Anda di halaman 1dari 2

Latarbelakang Masalah

Dalam konteks hubungan internasional, isu perdamaian adalah salah satu isu yang
menjadi fokus para aktor hubungan internasional. Hal ini dikarenakan maraknya keterlibatan
para aktor hubungan internasional dalam berbagai fenomena yang mengarah pada perselisihan,
baik pada skala domestik maupun internasional, yang berujung pada konflik. Tentunya, situasi
ini menimbulkan instabilitas pada kawasan atau wilayah tertentu, dan bahkan berpeluang untuk
menimbulkan instabilitas di kancah internasional. Salah satunya yaitu konflik yang melibatkan
Israel dan Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun terakhir.

Konflik Israel-Palestina ini menjadi salah satu konflik yang begitu kompleks, karena
terdapat berbagai aspek yang dianggap sebagai pemicu konflik tersebut, mulai dari isu
perebutan wilayah, pemerintahan, hingga isu agama. Indikasinya, begitu banyak kehancuran
wilayah, gelombang pengungsi dan korban jiwa dalam konflik ini. Tercatat, terdapat sebanyak
700.000 warga Palestina yang menjadi pengungsi dan sekitar 51.000 korban jiwa dalam konflik
ini (Gallo & Marzano, 2009).

Oleh karena itulah, para aktor hubungan internasional, secara khusus dalam konteks ini
adalah negara, berupaya untuk memberikan kontribusi dalam upaya penyelesaian konflik Israel
dan Palestina, salah satunya Norwegia.

Sebagai salah satu negara yang terletak di wilayah Skandinavia, Norwegia


dikategorikan sebagai negara yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terbaik di
dunia oleh United Nations Development Programme (UNDP) (www.bbc.com, 2011). Artinya,
penduduk Norwegia memiliki kualitas hidup yang sangat baik dalam aspek pendidikan,
kesehatan dan pendapatan, yang secara eksplisit mencerminkan bahwa pemerintah Norwegia
mampu menciptakan situasi domestik Norwegia yang baik.

Norwegia menjadi salah satu negara yang menaruh perhatian tinggi terhadap isu
perdamaian dan bahkan dinyatakan sebagai negara yang memiliki kontribusi terbesar dalam
resolusi konflik internasional (The Economist, 2011). Kontribusi ini diwujudkan melalui
penerapan kebijakan luar negeri Norwegia yang cenderung berorientasi pada upaya
perdamaian dunia. Kebijakan luar negeri Norwegia yang konsisten untuk mengupayakan
perdamaian dunia dipengaruhi oleh konstruksi negara tersebut tentang identitas yang
dimilikinya. Dalam konteks ini, identitas yang dimaksudkan adalah identitas peran (role
identity). Identitas ini kemudian menstimulus Norwegia untuk merepresentasikan peran dan
tanggung jawabnya sebagai nation-peace dalam kebijakan luar negerinya (Kjeksrud, 2016).
Hal ini dibuktikan melalui peran Norwegia dalam upaya penyelesaian konflik Israel dan
Palestina dalam Ad Hoc Liasion Committee (AHLC).

Ad Hoc Liasion Committee (AHLC) adalah sebuah komite khusus yang Formatted: Indent: First line: 0.5"

dibentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan Palestina pada tahun
1993 yang beranggotakan 15 negara dengan Norwegia sebagai negara pelopor sekaligus
sebagai negara donor, serta Uni Eropa sebagai sponsor.

Rumusan Masalah :

Bagaimana identitas peran dapat mengarahkan kebijakan luar negeri Norwegia terhada isu
perdamaian dunia ?

Mengapa Norwegia memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan perdamaian


dunia? M