Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik Kepemimpinan Intrapreneur

Ada beberapa sifat individu yang dapat diidentifikasi sehingga proses intrapreneurial
berjalan dengan baik yaitu : (1) mengerti lingkungannya, (2) menjadi visionary dan
fleksibel, (3) ada pilihan management, (4) melakukan kerjasama team secara
multidisplin, (5) mengadakan diskusi terbuka, (6) membangun pendukung dan
berketepatan hati. Mengenal lingkungan adalah memacu individu untuk tetap belajar dan
kreatif. Seorang pemimpin hendaknya sebagai “pekebun” (gardener) yaitu selalu
menanam benih, memupuknya, menyiraminya. Jadi bersifat menumbuhkan. Di samping
itu juga seorang pemimpin harus bersifat dapat bermimpi besar dan
mengomunikasikannya sehingga pengikutnya akan menjadi bagian dari mimpi anda.
Pemimpin harus fleksibel, toleransi terhadap perubahan, seorang pemimpin harus sebagai
diplomat yang baik, diperlukan bila mengajak kerjasama team yang multidisplin. Mereka
harus demokrasi, terbuka, mau dikritik dan menerima ketidaksetujuan orang lain.
Intrapreneur harus membuat semua orang sebagai pahlawan. (Soeharto Prawirokusumo,
2010: 158)

Dijelaskan kembali oleh Buchari Alma bahwa, seorang wirausahawan harus


memahami lingkungan baik internal maupun eksternal secara utuh , dia harus mengetahui
segala aspek, dia harus kreatif agar dapat mendorong spirit intrapreneurship.
Karakteristik kepemimpinannya adalah sebagai berikut :

1. Dia harus seorang visioner leader atau a person who dreams great dreams.
Dikatakan oleh Hisrich bahwa a leader is like a gardener. Seorang tukang kebun,
apabila ingin menghasilkan tomat, maka anda harus mencari bibit, menanam ,
memberi pupuk, dan memberi air. Anda jangan masukan ke pabrik, tapi tugas
anda tanam dan pupuk tomat itu. Definisi lain dikatakan leadership is the ability
to dream great things and communicate these in such a way that people say yes to
being a part of the dream. Jadi coba yakinkan orang lain, bahwa mimpi anda
bagus sehingga mereka tertarik dan mengiyakan lalu mereka menyokong untuk
mewujudkan mimpi tersebut. Kadang – kadang di dalam perusahaan tertentu
dapat muncul ide – ide gila. Ide gila ini mungkin pada awalnya tidak masuk akal,
tapi setelah ditelaah ada juga peluang kemungkinan berhasil. Apabila seseorang
mempunyai sesuatu ide maka ia harus meyakinkan banyak orang bahwa idenya
ini bagus sekali. Jika ada yang membantah maka ia berusaha mengatasi bantahan
itu dan kembali orang yang membantah berbalik menyokong idenya.
2. Pemimpin intrapreneur harus fleksibel dan menciptakan manajemen yang
memberi kebebasan kreativitas.
3. Mendorong munculnya teamwork, dengan pendekatan multidisiplin dari berbagai
keahlian, seperti engineering, produksi, marketing, keuangan dan sebagainya.
Harus diciptakan diskusi terbuka untuk mencari sesuatu yang baru.

SYSTEMIZING
Atas dasar tujuan berwirausaha itulah muncul tahap ketiga ini, yaitu systemizing.
Adalah usaha yang dilakukan agar usaha bisa ‘autopilot’ atau tetap berjalan lancar
walaupun sang pemilik usaha tidak berada di tempat usaha. Dan tentunya di akhir
systemizing akan bisa menduplikasi usaha alias membuka cabang baru.
Systemizing biasanya secara tidak sadar terbentuk ketika sejak awal menjalankan
usaha. Ketika menjalankan usaha akan banyak perubahan-perubahan sistemasi. Dari
sekian banyak sistemasi yang pernah dirasakan, akan ada satu sistemasi yang dirasa
cocok, dan akhirnya berlanjut menjadi sebuah kebiasaan dalam usaha. Pada
tahap systemizing ini saatnya menyempurnakan sistemasi tersebut. Jika sudah
memiliki profit besar hasil dari usaha, bisa saja pemilik usaha tidak perlu ambil pusing
untuk memikirkan sistemasi yang tepat. Sekarang ini sudah banyak coaching bisnis yang
menyediakan konsultasi untuk sistemasi usaha atau perusahaan. Pada tahap ini juga
saatnya pemilik usaha hengkang dari meja kerjanya untuk menikmati hidup santai dengan
rekening yang terus bertambah dan bersiap merekrut orang yang berpengalaman untuk
menjadi manager di tempat usahanya.

EXPANDING BUSINESS
Pengertian ekspansi menurut Bambang Riyanto, menerangkan bahwa “Ekspansi
dimaksudkan sebagai perluasan modal, baik perluasan modal kerja saja, atau modal kerja
dan modal tetap, yang digunakan secara tetap dan terus-menerus didalam
perusahaan”.Ekspansi perusahaan di sebut juga dengan perluasan perusahaan. hal ini
diperlukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai efisiensi, menjadi lebih kompetitif,
serta untuk meningkatkan keuntungan atau profit perusahaan. Ekspansi adalah
memperbesar perusahaan baik dengan jalan mendirikan usaha baru dengan produk baru
ataupun produk yang sudah ada ditempat lain ataupun juga meningkatkan produksi
barang yang telah diproduksi.
Deskripsi ekspansi :
1. aktivitas memperbesar/memperluas usaha yang ditandai dengan penciptaan pasar
baru, perluasan fasilitas, perekrutan pegawai, dan lain-lain
2. peningkatan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan dunia usaha (expansion)
Motif-motif pembelanjaan ekspansi
a. Motif Ekonomi
Apabila ekspansi suatu perusahaan didasarkan pada pertimbangan untuk memperbesar
atau menstabilisasi laba yang diperoleh, maka ekspansi tersebut karena motif ekonomi.
Hal ini terjadi misalnya karena semakin besarnya permintaan terhadap produk atau jasa
yang diprodusi oleh suatu perusahaan. Makin luas pasar bagi produknya mendorong
perusahaan tersebut untuk memperbanyak produksinya guna mengimbangi tambahan
permintaan atau tambahan luas pasar .Makin besar jumlah produk yang dapat dijual,
berarti semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan laba yang lebih besar, sehingga
dengan demikian setiap pimpinan perusahaan mempunyai harapan dan keinginan untuk
dapat selalu mengembangkan dan meluaskan perusahaanya.keuntungan yang diperoleh
perusahaan antara lain sebagai berikut:
1. Alat pengukur prestasi perusahaan
2. Dapat dipergunakan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban perusahaan
3. Sebagai sumber dana perusahaan
b. Motif Psikologis
Yaitu ekspansi yang didasarkan pada ambisi personal dari pemilik atau pimpinan
perusahaan untuk memperoleh prestige dan kekuasaan yang lebih besar. Motif ini
berhubungan dengan personaliti pemimpin perusahaan.Bisa jadi pemimpin perusahaan
dengan sifat penantang resiko (risk seeking) berada pada motif ini.Ekspansi yang
dilakukan dalam kategori motif psikologis semacam ini seringkali atau bahkan tidak
melakukan perhitungan ekonomis terdahulu. Bahkan pada sebagian pengusaha terdapat
syndroma ekspantion yaitu keinginan untuk terus melakukan ekspansi usaha.Hal yang
menonjol dari motif psikologis ini adalah lebih didorong oleh insting atau judgment
berupa kebenarian untuk mengambil resiko meskipun tanpa didukung oleh pertimbangan
rasionalitas yang matang.
Dengan demikian bahwa ekspansi merupakan suatu bentuk perluasan usaha baik
dalam meningkatkan komponen aktiva lancar, aktiva tetap atau lainnya guna sebagai
motif yang meningkatkan nilai ekonomi maupun ambisi personal dari pimpinan
perusahaan untuk mencapai tujuan.