Anda di halaman 1dari 72

i

LAPORAN KERJA PRAKTEK

KEGIATAN PENAMBANGAN BATU KAPUR

PT INDOCEMENT TUNGGAL TBK

CITEUREUP, BOGOR

Disusun oleh :

Andi Fatur Fachriza M.A 073001500011

Raynaldo Grata 073001500113

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan Kerja Praktek 2018 tepat pada waktunya.
Kerja Praktek ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2018 – 31 Januari 2018
di unit penambangan, PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Citeureup, Bogor. Laporan ini
dibuat untuk memenuhi syarat mata kuliah Kerja Praktek pada Program Studi Teknik
Pertambangan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Jakarta.
Dalam menyelesaikan kerja praktek ini, penulis tidak lepas dari segala bimbingan,
dan dorongan serta saran-saran dalam menyusun laporan kerja praktek ini. Untuk itu
penulis ingin menyampaikan rasa Terima kasih kepada:
1. PT Indocement Tunggal Prakarsa yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk melakukan kerja praktek.
2. Kedua Orang tua yang selalu mendukung dan memberikan doa yang terbaik untuk
anaknya, yang selalu mendukung penulis untuk semangat meraih impian baik secara
materi dan non materi.
3. Seluruh dosen Teknik Pertambangan Universitas Trisakti yang telah memberikan
ilmu yang sangat bermanfaat untuk bekal penulis kerja praktek di lapangan.
4. Bapak Haekal Adam sebagai pembimbing penulis selama melakukan kegiatan Kerja
Praktek.
5. Bapak Ronaldo, Bapak Ozzy dan Bapak Rizal yang telah membantu penulis dalam
melakukan kegiatan Kerja Praktek.
6. Bapak Supandi selaku Kepala Urusan Bidang Loading & Hauling, Bapak Panji
selaku Kepala Drilling Machine, Bapak Doni dan Bapak Janto, Bapak Amaruddin
dan Bapak Anggit selaku juru ledak, Bapak Suharyanto selaku Foreman Blasting,
Bapak Dahlan dan Bapak Wahyudin selaku operator Drill Machine, Bapak Ujang
selaku operator Dump Truck, Bapak Hendrik selaku operator Wheel Loader, dan
seluruh operator maupun karyawan Mining Division yang telah mendampingi
penulis selama melakukan Kerja Praktek.

ii
7. Saudara/i dari Himpunan Mahasiswa Teknik Tambang khususnya angkatan 2015
yang selalu mensupport penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan, dan semoga
tidak menjadi halangan bagi pembaca untuk dapat memahami maksud dan tujuan yang
penulis sampaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik maupun saran yang
bersifat membangun untuk perbaikan dan kesempurnaan laporan ini kedepannya.
Sekian yang dapat penulis sampaikan, semoga Laporan ini dapat bermanfaat
terutama bagi penulis sendiri, perusahaan dan bagi yang membacanya.

Bogor, 31 Januari 2018

Penulis

iii
iv
Contents
No table of contents entries found.

Kssa

saad

v
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya kebutuhan
pembangunan, dibutuhkan bahan baku yang paling penting yaitu Semen. Semen
merupakan campuran utama dari batuan antara lain Batu Kapur, Batu Lempung, Pasir
Silika, Gipsum dan Pasir Besi. Batuan tersebut di tambang secara terbuka dengan
Pemboran dan Peledakan pada tambang terbuka.

Semen digunakan untuk proses konstruksi bangunan maupun infrastruktur


lainnya yang berfungsi sebagai bahan perekat. Dengan semakin berkembangnya
sektor pembangunan suatu negara maka kebutuhan akan penggunaan semen akan
semakin meningkat, sehingga saat ini banyak bermunculan pabrik-pabrik baru
pemasok semen di Indonesia.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (PT ITP) merupakan persereoan


terbatas yang menghasilkan produk berupa semen. Bahan baku yang digunakan
untuk pembuatan semen di PT ITP adalah limestone (batugamping), clay (tanah
liat), dan silica sand (pasir silika) untuk pemenuhan material utama dalam proses
pembentukan semen.

Gamping (bahasa Inggris: limestone, istilah komersial : batu kapur)


(CaCO3) adalah sebuah batuan sedimen yang terdiri dari mineral kalsit dan
aragonit, yang merupakan dua varian yang berbeda dari CaCO3 (kalsium karbonat).
Sumber utama dari calcite adalah organisme laut. Organisme ini mengeluarkan
shell yang keluar ke air dan terendapkan di lantai samudra sebagai ooze pelagik
(lihat lsoklin untuk informasi tentang dissolusi kalsit).

Batugamping merupakan jenis bahan galian non logam yang menjadi


bahan baku utama di dalam pembuatan semen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kualitas batugamping. Salah satu alat yang digunakan dalam analisis
batugamping untuk mengetahui kandungan unsusr-unsur kimia yang terdapat pada
sampel yaitu, dengan menggunakan alat X-ray Fluorescence yang bertujuan untuk
mengetahui kandungan kadar dari masing-masing unsur.

Bahan dasar penyusun semen terdiri dari bahan-bahan yang terutama


mengandung kapur, silika dan oksida besi, maka bahan-bahan itu menjadi unsur-
unsur pokok semennya. Komposisi kimia semen portland pada umumnya terdiri
dari CaO, SiO2, Al2O3 dan Fe2O3, yang merupakan oksida dominan. Sedangkan
oksida lain yang jumlahnya hanya beberapa persen dari berat semen adalah MgO,
SO3, Na2O dan K2O.

Semen berasal dari bahasa latin caementum yang berarti bahan perekat.
Secara sederhana, Definisi semen adalah bahan perekat atau lem, yang bisa
merekatkan bahan – bahan material lain seperti batu bata dan batu koral hingga bisa
membentuk sebuah bangunan. Sedangkan dalam pengertian secara umum semen
diartikan sebagai bahan perekat yang memiliki sifat mampu mengikat bahan –
bahan padat menjadi satu kesatuan yang kompak dan kuat. (Bonardo Pangaribuan,
Holcim)

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 15-2049-2004,


semen Portland adalah semen hidrolisis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak (Clinker) portland terutama yang terdiri dari kalsium silikat (CaO.SiO2) yang
bersifat hidrolis dan digiling bersama–sama dengan bahan tambahan berupa satu
atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) dan boleh
ditambah dengan bahan tambahan lain (Mineral in component).

Hidrolis sangat baik bereaksi dengan air, senyawa yang bersifat hirolis
akan bereaksi dengan air secara cepat. Semen portland bersifat hidrolis karena di
dalamnya terkandung kalsium silikat (CaO.SiO2) dan kalsium sulfat (CaSO4.H2O)
yang bersifat hidrolis dan sangat cepat bereaksi dengan air. Reaksi semen dengan
air berlangsung secara irreversibel, artinya hanya dapat terjadi satu kali dan tidak
bisa kembali lagi ke kondisi semula.

2
1.2 Tujuan Penulisan

Adapun kerja praktek ini memiliki tujuan dalam pelaksanaanya antara lain:

1.2.1. Mengetahui produktivitas alat gali dan alat muat di pertambangan batu
kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa unit Citeureup.
1.2.2. Mengetahui produktivitas alat bor di pertambangan batu kapur PT
Indocement Tunggal Prakarsa unit Citeureup.
1.2.3. Mengetahui geometri peledakan di pertambangan batu kapur PT
Indocement Tunggal Prakarsa unit Citeureup..

1.3. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan hal di atas, untuk mengetahui informasi yang lebih


mendalam dari penambangan dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk maka
permasalahannya adalah sebagai berikut:
1.3.1. Menghitung cycle time pada alat gali, alat muat dan alat bor dengan
melakukan pengamatan secara langsung di pertambangan batu kapur PT
Indocement Tunggal Prakarsa unit Citeureup.
1.3.2. Mengetahui bagaimana proses penambangan dengan cara mengamati
langsung di pertambangan batu kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa unit
Citeureup.
1.3.3. Mengetahui geometri peledakan dengan mengamati langsung proses
peledakan untuk di pertambangan batu kapur PT Indocement Tunggal
Prakarsa unit Citeureup.

1.4. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

Kerja Praktek ini dilaksanakan pada 2 Januari s.d 31 Januari 2018 dan
berlokasi di Unit Penambangan, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Citeureup,
Jawa Barat.

3
1.5. Metodologi Penelitian
Teknik pelaksanaan pada penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini
adalah sebagai berikut :
1.5.1. Studi kepustakaan, merupakan pencarian bahan pustaka terhadap masalah
seperti:
1.5.1.1. Buku dan jurnal yang membahas dasar teori dan rumus-rumus yang
akan digunakan dengan membaca buku atau browsing
1.5.1.2. Laporan perusahaan yang digunakan untuk membahas tinjauan
umum perusahaan dan data-data laporan kerja yang bersifat harian atau
bulanan.
1.5.2. Metode kualitatif, dimana pada metode ini dilakukan wawancara langsung
terhadap orang-orang yang bekerja pada lingkup penambangan antara lain :
Kepala Urusan Loading and Hauling, Foreman Urusan Drilling, Kepala
bidang crushing dan conveying, Kepala urusan crushing dan conveyin,
Kepala juru ledak dan Operator.
1.5.3. Metode kuantitatif, pada metode ini dilakukan pengamatan serta pengambilan
data-data di lapangan, antara lain :
1.5.3.1.Pengamatan tentang prosedur kerja yang dilakukan dilapangan.

1.6. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan Praktek
Kerja Lapangan ini adalah :
1.6.1. Bab I Pendahuluan
Mencakup latar belakang, maksud dan tujuan, perumusan masalah,
waktu dan tempat pelaksanaan, dan sistematika penulisan.
1.6.2. Bab II Tinjauan Umum
Bab ini berisi tentang sejarah perusahaan, manajemen perusahaan,
sasaran perusahaan, strategi perusahaan, lokasi dan kesampaian daerah,
kondisi geologi, metode penambangan, pengelolahan bahan baku,

4
1.6.3. Bab III Teori Dasar
Tinjauan teoritis membahas teori yang mendasar dan yang
berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
1.6.4. Bab IV Hasil Pengamatan
Bagian ini menguraikan pembahasan metode penelitian, konsepsi
dasar, dan tahapan (alur) penelitian serta menyajikan deskripsi data yang
telah diolah. Bagian ini memuat pula hasil- hasil yang diperoleh dari hasil
deskripsi data dan cara pencapaiannya / analisisnya serta pembahasannya.
1.6.5. Bab V Pembahasan
Bagian ini membahas pembahasan dari hasil pengamatan yang
diperoleh dari lapangan
1.6.6. Bab VI Kesimpulan
Bab ini merupakan simpulan dari kegiatan

5
BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Sejarah singkat PT. Indocement Tunggal Prakarsa,Tbk

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. ("Indocement" atau "Perseroan")


secara resmi mengoperasikan pabrik pertamanya pada bulan Agustus 1975.
Selama hampir 40 tahun tahun terakhir, Indocement telah menjadi salah satu
produsen semen terbesar di Indonesia. Perusahaan didirikan pada tanggal 16
Januari 1985 melalui penggabungan enam perusahaan semen yang pada saat itu
memiliki delapan pabrik. Indocement didirikan berdasarkan Akta pendirian No.
227 tanggal 16 Januari 1985 yang dibuat di hadapan Notaris Ridwan Suselo, SH.
Kegiatan usaha utama PT. ITP sesuai dengan anggaran dasar yaitu: semen dan
bahan bangunan manufaktur, pertambangan, konstruksi dan perdagangan. Saat ini,
perusahaan dan anak perusahaan bergerak dalam beberapa bidang usaha yang
meliputi pembuatan dan penjualan semen (bisnis inti), beton siap-pakai, dan
agregat dan penambangan trass.

Indocement terus meningkatkan kapasitas produksi. Pada tanggal 22 Februari


2013, Indocement telah memulai pembangunan pabrik baru di Citeureup yang
diberi nama Plant 14. Secara total, Indocement telah memilik 13 pabrik, termasuk
Plant 14. Sebagian besar pabrik ini berada di Jawa dengan 10 Plant di Citeureup,
Bogor, Jawa Barat, menjadikannya salah satu kompleks semen terintegrasi terbsesar
di dunia. Dua pabrik yang berlokasi di Palimanan, Cierebon, Jawa Barat, dan satu
pabrik lainnya terletak di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Indocement pertama mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 5


Desember 1989 dengan "INTP" sebagai kode. Sejak tahun 2001, HeidelbergCement
Group, yang berbasis di Jerman, telah memiliki mayoritas saham Perusahaan.
Heidelberg Cement adalah pemimpin pasar global dalam agregat dan merupakan
pemain terkemuka di bidang semen, beton siap-pakai

6
(RMC), dan kegiatan hilir lainnya, membuatnya menjadi salah satu terbesar di dunia
perusahaan bahan bangunan. Grup mempekerjakan lebih dari 45.000 orang di 2.300
lokasi di lebih dari 40 negara.

Indocement juga terdaftar di Kompas100, indeks harga saham yang dibuat


oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerja sama dengan surat kabar harian Kompas.
Kompas100 adalah saham yang diambil dari 150 saham berdasarkan nilai tertinggi
transaksi, frekuensi, dan kapitalisasi pasar di pasar reguler selama 12 bulan
terakhir.
Dengan "Tiga Roda" sebagai merk Perseroan, Indocement menjual 18,7 juta ton
semen selama 2014, yang membuatnya menjadi penjual semen entitas tunggal tertinggi
di Indonesia. Produk semen Perusahaan meliputi Portland Composite Cement (PCC),
Ordinary Portland Cement (OPC Tipe I, II, dan V), Oil Well Cement (OWC), White
Cement, dan TR-30 Putih Mortar. Indocement merupakan satu-satunya produsen semen
putih di Indonesia.

Selain dari penjualan semen, Indocement melalui PT. Pionirbeton Industri

menghasilkan beton siap-pakai yang telah terjual 3,9 juta m3 RMC dan membuat
Indocement menjadi pemimpin pasar untuk bisnis RMC di Indonesia.

Dalam agregat, PT. Tarabatuh Manunggal, sebuah perusahaan 100% dimiliki


oleh Indocement, memulai produksi secara komersial sejak tanggal 10 September
2014. Selain itu, Indocement juga memiliki tambang agregat lain melalui PT.
Mandiri Sejahtera Sentra.

Tanggal 31 Desember 2014, kapasitas desain terpasang tahunan Indocement

sebesar 20,5 juta ton semen, 5,0 juta m3 RMC, dengan 41 batching plant dan
706 truk mixer, serta kapasitas produksi agregat sekitar 2,8 juta ton per tahun dengan
sebanyak 80 juta ton cadangan agregat dari dua tambang tersebut.

7
Dalam menjalankan usahanya, Indocement terus fokus pada pembangunan
berkelanjutan melalui komitmen untuk mengurangi emisi karbon dioksida dari
proses manufaktur semen. Indocement adalah perusahaan pertama di Asia
Tenggara yang menerima Pengurangan Emisi yang Disertifikasi (CER) di bawah
Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) kerangka. Indocement adalah perusahaan
pertama di Indonesia yang menggunakan pasir terak tanur, produk baja limbah
pabrik baja blast furnace, setelah bertahun-tahun pengenalan proyek semen
dicampur. Bahan-bahan semen yang digunakan untuk memproduksi semen dengan
mengurangi konten klinker yang mengurangi emisi CO2.

2.2 Stuktur Organisasi Perusahaan

2.1.1 Dewan Komisaris PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk

Berikut susunan komisaris PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk:

1. Presiden Komisaris : Dr. Albert Scheuer

2. Wakil Komisaris Utama : Tedy Djuhar

3. Wakil Komisaris Utama : I Nyoman Tjager

4. Komisaris Independen : Daniel Lavalle

5. Komisaris : Dr. Lorenz Naeger

6. Komisaris : Dr. Bernd Scheifele

7. Komisaris : Daniel Gauthier

Komisaris memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengontrol dan


memberi masukan kepada direksi terhadap kebijakan perusahaan. Komisaris
mengontrol keefektifan dari kebijakan dan keputusan yang dihasilkan oleh direksi.
mensyahkan anggaran belanja perusahaan. memberhentikan dan mengangkat direksi
perusahaan.

8
2.1.2 Dewan Direksi PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk
8. Presiden Direktur : Christian Kartawijaya

9. Wakil Presiden Direktur : Franciscus Welirang

10. Direktur : Kuky Permana,

11. Direktur : Hasan Imer

12. Direktur : Tju Lie Sukanto

13. Direktur : Ramakanta Bhattacharjee

14. Direktur : Benny S. Santoso

15. Direktur : Daniel Kundjono Adam

16. Direktur : Daniel R. Fritz

Direksi memiliki tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan dan


pengembangan perusahaan. Menyusun dan melaksanakan anggaran belanja
perusahaan.
STRUKTUR ORGANISASI

BOARD OF
COMMISIONERS

KOMITE
KOMITE AUDIT
KOMPENSASI

BOARD OF
DIRECTORS

INTERNAL AUDIT CORPORATE


SERVICES SECRETARY

GENERAL DIVISI
MANAGER SALES & COPORATE
PURCHASING
OPERATION MARKETING HUMAN
DIVISION
PABRIK DIVISION RESOURCES
CITEUREUP DEVELOPMENT

GENERAL
CORPORATE
MANAGER DIVISI PUBLIC &
FINANCE & LOGISTIC
OPERATION GENERAL
TREASURY DIVISION
PABRIK AFFAIRS
DIVISION
CIREBON

GENERAL
MANAGER ACCOUNTING &
UNIT USAHA
OPERATION CONTROLLING
READY MIX
PABRIK DIVISION
TARJUN

MANAGEMENT
INFORMATION UNIT USAHA
SYSTEM AGREGAT
DIVISION

Gambar 2.1 Struktur organisasi PT. Indocement Tunggal Perkasa, Tbk


Gambar 3.1 Struktur organisasi PT. Indocement Tunggal Perkasa, Tbk
(Sumber : Paper Bapak Ronaldo Indra Putra)
(Sumber : Paper Ronaldo Indra Putra )

10
Gambar 2.2 Struktur Organisasi

Mining Division

(Sumber : Slide Mining Divison Profile)

11
2.3 Proses Pembuatan Semen PT. ITP

2.3.1 Penambangan Batukapur

Penambangan batukapur di Quarry D (penambangan aktif Quarry D seluas 455,25 ha)


dilakukan secara tambang terbuka dilakukan pada elevasi 180 – 500 meter dpl dengan
menggunakan metode Quarrying. Pembongkaran batuan dilakukan dengan cara membuat
jenjang-jenjang penambangan (bench cut system). Proses penambangan yang dilaksanakan di
Quarry D dilakukan secara berjenjang dengan lebar jenjang > 20 meter, ketinggian jenjang

bervariasi antara 12 – 20 meter dengan sudut lereng individu 70o - 72o serta overall slope

12o untuk blok III dan juga 12o untuk blok II Quarry D. Kegiatan penambangan meliputi
pembongkaran batuan, pemuatan ke dump truck, pengangkutan ke alat peremuk batu
(Crusher plant) dan pengangkutan batukapur ke setiap plant dengan menggunakan sabuk
berjalan (conveyor belt).

2.3.2 Pembongkaran
Untuk keperluan pembongkaran batukapur pada Quarry D, karena batukapur pada lokasi
ini tidak bisa langsung dibongkar menggunakan alat gali, maka pembongkaran dilakukan
dengan cara pemboran dan peledakan. Kegiatan pemboran untuk penyediaan lubang tembak

di Quarry D menggunakan alat bor. Lubang tembak dibuat dengan kemiringan 70o - 72o
terhadap bidang horizontal, diameter lubang dan kedalaman bervariasi. Lubang tembak tersebut
kemudian diisi bahan peledak ANFO (Amonium Nitrate Fuel Oil). Sedangkan peledakan
dilakukan dengan menggunakan detonator listrik (electric delay detonator) dan dinamit
(powergel magnum).

2.3.3 Pemuatan
Pemuatan batukapur hasil peledakan yang telah terberai ke dalam alat angkut

menggunakan wheel loader dengan kapasitas mangkuk sekitar 10,70 m3. Penambangan
terdiri dari 3 front dengan 3 - 4 loading point . Satu unit alat muat dapat melayani 3-5 Dump
Truck dan dibantu satu unit Bulldozer untuk mengumpulkan material

12
2.3.4 Pengangkutan
Proses pengangkutan batukapur dari front penambangan ke crushing plant pada
Quarry D menggunakan dua jenis alat angkut yaitu dump truck Caterpillar 775 B dan
komatsu HD 465-7 dengan kapasitas 40- 60 ton.

2.3.5 Penambangan Tanah Liat


Penambangan tanah liat yang dilakukan di Hambalang (dengan luas
penambangan aktif (139,34 Ha) tidak jauh berbeda dengan sistem
penambangan batu kapur di Quarry D, yaitu menggunakan metode
“Quarrying” dimana dalam pembongkaran batuan dengan membuat
jenjang-jenjang penambangan (bench cut system). Kegiatan penambangan dimulai
dengan pembongkaran dilanjutkan dengan pemuatan dan pengangkutan batu tanah
liat ke crushing plant. Perbedaannya hanyalah terletak pada dimensi dari jenjang
penambangan.

Dalam perencanaan lokasi penambangan atau Quarry dibagi dalam beberapa


blok penambangan, dimana setiap blok penambangan telah diketahui kualitasnya.
Dalam pelaksanaan penambangan untuk memenuhi kualitas bahan baku untuk semen
dilakukan penggalian dari beberapa lokasi dan kemudian dilakukan mixing atau
pencampuran. Karena kualitas bahan baku batukapur dan tanah liat mempunyai
kualitas yang tidak seragam atau berbeda maka diperlukan pencampuran atau
mixing. Pencampuran yang dilakukan di lapangan dimaksudkan untuk mencampur
bahan baku baik batukapur maupun tanah liat dengan kualitas low grade dengan
bahan baku kualitas high grade sehingga diperoleh kualitas bahan baku yang
optimum sesuai dengan standar atau persyaratan yang telah ditentukan sebagai
bahan baku semen. Dengan adanya sistem pencampuran ini diharapkan selain
mutu bahan baku memenuhi standar kualitas juga cadangan bahan baku yang ada
dapat dimanfaatkan atau ditambang semaksimal mungkin, sehingga akan
memperpanjang umur tambang. Pada prinsipnya, proses pencampuran bahan baku
di lapangan (Quarry) digunakan persamaan:

13
Kadar AB campuran = {(kadar A x tonase A) + (kadar B x tonaseB ) +…}

(tonase A + tonase B+…)

Pada saat ini proses pencampuran bahan baku yang berasal dari front
penambangan dilakukan dengan menggunakan perbandingan jumlah truck yang
dumping pada crushing plant, sehingga kontrol jumlah rate truck yang berasal dari
sumber bahan baku yang berbeda kualitasnya bisa diperhitungkan.

2.3.6 Pengolahan di Crusher

Tujuan proses pengolahan batukapur dan tanah liat yang dilakukan di


lapangan adalah mereduksi ukuran ROM yang dihasilkan dari front penambangan
yang berupa bongkahan berukuran lebih kurang 100 mm. Untuk memproduksi
ukuran batu kapur hasil pengolahan sebelum dikirim ke pabrik digunakan peremuk
batu (Crusher) yang dilakukan di crushing plant. Hasil peremukan tersebut
mempunyai ukuran sekitar 60 mm (6 cm). Cara yang digunakan untuk memotong
bongkahan batukapur dan tanah liat dari tambang (ROM) dan dipecahkan
menjadi potongan atau butiran yang lebih kecil dinamakan size reduction atau
pemecahan/pengecilan ukuran. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil
dengan berbagai cara yang sesuai dengan tujuannya, salah satunya menggunakan
peremuk batu atau stone crusher dengan desain dan ukuran tertentu sesuai dengan
sifat fisik material.

Desain pengolahan atau disebut juga penggilingan batu kapur maupun tanah
liat dibuat dengan ketentuan sebagai berikut:

- Kapasitas unit peremuk batu (crushing plant) harus dapat memenuhi sasaran
produksi yaitu 6.000 ton batu kapur dan 6.000 – 8.000 ton tanah liat (saat
ini)
- Produk dari crushing plant batu kapur dan tanah liat mempunyai ukuran butir
(size) sebesar ≤ 60 mm

14
- Dibuat 2 (jalur) produksi penggilingan atau lebih agar tidak terjadi kemacetan
produksi jika terjadi masalah (trouble) pada salah satu jalur produksi
penggilingan.

2.3.7 Raw Mill System

Setelah didapatkan material dari storage, hal selanjutnya yang dilakukan adalah
pengecilan ukuran sesuai persayaratan yang diingikan dari masing masing plant. Raw
mill system mengubah kumpulan raw material menjadi raw meal sesuai persayaratan
yang diinginkan Secara garis besar ada 4 tujan utama dari Raw Mill System :

a) Preblending/Pencampuran raw material (Limestone, Sandyclay,


Pasirkuarsa/Clay dan Pasirbesi) dengan komposisi tertentu sesuai standar modulus
LSF, SM dan IM yang diinginkan.
b) Drying/Mengeringkan bahan baku yang kadar airnya bervariasi yaitu
antara 10% – 20% H2O menjadi < 1,0% H2O.

c) Grinding/Menggiling raw material menjadi tepung baku dengan residu <


14,0% pada ayakan 90 mm dan < 3,0% pada ayakan 200 mm.
d) Homogenisasi

Demi mencapai tujuan tersebut, PT. ITP unit citeurep yang memiliki 9 plant
memiliki 2 jenis alat yang dipergunakan dalam raw mill system yaitu Tube Mill
dan Vertical Roller Mill. Tube mill adalah silinder baja yang dilapisi liner dan
didalamnya diisi bola bola besi berbagai ukuran sebagai media gerusnya.
Penggilingan material terjadi karena material yang berada didalam tube mill
mendapat benturan dan gesekan dari bola-bola besi dan liner akibat berputarnya
mill. Tube mill memiliki beberapa jenis dilihat dari desain tube mill tersebut yaitu:
Single compartment dan Double compartment. Pada single compartment, tidak
ada pemisahan yang jelas seperti diafragma yang jelas antara bola-bola besi yang
besar dan kecil, Hal yang memisahkannya adalah desain dari liner. Untuk lebih
jelasnya bisa dilihat di gambar 2.3.

15
Gambar 2.3

Liner pada single compartment raw mill

Dari gambar 3.3 terlihat jelas bahwa liner liner sengaja dibikin sedemikian
rupa supaya terjadi pengelompokan secara alami dari bola- bola besi. Jenis
selanjutnya dari tube mill adalah Double compartment Pada jenis ini, tube mill
memiliki sekat yang disebut diafragma yang memisahkan antara bola bola besi
diatas 60 mm dengan dibawah 60 mm. Dari gambar 3.4 terlihat bahwa ada 3
jenis penggerusan yang terjadi di dalam tube mill Double compartment yaitu
penggilingan kasar, sedang, dan halus. Jenis penggilingan yang terjadi bergantung
pada ukuran dari bola-bola besi yang ada di dalamnya

Gambar 2.4 Tube mill Double compartment

(Sumber : Slide presentasi raw mill system)

16
Jenis kedua dari raw mill system yang dimiliki PT. ITP adalah vertical roller
mill. Pada VRM penggilingan menggunakan daya tekan roller tehadap media
yang berada di atas meja putar dari VRM. Vertical Roller Mill cocok untuk
menggiling material yang kadar airnya relatif tinggi (16%– 18%) dan ukuran
partikel material feeding lebih besar yaitu (75 mm – 100 mm). Untuk lebih jelasnya
bisa dilihat gambar 2.5.

Gambar 2.5 Vertical

Raw Mill

(Sumber : Slide Raw Mill System)

Dari kedua jenis raw mill system yang ada di PT. ITP berikut beberapa
kelebihan dan kekurangan dari masing masing raw mill system

Gambar 2.6

17
Perbandingan Antara VRM dan Tube Mill

2.3.8 Preheater system

Sebelum menuju kiln, raw meal yang dihasilkan dari proses grinding di tube
mill atau VRM melewati preheater system terlebih dahulu. Salah satu fungsi dari
preheater system adalah meningkatkan derajat kalsinasi dari material, selengkapnya ada
4 fungsi preheater system yaitu :

a) Drying atau proses penguapan kadar air dari raw meal feeding, hal ini terjadi di
Top cyclone.

b) Separation atau proses pemisahan gas panas dan raw meal, hal ini terjadi pada
semua cyclone.

c) Heat transfer atau proses perpindahan panas atau penyerapan panas antara gas
panas dengan material feeding, hal ini terjadi di connecting duct, riser duct dan
di dalam semua cyclone.

d) Decarbonation atau proses penguraian CaCO3 menjadi CaO + CO2, proses

ini mulai terjadi pada temperature > 700 oC.


Salah satu pengembangan dari preheater system adalah ditempatkanya precalciner
di preheater system. Calciner yaitu pembakaran yang diletakan di riser duct.
Precalciner dibagi menjadi 2 jenis yaitu air through dan air separate. Air through
yaitu sumber udara panas dari preheater system hanya berasal dari kiln, sehingga derajat
kalsinasi yang didapatkan menjadi kurang maksimal. Air separate yaitu sumber udara
panas yang berasal dari kiln ditambah dengan tertiar air duct.

Tertiar air duct yaitu duct untuk mengalirkan udara panas yang dihasilkan dari
proses pendinginan secara tiba tiba di cooler. Dengan adanya tertiary air duct ditambah
precalciner maka derajat kalsinasi yang dihasilkan akan lebih meningkat. System AT
tidak banyak dikembangkan karena proses pembakaran di preheater tidak optimal.
System AS yang lebih banyak dikembangkan oleh semua perusahaan pembuat pabrik
semen, karena terbukti bisa meningkatkan derajat kalsinasi yang tinggi dan konsumsi
panasnya rendah. Karena beban kerja dari kiln dapat terkurangi, berikut kelebihan
dari pemanfaatan in line calciner dan separate line.

18
Apabila dilihat berdasarkan supply udara untuk proses pembakaran di
Precalciner, maka Precalciner bisa dibedakan menjadi 2 macam diantaranya :

 ~ AT (Air Through) udara pembakaran untuk precalciner hanya didapat dari


dalam Kiln.

 ~ AS (Air Separate) udara pembakaran untuk precalciner didapat dari


Cooler melalui Tertiary Air Duct yang disebut Secondary air.

2.3.9 Kiln dan Cooler

Tahap selanjutnya, material masuk kedalam tanur (kiln) yang terdiri atas
empat zona, yaitu zona kalsinasi, zona transisi, zona sintering, dan zona pendingin.
Pada zona kalsinasi terjadi proses kalsinasi lanjutan, pada zona sintering terjadi
proses peleburan oksida semen menjadi senyawa utama semen, dan pada zona
pendingin terjadi proses pendinginan terak (klinker). Zona transisi hanya merupakan
daerah peralihan dari zona kalsinasi ke zona sintering. Proses di dalam kiln lebih
dikenal sebagai proses klinkerisasi, yaitu suatu proses pengubahan secara fisika
dan kimia dari tepung baku yang masuk ke dalam sistem pembakaran sampai
menjadi klinker yang siap digiling menjadi semen. Reaksi kimia yang terjadi
bermacam-macam, diawali dengan proses pengeringan dan disusul dengan proses
penguraian dan pembentukan senyawa lain, sebagaimana yang diperlihatkan dalam
tabel berikut ini:

19
Tabel 2.1 Reaksi Kimia pada proses klinkerisasi

(Sumber: Paper Ronaldo Indra Putra)

Temperatur
No Proses Reaksi yang terjadi
(0C)
1 0 – 100 Pengeringan Penguapan air bebas (endoterm)

2 100 – 500 Pengeringan Penguapan air kristal (bounded


water) dari clay (endoterm)

Perubahan struktur silika mineral


3 500 Dekomposisi clay
Al2Si2O7.xH2O → Al2O3 +
SiO3 + H2O
4 600 – 900 Kalsinasi
CaCO3 → CaO + CO2 (endoterm)
5 800 Pengeringan
Penguapan air hidrat dari batu
6 800 – 900 Pembentukan C2S kapur

Pembentukan C3A 2CaO + SiO2 → 2CaO.SiO2


dan (endoterm)
7 900 – 1200
Pembentukan C4AF 3CaO + Al2O3 → 3CaO. Al2O3
(eksoterm)
8 1250 – 1280
3CaO + Al2O3 + Fe2O3→
Sintering
9 1260 – 1460 3CaO.Al2O3 CaO. Fe2O3
(eksoterm)
Pembentukan C3S
Pembentukan fase cair/ liquid
phase (eksoterm)

2CaO.SiO2 + CaO → 3CaO.SiO2


20
Klinker yang keluar dari rotary kiln didinginkan secara mendadak ke dalam cooler.
Hal ini bertujuan untuk supaya C3S yang terbentuk tidak menjadi C2S.

2.3.10 Penggilingan Terak Menjadi Semen


Terak dari klinker silo digiling bersama gypsum (CaSO4.2H2O) sebanyak kurang lebih
4%, additive, dan CGA (Cement Grinding Aid) berupa propilena atau etilena glikol di unit
penggilingan akhir (Finish Mill). Tujuan dari penambahan CGA adalah untuk mengikat air,
mencegah coating, dan memaksimalkan tumbukan yang terjadi dalam penggilingan.

Bahan additive yang biasa digunakan adalah Limestone (batu kapur), trass, fly ash, slag blast
furnace. Jenis dan proporsi additive menentukan jenis semen yang akan diproduksi (Ordinary
Portland Cement, Portland Pozzolan Cement, Portland Composite Cement atau Fly Ash Cement).
Produk semen ini kemudian disimpan dalam Cement Silo.

2.3.11 Pengantongan Semen

Setelah semen disimpan dalam cement silo, kualitas semen diuji kembali dalam hal
kehalusan, kuat tekan, senyawa kimia, dan sebagainya. Bila belum memenuhi standar, maka
dilakukan mixing hingga diperoleh komposisi yang memenuhi syarat. Sebelum dikemas,
semen dilewatkan dalam vibrating screen yang berfungsi untuk menyaring material yang
terbawa dalam produk.

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk memasarkan produknya dalam bentuk kantong
(ukuran 40 kg, 50 kg, big-bag dengan kapasitas 1 –1.5 ton) dan curah (bulk).

21
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH

Secara administratif, Quarry D PT ITP Citeureup beroperasi di Desa Lulut, Kecamatan


Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Quarry D terletak di koordinat astronomis
pada garis lintang 060 30’ 6,5” LS dan garis bujur 1060 55’ 39” BT. Lokasi Quarry D terletak di
sekitar 45 km sebelah tenggara Kota Jakarta dan 17 km sebelah timur laut Kota Bogor. Wilayah
operasi penambangan Quarry D PT ITP Citeureup berbatasan dengan:

1. Batas Utara : Kecamatan Gunung Putri


2. Batas Timur : Kecamatan Klapanunggal
3. Batas Selatan : Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang
4. Batas Barat : Kecamatan Cibinong

Untuk mencapai lokasi penelitian dapat ditempuh dengan cara:


1. Jakarta – Pabrik Citeureup ditempuh melalui jalur darat dengan jarak tempuh ±45 km,
dan ditempuh dalam waktu ±1,5 jam.

2. Pabrik Citeureup – Quarry D ditempuh melalui jalur darat dengan jarak tempuh ±8 km,
dan ditempuh dalam waktu ±30 menit.

Lokasi pabrik dan lokasi Quarry D PT ITP Citeureup dapat dicapai dari Kota Jakarta
melalui jalan tol Jagorawi kemudian keluar di pintu tol Gunung Putri dan mengambil arah yang
menuju Jalan Mayor Oking Jaya Atmaja, Citeureup, Bogor. Rute tersebut bisa ditempuh
dengan kendaraan pribadi ataupun dengan kendaraan umum tujuan Grogol – Cibinong dan
kemudian dilanjutkan dengan angkot tujuan Cileungsi.

Lokasi pabrik dipilih atas pertimbangan dekatnya pabrik dengan lokasi penambangan. Di
samping itu, lokasi pabrik PT ITP Citeureup letaknya sangat strategis, karena berada dalam
22
jaringan pengangkutan ke seluruh daerah pemasaran utamanya di pulau Jawa, yang merupakan
konsumen semen terbesar di Indonesia. Lokasi pabrik juga berdekatan dengan stasiun kereta
api yang berada di daerah Nambo. Selain itu, lokasi pabrik juga berada tidak terlalu jauh dari

pelabuhan Tanjung Priok, yang merupakan pintu gerbang ekspor dan juga pengangkutan ke
seluruh tanah air. Untuk lebih jelasnya, lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar dibawah.

Gambar 2.1 Lokasi Penelitian

3.2 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Daerah penelitian termasuk dalam kategori dengan kemiringan yang landai hingga
terjal karena dipengaruhi oleh struktur geologi. Struktur geologi yang berkembang
mempengaruhi bentuk morfologi, dan stratigrafi di lokasi penelit
23
3.2.1 Geologi Regional dan Struktur Geologi

Daerah penelitian termasuk dalam peta geologi lembar Bogor-Jawa Barat yang
meliputi zona bogor dan Zona pegunungan selatan.

Sumber: A.C. Effendi, Kusnama dan B. Hermanto. Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa
Barat. Bandung, 1998
Dengan skala 1:100.000
Gambar 2.2 Peta Geologi Lembar Bogor

3.2.2 Geologi Regional Daerah penelitian

Secara geologi regional, daerah penelitian termasuk dalam peta geologi PT


Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., yang meliputi beberapa formasi batuan, yaitu :

24
1. Qa (Aluvium) : terdiri atas lempung, lanau, kerikil dan kerakal terutama endapan
sungai termasuk pasir dan kerikil endapan pantai sepanjang teluk Pelabuhanratu.

2. Qav (Kipas Aluvium) : terutama lanau, batupasir, kerikil dan kerakal dari batuan
gunungapi kuarter yang diendapkan kembali sebagai kipas aluvial

3. Qvk (Lava G.Kencana dan G.limo): bongkahan andesit dan breksi andesit dengan
banyak sekali fenokris piroksen dan lava bantal

4. Tmk (Klapanunggal): terutama batugamping terumbu padat dengan foraminifera besar


dan fosil-fosil lainnya termasuk moluska dan echinodermata. Umur satuan ini diduga
setara dengan formasi lengkong dan bojonglopang dilajur selatan yakni miosen awal.
Formasi ini menjemari dengan fomasi jatiluhur, dan dibagian timur daerah
ketebalannya mungkin lebih dari 800 m.

5. Tmj (Formasi Jatiluhur): Napal dan serpih lempungan dengan sisipan batupasir kuarsa,
bertambah pasiran ke arah timur. Bagian atas formasi ini menjemari dengan formasi
Klapanunggal dan berumur miosen awal

25
Sumber: Mining Division PT ITP Citeureup

Dengan Skala 1:10.000


Gambar 2.3 Peta Geologi Regional Daerah Penelitian

3.2.3 Struktur Geologi

Struktur geologi di daerah lembar berupa sesar, lipatan, kelurusan dan kekar yang
dijumpai pada batuan yang berumur Oligosen - Pliosen sampai Kuarter. Sesar terdiri dari sesar
geser dan sesar normal yang umumnya berarah utara - selatan, baratdaya - timurlaut dan
baratlaut tenggara. Pola lipatan yang dijumpai berupa antiklin dan sinklin yang berarah
baratdaya - timurlaut, barat - timur dan baratlaut - tenggara. Kekar umumnya berkembang baik
pada batuan andesit yang berumur Kuarter.

26
Tektonik yang terjadi pada akhir Miosen Akhir menghasilkan dua pola struktur yang
berbeda yaitu pengangkatan yang kemudian diikuti oleh terobosan batuan andesit.

27
3.2.4 Stratigrafi

Menurut T. Turkandi dkk (1992) dan A.C. Effendi dkk (1998), Quarry D
PT ITP Citeureup berada pada Formasi Jatiluhur yang bagian atasnya menjemari
dengan formasi Klapanunggal dan berumur Miosen Awal.

Sumber: T. Turkandi dkk (1992) dan A.C. Effendi dkk (1998)


Tabel 2.1 Stratigrafi Daerah Penelitian

28
Sumber: A.C. Effendi, Kusnama dan B. Hermanto. Peta Geologi Lembar
Bogor, Jawa Barat. Bandung, 1998
Gambar 2.4 Korelasi Satuan Batuan Peta Daerah Penelitian

3.2.5 Morfologi

Berdasarkan pengamatan di lapangan, bentuk-bentuk bentang alam daerah


penelitian secara umum didominasi oleh satuan morfologi perbukitan yang
terbentuk oleh hasil pelapukan dari batugamping yang bercampur dengan lapukan
batuan lainnya. Satuan ini didominasi oleh material hasil pelapukan batugamping.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 2.5.

29
Sumber: Mining Division PT ITP Citeureup
Gambar 2.5 Peta Morfologi Daerah Penelitian

3.2.6 Pembagian Lokasi Tambang

Lokasi penambangan di PT ITP Tbk. Citeureup Bogor-Jawa Barat


Dibagi Menjadi 3 bagian yaitu: Quarry C, D, dan E, Dibawah ini adalah
pembagian lokasi tambang PT ITP Tbk. Citeureup Bogor-Jawa Barat.

Gambar 2.10 Pembagian Lokasi Tambang Limestone

30
3.2.6 Iklim

Kondisi iklim di Bogor rata-rata mempunyai suhu tiap bulan 26°C dan
suhu terendah 21,8°C dengan suhu tertinggi 30,4°C, kelembapan udara70%,
curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3500-4000 mm dengan curah hujan
terbesar pada bulan Desember dan Januari.

3.2 JAM KERJA


Pada pembagian jam kerja, PT Indocement Tunggal Prakarsa dibagikan jadi 3
shift dengan jam kerja sebagai berikut :
Tabel 3.1

Waktu Kerja Waktu Istirahat


Shift Hari
Mulai Selesai Mulai Selesai
Senin - Kamis 07.00 15.00 11.45 12.15
1
Jumat 07.00 14.30 10.30 13.00
2 Senin-Jumat 15.00 22.30 17.45 18.15
3 Senin-Jumat 22.30 06.00 02.00 03.00
Sumber : Hasil Pengamatan

3.3 PENGERTIAN BATUGAMPING

Batu gamping adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium
karbonat (CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit. Di Indonesia, batu gamping sering
disebut juga dengan istilah batu kapur, sedangkan istilah luarnya biasa disebut
"limestone". Batu gamping paling sering terbentuk di perairan laut dangkal.
Menurut F.J.Pettijhon dalam buku Sedimentarry Rock Second Edition,
batugamping ialah batuan yang mengandung minimal 80% kalsium karbonat
(CaCO3) dan para ahli geologi memakai acuan tersebut.

Kandungan kalsium karbonat dari batugamping memberikan sifat fisik yang


sering digunakan untuk mengidentifikasi batuan ini. Biasanya identifikasi
batugamping dilakukan dengan meneteskan 5% asam klorida (HCl), jika bereaksi
maka dapat dipastikan batuan tersebut adalah batugamping.

31
3.3 GENESA BATU GAMPING

Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik,


mekanik, dan kimia. Sebagian besar batugamping di alam terjadi secara organik.
Jenis ini berasal dari kumpulan endapan cangkang kerang, siput, foraminifera,
ganggang, atau berasal dari kerangka binatang yang telah mati.

Batugamping yang terjadi secara mekanik bahannya tidak jauh berbeda


dengan jenis batugamping yang terjadi secara organik. Perbedaan dengan
batugamping jenis pertama adalah terjadinya perombakan dari bahan batugamping
organik yang kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari
tempat semula.

Batugamping yang terjadi secara kimia adalah jenis batugamping yang terjadi
dari pengendapan kalsium karbonat dalam kondisi iklim lingkungan tertentu, baik di
dalam air laut maupun air tawar. Mata air mineral dapat pula mengendapkan batu
gamping yang biasa disebut endapan sinter kapur. Jenis batugamping ini terjadi karena
peredaran air panas alam

yang melarutkan lapisan batugamping di bawah permukaan, yang kemudian


diendapkan kembali di permukaan bumi.

Batugamping dengan sifat keras dan padat memiliki berat jenis lebih dari 2,
sedangkan batugampig yang bersifat lunak memiliki berat jenis kurang dari 2.
Batugamping bersifat poros atau sarang, warna bervariasi yakni putih susu, abu-
abu muda hingga tua, coklat, merah sampai kehitaman yang dipengaruhi oleh
pengotor di dalam batuan.

Sifat fisik, mineralogi, dan kenampakan batugamping dapat berubah


apabila mengalami diagenesa hingga pemalihan yang disebabkan oleh perubahan
32
tekanan dan temperatur, sehingga terjadi penghabluran kembali material penyusun
batugamping, contohnya seperti yang dijumpai pada batu pualam atau batu
marmer.

Batugamping bersifat reaktif, terutama terhadap air hujan yang


mengandung CO3 dari udara maupun dari hasil pembusukan zat-zat organik di
permukaan tanah. Batugamping yang dilalui air tersebut dapat larut dengan reaksi
kimia sebagai berikut:

CaCO3 + 2CO2 + H2O → Ca(HCO3)2 + CO2

Ca(HCO3)2 dapat larut dalam air, sehingga lambat laun terjadi rongga dalam tubuh
batugamping.

3.4 KOMPOSISI BATUGAMPING

Komposisi batugamping mengandung 2 komposisi utama, yaitu komposisi


kimia dan komposisi mineral.

1. Komposisi Kimia

Sesuai dengan pengertian batugamping, maka komposisi


kimia yang terkandung dalam batu gamping banyak mengandung
kalsium karbonat. Secara umum sumberdaya batugamping di
Indonesia mempunyai kadar sebagai berikut CaO mendominasi sekitar
40-55 %, komposisi lain yang menjadi parameter batugamping
adalahSiO:0,23 -18,12%, Al2O3 : 0,20- 4,33%, Fe2O3 : 0,10-1,36%,
MgO : 0,05-4.26%, CO2 : 35,74-42.78%, H20 : 0,10-0,85%, dll.

Jika kadar MgO lebih dari 19,7 %, maka batuan termasuk


dalam jenis batuan dolomit (Tabel 3.1) (Pettijohn,1955).

33
Tabel 3.1

Penamaan Dolomit berdasarkan


kandungan

Sumber : Supriatna dan Arifin 1997


(Pettijohn,1955)

2. Komposisi Mineral

Batugamping merupakan batuan utama yang banyak digunakan


dalam industri. Aragonite yang berkomposisi sama dengan kalsit
(CaCo3) tetapi berbeda dalan struktur kristalnya yang merupakan
mineral metastable karena dalam kurun waktu tertentu dapat
berubah menjadi kalsit. Mineral karbonat lain nya yang umum
ditemukan berasosiasi dengan batugamping dalam jumlah kecil
adalah mineral Siderit (FeCO3), Ankerit (Ca2MgFe (CO3)4) dan
Magnesit (MgCO3). Mineral lain yang terkandung dalam
batugamping adalah silica (SiO2). Kandungan silica dalam
batugampng biasanya hadir sebagai kalsedon, karena sifat fisika
mineral-mineral silica hampir sama satu sama lain, maka tidak
mudah untuk mengidentifikasinya. Tingkat kelarutan (Solubilitas)

34
dari mineral yang berbeda dalam larutan asam klorida yang encer
(dilue hydrochloric acid) / Hcl dapat dipergunakan sebagai petunjuk
dalam pengidentifikasian. Solubiltas tertinggi yaitu Aragonite,
Calcite, dan Dolomite.

3.5 PROSES PRODUK PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA


Produksi semen membutuhkan bahan baku yang bersifat kering,
proporsional, dan homogen sebelum ditransfer ke dalam tanur pembakaran.
Hasil pencampuran ini dikenal dengan nama klinker, yang kemudian
dihaluskan dengan campuran gipsum di dalam penggilingan semen untuk
menghasilkan OPC atau dicampur dengan bahan aditif lainnya untuk
menghasilkan tipe semen yang lain. Rata-rata, sekitar 960 kg klinker
menghasilkan satu ton OPC.

3.5.1 Penambangan
Bahan baku utama yang digunakan dalam memproduksi semen
adalah batu kapur, pasir silika, tanah liat, pasir besi dan gipsum. Batu
kapur, tanah liat dan pasir silika di tam bang dengan cara pengeboran dan
peledakan dan kemudian dibawa ke mesin penggiling yang berlokasi tidak
jauh dari tambang. Bahan yang telah digiling kemudian dikirim melalui
ban berjalan atau dengan menggunakan truk. Dalam sistem proses basah,
bahan baku dimasukkan ke dalam tanur dengan wujud aslinya yang masih
basah, sehingga membutuhkan konsumsi panas yang relatif tinggi. Dalam
sistem proses kering, bahan baku telah dikeringkan dan dimasukkan ke
tanur dalam bentuk bubuk. Ini memberikan keuntungan sehingga
digunakan oleh produsen semen saat ini. Indocement menggunakan proses
tanur kering, yang mengkonsumsi panas lebih sedikit dan lebih efisien
dibandingkan proses tanur basah.

35
3.5.2 Pengeringan dan Penggilingan
Semua bahan yang sudah dihancurkan dikeringkan di dalam
pengering yang berputar untuk mencegah pemborosan panas. Kadar air dari
material tersebut menjadi turun sesuai dengan kontrol kualitas yang telah
ditentukan sesuai standar yang telah ditetapkan. Setelah disimpan di Raw
Mill Feed Bins, campuran material yang telah mengikuti standar
dimasukkan ke dalam penggilingan. Dalam proses penggilingan ini,
pengambilan contoh dilakukan setiap satu jam untuk diperiksa agar
komposisi masing-masing material tetap konstan dan sesuai dengan
standar. Setelah itu tepung yang telah bercampur itu dikirimkan ke tempat
penyimpanan.

3.5.3 Pembakaran dan Pendinginan

Dari tempat penyimpanan hasil campuran yang telah digiling,


material yang telah halus itu dikirim ke tempat pembakaran yang berputar
dan bertemperatur sangat tinggi sampai menjadi klinker. Setelah klinker ini
didinginkan, dikirim ke tempat penyimpanan. Selama proses ini
berlangsung, peralatan yang canggih digunakan untuk memantau proses
pembakaran yang diawasi secara terus menerus dari Pusat Pengendalian.
Bahan bakar yang dipergunakan adalah batu bara, kecuali untuk semen
putih dan oil well cement digunakan gas alam.

3.5.4 Penggilingan Akhir

Klinker yang sudah didinginkan kemudian dicampur dengan gips


yang masih diimpor, kemudian digiling untuk menjadi semen.
Penggilingan ini dilaksanakan dengan sistem close circuit untuk menjaga
efisiensi serta mutu yang tinggi. Semen yang telah siap untuk dipasarkan
ini kemudian dipompa ke dalam tangki penyimpanan.

36
3.5.5 Pengantongan
Dari silo tempat penampungan, semen dipindahkan ke tempat
pengantongan untuk kantong maupun curah. Pengepakan menjadi efisien
dengan menggunakan mesin pembungkus dengan kecepatan tinggi.
Kantong-kantong yang telah terisi dengan otomatis ditimbang dan dijahit
untuk kemudian dimuat ke truk melalui ban berjalan. Sedangkan semen
curah dimuat ke lori khusus untuk diangkut ke tempat penampungan di
pabrik, atau langsung diangkut ke pelabuhan untuk disimpan atau langsung
dikapalkan.

3.6 HASIL PRODUKSI DARI PT. INDOCEMENT

1. Portland Composite Cement (PCC)

PCC Tiga Roda dibuat untuk konstruksi umum seperti rumah, bangunan
tinggi, jembatan, jalan beton, beton precast dan beton pre-stress. PCC mempunyai
kekuatan yang sama dengan Portland Cement Tipe I.
SNI15-7064-2014
ASTMC595-13
EN 197-1:2011

37
2. Ordinary Portland Cement (OPC)

OPC Tiga Roda juga dikenal sebagai semen abu-abu, terdiri dari lima tipe
semen standar. Indocement memroduksi OPC Tipe I, II dan V. OPC Tipe I
merupakan semen kualitas tinggi yang sesuai untuk berbagai penggunaan, seperti
konstruksi rumah, gedung tinggi, jembatan, dan jalan. OPC Tipe II dan V
memberikan perlindungan tambahan terhadap kandungan sulfat di air dan tanah.
OPC Type I: SNI 15-2049-2004, ASTM C150-12, EN 197-1:2011
OPC Type II:SNI 15-2049-2004, ASTM C150-12
OPC Type V: SNI 15-2049-2004. ASTM C150-12

3. Portland Pozzolan Cement (PPC)

38
PPC dari Semen Rajawali sangat baik digunakan untuk pasangan bata dan
plesteran, acian, juga pengerjaan beton. Diproduksi dengan teknologi ramah
lingkungan, peralatan canggih, dan material terpercaya dari Indocement,
penggunaan Semen Rawajali akan menghasilkan pengerjaan dengan kualitas
konsisten dan tidak mudah retak. Produk ini juga didesain khusus agar mudah
digunakan dan dengan komposisi yang pas sehingga cocok untuk membangun
segala tipe bangunan.
SNI 0302-2014, NRP 113-002-160930

4. Oil Well Cement (OWC)

OWC Tiga Roda adalah tipe semen khusus untuk pengeboran minyak dan gas baik
di darat maupun lepas pantai. OWC dicampur menjadi suatu adukan semen
kemudian disuntikkan di antara pipa bor dan cetakan sumur bor dimana semen
tersebut dapat mengeras dan kemudian mengikat pipa pada cetakannya. OWC
diproduksi dengan standar mutu sesuai API (American Petroleum Institute).

5. Semen Putih

39
Semen Putih Tiga Roda digunakan untuk dekorasi eksterior dan interior
gedung. Sebagai satu-satunya produsen semen putih di Indonesia, saat ini
Indocement dapat mencukupi kebutuhan semen putih untuk pasar domestic.

SNI 15-2049-2004, ASTM C150-12

6. Acian Putih TR30

Acian Putih TR30 sangat sesuai untuk pekerjaan acian dan nat. Komposisi
Acian Putih TR30 antara lain Semen Putih "Tiga Roda", kapur (Kalsium Karbonat)
dan bahan aditif khusus lainnya. Keuntungan menggunakan Acian Putih TR30
adalah menghasilkan permukaan acian yang lebih halus, mengurangi retak dan
terkelupasnya permukaan karena mempunyai sifat plastis dengan daya rekat tinggi,
cepat dan mudah dalam pengerjaan, hemat dalam pemakaian bahan serta dapat
dipergunakan pada permukaan beton dengan menambahkan bonding agent.

7. Beton Siap-Pakai

40
Beton siap-pakai (Ready-Mix Concrete/RMC) diproduksi dengan mencampur
OPC dengan bahan campuran yang tepat (pasir dan batu) serta air dan kemudian
dikirimkan ke tempat pelanggan menggunakan truk semen untuk dicurahkan.
Sebagai nilai tambah produk, RMC mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi
dari produk semen lainnya. RMC Indocement sebagian besar dijual di Jakarta
dimana industri pembangunannya sangat baik.

8. Agregat

Agregat digunakan dalam proses produksi RMC. Pengembangan baru


tambang agregat (batu andesit atau batu pecah-belah) di Rumpin dan Purwakarta,
Jawa Barat dengan total cadangan 80 juta ton andesit, melalui anak perusahaan
Indocement akan memperkuat posisi Indocement sebagai pemasok bahan
bangunan.

41
BAB IV

HASIL PENGAMATAN
4.1.Fasilitas Dan Peralatan
Di Departemen Tambang, PT Indocement terdapat fasilitas atau sarana dan
prasarana yang menunjang kerja karyawan baik untuk di Kantor maupun yang
berhubungan langsung dengan kegiatan pertambangan. Adapun fasilitas dan
peralatan yang tersedia untuk digunakan yakni sebagai berikut:
4.1.1. Kantor Tambang Quarry D (Mining Office)
Kantor Tambang adalah tempat kerja karyawan yang berhubungan
langsung dengan persoalan administrasi. Kantor Tambang di Quarry D hanya
terdapat 1 lantai di mana hanya terdapat ruangan untuk kepala bidang dan ruangan
rapat. Kantor Tambang di Quarry D terdapat ruangan administrasi, ruangan Ka. Biro
dan ruangan Ka. Dapertemen Tambang.

Gambar 4.1

Mining Office

4.1.2. Bengkel Alat Berat Tambang

Workshop alat berat tambang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
pemeliharaan terencana seluruh alat khusus yang sifatnya general over houl.

42
Gambar 4.2

Bengkel Alat Berat

4.1.3. Kantor Bahan Peledak


Gudang Bahan Peledak merupakan tempat penyimpanan, pembuatan
bahan peledak Amonium Nitrat, Dinamite, Letwire, dan Detonator.

Gambar 4.3

Kantor Bahan Peledak

Gambar 4.4

Gudang Ammonium Nitrat


43
Gambar 4.6

Mobil Tangki Solar

4.1.4. Tempat Pembuatan ANFO


Pencampuran ANFO sangat diperlukan didalam suatu proses
persiapan peledakan.
Gudang Bahan Peledak mempunyai kompenen yang untuk
mencampur Ammonium Nitrat dan Fuel Oil yaitu :
4.1.4.1. Coxan ANFO Mixer

Gambar 4.7

Coxan Mixer ANFO

44
4.1.4.2. Tangki Solar (FO)

Gambar 4.8

Tangki Solar

4.1.5. Dump Truck


Merupakan alat transportasi yang berfungsi untuk mengangkut material
dari area penambangan ke crusher. Di PT. Indocement Tunggal Prakarsa memeliki
30 unit Dump Truck, terdapat dua jenis dump truk yang digunakan yaitu merk
Caterpillar tipe 775 sebanyak 16 unit dengan kapasitas bucket sebesar 60 ton dan
merk Komatsu tipe 465 dan 605 sebanyak 14 unit dengan kapasitas bucket sebesar
60 ton.

Gambar 4.11

Dump Truck

4.1.6. Wheel Loader


Merupakan alat yang umum dipakai untuk pekerjaan pemuatan material hasil
peledakan ke dump truk untuk selanjutnya dibawa ke crusher. Di PT. Indocement
Tunggal Prakarsa memiliki 12 unit Wheel Loader, ada dua jenis wheel loader yang

45
digunakan yaitu merk Caterpillar dengan tipe 992 dan 990, merk Komatsu dengan
tipe WA700 dan WA800 dengan kapasitas bucket 9 hingga 11 m3.

Gambar 4.12

Wheel Loader

4.1.7. Excavator
Merupakan salah satu alat berat yang berada di departemen tambang,
dan berfungsi untuk alat penggali material dan alat muat material ke dump truck. Di
PT. Indocement Tunggal Prakarsa ada 5 unit Excavator, 2 unit breaker untuk
memecah boulder hasil peledakan. 3 unit back hoe untuk pekerjaan support seperti
perbaikan tanggul, atau maintenance parit.

Gambar 4.13

Back Hoe dan Rockbreaker

46
4.1.8. Bulldozer
Bulldozer merupakan traktor menggunakan Track/ rantai serta dilengkapi
dengan pisau (dikenal dengan blade) yang terletak di depan. Diaplikasikan untuk
pekerjaan pembukaan tanah pucuk (top soil), pembuatan lantai kerja unit bor,
pembongkaran material hasil peledakan. Di PT. Indocement Tunggal Prakarsa
memiliki 6 unit Bulldozer, terdapat 2 merk Bulldozer yaitu Caterpillar dengan tipe
D8 dan D9, serta Komatsu dengan tipe 155.

Gambar 4.15

Buldozer

4.1.9. Motor Grader


Digunakan grader untuk keperluan perawatan hauling road. Hal ini bisa
dilakukan karena blade dari grader dapat diatur sedemikian rupa. Di PT. Indocement
Tunggal Prakarsa terdapat 3 unit Motor Grader.

Gambar 4.16

Motor Grader

47
4.1.10. Drilling Machine
Drilling Machine yakni alat bor yang berfungsi untuk membuat lubang ledak.
PT Indocement Tunggal Prakarsa memiliki 11 unit alat bor, terdapat 2 merk Drilling
Machine yang digunakan yaitu Junjin dengan tipe JD 1300L dan JD 1500L yang memiliki
diameter bit 4’ dan Furukawa dengan tipe HCR 1500 dan dan yang memiliki diameter bit
4,5’.

Gambar 4.17

Drill Machine JunJin

Gambar 4.18

Drill Machine Furukawa

4.2. Proses Penambangan


4.2.1.1. Proses Penambangan Batu Kapur
Batu kapur yang digunakan 80% dalam pembuatan semen. Batu kapur
memiliki kandungan CaCO3 yang merupakan kandungan utama dalam
pembuatan semen yang ditambang menggunakan metode quarry dengan cara
48
pembentukan jenjang “bench” dengan ketinggian jenjang bervariasi. Sehingga
untuk memperolehnya terdapat beberapa tahap penambangan pada batu kapur,
diantaranya:
1. Land Clearing
Land Clearing merupakan kegiatan pengembangan yang bertujuan
untuk membersihkan daerah penambangan yang baru dari vegetasi
tumbuhan pada luas areal tertentu. Biasanya kegiatan tersebut meliputi
aktivitas penebangan pohon dan pembuangan. Alat berat yang digunakan
yaitu bulldozer.
2. Pengupasan (Stripping)/Dozing
Pengupasan merupakan tahap untuk mengupas lapisan penutup
atau overburden (OB) pada batu kapur dan pembersihan lokasi
pemboran. Pada lapisan ini mengunakan alat berat Dozer, lalu excavator
sebagai alat gali dan alat muat lalu dump truck sebagai alat angkut.
3. Pemboran (Drilling) dan Peledakan (Blasting)
3.1. Pemboran
Pemboran merupakan kegiatan untuk membuat lubang ledak
terhadap batuan yang akan dibongkar dengan menggunakan alat bor.
Kegiatan pemboran ini bertujuan untuk mendapatkan lubang ledak
yang homogen luasnya dengan kedalaman yang bervariasi sesuai
perencanaan tambang.
3.1.1. Marking
Marking dilakukan yaitu dengan spasi sepanjang 5 meter,
burden sepanjang 5 meter. Marking ditandai dengan adanya batu
yang ditumpuk 2 atau 3 buah batu yang bertujuan mempermudah
operator untuk melakukan kegiatan pemboran dan membuat
lubang baru apabila lubang yang sudah dibuat bermasalah seperti
ada air dilubang atau hambatan terlalu besar.

49
Gambar 4.17

Marking

3.1.2. Kegiatan pemboran


Pemboran Saat melakukan kegiatan pemboran penulis
mengamati kegiatan pemboran menggunakan alat bor jenis
Furukawa dan Junjin yang menghasilkan lubang ledak
Adapun hambatan-hambatan yang terjadi selama
kegiatan pemboran diantaranya:
1. Kondisi lapangan yang tidak selalu datar, sehingga
memperlambat dalam pengaturan posisi penempatan alat bor.
2. Posisi titik bor yang belum ditentukan sebelum melakukan
pemboran.
3. Sambungan batang bor yang sukar dilepaskan.
4. Seringnya terjadi kerusakan pada alat bor yang digunakan.

3.2. Peledakan (Blasting)


Peledakan adalah tahapan untuk pemisahan batuan dari batuan
induknya agar lebih mudah untuk digali dengan cara memberaikan,
membongkar atau memecah, batuan yang semula berdimensi besar
menjadi dimensi yang lebih kecil sehingga mudah dalam kegiatan

50
pengangkutan atau proses penambangan selanjutnya. Biasanya
peledakan satu kali dalam sehari.

3.2.1. Peralatan Peledakan


Alat ini dapat digunakan berulang kali pada kegiatan peledakan,
yaitu:
1. Lead wire yaitu kabel utama yang berfungsi untuk
menghubungkan antara rangkaian peledakan listrik dengan
Blasting Machine. Lead wire memiliki panjang gulungan
sebesar 100 meter.

Gambar 4.18

Lead Wire

2. Blasting Machine yaitu alat untuk penghasil dan pemberi arus


pada rangkaian peledakan.

Gambar 4.19

Blasting Machine
51
3. Blasting Ohm meter yaitu alat untuk mengukur tahanan listrik
dalam rangkaian lubang tembak. Jika tahanan lebih besar dari
arus yang dimasukkan, maka terjadilah gagal ledak, maka dari itu
sebelum peledakan dilakukan harus diperiksa tahanannya
terlebih dahulu.

Gambar 4.20

Blaster’s Ohm Meter

4. Cangkul adalah alat yang digunakan untuk melakukan


kegiatan stemming.
5. Bambu adalah alat yang memiliki skala digunakan untuk
mengukur dan mengecek kedalaman

Gambar 4.21

Bambu berskala

52
3.2.2. Perlengkapan Peledakan
1. Detonator adalah alat pemicu awal yang menimbulkan inisiasi
dalam bentuk letupan (ledakan kecil) sebagai bentuk aksi yang
memberikan efek kejut terhadap bahan peledak peka detonator
atau primer. Detonator disebut dengan blasting capsule atau
blasting cap

Gambar 4.22

Detonator

Detonator listrik Produsen PT Dahana, Tasikmalaya, Indonesia

Fungsi Isi dari Detonator adalah:

1) Isian utama (primary charge) berupa bahan peledak kuat yang


peka (sensitif). Fungsinya adalah menerima efek panas dengan
sangat cepat dan meledak menimbulkan gelombang kejut.
2) Isian dasar (base charge) disebut juga isian sekunder adalah
bahan peledak kuat dengan VOD tinggi. Fungsinya adalah
menerima gelombang kejut dan meledak dengan kekuatan
besarnya tergantung pada berat isian dasar tersebut.
2. Power gell mempunyai kecepatan ledak 4600- 5600 m/s

dirangkai menjadi primer yang berfungsi sebagai pemicu ANFO,


sedangkan primer itu sendiri dipicu oleh detonator listrik,
Divisi Pertambangan menetapkan standar untuk Quarry D
pemakaian dinamite maksimal 2% dari total bahan peledak.

53
Gambar 4.23

Power Gel

3. Bahan Peledak yang ini digunakan adalah ANFO dengan


berat density 1.18 ton/m3 sebagai bahan peledak utama.
Perbandingan utama dalam teori adalah 70% Emultion dan
30% AN (Amonium Nitrat). Pabrik pembuatan ANFO berasal
dari DAHANA dengan Kecepatan Detonasi 5300 m/s.

Gambar 4.24

Amonim Nitrat (AN)

4. Leg wire merupakan merupakan dua kawat yang menjadi satu


dengan detonator listrik, yang salah satu ujung di hubungkan
dengan “bridge wire” yang terdapat dalam detonator.

54
Gambar 4.25

Leg Wire

3.2.3. Pemeriksaan Lubang Ledak


Pekerjaan yang harus dilakukan menjelang pengisian setiap
lubang peledakan adalah memeriksa lubang tersebut agar pada saat
pengisiannya tidak ada hambatan. Beberapa aspek yang harus
diperiksa adalah sebagai berikut :

A) Memeriksa lubang bor : untuk mengecek kedalaman


menggunakan tongkat bambu berskala. Bila lubang tidak
sesuai dengan direncanakan maka harus dilakukan :

- Apabila terlalu dalam, dilakukan pengurukan dengan


material stemming sampai kedalamannya berkurang sesuai
dengan yang direncanakan.

B) Memeriksa adanya air didalam lubang ledak dapat dengan


menjatuhkan batu ke lubang, bila ada air maka suara akan
bergema dan dilakukan pengukuran kedalaman lubang
yang tidak terisi air, apabila tinggi air lebih dari 3
meter,maka harus dilakukan pengoboran ulang. Jika
kedalaman air kurang dari 3 meter, maka bahan peledak
(ANFO) dimasukkan kedalam selongsong plastik (ANFO
isi) agar tidak kontak dengan air.

3.2.4. Pencampuran Bahan Peledak


Pencampuran bahan peledak dilakukan setelah pemeriksaan
lubang ledak, dimana AN (Ammonium Nitrate) dengan FO (Fuel
Oil) dicampur menjadi suatu bahan peledak peka primer. Dalam
pencampuran AN dan FO memiliki perbandingan yaitu 94,5% :
55
5,5%. Mesin pencampuran ANFO yang digunakan adalah Coxan
ANFO Mixer yang sudah dirancang khusus untuk mencampur AN
dan FO dengan perbandingan campuran yang disesuaikan dengan
kapasitas keluaran AN dari mulut auger.

3.2.5. Pengisian Lubang Ledak


Aktifitas pengisian lubang ledak :

 Pengisian primer (daya gel)


 Pengisian bahan peledak (ANFO)
 Pengisian stemming
 Pemasangan rangkaian tiap lubang
 Pemasangan lead wire ke blasting machine
 Pengamanan dan evakuasi sebelum peledakan
 Pelaksanaan Peledakan

Gambar 4.25

Pengisian Bahan Peledak

4. Pemuatan (Loading)
Pemuatan (Loading) adalah proses pemuatan material ke dalam
bak alat angkut. Loader bekerja untuk penggalian dan pemuatan di area
penambangan. Waktu siklus alat muat (loader) adalah waktu yang
dibutuhkan alat untuk melakukan pekerjaan dari awal hingga akhir dan

56
kembali lagi pada keadaan awal. Gerakan yang dilakukan alat muat
adalah:
1. Waktu menggali (digging)
2. Waktu swing material
3. Waktu tumpah (dumping)
4. Waktu swing kosong
Cara pemuatan yang dilakukan adalah Loader mengangkat
material yang akan dimuat kemudian memuatnya kedalam dumptruck.

Gambar 4.26

Loader Melakukan Pemuatan Ke Dumptruck

5. Pengangkutan (Hauling)

Material yang sudah dimuat ke dumptruck akan dibawa


langsung ke crusher.

Pencatatan waktu siklus alat angkut, gerakan yang dilakukan alat


angkut adalah:

1. Waktu ambil posisi.


2. Waktu muat.
3. Waktu angkut.
4. Waktu posisi di disposal.
5. Waktu tumpah (dumping).
6. Waktu kembali kosong
7. Waktu menunggu (DelayTime).
57
Gambar 4.27

Pengangkutan (hauling)

6. Peremukan (Crushing)
Kegiatan ini bertujuan untuk menghancurkan atau mengubah
ukuran (mesh) batu gamping menjadi kecil yang di tambang di Quarry D
dengan cara peledakan yang ukurannya masih cukup besar, serta
mempermudah transportasi dan proses selanjutnya. Di PT Indocement
Tunggal Prakarsa terdapat jenis crusher yaitu:
1. Jaw Crusher
Jaw crusher dipergunakan sebagai primary crusher. Cara kerja
dari jaw crusher adalah material yang masuk crushing chamber/ ruang
penghancuran ( ruang antara fixed jaw dan moveable/swing jaw) akan
tertekan atau terkompresi oleh swing jaw yang digerakkan oleh toggle.
Material yang utama yang dikhususkan adalah bahan baku yang telah
memenuhi standar untuk di giling yaitu tidak melebihi input 800 mm
dan tidak terlalu banyak tanah dan lembab.
PT Indocement Tunggal Prakarsa hanya meiliki 1 alat Jaw
Crusher di P10, yang memiliki kapasitas sebesar 1000 Ton/Jam.
Ukuran feed yang bisa diterima sebesar 800 mm dimana ukurannya
produknya menjadi -250 mm.

58
2. Double Shaft Hammer Crusher
Double Shaft Hammer Crusher merupakan alat pengecil ukuran
material yang mempuyai 2 poros hammer yang dipergunakan sebagai
primary dan secondary crusher, Umpan dipecahkan oleh seperangkat
palu ayun yang berada pada piring rotor. Kemudian pecahan ini
terlempar pada anvil plate di dalam sebuah casing sehingga
dipecahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil, lalu digosok menjadi
serbuk. Jenis double shaft hammer crusher mempuntai kelebihan dari
jenis – jenis crusher yang lain, keadaan tersebut dapat menyebabkan
crusher ini mempunyai kelebihan daya mereduksi material yang
cukup besar dan kelebihan lainnya crusher ini tidak terpengaruh
dengan kondisi cuaca, baik pada musim hujan maupun musim
kemarau crusher tetap beroperasi.
PT Indocement Tunggal Prakarsa memiliki 4 alat double shaft
hammer crusher berada di P6A, P6B, P11, dan P12. Kapasitas yang di
miliki pada alat crusher ini sebesar 1000 Ton/Jam di P6A dan P6B
berada di blok 2 yang digunakan untuk memproduksi bahan baku grey
cement dan OWC (Oil Well Cement) dan P11 untuk memproduksi
bahan baku grey cement. Sedangkan pada P12 memiliki kapasitas
yang lebih besar yaitu 2000 Ton/Jam. Ukuran feed yang diterima pada
crusher P6A, P6B, dan P11 sebesar 800 mm. Pada P12 memiliki
ukuran feed yang disesuaikan yaitu 1000 mm x 1200 mm x 1500 mm.

Gambar 4.28

Double Shaft Hammer Crusher

3. Impact Crusher
Tipe crusher dengan sistem pukul rotary dengan kecepatan rpm
yang cukup tinggi digunakan untuk menghancurkan batuan gamping
dengan ukuran material yang tidak terlalu besar dan menghasilkan
59
produk yang dengan ukuran yang kecil dan variasi ukurannya yang
homogen.

PT Indocement Tunggal Prakarsa memiliki 2 alat Impact Crusher


yang berada di P7 sebagai primary dan secondary crusher, dan P9
hanya dipergunakan sebagai primary crusher, hasil dari P9 akan
diumpankan kembali ke P7 dan P8. Kapasitas yang dimiliki pada jenis
alat ini sebesar 1000 Ton/Jam. Feed yang hanya bisa diterima pada
alat crusher ini yaitu sebesar 800 mm.

60
7. Belt Conveyor
Belt Conveyor digunakan untuk mengangkut material yang telah
di crusher ke storage yang berada di pabrik maupun intermediate storage
di Quarry D, di mana belt conveyor digerakan oleh listrik.

Gambar 4.29

Jalur Belt Conveyor

61
8. Storage
Bahan baku yang digunakan di dalam produksi semen,
setelah dikirim dari tambang kemudian disimpan di storage. Storage
adalah area khusus penyimpanan material tertentu yang dipisahkan
sesuai penyimpanannya, tempat penyimpanan pada intermediate storage
di Quarry D, jika belt conveyor yang menuju plant tidak beroperasi maka
material disimpan terlebih dahulu di intermediate storage. Sedangkan
bahan pendukung lainnya disimpan ke dalam hopper masing-masing.
Storage di PT Indocement Tunggal Prakarsa memiliki kapasitas siap
tampung sebesar 60.000 Ton pada Intermediate storage.

62
BAB V

PEMBAHASAN
1. Cycle time Alat–alat pertambangan di Quarry D, PT Indocement Tunggal
Prakarsa.
a. Alat Bor Furukawa HCR 1500

Jumlah Cycletime DH = 2 jam 46 menit 26 detik

= 9986 detik (LAMPIRAN C)

Total siklus = 47

Rata – rata CT DH = 9986 / 47

= 212.46 detik

= 3 menit 32 detik

b. Alat Muat Komatsu WA800

Jumlah Cycletime Wheel Loader = 3 jam 16 menit 42 detik

= 11802 detik (LAMPIRAN B)

Siklus Wheel Loader = 66 siklus

Rata-rata Cycletime WL = 11802 / 66 = 178.8 detik

= 178.8 detik / 60 = 2,983 menit

c. Alat Angkut Komatsu HD465

Jarak angkut dari lokasi 405 ke crusher P12 =

Cycle time :

Waktu muat = 98 detik

Waktu angkut (isi) = 327 detik

Manuver tumpah = 26 detik LAMPIRAN (A)

Tumpah = 33 detik

Kembali Kosong = 292 detik

Manuver Muat = 27 detik

63
Cycle time Dumptruck rata-rata = Waktu Muat + Waktu Angkut (isi)+
Manuver Tumpah + Tumpah + Kembali (kosong)+ Manuver Muat

= 98 + 327 + 26 + 33 + 292 + 27

= 803 Detik atau 13 Menit 23 Detik


𝑛 𝑥 𝑁𝑑𝑡 𝑥 𝐶𝑙
Match Factor = 𝑁𝑙 𝑥 𝐶𝑑𝑡

Keterangan :

n = jumlah pengisian bucket

Ndt = jumlah dump truck

Cl = Cycle time loader

Nl = jumlah loader

Cdt = cycle time dump truck


3 𝑥 4 𝑥 178 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
MF = = 2,66
1 𝑥 803 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

FK > 1 artinya ada waktu tunggu untuk alat angkut, alat gali muat berkerja 100%.
Alat angkut bekerja <100%.

2. Pentuan tonase batuan dan jumlah bahan peledak

 Penentuan tonase lubang tembak


Spacing = 5,75 m
Burden = 3,2 m
Kedalaman lubang = 14 m
Tinggi bench = 13 m
Jumlah lubang = 6 lubang
Diameter = 4,5 in
Subdrill = 1 m
Berat Jenis Batuan = 2 ton/m3

𝑇𝑜𝑛𝑎𝑠𝑒
= 𝑆𝑝𝑎𝑐𝑖𝑛𝑔 𝑥 𝐵𝑢𝑟𝑑𝑒𝑛 𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐽𝑒𝑛𝑖𝑠 𝐵𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑥 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑒𝑛𝑑 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔

Tonase = 5,75 x 3,2 x 2 x13 x 6 = 2870,4 ton

 Penentuan jumlah bahan peledak


Stemming = 3 m
De = diameter lubang bor = 4,5 in = 4,5 x 0,0254 = 0,1143 m
64
1
𝑑𝑒 = 𝑥 3.14 𝑥 (𝐷𝑒)2 𝑥 𝑆𝐺 𝑥 1000
4
Keterangan
de = jumlah bahan peledak tiap meter lubang bor
De= diameter lubang bor
SG= Specific Gravity ANFO= 0,8

1
𝑑𝑒 = 𝑥 3.14 𝑥 (0,1143)2 𝑥 0,8 𝑥 1000
4
de = 8,2 kg/m
 Berat ANFO tiap lubang
Panjang Kolom = Kedalaman lubang – Stemming
= 14 m – 3 m
= 11 m
Maka berat ANFO tiap lubang = 11 m x 8,2 kg/m
= 90,2 kg
Jumlah ANFO untuk 6 lubang = 90,2 kg x 6
= 541,2 kg
 Total Bahan peledak tiap lubang
Dynamite yang dibutuhkan tiap lubang = 8 buah
Berat dynamite = 0,2 kg
Maka total berat dinamite yang dibutuhkan untuk 6 lubang
= 8 x 0,2 kg = 9,6 kg

Total Bahan Peledak untuk 6 lubang


= jumlah ANFO + jumlah dinamite
= 541,2 kg + 9,6 kg
= 550,8 kg
PF = berat bahan peledak / tonase batuan = kg / ton

= 550,8 kg / 2870,4 ton

= 0,19 kg/ton
 Menentukan jumlah AN dan FO yang di perlukan
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑙𝑒𝑑𝑎𝑘 90,2 𝐾𝑔
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐴𝑁 = 94,5 𝑥 = 94,5 𝑥 = 85,239 𝐾𝑔
100 100
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑙𝑒𝑑𝑎𝑘 90,2
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐹𝑂 = 5,5 𝑥 = 5,5 𝑥 = 4,961 𝐾𝑔
100 100

Untuk menentukan banyaknya FO dalam liter, maka :


4,961 𝐾𝑔
Volume FO = 0,8 𝐾𝑔/𝐿 = 6,2 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

65
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang telah di dapatkan dari laporan kerja praktek ini adalah :

5.1.1. Pada Proses Pembuatan Semen di PT Indocement Tunggal Prakarsa unit


Citeureup-Bogor, menggunakan batu kapur sebagai bahan utamanya
5.1.2. Pada Departemen Tambang PT Indocement Tunggal Prakarsa di Quarry D
bahan tambang yang di ambil hanya batu gamping.
5.1.3. Tahapan menambang bahan baku semen : land clearing, penambangan batu
kapur (menggunakan metode tambang quarry), gali-muat-angkut, crushing,
conveying hingga menuju storage lalu menuju plant.
5.1.4. Kegiatan Peledakan di PT Indocement Tunggal Prakarsa di lakukan untuk
melepaskan atau menggeser batuan.
5.1.5. Mendapatkan waktu Edar atau Cycle time pada Alat Bor , Alat Muat , Alat
Angkut ,dan Jenis Crusher di Quarry D, PT Indocement Tunggal Prakarsa
5.1.6. Mendapatkan Powder Factor (PF) sebesar 0,19 Kg/Ton .
5.1.7. Mendapatkan FK (Match Factor) Alat Muat dan Alat Angkut sebesar 2,6
yang berarti Alat muat bekerja 100% dan Alat Angkut bekerja <100%
5.2 Saran

5.2.1. Perlu dilakukan pengawasan yang lebih dalam menjalankan SOP.


5.2.2. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi para karyawan dalam menjaga
kesehatan dan keselamatan saat bekerja untuk menghindari kecelakaan kerja
5.2.3. Seluruh aktifitas penambangan harus di lakukan oleh orang yang ahli pada
bidangnya serta memiliki izin yang resmi.

66
DAFTAR PUSTAKA

1. Asyraf, Adib.2017. Laporan Kerja Praktek Kegiatan Penambangan Batu Kapur PT


Semen Padang. Jakarta : Universitas Trisakti.
2. Tugiman. 2010. Standard Operation Procedure Pengisian Lubang Ledak Quarry D.
Bogor : PT Indocement Tunggal Prakarsa.
3. Julio, Ozzy. 2015. Optimalisasi Geometri Peledakan Pada Bench 450 Quarry D. Bogor
: PT Indocement Tunggal Prakarsa.
4. BS, Ulung. 2001. Standard Operation Procedure Pencampuran ANFO Dalam Rangka
Persiapan Pelaksaan Peledakan Di Quarry D. Bogor : PT Indocement Tunggal
Prakarsa.
5. Indocement Heildberg Group. http://www.indocement.co.id. Di akses tanggal 15
Januari 2018.

67