Anda di halaman 1dari 22

INHALASI

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Farmakologi


Dosen Pengampu : Ns. Sunardi, M.Kep, Sp. KMB

Disusun Oleh :
Kelompok 7 Tingkat 1A/ D3 Keperawatan
Mia Mawaddah P27901117018
Rita Fitriyani P27901117030
Rosih P27901117032
Siti Nur Azizah P27901117035
Siti Nurul Islah P27901117036
Soniah P27901117037

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN


JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
PROGAM STUDI D III KEPERAWATAN
TAHUN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah
ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya, walaupun banyak hambatan
dan kesulitan yang kami hadapi. Dalam makalah ini kami akan membahas
mengenai ”Inhalasi”.
Makalah ini telah dibuat dari berbagai sumber dan beberapa bantuan oleh
berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan hambatan selama mengerjakan
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Kami menyadari, sudah tentu makalah ini masih banyak kekurangan dan
belum dikatakan sempurna karena keterbatasan kemampuan kelompok . Oleh
karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak,
membantu kami agar dalam pembuatan makalah di waktu yang akan datang bisa
lebih baik lagi . Harapan kami semoga makalah ini berguna bagi siapa saja yang
membacanya.
Dari akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.

Tangerang, 22 Maret 2018

Kelompok 7

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Inhalasi ..................................................................................... 3
2.2 Tujuan Pengobatan Inhalasi ....................................................................... 3
2.3 Cara Pemberian Obat Secara Inhalasi ........................................................ 4
2.4 Jenis Obat Inhalasi...................................................................................... 10
2.5 Prosedur Pemberian Obat ........................................................................... 13
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Alat Inhalasi ................................................... 16

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 18
3.2 Saran ........................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perkembangan pesat pada teknologi terapi inhalasi telah memberikan
manfaat yang besar bagi pasien yang menderita penyakit saluran
pernapasan, tidak hanya pasien yang menderita penyakit asma tetapi juga
pasien bronkitis kronis, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik),
bronkiektasis, dan sistik fibrosis. Keuntungan utama pada terapi inhalasi
bahwa obat dihantarkan langsung ke dalam saluran pernapasan langsung
masuk ke paru-paru, kemudian menghasilkan konsentrasi lokal yang lebih
tinggi dengan risiko yang jauh lebih rendah terhadap efek samping sistemik
yang ditimbulkan (GINA, 2008). Bioavailabilitas obat meningkat pada
terapi inhalasi karena obat tidak melalui metabolisme lintas pertama (first-
pass metabolism) (Ikawati, 2007).
Inhaler dan nebulizer merupakan jenis dengan cara penggunaan yang
khusus, keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh ketepatan cara
penggunaannya. Pasien yang menggunakan nebulizer harus dilatih secara
hati-hati mengenai cara penggunaannya, karena mereka mungkin akan
tergantung alat tersebut. Percobaan terapi dengan nebulizer perlu dilakukan
3-4 minggu untuk menilai manfaat yang didapatkan secara signifikan dan
untuk dinyatakan bermanfaat, terapi ini normalnya harus dapat memberikan
perbaikan sedikitnya 15% dari nilai sebelum terapi (Cates et al., 2002).
Nebulizer dapat digunakan pada semua usia, dan untuk beberapa tingkat
keparahan penyakit tertentu (Geller, 2005). Keuntungan dari nebulizer
adalah kurang diperlukannya koordinasi pasien terhadap alat ini
dibandingkan dengan metered dose inhaler (MDI).
Metered dose inhaler adalah perangkat inhaler yang paling banyak
digunakan, umumnya kesalahan yang terjadi pada pasien yang
menggunakan MDI adalah kebanyakan pasien menghirup terlalu cepat (Al
showair et al., 2007), kegagalan untuk menahan napas selama 5-10 detik

1
(52,2%) dan kegagalan inspirasi dengan perlahan dan dalam 46,4%
(Alamoudi, 2003). Kegagalan untuk menghembuskan napas sebelum
aktuasi, posisi yang salah dari penggunaan inhaler dan urutan rotasi yang
salah (Lavorini et al., 2008). Masalah perangkat inhalasi juga sering terjadi
pada perangkat inhaler dosis terukur (MDI) sehingga khasiat obat tidak
optimal (Rau, 2006). Tingkat kesalahan juga meningkat dengan usia dan
dengan keparahan obstruksi jalan napas (Wieshammer, 2008). Sedangkan
pada nebulizer, umumnya kesalahan teknik cara penggunaan nebulizer pada
pasien sebesar 18% dan kesalahan pasien tidak membersihkan nebulizer
dengan disinfektan sama sekali 24% (Geller, 2005). Sejumlah 7 dari 25
pasien yang menggunakan terapi inhalasi dengan nebulizer ditemukan
adanya kontaminasi dari alat yang disebabkan tidak dibersihkan dan
dikeringkan secara menyeluruh sebelum digunakan (Botman & de Krieger,
1987).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian inhalasi?
2. Apa tujuan pengobatan secara inhalasi?
3. Bagaimana cara pemberian obat secara inhalasi?
4. Apa saja jenis obat inhalasi?
5. Bagaimana prosedur pemberian obat secara inhalasi?
6. Apa kelebihan dan kekurangan alat terapi inhalasi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian inhalasi.
2. Untuk mengetahui tujuan pengobatan secara inhalasi.
3. Untuk mengetahui cara pemberian obat secara inhalasi.
4. Untuk mengetahui jenis obat inhalasi.
5. Untuk mengetahui prosedur pemberian obat secara inhalasi.
6. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan alat terapi inhalasi.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Inhalasi


1
Inhalasi yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran
nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas sehingga absorpsi
obat terjadi dengan cepat. Dengan demikian berguna untuk pemberian obat
secara lokal pada salurannya, misalnya salbutamol (ventolin), combivent,
berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
2
Pemberian obat ini hanya dapat dilakukan pada obat-obatan yang
berbentuk larutan yang mudah menguap misalnya untuk obat-obatan berupa
gas (beberapa obat anestetik) atau obat yang dapat didispersi dalam suatu
eorosol. Pemberian obat dengan cara ini cukup susah dan kurang baik,
karena perlu alat khusus, sukar mengatur dosisnya, dan obatnya dapat
mengiritasi epitel paru.

2.2 Tujuan pengobatan secara inhalasi


3
Tujuan pengobatan secara inhalasi adalah untuk mengurangi
bronkospasme, mengencerkan sputum, menurunkan hipereaktiviti bronkus,
serta mengatasi infeksi. Terapi ini baik digunakan pada terapi jangka
panjang untuk menghindari efek sistemik yang ditimbulkan obat.
Pada asma, penggunaan obat secara inhalasi dapat mengurangi efek
samping yang sering terjadi pada pemberian parenteral atau peroral, karena
dosis yang sangat kecil.

2.3 Cara pemberian obat secara inhalasi

1
Siti Lestari. Farmakologi dalam Keperawatan. (Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2016), hlm. 24
2
Syamsudin Darmono. Buku Ajar Farmakologi Eksperiental. (Jakarta : Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press), 2011), hlm. 25
3
Siti Lestari,op. cit. hlm 189

3
4
Hingga saat ini dikenal 3 sistem inhalasi yang digunakan dalam klinik
sehari-hari yaitu:

1. Nebuliser
5
Alat nebuliser dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi
aerosol secara terus menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang
dipadatkan atau gelombang ultrasonic. Model Nebuliser terdiri dari 3 jenis
yaitu ultrasonic nebulizer, jet nebulizer, dan Nebulizer mini portable
(portable nebulizer). Hasil pengobatan dengan nebuliser lebih banyak
bergantung pada jenis nebuliser yang digunakan. Terdapat nebuliser yang
dapat menghasilkan partikel aerosol terus menerus ada juga yang dapat
diatur sehingga aerosol hanya timbul pada saat penderita melakukan inhalasi
sehingga obat tidak banyak terbuang.

 Ultrasonic nebulizer

Alat ini menggunakan gelombang ultrasounik (vibrator dengan


frekuensi tinggi) untuk secara perlahan merubah obat dari bentuk cair ke
bentuk aerosol basah melalui osilasi frekuensi tinggi dari piezo-electric
crystal yang berada dekat larutan dan cairan memecah menjadi aerosol.
 Jet nebulizer

4
Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002: 67 - 73
5
Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, SpP(K), dkk. Modul Keterampilan Klinis Terapi Inhalasi Nebulisasi.
(Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 2015)

4
Alat ini paling banyak digunakan banyak negara karena relatif lebih
murah dari pada ultrasonic nebuliser. Dengan gas jet berkecepatan tinggi
yang berasal dari udara yang dipadatkan dalam silinder ditiupkan melalui
lubang kecil dan akan dihasilkan tekanan negatif yang selanjutnya akan
memecah larutan menjadi bentuk aerosol. Aerosol yang terbentuk dihisap
pasien melalui mouth piece atau sungkup. Dengan mengisi suatu tempat
pada nebuliser sebanyak 4 ml maka dihasilkan partikel aerosol berukuran <
5 Ïm, sebanyak 60-80% larutan nebulisasi akan terpakai dan lama nebulisasi
dapat dibatasi. Dengan cara yang optimal maka hanya 12% larutan akan
terdeposit di paru-paru. Bronkodilator yang diberikan dengan nebuliser
memberikan efek bronkodilatasi yang bermakna tanpa menimbulkan efek
samping.

 Nebulizer mini portable (portable nebulizer)

bentuknya kecil, dapat dioperasikan dengan


menggunakan baterai dan tidak berisik sehingga
nyaman digunakan.
2. Metered Dose Inhaler (MDI)

5
Metered dose inhaler (MDI) atau inhaler dosis terukur merupakan cara
inhalasi yang memerlukan teknik inhalasi tertentu agar sejumlah dosis obat
mencapai saluran pernafasan. Pada inhaler ini bahan aktif obat
disuspensikan dalam kurang lebih 10 ml cairan pendorong (propelan) dan
yang biasa digunakan adalah kloroflurokarbon (chlorofluorocarbon = CFC)
pada tekanan tinggi. Akhir-akhir ini mulai dikembangkan penggunaan
bahan non-CFC yaitu hidrofluroalkana (HFA) yang tidak merusak lapisan
ozon. Propelan mempunyai tekanan uap tinggi sehingga di dalam tabung
(kanister) tetap berbentuk cairan. Bila kanister ditekan, aerosol
disemprotkan keluar dengan kecepatan tinggi yaitu 30 m/detik dalam bentuk
droplet dengan dosis tertentu melalui aktuator (lubang). Pada ujung aktuator
ukuran partikel berkisar 35 Ïm, pada jarak 10 cm dari kanister besarnya
menjadi 14 Ïm, dan setelah propelan mengalami evaporasi seluruhnya
ukuran partikel menjadi 2,8-4,3 Ïm. Dengan teknik inhalasi yang benar
maka 80% aerosol akan mengendap di mulut dan orofarings karena
kecepatan yang tinggi dan ukurannya besar, 10% tetap berada dalam
aktuator, dan hanya sekitar 10% aerosol yang disemprotkan akan sampai ke
dalam paru-paru. Pada cara inhalasi ini diperlukan koordinasi antara
penekanan kanister dengan inspirasi napas. Untuk mendapatkan hasil
optimal maka pemakaian inhaler ini hendaklah dikerjakan sebagai berikut:
• terlebih dahulu kanister dikocok agar obat tetap homogen, lalu tutup
kanister dibuka
• inhaler dipegang tegak kemudian pasien melakukan ekspirasi maksimal
secara perlahan

6
• mulut kanister diletakkan diantara bibir, lalu bibir dirapatkan dan dilakukan
inspirasi perlahan sampai maksimal
• pada pertengahan inspirasi kanister ditekan agar obat keluar
• pasien menahan nafas 10 detik atau dengan menghitung 10 hitungan pada
inspirasi maksimal
• setelah 30 detik atau 1 menit prosedur yang sama diulang kembali
• setelah proses selesai, jangan lupa berkumur untuk mencegah efek samping.
Langkah-langkah di atas harus dilaksanakan sebelum pasien
menggunakan obat asma jenis MDI. Langkah diatas sering tidak diikuti
sehingga pengobatan asma kurang efektif dan timbul efek samping yang
tidak diinginkan. Beberapa ahli mengidentifikasi beberapa kesalahan yang
sering dijumpai antara lain kurangnya koordinasi pada saat menekan
kanister dan saat menghisap, terlalu cepat inspirasi, tidak berhenti sesaat
setelah inspirasi, tidak mengocok kanister sebelum digunakan, dan terbalik
pemakaiannya. Kesalahan-kesalahan di atas umumnya dilakukan oleh anak
yang lebih muda, manula, wanita, dan penderita dengan sosial ekonomi dan
pendidikan yang rendah.
MDI dengan spacer

Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara aktuator dengan


mulut sehingga kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi berkurang dan
akan dihasilkan partikel berukuran kecil yang berpenetrasi ke saluran
pernafasan perifer. Hal ini merupakan kelebihan dari penggunaan spacer
karena mengurangi pengendapan di orofaring. Spacer ini berupa tabung
(dapat bervolume 80 ml) dengan panjang sekitar 10-20 cm, atau bentuk lain

7
berupa kerucut dengan volume 700-1000 ml. Untuk bayi dianjurkan
menggunakan spacer volume kecil (babyhaler) agar aerosol yang dihasilkan
lebih mampat sehingga lebih banyak obat akan terinhalasi pada setiap
inspirasi. Beberapa alat dilengkapi dengan katup satu arah yang akan
terbuka saat inhalasi dan akan menutup pada saat ekshalasi misalnya
Nebuhaler (Astra), Volumatic (A&H). Pengendapan di orofaring akan
berkurang yaitu sekitar 5% dosis yang diberikan bila digunakan spacer
dengan katup satu arah. Pada spacer tanpa katup satu arah, pengendapan di
orofaring sekitar 8-60% dosis. Dengan penggunaan spacer, deposit pada
paru akan meningkat menjadi 20% dibandingkan tanpa spacer. Penggunaan
spacer ini sangat menguntungkan pada anak karena pada anak
koordinasinya belum baik. Dengan bantuan spacer, koordinasi pada saat
menekan kanister dengan saat penghisapan dapat dikurangi atau bahkan
tidak memerlukan koordinasi. Apabila spacer ini tidak tersedia maka
sebagai penggantinya bisa digunakan spacer sederhana yang murah dan
mudah dibuat yaitu dari plastic coffee cup yang dilubangi dasarnya untuk
tempat aerosol. Cara ini sudah terbukti bermanfaat hanya untuk
bronkodilator dan belum dibuktikan berguna untuk natrium kromoglikat dan
steroid.
Easyhaler

Easyhaler adalah inhaler serbuk multidosis yang merupakan alternatif


dari MDI. Komponennya terdiri dari plastik dan cincin stainless steel dan
mengandung serbuk untuk sekurang-kurangnya 200 dosis. Masing-masing

8
dosis obat dihitung secara akurat dengan cara menekan puncak alat
(overcap) yang akan memutari silinder (metering cylindric) pada bagian
bawah alat tersebut. Cekungan dosis berisi sejumlah obat berhubungan
langsung dengan mouth piece. Saluran udara ke arah mouthpiece berbentuk
corong dengan tujuan untuk mengoptimalkan deposisi obat di saluran napas.
Terdapat takaran dosis yang berguna untuk memberi informasi kepada
pasien mengenai sisa dosis obat. Pelindung penutup berguna untuk
mencegah kelembaban. Partikel obat yang halus (<10 Ï) sulit untuk
melayang jauh dan cenderung untuk menggumpal, oleh karena itu zat aktif
tersebut dicampur dengan sejumlah kecil laktosa yang berperan sebagai
pembawa. Pada easyhaler ukuran partikel laktosa cukup besar untuk deposit
di saluran napas bawah sehingga diharapkan akan jatuh di orofaring.
Keadaan ini mempunyai keuntungan untuk memberitahukan pada penderita
bahwa obatnya benar terhisap dengan rasa manis di mulut.

3. Dry Powder Inhaler

Pada awalnya di tahun 1957 jenis inhaler ini digunakan untuk delivery
serbuk antibiotik. Selanjutnya banyak penelitian uji klinis yang
menunjukkan bahwa DPI bisa digunakan untuk pengobatan asma anak.
Dalam perkembangannya pada tahun 1970 dibuat inhaler yang hanya

9
memuat serbuk kering dosis tunggal seperti misalnya spinhaler dan
rotahaler, dan akhir tahun 1980 diperkenalkan inhaler yang memuat multiple
dosis yaitu yang dikenal dengan diskhaler (8 dosis) dan turbuhaler.
Beberapa tahun terakhir ini diperkenalkan diskus (di Inggris dikenal dengan
accuhaler) yang memuat 60 dosis dan dapat dipergunakan untuk 1 bulan
terapi. 6 Inhaler jenis ini tidak mengandung propelan sehingga mempunyai
kelebihan dari MDI. Penggunaan obat serbuk kering pada DPI memerlukan
inspirasi yang cukup kuat. Pada anak yang kecil hal ini sulit dilakukan
mengingat inspirasi kuat belum dapat dilakukan, sehingga deposisi obat
pada saluran pernafasan berkurang. Pada anak yang lebih besar, penggunaan
obat serbuk ini dapat lebih mudah, karena kurang memerlukan koordinasi
dibandingkan dengan MDI. Dengan cara ini deposisi obat di dalam paru
lebih tinggi dan lebih konstan dibandingkan MDI sehingga dianjurkan
diberikan pada anak di atas 5 tahun. Cara DPI ini tidak memerlukan spacer
sebagai alat bantu sehingga mudah dibawa dan dimasukkan ke dalam saku.
Hal ini yang juga memudahkan pasien dan lebih praktis.

2.4 Jenis obat inhalasi


6

Nama
Kandungan Jenis obat Penggunaan
Obat
Aminofilin 225 mg, 0,2 mg/ml Sirup,tablet Oral
Aminofilin Aminofilin 200 mg, benzokain 60
mg Supositoria Parenteral
Beklometason dipropionat 50
Beklometason mcg/semprot Inhalasi MDI
Dipropionat Beklometason dipropionat 200
mg/dosis, laktosa qs Inhalasi DPI

6
R. Purnamasari,” jurnal penelitian Wibowo (2011)Tentang penggunaan inhaler pada pasien asma
rawat jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta” diambil dari eprints.ums.ac.id

10
Budesonid 100 mcg, 200
mcg/semprot Inhalasi MDI
Budesonid 100 mcg Inhalasi DPI
Budesonid
Budesonid 0,25 mg, 0,50 mg/ml Inhalasi Nebulizer
Budesonid 80 mcg/160 mcg,
formoterol fumarat 4,5 Mcg Inhalasi DPI
Fenoterol HBr 0,2 mg/dosis Inhalasi MDI
Fenoterol HBr 0,05 mg, Ipatropium
Fenoterol
Br 0,02 mg Inhalasi Nebulizer
Fenoterol HBr 1,0 mg/ml Inhalasi Nebulizer
Flutikason propionat 0,5 mg/2 ml Inhalasi Nebulizer
Flutikason
Flutikason propionat 50 mcg,
propionat Inhalasi MDI
salmeterol sinapoat 25 Mcg
Heptaminol
Heptaminol asefilinat 500 mg Tablet Oral
asefilinat
Ipatropium bromida 0,02 mg Inhalasi MDI
Ipatropium
Ipatropium bromida 0,25 mg/1 ml Inhalasi Nebulizer
Ketotifen 1 mg/tablet, 1 mg/5 ml
Ketotifen
sirup Sirup,tablet Oral
Metaproterenol sulfat 0,75
mg/dosis Inhalasi MDI
Metaproterenol
Metaproterenol sulfat 2 mg/ml, 20
Sirup,tablet Oral
mg/tablet
Natrium
Natrium kromoglikat 5 mg Inhalasi MDI+spacer
kromoglikat
Natrium nedokromil 2 mg/inhalasi
Inhalasi MDI
(aerosol)
Nedocromil
Natrium nedokromil 2 mg/inhalasi
Inhalasi MDI+spacer
(aerosol)
Prokaterol Prokaterol HCl Inhalasi MDI

11
Prokaterol HCl 50 mcg, 25 mcg, 5
Sirup,tablet Oral
mcg/ml
Salbutamol 100 mcg/takar Inhalasi MDI
Salbutamol 200 mcg, laktosa 200
mg/dosis Inhalasi DPI
Salbutamol 2,5 mg/2,5ml NaCl Inhalasi Nebulizer
Salbutamol sulfat 2 mg/5 ml Sirup Oral
Salbutamol
Salbutamol sulfat 2 mg;4mg Tablet Oral
Salbutamol sulfat 120 mcg,
Ipatropium Br 21 mcg Inhalasi MDI
Salbutamol sulfat 1 mcg,
Inhalasi MDI
beklometason dipropionat 50 mcg
Teofilin etilendiamin 24 mg Inhalasi Nebulizer
Teofilin Teofilin anhidrat 130 mg, efedrin
Tablet Oral
HCl 12,5 mg
Terbutalin sulfat 0,25
Inhalasi DPI
mg;0,50/dosis
Terbutalin sulfat Amp 0,5 mg/ml Inhalasi Nebulizer
Terbutalin
Terbutalin sulfat 1,5 mg,
Sirup Oral
guaifenesin 50 mg/5 ml
Terbutaline sulfat 2,5 mg Tablet Oral
Tiotropium
Titropium Br 18 mcg Inhalasi DPI
bromid
Zafirlukas Zafirlukas 20 mg Tablet Oral

12
2.5 Prosedur Pemberian Obat
1. 7Persiapan Alat
 Inhaler dosis terukur(Metered Dose Inhaler) atau Inhaler Bubuk Kering
(Dry Powder Inhaler)
 Spacer (Khusus untuk MDI)
 Tisu sesuai dengan kebutuhan
 Baskom cuci dengan air hangat
 Catatan pengobatan

2. Prosedur cara pemberian obat


1. Persiapan pasien
 Periksa kelengkapan order pengobatan
 Periksa pola napas pasien
 Periksa kemampuan klien untuk memegang, memanipulasi, dan
menekan tabung
2. Langkah Prosedur
 Berikan pasien kesempatan untuk memanipulasi inhaler dan
tempatnya. Jelaskan dan peragakan cara memasang inhaler
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan dosis terukur dan ingatkan pasien
tentang kelebihan penggunaan inhaler termasuk efek samping obat
tersebut.
 Jelaskan langkah-langkah penggunaan dosis obat inhaler. Seperti :
1. Lepas tutup dan pegang inhaler dalam posisi tegak dengan ibu jari
dan dua jari pertama.
2. Kocok inhaler
3. Tekuk kepala sedikit kebelakang dan hembuskan napas
4. Atur posisi inhaler dengan salah satu cara berikut :
 Buka mulut dengan inhaler berjarak 0,5 – 1 cm dari mulut

7
Siti Lestari,loc. cit.

13
 PILIHAN : sambungkan pengatur jarak ke bagian mulut
inhaler
 Tempatkan bagian mulut inhaler atau spacer di dalam mulut
5. Tekan inhaler kebawah mulut untuk melepaskan obat ( satu
tekanan) sambil menghirup dengan perlahan
6. Bernapas perlahan selama 2-3 detik
7. Tahan napas selama sekitar 10 detik
8. Ulangi tekanan sesuai progam, tunggu satu menit diantara tekanan
9. Bila diresepkan 2 obat inhaler, tunggu 5-10 detik antara inhalasi
10. Jelaskan bahwa mungkin pasien merasa ada sensasi tersendak
pada tenggorakan yang disebabkan oleh droplet obat pada faring
lidah
11. Buang tempat obat inhaler dan bersihkan inhaler dengan air hangat
12. Tanyakan apakah pasien ingin mengajukan pertanyaan
13. Intruksikan pasien untuk mengulangi inhalasi sebelum jadwal dosis
berikutnya
14. Catat apa yang diajarkan dan kemampuan pasien untuk
menggunakan inhaler

Tabel 1. Langkah-langkah penggunaan


8

inhaler MDI MDI dengan spacer DPI (turbuhaler)


Membuka tutup inhaler Membuka tutup inhaler Putar dan buka tutupnya
Memegang inhaler Memegang inhaler tegak Posisi inhaler tegak lurus
tegak lurus dan lurus dan mengocok sambil memutar
mengocok tabung tabung inhaler pegangan dan putar
inhaler kembali sampai

8
R. Purnamasari, “Jurnal penelitian Wibowo (2011) Tentang penggunaan inhaler
pada pasien asma rawat jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta” diambil dari
eprints.ums.ac.id

14
tetrdengar klik
Bernapas dengan pelan Memasang inhaler tegak Bernapas dengan pelan
lurus dengan spacer
Meletakkan mouthpiece Meletakkan mouthpiece Meletakkan mouthpiece
diantara gigi tanpa diantara gigi tanpa diantara gigi tanpa
menutupnya tanpa menutupnya tanpa menutupnya tanpa
menutup bibir hingga menutup bibir hingga menutup bibir hingga
mouthpiece tertutup mouthpiece tertutup mouthpiece tertutup
rapat rapat rapat
Mulai inhalasi pelan Pertahankan posisi -
melalui mulut dan inhaler dan tekan
tekan canister canister
Melanjutkan inha Melakukan inhalasi dan Inhalasi dengan kuat dan
sampai 10 detik ekshalasi secara normal dalam
untuk 4 kali napas
Ketika sedang menahan Mengeluarkan inhaler Mengeluarkan inhaler
napas, keluarkan dari mulut dari mulut
inhaler dari mulut
Ekshalasi dengan pelan Ekshalasi dengan pelan Ekshalasi dengan pelan
dari mulut dari mulut dari mulut
Menutup kembali Menutup kembali inhaler Menutup kembali
inhaler inhaler
Berkumur – kumur Berkumur – kumur Berkumur – kumur
setelah menggunakan setelah menggunakan setelah menggunakan
inhaler inhaler inhaler

15
2.6 Kelebihan dan kekurangan alat terapi inhalasi
9

Alat Kelebihan Kekurangan


MDI 1. kecil, mudah dibawa 1. manuver sulit
2. lebih murah 2. deposisi orofaringeal besar
3. tidak perlu penyiapan 3. tidak semua obat ada dalam
obat bentuk ini
4. resiko kontaminasi 4. sulit untuk dosis tinggi
minimal
MDI+ 1. koordinasi minimal 1. repot bagi sebagian pasien
Spacer 2. deposisi orofaringeal 2. lebih mahal daripada MDI
minimal 3. kurang praktis
DPI 1. koordinasi sedikit 1. perlu arus inspirasi kuat
2. tidak ada pelepasan (>30L/menit)
freon 2. resiko deposisi orofaringeal
3. aktivasi dengan upaya 3. tidak semua obat ada dalam
napas bentuk ini
4. tidak perlu penyiapan 4. sulit untuk dosis tinggi
obat
5. resiko kontaminasi
minimal
Nebulizer 1. koordinasi minimal 1. mahal
jet 2. dosis tinggi dapat 2. kemungkinan kontaminasi
diberikan alat
3. tidak ada pelepasan 3. resiko, gangguan listrik dan
freon mekanik
4. tidak semua obat bisa

9
R. Purnamasari, “Jurnal penelitian Wibowo (2011) Tentang penggunaan inhaler
pada pasien asma rawat jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta” diambil dari
eprints.ums.ac.id

16
dinebulisasi
5. perlu kompresor, tidak
praktis dibawa
6. perlu menyiapkan cairan
obat
7. perlu waktu lebih lama
Nebulizer 1. koordinasi minimal 1. mahal
Ultrasonik 2. dosis tinggi dapat 2. kemungkinan kontaminasi
diberikan alat
3. tidak ada pelepasan 3. resiko, gangguan listrik dan
freon mekanik
4. tidak berisik 4. tidak semua obat bisa
5. waktu relatif singkat dinebulisasi
5. ukuran besar, tidak praktis
dibawa
6. perlu menyiapkan cairan
obat
7. perlu waktu lebih lama

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Inhalasi adalah pemberian obat melalui saluran pernafasan. Biasanya
obat inhaler diberikan dengan cara disemprotkan melalui sprai aerosol, uap
atau bubuk halus yang diberikan untuk menembus jalan nafas. Terapi inhalasi
merupakan pilihan tepat untuk asma karena banyak manfaat yang didapat
seperti onset kerjanya cepat, dosis obat kecil, efek samping minimal, dan
langsung mencapai target.
Obat ini memiliki efek lokal seperti bronkodilator tetapi juga dapat
menciptakan efek sistemik. Sehingga kita harus paham mengenai materi ini
karena kita sebagai tenaga kesehatan seharusnya memberitahukan pasien
penjelasan tentang penggunaan inhaler yang tepat, efek samping, tanda dan
gejala sehingga pasien paham dan mengerti bagaimana cara menggukan
inhaler secara individu.

3.2 Saran
Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat mengharapkan kritikan
dan saran yang bersifat membangun kearah kebaikan demi kelancaran dan
kesempurnaan makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Siti. 2016. Farmakologi dalam Keperawatan. Jakarta : Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia.

Darmono, Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farmakologi Eksperiental. Jakarta :


Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002: 67 - 73

R. Purnamasari, “Jurnal penelitian Wibowo (2011) Tentang penggunaan inhaler


pada pasien asma rawat jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta” diambil dari
eprints.ums.ac.id

Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, SpP(K), dkk. 2015. Modul Keterampilan Klinis
Terapi Inhalasi Nebulisasi. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

19