Anda di halaman 1dari 10

KARAKTERISTIK RESISTOR

PENGERTIAN

Besar arus dan tegangan pada sebuah rangkaian elektronika disesuaikan dengan kebutuhan
setiap komponen pada setiap blok rangkaian, jangan sampai melebihi batas maksimalnya
karena akan mempengaruhi kerja dari sebuah blok rangkaian seperti cacat sinyal atau bisa
mengakibatkan kerusakan komponen, dan juga jangan terlalu rendah karena kemungkinan
rangkaian tidak bekerja optimal atau menghasilkan cacat sinyal. Untuk mengatasi masalah
tersebut diperlukan komponen yang mampu mengatur kebutuhan arus dan tegangan pada
rangkaian, dan komponen.

komponen elektronik yang memiliki dua pin dan didesain untuk mengatur tegangan
listrik dan arus listrik, dengan resistansi tertentu (tahanan) dapat memproduksi
tegangan listrik di antara kedua pin, nilai tegangan terhadap resistansi berbanding
lurus dengan arus yang mengalir, berdasarkan hukum Ohm: V = I x R atau R= V/I

SIMBOL RESISTOR

Resistor dalam suatu teori dan penulisan formula


yang berhubungan dengan resistor disimbolkan
dengan huruf “R”. Kemudian pada desain skema
elektronika resistor tetap disimbolkan dengan huruf
“R”, resistor variabel disimbolkan dengan huruf “VR”
dan untuk resistorjenis potensiometer ada yang
disimbolkan dengan huruf “VR” dan “POT”.

KAPASITAS DAYA RESISTOR

Kapasitas daya pada resistor merupakan nilai daya maksimum yang mampu
dilewatkan oleh resistor tersebut. Nilai kapasitas daya resistor ini dapat
dikenali dari ukuran fisik resistor dan tulisan kapasitas daya dalamsatuan Watt
untuk resistor dengan kemasan fisik besar. Menentukan kapasitas daya
resistor ini penting dilakukan untuk menghindari resistor rusak karena terjadi
kelebihan daya yang mengalir sehingga resistor terbakar dan sebagai bentuk
efisiensi biaya dan tempat dalam pembuatan rangkaian elektronika.
NILAI TOLERANSI RESISTOR

Toleransi resistor merupakan perubahan nilai resistansi dari nilai yang tercantum pada
badan resistor yang masih diperbolehkan dan dinyatakan resistor dalam kondisi baik.
Toleransi resistor merupakan salah satu perubahan karakteristik resistor yang terjadi
akibat operasional resistor tersebut. Nilai toleransi resistor ini ada beberapa macam yaitu
resistor dengan toleransi kerusakan 1% (resistor 1%), resistor dengan toleransi kesalahan
2% (resistor2%), resistor dengan toleransi kesalahan 5% (resistor 5%) dan resistor dengan
toleransi 10% (resistor 10%).

Nilai toleransi resistor ini selalu dicantumkan di kemasan resistor dengan kode warna
maupun kode huruf. Sebagai contoh resistor dengan toleransi 5% maka dituliskan dengan
kode warna pada
MENGHITUNG NILAIcincin ke 4 warna emas atau dengan kode huruf J pada resistor dengan
RESISTOR
fisik kemasan besar. Resistor yang banyak dijual dipasaran pada umumnya resistor 5%
dan
Nilai resistor
resistor dapat diketahui dengan kode warna dan kode huruf pada resistor. Resistor dengan
1%.
nilai resistansi ditentukan dengan kode warna dapat ditemukan pada resistor tetap dengan
kapasitas daya rendah, sedangkan nilai resistor yang ditentukan dengan kode huruf dapat
ditemui pada resistor tetap daaya besar dan resistor variable.

KODE WARNA RESISTOR

Resistor dengan 4 cincin kode warna

Maka cincin ke 1 dan ke 2 merupakan digit angka, dan


cincin kode warna ke 3 merupakan faktor pengali
kemudian cincin kode warna ke 4 menunjukan nilai
toleransi resistor.

Resistor dengan 5 cincin kode warna

Maka cincin ke 1, ke 2 dan ke 3 merupakan digit angka,


dan cincin kode warna ke 4 merupakan faktor pengali
kemudian cincin kode warna ke 5 menunjukan nilai
toleransi resistor.

Resistor dengan 6 cincin kode warna

Resistor dengan 6 cicin warna pada prinsipnya sama dengan resistor dengan 5
cincin warna dalam menentukan nilai resistansinya. Cincin ke 6 menentukan
coefisien temperatur yaitu temperatur maksimum yang diijinkan untuk
resistor tersebut.
KODE HURUF RESISTOR

Resistor dengan kode huruf dapat kita baca nilai resistansinya dengan mudah karena nilai
resistansi dituliskan secara langsung. Pad umumnya resistor yang dituliskan dengan kode huruf
memiliki urutan penulisan kapasitas daya, nilai resistansi dan toleransi resistor. Kode huruf
digunakan untuk penulisan nilai resistansi dan toleransi resistor.

Kode Huruf Untuk Nilai Resistansi :

 R, berarti x1 (Ohm)
 K, berarti x1000 (KOhm)
 M, berarti x 1000000 (MOhm)

Kode Huruf Untuk Nilai Toleransi :

 F, untuk toleransi 1%
 G, untuk toleransi 2%
 J, untuk toleransi 5%
 K, untuk toleransi 10%
 M, untuk toleransi 20%

JENIS-JENIS RESISTOR

Berdasarkan jenis dan bahan yang digunakan untuk membuat resistor dibedakan menjadi resistor
kawat, resistor arang dan resistor oksida logam atau resistor metal film.

1. Resistor Kawat (Wirewound Resistor)

Resistor kawat atau wirewound resistor merupakan


resistor yang dibuat dengan bahat kawat yang dililitkan.
Sehingga nilai resistansi resistor ditentukan dari
panjangnya kawat yang dililitkan. Resistor jenis ini pada
umumnya dibuat dengan kapasitas daya yang besar.

2. Resistor Arang (Carbon Resistor)

Resistor arang atau resistor karbon merupakan resistor yang


dibuat dengan bahan utama batang arang atau karbon. Resistor
karbon ini merupakan resistor yang banyak digunakan dan banyak
diperjual belikan. Dipasaran resistor jenis ini dapat kita jumpai
dengan kapasitas daya 1/16 Watt, 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt, 1
Watt, 2 Watt dan 3 Watt.
3. Resistor Oksida Logam (Metal Film Resistor)

Resistor oksida logam atau lebih dikenal dengan nama resistor metal film
merupakan resistor yang dibuah dengan bahan utama oksida logam yang
memiliki karakteristik lebih baik. Resistor metal film ini dapat ditemui
dengan nilai tolerasni 1% dan 2%. Bentuk fisik resistor metal film ini
mirip denganresistor kabon hanya beda warna dan jumlah cicin warna
yang digunakan dalam penilaian resistor tersebut. Sama seperti
resistorkarbon, resistor metal film ini juga diproduksi dalam beberapa
kapasitas daya yaitu 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt. Resistor metal film ini
banyak digunakan untuk keperluan pengukuran, perangkat industri dan
perangkat militer.

Kemudian berdasarkan nilai resistansinya resistor dibedakan menjadi 2 jenis yaitu


resistor tetap (Fixed Resistor) dan resistor tidak tetap (Variable Resistor)

1. Resistor tetap(Fixed Resistor)

Resistor tetap merupakan resistor yang nilai resistansinya tidap dapat diubah atau tetap. Resistor
jenis ini biasa digunakan dalam rangkaian elektronika sebagai pembatas arus dalam suatu
rangkaian elektronika. Resistor tetap dapat kita temui dalam beberpa jenis, seperti :

 Metal Film Resistor


 Metal Oxide Resistor
 Carbon Film Resistor
 Ceramic Encased Wirewound
 Economy Wirewound
 Zero Ohm Jumper Wire
 S I P Resistor Network

2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor)

Resistor tidak tetap atau variable resistor terdiridari 2 tipe yaitu :

 Pontensiometer, tipe variable resistor yang dapat diatur nilai resistansinya secara
langsung karena telah dilengkapi dengan tuas kontrol. Potensiometer terdiri dari 2 jenis
yaitu Potensiometer Linier dan Potensiometer Logaritmis
 Trimer Potensiometer, yaitu tipe variable resistor yang membutuhkan alat bantu
(obeng) dalam mengatur nilai resistansinya. Pada umumnya resistor jenis ini disebut
dengan istilah “Trimer Potensiometer atau VR”
 Thermistor, yaitu tipe resistor variable yangnilairesistansinya akan berubah mengikuti
suhu disekitar resistor. Thermistor terdiri dari 2 jenis yaitu NTC dan PTC. Untuk lebih
detilnya thermistor akan dibahas dalam artikel yang lain.
 LDR (Light Depending Resistor), yaitu tipe resistor variabel yang nilai resistansinya
akan berubah mengikuti cahaya yang diterima oleh LDR tersebut.
KARAKTERISTIK KAPASITOR

PENGERTIAN KAPASITOR

komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah


kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik.
Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas
dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-
muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada
saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi.

SIFAT KAPASITOR

Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung


kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak
bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah
oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan
elektrik ini “tersimpan” selama tidak ada konduksi
pada ujung-ujung kakinya.

KAPASITANSI KAPASITOR

Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung
muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.25 x 1018 elektron.
Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki
kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak
1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis :

Q=CV

Q = muatan elektron dalam C (coulombs)


C = nilai kapasitansi dalam F (farads)
V = besar tegangan dalam V (volt)

Dalam praktek pembuatan kapasitor, kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area plat
metal (A), jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik.
Dengan rumusan dapat ditulis sebagai berikut :

C = (8.85 x 10-12) (k A/t)


KAPASITANSI KAPASITOR

Untuk rangkaian elektronik praktis, satuan farads


adalah sangat besar sekali. Umumnya kapasitor
yang ada di pasar memiliki satuan uF (10-6 F), nF
(10-9 F) dan pF (10-12 F). Konversi satuan penting
diketahui untuk memudahkan membaca besaran
sebuah kapasitor. Misalnya 0.047uF dapat juga
dibaca sebagai 47nF, atau contoh lain 0.1nF sama
dengan 100pF.

JENIS KAPASITOR

Kapasitor terdiri dari beberapa tipe, tergantung dari bahan dielektriknya. Untuk lebih sederhana
dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kapasitor electrostatic, electrolytic dan electrochemical.

1. Kapasitor Electrostatic

Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari
keramik, film dan mika. Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk
membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF,
yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. Termasuk
kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene
terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar), polystyrene, polyprophylene, polycarbonate,
metalized paper dan lainnya. Mylar, MKM, MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang
untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah
non-polar.

2. Kapasitor Electrolytic

Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah
lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar
dengan tanda + dan – di badannya. Mengapa kapasitor ini dapat memiliki polaritas, adalah
karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda
dan kutup negatif katoda. Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum, aluminium,
magnesium, titanium, niobium, zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi
sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui
proses elektrolisa, seperti pada proses penyepuhan emas. Elektroda metal yang dicelup kedalam
larutan electrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi
tegangan negatif (katoda). Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidai permukaan
plat metal. Contohnya, jika digunakan Aluminium, maka akan terbentuk lapisan
Aluminiumoksida (Al2O3) pada permukaannya.
3. Kapasitor Electrochemical

Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Termasuk kapasitor jenis ini adalah
batere dan accu. Pada kenyataanya batere dan accu adalah kapasitor yang sangat baik, karena
memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. Tipe
kapasitor jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar
namun kecil dan ringan, misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular.

TEGANGAN KERJA KAPASITOR (WORKING VOLTAGE)

Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat
bekerja dengan baik. Para elektro- mania barangkali pernah mengalami kapasitor yang meledak
karena kelebihan tegangan. Misalnya kapasitor 10uF 25V, maka tegangan yang bisa diberikan
tidak boleh melebihi 25 volt dc. Umumnya kapasitor-kapasitor polar bekerja pada tegangan DC
dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC.

TEMPERATUR KERJA KAPASITOR

Kapasitor masih memenuhi spesifikasinya jika bekerja pada suhu yang sesuai. Pabrikan pembuat
kapasitor umumnya membuat kapasitor yang mengacu pada standar popular. Ada 4 standar popular
yang biasanya tertera di badan kapasitor seperti C0G (ultra stable), X7R (stable) serta Z5U dan Y5V
(general purpose). Secara lengkap kode-kode tersebut disajikan pada table berikut.

TEMPERATUR KERJA KAPASITOR

Seperti komponen lainnya, besar kapasitansi nominal ada toleransinya. Tabel diatas menyajikan nilai
toleransi dengan kode-kode angka atau huruf tertentu. Dengan table di atas pemakai dapat dengan
mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai nominal kapasitor. Misalnya
jika tertulis 104 X7R, maka kapasitasinya adalah 100nF dengan toleransi +/-15%. Sekaligus dikethaui juga
bahwa suhu kerja yang direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125Co (lihat tabel kode
karakteristik).
TEMPERATUR KERJA KAPASITOR

Walaupun bahan dielektrik merupakan bahan yang


non-konduktor, namun tetap saja ada arus yang dapat
melewatinya. Artinya, bahan dielektrik juga memiliki
resistansi. walaupun nilainya sangat besar sekali.
Phenomena ini dinamakan arus bocor DCL (DC
Leakage Current) dan resistansi dielektrik ini
dinamakan Insulation Resistance (IR). Untuk
menjelaskan ini, berikut adalah model rangkaian
kapasitor.
Jika tidak diberi beban, semestinya kapasitor dapat menyimpan muatan selama-lamanya. Namun dari
model di atas, diketahui ada resitansi dielektrik IR(Insulation Resistance) yang paralel terhadap kapasitor.
Insulation resistance (IR) ini sangat besar (MOhm). Konsekuensinya tentu saja arus bocor (DCL) sangat
kecil (uA). Untuk mendapatkan kapasitansi yang besar diperlukan permukaan elektroda yang luas, tetapi
ini akan menyebabkan resistansi dielektrik makin kecil. Karena besar IR selalu berbanding terbalik
dengan kapasitansi (C), karakteristik resistansi dielektrik ini biasa juga disajikan dengan besaran RC (IR x
C) yang satuannya ohm-farads atau megaohm-micro farads.

Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z) Kapasitor

Dissipation Factor adalah besar persentasi rugi-rugi (losses) kapasitansi jika


kapasitor bekerja pada aplikasi frekuensi. Besaran ini menjadi faktor yang
diperhitungkan misalnya pada aplikasi motor phasa, rangkaian ballast, tuner
dan lain-lain. Dari model rangkaian kapasitor digambarkan adanya resistansi
seri (ESR) dan induktansi (L). Pabrik pembuat biasanya meyertakan data DF
dalam persen. Rugi-rugi (losses) itu didefenisikan sebagai ESR yang
besarnya adalah persentasi dari impedansi kapasitor Xc. Secara matematis di
tulis sebagai berikut :

Dari penjelasan di atas dapat dihitung besar total


impedansi (Z total) kapasitor adalah :

Karakteristik respons frekuensi sangat perlu


diperhitungkan terutama jika kapasitor bekerja pada
frekuensi tinggi. Untuk perhitungan- perhitungan respons frekuensi dikenal juga satuan faktor
qualitas Q (quality factor) yang tak lain sama dengan 1/DF untuk suatu kapasitor.
KARAKTERISTIK INDUKTOR
PENGERTIAN

Sejenis komponen elektronika pasif yang mayoritas bentuknya torus,


bisa menjadi media penyimpan energi pd medan magnet yg
dimunculkan akibat aliran listrik yang melaluinya. Komponen ini
biasanya juga disebut dengan spul. Bahan pembuatannya dari bahan
tembaga berupa kawat dengan email yang tipis. Satuan yang
digunakan adalah Henry, dengan singkatan H.

FUNGSI

Dari pengertiannya bisa diambil kesimpulan bahwa fungsinya adalah wadah lahirnya
gaya magnet; melipat tegangan; dan membangkitkan getaran. Dari fungsi ini kita bisa
menggunakannya untuk memproses sinyal pd rangkaian berupa analog; menghilangkan
dengungan (noise); pencegah intrusi frekuensi radio; komponen terpenting untuk
membuat transformator; Alat filter pd rangkaian berupa power supply.

JENIS

Macam-macam induktor umumnya dibedakan berdasar inti yang dipakainya, yaitu:

1. Induktor-inti-udara / air-core-inductor
2. Induktor-frekuensi-radio / radio-frequency-inductor
3. Induktor-inti-Feromagnetik / ferromagnetic-core-inductor
4. Induktor-Variabel / Variable-inductor
5. Induktor-inti-Laminasi / Laminated-core-inductor
6. Induktor-inti-toroida / Toroidak-core-inductor
7. Induktor-inti-ferit / Ferrite-core-inductor

Dari semua pengertian, fungsi/kegunaan dan jenis-jenisnya tersebut itulah kita bisa
membedakan karakteristik Induktor dengan komponen elektronika lainnya.

Induktor ruhmkorff

Jenis Induktor ini dipakai buat mendatangkan tegangan tinggi dipakai untuk fungsi
pengapian di jenis kendaraan bermotor. Komponen ini terbentuk atas dua buah
kumparan, yaitu kumparan sekunder dan primer. Pembedanya adalah jumlah lilitan,
dimana jumlah pada kumparan sekunder adalah lebih banyak daripada yang primer.
Sumber tegangannya berupa baterai yang digandakan. Supaya dapat membuat
pembaruan garis gaya di kumparan yang arusnya searah, maka baterainya harus dibuat
putus-putus oleh interuptor / kontak pemutus-arus. Tegangan yg dibuat pd kumparan
sekunder dapat hingga ke 10.000 s/d 20.000 v.

CARA KERJA

SIMBOL

Terdapat lima buah simbol untuk induktor yang berbeda-beda,


yaitu:

1. Fixed-value
2. Iron-core
3. Variable
4. Variac; dan
5. Tapped

JENIS-JENIS LILITAN

Lilitan ferit sarang madu


Lilitan sarang madu dililit dengan cara bersilangan untuk mengurangi efek kapasitansi terdistribusi. Ini sering
digunakan pada rangkaian tala pada penerima radio dalam jangkah gelombang menengah dan gelombang
panjang. Karena konstruksinya, induktansi tinggi dapat dicapai dengan bentuk yang kecil.

Lilitan inti toroid


Sebuah lilitan sederhana yang dililit dengan bentuk silinder menciptakan medan magnet eksternal dengan
kutub utara-selatan. Sebuah lilitan toroid dapat dibuat dari lilitan silinder dengan menghubungkannya menjadi
berbentuk donat, sehingga menyatukan kutub utara dan selatan. Pada lilitan toroid, medan magnet ditahan
pada lilitan. Ini menyebabkan lebih sedikit radiasi magnetik dari lilitan, dan kekebalan dari medan magnet
eksternal.