Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan jaman menuntut perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan


untuk bersikap profesional. Profesionalisme perawat dapat diwujudkan dibidang
pelayanan kesehatan di rumah sakit. Salah satu usaha untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas dan profesional tersebut adalah pengembangan model
praktek keperawatan profesional (MPKP) yang memungkinkan perawat
professional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan tersebut.

MPKP sangat bermanfaat bagi perawat, dokter, pasien dan profesi lain dalam
melaksanakan asuhan keperawatan. Dengan MPKP, perawat dapat memahami
tugas dan tanggung jawabnya terhadap pasien sejak masuk hingga keluar rumah
sakit. Implementasi MPKP harus ditunjang dengan sumber daya manusia, sarana
dan prasarana yang memadai.

Banyak metode praktek keperawatan yang telah dikembangkan selama 35


tahun terakhir ini, yang meliputi keperawatan fungsional, keperawatan tim,
keperawatan primer, praktik bersama, dan manajemen kasus. Setiap unit
keperawatan mempunyai upaya untuk menyeleksi model yang paling tepat
berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan, sarana dan prasarana, dan kebijakan
rumah sakit. Katagori pasien didasarkan atas, tingkat pelayanan keperawatan yang
dibutuhkan pasien , Usia, Diagnosa atau masalah kesehatan yang dialami pasien
dan terapi yang dilakukan (Bron , 1987). Pelayanan yang profesional identik
dengan pelayanan yang bermutu, untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan
dalam melakukan kegiatan penerapan standart asuhan keperawatan dan
pendidikan berkelanjutan. Dalam kelompok keperawatan yang tidak kalah
pentingnya yaitu bagaimana caranya metode penugasan tenaga keperawatan agar
dapat dilaksanakan secara teratur, efesien tenaga, waktu dan ruang, serta
meningkatkan ketrampilan dan motivasi kerja.
B. Rumusan Masalah

1. Apa saja metode penugasan asuhan keperawatan?


2. Bagaimanakah metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan?
3. Bagaimanakah metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan?
4. Bagaimanakah metode primer dalam pemberian asuhan keperawatan?
5. Bagaimanakah metode kasus dalam pemberian asuhan keperawatan?
6. Bagaimanakah metode modifikasi dalam pemberian asuhan keperawatan

C. Tujuan

1) Menyebutkan macam metode penugasan asuhan keperawatan


2) Menjelaskan metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan
3) Menjelaskan metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan
4) Menjelaskan metode primer dalam pemberian asuhan keperawatan
5) Menjelaskan metode kasus dalam pemberian asuhan keperawatan
6) Menjelaskan metode modifikasi dalam pemberian asuhan keperawatan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Macam metode penugasan

1. Metode Fungsional

Model pemberian asuhan keperawatan ini berorientasi pada


penyelesaian tugas dan prosedur keperawatan. Perawat ditugaskan untuk
melakukan tugas tertentu untuk dilaksanakan kepada semua pasien yang
dirawat di suatu ruangan. Model ini digambarkan sebagai keperawatan yang
berorientasi pada tugas dimana fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada
setiap anggota staff. Setiap staff perawat hanya melakukan 1-2 jenis
intervensi keperawatan pada semua pasien dibangsal. Misalnya seorang
perawat bertanggung jawab untuk pemberian obat-obatan, seorang yang lain
untuk tindakan perawatan luka, seorang lagi mengatur pemberian intravena,
seorang lagi ditugaskan pada penerimaan dan pemulangan, yang lain
memberi bantuan mandi dan tidak ada perawat yang bertanggung jawab
penuh untuk perawatan seorang pasien.

Seorang perawat bertanggung jawab kepada manajer perawat.


Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat
pelaksana pada tindakan keperawatan. Penugasan yang dilakukan pada model
ini berdasarkan kriteria efisiensi, tugas didistribusikan berdasarkan tingkat
kemampuan masing-masing perawat dan dipilih perawat yang paling murah.
Kepala ruangan terlebih dahulu mengidentifikasm tingkat kesulitan tindakan,
selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan
tindakan yang dimaksud. Model fungsional ini merupakan metode praktek
keperawatan yang paling tua yang dilaksanakan oleh perawat dan
berkembang pada saat perang dunia kedua.
Kelebihan :

- Efisien karena dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu


singkat dengan pembagian tugas yang jelas dan pengawasan yang baik
- Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga

- Perawat akan trampil untuk tugas pekerjaan tertentu saja

- Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai kerja.

- Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang


berpengalaman untuk tugas sederhana.
- Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik
yang melakukan praktek untuk ketrampilan tertentu.

Kelemahan :

- Pelayanan keperawatan terpisah-pisah atau tidak total sehingga kesulitan


dalam penerapan proses keperawatan.
- Perawat cenderung meninggalkan klien setelah melakukan tugas
pekerjaan.

- Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan


ketrampilan saja

- Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat lainnya.

- Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat

- Hubungan perawat dank klien sulit terbentuk


Gambar 1.1 : Sistem pemberian asuhan keperawatan fungsional (Marquis
& Huston, 1988)

2. Metode TIM
Metode tim adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan
dengan menggunakan tim yang terdiri atas kelompok klien dan perawat.
Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman
kerja serta memiliki pengetahuan dibidangnya (Regestered Nurse).
Pembagian tugas dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok/
ketua group dan ketua group bertanggung jawab dalam mengarahkan
anggota group / tim. Selain itu ketua group bertugas memberi pengarahan
dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta
membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani
kesulitan dan selanjutnya ketua tim melaporkan pada kepala ruang tentang
kemajuan pelayanan / asuhan keperawatan terhadap klien.

Keperawatan Tim berkembang pada awal tahun 1950-an, saat


berbagai pemimpin keperawatan memutuskan bahwa pendekatan tim dapat
menyatukan perbedaan katagori perawat pelaksana dan sebagai upaya untuk
menurunkan masalah yang timbul akibat penggunaan model fungsional.
Pada model tim, perawat bekerja sama memberikan asuhan keperawatan
untuk sekelompok pasien di bawah arahan/pimpinan seorang perawat
profesional (Marquis & Huston, 2000).
Dibawah pimpinan perawat professional, kelompok perawat akan
dapat bekerja bersama untuk memenuhi sebagai perawat fungsional.
Penugasan terhadap pasien dibuat untuk tim yang terdiri dari ketua tim
dan anggota tim. Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap
anggota kelompok mempunyai kontriibusi dalam merencanakan dan
memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa
tanggung jawab perawat yang tinggi. Setiap anggota tim akan merasakan
kepuasan karena diakui kontribusmnya di dalam mencapai tujuan bersama
yaitu mencapai kualitas asuhan keperawatan yang bermutu. Potensi setiap
anggota tim saling melengkapi menjadi suatu kekuatan yang dapat
meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta menimbulkan rasa
kebersamaan dalam setiap upaya dalam pemberian asuhan keperawatan.

Pelaksanaan konsep tim sangat tergantung pada filosofi ketua tim


apakah berorientasi pada tugas atau pada klien. Perawat yang berperan
sebagai ketua tim bertanggung jawab untuk mengetahui kondisi dan
kebutuhan semua pasien yang ada di dalam timnya dan merencanakan
perawatan klien. Tugas ketua tim meliputi: mengkaji anggota tim, memberi
arahan perawatan untuk klien, melakukan pendidikan kesehatan,
mengkoordinasikan aktivitas klien.

Menurut Tappen (1995), ada beberapa elemen penting yang harus


diperhatikan:

- Pemimpin tim didelegasikan/diberi otoritas untuk membuat penugasan


bagi

- anggota tim dan mengarahkan pekerjaan timnya.

- Pemimpin diharapkan menggunakan gaya kepemimpinan demokratik


atau partisipatif dalam berinteraksi dengan anggota tim.
- Tim bertanggung jawab terhadap perawatan total yang diberikan kepada
kelompok pasien.

- Komunikasi di antara anggota tim adalah penting agar dapat sukses.


Komunikasi meliputi: penu!isan perawatan klien, rencana perawatan
klien, laporan untuk dan dari pemimpin tim, pentemuan tim untuk
mendiskusikan kasus pasien dan umpan balik informal di antara
anggota tim.
Kelebihan :

- Dapat memfasilitasi pelayanan keperawatan secara komprehensif.

- Memungkinkan pelaksanaan proses keperawatan.

- Konflik antar staf dapat dikendalikan melalui rapat dan efektif untuk
belajar.

- Memberi kepuasan anggota tim dalam berhubungan interpersonal.

- Memungkinkan meningkatkan kemampuan anggota tim yang


berbeda-beda secara efektif
- Peningkatan kerja sama dan komunikasi di antara anggota tim dapat
menghasilkan sikap moral yang tinggi, memperbaiki fungsi staf secara
keseluruhan, memberikan anggota tim perasaan bahwa ia mempunyai
kontribusi terhadap hasil asuhan keperawatan yang diberikan
- Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapat
dipertanggungjawabkan

- Metode ini memotivasi perawat untuk selalu bersama klien selama


bertugas

Kelemahan :

- Ketua tim menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi dan supervisi


anggota tim dan harus mempunyai keterampilan yang tinggi baik
sebagai perawat pemimpin maupun perawat klinik
- Keperawatan tim menimbulkan fragmentasi keperawatan bila
konsepnya tidak diimplementasikan dengan total
- Rapat tim membutuhkan waktu sehingga pada situasi sibuk
rapat tim ditiadakan, sehingga komunikasi antar angota tim terganggu.
- Perawat yang belum trampil dan belum berpengalaman selalu
tergantung staf, berlindung kepada anggota tim yang mampu.
- Akontabilitas dari tim menjadi kabur.

- Tidak efisien bila dibandingkan dengan model fungsional karena


membutuhkan tenaga yang mempunyai keterampilan tinggi.
Tanggung jawab Kepala Ruang

- Menetapkan standar kinerja yang diharapkan sesuai dengan standar


asuhan keperawatan.
- Mengorganisir pembagian tim dan pasien

- Memberi kesempatan pada ketua tim untuk mengembangkan


kepemimpinan.

- Menjadi nara sumber bagi ketua tim.

- Mengorientasikan tenaga keperawatan yang baru tentang metode/model


tim dalam pemberian asuhan keperawatan.
- Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada di ruangannya,

- Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada di


ruangannya,

- Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang


lainnya,

- Melakukan audit asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangannya,


kemudian menindak lanjutinya,
- Memotivasi staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset
keperawatan.

- Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf.


Tanggung jawab ketua tim :

- Mengatur jadual dinas timnya yang dikoordinasikan dengan kepala


ruangan,

- Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan kewenangannya yang


didelegasikan oleh kepala ruangan.

- Melakukan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi asuhan


keperawatan bersama-sama anggota timnya,
- Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan medik.

- Membuat penugasan kepada setiap anggota tim dan memberikan


bimbingan melalui konferens.
- Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses ataupun hasil yang
diharapkan serta mendokumentasikannya.
- Memberi pengarahan pada perawat pelaksana tentang
pelaksanaan asuhan keperawatan,
- Menyelenggarakan konferensi

- Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam pelaksanaan


asuhan keperawatan,
- Melakukan audit asuhan keperawatan yang menjadi tanggungjawab
timnya,

- Melakukan perbaikan pemberian asuhan keperawatan

Tanggung jawab anggota tim

- Melaksanakan tugas berdasarkan rencana asuhan keperawatan.

- Mencatat dengan jelas dan tepat asuhan keperawatan yang telah


diberikan berdasarkan respon klien.
- Berpartisipasi dalam setiap memberiikan masukan untuk meningkatkan
asuhan keperawatan
- Menghargai bantuan dan bimbingan dan ketua tim.
- Melaporkan perkembangan kondisi pasien kepada ketua tim.

- Memberikan laporan
3. Metode Primer.

Metode primer dikembangkan pada awal tahun 1970-an,


menggunakan beberapa konsep dan perawatan total pasien. Keperawatan
primer merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan di mana
perawat primer bertanggung jawab selama 24 jam terhadap perencanaan
pelaksanaan pengevaIuasi satu atau beberapa klien dan sejak klien masuk
rumah sakit sampai pasien dinyatakan pulang. Selama jam kerja, perawat
primer memberikan perawatan langsung secara total untuk klien. Ketika
perawat primer tidak sedang bertugas, perawatan diberikan/didelegasikan
kepada perawat asosiet yang mengikuti rencana keperawatan yang telah
disusuni oleh perawat primer.

Pada model ini, klien, keluarga, stafmedik dan staf keperawatan akan
mengetahui bahwa pasien tertentu akan merupakan tanggung jawab
perawat primer tertentu. Setiap perawat primer mempunyai 4-6 pasien.
Seorang perawat primer mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan
kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial masyarakat membuat
jadual perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah, dan lain
sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan tersebut, maka dituntut
akontabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan.

Tanggung jawab mencakup periode 24 jam, dengan perawat kolega yang


memberikan perawatan bila perawat primer tidak ada. Perawatan yang
yang diberikan direncanakan dan ditentukan secara total oleh perawat
primer. Metode keperawatan primer mendorong praktek kemandirian
perawat, yang ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus
antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan,
melakukan dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
Perawat primer bertanggung jawab untuk membangun komunikasi yang
jelas di antara pasien, dokter, perawat asosiet, dan anggota tim kesehatan
lain. Walaupun perawat primer membuat rencana keperawatan, umpan
balik dari orang lain diperlukan untuk pengkoordinasian asuhan
keperawatan klien

Dalam menetapkan seseorang menjadi perawat primer perlu berhati-


hati karena memerlukan beberapa kriteria, di antaranya dalam menetapkan
kemampuan asertif, self direction kemampuan mengambil keputusan yang
tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntabel serta mampu berkolaborasi
dengan baik antar berbagai disiplin ilmu. Di negara maju pada umumnya
perawat yang ditunjuk sebagai perawat primer adalah seorang perawat
spesialis klinik yang mempunyai kualifikasi master dalam bidang
keperawatan.

Karakteristik modalitas keperawatan primer adalah :

- Perawat primer mempunyai tanggung jawab untuk asuhan keperawatan


pasien selama 24 jam sehari, dari penerimaan sampai pemulangan
- Perawat primer melakukan pengkajian kebutuhan asuhan keperawatan,
kolaborasi dengan pasien dan professional kesehatan lain, dan
menyusun rencana perawatan.
- Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan didelegasikan oleh
perawat primer kepada perawat sekunder selama shift lain.
- Perawat primer berkonsultasi dengan perawat kepala dan penyelia.

- Autoritas, tanggung gugat dan autonomi ada pada perawat primer

Kelebihan :

- Perawat primer mendapat akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan


memungkinkan untuk pengembangan diri.
- Memberikan peningkatan autonomi pada pihak perawat, jadi
meningkatkan motivasi, tanggung jawab dan tanggung gugat
- Bersifat kontinuitas dan komprehensif sesuai dengan arahan perawat
primer dalam memberikan atau mengarahkan perawatan sepanjang
hospitalisasi.
- Membebaskan manajer perawat klinis untuk melakukan peran manajer
operasional dan administrasi
- Kepuasan kerja perawat tinggi karena dapat memberiikan asuhan
keperawatan secara holistik. Kepuasan yang dirasakan oleh perawat
primer adalah memungkinkan pengembangan diri melalui penerapan
ilmu pengetahuan.
- Staf medis juga merasakan kepuasan karena senantiasa informasi
tentang kondisi klien selalu mutakhir dan komprehensif serta informasi
dapat diperoleh dari satu perawat yang benar-benar mengetahui keadaan
kliennya.
- Perawat ditantang untuk bekerja total sesuai dengan kapasitas mereka.

- Waktu yang digunakan lebih sedikit dalam aktivitas koordinasi dan


supervisi dan lebih banyak waktu untuk aktivitas langsung kepada klien.
- Pasien terlihat lebih menghargai. Pasien merasa dimanusiakan
karena terpenuhi kebutuhannya secara individu.
- Asuhan keperawatan berfokus pada kebutuhan klien.

- Profesi lain lebih menghargai karena dapat berkonsultasi dengan


perawat yang mengetahui semua tentang kliennya.
- Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan.

- Meningkatnya hubungan antara perawat dan klien.

- Metode ini mendukung pelayanan profesional.

- Rumah sakit tidak harus mempekerjakan terlalu banyak tenaga


keperawatan tetapi harus berkualitas tinggi
Kelemahan :

- Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional

- Tidak semua perawat merasa siap untuk bertindak mandiri, memiliki


akontabilitas dan kemampuan untuk mengkaji serta merencanakan
asuhan keperawatan untuk klien.
- Akontabilitas yang total dapat membuat jenuh.

- Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar


yang sama.

- Biaya relatif tinggi dibanding metode penugasan yang lain.

Ketenagaan metode primer

- Setiap perawat primer adalah perawat “bedside”

- Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat primer

- Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal

- Perawat primer dibantu oleh perawat professional lain maupun non


professional sebagai perawat asisten

Tanggung jawab Kepala Ruang dalam metode primer

- Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer

- Mengorganisir pembagian pasien kepada perawat primer

- Menyusun jadual dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten

- Orientasi dan merencanakan karyawan baru

- Merencanakan dan menyelenggarakan pengembangan staff


Tanggung jawab perawat primer :

- Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif

- Membuat tujuan dan rencana keperawatan

- Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas

- Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan


oleh disiplin lain maupun perawat lain
- Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai

- Menyipakan penyuluhan untuk pulang

- Melakukan rujukan kepada pekarya sosial, kontak dengan lembaga sosial


dimasyarakat

- Membuat jadual perjanjian klinis

- Mengadakan kunjungan rumah

Gambar 1.3 : Diagram system asuhan keperawatan


primer

(Marquis & Huston,


1998)
4. Metode Kasus

Metode kasus adalah metode dimana perawat bertanggung jawab terhadap


pasien tertentu yang didasarkan pada rasio satu perawat untuk satu pasien
dengan pemberian perawatan konstan untuk periode tertentu. Metode
penugasan kasus biasa diterapkan untuk perawatan khusus seperti isolasi,
intensive care, perawat kesehatan komunitas.

Kelebihan :

- Perawat lebih memahami kasus per kasus

- Sistem evaluasi da

Kekurangan :

- Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanngung jawab

- Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
sama
Tugas perawat dalam metode kasus

- Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif


- Membuat tujuan dan rencana keperawatan
- Melaksanakan semua rencana yang telah dibuat selama ini
- Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan
oleh disiplin lain maupun perawat lain.
- Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
- Menerima dan menyesuaikan rencana.
- Menyiapkan penyuluhan pulang.
- Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial
masyarakat.
- Membuat jadwal perjanjian klinik.
- Mengadakan kunjungan rumah.
Ketenagaan metode kasus

- Setiap perawat primer adalah perawat “ bed side”


- Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat
- Penugasan ditentukan oleh kepala jaga.

Peran dari pembagian tugas modifikasi tim metode kasus

1. Kepala Perawat
- Memimpin rapat
- Evaluasi kinerja perawat
- Membuat daftar dinas
- Menyediakan material
- Perencanaan, pengawasan, pengarahan
2. Perawat primer
- Membuat perencanaan asuhan keperawatan
- Mengadakan tindakan kolaborasi
- Memimpin timbang terima
- Mendelegasikan tugas
- Memimpin ronde keperawatan
- Evaluasi pemberian asuhan keperawatan
- Bertanggung jawab terhadap klien
- Memberi petunjuk jika klien akan pulang
- Mengisi resume keperawatan
3. Perawat Associate
- Memberikan asuhan keperawatan
- Mengikuti timbang terima
- Melaksanakan tugas yang didelegasikan
- Mendokumentasikan tindakan
- Melaporkan asuhan keperawatan yang dilaksanakan
-
5. Metode Modifikasi

Metode modifikasi adalah penggunaan metode asuhan keperawatan


dengan modifikasi antara tim dan primer.
Menurut Sudarsono (2000), MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai
dengan kondisi sumber daya manusia yang ada, antara lain adalah:
a. Model Praktek Keperawatan Profesional III

Melalui pengembangan model PKP III dapat berikan asuhan keperawatan


profesional tingkat

III. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan doktor


dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan
membimbing para perawat melakukan riset serta memanfaatkan hasil-
hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan

b. Model Praktek Keperawatan Profesional II

Pada model ini akan mampu memberikan asuhan keperawatan


profesional tingkat II. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan
kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik untuk cabang ilmu
tertentu. Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi
tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer pada area
spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-
hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat
spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer pada area
spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-
hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat
spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer (1:10)

c. Model Praktek Keperawatan Profesional I.

Pada model ini perawat mampu memberikan asuhan keperawatan


profesional tingkat I dan untuk itu diperlukan penataan 3 komponen
utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan
keperawatan yang digunakan. Pada model ini adalah kombinasi metode
keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer.

d. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula

Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula (MPKP) merupakan


tahap awal untuk menuju model PKP. Model ini mampu memberikan
asuhan keperawatan profesional tingkat pemula. Pada model ini terdapat
3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian
asuhan keperawatan dan dokumentasi asuhan keperawatan

Menurut Ratna S. Sudarsono (2000), bahwa penetapan sistem model MAKP ii


diasarkan pada beberapa alasan, yaitu :
a. Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat
primer harus mempunyai latar belakang pendidikan SI keperawatan atau
setara
b. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni , karena tanggung
jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim
c. Melalui kombinasi kedua model ini diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akountabilitasnya terdapat pada primer.

Disamping itu karena saat ini perawat yang ada di rumah sakit sebagaian
besar adalah lulusan SPK, maka akan mendapat bimbingan dari perawat
primer atau ketua tim tentang asuhan keperawatan.

Nilai-nilai profesional dari penatalaksanaan kegiatan keperawatan


diaplikasikan dalam bentuk aktifitas pelayanan profesional yang dipaparkan
dalam 4 pilar sebagai berikut :

1. Pendekatan Manajemen (Management Approach )

2. Penghargaan karir ( compensatory rewards )

3. Hubungan Profesional ( professional relationship)


4. Sistem pemberian asuhan pasien ( patient care delivery system )

Kegiatan yang ditetapkan pada tiap pilar merupakan kegiatan dasar MPKP
yang dapat dikembangkan jika tenaga keperawatan yang bekerja berkualitas.

Gambar
1.4

Struktur
Organisasi
Ruangan
A
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

MPKP sangat bermanfaat bagi perawat, dokter, pasien dan profesi lain
dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dengan MPKP, perawat dapat
memahami tugas dan tanggung jawabnya terhadap pasien sejak masuk hingga
keluar rumah sakit. Implementasi MPKP harus ditunjang dengan sumber daya
manusia, sarana dan prasarana yang memadai.

Menurut Tappen (1995), model pemberian asuhan keperawatan ada enam


macam, yaitu: model kasus, model fungsional, model tim, model primer, model
manajemen perawatan, dan model perawatan berfokus pada pasien

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani, Model Praktek Keperawatan di Rumah Sakit, disampaikan pada


seminar keperawatan yang diselenggarakan DPD I PPNI, Jawa timur di
Surabaya, 11 Desember 1999.

Cobell, C. ( 1992) , The efficacy of primary Nursing as a Foundation


For Patient Advocacy Nursing Practic, hal : 2-5

Douglas, LM. (1984) , the Effevtive Nurse Leader and Menager, Second
edition, St. Louis, the CV Mosby.

Gillies, D. (1989) , Nursing Management company a Sistem Approach,


Philadelphia, W.B. Saunders. Huber,. D., (2000). Leadershi~ and
nursing care management Philadelpia: W.B. Saunders Company.

Kelompok Pekerja Keperawatan ,Konsorsium Ilmu Kesehatan (1995),


Konsep Model Praktek Keperawatan, tidak dipublikasikan.

Keliat, B.A., dkk (2000). Pedoman manajemen sumber daya manusia


perawat ruang model praktek keperawatan profesional rumah sakit
Marzoeki Mahdi Bogor. Makalah : tidak dipublikasikan

Manurung, I., (2001). Model Pemberian Asuhan Keperawatan Makalah.


Bogor: tidak dipublikasi

Marquis, BL & Huston, Cj (1998), Management Decision Making For Nurses,


124 Cases Studies, 3 Ed. Philadelphia : JB Lippincott

Nursalam (2007), Manajemen Keperawatan. Aplikasi dalam Praktek


Keperawatan Proffesional. Jakarta : Salemba Medika

Sitorus, R, Yulia (2006). Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah


Sakit; Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan
Keperawatan di Ruang Rawat, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Sudarsono, R.S. (2000). Berbagai model praktek keperawatan profesional
di rumah sakit. Makalah seminar dan semiloka MPKP II. Jakarta :
tidak dipublikasikan

Russel C. Swanburg .(1994). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen


Keperawatan Untuk Perawat Klinis, Jakarta : EGC

Tappen, R.M., (l 995). Nursing Leadership and Management. Concepts and


Practice. (3 rd edition). Philadelpia: F.A. Davis Company.