Anda di halaman 1dari 6

Meningitis adalah radang pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang

belakang, yang secara kesatuan disebut meningen. Radang dapat disebabkan oleh infeksi oleh virus,
bakteri, atau juga mikroorganisme lain, dan walaupun jarang dapat disebabkan oleh obat tertentu.
Meningitis dapat menyebabkan kematian karena radang yang terjadi di otak dan sumsum tulang
belakang; sehingga kondisi ini diklasifikasikan sebagai kedaruratan medis.

Gejala umum dari meningitis adalah sakit kepala dan leher kaku disertai oleh demam, kebingungan atau
perubahan kesadaran, muntah, dan kepekaan terhadap cahaya (fotofobia) atau suara keras (fonofobia).
Anak-anak biasanya hanya menunjukkan gejala nonspesifik, seperti lekas marah dan mengantuk. Adanya
ruam merah dapat memberikan petunjuk penyebab dari meningitis; contohnya, meningitis yang
disebabkan oleh bakteri meningokokus dapat ditunjukkan oleh adanya ruam merah.

Tindakan punksi lumbal dilakukan untuk mendiagnosa ada tidaknya meningitis. Jarum dimasukkan ke
dalam kanalis spinalis untuk mengambil sampel likuor serebrospinalis (LCS), yang menyelubungi otak
dan sumsum tulang belakang. LCS diperiksa di laboratorium medis. Penanganan pertama pada
meningitis akut terdiri dari pemberian secara tepat berbagai antibiotik dan kadang-kadang obat
antivirus. Kortikosteroid juga dapat digunakan untuk mencegah terjadinya komplikasi karena radang
yang berlebihan. Meningitis dapat mengakibatkan konsekuensi jangka panjang seperti ketulian, epilepsi,
hidrosefalus dan defisit kognitif, terutama bila tidak dirawat dengan cepat. Beberapa jenis meningitis
(misalnya yang berhubungan dengan meningokokus, Haemophilus influenzae type B,pneumokokus atau
infeksi virus mumps) dapat dicegah oleh imunisasi.
Tanda-tanda dan gejala
 Gejala klinis

Pada orang dewasa, gejala meningitis yang paling sering adalah sakit kepala hebat, yang terjadi pada
hampir 90% kasus meningitis bakterial, diikuti oleh kaku kuduk (ketidakmampuan untuk menggerakkan
leher ke depan karena terjadi peningkatan tonus otot leher dan kekakuan). Triad klasik dari tanda-tanda
meningitis adalah kaku kuduk, demam tinggi tiba-tiba, dan perubahan status mental; namun, ketiga ciri-
ciri ini hanya muncul pada 44–46% kasus meningitis bakteri. Jika tidak terdapat satu pun dari ketiga
gejala tersebut, dapat dikatakan bukan meningitis.Ciri lain yang dihubungkan dengan meningitis
termasuk fotofobia (intoleransi terhadap cahaya terang) dan fonofobia(intoleransi terhadap suara
keras). Pada anak kecil, gejala yang telah disebutkan di atas seringkali tidak tampak, dan dapat hanya
berupa rewel dan kelihatan tidak sehat. Ubun-ubun (bagian lembut di bagian atas kepala bayi) dapat
menonjol pada bayi berusia hingga 6 bulan. Ciri lain yang membedakan meningitis dari penyakit lain
yang tidak berbahaya pada anak adalah nyeri kaki, kaki-tangan yang dingin, dan warna kulit abnormal.

Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis (dikenal sebagai "meningitis
meningokokus") dapat dibedakan dengan jenis meningitis lain apabila ruam ruam petechial menyebar
dengan cepat, yang dapat timbul sebelum timbul gejala lain. Ruam ini berupa bintik kecil dan banyak,
tidak beraturan berwarna merah atau ungu ("petechiae") di badan , anggota badan bagian bawah,
membran mukosa, konjungtiva, dan (kadang-kadang) telapak tangan dan telapak kaki. Ruam biasanya
tidak memucat; warna merahnya tidak memudar saat ditekan dengan jari atau batang gelas. Walaupun
ruam tidak selalu timbul pada meningitis meningokokus, ruam ini cukup spesifik untuk meningitis
meningokokus; namun ruam kadang-kadang juga dapat timbul pada meningitis yang disebabkan oleh
bakteri lain. Ciri lain yang dapat membantu menentukan penyebab meningitis adalah tanda pada kulit
yang disebabkan oleh penyakit tangan, kaki dan mulut dan herpes genitalis, yang keduanya
berhubungan dengan beberapa bentuk meningitis virus.

Komplikasi dini
Masalah lain dapat muncul pada tahap awal perjalanan penyakit. Hal ini memerlukan tata
laksana khusus, dan kadang-kadang merupakan petunjuk penyakit yang berat atau prognosis yang lebih
jelek. Infeksi dapat memicu sepsis, suatu sindrom respons radang sistemik dimana terjadi penurunan
tekanan darah, denyut jantung cepat, suhu tubuh abnormal yang tinggi atau rendah, dan peningkatan
laju napas. Tekanan darah yang sangat rendah dapat muncul pada tahap awal, khususnya namun tidak
eksklusif pada meningitis meningokokus; yang akan mengakibatkan kurangnya suplai darah bagi organ
lain. Koagulasi intravaskular diseminata, yang merupakan aktivasi berlebihan dari pembekuan darah,
dapat mengobstruksi aliran darah ke organ dan secara paradoks meningkatkan risiko pendarahan.
Gangren pada anggota badan terjadi pada pasien penyakit meningokokus. Infeksi meningokokus dan
pneumokokus dapat menyebabkan perdarahan kelenjar adrenal, sehingga menyebabkan sindrom
Waterhouse-Friderichsen, yang seringkali mematikan.

Dengan jaringan otak membengkak, tekanan di dalam tengkorak akan meningkat dan otak yang
membengkak dapat mengalami herniasi melalui dasar tengkorak. Hal ini terlihat dari menurunnya
kesadaran, hilangnya refleks pupil terhadap cahaya, dan postur tubuh abnormal. Terjadinya ini pada
jaringan otak juga dapat menyumbat aliran normal LCS di otak (hidrosefalus). Kejang dapat terjadi
karena berbagai penyebab; pada anak, kejang biasanya terjadi pada tahap awal meningitis (30% kasus)
dan tidak selalu menunjukkan adanya penyakit yang mendasari. Kejang disebabkan oleh peningkatan
tekanan dan luasan daerah radang di otak. Kejang parsial (kejang yang melibatkan salah satu anggota
badan atau sebagian tubuh), kejang terus menerus, kejang pada orang dewasa dan yang sulit terkontrol
dengan pemberian obat menunjukkan luaran jangka panjang yang lebih buruk.

Radang meningen dapat menyebabkan abnormallitas pada saraf kranial, kelompok saraf yang berasal
dari batang otak yang mensuplai kepala dan leher dan mengontrol, dari berbagai fungsi diantaranya,
gerakan mata, otot wajah, dan fungsi pendengaran. Gangguan penglihatan dan tuli dapat menetap
setelah episode meningitis. Radang pada otak (ensefalitis) atau pembuluh darahnya (vaskulitis serebral),
dan juga pembentukan bekuan darah pada vena (penyumbatan vena serebral), dapat menyebabkan
kelemahan, hilangnya sensasi, atau gerakan dan fungsi berbagai bagian tubuh yang abnormal, yang
disuplai oleh bagian otak yang terkena.

Penyebab
Meningitis seringkali disebabkan oleh infeksi oleh mikroorganisme. Sebagian besar infeksi disebabkan
oleh virus, dengan bakteri, fungi, dan protozoa sebagai penyebab paling sering berikutnya. Penyakit ini
bisa juga disebabkan oleh berbagai penyebab non-infeksi Istilah meningitis aseptik merujuk pada kasus
meningitis yang tidak dapat dibuktikan adanya keterlibatan infeksi bakteri. Jenis meningitis ini biasanya
disebabkan oleh virus, tetapi keadaan ini dapat juga terjadi apabila infeksi bakteri telah diobati secara
parsial sebelumnya, ketika bakteri lenyap dari meninges, atau patogen menginfeksi daerah yang dekat
dengan meningen (misalnya sinusitis). Endokarditis (infeksi katup jantung yang menyebarkan gugus-
gugus kecil bakteri melalui aliran darah) dapat menyebabkan meningitis aseptik. Meningitis aseptik juga
dapat timbul dari infeksi spirochete, jenis bakteri yang yang diantaranya Treponema pallidum (penyebab
sifilis) dan Borrelia burgdorferi (dikenal sebagai penyebab penyakit Lyme). Meningitis dapat dijumpai
pada malaria serebral (malaria yang menginfeksi otak) atau meningitis amubik, meningitis yang
disebabkan oleh infeksi amuba sepertiNaegleria fowleri, yang didapatkan dari sumber air tawar.
Bakterial
Jenis bakteri penyebab meningitis bakterial bervariasi sesuai kelompok usia individu yang terinfeksi.Pada
bayi prematur dan anak baru lahir berusia hingga tiga bulan, penyebab yang sering adalah streptokokus
grup B (subtipe III yang biasanya hidup di vagina dan terutama merupakan penyebab pada minggu
pertama kehidupan) dan bakteri yang biasanya hidup dalam saluran pencernaan seperti Escherichia coli
(membawa antigen K1). Listeria monocytogenes (serotipe IVb) dapat mengenai bayi baru lahir dan
menimbulkan epidemi.

Pada anak yang lebih besar seringkali disebabkan oleh Neisseria meningitidis (meningokokus) dan
Streptococcus pneumoniae (serotipe 6, 9, 14, 18, dan 23) dan untuk balita oleh Haemophilus influenzae
type B (di negara-negara yang tidak memberikan vaksinasi).

Pada orang dewasa, Neisseria meningitidis dan Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab 80%
kasus meningitis bakterial. Risiko terinfeksi oleh Listeria monocytogenes meningkat pada orang yang
berusia di atas 50 tahun. Pemberian vaksin pneumokokus telah menurunkan angka meningitis
pneumokokus pada anak dan dewasa.

Trauma pada tengkorak yang belum lama terjadi dapat menyebabkan masuknya bakteri dari rongga
hidung ke meningen. Demikian pula halnya dengan alat yang dipasang di dalam otak dan meningen,
seperti shunt serebral, drain ekstraventrikular atau reservoir Ommaya, dapat meningkatkan risiko
meningitis. Pada kasus ini, pasien lebih cenderung terinfeksi oleh Stafilokokus, Pseudomonas, dan
bakteri Gram negatif lainnya. Patogen-patogen ini juga dikaitkan dengan meningitis pada pasien dengan
gangguan pada sistem kekebalan. Infeksi pada daerah kepala dan leher, seperti otitis media atau
mastoiditis, dapat menyebabkan meningitis pada sebagian kecil orang. Penerima implan koklea untuk
kehilangan pendengaran berisiko lebih tinggi untuk menderita meningitis pneumokokus. Meningitis
tuberkulosis, yaitu meningitis yang disebabkan oleh Mikobakterium tuberkulosis, lebih sering dijumpai
pada orang yang berasal dari negara dengan tuberkulosis yang masih endemik, tetapi juga dijumpai
pada orang yang mempunyai gangguan kekebalan tubuh, seperti AIDS.

Meningitis bakterial rekuren dapat disebabkan oleh defek anatomi yang menetap, baik bersifat
kongenital atau didapat, atau akibat kelainan sistem kekebalan. Defek anatomi memungkinkan adanya
hubungan antara lingkungan eksternal dengan sistem saraf. Penyebab meningitis rekuren yang paling
sering adalah fraktur tengkorak, khususnya fraktur yang mengenai dasar tengkorak atau meluas ke arah
sinus dan piramida petrosa. Sekitar 59% kasus meningitis rekuren disebabkan abnormalitas anatomi
yang demikian, 36% akibat defisiensi kekebalan (seperti defisiensi komplemen, yang secara khusus
cenderung menyebabkan berulangnya meningitis meningokokus), dan 5% disebabkan oleh infeksi
berkelanjutan di daerah yang berdekatan dengan meningen.
Virus
Berbagai virus penyebab meningitis mencakup enterovirus, virus Herpes simpleks tipe 2 (dan yang lebih
jarang tipe 1), virus Varicella zoster (dikenal sebagai penyebab cacar air dan cacar ular), paromiksovirus,
HIV, dan LCMV.[10]

Pencegahan
Untuk beberapa kasus meningitis, perlindungan jangka panjang dapat dilakukan dengan pemberian
vaksinasi, atau jangka pendek dengan penggunaan antibiotik. Beberapa perubahan perilaku dapat juga
efektif.

Vaksinasi
Sejak tahun 1980an, banyak negara sudah memasukkan imunisasi terhadap Haemophilus influenzae B
dalam program vaksinasi rutin anak. Hal ini secara praktis telah menghilangkan patogen jenis ini sebagai
penyebab meningitis pada anak di negara-negara tersebut. Di negara dengan angka penyakit yang
tertinggi, harga vaksin tersebut masih terlalu mahal. Demikian juga, imunisasi terhadap penyakit mumps
telah menyebabkan penurunan bermakna jumlah kasus meningitis mumps, yang sebelum vaksinasi
terjadi pada 15% dari semua kasus mumps.

Vaksin meningokokus tersedia untuk grup A, C, W135 dan Y. Di negara-negara di mana vaksin untuk
meningitis C diperkenalkan, kasus-kasus yang disebabkan oleh patogen ini sudah jauh menurun. Saat ini
tersedia vaksin kuadrivalen, yang menggabungkan keempat jenis vaksin itu. Imunisasi dengan vaksin
ACW135Y terhadap keempat jenis meningitis sekarang dijadikan persyaratan visa agar bisa ikut serta
menunaikan ibadah haji. Pengembangan vaksin untuk meningitis grup B terbukti jauh lebih sulit, karena
protein permukaannya (yang biasanya digunakan untuk membuat vaksin) hanya menimbulkan respon
dari sistem kekebalan tubuh yang lemah, atau bereaksi silang dengan protein manusia normal.Namun,
beberapa negara yaitu (Selandia Baru, Kuba, Norwegia dan Chili) telah mengembangkan vaksin untuk
meningitis grup B jenis lokal; beberapa sudah memberikan hasil yang bagus dan digunakan dalam
program imunisasi lokal. Baru-baru ini di Afrika, pencegahan dan pengontrolan epidemik dari meningitis
dilakukan dengan deteksi awal penyakit dan vaksinasi masal reaktif darurat pada penduduk yang
berisiko dengan vaksin polisakarida bivalen A/C atau trivalent A/C/W135, meskipun vaksin MenAfriVac
(vaksin meningitis grup A) telah menunjukkan efektivitas pada orang muda dan sudah dideskripsikan
sebagai model untuk kemitraan pengembangan produk pada keadaan sumber daya yang terbatas.
Vaksinasi rutin terhadap Streptococcus pneumoniae dengan vaksin pneumokokus konjugat (PCV), yang
aktif melawan tujuh serotipe umum dari patogen ini, telah jauh menurunkan kejadian meningitis
pneumokokus. Vaksin pneumokokus polisakarida, yang mencakup 23 jenis, hanya diberikan pada
kelompok tertentu (misalnya: mereka yang mengalami splenektomi, pengangkatan limpa lewat operasi);
vaksin ini tidak memberikan respon kekebalan tubuh yang berarti pada semua penerima, misalnya anak
kecil. Vaksinasi anak-anak dengan Bacillus Calmette-Guérin sudah dilaporkan jauh menurunkan angka
meningitis tuberkulosis, tapi efektivitasnya yang menurun pada orang dewasa telah mendorong
pencarian vaksin yang lebih baik.