Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hiperbilirubinemia merupakan suatu kondisi dimana produksi bilirubin
yang berlebihan di dalam darah (Slusher, 2013). Pada neonatus produksi
bilirubin 2-3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa. Hal ini dapat terjadi
karena eritrosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek yaitu 80
hari (berbeda dari usia eritrosit orang dewasa yaitu 120 hari. Pergantian sel
darah merah yang cepat ini menghasilkan lebih banyak sampah metabolit
akibat penghancuran sel termasuk bilirubin, yang harus dimetabolisme.
Muatan bilirubin yang berlebihan ini menyebabkan icterus fisiologis yang
terlihat pada bayi baru lahir (Varney, 2004). Hiperbilirubinemia indirek
dijumpai pada sekitar 60 % bayi aterm dan 80 % bayi premature (Nelson,
2010). Angka kejadian menunjukan bahwa lebih 50 % bayi baru lahir
menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama
kehidupannya.
Berdasarkan SDKI tahun 2012, semua angka kematian bayi dan anak hasil
SDKI 2012 lebih rendah dari hasil SDKI 2007. Untuk periode lima tahun
sebelum survei, angka kematian bayi hasil SDKI 2012 adalah 32 kematian
per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau
Millenium Development Goal (MDG), kematian bayi ditetapkan pada angka
23 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil sementara SDKI 2012 memperlihatkan
bahwa AKB menurun menjadi 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. AKA
mencakup Angka Kematian Bayi (AKB) di dalamnya. Ini berarti pada tahun
2015 diharapkan AKB dapat diturunkan menjadi 22 kematian per 1.000
kelahiran hidup. Diperkirakan pada tahun 2015 target AKA dan AKB akan
dapat dicapai.
Salah satu penyebab dari angka kematian bayi (AKB) adalah komplikasi
dari hiperbilirubinemia. Oleh karena itu, untuk menghindari masalah atau
komplikasi hiperbilirubinemia maka penting dilakukan asuhan pada bayi
yang mengalami hiperbilirubinemia.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah pengertian hiperbilirubin?
1.2.2 Apa saja macam-macam hiperbilirubin?
1.2.3 Bagaimana metabolisme bilirubin?
1.2.4 Bagaimana etiologi hiperbilirubin?
1.2.5 Bagaimana komplikasi hiperbilirubin?
1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis hiperbilirubin?
1.2.6 Bagaimana penanganan hiperbilirubin?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Dapat mengetahui gambaran umum asuhan pada bayi dengan
hiperbilirubin di ruang Perinatologi RSUD Badung Mangusada
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh data subjektif pada By. Ny. I dengan hiperbilirubinemia di
ruang Perinatologi RSUD Badung Mangusada
b. Diperoleh data objektif pada By. Ny. I dengan hiperbilirubinemia di
ruang Perinatologi RSUD Badung Mangusada
c. Ditegakan analisa pada By. Ny. I dengan hiperbilirubinemia di ruang
Perinatologi RSUD Badung Mangusada
d. Dibuat rencana asuhan, penatalaksaan dan evaluasi sesuai dengan
analisa dan masalah pada By. Ny. I di RSUD Badung Mangusada

1.4 Manfaat Penulisan


Mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan terkait dengan
Asuhan Kebidanan Anak Sakit pada bayi dengan hiperbilirubin.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Hiperbilirubin


Hiperbilirubin adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonaturum
setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum
biliriubin (Iyan, 2009). Hiperbilirubin adalah salah satu fenomena klinis
tersering ditemukan pada bayi baru lahir, dapat disebabkan oleh proses
fisiologis atau patologis ataupun keduanya (Lubis, 2013). Hiperbilirubin
adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil
laboratorium yang menunjukan peningkatan kadar serum bilirubin (Iyan,
2009). Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang
kadar nilainya lebih dari normal, biasanya terjadi pada bayi baru lahir.
(Suriadi, 2009). Nilai normal : bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin
direk 0,1 – 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubinemia merupakan keadaan normal pada bayi baru lahir
selama minggu pertama, karena belum sempurnanya metabolisme bilirubin.
Pada neonatus produksi bilirubin 2-3 kali lebih tinggi dibanding orang
dewasa. Hal ini dapat terjadi karena eritrosit pada neonatus lebih banyak dan
usianya lebih pendek yaitu 80 hari (berbeda dari usia eritrosit orang dewasa
yaitu 120 hari. Pergantian sel darah merah yang cepat ini menghasilkan lebih
banyak sampah metabolitakibat penghancuran sel termasuk bilirubin, yang
harus dimetabolisme. Muatan bilirubin yang berlebihan ini menyebabkan
icterus fisiologis yang terlihat pada bayi baru lahir (Varney, 2009).
Pemecahan sel darah merah yang berlebihan pada hati dan limpa
meneyebabkan icterus pada bayi di minggu pertama kelahiran. Karena
kolonisasi bakteri di usus, yang mensintesis vitamin K terhambat sampai bayi
mendapatkan makanan, factor pembekuan darah selama minggu pertama
kelahiran (Myles, 2009).
Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut dengan ikterus
neonatorum merupakan warna kuning pada kulit dan bagian putih dari mata
(sklera) pada beberapa hari setelah lahir yang disebabkan oleh penumpukan
bilirubin. Gejala ini dapat terjadi antara 25%-50% pada seluruh bayi cukup

3
bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi prematur. Walaupun kuning pada bayi
baru lahir merupakan keadaan yang relatif tidak berbahaya, tetapi pada usia
ini kadar bilirubin yang tinggi dapat berbahaya terhadap sistem saraf pusat
bayi (Yenik, 2012). Klinik ikterus tampak bila kadar bilirubin dalam serum
adalah ≥5 mg/dl (85 µmol/L), disebut hiperbilirubin adalah keadaan kadar
bilirubin serum >13 mgdl. (Hendrarto, 2009).

2.2 Macam-Macam Hiperbilirubin


Menurut prawirahardjo (2009), meliputi:
1. Hiperbilirubin fisiologis
a. Timbul pada hari kedua atau ketiga, kadar bilirubin indirek sesudah 2 x
24 jam tidak melewati 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan, dan 10
mg% pada neonatus kurang bulan
b. Hiperbilirubin menghilang pada 10 hari pertama
c. Kadar bilirubin direk tidak mlebihi 1 mg %
d. Tidak memiliki hubungan dengan keadaan patologik.
2. Hiperbilirubin patologis
a. Hiperbilirubin yang terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir apabila
kadar bilirubin meningkat melebihi 12,5 mg%
b. Peningkatan kadar bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.
c. Hiperbilirubin klinis yang menetap setelah bayi berusia ≥ 8 hari atau 14
hari
d. Hiperbilirubin yang disertai berat lahir kurang dari 2000 gram, masa
gestasi kurang dari 36 minggu, asfiksia, hipoksia, infeksi.
e. Hiperbilirubin yang disertai proses hemolisis.

2.3 Metabolisme Bilirubin


Menurut Prawirohardjo (2009), metabolisme bilirubin mempunyai
tingkat berikut:
1. Produksi
Sebagian besar bilirubin terbentuk sebagai akibat pemecahan
haemoglobin, tingkat penghancuran haemoglobin pada bayi baru lahir ini
lebih tinggi.
2. Transportasi

4
Bilirubin indirek kemudian diikat oleh albumin, di hepar dilakukan oleh
protein Y dan Z.
3. Konjugasi
Didalam hepar bilirubin ini mengalami proses konjugasi yang
membutuhkan energi dan enzim glukoronil transferase. Setelah mengalami
proses ini, bilirubin berubah menjadi bilirubin direk.
4. Ekskresi
Bilirubin direk kemudian diekskresi ke usus, sebagian dikeluarkan dalam
bentuk bilirubin dan sebagian lagi dalam bentuk sterkobilin. Bilirubin ini
kemudian diangkut ke hepar lagi untuk diproses.

2.4 Etiologi Hiperbilirubin


Hiperbilirubin pada bayi baru lahir sering timbul karena fungsi hati
masih belum sempurna untuk membuang bilirubin dari aliran darah.
Hiperbilirubin juga bisa terjadi karena beberapa kondisi klinis, di antaranya
adalah:
a. Ikterus fisiologis merupakan bentuk yang paling sering terjadi pada bayi
baru lahir. Jenis bilirubin yang menimbulkan pewarnaan kuning pada
ikterus disebut bilirubin tidak terkonjugasi, merupakan jenis yang tidak
mudah dibuang dari tubuh bayi. Hati bayi akan mengubah bilirubin ini
menjadi bilirubin terkonjugasi yang lebih mudah dibuang oleh tubuh. Hati
bayi baru lahir masih belum matang sehingga masih belum mampu untuk
melakukan pengubahan ini dengan baik sehingga akan terjadi peningkatan
kadar bilirubin dalam darah yang ditandai sebagai pewarnaan kuning pada
kulit bayi. Bila kuning tersebut murni disebabkan oleh faktor ini maka
disebut sebagai ikterus fisiologis
b. Breastfeeding jaundice, dapat terjadi pada bayi yang mendapat air susu ibu
(ASI) eksklusif. Terjadi akibat kekurangan ASI yang biasanya timbul pada
hari kedua atau ketiga pada waktu ASI belum banyak dan biasanya tidak
memerlukan pengobatan.
c. Ikterus ASI (breastmilk jaundice), berhubungan dengan pemberian ASI
dari seorang ibu tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang
disusukannya bergantung pada kemampuan bayi tersebut mengubah
bilirubin indirek, asupan cairan yang kurang (termasuk pemberian ASI)
dapat menyebabkan kuning pada bayi. Ini biasanya tampak pada hari ke-3
sampai ke-5 dengan tanda penambahan berat badan yang minim dan urine

5
berwarna pekat. Ketika bayi mendapatkan sedikit ASI, buang air besar
cenderung menjadi sedikit dan jarang karena bilirubin yang berada di usus
bayi terserap kembali ke dalam darah dan bukannya dibuang saat buang
air besar.
d. Ikterus pada bayi baru lahir akan terjadi pada kasus ketidakcocokan
golongan darah (inkompatibilitas ABO) dan rhesus (inkompatibilitas
rhesus) ibu dan janin. Tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang akan
menyerang sel darah merah janin sehingga akan menyebabkan pecahnya
sel darah merah sehingga akan meningkatkan pelepasan bilirubin dari sel
darah merah.
e. Lebam pada kulit kepala bayi yang disebut dengan cephal hematom dapat
timbul dalam proses persalinan. Lebam terjadi karena penumpukan darah
beku di bawah kulit kepala. Secara alamiah tubuh akan menghancurkan
bekuan ini sehingga bilirubin juga akan keluar yang mungkin saja terlalu
banyak untuk dapat ditangani oleh hati sehingga timbul kuning
f. Ibu yang menderita diabetes dapat mengakibatkan bayi menjadi kuning.
Hal ini berarti lebih banyak bilirubin yang dihasilkan bada tubuh bayi
baru lahir. Jika bayi lahir prematur, atau stres karena proses kelahiran
yang sulit, atau bayi dari ibu yang menderita diabetes, atau jumlah sel
darah merah yang pecah lebih banyak dari biasanya (seperti yang bisa
terjadi pada golongan darah ibu dan bayi yang tidak sama), maka jumlah
bilirubin dalam darah dapat meningkat lebih dari yang seharusnya.

2.5 Patofisiologi Hiperbilirubin


Bilirubin adalah produk penguraian heme. Sebagian besar (85-90%)
terjadi dari penguraian hemoglobin dan sebagian kecil(10-15%) dari senyawa
lain seperti mioglobin. Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin
dengan hemoglobin yang telah dibebaskan dari sel darah merah. Sel-sel ini
kemudian mengeluarkan besi dari heme sebagai cadangan untuk sintesis
berikutnya dan memutuskan cincin heme untuk menghasilkan tertapirol
bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk yang tidak larut dalam air(bilirubin
tak terkonjugasi, indirek). Karena ketidaklarutan ini, bilirubin dalam plasma
terikat ke albumin untuk diangkut dalam medium air. Sewaktu zat ini beredar
dalam tubuh dan melewati lobulus hati ,hepatosit melepas bilirubin dari

6
albumin dan menyebabkan larutnya air dengan mengikat bilirubin ke asam
glukoronat(bilirubin terkonjugasi, direk)(Sacher,2004).
Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi, bilirubin yang larut tersebut
masuk ke sistem empedu untuk diekskresikan. Saat masuk ke dalam usus
,bilirubin diuraikan oleh bakteri kolon menjadi urobilinogen. Urobilinogen
dapat diubah menjadi sterkobilin dan diekskresikan sebagai feses. Sebagian
urobilinogen direabsorsi dari usus melalui jalur enterohepatik, dan darah porta
membawanya kembali ke hati. Urobilinogen daur ulang ini umumnya
diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali dialirkan ke usus, tetapi
sebagian dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal, tempat zat ini diekskresikan
sebagai senyawa larut air bersama urin(Sacher, 2004).

7
Pada dewasa normal level serum bilirubin <1mg/dl. Ikterus akan muncul
pada dewasa bila serum bilirubin >2mg/dl dan pada bayi yang baru lahir akan
muncul ikterus bila kadarnya >7mg/dl(Cloherty et al, 2008).
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang
melebihi kemampuan hati normal untuk ekskresikannya atau disebabkan oleh
kegagalan hati(karena rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan
dalam jumlah normal. Tanpa adanya kerusakan hati, obstruksi saluran ekskresi
hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia. Pada semua keadaan ini,
bilirubin tertimbun di dalam darah dan jika konsentrasinya mencapai nilai
tertentu(sekitar 2-2,5mg/dl), senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan
yang kemudian menjadi kuning. Keadaan ini disebut ikterus atau
jaundice(Murray et al,2009).

2.6 Komplikasi
1. Sebagian besar kasus hiperbilirubinemia tidak berbahaya, tetapi kadang
kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak
(keadaannya disebut kern ikterus). Kern ikterus adalah suatu keadaan
dimana terjadi penimbunan bilirubin di dalam otak, sehingga terjadi
kerusakan otak.
2. Efek jangka panjang dari kern ikterus adalah keterbelakangan mental,
kelumpuhan serebral (pengontrolan otot yang abnormal, cerebral palsy),
tuli dan mata tidak dapat digerakkan ke atas.

2.7 Manifestasi Klinis Hiperbilirubin


Bayi baru lahir(neonatus) tampak kuning apabila kadar bilirubin serumnya
kira-kira 6mg/dl(Mansjoer at al, 2007). Ikterus sebagai akibat penimbunan
bilirubin indirek pada kulit mempunyai kecenderungan menimbulkan warna
kuning muda atau jingga. Sedangkan ikterus obstruksi(bilirubin direk)
memperlihatkan warna kuning-kehijauan atau kuning kotor. Perbedaan ini hanya
dapat ditemukan pada ikterus yang berat(Nelson, 2007).
1. Gambaran klinis ikterus fisiologis:
a. Tampak pada hari 3,4
b. Bayi tampak sehat(normal)
c. Kadar bilirubin total <12mg%

8
d. Menghilang paling lambat 10-14 hari
e. Tak ada faktor resiko
f. Sebab : proses fisiologis(berlangsung dalam kondisi fisiologis

2. Gambaran klinik ikterus patologis:


a. Timbul pada umur <36 jam
b. Cepat berkembang
c. Bisa disertai anemia
d. Menghilang lebih dari 2 minggu
e. Ada faktor resiko

2.8 Penilaian
Pengamatan hiperbilirubin paling baik dilakukan dalam cahaya matahari
dengan menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna
karena pengaruh sirkulasi darah.
Untuk penilaian hiperbilirubin, kramer membagi tubuh bayi baru lahir
dalam 5 bagian yang dimulai dari kepala dan leher, dada sampai pusat, pusat
bagian bawah sampai tumit, tumit pergelangan kaki dan bahu pergelangan
tangan kaki serta tangan termasuk telapak tangan (Sarwono, 2006).
Dibawah ini dapat dilihat gambar pembagian derajat dan dearah ikterus.

9
Rumus Kramer

2.9 Penanganan Hiperbilirubin


Menurut Varney (2007), penanganan hiperbilirubin pada bayi baru lahir,
antara lain:
1. Memenuhi kebutuhan/nutrisi
a. Beri minum sesuai kebutuhan, karena bayi malas minum, berikan
berulang-ulang, jika tidak mau menghisap dot berikan pakai sendok.
Jika tidak dapat habis berikan melalui sonde.
b. Perhatikan frekuensi buang air besar, mungkin susu tidak cocok (jika
bukan ASI) mungkin perlu ganti susu.
2. Mengenal gejala dini
a. Jika bayi mulai terlihat kuning, jemur dibawah matahari pagi (pukul
07.00-08.00.
b. Periksa darah untuk bilirubin, jika hasilnya masih dibawah 12,5
mg/dl,ulangi pemeriksaan esok harinya.
c. Berikan minum (ASI/susu).
d. Perhatikan hasil darah bilirubin, jika hasilnya 7 mg% lebih segera
hubungi dokter, bayi perlu terapi.
3. Gangguan rasa aman dan nyaman akibat pengobatan
a. Menjaga agar bayi tidak kepanasan atau kedinginan.
b. Memelihara kebersihan tempat tidur bayi dan lingkungannya.
c. Mencegah terjadinya infeksi.
Bila kadar bilirubin serum bayi tinggi sehingga di duga akan terjadi
kern ikterik,maka perlu dilakukan penatalaksanaan khusus. Penanganan
terapi khusus tersebut antara lain:
1. Terapi sinar

10
Terapi sinar diberikan jika bilirubin indirek darah mencapai 15 mg%,
bayi ikterus yang diberi sinar matahari lebih dari penyinaran biasa,
ikterusnya lebih cepat menghilang dibandingkan dengan bayi lain
yang tidak disinari. Denga penyinaran, bilirubin dipecah menjadi
dipyrole yang kemudian dikeluarkan melalui ginjal dan traktus
digestivus. Mekanisme utama terapi sinar adalah fotoisomer.
Penggunaan terapi sinar untuk mengobati hiperbilirubinemia harus
dilakukan dengan hati-hati, karena jenis pengobatan ini dapat
menyebabkan kerusakan retina, dapat meningkatkan kehilangan air
tidak terasa (insensible water losses), dan dapat mempengaruhi
pertumbuhan serta perkembangan bayi, sebaiknya dipilih sinar
dengan spectrum antara 420-480 nano meter. Sinar ultraviolet harus
dicegah dengan plexiglass dan bayi harus mendapat cairan yang
cukup.
2. Alat-alat untuk terapi sinar:
a. 10 lampu neon biru masing-masing berkekuatan 20 watt.
b. Susunan lampu dimasukan ke dalam bilik yang berisi ventilasi
disampingnya.
c. Dibawah susunan dipasang plexiglass setebal 1,5 cm untuk
mencegah sinar ultraviolet.
d. Alat terapi sinar diletakan 45 cm diatas permukaan bayi.
e. Terapi sinar diberikan selama 72 jam atau sampai kadar bilirubin
mencapai 12,5 mg %.
f. Mata bayi dan alat kelamin ditutupi dengan bahan yang dapat
memantulkan sinar.
g. Gunakan kain pada boks bayi atau incubator, dan letakan tirai
putih mengelilingi area sekeliling alat tersebut, untuk
memantulkan kembali sinar sebanyak mungkin ke arah bayi.
( Prawirohardjo, 2009).
3. Pelaksanaan pemberian terapi sinar dan perlu diperhatikan (Ladewig,
2009) antara lain:
a. Letakan bayi tanpa mengenakan pakaian dibawah sinar fototerapi,
kecuali untuk menutupi alat kelamin, untuk memaksimalkan
pajanan terhadap sinar.
b. Tutup mata bayi saat disinar
c. Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam.
d. Pantau asupan dan keluaran setiap 8 jam

11
e. Berikan asupan cairan 25 % diatas kebutuhan cairan normal.
Untuk memenuhi peningkatan kehilangan cairan yang tidak
tampak mata serta pada feces.
f. Reposisi bayi sedikitnya setiap 2 jam.
g. Matikan sinar terapi saat orang tua berkunjung dan memberikan
ASI.
h. Pantau panjang gelombang sinar fototerapi menggunakan
bilimeter, setiap penggantian sorotan cahaya ke area mata yang
lain.
i. Pantau kadar bilirubin setiap 8 jam selama 1 hingga 2 hari
pertama atau setiap pemberian sesuai dengan protocol institusi
setelah penghentian fototerapi.
4. Kelainan yang mungkin timbul pada neonatus yang mendapat terapi
sinar (Asrining, dkk, 2003) antara lain:
a. Peningkatan kehilangan cairan yang tidak tertukar (insensible
water loss).
b. Frekuensi defekasi meningkat, pemberian susu dengan kadar
laktosa rendah akan mengurangi timbulnya diare.
c. Timbulnya kelainan kulit “flea bite rash” didaerah muka badan
dan ekstermitas, kelainan ini akan segera hilang setelah terapi
dihentikan.
d. Beberapa neonatus yang mendapat terapi sinar menunjukan
kanaikan suhu tubuh, disebabkan Karena suhu lingkungan yang
meningkat atau gangguan pengaturan suhu tubuh bayi.
e. Kadang ditemukan kelainan seperti, gangguan minum, letargi,
dan iritabilitas. Keadaan ini bersifat sementara dan akan hilang
dengan sendirinya.
f. Gangguan pada mata dan pertumbuhan.

5. Komplikasi fototerapi
a. Terjadi dehidrasi karena pengaruh sinar lampu dan
mengakibatkan peningkatan Insensible Water Loss (IWL)
(penguapan cairan). Pada BBLR kehilangan cairan dapat
meningkat 2-3 kali lebih besar.
b. Frekuensi defikasi meningkat sebagai meningkatnya bilirubin
indirek dalam cairan empedu dan meningkatnya peristaltic usus.

12
c. Timbul kelainan kulit sementara pada daerah yang terkena sinar
( berupa kulit kemerahan) tetapi akan hilang setelah terapi selesai
d. Gangguan retina bila mata tidak ditutup.
e. Kenaikan suhu akibat sinar lampu. Jika hal ini terjadi sebagian
lampu dimatikan, terapi diteruskan. Jika suhu terus naik lampu
semua dimatikan sementara, bayi dikompres dingin dan diberikan
ekstraminum.
f. Komplikasi pada gonad yang diduga menimbulkan kemandulan.

13
BAB III
TINJAUAN KASUS

Hari, Tanggal Masuk RS : Jumat, 27 Februari 2015


Hari,Tanggal Pengkajian : Sabtu, 28 Februari 2015
Waktu pengkajian : 15.30 WIB
Tempat pengkajian : Ruang Perinatologi RSUD Badung Mangusada

A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Bayi
Nama bayi : By. Ny. I
Umur/Tgl/Jam Lahir : 1 hari / 27 Februari 2015/ Pukul 15.30
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke - :1
Status anak : Kandung

2. Identitas Orang Tua


Ibu Ayah
Nama : Ny.I Tn. H
Usia : 22 tahun 32 tahun
Suku : Sunda Sunda
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SD SMA
Pekerjaan : IRT Karyawan Swasta
Alamat : Br. Kuningan Desa Adat Kapal
Nomor telephone : 085739143XXX
No. Rekam Medik : 49950915

3. Keluhan Utama

14
Ibu mengeluh bayinya tampak kuning, sejak tadi pagi (28 Februari 2015),
rewel dan malas untuk minum, sudah dilakukan pemeriksaan tadi pada
pukul 14.00 WITA (28 Februari 2015), dengan hasil lab. golongan darah A
Rh positif (+), kadar bilirubin total 15,5 mg/dl, kadar bilirubin direk 0,64
mg/dl, terpasang fototheraphy hari ke-1 mulai pukul 14.30 WITA

4. Riwayat Perinatal
a. GAPAH : G1P0000 Masa Gestasi : 39 minggu
b. Kehamilan direncanakan dan diterima
c. Ibu melakukan pemeriksaan selama kehamilan 11 kali di puskesmas
d. Tidak ada penyulit pda masa prenatal
e. Ibu pernah mengkonsumsi asam folat, SF, kalsium, vitamin B6
f. Ibu berstatus imunisasi T5
g. Tidak ada prilaku dan kebiasaan yang mempengaruhi kesejahteraan janin

5. Riwayat Intranatal
a. Penolong persalinan Dokter, tempat lahir di RSUD Badung Mangusada
b. Kala I selama 10 jam, tidak ada penyulit/ komplikasi dan tidak ada
tindakan yang didapat.
c. Kala II selama 20 menit, tidak ada penyulit/komplikasi, cara lahir PsptB,
tidak ada tindakan yang didapat, bayi lahir pada pukul 15.30 WITA,
jenis kelmain laki-laki dan saat lahir bayi menangis kuat, gerak aktif,
dan kulit kemerahan.

6. Riwayat Postnatal
a. APGAR Skor : 7-8
b. IMD dilakukan 1 jam setelah bayi lahir
c. Bounding : 12
d. Rooming in : Dilakukan

7. Riwayat Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Biologis
- Pernafasan tidak ada gangguan
- Nutrisi : ASI, frekuensi :+/- 6 kali,
- Eliminasi : (BAK : frekuensi 4-5 kali, warna jernih, bau normal),
(BAB : frekuensi, warna, konsistensi )
- Istirahat : 10-15 jam

15
- Pergerakan aktif
b. Psikologi
- Penerimaan orang tua dan keluarga terhadap anak baik
- Mendapat dukungan dari seluruh keluarga
c. Sosial
- Pengambilan keputusan : suami dan istri

- Tidak ada kebiasaan dalam keluarga yang mempengaruhi kebiiasaan


anak

- Pola asuh anak oleh orang tua (suami dan istri)

- Sibling : tidak ada

d. Spiritual

- Tidak ada kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan anak

8. Riwayat penyakit orang tua

Ibu mengatakan menderita penyakit diabetes militus

9. Pengetahuan orang tua

a. Ibu belum mengetahui tanda – tanda bahaya pada bayi baru lahir

b. Ibu belum mengetahui teknik pemberian ASI yang benar dan efektif

B. DATA OBJEKTIF
1. Keadaan umum : sedang, gerak/aktifitas : lemas
2. Tangis : kuat, warna kulit : kuning , turgor : .....................
3. HR : 145 kali /menit, RR :48 kali / menit, suhu : 36.5˚C
4. Pengukuran : BB : 3000 gram, PB: 49 cm, lingkar kepala : 33 cm, lingkar
dada : 34 cm
5. Kepala : bentuk : normal, ubun-ubun: datar, sutura: terpisah
6. Wajah : simetris, tidak pucat dan tidak ada oedema
7. Mata : simetris, reflek glabela positif, pengeluaran tidak ada, warna
konjungtiva merah muda, warna sclera tampak kuning
8. Hidung : normal tidak ada pernafasan cuping hidung dan tidak ada
pengeluaran

16
9. Mulut : Bibir dan gusi merah muda, lidah bersih, tidak ada labioskizis
maupun labiopalatoskizis.
reflex rooting : positif
reflex sucking : positif
reflex menelan : positif
10. Telinga : simetris, tidak ada pengeluaran dan tidk ada kelainan
11. Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar limfe, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid, reflex ionic neek positif, dan tidak ada kelainan
12. Dada : retraksi otot dada normal, keadaaan payudara normal, putting
simetris, tidak ada benjolan dan tidak ada kelainan
13. Abdomen : tidak ada distensi, keadaan tali pusat bersih dan tidak ada
kelainan atau tanda-tanda infeksi, terdapat bising usus
14. Punggung : bentuk normal dan tidak ada kelainan
15. Genetalia
a. Laki-laki : Kedua testis sudah berada dalam skrotum, letak lubang
uretra di ujung penis.
b. Anus : lubang ada dan tidak ada kelainan
16. Ekstremitas :
a. Tangan : kuning, simetris , jari berjumlah 10, pergerakan aktif, reflex
morrow positif, reflex genggam positif, dan tidak ada kelainan
b. Kaki: warna : kuning , simetris, jari berjumlah 10, pergerakan aktif,
reflex babinski positif, reflex sleeping positif dan tidak ada kelianan
17. Kulit : kuning dari kepala hingga tungkai ( derajat IV )

Baounding attachement :
1. Ibu tempak melihat anaknya : 4
2. Ibu menyentuh anaknya : 4
3. Ibu mengajak bicara anaknya : 4
Pemeriksaan penunjang : tidak ada

C. ANALISA
By. Ny. I, usia 1 hari dengan hiperbilirubin.

D. PENATALAKSANAAN

17
1. Menjelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan.
2. Melanjutkan terapi sesuai advis dokter SpA, :
a. Terapi sinar dan diet ASI sesuai kebutuhan,dan menjadwalkan untuk
cek bilirubin total ulang besok.
3. Menjaga kebersihan bayi.
4. Konseling tentang :
a. Tanda bahaya pada bayi baru lahir
b. Teknik pemberian ASI yang baik dan pemberian ASI eksklusif
5. Memantau keadaan umum, dan tanda-tanda vital.

18
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 DATA SUBJEKTIF


By. Ny. I, lahir tanggal 27 Februari 2015, pada pukul 15.30 WIB, jenis
kelamin laki-laki. Pada hari ke 1, bayi tampak kuning, rewel dan malas
minum. Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut dengan ikterus
neonatorum merupakan warna kuning pada kulit dan bagian putih dari mata
(sklera) pada beberapa hari setelah lahir yang disebabkan oleh penumpukan
bilirubin. Hiperbilirubin adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonaturum
setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum
biliriubin (Iyan, 2009)
Kuning pada By. Ny. I timbul pada usia bayi 1 hari. Menurut
Prawirahardjo (2009), kriteria hiperbilirubin patologis yaitu, Hiperbilirubin
yang terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir apabila kadar bilirubin
meningkat melebihi 12,5 mg% atau peningkatan kadar bilirubin 5 mg% atau
lebih setiap 24 jam.
Ny. I memiliki riwayat diabetes mellitus. Ibu yang menderita diabetes
dapat mengakibatkan bayi menjadi kuning. Hal ini berarti lebih banyak
bilirubin yang dihasilkan bada tubuh bayi baru lahir. Jika bayi lahir prematur,
atau stres karena proses kelahiran yang sulit, atau bayi dari ibu yang
menderita diabetes, atau jumlah sel darah merah yang pecah lebih banyak dari
biasanya (seperti yang bisa terjadi pada golongan darah ibu dan bayi yang
tidak sama), maka jumlah bilirubin dalam darah dapat meningkat lebih dari
yang seharusnya.
Bayi menyusu ± 6 kali sehari dengan susu formula, dengan alasan ASI
keluar sedikit. Menyusui bayi lebih sering akan mempercepat pembuangan isi
usus sehingga mengurangi penyerapan kembali bilirubin dari dalam usus dan
menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Pada hari ke 1-3, cairan yang
payudara produksi saat ini adalah kolostrum. Dalam sekali penyusuan akan
dikeluarkan sekitar 5 – 10 mL kolostrum. Jumlah kolostrum yang dihasilkan
dalam 24 jam pertama sekitar 25 – 56 mL dan hari kedua sekitar 100 mL (113
– 185 mL). Kapasitas lambung bayi antara 30-90 ml. BAK (buang air kecil)

19
sehari 4-5 kali berwarna kuning dan BAB (buang air besar) 3-4 kali sehari
berwarna coklat konsistensinya agak padat.

4.2 DATA OBJEKTIF


Dari hasil pemeriksaan di dapatkan sclera tampak kuning dan kulit
tampak kuning sampai tungkai, kadar biliubin total 14,5 mg/dl, kadar
bilirubin direk 1,04 mg/dl dan kadar bilirubin indirek 13,46 mg/dl. Hasil lab
golongan darah bayi A Rh positif (+), ibu A Rh positif (+), ayah A Rh positif
(+). Menurut Prawirohardjo (2009), ikterus pada bayi baru lahir akan terjadi
pada kasus ketidakcocokan golongan darah (inkompatibilitas ABO) dan
rhesus (inkompatibilitas rhesus) ibu dan janin. Inkompatibilitas pada
golongan darah ABO terjadi jika Ibu golongan darah O mengandung janin
golongan darah A atau B. Penyakit jarang terjadi bila ibu golongan darah A
dan bayi golongan darah B. Tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang akan
menyerang sel darah merah janin sehingga akan menyebabkan pecahnya sel
darah merah sehingga akan meningkatkan pelepasan bilirubin dari sel darah
merah. Sehingga penyebab terjadinya ikterus bukan disebabkan oleh
incomptabilitas ABO.
Berdasarkan penilaian Kramer, kuning pada By. Ny. I tampak dari kepala
hingga tungkai (Derajat IV). Penilaian hiperbilirubin, kramer membagi tubuh
bayi baru lahir dalam 5 bagian yang dimulai dari kepala dan leher, dada
sampai pusat, pusat bagian bawah sampai tumit, tumit pergelangan kaki dan
bahu pergelangan tangan kaki serta tangan masuk telapak tangan (Sarwono,
2006).
Bilirubin adalah produk penguraian heme. Sebagian besar (85-90%)
terjadi dari penguraian hemoglobin dan sebagian kecil(10-15%) dari senyawa
lain seperti mioglobin. Sel retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin
dengan hemoglobin yang telah dibebaskan dari sel darah merah. Sel-sel ini
kemudian mengeluarkan besi dari heme sebagai cadangan untuk sintesis
berikutnya dan memutuskan cincin heme untuk menghasilkan tertapirol
bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk yang tidak larut dalam air(bilirubin
tak terkonjugasi, indirek). Karena ketidaklarutan ini, bilirubin dalam plasma
terikat ke albumin untuk diangkut dalam medium air. Sewaktu zat ini beredar

20
dalam tubuh dan melewati lobulus hati ,hepatosit melepas bilirubin dari
albumin dan menyebabkan larutnya air dengan mengikat bilirubin ke asam
glukoronat(bilirubin terkonjugasi, direk)(Sacher,2004).
Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi, bilirubin yang larut tersebut
masuk ke sistem empedu untuk diekskresikan. Saat masuk ke dalam usus
,bilirubin diuraikan oleh bakteri kolon menjadi urobilinogen. Urobilinogen
dapat diubah menjadi sterkobilin dan diekskresikan sebagai feses. Sebagian
urobilinogen direabsorsi dari usus melalui jalur enterohepatik, dan darah porta
membawanya kembali ke hati. Urobilinogen daur ulang ini umumnya
diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali dialirkan ke usus, tetapi
sebagian dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal, tempat zat ini diekskresikan
sebagai senyawa larut air bersama urin(Sacher, 2004).

21
Pada dewasa normal level serum bilirubin <1mg/dl. Ikterus akan muncul
pada dewasa bila serum bilirubin >2mg/dl dan pada bayi yang baru lahir akan
muncul ikterus bila kadarnya >7mg/dl(Cloherty et al, 2008).
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang
melebihi kemampuan hati normal untuk ekskresikannya atau disebabkan oleh
kegagalan hati(karena rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan
dalam jumlah normal. Tanpa adanya kerusakan hati, obstruksi saluran ekskresi
hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia. Pada semua keadaan ini,
bilirubin tertimbun di dalam darah dan jika konsentrasinya mencapai nilai
tertentu(sekitar 2-2,5mg/dl), senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan
yang kemudian menjadi kuning. Keadaan ini disebut ikterus atau
jaundice(Murray et al,2009). Adapun metabolisme bilirubin dan patofisiologi
hiperbilirubin dapat dijelaskan pada diagram berikut.

Gambar 2. Metabolisme bilirubin

22
Gambar 3. Patofisiologi hiperbilirubin

4.3 ANALISA
Berdasarkan data subjektif dan objektif yang ada maka dapat disimpulkan
bahwa By. Ny. I, usia 1 hari, neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan
dengan hiperbilirubin. Usia kehamilan ibu saat melahirkan yaitu 39 minggu,
dengan berat badan saat lahir 3.000 gram. Sesuai dengan teori Suriadi, bahwa
nilai normal : bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4
mg/dl. Didapatkan hasil pemeriksaan kadar biliubin total 15,5 mg/dl, kadar
bilirubin direk 0,64 mg/dl, sehingga termasuk dalam hiperbilirubin.

4.4 PENATALAKSANAAN
Dari hasil pengkajian data subjektif dan objektif yang di dapat serta analisa
yang dibuat, maka disusunlah penatalaksanaan atau rencana asuhan yang
dibutuhkan. Penatalaksanaan yang pertama yaitu menjelaskan hasil
pemeriksaan bahwa bayi Ny.I mengalami hiperbilirubin dan harus dilakukan
rawat inap untuk dilakukan fototerapi dan diet ASI. Sesuai dengan teori
menurut Hellen Varney (2007) penanganan hiperbilirubin yaitu dengan
memenuhi kebutuhan atau nutrisi, bila kadar bilirubin serum bayi tinggi
sehingga di duga akan terjadi kern ikterik, maka perlu dilakukan

23
penatalaksanaan khusus yaitu fototerapi. Sesuai dengan protap
penatalaksanaan hiperbilirubin di RSUD Badung Mangusada dan menurut
Prawirohardjo (2009) yaitu pemasangan fototerapi, terapi sinar dengan
panjang gelombang cahaya 450-460 nm, dilakukan jika kadar bilirubin
indirek > 10 mg/dl untuk BBLR, bilirubin indirek >12 mg/dl untuk bayi
cukup bulan. Pemberhentian pemberian terapi sinar jika kadar bilirubin serum
sudah dalam batas normal.

1.5 Faktor Pendukung dan Penghambat


1. Faktor Pendukung
a. Keluarga sangat kooperatif dan adanya respon positif terhadap asuhan
yang diberikan pada bayinya.
b. Adanya kerjasama dengan petugas kesehatan yang baik, di ruang
perinatologi RSUD Badung Mangusada, sehingga penulis dapat
melaksanakan asuhan kepada By. Ny. I secara optimal.

2. Faktor Penghambat.
Selama melaksanakan asuhan penulis tidak mengalami
hambatan karena adanya kerjasama yang baik dari pihak petugas
kesehatan, serta sikap kooperatif dari pihak keluarga.

24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan kasus pada BAB IV, maka
dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Data subjektif yang didapat dari By. Ny. I yaitu, kulit kuning,
rewel, malas menyusu sesuai dengan teori yang menunjukan kasus tanda
hiperbilirubin.
2. Pemeriksaan data objektif pada By. Ny. I sudah sesuai dengan teori
dan pemeriksaan yang dilakukan antara teori dengan kenyataan dilahan
praktik dan tidak ada kesenjangan.
3. Diagnosa ditegakkan dari data subjektif dan data objektif yaitu By.
Ny. I usia 1 hari, neonates cukup bulan sesuai masa kehamilan dengan
hiperbilirubin.
4. Penatalaksanaan yang diberikan sesuai dengan teori penatalaksaan
bayi dengan hiperbilirubin.

5.2 Saran
1. Bagi Lahan Praktek
Agar mempertahankan dan meningkatkan mutu layanan terhadap pasien,
dengan tenaga yang professional dalam memberikan pelayanan dan dapat
memberikan tambahan informasi mengenai asuhan kebidanan dengan
hiperbilirubin untuk mempercepat penanganan guna mencegah komplikasi
yang kemungkinan terjadi.
2. Bagi Klien
Memberi pengetahuan kepada klien dan keluarga mengenai hiperbilirubin,
sehingga klien dan keluarga dapat mengetahui penyebab terjadinya
hiperbilirubin, sehinggga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya
komplikasi yang lebih berat.

25