengandung karbohidrat.Sewaktu
simpanan glikogen mulai penuh, glukosa akan mulai diubah oleh hati menjadi
triasilgliserol (Marks D. B. et al., 2000) .
- Metabolisme glukosa di jaringan lain
Glukosa dari usus, yang tidak dimobilisis oleh hati, akan mengalir dalam
darah menuju ke jaringan perifer. Glukosa akan dioksidasi menjadi karbon
dioksida dan air. Banyak jaringan misalnya otot menyimpan glukosa dalam
jumlah kecil dalam bentuk glikogen (Raghavan V. A. et al., 2009).
- Metabolisme glukosa di otak dan jaringan saraf
Otak dan jaringan saraf sangat bergantung kepada glukosa untuk
memenuhi kebutuhan energi. Jaringan saraf mengoksidasi glukosa menjadi
karbon dioksida dan air sehingga dihasilkan ATP. Apabila glukosa turun di
ambang di bawah normal, kepala akan merasa pusing dan kepala terasa ringan.
Pada keadaan normal, otak dan susunan saraf memerlukan sekitar 150 g glukosa
setiap hari (Aswani V., 2010).
- Metabolisme glukosa di sel darah merah

13
Sel darah merah hanya dapat menggunakan glukosa sebagai bahan
bakar. Ini kerana sel darah merah tidak memiliki mitokondria, tempat
berlangsungnya sebagian besar reaksi oksidasi bahan seperti asam lemak dan
bahan bakar lain. Sel darah merah memperoleh energi melalui proses glikolisis
yaitu pengubahan glukosa menjadi piruvat. Piruvat akan dibebaskan ke dalam
darah secara langsung atau diubah menjadi laktat kemudian dilepaskan. Sel darah
merah tidak dapat bertahan hidup tanpa glukosa. Tanpa sel darah merah, sebagian
besar jaringan tubuh akan menderita kekurangan energi karena jaringan
memerlukan oksigen agar dapat sempurna mengubah bahan bakar menjadi CO2
dan H2O (Aswani V., 2010).
- Metabolisme glukosa di otot
Otot rangka yang sedang bekerja menggunakan glukosa dari darah atau
dari simpanan glikogennya sendiri, untuk diubah menjadi laktat melalui glikosis
atau menjadi CO2 dan H2O. Setelah makan, glukosa digunakan oleh otot untuk
memulihkan simpanan glikogen yang berkurang selama otot bekerja melalui
proses yang dirangsang oleh insulin. Otot yang sedang bekerja juga menggunakan
bahan bakar lain dari darah, misalnya asam-asam lemak (Raghavan V. A. et al.,
2009).
- Metabolisme glukosa di jaringan adipose
Insulin merangsang penyaluran glukosa ke dalam sel-sel adiposa.
Glukosa dioksidasi menjadi energi oleh adiposit. Selain itu, glukosa digunakan
sebagai sumber untuk membentuk gugus gliserol pada triasilgliserol yang
disimpan di jaringan adiposa (Bell D. S., 2001). Peningkatan kadar glukosa darah
atau hiperglikemia merupakan salah satu kriteria untuk mendiagnosis pasien
diabetes mellitus.10 Menurut American Diabetes Association (ADA) disebut
diabetes mellitus jika kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, atau bila kadar
glukosa darah 2 jam sesudah pembebanan glukosa 75 g didapati ≥ 200 mg/dl.
Keadaan hiperglikemi (kadar glukosa darah meningkat) dapat terjadi akibat
ketidakmampuan insulin untuk menurunkan konsentrasi glukosa darah (resistensi
insulin) sehingga dibutuhkan kadar insulin yang lebih (hiperinsulinemia) untuk
mencapai kadar glukosa darah yang normal (Erdogan, et al. 2005).
- Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Gula Darah
Kadar glukosa plasma pada suatu saat sangat ditentukan oleh
keseimbangan antara jumlah glukosa yang masuk ke dalam aliran darah dan

14
jumlah yang meninggalkannya. Oleh karena itu, penentu utama masukan adalah
dari diet; kecepatan pemasukan ke dalam sel otot, jaringan adiposa, dan organ-
organ lain; dan aktivitas glukostatik hati. Lima persen dari glukosa yang
dikonsumsi langsung dikonversi menjadi glikogen di dalam hati, dan 30-40 %
dikonversi menjadi lemak. Sisanya dimetabolisme di otot dan jaringan-jaringan
lain. Pada waktu puasa, glikogen hati dipecah dari hati untuk meningkatkan kadar
glukosa darah. Jika terjadi puasa yang lebih panjang, glikogen hati habis dan
terjadi glikoneogenesis dari asam amino dan gliserol di dalam hati (Ganong,
2001).
Kadar gula darah juga bervariasi pada waktu-waktu tertentu seperti pada
kehamilan, saat menstruasi, dan pada pagi hari. Pada pagi hari terjadi dawn
phenomenon dimana terjadi peningkatan kadar hormon glukagon, epinefrin,
hormon pertumbuhan, dan kortisol sebelum seseorang bangun. Pengeluaran
hormon-hormon antagonis terhadap insulin tersebut meningkatkan kadar gula
darah dengan merangsang pengeluaran glukosa dari hati dan menghambat tubuh
menggunakan glukosa. Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat menimbulkan
hipoglikemia sebab alkohol menurunkan pengeluaran glukosa oleh hati (Klapp,
2011).
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres seperti fisik (trauma,
pembedahan, panas, atau dingin hebat); fisiologis (olahraga berat, syok
perdarahan, nyeri); psikologis atau emosi (rasa cemas, ketakutan, kesedihan); dan
sosial (konflik pribadi, perubahan gaya hidup) memicu pengeluaran hormon
adrenalin dan kortisol yang juga menyebabkan pelepasan glukosa hati sebagai
respon “fight-or- flight” untuk meningkatkan ketersediaan glukosa, asam amino,
dan asam lemak untuk digunakan jika diperlukan (Sherwood, 2001).
Peningkatan kadar gula darah juga terjadi bila terjadi infeksi. Hal ini
penting untuk menjaga ketersediaan energi untuk pertahanan dalam melawan
agen penyebab infeksi.
- Mekanisme Pengaturan Kadar Gula Darah
Sangatlah penting bagi tubuh untuk mempertahankan konsentrasi
glukosa darah karena secara normal, glukosa merupakan satu-satunya bahan
makanan yang dapat digunakan otak, retina, epithelium germinal dari gonad.
Sebaliknya, konsentrasi glukosa darah perlu dijaga agar tidak meningkat terlalu
tinggi karena glukosa sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik cairan

15
ekstraseluler, dan bila konsentrasi glukosa meningkat sangat berlebihan akan
dapat menimbulkan dehidrasi seluler. Selain itu, sangat tingginya konsentrasi
glukosa dalam darah menyebabkan keluarnya glukosa dalam air seni. Keadaan-
keadaan tersebut menimbulkan diuresis osmotik oleh ginjal, yang dapat
mengurangi cairan tubuh dan elektrolit (Guyton dan Hall, 2006).
Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil di dalam darah adalah
salah satu mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan sangat berkaitan
erat dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin mempunyai efek meningkatkan
ambilan glukosa di jaringan seperti jaringan adiposa dan otot. Sekresi hormon ini
dirangsang oleh keadaan hiperglikemi, kerja insulin ini disebabkan oleh
peningkatan transpor glukosa (GLUT 4) dari bagian dalam sel membran plasma.
Sedangkan kerja glukagon berlawanan dengan kerja insulin, hormon glukagon
menimbulkan glikogenolisis dengan mengatifkan enzim fosforilase. Glukagon
bekerja dengan menghasilkan cAMP (Murray, Granner, Mayes, dan Rodwell,
2003).
Hormon-hormon pankreas merupakan zat pengatur terpenting dalam
metabolisme bahan bakar normal. Namun, beberapa hormon lain juga memiliki
efek metabolik langsung walaupun kontrol sekresi mereka dikaitkan dengan
faktor-faktor di luar transisi antara keadaan kenyang dan puasa. Efek hormon
tiroid pada metabolisme intermediat bermacam-macam. Hormon ini merangsang
efek anabolik dan katabolik serta laju metabolisme keseluruhan. Hormon-
hormon stres, efinefrin dan kortisol, keduanya meningkatkan kadar glukosa dan
asam lemak dalam darah.. Selain itu, kortisol dan hormon pertumbuhan berperan
penting dalam mempertahankan kadar gula darah selama keadaan kelaparan
jangka panjang (Sherwood, 2001).

5. Hubungan Lingkar Pinggang dengan Kadar Gula Darah


Penelitian Zhong, et al (2011) menunjukkan terjadi peningkatan kadar
trigliserida, pernurunan kadar kolesterol HDL, resistensi insulin, dan peningkatan
kadar faktor-faktor inflamasi pada pasien yang memiliki kelebihan berat badan.
Terjadi peningkatan mRNA Lipopolysaccharides (LPS)-induced TNF-α factor
(LITAF) dan kadar protein seiring dengan peningkatan IMT mengindikasikan
hubungan paralel antara LITAF dan gangguan metabolik. Menurut penelitian tersebut,
LITAF teraktivasi pada pasien yang memiliki berat badan berlebih dan berperan

16
terhadap perkembangan kegemukan yang menginduksi inflamasi dan resistensi
insulin, berdasarkan fakta bahwa LITAF berperan dalam proses inflamasi dalam
mengatur ekspresi dari TNF-α, IL-6 and MCP-1 yang mengakibatkan resistensi
insulin, dan TLR4, salah satu reseptor LITAF pada makrofag juga bisa distimulasi
oleh asam lemak bebas, yang dapat menimbulkan proses inflamasi pada pasien
dengan berat badan berlebih.
Menurut Hotamisligil, et al (1995) dalam Zhong, et al (2011), LITAF
merupakan pengatur traskripsi TNF-α, yang seharusnya berperan pada mekanisme
imun terhadap infeksi. Gen LITAF terletak pada 16p13.13, dan secara signifikan
terdapat di limfa, kelenjar getah bening, dan leukosit darah perifer. TNF-α adalah
pemicu kuat adipositokinin proinflamasi seperti IL-6, MCP-1, leptin dan PAI-1, dan
hal ini sangat terlibat dalam proses inflamasi pada pasien obesitas. Peningkatan TNF-
α yang diobservasi pada jaringan lemak pasien obes menunjukkan hubungan langsung
timbulnya resistensi insulin pada pasien obesitas. Insulin berikatan dan beraksi
terutama melalui reseptor insulin, dan juga reseptor insulin like growth factor–1 (IGF-
1). Aksi insulin secara seluler menimbulkan efek yang bervariasi pada jalur
postreseptor dalam sel-sel target. Resistensi insulin adalah gangguan respon biologis
normal terhadap insulin (Dorland, 2002). Menurut Lee, et al (2010) dalam
Olatunbosun (2011), kegemukan adalah penyebab resistensi insulin tersering yang
berhubungan dengan penurunan jumlah reseptor dan kegagalan post-reseptor untuk
mengaktivasi tirosin kinase yang merupakan subunit b pada reseptor insulin yang
teraktivasi ketika insulin berikatan dengan sub unit a. Aktivasi kompleks ini akan
mengaktivasi autofosforilase dan aksi termediasi insulin untuk mengontrol kadar gula
darah. Kegagalan dalam penghantaran sinyal untuk meregulasi kadar gula darah ini
menimbulkan hiperinsulinemia, gangguan glukosa darah puasa, impaired glucose
tolerance (IGT), dan diabetes tipe 2 (Olatunbosun, 2011).

17
BAB III
KERANGKA KONSEP

Kadar Gula Darah


Puasa
Normal
Kadar Gula Kadar Gula Darah
Darah Acak
Tinggi
Kadar Gula Darah 2
Jam post pradial

Faktor Resiko
Antopometri : Diabetes
Militus
Indeks Masa
Tubuh
Tinggi
Lingkar
Status Pinggang
Gizi Lingkar Lengan
Atas Normal

= Variabel Yang Tidak


Diteliti
= Variabel Yang Diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Pengaruh Indeks Masa Tubuh Terhadap
Kejadian Kadar Gula Darah Acak Tinggi di Puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo

18
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasi dengan metode studi cross-
sectional.

B. Desain Sampling
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat cakupan Puskesmas
Barengkrajan, Sidoarjo.
2. Sampel
Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang datang periksa di poli umum
Puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo. Besar minimal sampel pada penelitian ini
ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan jumlah populasi penderita diabetes
militus di Puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo bulan Februaru 2016 sebesar 82
penderita, derajat toleransi kesalahan 10% dan tingkat kepercayaa 90%
(Sastroasmoro, 2011).

Keterangan :
n = jumlah sampel minimal yang diperlukan
Z = derajat kepercayaan(95%, nilai Z = 1,64)
p = proporsi penderita DM (6,9%, nilai p = 0,069)
q = proporsi bukan penderita DM (1 - 6,9%, nilai q = 0,931)
d = limit dari error atau presisi absolut (5%, nilai d = 0,05)

(1,64)2 (0,16)(0,84)
𝑛= = 36,1 = 36
(0,1)2

Sehingga besar sampel minimal yang diperoleh sebesar 36 responden

19
3. Sampling
Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive random sampling yang
menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.

4. Kriteria inklusi
a. Usia 18-60 tahun.
b. Merupakan penduduk wilayah cakupan puskesmas barengkrajan.
c. Bersedia mengikuti penelitian ini.

5. Kriteria eksklusi
a. Subjek dengan pengobatan kortikosteroid.
b. Subjek dengan cushing syndrome.
c. Subjek dengan oedem anasarka.
d. Subjek dengan gagal jantung.
e. Subjek dengan sirosis hepatis.

C. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : Lingkar pinggang (cm)


2. Variabel terikat : Kadar Gula Acak (mg/dl).
3. Variabel luar :
a. Variabel yang dapat dikendalikan dalam penelitian ini adalah umur dan jenis
kelamin.
b. Variabel yang tidak dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah diet,
olahraga, kontrol glukosa dan makanan sehari-hari.
4. Skala variabel :
a. Lingkar Pinggang : skala numerik.
b. Kadar gula darah puasa : skala numerik.

20
D. Definisi Oprasional

Tabel 4.1 Definisi Oprasional Pengaruh Lingkar Pinggang Terhadap Kejadian Kadar
Gula Darah Acak Tinggi di Puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo
No. Variabel Definisi Oprasional Parameter
1 Lingkar Pinggang Lingkar pinggang adalah besaran - Laki-laki : ≥ 90 cm
lingkar pinggang yang diukur - Wanita : ≥ 80 cm
dengan pita pengukur atau
metline dengan ketelitian 0,1 cm
pada saat ekspirasi.
2 Kadar Gula Darah Acak Kadar gula dalam plasma darah - GDA Normal <
yang berfungsi untuk 200 mg/dl
mengahsilkan energi, diukur - GDA Tinggi ≥200
menggunakan metode tertentu
tanpa puasa.

E. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada minggu ke-1 bulan April s/d minggu ke-3 bulan
April 2016.
2. Tempat
Penelitian ini dilakukan di Poli Umum Puskesmas Barengkrajan, Sidoarjo.

F. Teknik Pengumpulan Data


1. Rencana Pengumpulan Data
Prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data lingkar pinggang dilakukan
dengan cara pengukuran langsung dengan menggunakan pita pengukur. Sedangkan
pengumpulan data kadar gula darah acak yang tinggi dilakukan dengan cara
pengukuran langsung menggunakan alat pengukur stik gula darah.
2. Instrument Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah instrumen tes yang berupa
alat ukur tinggi badan (pita pengukur), alat ukur berat badan (Timbangan) dan alat
ukur kadar gula darah acak (Stik Gula Darah).

21
G. Teknik Pengolaan Data
1. Editing
Setelah data diperoleh dari responden kemudian dilakukan pengecekan saat itu juga
untuk memastikan kelengkapan data atau cara pengisian.
2. Coding
Memberikan kode numerik pada data yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam
melakukan tabulasi dan analisa data.Seperti responden 1 diberi kode R1, responden 2
diberi kode R2 dan seterusnya.
3. Tabulating
Memasukkan hasil dari pengukuran data ke distribusi frekuensi sesuai kebutuhan.
4. Analisis data
Dalam analisis data menggunakan uji korelasi pearson, sebelum nya dilakukan dulu
uji asumsi. Bila memenuhi uji asumsi akan dilanjutkan analisi uji korelasi pearson,
bila tidak akan dingunakan uji korelasi spearmen. Uji analisis dilakukan
menggunakan bantuan SPSS.

22
BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel di Puskesmas yang berada di
wilayah Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo yaitu Puskesmas Barengkrajan. Sampel
diambil secara acak berdasarkan kunjungan pasien dan keluarga pasien ke Puskesmas
Barengkrajan dengan kriteria sampel merupakan penduduk Barengkrajan, usia 16-60
tahun, dan bersedia menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan pada tanggal 9
dan 11 April 2016 terhadap 36 responden.

B. Karakteristik Responden
1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Diagram 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Diagram 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan


sebanyak 19 orang (52.8%) dan laki – laki sebanyak 17 orang (47.2%).

23
2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Diagram 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Distribusi responden berdasarkan usia didapatkan rentang usia 18-24 tahun


sebanyak 4 orang (11.1%), usia 25-31 tahun sebanyak 4 orang (11.1%), usia 32-38
tahun sebanyak 6 orang (16.7%), usia 39-45 tahun sebanyak 8 orang (22.2%), usia
46-52 tahun sebanyak 7 orang (19.4%), usia 53-59 tahun sebanyak 4 orang
(11.1%), dan usia 60-66 tahun sebanyak 3 orang (8.3%).

3. Distribusi Responden Berdasarkan Lingkar pinggang


Distribusi responden berdasarkan Lingkar pinggang didapatkan Lingkar
pinggang normal perempuan sebanyak 7 orang (19,4%), Lingkar pinggang berlebih
sebanyak 12 orang (33,3%).

24
Diagram 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Lingkar Pinggang
Perempuan

Distribusi responden berdasarkan Lingkar pinggang didapatkan Lingkar


pinggang normal laki - laki sebanyak 11 orang (30,6%), Lingkar pinggang berlebih
sebanyak 6 orang (16,7%).

Diagram 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Lingkar


Pinggang Laki - Laki

25
Distribusi responden berdasarkan Lingkar pinggang secara total didapatkan
Lingkar pinggang normal sebanyak 18 orang (50%), Lingkar pinggang berlebih
sebanyak 18 orang (50%).

Diagram 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Lingkar Pinggang Total

4. Distribusi Responden Berdasarkan Gula Darah Acak


Distribusi responden berdasarkan gula darah acak didapatkan gula darah acak
normal sebanyak 32 orang (88.9%) dan gula darah acak tinggi sebanyak 4 orang
(11.1%).

26
Diagram 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Gula Darah Acak

C. Hasil Uji Korelasi “Hubungan Lingkar Pinggang Terhadap Kadar Gula Darah
Acak”

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


GDAVar LPA
N 36 36
Normal Parametersa,b Mean 163.2222 88.4444
Std.
95.71150 12.54351
Deviation
Most Extreme Absolute .172 .138
Differences Positive .172 .138
Negative -.155 -.063
Test Statistic .172 .138
Asymp. Sig. (2-tailed) .008c .079c

27
Uji korelasi menggunakan uji pearson harus memenuhi syarat skala data rasio atau
interval dan sudah melewati uji asumsi atau normalitas. Pada uji normalitas menggunakan
perhitungan uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan hasil uji probabilitas pada SPSS yaitu
dilihat pada nilai Asymp. Sig. (2 tailed) nilainya 0.08 dimana < 0.5 yang artinya data tidak
memenuhi distribusi normal. Data yang tidak memenuhi distribusi normal dapat
dilanjutkan dengan uji korelasi menggunakan uji spearman’s sebagai berikut:

Tabel 5.2 Hasil uji Spearman’s

GDAVar LPA

Spearman's rho GDAVar Correlation Coefficient 1.000 .521**

Sig. (2-tailed) . .001

N 36 36

LPA Correlation Coefficient .521** 1.000

Sig. (2-tailed) .001 .

N 36 36

Berdasarkan output diatas, kita akan melakukan penarikan kesimpulan dengan


merujuk pada dasar pengambilan keputusan korelasi. Berdasarkan nilai signifikansi dari
output diatas diketahui antara Lingkar pinggang dengan GDA Variabel nilai signifikansi
0.001 yang berarti terdapat korelasi yang signifikan terhadap peningkatan Lingkar pinggang
dan GDA. Selanjutnya, antara GDA Variabel dengan Lingkar pinggang nilai signifikansi
0.001 yang berarti terdapat korelasi yang signifikan terhadap peningkatan Lingkar pinggang
dan GDA. Berdasarkan correlation coefficient dari output diatas diketahui bahwa nilai
Sperman Correlation yang dihubungkan antara masing-masing variabel mempunyai nilai
0,521, ini berarti tingkat hubungan peningkatan lingkar pinggang terhadap GDA adalah
koreasi sedang

28
BAB VI
PEMBAHASAN

Dari hasil pengukuran kadar glukosa darah didapatkan gula darah acak normal
sebanyak 32 orang (88.9%) dan gula darah acak tinggi sebanyak 4 orang (11.1%) yang
kemungkinan besar menderita diabetes militus. . Berdasarkan hasil analisa data lingkar
pinggang dan kadar gula darah acak didapatkan hubungan yang signifikan. Namun korelasi
ini tidak selalu memberikan gambaran bahwa orang dengan lingkar pinggang yang tinggi di
ikuti dengan kadar gula darah acak yang tinggi dan menyebabkan diabetes militus.
Hasil penelitian mendapatkan adanya hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar
gula acak yang tinggi. Distribusi responden berdasarkan Lingkar pinggang didapatkan
Lingkar pinggang normal perempuan sebanyak 7 orang (19,4%), Lingkar pinggang
berlebih sebanyak 12 orang (33,3%). Berdasarkan nilai signifikansi: dari uji spearman
diatas diketahui antara Lingkar pinggang dengan GDA Variabel nilai signifikansi 0.025
yang berarti terdapat korelasi yang signifikan terhadap peningkatan Lingkar pinggang
Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Meneely
(2001) menunjukkan bahwa secara prospektif rata-rata lingkar pinggang (wrist
circumference) pada diabetic lebih tinggi dari non diabetic. Dengan rata – rata 94,4 cm
pada laki-laki dan 80,7 pada perempuan. Ditinjau dari proporsi obesitas berdasarkan IMT
dan Lingkar pinggang obesitas lebih banyak dibandingkan pada kasus, baik obesesitas
overall 61,2 % maupun obesitas central 57,1 %.
Lingkar pinggang berlebih juga merupakan factor resiko independen penyakit DM
tipe 2. Hasil ini didukung oleh penelitian Gotera et al (2003) yang menunjukkan perbedaan
signifikan kadar gula darah pada obesitas sentas dan bukan obes yang diukur dari lingkar
pinggang.
Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan itu
sendiri. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino, dan lemak menjadi
asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk ke pembuluh
darah dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk dimanfaatkan oleh organ-organ sebagai bahan
bakar. Agar dapat berfungsi sebagai bahan bakar, di dalam sel zat makanan terutama
glukosa harus dimetabolisme terlebih dahulu. Dalam proses metabolisme itu insulin
memegang peranan penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya
dapat digunakan sebagai bahan bakar (Suyono, 2011).

29
Pada keadaan normal artinya kadar insulin cukup dan sensitif, insulin akan ditangkap
oleh reseptor insulin yang ada pada permukaan sel, kemudian membuka pintu masuk sel,
sehingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar menjadi energi. Akibatnya
kadar glukosa darah menjadi normal (Suyono, 2011). Hal ini berbeda pada keadaan
obesitas, terjadi peningkatan mRNA Lipopolysaccharides (LPS)-induced TNF-α factor
(LITAF) dan kadar protein seiring dengan peningkatan IMT mengindikasikan hubungan
paralel antara LITAF dan gangguan metabolik. Menurut penelitian tersebut, LITAF
teraktivasi pada pasien obesitas dan berperan terhadap perkembangan obesitas yang
menginduksi inflamasi dan resistensi insulin, berdasarkan fakta bahwa LITAF berperan
dalam proses inflamasi dalam mengatur ekspresi dari TNF-α, IL-6 and MCP-1 yang
mengakibatkan resistensi insulin, dan TLR4. Salah satu reseptor LITAF pada makrofag
juga bisa distimulasi oleh asam lemak bebas yang dapat menimbulkan proses inflamasi
pada pasien obesitas.LITAF merupakan pengatur traskripsi TNF-α yang seharusnya
berperan pada mekanisme imun terhadap infeksi. Gen LITAF terletak pada 16p13.13 yang
secara signifikan terdapat di limfa, kelenjar getah bening, dan leukosit darah perifer. TNF-α
adalah pemicu kuat adipositokinin proinflamasi seperti IL-6, MCP-1, leptin dan PAI-1. Hal
ini sangat terlibat dalam proses inflamasi pada pasien obesitas. Peningkatan TNF-α yang
diobservasi pada jaringan lemak pasien obesitas menunjukkan hubungan langsung
timbulnya resistensi insulin pada pasien obesitas (Zhong et al, 2011).
Terjadinya resistensi insulin ini menyebabkan glukosa yang beredar di dalam darah
tidak mampu untuk masuk ke dalam sel, sehingga kadar gula di dalam darah menjadi lebih
tinggi dari normal (Suyono, 2011).
Keadaan obesitas disebabkan oleh asupan nutrisi berlebihan secara terus menerus
menyebabkan simpanan lemak menjadi berlebihan. Simpanan asam lemak dalam bentuk
senyawa kimia berupa triasilgliserol yang terdapat di dalam sel-sel adiposit dapat
melindungi tubuh dari efek toksik asam lemak. Asam lemak dalam bentuk bebas dapat
bersirkulasi dalam pembuluh darah ke seluruh tubuh dan menimbulkan stres oksidatif yang
kita kenal dengan lipotoksisitas. Timbulnya efek lipotoksisitas yang disebabkan sejumlah
asam lemak bebas yang dilepaskan triasilgliserol dalam upaya kompensasi penghancuran
simpanan lemak yang berlebihan berpengaruh terhadap jaringan adiposa maupun non-
adiposa, serta berperan pada patofisiologi penyakit di berbagai organ seperti hati dan
pankreas. Pelepasan asam lemak bebas dari triasilgliserol yang berlebihan ini juga dapat
menghambat sintesis lemak dan menurunkan bersihan triasilgliserol. Hal ini dapat
meningkatkan kecenderungan hipertrigliseridemia. Pelepasan asam lemak bebas oleh

30
lipoprotein lipase endotel dari trigliserida yang meningkat dalam peningkatan lipoprotein β
menyebabkan lipotoksisitas yang juga mengganggu fungsi reseptor insulin. Konsekuensi
resistensi insulin adalah hiperglikemia, yang dikompensasi dengan sintesis glukosa dari
hati (glukoneogenesis), yang justru ikut memperberat hiperglikemia. Asam lemak bebas
juga ikut berkontribusi pada hiperglikemia dengan menurunkan penggunaan glukosa dari
otot yang terstimulasi insulin. Lipotoksisitas akibat kelebihan asam lemak bebas juga
menurunkan sekresi insulin dari sel β pankreas, yang akhirnya sel β akan mengalami
kelelahan (Sudoyo et al, 2009).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui pula penyebab lingkar pinggang
berlebih atau obesitas namun terkadang terdapat angka kelainan metabolisme glukosa yang
rendah atau normal, yang kemungkinan disebabkan belum lamanya responden mengalami
lingkar pinggang berlebih.
Keterbatasan jumlah responden bisa juga memengaruhi hasil penelitian ini, pada
penelitian ini jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sudah terpenuhi akan tetapi untuk
mendapatkan hasil yang lebih spesifik dibutuhkan jumlah sampel yang lebih banyak
sehingga faktor kesalahannya menjadi lebih kecil (Dahlan, 2010).

31
BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes Mellitus merupakan penyakit degeneratife yang mempunyai banyak
faktor yang mempengaruhinya, yaitu peningkatan gula darah, hipertensi, kegemukan, dll.
Kegemukan merupakan salah satu masalah kesehatan karena terjadinya penimbunan
lemak yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan resiko tinggi terjadinya diabetes
melitus. Kecendrungan terjadinya kegemukan berhubungan dengan ketidak-seimbangan
pola makan dan aktifitas fisik. Seseorang yang mengalami kegemukan maka akan
mengalami perubahan yaitu peningkatan berat badan dan lingkar pinggang pula.
Semakin gemuk maka ukuran diameter lingkar pinggang akan semakin meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian memiliki nilai signifikansi 0.001 sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar gula
darah acak pada masyarakat yang datang periksa di poli umum Puskesmas Barengkrajan,
Sidoarjo.

B. Saran
1. Sebaiknya pelayanan kesehatan mengadakan skrining seperti pengukuran
antropometri (indeks masa tubuh, lingkar pinggang dan lingkar lengan), Pada pasien
yang terlihat gemuk (obesitas) dan memiliki lingkar pinggang >80 untuk wanita dan
>90 untuk pria, menginggat lingkar pinggang yang berlebih berhubungan dengan
kadar gula darah dan merupakan salah satu faktor diabetes melitus.
2. Perbaiki aktivitas fisik dan pola makan yang baik dapat disarankan melalui
konseling gizi pada penderita obesitas saat kunjungan ke puskesmas menginggat
kegemukan seseorang dapat berhubungan dengan kadar gula darah, yang dapat
menjadi faktor resiko diabetes melitus.
3. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jangka waktu yang lebih lama dan
metode yang ebih baik untuk mengetahui faktor penyebab lingkar pinggang berlebih
dengan tes kadar gula darah yang lengkap dengan metode kohort

32
DAFTAR PUSTAKA

Arisman,(2011) Buku Ajar:Gizi Dalam Daur Kehidupan. Bagian Ilmu Gizi


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Palembang.

Bell, GeK., Popkin B.M.2001. Weight gain and its predictors in Chinese Adults. International
J Nationed Metabolisb Disorder 25: 1079 – 1086.

Cani PD, Amar J, Iglesias MA. 2007. Metabolic endotoxemia initiates obesity and insulin
resistance. Diabetes care 56:1761–1772.

D'adamo, Peter.J.2008. Diet Sehat Diabetes Sesuai Golongan Darah. Yogyakarta:


Delapratasa.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Tahun 2030 prevalensi diabetes melitus di
Indonesia mencapai 21,3 juta orang. http://www.depkes.go.id/index.php. (2 April 2016)

rd
Dudek, Susan G. (1997). Nutrition handbook for nursing practice. 3 Ed. Philadelphia:
Lippincott-Raven.

nd
Ebersole, P., Hess,P., Touhy,T.,Jett,K. (2009). Gerontological nursing &health aging.2 ed.
St. Louis, Missouri: Mosby, Inc.

Executive summary of the third report of the National Cholesterol Education Program
(NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in
Adults (Adult Treatment Panel III). 2001. JAMA. 285:2486-2497.

Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC

Grundy SM., 2004. What is the contribution of obesity to the metabolic syndrome? Endocrinol
Metab Clin N Am, 33:267-82.

Hartoni, Andry. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EGC.

Janssen, I., Heymsfield, S., Allison, D.B., et al. 2002. Body Mass Index, and Waist
Circumference Independently Contribute to the Prediction of Nonabdominal, Abdominal
Subcutaneous, and Viscera Fat. Am J Clin Nutr. 75:683-688.

Khairina, Desy. (2008). Faktor-faktor yang brhubungan dengan status gizi berdasarkan IMT
pada pembantu Rumah tangga wanita di perumahan duta indah bekasi [Skripsi]. Depok:
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Labib M. 2003. The investigation and management of obesity. J Clin Pathol 56:17-25.

Lakka, H.M., Laaksonen, D.E., Lakka, T.A. et al. 2002. The Metabolic Syndrome and
TotalCardiovascular Disease Mortality in Middle-Aged Men. JAMA. 288:2709-2716.

Lean, M.E.J., Han, T.S., Morrison, C.E. 1995. Waist Circumference as a Measure for

33
Indicating Need For Weight Management. BMJ. 311:158-161.

Liubov ,Noun B , and Laor A. 2003 Relationship of Neck Circumference to Cardiovascular


Risk Factors. Obesity Research 11:226 –231.

Lin. W.Y., Lee, W.T., Chen, C.Y., et al. 2002. Optimal Cut-off Values For Obesity; Using
Simple Anthropometric Indeces to Predict Cardiovascular Risk Factors in Taiwan. Int J Obes
Relat Metab Disord. 26:1232-1238.

th
Meiner, Sue E & Annette, G.L. (2006). Gerontological nursing.3 ed. St. Louis Missouri:
Mosby.

Merentek E. 2006. Resistensi insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Cermin Dunia Kedokteran
150:38-41.

th
Moore, Mary C. (2009). Pocket guide to nutritional assessment and care.6 ed. St. Louis
Missouri: Mosby Elseiver.

Nguyen, DM., & El-Serag, HB. 2010. The epidemiology of obesity. Gastroenterol Clin
North Am; 39(1): 1-7.

Perkeni, 2010. Konsensus Pengelokan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta, Perkeni.

Purnawati,Lies 1988. Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Diabetes Melitus
Tidak Tergantung Insulin Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUPN Cipto Mangunkusumo Pada
Tahun 1988. Tesis: Universitas Indonesia.

Suastika K. 2004. Metabolic Syndrome Rural Population of Bali. International Journal of


Obesity and Related Metabolic Disorders. 28:S55.9. Lin. W.Y., Lee, W.T., Chen, C.Y., et al.
2002. Optimal Cut-off Values For Obesity; Using Simple Anthropometric Indeces to Predict
Cardiovascular Risk Factors in Taiwan. Int J Obes Relat Metab Disord. 26:1232-1238.

Supariasa, I Dewa Nyoman. (2001). Penilaian status gizi.Jakarta: EGC.

Utaminingsih, Wahyu Rahayu.(2009). Mengenal dan Mencegah Penyakit Diabetes,


Hipertensi. Yogyakarta: Media Ilmu

Vasquez G, Duval S, Jacobs DR, and Silventoinen K. 2007. Comparison of body mass index,
waist circumference, and waist/hip ratio in predicting incident diabetes: a meta-analysis.
Epidemiol Rev 29:115–128.

Waspadji, Sarwoni, Kartini Sukardji, Meida Oktarina, 2004. Pedoman Diet Diabetes Melitus.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

World Health Organization. 2010. Obesity and overweight: programmes and project of global
strategy on diet, physical activity and health. Geneva, Switzerland : WHO document
production services. p: 1

34
Zhu, S., Heshka, S., Wang, Z., et al. 2004. Combination of BMI and Waist Circumference for
Identifying Cardiovsscular Risk Factors in Whites. Original Research. Obesity Research.
12:633-645.

Suyono, S., 2011. Patofisiologi Diabetes Melitus dalam buku Penatalaksanaan Diabetes
Terpadu sebagai Panduan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus bagi dokter maupun
edukator diabetes. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Vasquez G, Duval S, Jacobs DR, and Silventoinen K. 2007. Comparison of body mass index,
waist circumference, and waist/hip ratio in predicting incident diabetes: a meta-
analysis. Epidemiol Rev 29:115–128.

Waspadji, Sarwoni, Kartini Sukardji, Meida Oktarina, 2004. Pedoman Diet Diabetes Melitus.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

World Health Organization. 2010. Obesity and overweight: programmes and project of global
strategy on diet, physical activity and health. Geneva, Switzerland : WHO document
production services. p: 1

World Health Organization. 2010. Obesity and overweight: programmes and project of global
strategy on diet, physical activity and health. Geneva, Switzerland : WHO document
production services.

Zhong, J. Z., Zhe, D., dan Cheng, X. Y., 2011. A New Tumor Necrosis Factor (TNF)-Α
Regulator, Lipopolysaccharides- Induced TNF-α Factor, is Associated with Obesity and
Insulin Resistance. Dalam : Chinese Medical Journal Volume 124 No. 2, China : 177-
182. Available from :
http://www.cmj.org/Periodical/paperlist.asp?id=LW2011123814944301158&linkintype
=pubmed [Accesed 8 April 2012]

Zhu, S., Heshka, S., Wang, Z., et al. 2004. Combination of BMI and Waist Circumference for
Identifying Cardiovsscular Risk Factors in Whites. Original Research. Obesity
Research. 12:633-645.

35